P_e_r_h_a_t_i_a_n

*******
Dua minggu yang lalu, ketika sedang membongkar gudang, ane menemukan sebuah alkitab tua di antara tumpukan buku dan koran. Ketika membuka halaman awal dari alkitab tersebut, ane menemukan judul “saksi-saksi Yehovah” (SSY). Ane jadi bingung, karena setahu ane dalam keluarga besar ane tidak ada pengikut SSY. Jadi alkitab SSY siapakah ini? Dalam kebingungan, ane mendatangi ibu dan menanyakan perihal tersebut. Dari penjelasan beliau, ane baru tau kalo alkitab SSY itu milik adik kandung (perempuan) nenek ane dari pihak ayah. Karena adiknya nenek, tentu ane panggil nenek juga.

Dari cerita ibu, akhirnya ane jadi kejadian seutuhnya. Saat itu sekitar tahun 1980-an. Awalnya, nenek ane itu adalah seorang kristen yang hidup sederhana. Di awal 40-an beliau menjadi janda karena suaminya menderita sakit dan meninggal. Semenjak menjanda, beliau semakin mendekatkan kepada Tuhan, selalu datang lebih awal pada saat ibadah raya, duduk paling depan, aktif dalam pelayanan dan berbagai kegiatan lainnya. Pada suatu ketika, putri sulungnya sakit keras di luar kota. Beliau segera berangkat untuk menjenguk. Kira-kira dua minggu kemudian, sakit putrinya semakin memburuk dan meninggal dunia. Berinisiatif menguburkan putrinya di kota tersebut, kira-kira setelah lewat satu bulan barulah nenek ane kembali tempat tinggalnya. Adapun berita tentang kematian anaknya tersebut sudah diketahui oleh pihak gereja karena pada saat kejadian ada orang yang disuruh untuk memberitahukan.

Sebagaimana tradisi, jika ada jemaat atau keluarga jemaat yang meninggal maka gereja akan mengutus wakilnya bersama beberapa jemaat untuk mengadakan penghiburan di rumah yang bersangkutan. Tetapi setelah lewat berminggu-minggu, tidak ada satupun wakil gereja datang untuk mengadakan penghiburan. Emosi yang tidak stabil karena kematian putrinya bercampur dengan kekecewaan karena merasa gereja tidak mempedulikan dirinya sebagai jemaat membuat kemarahannya memuncak. Tak berapa lama kemudian, entah bagaimana ceritanya, nenek ane sudah terhitung sebagai jemaat SSY di kotanya. Kata ibu, ketika almarhum ayah ane menanyakan kenapa beliau “pindah” (waku itu masih di sekolah dasar), beliau cuma menjawab, “di sini (SSY) ada perhatian dan kepedulian.”

Ternyata hal yang sama juga pernah dialami oleh nenek ane dari pihak ibu (ibu kandungnya ibu ane). Ketika itu cucu sulung dari putra sulungnya meninggal di kota lain. Karena sangat jauh, beliau tidak sempat melihat & hanya memberitahukan kabarnya pada pihak gereja. Sebagai jemaat gereja, kehidupan nenek ane ini juga sebelas-duabelas dengan nenek ane sebelumnya. Sama-sama janda, hidup sederhana dan sama-sama berusaha menjadi jemaat yang baik. Tetapi, entah kenapa, lewat berminggu-minggu, yang namanya penghiburan tidak pernah terjadi. Bahkan utusan gereja untuk hanya sekedar datang menyampaikan turut berdukacita juga tidak pernah ada. Kecewa dan marah, nenek ane memutuskan untuk tidak akan menginjakkan kaki lagi di gereja tersebut. Padahal beliau melewatkan masa kecil, remaja dan dewasanya di gereja tersebut. Setelah belasan tahun, akhirnya beliau mau lagi menginjakkan kakinya di gereja ketika pernikahan putrinya (ibu ane) meskipun itu gereja di kota lain.
*******

Setelah merenungkan dua kisah serupa tapi tak sama ini, ane sangat-sangat menyayangkan sikap dua gereja tersebut yang entah kenapa seperti “lupa” dengan kewajibannya untuk “memperhatikan” (baca: menggembalakan) jemaatnya. Bahkan sampai sekarang pun, pendeta atau gembala kadang kala terlalu terfokus untuk berkhotbah dan sering melupakan kunjungan, besuk, doa pengurapan & kesembuhan atau melakukannya juga tapi hanya untuk jemaat tertentu yang kaya atau berstatus sosal tinggi.

Hal ini juga yg ane liat dan benar-benar terjadi bahwa banyak jemaat yang tidak mau ibadah, pindah gereja bahkan pindah keyakinan karena mereka “merasa” tidak diperhatikan dan dipedulikan lagi. Jauh lebih banyak daripada “hanya” karena kebenaran theologia, khotbah, ibadah raya atau bangunan gereja.

Petrus, ketika diperintahkan Yesus untuk menggembalakan domba-domba-Nya, ditanyai sampai tiga kali dengan pertanyaan yang sama, bahwa apakah dia mengasihi Yesus. Semoga setiap orang yg mengaku sebagai pendeta atau gembala, bener-benar mengasihi Yesus sebagaimana Petrus mengatakannya.

Bro shadowing.

Saya kebetulan cukup akrab dengan kelompok sesat SSY ini.
Bahkan saya kenal beberapa penetua mereka dengan cukup akrab.
Alkitab merekapun saya punya.

Nah, kalau dari kisah anda, seoalah mereka (SSY) lebih perhatian kepada 'umat’nya dibanding gereja Kristen. Pada kenyataannya, bisa dikatakan tidak, bro. Mereka hanya seolah olah akrab, karena ada ketentuan, setiap minggu minimal 2-3 kali mereka mengadakan pertemuan.

Tetapi, dalam kehidupan nyata sehari hari, sikap mereka kepada sesama ‘umat’ SSY, justru lebih banyak intrik, karena mereka bersaing satu sama lain. Ini dari kisah teman teman saya itu, yang kebetulan bisa bersikap terbuka kepada saya.

Syalom

jangankan di kelompok SSY, di gereja Kristen aja juga ada kok orang2 yg rajin melayani jemaat dgn motivasi nyeleneh(misalnya buat pencitraan diri,dsb).nih komsel saya pernah jadi korbannya(bener2 ga nyangka soalnya orangnya hebat banget & seolah penuh urapan gitu klo khotbah).ketauan pencitraan krn orangnya bisa langsung ‘nelantarin’ anak2 komsel tanpa pikir panjang setelah yg bersangkutan ditawarin posisi penting dari gereja lain.itupun orangnya ga berani ngaku sendiri di hadapan anak2 komsel(kita taunya dari orang lain).apa fungsi gereja klo jemaat cuma dianggap sbg ‘batu pijakan’ utk pemimpin gereja?

Yaaaah, namanya manusia.
Cuma kalau agama dipergunakan sebagai pijakan untuk mencapai keinginan dunia, sungguh kasihan sekali orang orang itu.

@brc, @jegan2000 : thanks utk replynya, masbro.

Berbicara soal care/kepedulian/perhatian, tiap orang berbeda-beda “porsi & ukurannya”. Kalo menilik kasus dua nenek ane di atas (dua-duanya sudah almarhum), sbg seorang janda yg hidup sederhana di thn 80-an, kedatangan wakil/utusan gereja dalam hal penghiburan merupakan sesuatu yg sangat istimewa buat mereka. Apalagi itu merupakan tradisi lama gereja yg “wajib” dilakukan untuk setiap jemaatnya.

Jadi teringat ketika ane ikut dalam penghiburan di rumah keluarga salah satu jemaat lama. Malam itu gembala sidang dan beberapa penatua sedang ada rapat badan pengawas daerah sehingga tidak bisa hadir. Karenanya diutuslah beberapa fulltimer plus jemaat yg kebetulan selokasi dengan rumah yg bersangkutan. Mungkin karena keluarga dari jemaat ini kurang mengenal fulltimer yg diutus, mereka beberapa kali menanyakan kapan gembala sidang datang kepada ane. Pun ketika di tengah-tengah acara, mereka sesekali menanyakan hal yg sama. Bahkan ketika acara selesai dan ketika sedang menikmati jamuan, pertanyaan yg sama acapkali diajukan. Sampe bosen ane menjelaskannya.

Mungkin inilah hal yg sama, yg diharap-harapkan oleh kedua nenek ane saat itu. Secuil perhatian yg bisa menguatkan mereka dalam kesedihan yg sedang dialami.

Untuk kasus pemimpin gereja yang care atau ‘cuek’, sepertinya memang terasa agak kurang belakangan ini ya, itu betul sekali, bro. Mungkin, ada kemungkinan disebabkan oleh semakin besar jemaat, maka semakin sibuk pula sang gembala. Tetapi, menurut saya sih lebih banyak pada pribadi, apakah pribadi sang gembala merupakan pribadi yang care kepada domba-dombanya, atau cukup dengan mendoakan saja.

Bandingannya mungkin seperti gubernur DKI deh, beda kan antara Jokowi dan Foke? Antara yang sering blusukan dan yang nyaris tidak pernah.

:smiley:

:afro: sbenernya, pergumulan ini juga ada di tempat ibadah saya. Padahal, udah ada tim doa penghiburan loh… Saya sangat prihatin saat mendengar cerita Anda dan saudari saya di mana saya berjemaat. Sebagai gantinya ya… saya sarankan jika kita mengenal tu jemaat; saat kita dicalling untuk mendoakan mereka yang tengah sekarat ya… kita segera datang ke sana. Biarlah Tuhan yg menghukum gembala yang lalai itu. Jika mereka lalai, kitalah yang harus bangkit menjadi gembala mereka :char11: dlm arti… menjenguk, mendoakan, dan ikut hadir dalam ibadah penghiburan mereka. Orang berusia emas adalah salah satu contoh jiwa yang terhilang dalam konteks masa kini. Adakah kita peduli dan peka terhadap kebutuhan mereka ? :azn:

Suatu perbandingan yg ane kira tepat sekali, masbro. Sebagaimana Yesus dan murid-murid-Nya yg selalu rajin blusukan ke seluruh penjuru israel, bahkan kemudian mengutus 70 murid secara berdua-dua untuk blusukan supaya seluruh area tercover. Dan selama blusukan itu, mereka melakukan mujizat sambil terus memberitahukan kabar baik.

Thanks utk komennya, masbro. Kita sama-sama tau persis bahwa jadi gembala itu tidak mudah. Itu sudah ditunjukkan ketika Yesus hendak memerintahkan petrus untuk menggembalakan domba-domba-Nya.

Terkadang ketika badan cape abis kerja, tiba-tiba disms utk penghiburan, rasanya males banget. Apalagi kalo temen-temen yg lain juga rada-rada berat juga untuk datang. Belum lagi kalo gembala sidang atau wakilnya berhalangan. Serasa kaki dipaku saking males bergerak.

Model bayi dan anak kecil secara alami membutuhkan perhatian.
Model orang dewasa, sebaliknya, secara instinktif memberikan perhatian kepada bayi dan anak-anak.

Dalam teori analisa transaksional Thomas Harris, dua model ini bisa terjadi di segala usia.
Itu sebabnya kita bisa menemui orang-orang muda yang bisa jadi pemimpin, dan juga orang-orang tua yang terus menerus minta perhatian dari orang lain.

Sedih hati saya setiap kali membaca hal seperti ini.

Betul seperti kata bro shadowing, dari begitu banyak cerita tentang orang-orang mengundurkan diri dari iman mereka, hampir selalu penyebabnya adalah kekecewaan & kepahitan terhadap Gereja.

Akibat ‘ulah’ saudara-saudara seiman dalam Kristus sendiri, banyak orang akhirnya menyalahkan Tuhan dan membuang segala hal yang berhubungan dengan Tuhan; yang mana jika kita renungkan kembali dalam-dalam sebenarnya tidak ada korelasinya secara langsung.

Saya sendiri pernah menyebabkan seseorang menjadi mundur dari Tuhan hanya karena ucapan saya menyakiti hati dia (dimana pada saat itu pun sebenarnya saya sedang bergumul dalam masalah juga, dan dia mungkin menganggap saya sebagai aktivis Gereja).
Bahkan saya sendiri pernah mundur dari Tuhan selama belasan tahun karena dulu saat saya diterpa masalah besar, nobody cares dan semua saudara seiman dari Gereja atau PD seolah lenyap ditelan bumi (hingga saat ini).

Saya yakin, begitu banyak masalah dalam keseharian umat Tuhan yang akhirnya berlalu begitu saja, yang pada akhirnya kita cuma bisa terpaksa untuk memaklumi bahwa tenaga pelayan Tuhan sangat terbatas dibandingkan dengan jumlah jemaat yang harus dilayani. Sehingga akhirnya kebutuhan jemaat banyak yang terabaikan karena harus selalu gembala sidang atau pendeta yang turun tangan langsung.

Saya rasa penyebabnya adalah tidak adanya penggembalaan wilayah atau multilevel discipleship, dalam bentuk persekutuan wilayah atau komsel, dimana setiap saudara seiman bisa lebih dekat dan saling memperhatikan dan mengingatkan.

Jika gereja hanya mengandalkan kegiatan ibadah minggu atau event-event tertentu saja misalnya KKR, maka gereja tak ubahnya seperti pertunjukan konser artis atau bioskop di mana lebih dominan fungsi mulut yang berbicara, bukan telinga yang mendengar.

tergantung gimana komselnya,masalahnya tidak semua komsel itu diadakan sesuai dgn maksud Tuhan(kadang2 kepentingan manusia lebih dikedepankan).ga jarang saya melihat komsel yg diadakan demi tujuan pencitraan orang2 tertentu(biasanya yg haus jabatan gerejawi).ada juga komsel yg kebanyakan bercanda & cuma fokus ke praise & worship tp sesi sharing Firman Tuhan nya terkesan asal2an/ buat formalitas aja(akhirnya anggota yg ga mudeng terpaksa berlagak ngerti aja & pas disuruh diskusi malah ngobrol ngalor ngidul).in the end ga ubahnya seperti anak2 muda yg suka kongkow2 ga jelas sampe dini hari.

ada juga kejadian di komsel dimana orang2 yg ga mudeng dgn Firman Tuhan yg dibagikan malah dijadiin bahan olok2an anggota lainnya & bukannya dibantu supaya bisa mudeng(sementara orang yg ga mudeng tp jago cerita ngalor ngidul malah dipuji-puji).proses ‘saling’ yg dijabarkan dlm Alkitab udah bergeser jauh dari maksud aslinya :mad0261: .