Panggilan dan Tujuan Hidup

Ada saatnya dalam kehidupan kita, ketika kita harus meninggalkan orang-orang yang kita kenal. kita harus meninggalkan zona nyaman kita. kita meninggalkan keluarga, teman, orang-orang dan lingkungan yang kita tahu. Kita meninggalkan semua karena pendidikan, pekerjaan, ataupun alasan lainnya.

Semua terasa berat untuk meninggalkan keluarga yang kita kasihi, teman-teman yang selalu menyertai, lingkungan yang nyaman, rumah tempat kita tumbuh. Belasan bahkan puluhan tahun sudah kita habiskan bersama mereka di tempat penuh kenangan. Tetapi pada akhirnya kita harus pergi meninggalkan semua itu, menuju tempat baru, yang sama sekali baru. Mungkin pada awalnya kita akan merasa galau dan khawatir, serta berharap bisa kembali lagi ke masa lalu kita.

Apakah tidak bisa saya tinggal?

Tuhan saya masih ingin menghabiskan beberapa tahun bersama keluarga dan teman-teman saya.

Mengapa Tuhan?

Ya, saya pun pernah merasa seperti itu, dimana saya akan pergi meninggalkan zona nyaman. Meninggalkan keluarga, rumah tempat saya dibesarkan, teman-teman, lingkungan. Semua terasa begitu berat, banyak pertanyaan dalam benak saya.

Saya sejak lahir tinggal di pulau jawa selama 20 tahun,
Dua tahun yang lalu saya menandatangani kontrak untuk bekerja di perusahaan swasta yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit. Dalam kontrak tersebut saya bersedia untuk ditempatkan dimana saja selama lima tahun. Saya akan mulai ditempatkan pada bulan oktober.

Setelah magang selama 5 bulan, pada awal agustus saya kembali ke Bogor dan tentunya banyak pertanyaan yang semakin menggema dalam benak saya,
benarkah pilihan saya? bisakah saya bertahan? Apakah ada rencana Tuhan?

Dan Tuhan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya.
2 minggu yang lalu, tepatnya pada tanggal 19 agustus saya mengikuti sebuah workshop yang berjudul “Panggilan dan Tujuan Hidup” dengan pembicara Pdt. Nathan Setiabudhi. Saya mendapat banyak hal.

Ketika Tuhan memanggil kita, dengan apakah kita bisa menjawab?
Tentu bukan hanya sekedar kata “ya”, bukan pula pasrah dan membiarkan Tuhan yang bekerja. Jawaban yang terbaik adalah “belajar”.

Tuhan memanggil kita untuk menjadi dokter, maka kita harus belajar.
Tuhan memanggil kita untuk menjadi guru, maka kita harus belajar.
Tuhan memanggil kita untuk menjadi petani, maka kita harus belajar.
Tuhan memanggil kita untuk menjadi pendeta, maka kita harus belajar.
Tuhan memanggil kita untuk menjadi jurnalis, maka kita harus belajar.
Tuhan memanggil kita untuk berwirausaha, maka kita harus belajar.
Tuhan memanggil kita untuk menjadi penulis, maka kita harus belajar.
Tuhan memanggil kita untuk menjadi penginjil, maka kita harus belajar.

Kita tidak bisa melakukan itu dan memberikan yang terbaik jika kita tidak belajar.

Hal lain yang saya dapat dalam kotbah pagi ini adalah, kita tidak dapat menjadi berkat dan memberikan yang terbaik dalam lingkungan baru kita jika hati dan pikiran kita masih ada di masa lalu, masih ada di tempat kita dahulu.

Ada dua hal yang bisa kita lakukan,

  1. Meratapi dan memohon kepada Tuhan. Dan kita tidak bisa maju.
  2. Bersyukur atas masa lalu indah yang telah Tuhan beri dan menatap tugas baru yang telah Ia percayakan pada Kita.

Apa pilihan anda?
Pilihan no dualah yang dipilih oleh Yusuf. (Kej 37-50)

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan

  1. Yusuf dijual menjadi budak oleh para saudaranya (Kej 37:27)
  2. Ia baru berumur sekitar 17 pada waktu itu (Kej 37:2)
  3. Ia menjadi budak di Mesir (bahasa, budaya yang baru baginya; Kej 37:36)
  4. Ia punya banyak sekali alasan untuk bersungut-sungut, meninggalkan Tuhan, bahkan mengakhiri hidupnya.

Tapi, apa yang dia lakukan?
Dia terus belajar… Ia melakukan semua yang Tuhan percayakan kepadanya dengan sungguh-sungguh… Ia selalu melakukan yang terbaik… Ia Belajar dan terus Belajar…

Kej 39:2 Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu.
Kej 39:3 Setelah dilihat oleh tuannya, bahwa Yusuf disertai TUHAN dan bahwa TUHAN membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya,

Tentunya Potifar tidak mengenal Allah Israel, jadi bagaimana ia bisa melihat bahwa Yusuf disertai Tuhan?
Dia melihatnya dari kecerdikannya, dari kecepatan dan kemahirannya dalam menguasai bahasa mesir, dalam keahliannya berbisnis, dalam kesungguhan dan kesetiaannya melakukan segala hal. Semua itu menunjukan bahwa Ia dikasihi oleh Yang Maha Kuasa, dan dianugerahi berkat yang luar biasa. Ia merupakan orang yang luar biasa dalam usia semuda itu. (Gill, 1748-1763)

Ia bisa saja melawan dan mencoba kabur, tetapi ia melakukan tugas-tugasnya dengan sebaik mungkin, ia terus belajar.

Setelah menjadi budak, ia menjadi tahanan…

Kej 39:20 Lalu Yusuf ditangkap oleh tuannya dan dimasukkan ke dalam penjara, tempat tahanan-tahanan raja dikurung. Demikianlah Yusuf dipenjarakan di sana.
Kej 39:21 Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu.
Kej 39:22 Sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang harus dilakukan di situ, dialah yang mengurusnya.
Kej 39:23 Dan kepala penjara tidak mencampuri segala yang dipercayakannya kepada Yusuf, karena TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil.

Dalam Ayat 22 tertulis Yusuf lah yang mengurus semua pekerjaan yang harus dilakukan, seperti dalam “Targum Jonathan ben Uzziel” menguraikan, “Ia memerintahkan semua untuk diselesaikan”; atau dalam “Targum Onkelos”, “Semua dikerjakan berdasarkan perkataannya, otoritas dan perintahnya”.

Apa saja yang dilakukan oleh Yusuf?
Dalam Eksposisinya Gill berkata, Semua metode untuk menjaga keamanan para tahanan, membujuk tahanan untuk mengakui kesalahan mereka, atau membebaskan para tahanan yang tidak bersalah, dan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan kegiatan di penjara. Semua dilakukan dengan tangan Tuhan yang menyertai dia, mengarahkan, memberkati dan membantu dia, sehingga ia disukai oleh para penjaga dan tahanan.

Sebenarnya ketika pertama kali masuk penjara Ia bisa saja duduk diam dan ,meratapi nasibnya, setelah dijual oleh saudaranya, menjadi budak, dan sekarang menjadi tahanan, dirantai dan dibelenggu, hal lebih buruk apa yang bisa terjadi?

TIDAK, itu adalah jawabannya, ia memilih untuk tetap belajar, sehingga ia bisa melakukan tugas-tugas yang dipercayakan kepadanya. Keadaan tidak bisa memaksanya untuk berhenti menjadi berkat bagi sesama.

Walaupun Tuhan menyertai kita, tentunya kita perlu belajar dan berusaha dan memberikan yang terbaik.

Sehingga Akhirnya setelah 13 tahun ia habiskan menjadi budak dan tahanan ia diangkat menjadi orang kedua di Mesir (Kej 41:46)
Tentunya setelah menjadi penguasa ia tetap harus belajar bagaimana caranya memimpin dan mengatur satu bangsa.
Ia tetap belajar, sehingga akhirnya Ia menjadi berkat dimanapun ia berada. Ia menjadi berkat bagi bangsa mesir dan bangsa Israel.

Ia tidak membiarkan kenangan masa lalu menahan dirinya, ia tidak menyerah dan meratapi keadaan, tetapi ia menatap kedepan dan terus melakukan apa yang bisa ia lakukan sekuat tenaga (Pengk 9:10). Sehingga Ia menjadi berkat bagi banyak orang.

Demikian pula Tuhan memanggil kita untuk menjadi Yusuf-Yusuf lainnya, mungkin melalui bakat kita, minat kita, ataupun pekerjaan kita saat ini. Dimanapun kita ditempatkan, apapun pekerjaan kita, semuanya bisa kita lakukan dan kita bisa menjadi berkat bagi orang-orang disekitar kita.

Jangan biarkan masa lalu kita menjadi halangan, Kita lakukan yang terbaik pada saat ini sebagai ucapan syukur kita atas masa-masa indah yang telah Tuhan berikan kepada kita.

Ada satu lagu dalam PKJ 177 yang berbunyi
Ini aku, utus aku!
Kudengar Engkau memanggilku.
Utus aku; tuntun aku;
‘Ku prihatin akan umatMu.

Apakah kita sudah mendengar panggilanNya?
Apakah kita sudah siap diutus?

Dear TS Ytk dalam TYK,
Tq u utk tulisan yg membangun, encouraging & real.
Masa lalu yg dimata manusia terasa “buruk” & sekelam apapun, memang sepatutnya dipahami & disimpan dlm kenangan dg CARA & PERSPEKTIF yg brbeda, tdk membiarkeunnya jd akar kepahitan yg sllu melilit langkah kaki kemanapun pergi.
Dampak perubahan menang/lepas dr rongrongan kepahitan masa lalu akan nyata, jika dan hanya jika bs diamini sbg semata2 bagian RENCANA BESAR Bapa utk MISI-Nya dlm hidup qta; sehingga tdk membuatnya mjd batu sandungan/aral utk mjd manusia baru masa depan, utk BERUBAH sesuai maksud Tuhan, utk bs BRTUMBUH sbg TUNAS BARU di dlm pengenalan FirmanNya & then bs BRBUAH dr POKOK ANGGUR yg BENAR.
iLove it! Nice reading :wink:
Uhm… apa lg, figur&karakter Yusuf yg 1 ini been always be 1 of my male idol from HolyBible^^
to me, he’s the almost “perfecto man inside-out” :ashamed0002:
Gracias. JBu

tentaranya Tuhan :smiley: