Osama bin laden, sang Narko-teroris

Osama bin Laden, sang ‘Narko-Terroris’
THE WASHINGTON TIMES

Group teroris al Qaeda telah terlibat dalam perdagangan heroin begitu dalam sehingga pemimpinnya, Osama bin Laden, sekarang merupakan “narco-teroris”, kata seorang anggota Kongres AS yang baru saja kembali dari tugas mencari fakta2 di Pakistan dan Afghanistan.

“Sudah jelas bagiku bahwa heroin merupakan aset keuangan nomer 1 bagi Osama bin Laden, “kata Mark Steven Kirk, dari Illinois Republican, kepada The Washington Times. “Kita harus tahu bagaimana terorisme dibiayai. Perkiraan sebelumnya bahwa Osama bin Laden dibiayai oleh sumbangan2 kaum Wahhabi dari luar negeri itu sudah kuno. Pandangan bahwa dia adalah pengedar narkotika terbesar di dunia itu lebih tepat. Ini baru pandangan yang up-to-date.”

Pak Kirk menginginkan perubahan cara bagaimana pemerintahan Presiden Bush mencoba menghentikan pemberian dana kepada al-Qaeda. Sampai sekarang, Washington terus mengamati sumber2 keuangan bin Laden yang lama: zakat Islam dan duit keluarganya. Tapi pemerintah Bush telah menghentikan semua jalur duit itu sehingga bin Laden harus mencari jalan lain. Di Afghanistan, bin Laden dapat untung dengan adanya ladang apiun terbesar di dunia, selagi dia menghindari penangkapan di daerah2 perbatasan Pakistan. Berdasarkan penyelidikan Pak Kirk, bin Laden dapat mengeruk keuntungan sebesar US$ 24 juta hanya dari satu jalur narkotika di Kandahar.

Pak Kirk berkata bahwa tidak lagi cukup untuk mengejar-ngejar zakat dan account2 bank. Pemerintahan di Washington sekarang harus menggabungkan tugas melawan terorisme dan narkotika. “Yang paling penting adalah perubahan sebutan dalam menggambarkan Osama bin Laden. Tidak tepat lagi untuk menyebutnya sebagai seorang teroris. Sebutan yang lebih tepat adalah narko teroris, “ kata Pak Kirk yang punya jabatan di sub komite Appropriations dalam bidang perdagangan, keadilan, negara dan sektor hukum.

Pak Kirk dan tim penyelidiknya menghabiskan waktu 5 hari di Pakistan dan Afghanistan, yang ribuan hektar ladang2 pertaniannya sekali lagi menghasilkan biji2 apiun yang digunakan untuk membuat opium dan heroin. Ratusan laboratorium obat bius gelap bermunculan untuk memproses heroin yang lalu dikirim ke Pakistan.

Hubungan antara al-Qaeda dan heroin jadi lebih jelas bagi Washington. Penemuan fakta pertama terjadi bulan lalu ketika kapal2 angakatn laut menangkap perahu2 yang menyelundupkan heroin dalam jumlah besar dan dilakukan oleh anggota2 yang berhubungan dengan al-Qaeda. Di Afghanistan, Pak Kirk bicara pada berbagai badan, termasuk agen2 U.S. Drug Enforcement Administration, tentara2 AS dan pejabat anti-narkotik Afghanistan.

Sekilo heroin berharga sampai US$2.000 di Pakistan dan harga meningkat jauh di Turki menjadi US$10.000. Karena inilah al-Qaeda mengirim perahu2 penuh muatan heroin ke Laut Arabia: untuk mencari pasar yang lebih menguntungkan di luar Pakistan. “Jika dia bisa mengembangkan operasinya lebih dekat dan lebih dekat lagi ke pasar pengecer, dia akan dapat mengeruk keuntungan jauh lebih banyak, “ kata Pak Kirk.

Menteri Pertahanan Donald H. Rumsfeld ragu untuk mengirim pasukannya untuk terlibat jauh dalam peperangan melawan obat bius, demikian kata sebuah sumber. Beberapa pejabat Pentago melihat bahwa tugas memerangi narkotika seharusnya dilakukan oleh pihak penegak hukum. PBB melaporkan bahwa di Afghanistan terdapat 264.000 keluarga yang menanam opiun.

Godaan kekayaan dari opium

Afghanistan. Seperti pemburu yang frustasi, Kepala Polisi Anti Obat Bius lokal terus menyimpan foto2 orang2 yang berhasil melarikan diri. Sebuah foto menunjukkan seorang tawanan yang menggunakan topi datar bundar, berdiri di depan 10 pon opium dalam kantong2 plastik yang digeletakkan di atas meja. Lt. Nyamatullah Nyamat mengambil gambar ini di bulan Februari di hari dia menangkap orang itu. Beberapa jam kemudian, orang itu lalu dibebaskan.

Polisi bertubuh gempal dengan gaya bicara datar ini melemparkan sebuah foto lain ke atas meja di kantor di lantai bawah seperti seorang pemain kartu yang kalah. Di foto ini, tampak seseorang yang mengenakan topi putih sedang diborgol tangannya oleh seorang polisi dan tak jauh di sampingnya tampak 62 pon opium. Hakim lokal menghukum dia 10 tahun penjara. Tapi kemudian pengadilan yang lebih tinggi memerintahkan agar dia dibebaskan.

Satu dari tangkapan2 Nyamat yang terbesar, ditangkap karena memiliki 114 pon heroin, bentuk lain yang dikembangkan dari opium. Tahanan ini belum juga dihadapkan ke pengadilan ketika jaksa penuntut lokal membebaskan dia di akhir bulan Maret. Nyamat berkata bahwa hal ini normal terjadi di Kunduz, yang merupakan tempat penghubung jalur2 perdagangan obat bius teramai di dunia.

Tiga setengah tahun setelah AS memimpin penyerangan ke Afghanistan untuk menyingkirkan rezim Taliban, PBB dan Pemerintah AS telah memperingatkan bahwa negara itu terancam jadi negara narkotik yang dikuasai pedagang2 obat bius. Pemerintah AS baru2 ini mengatakan bahwa perdagangan obat bius Afghanistan merupakan “bahaya besar bagi kestabilan dunia.” PBB memperkirakan bahwa Afghanistan memproduksi sampai 87% opium dunia.

Sejak berpuluh tahun, petani2 miskin mencoba mencari nafkah di lembah pegunungan Afghanistan untuk memanen biji2 apiun yang menyuplai nadi kehidupan perdagangan obat bius dunia. Sekarang perdagangan ini bertumbuh pesat, sebagian karena tiadanya Taliban yang biasa mengatur produksi ganja dan masa penyesuaian negera setelah mengalami perang terus-menerus dalam dua abad terakhir.

Tentara AS mengadakan persekutuan dengan para warlord (penguasa militer suatu daerah) yang menyediakan tentara2 untuk memerangi Taliban. Beberapa dari pihak sekutu tersebut diduga merupakan salah satu penyalur obat bius terbesar di Afghanistan yang menguasai jaringan peredaran obat bius, termasuk para pembuat obat bius, gang2 kriminal dan bahkan anggota dari kesatuan polisi anti narkotika. Mereka juga bersedia untuk bertempur membela Taliban jika harga yang ditawarkan memuaskan.

Presiden Afghanistan Hamid Karzai yang didukung AS telah memberi jabatan kepada sebagian warlord ini di dalam badan Pemerintahannya. Ini merupakan tindakan pengakuan atas pengaruh politik para warlord tersebut. Ini juga tindakan riskan dengan pertimbangan bahwa mengajak para warlord bekerja sama lebih mudah untuk mengendalikan mereka.

”Uang dari obat bius jelas membiayai kelompok2 militer,” kata Alexandre Schmidt, kepala bagian Office on Drugs and Crime PBB di Afghanistan. “Para pelaku obat bius yang tertangkap dilepaskan lagi dalam waktu 48 jam karena intervensi dari pihak dalam pemerintahan,” katanya lagi.

Oleh Rowan Scarborough