Paus Benediktus XVI Mengundurkan Diri

http://img854.imageshack.us/img854/9194/pausbenediktus.jpg

VATICAN CITY, KOMPAS.com - Paus Benediktus XVI mengatakan, dirinya mengundurkan diri sebagai paus mulai 28 Februari 2013. Paus Benediktus merupakan paus pertama yang mengundurkan diri dalam kurun waktu berabad-abad.

Demikian informasi pengunduran diri ini disampaikan Juru Bicara Vatican, Federico Lombardi.

“Paus mengumumkan bahwa dirinya akan meninggalkan kepemimpinannya pada 28 Februari pukul 20.00,” kata Federico. http://internasional.kompas.com/read/2013/02/11/18051697/Paus.Benediktus.XVI.Mengundurkan.Diri?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Khlwp

http://img9.imageshack.us/img9/2762/pausbenediktusxvi2.jpg

VIVAlife - Paus Benediktus XVI menyatakan bahwa dirinya akan mengundurkan diri dari jabatannya saat ini. Seperti dilansir kantor berita Reuters, langkah tersebut diambil karena Paus Benediktus merasa tak memiliki kekuatan lagi untuk memenuhi tugasnya.

Pria berusia 85 tahun ini menyadari bahwa kekuatannya telah memburuk selama beberapa bulan terakhir. “Untuk alasan ini dan menyadari seriusnya tindakan ini, dengan kebebasan penuh saya mendeklarasikan bahwa saya meninggalkan pelayanan Uskup Roma, Penerus Santo Petrus,” ujarnya dalam sebuah pernyataan dari Vatikan.

Paus Benediktus rencananya akan mundur secara resmi pada 28 Februari 2013 mendatang. Ia baru akan meninggalkan jabatannya setelah penerus selanjutnya terpilih. Paus Benediktus terpilih menjadi Paus pada 19 April 2005. Saat itu usianya masih 78 tahun atau 20 tahun lebih tua dibandingkan John Paul. (sj)

Siap2 memulai babak baruu… ^^

@paul : ini board Berita, harap mencantumkan link sumber

tadi di berita tv swasta juga ada siarannya,
wah…siapa ya yang akan menggantikannya kelak?

VATICAN CITY, KOMPAS.com- Paus Benediktus XVI akan resmi mengundurkan diri tertanggal 28 Februari 2013 pukul 20.00. Berikut ini adalah pidato Paus Benediktus yang disampaikan dalam bahasa Latin kepada anggota Dewan Gereja. Melalui pidatonya, Paus menyampaikan keinginannya untuk mengundurkan diri. Berikut ini pernyataan Paus yang diedarkan oleh Vatikan, Senin (11/2/2013).

"Salam saudara-saudaraku. Saya mengumpulkan Anda sekalian pada Rapat Gereja, tak hanya terkait tiga kanonisasi, tetapi juga untuk menyampaikan keputusan penting mengenai kehidupan Gereja. Setelah menelaah kesadaran saya berkali-kali di hadapan Tuhan, saya telah sampai pada suatu kepastian bahwa kekuatan saya, akibat usia tua, tak lagi memadai untuk menjalankan pemerintahan Santo Petrus. Saya sadar sepenuhnya bahwa pemerintahan ini, terkait sifat spiritualnya yang penting, harus dijalankan tak hanya dengan kata-kata dan kebajikan, tetapi juga tak kurang dengan doa dan penderitaan… "

“Untuk memimpin pemerintahan Santo Petrus, dan mewartakan kitab suci, kekuatan fisik dan rohani sangatlah penting. Kekuatan ini, dalam beberapa bulan terakhir, terus merosot. Dalam beberapa hal, saya harus mengakui ketidaksanggupan saya untuk menjalankan tugas kepausan yang telah dipercayakan kepada saya. Untuk alasan ini, dan dengan penuh kesadaran atas seriusnya hal ini, serta dengan kebebasan penuh, saya menyatakan bahwa saya meninggalkan jabatan sebagai Uskup Roma, dan penerus Santo Petrus, yang telah dipercayakan kepada saya oleh para kardinal pada 19 April 2005, pada 28 Februari 2013 pukul 20.00. Maka, takhta Roma, takhta Santo Petrus, terhitung tanggal 28 Februari 2008 pukul 20.00, akan kosong. Selanjutnya, konklaf (sidang pemilihan paus) untuk memilih paus yang baru akan digelar…”

“Saudara-saudaraku, saya mengucapkan terima kasih yang mendalam atas semua cinta dan kerja yang Anda berikan kepada saya selama menjalankan tugas-tugas kepausan. Saya juga meminta maaf untuk semua kesalahan. Saat ini, marilah kita percayakan Gereja Suci untuk memilih Gembala Agung kita, serta memohon Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Suci Maria, untuk mendampingi para kardinal untuk memilih paus yang baru. Saya juga akan tetap sepenuh hati melayani Gereja Suci Tuhan di masa mendatang melalui kehidupan yang didedikasikan untuk doa.”

http://img571.imageshack.us/img571/7360/pausbenediktus3.jpg

KOMPAS.com — Namanya yang populer adalah Kardinal Joseph Ratzinger. Ia seorang teolog terkemuka yang disegani. Kardinal Ratzinger adalah pembantu dekat Paus Johanes Paulus II dan dikenal sebagai orang yang konservatif. Dalam struktur pemerintahan takhta suci, ia menjabat sebagai Ketua Kongregasi Ajaran Iman.

Ketika ia terpilih sebagai paus dalam konklaf atau sidang pemilihan paus di Kapel Sistina, Basilika Santo Petrus, Vatikan, Selasa (19/4/2005), tidak banyak yang terkejut. Tidak seperti pendahulunya, Johanes Paulus II, yang sebelum terpilih tidak dikenal orang, Kardinal Ratzinger begitu terkenal.

Menjelang berlangsungnya konklaf, nama Kardinal Ratzinger sudah disebut-sebut sebagai calon kuat paus baru. Ada anekdot seputar konklaf, mereka yang masuk sebagai paus akan keluar sebagai kardinal. Artinya, mereka yang disebut-sebut sebagai calon kuat acap kali tidak terpilih.

Dalam sejarah Gereja Katolik Roma, selalu sulit untuk menerka siapakah paus baru yang akan muncul sebagai hasil konklaf. Namun, saat itu sejarah telah memilih jalannya sendiri. Ratzinger yang masuk sebagai “paus” keluar dan muncul di balkon Basilika Santo Petrus sebagai paus.

Kardinal Ratzinger adalah orang kepercayaan Paus Johanes Paulus II. Lebih dari sekadar orang kepercayaan, ia kerap disebut sebagai arsitek kebijakan Gereja Katolik Roma menyangkut doktrin ajaran iman. Tidak berlebihan, sebab sejak tahun 1981, dalam struktur takhta suci, ia adalah Kepala Kongregasi Ajaran Iman, sebuah lembaga yang memiliki kewenangan dalam menentukan kesesuaian sesuatu dengan ajaran iman Katolik.

Tidak kenal kompromi

Sikapnya keras. Tidak kenal kompromi terhadap mereka yang memiliki pandangan berbeda dengan kebijakan Gereja. Ia adalah orang yang berada di belakang sikap keras Vatikan terhadap teologi pembebasan, pluralisme religius, dan pandangan-pandangan baru yang dianggap bertentangan dengan ajaran moral tradisional seperti masalah homoseksual dan imam (pastor) wanita.

Pada tahun 1986, ia mengukuhkan ketegasan sikap Gereja Katolik yang menentang homoseksualitas dan pernikahan sesama jenis. Dalam sebuah dokumen yang dikeluarkan tahun 2004, Kardinal Ratzinger mengingatkan dengan keras bahwa feminisme radikal adalah ideologi yang menggerogoti keluarga dan mengaburkan perbedaan wanita dan laki-laki.

Tentang teologi pembebasan yang muncul pada paruh kedua abad ke-20, pandangan teologis Ratzinger, yang waktu itu belum menempati posisi di Vatikan, tidak bisa disangkal sangat memengaruhi sikap Vatikan. Dari balik tembok kampusnya di Jerman, ia menyerukan, ajaran teologi yang tumbuh dan dikembangkan oleh sejumlah pastor dan teolog Amerika Latin ini bertentangan dengan ajaran dan nilai-nilai Gereja Katolik.

Teologi pembebasan yang memfokuskan ajarannya pada hak asasi manusia dan keadilan sosial mengombinasikan teologi Kristen dengan aktivisme politik. Sebagian ajaran itu memang sesuai dengan ajaran sosial Gereja. Namun, Vatikan menolaknya karena keberatan dengan ajaran yang menggabungkan teologi dengan gagasan kaum Marxis seperti soal pertentangan kelas.

Pada tahun 1979, Paus Johanes II dalam kunjungannya ke Meksiko menegaskan, “Konsepsi Kristus sebagai figur politik, seorang revolusioner, seorang pemberontak dari Nazareth, tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik.”

Editor Majalah Jesuit, Pastor Thomas Reese, SJ, seperti dikutip The Christian Science Monitor, mengatakan, dipilihnya Ratzinger oleh 115 “pangeran Gereja” (kardinal) seperti menandakan bahwa para pimpinan Gereja Katolik ingin menjaga kontinuitas ajaran yang diwariskan oleh Paus Johanes Paulus II.

Menurut Reese, pimpinan Gereja seperti ingin mengatakan, “Kami tidak menginginkan perubahan di bidang ajaran atau kebijakan. Ini (keputusan memilih Ratzinger) adalah keputusan untuk melanjutkan sentralisasi Gereja, dan kontrol atas segala hal, tidak ada pernah ada perbedaan dan diskusi.”

Dalam 23 tahun kedudukannya sebagai orang yang sangat berperan dalam menentukan doktrin-doktrin Gereja, Ratzinger dikenal sangat konservatif, melemahkan eksperimentasi Gereja dalam memahami nilai-nilai modern. Ia menjadi tidak populer di kalangan teolog progresif. Tidak sedikit para teolog progresif yang dijatuhi hukuman ekskomunikasi atau “dikucilkan” dari Gereja karena gagasan-gagasan mereka dipandang berbeda dengan garis besar haluan Gereja.

Namun, di balik sikapnya yang dikenal konservatif, ia justru awalnya dikenal sebagai teolog yang liberal. Ia berperan dalam arus perubahan Gereja dalam Konsili Vatikan II (1962-1965). Bagaimana ia berubah dari sosok yang liberal dan progresif menjadi sosok konservatif? Ikuti ceritanya dalam artikel lanjutan Profil Paus Benediktus XVI (2). http://internasional.kompas.com/read/2013/02/11/20463698/Profil.Paus.Benediktus.XVI.1?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Ktswp

http://img580.imageshack.us/img580/6925/pausbenediktus4.jpg

Dalam pengumuman yang mengejutkan, Senin (11/2), juru bicara Vatikan mengatakan, Paus Benediktus XVI akan mengundurkan diri sebagai kepala Gereja Katolik pada 28 Februari. Paus kelahiran Jerman, 16 April 1927, itu mengundurkan diri karena merasa kondisinya menurun dan tak lagi dapat memenuhi tugas yang dibebankan kepada dirinya.

Hal ini menjadikan Benediktus XVI, yang terlahir sebagai Joseph Aloisius Ratzinger, menjadi paus pertama selama hampir enam abad yang mengundurkan diri dari jabatannya. Paus terakhir yang mengundurkan diri adalah Gregorius XII pada tahun 1415. Ketika itu, Gregorius XII mundur untuk mengakhiri Skisma Barat, perpecahan dalam Gereja Katolik yang membuat adanya seorang Paus dan dua Anti-Paus. Pengunduran diri Gregorius XII membuka jalan bagi dipilihnya seorang Paus pengganti sehingga Skisma berakhir.

Benediktus XVI merupakan salah satu Paus tertua dalam sejarah ketika dia terpilih pada 19 April 2005 dalam usia 78 tahun. Dikenal sebagai pemikir gereja dan profesor yang gemar bermain piano, Kardinal Joseph Ratzinger tengah menanti masa pensiun ketika Paus Yohannes Paulus II meninggal dunia. Sebelumnya, dia pernah mengatakan tidak pernah ingin menjadi Paus.

Intelektual Jerman itu menjadi penerus Takhta Suci setelah hampir seperempat abad mengabdi sebagai Prefek Kongregasi untuk Ajaran Iman, pengawal Doktrin Gereja Katolik, yang membuat dia diberi julukan ”Rottweiler Tuhan”.

Benediktus memimpin Gereja Katolik saat salah satu badai tersengit yang dihadapi Gereja Katolik dalam puluhan tahun—skandal penyiksaan seksual anak-anak oleh pastor—mulai menderu. Dia juga beberapa kali salah langkah dan salah bicara, membuat dia jadi sasaran kritik di dalam dan di luar Gereja.

Sikapnya yang tradisionalis juga jadi sasaran pengkritik. Namun, dia dipuji oleh kaum konservatif karena upayanya menegaskan kembali identitas Katolik tradisional.

Hampir delapan tahun lalu, pendekatan garis keras, kebangsaan, dan usianya dipandang sebagai rintangan Kardinal Ratzinger untuk menjadi Paus. Dalam wawancara yang dilakukannya pada tahun 2010, Benediktus XVI mengatakan bahwa dia akan mengundurkan diri kalau dia merasa tidak bisa lagi menjalankan tugas-tugas kepausan.

Saat seorang Paus meninggal atau mengundurkan diri, penggantinya dipilih oleh konklaf atau pertemuan Kolese Kardinal di Kapel Sistina di Vatikan. Sistem pemilihan itu telah berubah beberapa kali selama 2.000 tahun eksistensi kepausan.

Para kardinal yang berhak memilih bertemu dalam konklaf sekurangnya 15 hari setelah pengunduran diri Paus. Pemungutan suara dilakukan secara rahasia, dan para kardinal tidak boleh memilih dirinya sendiri. Empat pemungutan suara dilakukan tiap hari sampai hasil tercapai. Saat Paus baru terpilih, kertas suara dibakar dengan zat yang menimbulkan asap putih. Jika belum ada kandidat yang mendapat dua pertiga suara, asap yang terlihat oleh massa di luar berwarna hitam.

Konklaf mendatang akan dilakukan pada Maret sehingga pada perayaan Paskah yang dirayakan akhir Maret ini Gereja Katolik akan mempunyai seorang Paus baru. (AFP/BBC/DI)

http://img834.imageshack.us/img834/3215/pausbenediktus5.jpg

BERLIN, KOMPAS.com - Para pemimpin politik dan agama dunia menyatakan terkejut tetapi sangat menghormati pengumuman pengunduran diri Paus Benediktus XVI. Paus Benediktus XVI secara mengejutkan, Senin (11/2), menyatakan akan mundur dari tugasnya pada akhir bulan ini karena usia tua membuatnya tidak mampu melanjutkan tugas.

Perancis dan Jerman memberi reaksi beberapa menit setelah Paus berusia 85 tahun itu menyatakan akan mundur sebagai pemimpin 1,2 miliar umat Katolik sedunia pada 28 Februari. Presiden Perancis, Francois Hollande, mengatakan negaranya, di mana mayoritas warganya Katolik, menyambut keputusan itu. Ia mengatakan, keputusan itu “sangat dihargai”. “Saya tidak punya komentar khusus atas keputusan yang amat sangat kita hargai itu,” kata Hollande.

Kanselir Jerman, Angela Merkel, yang merupakan putri seorang pendeta, mengatakan dirinya punya “rasa hormat yang besar” atas putusan sulit Paus kelahiran Jerman itu. “Dia seorang dan tetap menjadi salah satu pemikir keagamaan paling penting pada masa kita,” kata Merkel.

Seorang juru bicara Merkel sebelumnya mengatakan, Paus pantas mendapat “ucapan terima kasih” untuk masa tugasnya selama hampir delapan tahun. “Pemerintah federal memiliki penghargaan terbesar bagi Bapa Suci, atas apa yang telah ia capai, atas karya seumur hidupnya bagi Gereja Katolik,” kata Steffen Seibert, juru bicara Merkel, dalam sebuah konferensi pers reguler. “Apapun alasan untuk pengumuman itu, hal itu harus dihargai dan dihormati dan ia layak mendapat ucapan terima kasih karena telah memimpin gereja selama delapan tahun dengan sedemikian rupa,” tambah Siebert. Paus Benediktus XVI, lanjut Seibert, telah meninggalkan kesan terhadap gereja “sebagai pemikir dan gembala” dari 1,2 miliar umat Katolik dunia.

Paus Benediktus lahir dengan nama Joseph Ratzinger pada 1927 di wilayah Bavaria yang mayoritas Katolik di Jerman selatan. Perdana Menteri Negara Bagian Bavaria, Horst Seehofer, mengatakan keputusan itu pantas “dihormat meskipun saya secara pribadi sangat menyesal”.

Pater Adam Boniecki, teman dekat Paus Yohanes Paulus II asal Polandia yang digantikan Benediktus XVI, berkomentar bahwa Benediktus telah mengambil pengalaman dari masa akhir kepausan Yohanes Paulus II. “Saya berpikir bahwa dia tidak ingin mengulang kisah dramatis selama berbulan-bulan ketika Paus (Yohanes Paulus II) masih dalam posisinya tetapi praktis tidak mampu memenuhi tugasnya,” katanya.

Kepala Gereja Katolik Polandia, Uskup Wojciech Polak, mengatakan pengunduran diri Benediktus merupakan “kejutan besar bagi kita semua”. “Namun Paus Benediktus XVI telah menyiratkan beberapa kali pada pertanyaan apakah, pada usianya yang sudah lanjut, ia memiliki kekuatan untuk melaksanakan tugasnya dengan baik sebagai penerus Santo Petrus,” katanya.

Perdana Menteri David Cameron dari Inggris, di mana umat Katolik merupakan minoritas di tengah mayoritas umat Anglikan, mengatakan Paus “akan dikenang sebagai seorang pemimpin spiritual bagi jutaan umat”. “Dia telah bekerja tanpa lelah untuk memperkuat hubungan Inggris dengan Takhta Suci,” kata Cameron dalam sebuah pernyataan.

Sementara itu, Ketua Rabi Israel, Yona Metzger, memuji Paus karena telah meningkatkan hubungan antara Yahudi dan Kristen yang membantu mengurangi anti-Semitisme di seluruh dunia. “Selama masa jabatannya, hubungan antara para kepemimpinan rabi dan Gereja, dan Yahudi dan Kristen, menjadi lebih dekat, yang membawa penurunan pada tindakan anti-Semit di seluruh dunia,” kata juru bicara Metzger kepada AFP. “Saya rasa ia pantas mendapatkan penghargaan karena meningkatkan hubungan antaragama di dunia, antara Yudaisme, Kristiani, dan Islam.”

Seorang juru bicara departemen urusan luar negeri Gereja Ortodoks Rusia mengatakan, ia tidak dapat mengantisipasi perubahan besar sebagai akibat pengunduran diri Paus Benediktus XVI. “Tidak ada alasan untuk mengharapkan perubahan radikal dalam kebijakan Vatikan atau sikap Vatikan terhadap gereja-gereja ortodoks,” kata Dimitri Sizonenko sebagaimana dikutip kantor berita Interfax.

Menurut situs Vatikan, Paus Benediktus, telah melakukan 24 perjalanan keliling dunia sejak bertugas pada 2005, antara lain ke Meksiko, Benin, Sydney dan Brasil. Pada perjalanan terakhirnya, yaitu kunjungan tiga hari ke Lebanon pada September, ia mengutuk fundamentalisme agama, menyerukan perdamaian di Timur Tengah dan mendesak diakhirinya pasokan senjata ke kedua belah pihak yang bertikai dalam perang saudara di Suriah.

Paus Benediktus XVI merupakan Paus non-Italia yang kedua sejak 1522 dan pemimpin umat Katolik tertua yang terpilih sebagai Paus sejak abad ke-18. Paus terakhir yang mengundurkan diri adalah Paus Gregory XII, yang mundur tahun 1415.

Ini yang dari Washington Post

The pontiff departs amid a sense of crisis in the Vatican. The institution’s most recent problems involve a bevy of documents leaked by the pope’s butler, Paolo Gabriele, to Italian journalists alleging corruption and heated disputes within the Vatican walls. The church also has faced criticism for its internal bank’s failures to comply with international rules governing money-laundering. The Vatican’s financial troubles escalated this year to the point where international banks temporarily suspended credit-card links at the Sistine Chapel, forcing tourists to use cash.

Perhaps the greatest challenge of his papacy has emerged in the spread of clerical sex abuse scandals from the United States into other places including Ireland and Germany, where the pope was born and served as archbishop. Critics have urged that more bishops be held accountable, and some raised questions about Benedict’s management of a case involving a German priest and sex offender while he was bishop of Munich in 1980.

Sepertinys berita ini benar, karena memang sudah di publikasi kan kemana2.
seorang paus mengundurkan diri…, sangat langka terjadi, tapi bukan tidak mungkin terjadi karena dulu memang pernah terjadi. semoga saja dengan mengundurkan diri, Paus Benedictus bisa lebih fokus menmperhatikan pemulihan kesehatannya, dan pengganti beliau nanti dapat melanjutkan tanggung jawab sebagai paus dengan baik.

www.guardian.co.uk/world/2013/feb/11/pope-resigns-live-.

Ini link step step nya.

Ini linknya http://www.washingtonpost.com/local/pope-benedict-to-resign-citing-age-and-waning-energy/2013/02/11/f9e90aa6-743b-11e2-8f84-3e4b513b1a13_story.html

http://kkcdn-static.kaskus.co.id/images/2013/02/12/1439723_20130212095817.jpg

Saudara-saudari yang saya kasihi,

Saya menghimpun anda sekalian pada konsistori (pertemuan) ini bukan saja untuk tiga kanonisasi tapi juga untuk mengumumkan kepada anda semua akan keputusan yang sangat penting bagi kehidupan Gereja.

Setelah berulang kali memeriksa batin saya di hadapan Tuhan saya akhirnya sampai pada keyakinan bahwa kekuatan saya, yang karena usia yang semakin lanjut, tidak lagi cocok untuk menjalankan tugas pelayanan yang diwariskan oleh Santo Petrus ini.

Saya sangat sadar akan pelayanan ini, karena esensi spiritualnya, harus dijalankan bukan saja dengan kata-kata dan perbuatan, tapi juga dengan doa dan penderitaan.

Namun dalam zaman sekarang ini, yang selalu mengalami banyak perubahan dan ditantang oleh pertanyaan-pertanyaan yang sangat berkaitan dengan kehidupan iman, demi menjaga tahta Santo Petrus dan penyebaran Injil, baik kekuatan pikiran maupun fisik sangat diperlukan, kekuatan yang selama beberapa bulan terakhir dalam diri saya sudah melemah sehingga saya harus mengakui ketidakberdayaan saya untuk menjalankan misi yang dipercayakan kepada saya ini secara penuh.

Atas alasan itu dan sadar akan dampak serius dari keputusan ini, dengan kebebasan yang penuh saya mengumumkan bahwa saya tidak lagi melanjutkan pelayanan sebagai Uskup Roma, Pewaris Tahta Santo Petrus, yang dipercayakan kepada saya oleh para Kardinal pada 19 April 2005, yang mana bahwa pada tanggal 28 Februari 2013, jam 20:00, Tahta Suci, Tahta Santo Petrus, akan kosong dan suatu Konklaf untuk memilih Paus baru akan dilaksanakan oleh mereka yang berkompeten.

Saudara-saudari yang saya kasihi, saya mengucapkan terima kasih atas segala cinta dan kerja yang sudah kalian tunjukkan untuk mendukung saya dalam pelayanan saya dan saya meminta maaf atas segala kekurangan saya.

Dan sekarang, mari kita percayakan Gereja Kudus ini ke dalam penyelenggaraan Sang Gembala Utama, Tuhan Kita Yesus Kristus dan memohon kepada Bunda Maria, sehingga ia menuntun para Kardinal dengan semangat keibuannya, dalam memilih Paus yang baru. Mengenai diri saya, saya akan tetap mempersembahkan diri saya utuk pelayanan Gereja Kudus di masa mendatang melalui kehidupan yang khusus didedikasikan untuk berdoa.

Vatikan, 10 Februari 2013

Paus Benediktus XVI

http://indonesia.ucanews.com/2013/02/11/paus-benediktus-mengundurkan-diri-ini-pidato-selengkapnya/

dengar2 favorit the next Paus berasal dari Jerman

Siapa Pengganti Paus Benediktus XVI?

http://img717.imageshack.us/img717/3866/pausbenediktus6.jpg

VATICAN CITY, KOMPAS.com - Pasca pengumuman pengunduran diri Paus Benediktus XVI yang mengejutkan, sejumlah nama yang diprediksi sebagai kandidat paus berikutnya mulai ramai diperbincangkan.

Wartawan BBC Matthew Price di Vatican City melaporkan bahwa diantara nama-nama yang disebut adalah Uskup Agung Milan, Angelo Scola.

Ia dinilai memiliki banyak kecocokan dengan Paus Benediktus. Demikian pula Mark Oullet dari Kanada yang merupakan salah satu murid Benediktus.

Spekulasi tentang kemungkinan naiknya Peter Turkson dari Ghana sebagai pemimpin Gereja Katolik pertama yang berasal dari Afrika.

Saat Paskah 31 Maret mendatang, bukan tidak mungkin salah satu dari pria itu akan bertugas.

Vatikan mengatakan Benediktus akan menetap di dalam biara kontemplasi di Vatikan tapi ia bebas untuk pergi keluar.

Juru bicara Vatikan, Federico Lombardi, mengatakan ia tidak yakin gelar apa yang akan disandang Benediktus kelak, kemungkinan ia akan disebut dengan Paus Emeritus.

Dalam surat pengunduran diri dalam bahasa Latin, yang dibacakan sendiri, Paus mengatakan dirinya akan meninggalkan jabatannya pada 28 Februari.

“Usia yang makin uzur membuat saya tidak mungkin lagi meneruskan tugas-tugas sebagai Paus,” kata Benediktus.

Ia diangkat menjadi Paus pada 2005 menggantikan Paus Yohannes Paulus II.

Empat Kandidat Kuat Penerus Benediktus XVI

http://img716.imageshack.us/img716/4978/empatcalonpausbaru.jpg

VATICAN CITY, KOMPAS.com — Nama empat orang kardinal muncul sebagai kandidat kuat pengganti Paus Benediktus XVI yang secara mengejutkan menyatakan mengundurkan diri dari jabatannya.

Keempat kandidat kuat itu adalah Kardinal Angelo Scola, Kardinal Peter Turkson, Kardinal Marc Ouellet, dan Kardinal Francis Arinze.

Munculnya nama Kardinal Arinze dari Nigeria dan Kardinal Turkson dari Ghana memunculkan harapan bahwa Gereja Katolik Roma akan memilih paus berkulit hitam untuk pertama kalinya.

Umat dan para petinggi Gereja Katolik di Afrika menyambut gembira kabar ini dan berharap paus yang baru nanti berasal dari Afrika.

“Saya kira sudah saatnya kami memilih orang di luar belahan utara kali ini. Sebab, banyak kardinal potensial dari seluruh dunia,” kata Kardinal Wilfrid Napier dari Afrika Selatan.

Sedangkan Kardinal Theodore Adrien Sarr dari Senegal mengatakan, sudah sejak lama dirinya membayangkan akan terpilihnya paus dari Afrika.

“Tetapi, apakah Gereja Katolik siap memiliki seorang paus dari Afrika? Apakah seluruh dunia akan menerima paus dari Afrika?” kata Kardinal Sarr.

Vatikan memastikan prosesi konklaf atau pemilihan paus baru akan dilangsungkan pada Maret mendatang sehingga pada perayaan Paskah nanti umat Katolik sedunia sudah akan memiliki pemimpin baru.

Belum sempat mampir ke Indonesia yah, :slight_smile:

To be honest,… 1st time dengar kabar ini, suddenly dag dig dug… …
‘alur’ terpilihnya 4 kardinals calon pengganti sang Paus, berasa ‘flash back’ to -Angels & Demons- wqwq :huh:
hopefully tomorow there’ll be no update-news on media ttg seorang ‘Charlemengo’ :rolleye0014:

#MaybeThisIsTimeFor ‘kita-umat’ dipimpin (directly) oleh Sang Gembala Agung Sejati yg ialah (tak lain) Tuhan Yesus Kristus Himself :onion-head7:
-PardonMoiPlease.CMIIW-

Viewpoint: Benedict a disappointing leader in troubled times

Former Catholic Rod Dreher says Pope Benedict failed to live up to his own expectations. Will a new Pope bring new life to the Catholic Church?

In the twilight years of Pope John Paul II’s papacy, Cardinal Joseph Ratzinger saw his office fax machine spew its foul issue into his Vatican bureau daily, like an open sewer pipe.

The fax brought him daily reports from the sex abuse scandal then unfolding in the United States, and which would spread to other nations.

Ratzinger’s office was the Vatican’s first point of contact with the news from America. A knowledgeable Vatican source told me at the time that the cardinal was badly shaken by all this.

And yet, Ratzinger was prevented from acting decisively in part by John Paul’s intransigent unwillingness to face the facts about abusive priests and bishops who covered for them.

In the final days before John Paul’s death, Cardinal Ratzinger spoke an extraordinary prayer at a Good Friday service, recognising the “filth” in the Catholic Church - a clear reference to clerical abusers - and saying how often the Church seemed “like a boat about to sink”.

When he became Pope, many conservative Catholics rejoiced that the Church finally had a pontiff who would right the barque of Peter. Though by that time I was on my way out of Catholicism, my own faith the victim of the scandal, I, a great Ratzinger admirer, shared their joy and hope for renewal.

Seven years on, it’s hard to see the leadership of Pope Benedict XVI as anything other than a disappointment.

Perhaps the kind of reform the Catholic Church needed was too much to expect from a man who was 78 when he assumed the office. Perhaps it was always too much to expect from a single figure, even the Pope, particularly one who is by nature a quiet, unassuming intellectual.

It is telling that Cardinal Sean Brady of Armagh and retired Cardinal Roger Mahony of Los Angeles, who failed dismally to act against abusers in their midst, remain eligible to vote for Benedict's successor. ”

Whatever the truth, it is hard to judge Benedict’s papacy a success, though history may judge the greatest thing he did for the church was to leave it before he became a sick and disengaged figurehead like his predecessor.
…dst…

Selengkapnya bisa dibaca di :

GBU