Orang Kristen di Pakistan dan Nigeria Berdoa bagi Perdamaian

Orang kristen di Nigeria dan Pakistan berada di ujung tanduk setelah menyaksikan hari-hari yang penuh dengan kematian dan kehancuran. Ratusan orang tewas dalam kekerasan di Nigeria akhir-akhir ini, sementara orang Kristen di Pakistan merasa tidak berdaya setelah gerombolan orang Muslim menyerang tempat kediaman mereka sepanjang minggu kemarin. Sekolah Kristen di seluruh Pakistan ditutup selama tiga hari sebagai masa berkabung menghormati orang percaya yang telah dibunuh.

“Begitu banyak rumah yang dibakar dan korban yang tewas, sehingga seluruh sekolah Kristen memutuskan untuk ditutup sebagai tanda protes atas aksi kekerasan ini,” ujar Simon Raja, salah seorang pegawai administrasi sekolah.

Dua penduduk desa ditembak mati. Enam lainnya, termasuk dua orang anak-anak, dibakar hidup-hidup ketika ratusan orang Muslim menyerang pemukiman orang Kristen di kota Gojra, Pakistan. Kekerasan diawali dengan dugaan bahwa orang Kristen Pakistan telah mencemari Quran.

Hari Senin kemarin, segenap orang Kristen mengadakan rally demonstrasi menyerukan perdamaian dan keamanan bagi warga masyarakat Gojra. Para demonstran berdiri di samping peti jenazah mereka yang tewas dalam serangan dan menuntut pemerintah agar menemukan mereka yang bertanggungjawab atas serangan ini.

“Sekarang Anda akan menangkap mereka yang terlibat,” ujar salah seorang demonstran. “Tolong jangan paksa kami untuk mengangkat senjata untuk membalas.”

Orang kristen memang menjadi kelompok minoritas di Pakistan yang sebagian besar dihuni populasi Muslim Sunni. Mereka harus menghadapi intimidasi dari tangan hukum yang diskriminatif, termasuk hukuman mati bila menggunakan bahasa yang menghina Islam, Quran dan nabi Mohammad.

Di Nigeria, satu minggu setelah bentrokan antara Islam militan dengan militer Nigeria, orang Kristen di sana melakukan ibadah di bawah awan ketidakpastian.

“Saudara Kristen kami dibunuh dan gereja kami dibakar,” ujar Bapa John Paul Bashe dari gereja Saint Patrick.

Kekerasan ini dimulai pekan lalu setelah sebuah kelompok radikal Muslim, bersandar pada hukum Islam yang keras di seluruh negeri, menyerang sebuah kantor polisi di Utara Nigeria. Kelompok ini menghancurkan beberapa gereja dan rumah orang Kristen. Pertempuran senjata antara kekuatan militer dan militan Muslim terjadi selama berhari-hari.

“Mereka tidak mau menyerah,” ujar Ben Ahanotu dari militer Nigeria. “Orang-orang ini telah dipersiapkan untuk mati. Ini adalah jihad.”

Pada akhir pertempuran, 800 orang terbunuh, termasuk para pemimpin dari militan Muslim.

Di sebuah gereja Katolik, pada hari Minggu kemarin orang Kristen berkumpul untuk berdoa bagi perdamaian, bahkan dengan petugas kepolisian berjaga di luar.

“Kami harus menyemangati diri kami sendiri untuk mempertahankan iman kami, bukannya mendukung kekerasan, sehingga kami mampu membangun bangsa ini bersama-sama dan hidup bersama-sama sebagai saudara, tidak perduli apakah dia Kristen atau Muslim,” ujar Bashe.

Pihak berwenang saat ini mencoba mencari tahu bagaimana sebuah kelompok Islam yang bertumbuh merencanakan untuk mengumbar begitu banyak kekerasan dan bagaimana mencegah agar hal seperti ini tidak terjadi lagi di masa yang akan datang.

Sumber : cbn.com / LEP

bukan mrk aja qt jg ambil alih jg, krn itulah tanggung jawab qt bersama

jadi inget sebuah kesaksian yang disampakan seorang admin sebuah website Kristen buatan Indonesia dari seorang pembaca setia yang menggunakan fasilitas internet untuk bisa membaca Alkitab. Karna di sana sangat susah sekali untuk bisa memiliki Alkitab, jadi yang bisa dia lakukan hanya membaca Alkitab melalui dunia maya…

Salut kepada mereka yang menjadi komunitas minoritas yang selalu mempunyai semangat yang berapi2 untuk tetap bisa selalu berkomunikasi dengan Tuhan…

Kita yang memiliki kebebasan beragama seperti di Indonesia,
harusnya bersatu hati untuk saudara2 kita yang menjadi kaum minoritas di tempat mereka masing2,
mendoakan mereka, agar mereka bisa selalu tetap tinggal di dalam DIA bahkan bertumbuh untuk menjadi Terang bagi sekitar mereka. Amin…