Panggilan Masuk Teologi (silahkan baca kisah saya dan kasih pendapat ya)

Sebelumnya saya mohon maaf jika sudah sering sekali orang yang bertanya tentang hal ini…tapi ijinkan saya untuk men-share kannya kembail, dengan kisah saya…jadi saya bisa mendapatkan pendapat yg berbeda dari yang lain :slight_smile:

jadi begini…sekarang saya berumur 17 tahun, dan duduk di kelas 3 SMA…seperti anak2 SMA lainnya, bulan2 ini adalah bulan2 yang memusingkan, terutama dalam hal menentukan pilihan karir, yg lebih spesifik lagi, menentukan universitas dan jurusan yang akan dituju. Nah, saya ini salah satunya, yang “merasa” mendapatkan panggilan untuk masuk teologi.

Panggilan ini sudah ada sejak saya SMP. Waktu itu dimulai ketika menghadiri sebuahjh kebaktian biasa sebelum paskah. Saya dulunya memang sudah orang percaya, dan keluarga saya jg orang percaya yg baik2, tetapi saya memang tidak terlalu peduli dengan apa yang namanya gereja ato apalah itu. Ya saya setiap harinya berdoa dan percaya sama Tuhan, tapi belum sepenuhnya hidup yang benar2 kudus.

Namun di hari kebaktian itu, pada bagian akhir, si pendeta menanyakan “Apakah ada yang ingin didoakan untuk pelayanan?”, sambil menyanyikan lagi “Melayani melayani lebih sungguh”. Saya yg tidak pernah peduli dengan pelayanan, gereja, Alkitab, dsb. mendengar itu, hati saya langsung pedih, dan seketika mengeluarkan air mata, meskipun tidak banyak. Dan dalam pikiran saya itu, ada bayangan tentang menjadi pendeta atau masuk sekolah teologi.

Sejak saat itu, hidup bisa dibilang berubah sih. Dulu yang sukanya baca komik dan majalah2 yang berhubungan dengan komputer dan game, jadi berkurang, dan entah kenapa, saya jadi senang membeli buku2 rohani, dari yang ringan, sampe buku teologi yg cukup berat bagi anak seumuran saya. Saya juga entah kenapa, jadi sangat tertarik dengan yang namanya Alkitab dan isinya, saya suka sekali menyelidiki hal2 yang aneh, tentang kisah dalam Alkitab, dsb. Belajar terus tentang teologi. Itu entah kenapa…sampai sekarang juga cukup bingung sih, tapi ya suka, gembira, dan seneng sih waktu belajar hal2 seperti itu. Karena anugrah Tuhan kali ya…hehe

Lalu sampai suatu kali, sekitar 2 tahun yang lalu, saya Sidi (desember 2008). Padahal teman2 katekisasi yang kenal cuman 2 orang, dari sekitar 30 orang. Karena katekisasi itu, saya diajari tentang pelayanan. Lalu, saya tertarik menjadi redaksi majalah remaja nya gereja saya. Dan saya pun ikut, tapi tidak bekerja banyak, melainkan malah ditawari jadi pengurus remaja. Waktu itu saya pikir, apa salahnya. Padahal saya tidak pernah datang ke remaja, seringnya ke kebaktian umum, karena saya suka musik2 klasik dan Hymn. Berselang 6 bulan, sekitar Oktober 2009, saya menjadi ketua panitia natal remaja. Saya cukup kaget, karena hanya dengan 6 bulan, bisa langsung ditawari melayani dengan tanggung jawab seperti itu. <<< (Murni karunia Tuhan kalo ini.). Singkat cerita, April 2010 ini, saya jadi ketua remaja.<<< (INI KARUNIA DAN ANUGRAH TUHAN) dan saya sangat2 senang dalam melayani Tuhan dalam hal ini, saya suka mengkonseling teman2, saya juga suka ngasih nasihat atau “kotah/renungan” untuk teman2 juga. Di sekolah pun saya sudah disebut sebagai “Pak Pendeta” (yg kadang say bingung, mau bangga atau malu…hehehehe)

Karena hal2 di atas lah…saya jadi punya keinginan untuk masuk teologi, tapi tidak ingin jadi pendeta. Saya lebih memilih menjadi dosen, karena ingin mengajar dan mempersiapkan orang2 yang akan memberitakan Firman Tuhan. Juga karena, saya ini orangnya introvert. Saya juga sudah engga kepikiran sih, nanti bagaimana dengan urusan ekonomi dan sebagainya, saya percaya itu semua sudah dicukupkan Tuhan :slight_smile:

Yang jadi permasalahan saya adalah, mama saya bilang: “kamu lebih baik S1 nya umum dulu, buat pegangan, baru S2, kalo mau teologi”. Dan permasalah lain adalah, satu2nya sekolah yang ingin saya tuju hanya di SAAT Malang, entah kenapa. Dan di sana itu, pendaftaran baru dibuka bulan Maret 2011, kalo tidak salah. Padahal, universitas2 lain (yang non-teologi) sudah mulai membuka pendaftaran. Yang jadi pemikiran saya: “Bagaimana kalo ini semua bukan panggilan dan jalan Tuhan? Lalu ketika saya sudah terlanjur tidak mendaftar di universitas lain, ternyata saya tidak diterima di SAAT, berarti saya harus nganggur setahun”. Disinilah, saya belajar beriman sebenarnya. Percaya tanpa melihat, ketika semuanya “gelap” dan “tidak tentu”.

Tapi, karena itu saya mohon pendapat dan saran dari saudara2 semua…
Maaf kalo panjang sekali, tapi saya hanya berusaha untuk menceritan semuanya, jadi biar lebih enak.
Terima kasih atas waktunya dan juga nasihatnya :slight_smile:
Tuhan berkati kita semua
Soli Deo Gloria

Bro sudah berkeyakinan demikian dan merasa panggilan bro masuk ke dalam sekolah Teologia maka jangan tunda lagi untuk S1 jurusan umum. Bro boleh meminta peneguhan dari Tuhan jika memang Tuhan memanggil bro demikian. Bro memiliki kerinduan untuk sekolah di SAAT Malang, maka jika memang Tuhan memanggil bro maka jalan akan terbuka. Untuk saat ini bro harus berjalan dengan iman “percaya tanpa melihat” dan “yakin dalam gelombang”…^0^

Salam

Salah satu peneguhannya adalah Visi yang jelas… setelah studi mau melayani apa di mana? karena secara jujur… sekolah teologi menentukan dimana dan apa yang akan anda layani…

Namun satu catatan penting… kalau langsung sekolah teologi… jangan pernah menutup mata pada semua ilmu dan pekerjaan yang lain… karena nanti dibilang pelajaran di awang-awang…

Saya rindu menemukan seorang teolog yang ahli di bidang bisnis, atau bidang karya lain…

Daftar di tempat lain sebelum SAAT buka, sambil daftar di SAAT, nanti kalau ternyata tidak diterima di saat kan lanjutkan saja yang sudah diterima, kalau nantinya diterima di Saat bukannya bisa di tranfer apa yang sudah diambil ditempat lain.

mau jadi dosen atau pendeta, itu pilihan anda bro…

jadi dosen tapi klo ga bisa jadi panutan juga sama
jadi pendeta klo ga bisa (mengajarkan yang baik) buat apa jadi pendeta? betul ga?

intinya jika sudah mantab masuk teologia,… lakukan bro panggilan itu…
Jangan ragu2…

masalah dengan orang tua atau keluarga => tidak bisa menentukan langkah hidup anda. Keberhasilan bukan di ukur dari kekayaan ortu, tapi langkah diri sendiri…
Tetapi jangan membantah mereka yach…

salam :slight_smile:

well, stuju dengan pendapat kl dftr dulu aja ke universitas lainnya…kl gak keterima di SAAT malang kan masih ada pegangan jadinya gak nganggur…

dan melayani Tuhan gak harus sekolah teologia, gak harus jadi pastor, pendeta, dll…bs jadi dosen, bisnisman, karyawan…

mendingan ikutin dl kata ortu u… kuliah umum dl S1 baru kuliah S2 teologia…spt kata bro liberty bilang… buat apa jadi pendeta tapi cm ngerti firman Tuhan…

terus bawa dalam doa aja, minta tanda dari Tuhan…

minta peneguhan dl dr Tuhan. perjelas visinya. kl soal gimanagimananya, Tuhan akan bukakan jalannya.

Jalani dulu … kalo memang kerinduan dari Tuhan
mau muter kemana … Tuhan pasti akan bawa ke rencananya…
Doa minta peneguhan …Tuhan

sebelumnya terima kasih atas pendapat2nya
luar biasa…hehe :afro:

sampai saat ini pun, saya masih terus menggumulkannya, setiap hari. Saya percaya sih, Tuhan sedang menyiapkan saya, melalui berbagai macam kejadian2 yang ada, untuk mengujii saya.
Tapi itulah, saya masih ingin memantapkan hati saya.

mengenai visi, sudah jelas, saya memang ingin mengajar hamba2 Tuhan yang pada nantinya akan memberitakan Firman Tuhan, tapi mengenai tempat di mana, saya masih belum tau, yang pasti, tentu saja di sekolah teologi :slight_smile:

hmmm, nurut aku, kamu tetap pada pilihan teologi mu itu,…

aku juga punya teman yang sama kayak kamu…

kebetulan aku ne baru masuk univ…

aku punya teman, dia juga saat sekolah itu dia dapet panggilan utk menjadi seorang pendeta…
banyak yg menolak dia masuk ke sekolah teologi…
tapi dia percaya, kalau apa yang dia rasakan itu benar2 panggilan dari Tuhan…
kebetulan dia itu adalah seorang siswi yang berprestasi di sekolah… jadi, banyak orang yang menyayangkan dia masuk ke sekolah teologi…

tapi, karena dia tetap bertahan dalam panggilan, saat ini dia telah masuk di sekolah teologi… di Institut Injil Indonesia, malang…

Saran saya, cobalah untuk menggali lebih dalam potensi diri bro. Pelayanan tidak selalu berkaitan dengan menjadi pendeta. Menjadi ahli dalam teologi pun tidak selalu harus melalui jalur sekolah teologi, otodidak pun bisa asal memiliki keinginan untuk belajar. Sekarang, sumber/referensi untuk belajar teologi dapat diperoleh dengan relatif mudah melalui Internet. Cobalah untuk memilih jalur S1 biasa dibandingkan memilih teologi yang hanya karena interpretasi bro atas sentuhan TUHAN saat itu. Suatu saat, TUHAN akan menunjukkan jalan yang dikehendaki-Nya bagi bro.

JBU.