Orang kaya Kristen sering menyamakan Pendeta/Gembala = Suhu/Dukun??

Baru2 ini saya kaget, ternyata dari jemaat yang datang ke gereja terutama yang terlihat “wah” dari mobilnya, dandanannya, tas LV-nya, BB-nya dan Ipad-nya itu, ternyata sering minta didoakan sama pendeta dan minta ditumpangi tangan si pendeta demi kelancaran bisnis/proyeknya.
Ketika ada yang tanya: “Oh, itu toh motivasimu datang ke gereja?” Si kaya dengan mantap mengiyakan. Kalo ditanya lagi:“Kalo sampai sudah didoakan ternyata proyekmu gagal gimana?” Jawab si kaya :“Ya saya nggak ikut Yesus lagi”. Haaa…???
Lalu apa bedanya antara ikut Yesus dengan cari dukun???

gak semua bro

ada jg org yg motivasi cari TUHAN murni…bukan krn berkat aja tp krn benar2 mencintaiNYA

kenyataan diatas adalah salah satu contoh DAMPAK BURUK

dari ajaran TOLOLGIA KEBLINGER DUIT TEOLOGI SUKSES

saya jadi inget tulisan Almarhum:

[b]"Memberhalakan" Tuhan[/b]

Oleh Eka Darmaputera

Saya harap Anda tidak terlampau cepat merasa aman dan bebas dari bahaya penyembahan berhala, hanya karena Anda tidak menyimpan satu patung pun di rumah Anda. Memang benar, titah Allah yang kedua itu "resmi"nya berbunyi, “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun . (dan) jangan sujud menyembah kepadanya”. Namun demikian, ingatlah, “dosa besar” ini tidak terutama berkenaan dengan "ada-tidak"nya benda-benda tertentu di luar kita. Tidak!

Idolatri adalah bahaya serius, sebab ia merasuk, menusuk dan menyusup ke dalam jiwa. Secarik kain yang berlumur lumpur di luarnya, tak sulit untuk dibersihkan. Tapi bila tersiram tinta, dan tinta itu telah meresap sampai ke pori-porinya?

Penyembahan berhala lebih banyak menyangkut cara berpikir, cara menafsir, dan cara bersikap, yang bersumber jauh di “ruang kendali” yang ada dalam diri manusia. Dengan istilah yang lebih canggih, hal itu menyangkut “paradigma” kita, serta mewujud dalam “weltanschaung” kita.

Karena itu, tepat sekali kata William Barclay, bahwa “penyembahan berhala bukanlah sebuah relik antik dari masa silam, melainkan ancaman nyata (untuk) masa sekarang” “Idolatry is not an antiquarian relic of the past, it is a present threat”. Saya malah ingin menambahkan, bahwa sekarang ada bahaya yang lebih nyata dan lebih berbahaya daripada “memper’Tuhan’kan berhala”. Yaitu: kecenderungan “mem’berhala’kan Tuhan”. Keduanya adalah dua sisi dari dosa idolatri.


POLA pikir dan sikap hidup yang bagaimanakah yang dapat dikategorikan sebagai penyembahan berhala? Barclay menyebutkan dua hal.

Pertama, ia mengatakan bahwa penyembahan berhala dimanifestasikan dalam bentuk sikap memperlakukan alat sebagai tujuan. Making means into ends. Benda yang awal mulanya, dengan tujuan baik, dimaksudkan untuk membantu manusia merasa dekat dengan Tuhan, eee, lambat laun berubah fungsi dan posisi menjadi “tuhan” itu sendiri. Tidak lagi sekadar “alat ibadah”, tapi “pusat ibadah”.

Karena itu penyembahan adalah “dosa besar”. Ia tidak sekadar melenceng dari sasaran, melainkan 180 derajat berbalik arah ke tujuan yang berlawanan. Ia merupakan “kudeta” terang-terangan terhadap Allah. Tidak perlu kita heran, mengapa berulang-ulang Tuhan mengatakan, dosa ini sungguh melukai dan menyakiti hati-Nya.

Kalau “suami”, Ia merasa diselingkuhi, dibelakangi, dan dikhianati, oleh sang istri. “Aku hendak menyanyikan nyanyian tentang kekasihku, nyanyian kekasihku tentang kebun anggurnya. Kekasihku itu mempunyai kebun anggur di lereng bukit yang subur. Ia mencangkulnya dan membuang batu-batunya; dan menanaminya dengan pokok anggur pilihan . lalu dinantinya supaya kebun itu menghasilkan buah anggur yang baik. Tetapi yang dihasilkannya ialah buah anggur yang asam” (Yesaya 5:1-2). Ada kekecewaan yang amat dalam.

Dan bila “bapak”, Ia merasa ditikam tepat di “ulu-ati” oleh sang anak. “Aku membesarkan anak-anak dan mengasuhnya, tetapi mereka memberontak terhadap Aku. Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal palungan yang disediakan untuknya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya”’ (Yesaya 1:2-3). Ada luka batin yang amat menyakitkan.


CELAKANYA, kecenderungan menjadikan “alat sebagai tujuan” adalah praktik yang amat lazim dan begitu sering kita lakukan. Bahkan dapat dikatakan, sesuatu yang nyaris secara terus-menerus dilakukan oleh gereja. Kadang-kadang ia tersentak sadar akan kesalahannya, namun tak lama. Setelah itu, ia lupa lagi . dan lagi dan lagi.

Setiap denominasi memiliki tradisi ibadahnya masing-masing. Gereja Roma Katolik dengan kekayaan dan kekhusyukan ritualnya. Gereja Protestan dengan intelekualitas dan kelugasannya. Gereja-gereja Pentakosta dengan letupan-letupan emosinya. Semua itu hanyalah alat atau sarana yang berbeda-beda untuk tujuan yang paling utama: beribadah kepada Allah. Tapi lambat laun, “cara” kemudian menjadi lebih penting ketimbang “tujuan”. Ada yang percaya, bahwa ibadah tanpa bertepuk-tepuk itu kering - dijauhi ROH KUDUS. Sebaliknya ada yang betul-betul merasa terganggu dengan ibadah yang hiruk pikuk - “Ini ibadah atau konser rock, sih?,” tanya mereka – berang.

Kemudian mengenai sistem bergereja. Gereja Katolik menekankan hirarki. Gereja Protestan lebih demokratis. Sedang gereja-gereja Pentakosta cenderung menafikan organisasi dan birokrasi. Semua ini adalah “alat” yang beraneka-ragam untuk maksud yang satu: mengatur kehidupan bergereja agar berjalan sebaik-baiknya. Tapi betapa sering, sistem itu diperlakukan sebagai wahyu yang diturunkan dari sorga. Cara bergereja menjadi lebih penting ketimbang bergereja.

Kata Barclay, “ketika di dalam kenyataan semua itu terjadi, itu berarti penyembahan berhala masih dengan tegar hadir sampai sekarang. Masih sama berbahayanya seperti masa-masa silam”. Benar sekali, bukan?


BAHAYA kedua dari idolatri, menurut Barclay, adalah ketika orang menukar pribadi dengan materi; mengutamakan benda, bukan orang. Inti penyembahan berhala adalah, orang menyembah benda, bukan pribadi; beribadah kepada benda mati, bukan Allah yang hidup.

Berhala bisa berwujud apa saja. Pokoknya, apa saja - yang bukan Tuhan – yang oleh seseorang dianggap sebagai yang paling penting dan paling utama dalam hidupnya, itulah "berhala"nya. Dan ini justru merupakan ciri paling mencolok dari modernisasi, dengan ciri utamanya “mekanisasi”.

Setelah revolusi industri, mesin benar-benar menjadi lebih utama ketimbang manusia. Manusia dilihat sekadar sebagai penjaga atau operator mesin. Tugas utamanya adalah menjaga agar mesin tetap bekerja, dan laba meningkat terus. Manusia adalah alat. Di bank, misalnya manusia adalah angka. Nomor PIN lebih penting ketimbang Prapto atau Prapti.

Hal yang sama juga menyerang kehidupan keluarga. Konon ada pertanyaan dalam Teka-Teki Silang, yakni “Isi sebuah rumah”. Anda tahu, jawabnya yang “benar”? “Perabot”. Tapi memang begitulah yang ada dalam kenyataan sekarang. Itulah yang di dalam kenyataan memang menjadi isi sebuah rumah, dan seharusnya begitu. Menentukan gedung tempat resepsi, bisa lebih menguras pikiran ketimbang pernikahan itu sendiri. Memilih warna cat rumah, bisa lebih rumit ketimbang memilih cara membina hubungan antaranggota keluarga.

Sekali lagi, idolatri masih jauh dari mati. Ia masih bernapas dan bertenaga. Dan ia bukan cuma penyakit orang-orang “primitif”. Ketika alat menjadi tujuan, dan ketika benda lebih penting dari Tuhan atau manusia, penyembahan berhala ada di situ.


TOH ada aspek lain dari idolatri yang sama berbahayanya. Bahwa di samping “memper’Tuhan’kan berhala”, orang bisa “mem’berhala’kan Tuhan”. Malinowsky, seorang antropolog terkenal, pernah menulis sebuah buku, berjudul “SCIENCE, MAGIC AND RELIGION”. Karena sulit dicari padanan katanya dalam bahasa Indonesia, baik kita biarkan saja begitu. Dalam buku itu, penulis mengemukakan hasil pengamatannya kepada sebuah suku semi-primitif di daerah Pasifik, yang rata-rata penduduk laki-lakinya adalah nelayan.

Yang menarik perhatiannya adalah ini. Pada bulan-bulan tertentu, ketika cuaca bagus, para nelayan itu meluncur ke laut begitu saja. Tapi di bulan-bulan lainnya, ketika cuaca buruk dan berbahaya, para nelayan itu - sebelum melaut - selalu melakukan upacara keagamaan terlebih dahulu. Tujuannya tak sulit diterka. Mereka memohon pertolongan kepada “Yang Di Sana”, agar melindungi mereka dari segala mala petaka.

Kesimpulannya, kata Malinowsky, ketika sesuatu sudah dapat dikerjakan sendiri oleh tangan manusia, maka mereka tidak memerlukan bantuan dari “luar”. “Science” sudah cukup. Tuhan belum perlu “ikutan”. Baru tatkala keadaan bertambah buruk, tak bisa lagi dikendalikan oleh “science”, manusia membutuhkan “magic”.

Artinya, manusia membutuhkan “Tuhan”. Tapi “Tuhan” dalam pengertian tertentu. Yaitu, Tuhan yang mau melayani kebutuhan serta kepentingan manusia! “Tuhan magic”. “Tuhan” ini disembah dan dipuja, tapi ujung-ujungnya untuk apa dan untuk siapa? Untuk melayani manusia!

Inti penyembahan berhala adalah itu. Berhala disembah. Tapi apakah untuk kehormatan berhala itu sendiri? Tidak! Berhala itu disembah, sebagai suatu “metode penakluk” agar ia bersedia melayani si "penyembah"nya. Jadi, siapa menyembah siapa?

Saya ingin berbicara mengenai “memberhalakan Tuhan”, karena ini sangat umum dilakukan tapi sedikit saja yang menyadari kesalahannya. Kita berdoa kepada Tuhan, tapi isinya? Sebuah “daftar belanja” yang panjang, semuanya kepentingan kita! Atau: “Tuhan saya akan melayani-Mu, tapi setelah Kau sembuhkan aku dari sakitku!” Mengapa “setelah”? Mengapa tidak dari sekarang? Mengapa ada “syarat”?

Allah yang disaksikan Alkitab, bukanlah Allah “berhala”. Bukan “allah magic”. Tapi Allah dari kategori ketiga yang disebut Malinowsky sebagai RELIGION. Yaitu, ketika manusia menyembah Tuhan semata-mata karena Ia Tuhan. Apa pun yang dilakukan-Nya. Terlepas dari apa pun yang diberikan-Nya. Tanpa syarat, tanpa pamrih. Ia adalah Allah yang maha kuasa yang memiliki kita. Dan kita adalah hamba-hamba-Nya. Orang-orang yang di hadapan-Nya, hanya pantas berkata," JADILAH PADAKU MENURUT PERKATAANMU ITU" (Lukas 1:38). Apa pun itu.

Jadi, Orang-orang Kristen-pun banyak yang “memberhalakan ALLAH”, yaitu dengan sikap memperlakukan ALLAH seperti berhala, dan menganggap pendeta sebagai “pawang rejeki/ berkat materi”.
Banyak orang Kristen tidak memperlakukan Allah sebagai pribadi yang dikenal dan dapat diajak bersekutu sebagaimana layaknya Bapa kepada anak-anakNya.

Memberhalakan Allah bisa dengan sikap, memanggil Dia saat kita butuh saja,
Memberhalakan Allah bisa dengan sikap, memancing berkat dengan sesaji untuk mendapat berkat.
Bukankah cara-cara ini juga dilakukan orang Kristen zaman sekarang, misalnya membayar persepuluhan supaya tingkap2 langit terbuka?

kalo ikut TY agar selamat = memberhalakan Tuhan ga?

Itu memang tujuan Yesus Kristus datang ke dunia, Bro. Bukankah anda jadi murid Kristus tujuannya untuk dapat Keselamatan?

Kalo saya boleh bilang, praktek orang2 kaya di gereja itu merupakan Penyesatan yang sudah berlangsung berabad-abad namun saat ini intensitasnya semakin mengerikan. Bagi orang2 kaya yang melakukan praktek seperti ini hukumannya sudah jelas tertera di Matius 7:23 yg berbunyi: “Aku tidak mengenal kamu!”. “Enyahlah kamu sekalian hai kamu pembuat kejahatan!”

Anda belum tau angka statistik bagaimana sesungguhnya perilaku orang2 yg terlibat pelayanan di gereja saya. Moga2 ini hanya di gereja saya dan tidak “menular” ke gereja anda atau ke gereja FK’er yg lain:

  • Yg baca Alkitab setiap hari dari seluruh aktivis gereja hanya 7-8%
  • Yg punya jam doa 0,5 jam hanya 5%, yg punya jam doa 15 menit setiap harinya hanya 10%
  • Yg memuji dan menyembah Tuhan setiap hari hanya 2%
  • Yg pernah baca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu, cuma 1%
    Survey diatas sudah termasuk para WL, singer dan pendoa syafaat dan semua fulltimer di gereja.

Angka2 diatas saya rasa juga berlaku untuk jemaat pada umumnya. Fulltimer atau aktivis gereja itu kan cuma profesi. Orangnya ya sama saja. Bahkan ada yang pelayanan dengan motivasi berkat. Artinya kalo sampai ikut pelayanan tapi nggak diberkati, ya… MURTAD!

itu sih parah tuh alesan spt itu…haha, betul mendingan ke gunung kawi aja ntuh…

balik lg semua ke motivasi org dan baik lg itu hanya oknum gak semua orang kaya spt itu lah, jgn menggeneralisasikan

canggih gan, u uda survey semua pendeta,pengerja, jemaat di gereja anda??

Angka2 diatas saya rasa juga berlaku untuk jemaat pada umumnya. Fulltimer atau aktivis gereja itu kan cuma profesi. Orangnya ya sama saja. Bahkan ada yang pelayanan dengan motivasi berkat. Artinya kalo sampai ikut pelayanan tapi nggak diberkati, ya.... MURTAD!
jgn suka rasa2 gan tp pake extrajosss..haha

@steavan: Makanya, bro… Gus Dur atau Amien Rais kan pernah bilang: “Anda kalau mau cari jiwa di kalangan kami sebenarnya banyak sekali. Di kalangan kami, dari yg datang ke mesjid hanya 10% saja yang benar2 pernah membaca Qur’an dan benar2 menerapkan sholat 5 waktu”. “Kalau anda mau cari jiwa, tariklah mereka yg diluar 10% itu”.
Saya sampai punya kesimpulan: Ternyata dari semua umat beragama, hanya 10% saja yg bersungguh2 dengan agamanya.
Wah, ini memprihatinkan BRo…

yah jgn amini perkataan mereka bro…kita berdoa 100% bener2 org kristen yg sungguh2…AMIIINNNNN

Saya malah berpikir sebaliknya. Kalau saja di Indonesia ini Komunisme diijinkan, saya yakin pasti banyak pengikutnya. Pengikutnya terdiri dari Kristen KTP, dan penganut agama2 lain yg cuma di KTPnya.

bukan komunis kali atheis…hehe

jgn berpikiran gt lah…hehe

Jemaat mula-mula itu system-nya “komunis” lho :slight_smile:

Benar, bro… Malah saya pernah “ditodong” pendeta Gereja papa-mama-anak-manthu untuk menyerahkan seluruh isi dompet saya. Alasannya ya mencontoh cara hidup jemaat mula2.

Kalo memang mau menerapkan system “komunis jemaat mula-mula”
Silahkan coba “pinjem mobilnya” si pendeta itu (pinjem aja lho, bukan minta) kalo boleh… hehehe

Saya justru jarang sekali mendengar ada “pendeta yang dermawan” yang berasal dari kalangan Gereja “papah-mamah-anak-mantu”
Pendeta kalangan Gereja “papah-mamah-anak-mantu” biasanya tahunya diberi, bukan memberi, perhatiin deh… :slight_smile:

Angka2 diatas saya rasa juga berlaku untuk jemaat pada umumnya. Fulltimer atau aktivis gereja itu kan cuma profesi. Orangnya ya sama saja. Bahkan ada yang pelayanan dengan motivasi berkat. Artinya kalo sampai ikut pelayanan tapi nggak diberkati, ya.... MURTAD!

klo anak2 muda skrng malah ada yg ikut pelayanan di gereja buat cari jodoh atau nyenengin pacar.itu udah jelas2 salah besar motivasinya(memberhalakan manusia,terutama pacar).klo 'misi pencarian jodoh’nya gagal ya langsung pindah gereja atau malah murtad :smiley: .

Allah yang disaksikan Alkitab, bukanlah Allah "berhala". Bukan "allah magic". Tapi Allah dari kategori ketiga yang disebut Malinowsky sebagai RELIGION. Yaitu, ketika manusia menyembah Tuhan semata-mata karena Ia Tuhan. Apa pun yang dilakukan-Nya. Terlepas dari apa pun yang diberikan-Nya. Tanpa syarat, tanpa pamrih. Ia adalah Allah yang maha kuasa yang memiliki kita. Dan kita adalah hamba-hamba-Nya. Orang-orang yang di hadapan-Nya, hanya pantas berkata," JADILAH PADAKU MENURUT PERKATAANMU ITU" (Lukas 1:38). Apa pun itu.

kalo saya baca dari uraian di atas,seperti ny kita harus menyembah Tuhan semata mata karena dia Tuhan, kalo kita berharap agar nanti selamat kan jadi seperti kita ingin mendapat balasan/perlindungan dari nya setelah kita menyembahnya.

apakah angka2 ini bisa dipertanggungjawabkan dan memang benar2 realita??

apa survey anda sudah ke semua jemaat atau cuma sekelompok kecil aja??

klo benar ya memang memprihatinkan sih

@wenas
Apa yang anda katakan mengindikasikan bahwa anda tidak mengerti “peran gembala dan juga peran anda sebagai jemaat”.
Sebagai gembala, mereka tidak hanya bertanggung jawab atas “kehidupan rohani” jemaat saja, kemudian ogah ogahan menanggapi berbagai permasalahan jasmani umatnya. Ingat, seorang gembala harus membawa dombanya kepadang berumput hijau, bukan sekedar "menuntut kesempurnaan jemaat saja.
Silahkan kalau ada yang bisa memberikan kepada saya ““ayat alkitab yang menyatakan bahwa Tuhan Elohim israel tidak mengurusi hal jasmani anak anak Nya dan membiarkan mereka berjuang sendiri””?? Silahkan…

Satu kasus dimana seseorang meninggalkan Yesus karena “kalah proyek”, itu saja sudah menunjukan bahwa “dia tidak pernah mengikut Yesus”. NEVER.!!!
Jadi bukan iman yang salah, bukan tindakan yang salah, tapi “”"inilah setan dalam gereja dalam bentuk manusia, yang kemudian akan mengganggu iman orang - orang seperti anda yang merasa terganggu dengan --apa yang anda sebut sebagai kegagalan iman–.

Jemaat yang benar melihat Tuhan secara penuh, tidak hanya melihat manusia. Jemaat yang benar, harus menjadi murid bukan “pengikut”!!

Kalau anda merasa benar dan merasa bahwa mengangkat hal hal yang menunjukan “ketidak adaan iman dan kelakuan orang tidak percaya” ini sebagai "kelakuan orang percvaya, maka saya pikir anda tidak lebih baik dari dia. Sebagai jemaat yang mengerti FT bukankah kamu harus memperingatkan, bukan sekedar ““membicarakan”” agar orang lain tahu bahwa --seakan akan kelakuan seperti itu dibenarkan Tuhan–.

Mengangkat kenyataan itu baik, tapi bertendensi untuk sekedar "“mengkambinghitamkan” seseorang itu yang tidak baik.

@sarapan pagi
Apa gak salah ada istilah “memberhalakan Tuhan”??? Kenapa sih sesuatu disebut berhala?? Karena ada pengharapan dan ada penyembahan kepada sesuatu itu. Sejak anda percaya Yesus maka anda memang memberhalakan Yesus, jangan salah. Menyembah kepada Yesus, tapi itu benar. Sedangkan diluar itu salah. Itu perbedaannya.

Maaf, tapi untuk level “setinggi” sarapan pagi tetapi lebih menyatakan pendapat -pendapat yang tendensius bukankah itu sama sekali bukan “kehendak Tuhan” dan anda tahu itu?? Bukankah seharusnya anda membentuk iman bukan menyalahkan??

Hey, jutaan, ratusan juta, milyard jiwa diluar sana sama dengan yang anda perbincangkan disini. Kalau anda ““bisa mengatakan mengasihi mereka yang diluar sana, kenapa anda tidak bisa mengasihi orang yang didalam??””. Mereka keluarga kamu dalam Yesus dan kamu lebih peduli “para hamba” diluar sana?? Karena apa?? Mereka kaya? Beda suku bangsa??
Please lah… Anda berbicara FT demikian lantang diluar sana, kenapa didalam "“anda berlaku sebaliknya”??

@most
Jujur saya heran banget dengan komentar kalian disini, seakan akan “kalian ga ada yang berpengharapan” kepada Tuhan saja. Seakan akan kalian sudah sempurna mengikut Yesus tanpa "“minta apapun” dari Yesus. Padahal, sakit sedikit saja kalian juga mintanya dari Yesus…
Entah kalian yang menyetujui begitu saja hal ini sebagai suatu “pemberhalaan” dan sebagai suatu bagian iman kristen, entah kalian ini orang 2 sempurna yang sudah “menerima pasrah saja” dan mengucap syukur, atau kalian bagian dari mereka yang “tidak tahu terimakasih”, setelah diberi langsung lupa bahwa Dia memberi sehingga tidak melihat pengharapan orang lain.

Saya tidak membela suatu “kelakuan yang salah”. Kelakuan yang dinyatakan diatas memang salah. Tetapi melihat mereka seperti sebuah “penyakit” dan kalau ada kesempatan tidak diperingatkan maka juga kurang tepat. Apalagi mengangkat masalah diatas hanya untuk mendiskreditkan satu pihak. Menurut saya aneh, kalau itu dibuat oleh seorang yang mengaku “anak Tuhan”.

Shalom.