oh ya???

  1. Bukti yang Tidak Memadai.

Yesus lahir dalam keadaan suci. Orang Kristen sering menyebut berbagai keajaiban yang ditunjukkannya sebagai bukti ketuhanannya. Jelas, dasar pemikiran ini lemah. Di dalam Alkitab dikisahkan penciptaan Adam tanpa ayah dan ibu (Kejadian 2), juga tentang mukjizat Nabi Elisa (2 Raja-raja 4,5,6). Bahkan, Alkitab sendiri menjelaskan bahwa Melkisedek, raja Salem, adalah seorang imam yang tidak berbapak, tidak beribu, tidak bersilsilah, tidak berawal, dan tidak berakhir, karena ia sama dengan anak Allah (Kejadian 14:18; Ibrani 7:3). Meskipun ketiga pribadi tersebut secara umum memiliki kualifikasi yang sama dengan Yesus, tidak ada seorang Kristen pun yang menuhankannya.

Di dalam teks Alkitab, Yesus menggunakan istilah “anak manusia”, “anak Allah”, “mesias”, dan “saviour” (juru selamat), namun istilah2 tersebut juga digunakan untuk merujuk kepada orang2 selain Yesus. Misalnya, Yehezkiel disebut sebagai “anak manusia” (Yehezkiel 3:1). Selain itu, Yesus menyebut para pembawa kedamaian sebagai “anak-anak Allah” (Matius 5:9). Sikap mendua para penerjemah Alkitab terlihat dengan diterjemahkannya kata “mesias” yang tidak menunjuk kepada Yesus sebagai “orang yang Kuurapi”. Misalnya, Koresy, raja Persia, diterjemahkan sebagai “orang yang Kuurapi” (Yesaya 45:1), padahal kata asli Ibraninya adalah “mesias”. Lihat juga Mazmur 2:2, dimana “mesias” yang menunjuk kepada Daud diterjemahkan sebagai “yang diurapi-Nya”, padahal kata asli Ibraninya adalah “mesias”. Sementara itu, ayat2 yang menunjuk kepada Yesus mereka terjemahkan dengan “mesias” atau padanan kata Yunani “kristus”. Dengan cara ini, mereka berusaha memberikan kesan bahwa hanya ada satu Mesias. Untuk orang selain Yesus, mereka menggunakan kata “penolong” (2 Raja-raja 13:5), tetapi untuk ayat2 yang menunjuk Yesus, mereka terjemahkan sebagai “juru selamat”, padahal sama2 mengemban misi “saviour”.

Persekongkolan dalam aktivitas penerjemahan modern dapat ditunjukkan dengan mudah. Alkitab King James 1611 tersebar secara luas. Bandingkan Alkitab tersebut dengan versi terjemahan yang lebih akhir, misalnya New American Bible. Pada Alkitab yang pertama, di dalam 2 Raja-raja 13:5 kita dapatkan kata “saviour”, sedangkan pada New American Bible, kata itu diganti dengan sinonimnya, “deliverer”.

Jelasnya, menurut Alkitab sendiri, “juru selamat” itu tidak hanya menunjuk kepada Yesus maupun Tuhan (Yesaya 43:3), tetapi juga menunjuk kepada orang2 lain selain Yesus, hanya saja mereka menerjemahkannya secara tidak fair (2 Raja-raja 13:5, Nehemia 9:27 dan Obaja 1:21, saviours, bentuk jamak).

Ada pernyataan lain yang dapat disebutkan di sini. Dalam Yohanes 8:58 dikatakan, “…sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” Seandainya Yesus bermaksud mengklaim bahwa ia telah hidup sebelum Abraham, apakah itu merupakan alasan yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa ia adalah Tuhan? Orang Kristen mungkin tidak mengira bahwa Nabi Yeremia juga telah mengalami kehidupan sebelum manusia (Yeremia 1:5). Seharusnya, mereka menafsirkan pernyataan di dalam Yeremia tersebut dengan cara yang sama ketika mereka menafsirkan Yohanes 8:58, yaitu secara harfiah. Namun, mengapa mereka tidak menerapkan pemahaman yang sama?
2. Bukti yang Mendua.

Di dalam Yohanes 14:10 Yesus berkata, “…Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku…” dan di dalam Yohanes 10:30 Yesus mengatakan, “Aku dan Bapa adalah satu.” Bahasa Yunani menerjemahkan “satu” dengan “hen”. Beberapa sarjana menegaskan bahwa satu2nya pemahaman yang mungkin dari kata tersebut adalah “satu dalam esensi atau wujud”. Namun, kedua pernyataan itu tidak berdasar, satu contoh untuk membantahnya sudah cukup. Kata2 yang sama dipakai oleh Yesus di dalam Yohanes 17:11,21,22,23 menunjukkan bahwa Yesus dan murid2nya berada di dalam satu kesatuan. Dengan demikian, kedua pernyataan yang dinisbahkan penulisnya ke dalam mulut Yesus di atas belumlah cukup untuk menunjukkan ketuhanan Yesus.

Kalimat lain yang sering dikemukakan oleh kalangan Kristen adalah apa yang dikatakan sebagai pernyataan Yesus di dalam Yohanes 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal…” Orang Kristen mengatakan bahwa kata “tunggal” dalam ayat itu secara khusus mengacu kepada Yesus, bukan “anak-anak Allah” yang lain. Ini juga menunjukkan sikap mereka yang tidak konsisten, sebab dalam Keluaran 4:22 dikatakan bahwa Israel adalah anak sulung Allah, dan dalam Yeremia 31:9 dikatakan bahwa Efraim adalah anak sulung Allah. Jadi, bagaimana mungkin Yesus disebut sebagai anak tunggal Allah? Lebih jauh, kata “tunggal” juga terdapat dalam Ibrani 11:17 yang mengacu kepada Ishak. Sementara itu, Alkitab sendiri menjelaskan bahwa kakak Ishak, Ismael, hidup lebih lama daripada ayahnya (Kejadian 25:9). Dengan demikian, Ishak tidak pernah secara tegas mengatakan dirinya sebagai anak tunggal Abraham. Sadar akan kejanggalan ini, sarjana Kristen tidak menafsirkan kata tersebut secara harfiah. Namun, mengapa hal itu tidak mereka terapkan juga pada Yohanes 3:16? Sekali lagi, sikap mendua ini membuktikan bahwa Yohanes 3:16 adalah bukti yang tidak meyakinkan.

Diakui atau tidak, istilah “Bapa” yang dipakai Yesus ketika ia berbicara dengan Tuhan juga menimbulkan kontroversi. Tetapi, pada kesempatan ini, kami sekedar ingin menunjukkan bahwa penggunaan istilah tersebut oleh Yesus bukanlah bukti yang meyakinkan bahwa Tuhan adalah Bapa dari Yesus. Semua orang Kristen memakai kata “Bapa” ketika menyebut Tuhan. Bahkan, orang Yahudi pun memakai istilah itu (Yohanes 8:41).

Sementara itu, sarjana tertentu menggunakan ayat Markus 14:36 (yang di dalamnya Yesus menggunakan kata “Abba” untuk Bapa) sebagai landasan argumentasi. Menurut mereka, penggunaan kata “Abba” menunjukkan adanya hubungan yang sangat unik antara Yesus dan Tuhan, yaitu antara Tuhan Anak dan Tuhan Bapa. Namun, argumentasi ini sangat lemah karena bagian2 kitab suci seperti Roma 8:15 dan Galatia 4:6 menyebutkan bahwa setiap orang Kristen dianjurkan memakai istilah “Abba” jika menyebut Tuhan.
3. Bukti yang Lemah.

Di dalam sebuah kisah dalam Perjanjian Baru (Yohanes 20:28), disebutkan bahwa Tomas mengatakan, “My Lord and my God” (Tuanku dan Tuhanku). Orang Kristen bersikukuh bahwa Tomas menyebut Yesus dengan kedua sebutan itu. Orang Islam tidak keberatan terhadap istilah “lord” karena kata tersebut (sebagaimana dijelaskan di dalam Alkitab) mempunyai arti “tuan”, kecuali bagian2 tertentu dalam Perjanjian Lama, kata “lord” bisa disetarakan dengan “God”. Misalnya, dalam Mazmur 110:1 terdapat dua kata “lord”, yang pertama berarti “Tuhan”, sedang yang kedua berarti “tuan”. Sara juga memanggil suaminya dengan sebutan “Lord” (1 Petrus 3:6). Pendapat Tomas yang menyatakan bahwa Yesus adalah “Tuhan” adalah masalah lain. Yesus menunjukkan bahwa kitab2 Perjanjian Lama sendiri menyebut orang2 sebagai “Allah” atau “God” (Yohanes 10:34, Mazmur 82:6), bahkan Musa diangkat Tuhan sebagai “Allah” atau “God” (Keluaran 7:1).

Menurut “doktrin trinitas”, perbedaan antara Bapa dan Anak adalah esensial. Namun, prinsip ini dikaburkan oleh Yohanes 14:9. Di sini Yesus berkata kepada seseorang bernama Filipus, “…Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa…” Pernyataan yang secara harfiah sangat tegas itu mengandung sebuah doktrin yang sulit diterima, yaitu Yesus adalah Bapa. Para penafsir mengatakan bahwa “Bapa” adalah sinonim “Tuhan”. Kita bisa memahami maksud ucapan yang dinisbahkan ke dalam mulut Yesus sebagai “melihat dia adalah sama dengan melihat Tuhan karena ia adalah Tuhan”. Padahal, penulis yang sama juga menuturkan di dalam Yohanes 5:37, yang merupakan pernyataan Yesus sebaliknya. Dalam ayat ini, Yesus berkata mengenai Bapa kepada orang banyak, “…Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nya pun tidak pernah kamu lihat.” Jelaslah, bahwa Yohanes 14:9 adalah bukti yang lemah.
4. Bukti secara Menyeluruh.

Orang Kristen bersandar pada ayat di dalam Yohanes 5:18, “…karena ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapanya sendiri dan dengan demikian menyamakan dirinya dengan Allah.” Mereka melewatkan ayat2 selanjutnya yang menjelaskan bahwa Yesus menundukkan dirinya di hadapan Tuhan dan menjelaskan kerendahan posisinya di hadapan Tuhan, bahkan secara tegas Yesus menyatakan dirinya sebagai rasul/utusan Tuhan (Yohanes 5:30-31).

Di dalam Matius 2:5, Yesus berkata kepada seorang yang lumpuh, “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.” Beberapa orang ahli Taurat yang hadir di situ merasa kaget dan bertanya2 di dalam hati, “Siapakah yang dapat mengampuni dosa selain dari Allah sendiri?” Sementara itu, di dalam ayat Yohanes 12:49 Yesus menafikan inisiatif pribadi dengan berkata, “Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan.” Lihat juga Yohanes 8:40-42 yang sangat tegas menyatakan bahwa Yesus hanyalah seorang rasul/utusan Tuhan untuk umat Israel.

Ngomong apa sih :smiley:

Dengan pola penafsiran yang sama, nanti TS bisa mengira bahwa bahtera(ark) Nuh tidak muat diisi binatang dan bisa dibawa-bawa(ark:tabut). Hasilnya adalah komedi gratis bagi para member FK.

Salam.

Sedikit tambahan:
http://www.sarapanpagi.org/7-tidak-ada-bukti-ketuhanan-yesus-vt604.html

CASE CLOSED

@gibson (dengan id barunya kelak)

Bukti yang Tidak Memadai.

YESUS lahir dalam keadaan suci. Orang Kristen sering menyebut berbagai keajaiban yang ditunjukkannya sebagai bukti ketuhanannya. Jelas, dasar pemikiran ini lemah. Di dalam Alkitab dikisahkan penciptaan Adam tanpa ayah dan ibu (Kejadian 2), juga tentang mukjizat Nabi Elisa (2 Raja-raja 4,5,6). Bahkan, Alkitab sendiri menjelaskan bahwa Melkisedek, raja Salem, adalah seorang imam yang tidak berbapak, tidak beribu, tidak bersilsilah, tidak berawal, dan tidak berakhir, karena ia sama dengan anak Allah (Kejadian 14:18; Ibrani 7:3). Meskipun ketiga pribadi tersebut secara umum memiliki kualifikasi yang sama dengan YESUS, tidak ada seorang Kristen pun yang menuhankannya.

Di dalam teks Alkitab, YESUS menggunakan istilah “anak manusia”, “anak Allah”, “mesias”, dan “saviour” (juru selamat), namun istilah2 tersebut juga digunakan untuk merujuk kepada orang2 selain YESUS. Misalnya, Yehezkiel disebut sebagai “anak manusia” (Yehezkiel 3:1). Selain itu, YESUS menyebut para pembawa kedamaian sebagai “anak-anak Allah” (Matius 5:9). Sikap mendua para penerjemah Alkitab terlihat dengan diterjemahkannya kata “mesias” yang tidak menunjuk kepada YESUS sebagai “orang yang Kuurapi”. Misalnya, Koresy, raja Persia, diterjemahkan sebagai “orang yang Kuurapi” (Yesaya 45:1), padahal kata asli Ibraninya adalah “mesias”. Lihat juga Mazmur 2:2, dimana “mesias” yang menunjuk kepada Daud diterjemahkan sebagai “yang diurapi-Nya”, padahal kata asli Ibraninya adalah “mesias”. Sementara itu, ayat2 yang menunjuk kepada YESUS mereka terjemahkan dengan “mesias” atau padanan kata Yunani “KRISTUS”. Dengan cara ini, mereka berusaha memberikan kesan bahwa hanya ada satu Mesias. Untuk orang selain YESUS, mereka menggunakan kata “penolong” (2 Raja-raja 13:5), tetapi untuk ayat2 yang menunjuk YESUS, mereka terjemahkan sebagai “juru selamat”, padahal sama2 mengemban misi “saviour”.

Persekongkolan dalam aktivitas penerjemahan modern dapat ditunjukkan dengan mudah. Alkitab King James 1611 tersebar secara luas. Bandingkan Alkitab tersebut dengan versi terjemahan yang lebih akhir, misalnya New American Bible. Pada Alkitab yang pertama, di dalam 2 Raja-raja 13:5 kita dapatkan kata “saviour”, sedangkan pada New American Bible, kata itu diganti dengan sinonimnya, “deliverer”.

Jelasnya, menurut Alkitab sendiri, “juru selamat” itu tidak hanya menunjuk kepada YESUS maupun Tuhan (Yesaya 43:3), tetapi juga menunjuk kepada orang2 lain selain YESUS, hanya saja mereka menerjemahkannya secara tidak fair (2 Raja-raja 13:5, Nehemia 9:27 dan Obaja 1:21, saviours, bentuk jamak).

Ada pernyataan lain yang dapat disebutkan di sini. Dalam Yohanes 8:58 dikatakan, “…sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” Seandainya YESUS bermaksud mengklaim bahwa ia telah hidup sebelum Abraham, apakah itu merupakan alasan yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa ia adalah Tuhan? Orang Kristen mungkin tidak mengira bahwa Nabi Yeremia juga telah mengalami kehidupan sebelum manusia (Yeremia 1:5). Seharusnya, mereka menafsirkan pernyataan di dalam Yeremia tersebut dengan cara yang sama ketika mereka menafsirkan Yohanes 8:58, yaitu secara harfiah. Namun, mengapa mereka tidak menerapkan pemahaman yang sama?

Anda tahukah arti dari kata bukti? Adalah fakta yang faktual

Persepsi anda terhadap fakta yang factual tidak dapat dijadikan barang bukti

Kalau anda tetap memaksakan, anda merusak tata peradilan yang sudah ada, dengan mengatakan bahwa persepsi terhadap fakta faktual adalah alat bukti

Karena itu jika tidak mengerti jangan terlalu percaya diri dulu, bertanyalah agar tidak “tersesat” dalam terminologi

Nah, dalam hal terminologi saja anda sudah salah total

Namun ijinkanlah saya meluruskan kesalahan persepsi anda selanjutnya

Baik Adam dan Elia, adalah sama dengan saya dan anda manusia biasa, walau Adam tidak berbapak dan beribu (Yesus memiliki ibu) namun bukan Adam yang menebus dosa manusia, begitupula dengan Elia, walaupun ia dianggkat ke sorga

Persepsi anda keliru jika anda hanya mengaitkan Anak Manusia, dalam kelahirnya tidak berbapak ataupun dalam kehidupannya penuh dengan mujizat

Anda gagal menangkap esensi subtansi KASIH ALLAH :

Joh 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Sebesar apa KASIH ALLAH?

Sebesar DIRINYA sendiri

Ada yang lebih besar dari DIRI ALLAH itu sendiri?

Bayangkan saja betapa besar KASIHNYA pada manusia

Dan begitu keluar jalur jika anda mengartikan

Jer 1:5 “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.”

Sebagai Yeremia sudah hidup sebelumnya?

Dan mengenai semua yang anda tulis diatas, itu semua persepsi yang salah dan dangkal

Bagi orang berbahasa Inggris makna “my Saviour” dan “my Deliver” itu sama

Sama seperti dengan orang yang berbahasa Indonesia makna Penyelemat dan Juru Selamat, itu adalah sama

Persepsi yang anda jadikan bukti itu keliru adanya

Demikian juga persepsi anda

Saya sudah meluruskan persepsi anda, terserah anda mau menerima atau tetap mengingkarinya sebagai kebenaran sejati

2. Bukti yang Mendua.

Di dalam Yohanes 14:10 YESUS berkata, “…Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku…” dan di dalam Yohanes 10:30 YESUS mengatakan, “Aku dan Bapa adalah satu.” Bahasa Yunani menerjemahkan “satu” dengan “hen”. Beberapa sarjana menegaskan bahwa satu2nya pemahaman yang mungkin dari kata tersebut adalah “satu dalam esensi atau wujud”. Namun, kedua pernyataan itu tidak berdasar, satu contoh untuk membantahnya sudah cukup. Kata2 yang sama dipakai oleh YESUS di dalam Yohanes 17:11,21,22,23 menunjukkan bahwa YESUS dan murid2nya berada di dalam satu kesatuan. Dengan demikian, kedua pernyataan yang dinisbahkan penulisnya ke dalam mulut YESUS di atas belumlah cukup untuk menunjukkan ketuhanan YESUS.

Kalimat lain yang sering dikemukakan oleh kalangan Kristen adalah apa yang dikatakan sebagai pernyataan YESUS di dalam Yohanes 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal…” Orang Kristen mengatakan bahwa kata “tunggal” dalam ayat itu secara khusus mengacu kepada YESUS, bukan “anak-anak Allah” yang lain. Ini juga menunjukkan sikap mereka yang tidak konsisten, sebab dalam Keluaran 4:22 dikatakan bahwa Israel adalah anak sulung Allah, dan dalam Yeremia 31:9 dikatakan bahwa Efraim adalah anak sulung Allah. Jadi, bagaimana mungkin YESUS disebut sebagai anak tunggal Allah? Lebih jauh, kata “tunggal” juga terdapat dalam Ibrani 11:17 yang mengacu kepada Ishak. Sementara itu, Alkitab sendiri menjelaskan bahwa kakak Ishak, Ismael, hidup lebih lama daripada ayahnya (Kejadian 25:9). Dengan demikian, Ishak tidak pernah secara tegas mengatakan dirinya sebagai anak tunggal Abraham. Sadar akan kejanggalan ini, sarjana Kristen tidak menafsirkan kata tersebut secara harfiah. Namun, mengapa hal itu tidak mereka terapkan juga pada Yohanes 3:16? Sekali lagi, sikap mendua ini membuktikan bahwa Yohanes 3:16 adalah bukti yang tidak meyakinkan.

Diakui atau tidak, istilah “Bapa” yang dipakai YESUS ketika ia berbicara dengan Tuhan juga menimbulkan kontroversi. Tetapi, pada kesempatan ini, kami sekedar ingin menunjukkan bahwa penggunaan istilah tersebut oleh YESUS bukanlah bukti yang meyakinkan bahwa Tuhan adalah Bapa dari YESUS. Semua orang Kristen memakai kata “Bapa” ketika menyebut Tuhan. Bahkan, orang Yahudi pun memakai istilah itu (Yohanes 8:41).

Sementara itu, sarjana tertentu menggunakan ayat Markus 14:36 (yang di dalamnya YESUS menggunakan kata “Abba” untuk Bapa) sebagai landasan argumentasi. Menurut mereka, penggunaan kata “Abba” menunjukkan adanya hubungan yang sangat unik antara YESUS dan Tuhan, yaitu antara Tuhan Anak dan Tuhan Bapa. Namun, argumentasi ini sangat lemah karena bagian2 kitab suci seperti Roma 8:15 dan Galatia 4:6 menyebutkan bahwa setiap orang Kristen dianjurkan memakai istilah “Abba” jika menyebut Tuhan.

Lihatlah anda memaksakan penalaran anda keluar dari konteks dan anda terlilit sendiri ;
“satu dalam esensi atau wujud”.

Anda hanya membatasi ruang pengertian anda pada wujud, saja padahal wujud belum tentu esensi dan esensi belum tentu wujud

Dapat saya maklumi penalaran yang “dangkal” seperti ini karena ketidakmampuan menalar secara abstrak

Pertama anda memaksakan “satu kesatuan” harus sama dengan “adalah satu”

Apakah tidak bisa saya “adalah satu” jiwa, roh dan tubuh dalam suatu esensi bukan wujud?
Karena bagaimana saya bisa “menampakan” wujud roh dan jiwa saya? selain “manifestasinya”

Saya rasa untuk penjelasan saya saja diatas anda akan kesulitan memahaminya, apalagi bicara YESUS dan BAPA adalah SATU

Dibutuhkan percaya dulu baru mengerti

Tanpa itu, anda akan terlilit sendiri selamanya

Lebih tragisnya lagi Anak Allah yang Tunggal anda samakan dengan anak-anak Allah?

Pertanyaan saya yg sederhana, adakah anak-anak Allah itu mati di kayu salib menebus dosa sesamanya manusia?

Dan mengenai panggilan kesayangan orang percaya “BAPA”, kalau anda iri, panggil saja Allah anda “BAPA” untuk lebih akrab dan lebih sayang

Jadi ingat lelucon yang sering Gus Dur sampaikan, bahwa orang “Kristen” itu paling “dekat” dengan Tuhannya, dengan panggilan BAPA

Gus Dur saja bisa mengerti, belajarlah pada pengertian beliau, kalau pengertian2 Alkitab anda tolak selalu

Kalau anda yang mendua, sebentar gunakan nalar sehat sebentar gunakan nalar yang sakit

Siapakah yang mendua?

Gitu aja kok repot sendiri?

3. Bukti yang Lemah.

Di dalam sebuah kisah dalam Perjanjian Baru (Yohanes 20:28), disebutkan bahwa Tomas mengatakan, “My Lord and my God” (Tuanku dan Tuhanku). Orang Kristen bersikukuh bahwa Tomas menyebut YESUS dengan kedua sebutan itu. Orang Islam tidak keberatan terhadap istilah “lord” karena kata tersebut (sebagaimana dijelaskan di dalam Alkitab) mempunyai arti “tuan”, kecuali bagian2 tertentu dalam Perjanjian Lama, kata “lord” bisa disetarakan dengan “God”. Misalnya, dalam Mazmur 110:1 terdapat dua kata “lord”, yang pertama berarti “Tuhan”, sedang yang kedua berarti “tuan”. Sara juga memanggil suaminya dengan sebutan “Lord” (1 Petrus 3:6). Pendapat Tomas yang menyatakan bahwa YESUS adalah “Tuhan” adalah masalah lain. YESUS menunjukkan bahwa kitab2 Perjanjian Lama sendiri menyebut orang2 sebagai “Allah” atau “God” (Yohanes 10:34, Mazmur 82:6), bahkan Musa diangkat Tuhan sebagai “Allah” atau “God” (Keluaran 7:1).

Menurut “doktrin trinitas”, perbedaan antara Bapa dan Anak adalah esensial. Namun, prinsip ini dikaburkan oleh Yohanes 14:9. Di sini YESUS berkata kepada seseorang bernama Filipus, “…Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa…” Pernyataan yang secara harfiah sangat tegas itu mengandung sebuah doktrin yang sulit diterima, yaitu YESUS adalah Bapa. Para penafsir mengatakan bahwa “Bapa” adalah sinonim “Tuhan”. Kita bisa memahami maksud ucapan yang dinisbahkan ke dalam mulut YESUS sebagai “melihat dia adalah sama dengan melihat Tuhan karena ia adalah Tuhan”. Padahal, penulis yang sama juga menuturkan di dalam Yohanes 5:37, yang merupakan pernyataan YESUS sebaliknya. Dalam ayat ini, YESUS berkata mengenai Bapa kepada orang banyak, “…Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nya pun tidak pernah kamu lihat.” Jelaslah, bahwa Yohanes 14:9 adalah bukti yang lemah.

Sulit diterima bukan berarti tidak bisa diterimakan?

Mengenai Musa diangkat menjadi Allah?

Kalau bacanya tidak lengkap yah demikian artinya, ngawur dan asal

Exo 7:1 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Lihat, Aku mengangkat engkau sebagai Allah bagi Firaun, dan Harun, abangmu, akan menjadi nabimu.

“Allah” bagi siapa? Bagi semua orang kah? Tolong baca yang lengkap yah (mudah kan?)

Kalau begitu anda keliru bukan Musa saja yang pernah mengalami itu, Bahkan Paulus dan Ananias juga pernah diangkat dan disembah seperti dewa/tuhan

bahkan jika pola pikir anda seperti “Firaun” sayapun akan anda anggap tuhan loh? lantas apa bisa saya disalahkan? kan pola pikir anda yang menuhankan saya?

Act 14:12 Barnabas mereka sebut Zeus dan Paulus mereka sebut Hermes, karena ia yang berbicara.

Menjadi sulit karena belum percaya saja, nanti kalau sudah percaya tidak sulit kok, tinggal buka hati dan pikiran, TUHAN yang akan menjelaskan sendiri

Wong Tuhan Yesus itu hidup kok, DIA akan senang sekali untuk menjelaskan tentang DIRI-NYA

Persepsi anda yang begitu “lemah” ini disebabkan anda sendiri menganiaya akal sehat anda diri sendiri

Boro2 bukti, persepsi anda sendiri saja sudah lemah tak berdaya atau tak menalar sehat

Anda bertanggung jawab terhadap akal sehat anda sendiri bukan?

Sebagai Manusia apakah Yesus harus selalu 24 jam “bertingkah laku” sebagai manusia yang tidak “mempunyai” TUHAN?

DIA menjadi Manusia (IMANUEL), bukan untuk haus disembah, narsis dipuja, atau gila hormat (seperti figur Tuhan dalam kepercayaan lain)

DIApun memberikan teladan, bawha TUHAN yang menjadi Manusia pun, tidak sewenang2, berbelas kasih, penuh pengorbanan, mengutamakan orang lain, menunjukan bagaimana berelasi dengan-Nya (Instruktur), dan banyak aspek kemanusiaan yang IA perankan menjadi ROLE MODEL

Jadi jika dalam “perangkap doktrin” anda itu, tuhan anda tidak dikenali seperti itu

Mengapa anda seperti “membabi buta” berteriak-teriak, palsu—palsu?

Dengan mengungkapkan fakta yang factual dari sudut penalaran palsu?

Anda yang memalsukan penalaran sehat, kok lempar tanggung jawab ke orang lain?

Berulang-ulang ?

Bukankah ini yang dinamakan dengan kebebalan dan kefasikan?

Bertobatlah saudaraku, dari kepalsuan doktrin anda itu, baru anda bisa mengerti

GBU

Topik saya kunci karena sudah dijawab oleh Tonypaulo

Penjelasannya ada di oh ya??? - Terjawab - ForumKristen.com

Terima kasih untuk semua member yang telah berpartisipasi. Sampai jumpa di topik lainnya yang menarik.

Tuhan YESUS memberkati