pembahasan body out eperience/near death experience....

kisah 3

2 Jam Di Alam Roh (Kesaksian Aina)
sumber:Permata Kehidupan: 2 Jam Di Alam Roh (Kesaksian Aina)

Kisah nyata ini sudah terjadi kira-kira 5 tahun yang lalu, tetapi karena ada salah seorang teman saya yang di dalam KRISTUS membicarakan topik ini, saya jadi rindu untuk menceritakan kembali dengan harapan ini semua bisa menjadi berkat buat kita semua.

Kedua mertua dan ipar-ipar saya tinggal di Sydney, Australia. Papa mertua saya mempunyai kebiasaan membersihkan taman belakang tiap seminggu sekali. Beliau menyiangi rumput dengan menggunakan pisau yang berputar seperti cakram (saya lupa nama alat tersebut). Jadi cuma pegang sticknya, pisaunya otomatis membabat rumput itu sendiri. Pada hari naas tersebut, tiba-tiba ada batu yang menonjol sehingga pisau tersebut kena batu dan patah berbalik ke arah Papa dan memotong paha kanannya cukup dalam. Sebelum jatuh pingsan ia sempat berteriak panggil mama mertua (waktu itu lunch time dan di rumah nggak ada siapa-siapa).

Puji Tuhan setiap lunch time adik ipar saya selalu pulang makan ke rumah karena perusahaan tempatnya bekerja hanya 10 menit dari rumah. Jadi hanya selang beberapa menit dimana Mama sempat bingung, tapi adik ipar sudah muncul dan buru-buru mereka bawa ke gawat darurat. Puji Tuhan lagi gawat darurat di Sydney nggak sembarangan, sekalipun dokter jaga mereka bisa mengambil alih pekerjaan dan bisa dipertanggung jawabkan. Saat itu papa sudah siuman dan dapat merasakan proses pembersihan luka di pahanya. Hal yang paling sulit adalah pasir dari kotoran masuk ke dalam lapisan daging. Dokter sudah berusaha memberikan tetapi pisau memotong cukup dalam (untung tidak mengenai tulang) sehingga dengan terpaksa ada juga daging yang ikut disayat dan dibuang. Hebatnya cara kerja dokter di sana, untuk menjahitpun perlu tiga lapisan (daging dengan daging, kulit dalam lalu kulit luar) Karena kami punya dokter keluarga (teman se SMA Papa waktu di Tegal) jadi akhirnya dokter ini yang kemudian menangani (tapi rumahnya lumayan jauh dari rumah, sekitar 1 jam).

Papa diberi antibiotik untuk mencegah infeksi. Namun beberapa hari kemudian, ternyata kakinya tetap infeksi, bengkak besaaaarrr sekali karena kotoran di dalam daging tidak keluar. Dokter pribadinya dihubungin untuk membuat appointment dan diberitahukan bahwa terjadi pembengkakan, dan beliau berjanji akan datang akhir minggu untuk membuka ulang luka. Waktu itu ia hanya menyarankan melanjutkan antibiotik. Ternyata ketika dokter datang, bisa-bisanya dia lupa bawa gunting dan peralatan untuk buka luka Papa, jadi terpaksa dia membuat appointment baru dan akan kembali lagi dalam beberapa hari. Pada waktu itu juga dia sadar ternyata Papa sudah lebih dari 10 hari makan antibiotik (98 butir!) dan harus segera berhenti sebab Papa sudah mulai merasa tulang-tulangnya kaku.

Kalau nggak salah 2 hari setelah kunjungan dokter (jadi nggak sempat dibuka lagi lukanya) pada suatu malam (yang lain sudah tidur semua) Papa dalam keadaan sangaaaat sakit, tulang & badannya terasa lumpuh, terutama sakit di pahanya malah luar biasa! Rasanya udah nggak punya kekuatan untuk bicara atau minta tolong. Lalu sambil berbaring dia berdoa supaya Tuhan YESUS mengampuni semua dosa-dosanya dan dia juga mengampuni dan mengangkat semua kepahitannya (waktu itu memang Papa punya dendam kepada seseorang yang merampas harta mereka, yang menyebabkan mereka sekeluarga pindah ke Australia dalam keadaan stres)

Nah waktu ngomong “Ampuni…ampuni…” tiba-tiba ia merasa rohnya keluar dari tubuh dan ada 2 ‘orang’ di sebelah kiri kanannya. Waktu dia lihat ‘orang’ itu ternyata mukanya sendiri! Keduanya memimpin dan menjelaskan dimana dia berada, cuma yang satu suaranya agak lembut satunya lagi kaku dan kasar. Mereka membawa dia melalui sebuah lorong menuju ke suatu pintu besar dimana di belakang pintu itu banya orang berbondong-bondong mengantri dan masuk satu-satu. Begitu setiap orang masuk, di depan mereka diperhadapkan lagi dua buah pintu, yang satu pintu menuju ‘maut’ dan lainnya menuju ‘Firdaus’. Papa ada di depan pintu itu dan tetap ngomong “Ampuni saya…”

Lalu tiba-tiba di depannya terpampang tulisan-tulisan berwarna merah yang tidak ada dasarnya (jadi tulisan itu seperti tergantung di udara.) Semu dosa-dosanya dan perbuatan semasa hidupnya ada tercatat dalam tulisan itu, bahkan juga nama orang yang menyakiti dia. Papa hanya menangis nggak bisa ngomong apa-apa. Lalu tiba-tiba seorang ibu tua yang lusuh masuk dan berdiri dihadapan ke dua pintu itu sambil menangis, “Tuhan, kasihani anak-anak saya kalau mereka melakukan kejahatan. Biarlah saya sebagai ibu mereka menerima hukumanMu asal jangan mereka.” Dan ada sebuah suara yang bicara singkat, jelas, dan tegas penuh wibawa berkata, “Biarlah dosa mereka, mereka yang menanggungnya. Masuklah ke rumah BapaKu.” Ibu itu masuk ke pintu yang menuju ‘Firdaus’ dan begitu melewati pintu itu, ia berubah dalam sekejab mata menjadi cantik, putih, dan bercahaya. (Papa mertua nggak pernah baca Alkitab, jadi istilah-istilah yang digunakan meyakinkan sekali.)

Kemudian masuk seorang anak muda yang ugal-ugalan. Segera ia tahu bahwa pintu yang satunya bercahaya dan ia ingin menuju ke sana. Tapi badannya bertentangan dengan kakinya, sebab kakinya membawa dia mengarah ke pintu ‘maut’. Lalu terdengarlah suara yang berwibawa itu, suara itu berkata, “Kakimu menjadi saksi kemana engkau pergi dan apa yang telah engkau perbuat selama hidupmu.” (ini kalimat yang paling saya ingat dari seluruh cerita) dan segera kakinya membawa dia masuk melalui pintu ‘maut’ sambil ia berteriak-teriak “Nggak mauu…nggak mau…” dan lolongannya makin keras dan menyayat hati…(kata Papa), hopeless banget deh. Baru beberapa langkah, sambil melolong kesakitan tubuhnya meleleh, dan kaki itu berjalan terusss…sampai berbunyi “Klik…klik…klik…” (menjadi tengkorak!) dan akhirnya terjun ke suatu lubang kawah yang besar diman jeritan dan lolongan itu menjadi banyak dan mengerikan!

Kemudian masuk seorang pendeta muda yang perlente dan keren. Langsung ‘hamba Tuhan’ ini dengan yakin menjelaskan semua aktivitasnya: “Saya sudah melayani sampai ke luar negeri, memberitakan NamaMu dan melakukan banyak hal-hal besar dalam NamaMu.” Tetapi cukup suara itu hanya bertanya “Dimana jubahmu?” (saya sampai sekarang nggak ngerti tentang cerita pendeta perlente ini. Mungkin seperti di Matius 7:23) dan pendeta itu bungkam tidak bisa menjawab. Tapi herannya ia dilemparkan ke sungai yang mengalir di bawah pintu itu, dan ceritanya berakhir di situ (nggak tau tuh kemana…)

Terakhir masuk seorang pendeta tua dengan pandangan menyesal dan dengan suara perlahan berkata “Ampuni saya Tuhan. Saya tahu sampai waktu akhir saya belum bisa membangun RumahMu. Ampuni saya bahwa hasil pengumpulan dana untuk gedung gereja saya gunakan untuk membantu jemaat saya yang susah. Engkau tahu Tuhan, saya menangis ketika seorang jemaatku datang dan berkata ‘Tolong doakan saya Pak pendeta, ada pekerjaan yang saya tahu tidak berkenan tapi harus saya lakukan sekalipun bertentangan dengan hati nurani saya. Kalau tidak istri dan anak saya tidak bisa makan’ Saya rangkul orang itu dan saya berjanji, apapun yang ada di meja saya, boleh mereka makan, bahkan saya bersedia membagikan makanan saya untuk semua jemaat saya yang kekurangan” (Setiak bercerita tentang pendeta tua ini, Papa selalu mengeluarkan air mata…) Suara itu hanya berkata “Tidakkah engkau ingin bertemu dengan Bapa?” Lalu ia masuk ke pintu ‘Firdaus’ dan berubah lagi dalam sekejap mata!

Sesudah melihat pendeta tua itu, dalam keadaan menangis tiba-tiba Papa sudah kembali ke tubuhnya (sadar) dan tubuhnya basah semua dengan keringat. Tapi heran ia punya kekuatan baru, tubuhnya enak semua dan ia bangun mandi air hangat. Rasanya ringan sekali, dan mulai malam itu Papa punya commitment baru, membaca Alkitab setiap hari. Besok paginya (maaf) papa buang air besar, (Kamar mandi di Sydney terpisah dengan WC, jadi ukuran WC kecil sekali) waktu jongkok tiba-tiba ia melihat cairan putih bening dengan kotoran pasir ‘muncrat’ ke pintu WC, ternyata lukanya pecah! Jadi otomatis luka itu mengeluarkan cairan yang membawa kotoran/pasir, tanpa operasi sampai hari kedua kempis sendiri. Ketika dokter datang, ia langsung bersaksi sambil menangis betapa Tuhan itu luar biasa!!! Ia sembuh total dan mengalami kesembuhan Ilahi, tanpa operasi ulang. Sekarang pahanya normal. Kejadian itu bukan hanya membuat dia membaca Alkitab, juga pribadinya berubah jadi lebih lembut dan perhatian. Abba Bapa sanggup merubah pribadi seseorang lewat pencobaan/perkara yang ajaib!

Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan…
II Korintus 7:10a

kalau saya perhatikan umumnya cerita mati suri atau body out eperience memiliki kesamaan alur cerita…
pada umumnya si subjek merasa melewati lorong…kemudian ada pintu…atau melihat cahaya…

tapi satu yang membuat saya yakin 100%…di dalam Tuhan kita Yesus Kristus…sungguh pengharapan tidak mengecewakan…karena janjiNya benar adanya…

Yoh 14:2
Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.

mazmur
23:1 Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku , takkan kekurangan aku . 23:2 Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; 23:3 Ia menyegarkan jiwaku . Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. 23:4 Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku

lembah kekelaman dalam bahasa aslinya adalah lembah bayang2 maut…

efesus
1:18 Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, 1:19 dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, 1:20 yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga, 1:21 jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang.

roma
8:18 Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita

kisah 4

Jatuh Ke Surga – Mickey Robinson

Ini hanya suatu malam di bulan Agustus bagi empat orang pria dan saya sendiri yang biasa melakukan lompat dengan parasut secara rutin. Kondisi untuk terbang
memang tidak baik, karena kombinasi dari suhu yang panas dan kelembaban yang tinggi.

Saya tidak memikirkannya, saya adalah seorang peselancar udara dan sudah bekerja pada tim demonstrasi di hadapan ribuan orang. Tidak semua di pesawat sesantai
saya pada saat itu. Pada saat itu ada yang baru terjun pertama kali dan ada yang baru keempat kalinya. Seluncur udara adalah hidupku, tidak ada yang lain
yang berarti. Ini telah memenangkan hatiku sejak menyaksikan pertunjukan di sekolah parasut. Perkembangan dari lompatan pertama sampai lompatan free-fall
saya adalah cepat. Saya terobsesi olehnya – tidak ada waktu atau uang yang kuanggap terlalu banyak untuk hal ini. Kadangkala saya terbang dengan beberapa
peselunsur udara terbaik di dunia.

Saya akan bercerita pada orang-orang di bar, berusaha membawa mereka pada hobi dan kesukaan saya… Saya bahkan punya stiker bemper. Teman-teman lama kuatir
bahwa saya akan overboard, tetapi saya tidak peduli. Saya komitmen 100% pada seluncur udara, dan saya tahu bahwa saya memiliki kontrol atas hidup saya
sepenuhnya. Pada malam itu, dengan muatan penuh sebanyak 6 orang, pesawat dengan lancar lepas landas, lalu melaju dengan kecepatan 100 mil / jam. Tiba-tiba,
tanpa peringatan, mesin mati. Pilot melihat aku dan berkata, “Kita turun ke bawah!”. Pesawat lalu mengarah ke bumi, dan berakibat sayap menyatu dengan badan
pesawat. Kemudian pesawat berputar, sayap berputar seperti roda dan mengarah ke bawah kemudian menghantam bumi.

Saya terjun bebas, dan wajah saya menghantam interior dinding pesawat yang keras. Terlukan dan shock, tiga peseluncur lain keluar dari rongsokan pesawat dan
lari. Peseluncur keempat juga keluar. Dia melihat pilot dan saya bergerak dan menganggap bahwa kami sedang keluar melarikan diri juga. Setelah dia keluar,
pesawat terbakar, tangki bahan bakar telah pecah dan gasolin pesawat terpancar ke mana-mana. Ketakutan, dia berteriak dan tiba-tiba sadar bahwa kami masih
berada di pesawat. Lari kembali ke rongsokan pesawat yang terbakar, dia melihat aku, terbakar dari kepala sampai ujung kaki, mencoba melepaskan kakiku yang
terperangkap di lubang di mana pesawat ada. Dia berteriak ke pilot supaya ikut melepaskan dan berusaha menarik keluar saya. Tetapi saya tertahan!

Saya lahir di tahun 1949 di Cleveland, Ohio pada era “happy day” dan tumbuh dengan sikap yang merefleksikan mood dari masyarakat saat itu. Saya hidup untuk
hal-hal yang saya sukai, dan hidup bukanlah hal yang dianggap serius. Saya pergi ke gereja tiap hari Minggu (keluargaku adalah Katolik Roma), maka saya
dibekali dengan pengetahuan akan Tuhan. Tetapi saya tidak pernah bertemu siapapun yang mengenal Dia secara pribadi.

Saat bertumbuh besar, saya memulai memainkan konsep daripada memikirkan hal yang sesuai alkitab, terkait dunia ini, penciptaan dan kekekalan. Ini menjauhkan
dari pesan sederhana Injil yang menjadi faktor penting dalam hidupku (meskipun saya belum benar-benar bertobat) dan memiliki gaya hidup remaja umumnya yaitu
pacaran dan olahraga.

Setelah lulus dari SMA, saya melanjutkan hidup dengan bekerja di perusahaan stockbroker. Kemudian saya berpikir saya sukses besar dan memiliki semuanya!
Orang-orang kagum pada apa yang saya peroleh.

Pada umur 18 tahun saya pergi ke mana-mana. Saya bekerja di kota Cleveland downtown di kantor modern dan maju dikelilingi oleh banyak orang yang menarik,
jadi pekerjaan saya menyenangkan, menantang dan menarik.

Dari luar, saya tampak sebagai pria muda penuh percaya diri, menarik – hidup serasa di pesta. Tetapi di dalam saya didorong oleh perasaan takut – takut tidak
dipandang, takut gagal. Saya selalu mencari persetujuan dari orang lain. Walau saya tampak memiliki segalanya, sebenarnya saya hidup di ujung keputusasa-an.

Saya putus asa! Terbakar dari kepala sampai ke ujung kaki, dan terperangkap dalam rongsokan, tidak dapat melepaskan diri! Usaha kedua penyelamat saya
berhasil, dengan kekuatan yang lebih dari kekuatan normal, dia menarik saya begitu kuat sehingga terlepas. Menyeret saya dari pesawat, dia melemparkan aku ke
tanah dan menggulingkan saya untuk mematikan api. Hal ini dilakukan beberapa kali karena api masih menyala. Saat dia berhasil mematikan api, dia melangkah ke
pilot tetapi sudah terlambat. Dia sudah terbakar sampai mati.

Saya berbaring di tanah, terluka parah. Kulit lengan dan tangan ku terkelupas ke tanah seperti pada ayam goreng. Selain itu ada juga luka serius yaitu bagian
wajah yang terpotong. Saya bertanya seberapa parah saya terbar dan komentarnya, dengan semua asap yang ada, mereka tidak dapat menceritakan. Tetapi mereka
yakin bahwa sebenarnya mereka pikir saya tidak bisa diselamatkan. Ketika petugas medis memotong pakaian saya, mereka melihat bahwa saya telah bertahan dari
luka bakar tingkat ketiga yang sanat serius pada sepertiga tubuh saya.

Meskipun saya muda, sehat luar biasa dan sangat atletis, progonosis adalah buruk, saya tidak punya kesempatan untuk bertahan, terutama karena luka bakar
telah mencapai tingkat yang akan mengakibatkan komplikasi yang parah, dan hal itu terjadi.

Pada hari-hari dan minggu berikutnya, tubuhku seluruhnya terinfeksi dan berat badanku turun dari 167 pound ke tulang-belulang saja yaitu 90 pounds. Tubuhku
menjadi sangat kurus dan tak berharga dan luka-luka terbuka yang berkembang yang memperlihatkan tulang-tulangku. Bagian belakang tumitku membusuk dan
tanganku terinfeksi sangat parah sehingga mereka berpikir untuk mengamputasinya.

Saya berada dalam kesakitan luar biasa. Ada bisul/borok eksternal dan internal dari cairan lambung yang keluar secara berlebihan yang membuat lubang di
perutku. Ini menyebabkan banyak pendarahan di dalam. Setiga oesophagusku hancur dan meninggalkan bekas luka sehingga saya tidak bisa minum air. Darahku
terinfeksi oleh mikroorganisme dan ada hari-hari di mana saya kehilangan darah sampai sebanyak 10 pints hampir seluruh volume tubuhku. Saya juga mengalami
lupa kepala dan memar di otak.

Tubuhku melawan sekuatnya pada kematian, tetapi ini adalah pertempuran yang kalah. Tiap komplikasiku dapat membunuh seseorang. Saya buta pada mata kananku.
Saatnya tiba tubuhku menjadi kaku, dan saraf di kedua kakiku mati. Tulangku menjadi lembek, dan kakiku melengkung seperti cakar melewati batas tempat tidurku.

Dokter-dokter sudah melakukan apa yang mereka mampu – memberi obat, membersihkan luka dan merawatku sebisanya. Mereka bahkan memanggil pakar dari Rumah sakit
Universitas di Cleveland. Beberapa tahun kemudian, saya membaca ringkasan dari hasil pemeriksaan medisnya. Banyak kata-kata besar yang menggambarkan betapa
sakitnya aku, dan kemudian dia menulis, “Tidak ada apapun yang bisa saya lakukan untuk anak muda ini!”, sehingga akhirnya mereka merelakan aku untuk mati
!.

Ada saat di mana saya tidak sadar, dan tidak ada respon yang tampak. Ada juga waktu sadar seperti saat ini. Tetapi seringkali, saya berada di antara kondisi
sadar dan tidak. Sebagian besar yang saya ingat adalah saya sangat sakit dan dapat merasa hidup tersalur keluar dari diriku seperti seseorang menekan tombol
saklar.

Saat saya berbaring sekarat, temperaturku mencapai 160 derajat, saya sangat tidak nyaman sehingga apabila seseorang meletakkan tangan di tempat tidur, saya
akan ngeri dengan penderitaan. Seluruh tubuhku dipenuhi penderitaan, setiap sel tubuhku tertekan, tetapi saya masih merasa tubuhku masih berjuang untuk
bertahan.

Paat waktu itu, saya mengalami pengalaman yang mengubahkan hidup. Secara sekejab dunia fisik menjadi hilang dan manusia batiniahku keluar dari tubuh fisik.
Saya tidak lagi di ruangan rumah sakit, saya memasuki dunia roh. Tiba-tiba saya menjadi sadar akan dua hal: dunia spiritual adalah dunia yang nyata dan tidak
aktifnya indera persepsi akan waktu.

Ini sungguh menakjubkan. Saya menemukan diriku pergi ke suatu tempat dan tidak memiliki kontrol atasnya.

Tiba-tiba, tampak pintu yang sedang menutup. Kegelapan yang luar biasa mulai melingkupi aku, dan saya melihat ini adalah titik pemisahan. Datang dari ruangan yang
sedang mulai menutup suatu sorot sinar yang paling putuh dan murni yang pernah saya lihat. Pintu mulai lebih cepat menutup lagi. Maksud pemisahan ini menjadi
jelas padaku. Saya tahu apabila pintu ini tertutup seluruhnya, saya akan terpisah seluruhnya dari kekekalan yang ada dari sinar tersebut.

Saya mengalami kehilangan harapan yang sangat dan ketakutan yang dalam. Pemisahan adalah ketiadaan akan harapan! Pemisahan secara eksternal adalah siksaan
yang melampaui apa yang bisa kita percaya. Saya mau Anda mengetahui bahwa ada tempat yang ada di suatu tempat yang merupakan pemisahan secara kekal. Saat itu
saya diijinkan tidak hanya melihat tetapi mengalami perasaan seperti apakah pemisahan secara kekal. Dan saya mulai menangis pada Tuhan.

Saya telah ditanya. “Apakah kamu orang Kristen pada saat ini terjadi?” Malam mereka membawaku ke ruangan darurat, meskipun saya tidak ingat, saya minta ibu
untuk mengirim pendeta yang pernah saya kenal. Dia datang cepat ke sampingku, mengurapiku dengan minyak dan berdoa untukku.

Pertobatan terjadi pada waktu itu. Saat saya berbaring di sana, sangat terluka, sakit menuju kematian. Saya menangis, “Tuhan. Saya minta maaf! Berilah aku
kesempatan lain!”. Berulangkali saya pergi ke ruangan bedah, tidak mengetahui apakah akan bangun lagi dan pengetahuan ini memulai sesuati di dalam. Saya
tidak tahu bagaimana berdoa, tetapi saya meminta pada Tuhan untuk pengampunan.

Saat saya berdiri di ujung dari kekekalan pada saat pintu menutup dan kegelapan mulai menyelimutiku. Saya tahu bahwa dalam satu detik saya dapat terpisah
secara kekal dari sumber semua kehidupan! Saya memulai berteriak hal yang sama seperti sebelumnya yang pernah saya doakan pada saat masih sadar, "Tuhan, saya
ingin hidup! Saya minta maaf! Tolong beri saya kesempatan lain!.

Karunia dan belas kasihan Tuhan melebihi pengertian kita! Secara tiba-tiba saya berada di Surga; Suatu kontras! Keputusasaan kekal dibandingkan kasih dan
kenyamanan yang kekal. Saya tahu bahwa saya tidak akan mati. Saya memiliki kesadaran mendalam akan hidup kekal – dan dijamin secara absolut bahwa saya selalu
hidup dalam kenyamanan dan perhatian. Alkitab berkata, “… dalam hadirat Tuhan adalah kepenuhan akan sukacita dan pada tangan kananNya kebahagiaan
diungkapkan pada realita kehidupan.” Kemuliaan dan kuasa Tuhan di mana saja melingkupiku, di bawaku, di sekelilingku, dan bergetar melaluiku.

Kemudian Tuhan mulai menampakkan padaku kejadian masa depan. Saya melihat detik, hari, minggu dan tahun yang ada di depanku – semua terhubung bersamaan. Saya
tidak melihat hanya 1 hari dan kemudian dan melewati yang lain. Saya melihat waktu – saya tidak tahu bagaimana Tuhan melakukan hal ini, tetapi Dia memiliki
kemampuan. Saya melihat diriku melihat orang yang tidak pernah saya tahu seperti sudah tahu, hal ini seperti melihat sesuati di televisi. Beberapa kejadian
diperbesar sangat jelas pada penglihatanku; kemudian saya ingin pergi ke hal lain, karena beberapa waktu saya melihat diriku melakukan hal-hal bodoh yang
seharusnya tidak saya lakukan dan ingin memanggil diriku, “Jangan lakukan itu!” Tetapi saya hanya bisa melihat dan pandangan itu akan berganti ke hal lain.

Tuhan berkata bahwa saya akan kembali ke dunia. Dia tidak berbicara dalam bahasa seperti yang saya gunakan, tetapi pengetahuan dan kesadaran bahwa saya akan
kembali hanya datang begitu saja. Tiba-tiba sebagaimana seseorang memiliki benang dan mengulur saya seperti layang-layang. Saya mulai berjalan kembali ke
kehidupan di mana saya berasal dan kembali ke tubuh fisik saya. Saya juga merasa rohku menekan masuk ke dagingku. Dapatkan Anda bayangkan bahwa seperti
apakah angin meniup daun-daun dari pohon. Hal ini, seperti yang saya bayangkan, sama halnya dengan apa yang saya alami saat rohku terhubung kembali ke
dagingku. Tiba-tiba, saya dapat melihat melakui mata fisik dan mendengar melalui telinga fisikku.

Saat saya mulai kembali ke kesadaran normal. Saya menyadari bahwa saya berbicara dalam bahasa yang indah dan bertanya-tanya apa yang terjadi. Sesaat setelah
saya menyadarinya bahasa tersebut berhenti dan saya menjadi sadar bahwa saya hidup. temperatur 106 derajat telah normal dan saya masuk dalam tidur yang
nyenyak untuk pertama kalinya setelah terluka. Saat saya bangun beberapa jam kemudian saya lengkap pada kain yang penuh darah dan keringat, tetapi
beristirahan dalam lautan kedamaian!. Untuk pertama kalinya, saya tahu seperti apakah damai yang sejati.

Dokter-dokter tidak tahu menahu tentang pengalamanku dan masih menungguku untuk mati tetapi tidak! Saya masih sangat sakit, dan menurut pengertian mereka,
harusnya sudah mati. Tetapi beberapa hari berikutnya kondisiku semakin membaik, meski saraf-saraf di kedua kakiku masih mati, dan dokter masih kukuh
berpikir bahwa aku tidak akan bisa berjalan lagi.

Tahun berikutnya dihabiskan terus di rumah sakit, diikuti 4 tahun keluar masuk institusi medis. Ini sungguh proses yang panjang! Saya mengalami 75-100
operasi dan melalui banyak hal aneh, sampai saya menyadari bahwa saya punya hak untuk protes, beberapa dokter bedah plastik melakukan prosedur eksperimen.
Tetapi, oleh dan banyak orang melakukan hal terbaik untuk merawat aku.

Saya tidak mengerti apa yang terjadi padaku secara spiritual. Saya diselamatkan, lahir-baru dan penuh dengan ROH KUDUS, tetapi tidak sadar apa arti hal-hal
tersebut. Tidak ada sesuatu pada pengalamanku sebelumnya atau pengertian untuk membantuku mengkaitkan pada apa yang terjadi secara spiritual padaku.

Saya mulai sembuh, pelan-pelan pertamanya. Satu kakim mulai berfungsi; yang lain masih tidak merespon. Saraf yang ada di depan kakiku sepertinya mati; ini
tidak merespon saat tes arus listrik dilakukan. Tulang-tulangku lembek dan kakiku menggantung ke bawah, saya tidak dapat menggerakkannya. Mereka memakaikan
penguat kaki, berpikir bahwa kondisi ini permanen.

Setelah hampir 1 tahun, kaki ini tiba-tiba sembuh – ini sungguh luar biasa! Saya mulai berkata pada kaki-kakiku tiap hari, “Ayo berangkat!” dan meski kaki
kananku patuh, tetapi kaki kiriku masih memberontak. Ini tidak pernah tunduk pada perintahku. Hingga suatu hari aku melakukannya, kaki kiriku bergerak dan
aku berjalan – ini suatu pengalaman luar biasa! Saya melepas penahan kaki dan melemparkannya dan tidak pernah menyentuhnya lagi.

Saya mengalami banyak kesembuhan yang dahsyat. Sekita 5 tahun setelah kecelakaan, penglihatanku dipulihkan dari mata yang buta. Meskipun ada prosedur bedah
yang dilakukan, tetapi hal ini masih tidak bisa dijelaskan oleh dokter. Mereka yakin bahwa ini tidak akan berhasil bahkan pernah menolak pembedahan karena
merasa ini akan menjadi penyia-nyiaan kornea yang orang lain dapat lakukan. Ini hanya permintaan gigihku yang terus menerus bahwa pembedahan harus dilakukan
dan hasilnya adalah penglihatanku kembali!

Satu kejadian sangat lucu. Ooesophagusku sudah hancur, makanan tidak dapat masuk perutku juga, bersama dengan kondisi lain, saya akan mati karena kelaparan.
Sehingga selang karet dipasang di perutku, dan saya diberi makan melaluinya dengan makanan yang sudah dihaluskan.

Untuk memperbaiki kondisi tersebut, prosedur dimulai untuk melebarkan oeshopagusku. Dua kali mereka memasang objek bundar dari krom dengan pipa panjang pada
ujungnya dan diisi dengan merkuri, terkiat dengan benang dan menarik kerongkongan dan melalui oesophagusku. Oleh karena itu, saya memiliki benang hijau yang
diikat ke hidungku.

Satu hari Tuhan menyembuhkan kakiku. Saya berada di pusat rehabilitasi di mana semua orang tahu bahwa saya adalah seseorang dengan banyak problem. Dokter
membawaku ke semua dokter yang bertanggung jawab di tiap departemen dan berkata, “Kami melakukan prosedur pembedahan hari ini.” Kemudian dia menarik benang
tersebut dan saya akan menjejakkan kakiku. Itu sungguh sangat lucu!"

Hari ini saya menikmati hidup! saya bermain dengan anak-anakku, berlari, bermain ski di salju dan menaiki kuda. Hal ini sungguh mengagumkan karena saya
diperkirakan tidak pernah bisa berjalan lagi. Sungguh menakjubkan untuk menikmati gaya hidupku seperti sekarang ini. Di mana sebelumnya banyak hal yang
hilang.

Terkait dengan luka bakarku, saya saat ini cukup lucu dilihat, tetapi dengan kasih karunia Allah, saya tidak begitu memikirkan hal ini, sungguh luar biasa
untuk seseorang yang sudah berada dalam kesia-siaan.

Saya akan dengan senang hati untuk mengambil kesempatan ini untuk menuliskan bahwa ada kecenderungan alamiah, bahkan di antara orang Kristen, untuk berfungsi dengan
kekuatan kita sendiri. Saya tahu seperti apa hidup yang biasa jalani sebelum kecelakaan. Tetapi sekarang saya tahu bagaimana menjadi lemah, bangkrut total
dari kekuatan dan tidak mampu menolong diri sendiri. Tidak ada pertolongan dari dunia untukku. Tidak ada dokter yang dapat menyembuhkanku, yang kusayangi
tidak dapat melakukan apa-apa. Tetapi ada kerabat yang tidak pernah bertemu aku, yang secara supranatural dipimpin untuk berdoba bagiku. Kekuatan dari Tuhan
dicurahkan melalui hati mereka yang berdoa dan melalui kuasa Tuhan kematian dikalahkan.

Saya tidak akan merekomendasikan pengalamanku kepada orang lain, tetapi hal ini mengajarkan sangat pentingnya hidup dengan kekuatan Allah. kita semua perlu
mengambil keputusan sadar untuk berhenti bersandar pada kekuatan sendiri dan hidup dengan kekuatan Tuhan.

berikut adalah bukti dari kesaksian mickey robinson…
foto mukanya yang terbakar…


kesamaan lainnya dari pengalaman body out eperience adalah saat roh meninggalkan tubuh…ternyata kita berbicara dgn pikiran (mungkin telepati )…dan tidak
aktifnya indera persepsi akan waktu.ciri ciri lainnya memiliki kesadaran mendalam akan hidup kekal …
serta bahasa yang digunakan adalah pengetahuan dan kesadaran yang timbul begitu saja…


bukti lainnya akan pengalaman yang dialami orang2 yang saya cantumkan kesaksiannya…adalah setelah mereka mengalami suatu pengalaman spritual …waktu mereka tersadar mereka mengalami suatu muzizat kesembuhan yang nyata yang membuat mereka pulih dan hidup kembali…yang berarti apa yang mereka alami adalah nyata…

efesus
3:18 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih KRISTUS, 3:19 dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. 3:20 Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, 3:21 bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam KRISTUS YESUS turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin

Amminnnn…

Tuhan Yesus Telah Membangkitkan Saya dari Kematian

Dikisahkan oleh: Dominggus.K

“Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya.” Yohanes 5:21 . Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan, dalam kesempatan ini saya akan bersaksi tentang peristiwa kematian dan kehidupan yang saya alami pada tanggal 15 Desember 1999 . Peristiwa ini juga merupakan suatu tragedi bagi yayasan Doulos, Jakarta dimana STT Doulos ada di dalamnya dan saya adalah mahasiswa yang tinggal di asrama. Sebelum penyerangan dan pembakaran Yayasan Doulos tanggal 15 Desember itu, beberapa kali saya mendapat mimpi-mimpi sebagai berikut: 1. Minggu, 12 Desember 1999 , saya bertemu dengan Tuhan Yesus dan malaikat, saya terkejut dan bangun lalu berdoa selesai saya tidur kembali. 2. Senin, 13 Desember 1999 , saya bermimpi lagi, dengan mimpi yang sama. 3. Selasa, 14 Desember 1999 , dalam mimpi saya bertemu dengan seorang pendeta pada suatu ibadah KKR, isi khotbah yang disampaikan mengenai akhir zaman, adanya penganiayaan dan pembantaian. 4. Rabu, 15 Desember 1999 , kurang lebih pukul 08.00 pagi, saya mendapatkan huruf “M” dengan darah di bawah kulit pada telapak tangan kanan saya. Dalam kebingungan dan sambil bertanya-tanya dalam hati, apakah saya akan mati? Saya bertanya kepada teman-teman dan pendapat mereka adalah bahwa kita akan memasuki millennium yang baru. Walaupun pendapat mereka demikian saya tetap merasa tidak tenang serta gelisah karena dalam pikiran saya huruf “M” adalah mati, bahwa saya akan mengalami kematian. Saya hanya bisa berdoa dan membuka Alkitab. Sekitar pukul 15.00 saya mem- baca firman Tuhan dari Kitab Yeremia 33 :3 “Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab Engkau.” Dan pada pukul 18.00 , tanda huruf “M” di telapak tangan saya sudah hilang. Kampus dan Asrama Mahasiswa Doulos Diserang Pada malam hari tanggal 15 Desember 1999 , kegiatan berlangsung biasa di dalam asrama kampus STT Doulos. Sebagian mahasiswa ada sedang belajar, yang lain memasak di dapur dan ada pula yang sedang berdoa. Saya sendiri sedang berbaring di kamar. Kurang lebih jam 21.00 malam itu, saya dibangunkan oleh seorang teman sambil berteriak: “Domi, bangun, kita diserang…!” Saya langsung bangun dalam keadaan panik, saya langsung berlari ke halaman kampus dan melihat sebagian kampus kami yang telah terbakar. Saat itu saya berkata kepada Tuhan: “Tuhan, saya mau lari kemana? Tuhan, kalau saya lari lewat pintu gerbang depan pasti saya dibacok.” Sementara pikiran saya bertambah kalut ketika teringat akan tanda huruf “ M” yang diberikan pada tangan saya. “Tuhan, apakah saya akan mati?” Saya menoleh ke belakang, ada beberapa teman sekamar yang lari menyelamatkan diri masing-masing. Di belakang kampus kami dikelilingi pagar kawat duri setinggi 2 meter, saya tidak bisa melompat keluar dengan cara mengangkat kawat itu. Dengan tangan sedikit terluka akhirnya saya pun dapat keluar. Kami sudah berada di luar pagar dengan keadaan takut dan gemetar karena di sana terdapat massa atau orang banyak yang tidak dikenal, mereka membawa golok, pentungan, batu dan botol berisi bensin atau Molotov. Kemudian kami berpisah dengan teman-teman, saya tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka. Saya lari menuju kos kakak tingkat semester 10 , yang letaknya tidak jauh dari kampus. Sementara saya berlari, saya tetap berdoa kepada Tuhan: “ Tuhan berkati saya, ampuni dosa dan kesalahan saya.” Setiba di rumah kos itu, saya mengetuk pintu sebanyak 2 kali tetapi tidak ada yang membukakan pintu. Ternyata di belakang saya ada 4 teman mahasiswi yang juga lari mengikuti dari belakang. Mereka memanggil saya: “Domi, ikut ke rumah kami,” tetapi saya berkata kepada mereka, “biar saya bersembunyi di sini.” Masih berada di depan rumah kos tersebut, saya berdoa lagi “Oh… Tuhan, apakah malam ini saya akan mati? Ampuni dosa dan kesalahan saya.” Ditangkap oleh Massa Saya mengetuk pintu lagi, tetapi tidak ada orang yang menjawab, saya berdoa kembali: “Tuhan… ini hari terakhir untuk saya hidup.” Terdengar suara massa yang semakin mendekat kepada saya. Mereka berkata: “Itu mahasiswa Doulos, tangkap dia!” Ada juga yang berteriak: “Bantai dia, tembak!” Seketika itu saya ditangkap dan saya hanya bisa berserah kepada Tuhan sambil berkata: “Tuhan saya sudah di tangan mereka, saya tidak bisa lari lagi.” Kemudian tangan saya diikat ke belakang dan mata saya ditutup dengan kain putih. Saya tetap berdoa dalam keadaan takut dan gemetar: “Tuhan ampuni dosa saya, pada saat ini Engkau pasti di samping saya.” Tiba-tiba ada suara terdengar oleh saya entah dari mana, yang berkata: “Jangan takut, Aku menyertai engkau, Akulah Tuhan Allahmu.” Setelah mendengar suara itu, rasa ketakutan dan kegentaran hilang, karena saya sudah pasrahkan kepada Tuhan. Penganiayaan dan Kematian Mereka membawa saya ke tempat yang gelap, saya dipukuli dan ditendang. Saya dihadapkan dengan massa yang jumlah orangnya lebih banyak, saat itu mereka ragu, apakah saya mahasiswa Doulos atau warga sekitarnya. Sebagian massa ada yang terus mendesak untuk memotong dan membunuh saya. Saya berdoa lagi: “Tuhan, fisik saya kecil, kalau saya mati, saya yakin masuk sorga. Saat ini saya serahkan nyawa saya ke dalam tangan kasih-Mu, ampunilah mereka.” Saat itu kepala saya dipukul dari belakang dan terjatuh di atas batu, saya tidak sadar akan apa yang terjadi lagi. Leher Domi yang nyaris putus karena bacokan. Roh Saya Keluar Dari Tubuh Kemudian … roh saya terangkat keluar dari tubuh saya, roh saya berbentuk seperti orang yang sedang start lari atau sedang jongkok, lalu lurus seperti orang yang berenang kemudian berdiri. Roh saya melihat badan saya dan berkata: “Kok badan saya tinggal” (sebanyak dua kali). Roh saya berdiri tidak menyentuh tanah dan tidak tahu mau berjalan kemana, karena di sekeliling saya gelap gulita, kurang lebih lima detik, roh saya berkata: “Mau ke mana?” Lima Malaikat Datang Menjemput Saya Saat itu ada lima malaikat datang kepada saya, dua berada di sebelah kiri, dua di sebelah kanan dan satu malaikat berada di depan saya. Tempat yang tadinya gelap gulita telah berubah menjadi terang dan saya sudah tidak dapat melihat badan saya lagi. Roh saya dibawa oleh malaikat-malaikat tersebut menuju jalan yang lurus, dan pada ujung jalan itu sempit seperti lubang jarum. Roh saya berkata: “Badan saya tidak dapat masuk.” Tetapi malaikat yang di depan saya bisa masuk, lalu roh saya berkata lagi: “Badan rohani saya kecil pasti bia masuk.” Kemudian roh saya masuk melalui lubang jarum tersebut. “Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.” Lukas 16 :22 Berada di Dalam Firdaus Saat itu saya sudah berada di dalam sebuah halaman yang luas. Halaman itu sangat luas, indah dan tidak ada apa-apa. Roh saya berkata: “Kalau ada halaman pasti ada rumahnya.” Tiba-tiba saat itu ada rumah, saya dibawa masuk ke dalam rumah tersebut dan bertemu dengan banyak orang di kamar pertama. Roh saya berkata: “Ini orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus, mereka ditempatkan di sini.” Mereka sedang bernyanyi, bertepuk tangan, ada yang berdiri, ada yang duduk dan ada yang meniup sangkakala. “Di rumah Bapaku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.” Yohanes 14 :2 Dibawa ke Ruangan Selanjutnya Saya dibawa oleh malaikat-malaikat ke kamar selanjutnya atau kedua, sama dengan kamar yang pertama, hanya disini roh saya melihat orang-orang dengan wajah yang sama dan postur tubuh yang sama. Kemudian saya dibawa lagi ke kamar yang ketiga, yang sama dengan kamar yang pertama. Dan roh saya berkata: “Ini orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus, ditempatkan di sini.” Lalu roh saya dibawa ke kamar yang keempat yaitu kamar yang terakhir, pada saat ini saya hanya sendiri, tidak disertai oleh malaikat-malaikat tadi. Kamar itu kosong, lalu roh saya berkata: “Ini penghakiman terakhir, saya masuk sorga atau neraka.” “Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai, dan pada rumah Eloim sendiri yang harus pertama-tama dihakimi. Dan jika penghakiman itu dimulai pada kita, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Eloim? Dan jika orang benar hampir-hampir tidak diselamatkan, apakah yang akan terjadi dengan orang fasik dan orang berdosa?” 1 Petrus 4:17-18 Bertemu Dengan Tuhan Yesus Kemudian roh saya berjalan tiga sampai empat langkah, di depan saya ada sinar atau cahaya yang sangat terang seperti matahari, maka roh saya tidak dapat menatap. Saya menutup mata dan terdengar suara: “Berlutut!” Seketika itu roh saya berlutut, terlihat sebuah kitab terbuka dan dari dalamnya keluar tulisan yang masuk ke mata saya yang masih tertutup, tulisan timbul dan hilang terus menerus, roh saya berkata: “Tuhan…! ini perbuatan saya minggu lalu, bulan lalu, tahun lalu. Saya melakukan yang jahat dan saya tidak pernah mengaku dosa pribadi, sehingga Engkau mencatatnya di sini.” “Tuhan…! Saya ingin seperti saudara-saudara di kamar pertama, yang selalu memuji dan memuliakan Engkau. Tuhan…! Saya tahu Engkau mati di atas kayu salib untuk menebus dosa saya, saya rindu seperti saudara-saudara yang berada di kamar pertama, kedua dan ketiga yang selalu memuji-muji Engkau.” Sesudah itu tulisan yang keluar dari kitab itu hilang, buku menjadi bersih tanpa tulisan, kemudian buku itu hilang dan sinar yang terang itupun hilang dan ada suara berkata: “Pulang! Belum saatnya untuk melayani Aku.” Saya melihat-lihat dari mana arah suara itu datang, saya melihat ada seorang di samping kanan. Orang tersebut badan-Nya seperti manusia, rambut hingga ke lehernya bersinar terang. Jubah-Nya putih hingga menutupi kedua tangan-Nya dan bawah jubah-Nya menutupi kaki-Nya. Ia menunggangi seekor kuda putih dengan tali les yang putih. Lalu roh saya berkata: “Ini Tuhan Yesus, Dia seperti saya, Dia Eloim yang hidup.” “Lalu aku melihat sorga terbuka; sesungguhnya, ada seekor kuda putih dan Ia yang menungganginya bernama: “Yang Setia dan Yang Benar” Ia menghakimi dan berperang dengan adil.” Wahyu 19 :11 Kemudian Tuhan Yesus tidak nampak lagi dan seketika itu roh saya dibawa pulang ke dalam tubuh saya. Saat itu juga ada nafas, ada pikiran dan saya berpikir, tadi saya bersama dengan Tuhan Yesus. Setelah itu saya mencoba beberapa kali untuk bangun dan mengangkat kepala, tetapi tidak bisa, terasa sakit sekali, saya baru sadar bahwa leher saya telah dipotong dan hampir putus, kemudian saya dibuang ke semak-semak dengan ditutupi daun pisang. Saya merasa haus, lalu menggerakkan tangan mengambil darah tiga tetes dan menjilatnya, lalu badan saya mulai bergerak. Saya berdoa: “Tuhan, lewat peristiwa ini saya telah bertemu dengan Engkau, dan Engkau memberikan nafas dan kekuatan yang baru sehingga aku hidup kembali, tapi Tuhan, Engkau gerakkan orang supaya ada yang membawa saya ke rumah sakit.” Tuhan menjawab doa saya, malam itu ada orang yang mendekati saya dengan memakai lampu senter, lalu bertanya: “Kamu dari mana?” Saya tidak bisa menjawab, karena saya tidak dapat berbicara lewat mulut, tidak ada suara yang keluar, hanya hembusan nafas yang melalui luka-luka menganga pada leher. Kemudian orang tersebut memanggil polisi. Puji Tuhan! Dikira sudah meninggal tetapi masih hidup. Mereka mengira saya sudah meninggal, mereka mengangkat dan membawa saya ke jalan raya. Kemudian polisi mencari identitas atau KTP saya, ternyata tidak ditemukan. Tanpa identitas, mereka bermaksud membawa saya ke sebuah rumah sakit lain, tetapi saya ingat kembali akan suara Tuhan dan takhta-Nya di sorga, ternyata ada kekuatan baru dari Tuhan Yesus yang memampukan saya dapat berbicara. Tiba-tiba saya berkata: “Nama saya Dominggus, umur saya 20 tahun, semester III, tinggal di asrama Doulos, saya berasal dari Timor.” Orang-orang yang sedang melihat dan mendengar saya, berkata: “Wah, dia dipotong dari jam berapa? Sekarang sudah jam 02.30 pagi, tapi dia masih hidup.” Perjalanan ke Rumah Sakit UKI Kemudian mereka memasukkan saya ke dalam mobil dan meletakkan saya di bawah. Saya tetap mengingat peristiwa ketika Tuhan Yesus dianiaya. Sementara mobil meluncur dengan kecepatan tinggi, saat melewati jalan berlubang atau tidak rata mobilpun berguncang dan saya merasa sangat sakit sekali pada luka di leher. Saya katakan kepada Tuhan: “Tuhan, apakah saya dapat bertahan di dalam mobil ini? Tuhan ketika Engkau di atas kayu salib, Engkau meminum cuka dan empedu, tetapi saya menjilat darah saya sendiri karena tidak ada orang yang menjagai saya.” Saya membuka mata, ternyata memang tidak ada seorangpun yang menjagai saya, hanya seorang supir. Tetapi saya melihat beberapa malaikat berjubah putih menjaga dan mengelilingi saya. Saya katakan: “Tuhan ini malaikat-malaikat pelindung saya, mereka setia menjagai.” Saya harus berdoa agar tetap kuat. Perawatan di Rumah Sakit Setiba di rumah sakit, suara saya dapat normal kembali. Saya dapat berbicara dan bertanya kepada perawat: “Bapak saya mana?” Perawat RS bertanya kepada saya: “Bapakmu siapa?” Saya jawab: “Bapak Ruyandi Hutasoit.” Ketika Bpk. Ruyandi menemui saya, ia berkata: “Dominggus… leher kamu putus!” Jawab saya: “Bapak doakan saya, sebab saya tidak akan mati, saya telah bertemu dengan Tuhan Yesus.” Lalu Bpk. Ruyandi mendoakan dan menumpangkan tangan atas saya. Setelah itu saya mendapat perawatan, seorang dokter ahli saraf hanya menjahit kulit leher saya, karena luka bacokan sudah menembus sampai ke tulang belakang leher, sehingga cairan otak mengalir keluar, saluran nafas dan banyak saraf yang putus. Kemudian saya dirawat tiga hari di ruangan ICU dan selama perawatan saya tidak diberikan transfusi darah. Pendapat dokter pada saat itu adalah bahwa saya akan mati dan saya tidak diharapkan hidup, mengingat cairan otak yang telah keluar dan infeksi yang terjadi pada otak, yang semua itu akan menimbulkan cacat seumur hidup. Mukjizat Kesembuhan Terjadi Tanggal 19 Desember 1999 dengan panas badan 40 °C dan seluruh wajah yang bengkak karena infeksi, saya dipindahkan keluar dari ruang ICU, dikarenakan ada pasien lain yang sangat memerlukan dan masih mempunyai harapan hidup yang lebih besar daripada saya. Pada malam hari, roh saya kembali keluar untuk kedua kali dari tubuh saya, roh saya melihat suasana kamar dimana saya dirawat dan kemudian roh saya berjalan sejauh kurang lebih dua atau tiga kilometer dalam suasana terang di sekeliling saya. Tiba-tiba ada suara terdengar oleh saya: “Pulang…pulang…! ” Seketika itu juga, roh saya kembali ke dalam tubuh saya, suhu tubuh menjadi normal dan tidak ada lagi infeksi. Kemudian terdengar bunyi seperti orang menekukkan jari-jari pada leher saya, lalu otot, tulang, saluran nafas dan saraf-saraf tersambung dalam sekejab mata, saya merasa tidak sakit dan dapat menggerakkan leher. Sesudah itu saya diberi minum dan makan bubur. Saya sudah hidup kembali, dengan kesehatan yang sangat baik. Puji Tuhan! Keluar dari Rumah Sakit dalam Keadaan Sembuh Total Saya berada di rumah sakit sejak tanggal 16 Desember 1999 dini hari dan keluar dari rumah sakit pada tanggal 29 Desember 1999 , dengan berat badan normal dibanding dua minggu yang lalu karena banyak darah dan cairan yang telah keluar. Saya telah sembuh sempurna, tanpa cacat, tanpa perawatan jalan, saya hidup kembali dengan normal. “Terima kasih Tuhan Yesus, Engkau sungguh Eloim yang hidup dan ajaib, terpujilah nama-Mu kekal sampai selamanya, amin!”

Tambahan foto dari posting diatas.

Sumber:
jil.18.forumer.com/a/tuhan-yesus-telah-bangkitkan-saya-dari-kematian_post33.html