Pacaran antar protestan dan katolik

Perkenalkan, saya irene umur 20 tahun dan pacar saya umur 21 tahun. Mau tanya ini :slight_smile: Ini tentang hubungan pacaran saya :slight_smile: saya protestan dan pacar saya katolik. Kami sudah berpacaran baru saja, sekitar 3 bulan lalu. sebelumnya kami berpacaran alias pdkt, si pacar pernah kepo, apakah saya sudah dbabtis secara protestan? apakah saya boleh berpacaran dengan anak katolik? saat itu saya bingung, apakah itu bermasalah. sepengetahuan saya, protestan dan katolik adalah kristen, sama-sama percaya Yesus adalah Tuhan. Saat itu saya bingung dan mulai menepis pikiran saya itu. saat di pacar menyatakan cinta pada saya, ada 1 pernyataan jika memang saya benar-benar mau menjadi pacarnya, apakah saya mau berkomitmen karena dia mengatakan agami kami sama tapi berbeda (saat itu saya bingung). saya kembali menepis dan saya menerimanya. saat kami berpacaran, dia kembali mengatakan, jika memang Tuhan berkehendak suatu saat kami menikah, si pacar menganjurkan saya untuk ke katolik. pikiran itu kembali berkecamuk hingga saat ini. dan yang saya tahu, keluarga si pacar termasuk orangtuanya sangat aktif sekali dalam semua kegiatan gereja katolik dan saya pun sempat pesimis karena saya sendiri tidak terlalu aktif dalam kegiatan gereja. saya sudah baca dari postingan tentang pernikahan protestan dan katolik, bukannya ada titik terang justru saya semakin bingung, banyak sekali pendapat2 yg berbeda. saya pernah curhat ke orangtua saya, jika saya ke katolik, apakah diijinkan? mereka menjawab boleh saja. dan saya pikirkan, apakah protestan dan katolik itu disebut beda gereja atau beda agama? apakah boleh protestan dan katolik menikah? yang saya tahu, keluarga saya banyak menikah protestan dan katolik. adakah pendapat? terimakasih :slight_smile: salam

coba baca trit ini sis sebagai referensi.

:slight_smile:

Sebenarnya sih menikah dg antar denominasi yang masih sama-sama percaya dg Allah Tri Tunggal alias sama-sama mengakui Trinitas ga masalah bila ke dua belah pihak sama-sama memang menyadari penuh segala konsekwensi seperti tidak bisa secara penuh untuk beribadah bareng dan menyadari tiap denominasi mempunyai aturan-aturan rumah tangganya sendiri. Bagi sodari yang tidak melayanin di gereja sodari, mungkin tidak begitu merasakan perbedaan tsb, sodari menganggap tidak ada bedanya karna toh kenyataannya sodari tdk terikat atau tidak masuk dalam keorganisasian gereja just jemaat biasa. Konotasi jemaat biasa identik kurang memiliki beban dan tanggungjawab di dunia pely gereja dan belum tentu dikenal baik oleh gembala di gereja tsb apalagi jika hanya datang dan pulang ibdh minggu selebihnya vakum. Namun jika sodari dalam kondisi pelayanan pasti akan lebih membutuhkan pasangan dalam satu gereja yang sama karna bisa sama-sama saling mendukung pelayanan di satu gereja yg sama jd secara otomatis akan lebih mudah memahami prinsip-prinsip yang ada di gereja tsb dan tentunya bisa dikenal baik oleh gembala setempat. Perlu sih memiliki koneksi yang baik dg gembala setempat, setidaknya memunculkan rasa pada diri jemaat dan gembalanya adanya rasa saling memiliki, karna biasanya bila tdk memiliki koneksi yang baik dg gembalanya hal ini yang membuat jemaat dg mudahnya berpaling pindah2 gereja dan seakan-akan tidak punya beban dg gereja tsb. Tapi beda lagi dg jemaat yang dewasa rohaninya, mempunyai komitmen dg gerejanya. Bagaimanapun pasangan hidup adalah berbicara masa depan bersama dan sebaiknya harus punya satu tujuan yang sama pula.

Namun melihat dr usia sist dan pasangan yang masih muda, masih punya waktu untuk memikirkan bagaimana langkah ke depan yang baik. Dan melihat bagaimana cara sist mengutarakan keluh kesah sist terlihat sist belum matang dalam hal mengiring Yesus dan belum matang dalam pengalaman hidup, maka yang timbul adalah -kebingungan dan gamang- dan sist melihat hal ini menjadi blur. Beda sist, pribadi matang dan belum, karna bila sudah matang berpikirnya maka hal-hal seperti ini akan dg mudah ditemukan jalan keluar dan pencerahan. Trus sist juga secara kerohanian masih perlu diasah agar mengerti dg kehendak Tuhan dan mengambil sikap. Berdoalah pada Tuhan agar diberikan titik terang agar sist dan pasangan sist jika berjodoh pasti disatukan visinya sehingga selaras dalam membina rumah tangga. Dan sesungguhnya sih, akan lebih indah bila dalam satu keorganisasian gereja yang sama, tujuannya untuk meminimalisir perbedaan2 yang ada dan punya satu pemimpin rohani gereja yang membapai dimana pasangan sama-sama berjemaat. Yah namanya juga pasangan suami istri, bukankah indah bila satu kapal yang sama :slight_smile:

Semangat Sist, saya percaya lewat waktu sist akan didewasakan dan mengerti untuk mengambil sikap atas apa yang menjadi kegalauan sist saat ini :slight_smile:
Hub sist masih baru dg pasangan, nanti lewat berbagai peristiwa yang terjadi lambat laun sist akan melihat dan merasakan sendiri apakah hub kalian layak diteruskan atau tidak.

Tuhan Yesus Berkati

terimakasih pencerahannya sist :slight_smile: Tuhan Yesus memberkati juga :happy0025:

IMO, terlalu cepat buat ente memikirkan hal-hal berbau pernikahan karena usia pacaran baru 3 bulan. Masih seumur jagung. Tapi jika memang pada akhirnya Tuhan menyatukan ente dengan pacar yang sekarang dalam pernikahan maka berdasarkan posting ente di atas (yang di-MAROON) bisa dibilang ujungnya akan fine-fine aza.