Penal Theory of Atonement, Is that sufficient?

Latar belakang:

Doktrin penebusan adalah salah satu dari doktrin Kristen yang paling banyak diragukan (baca: diserang) oleh orang orang nonKristen, jawaban bahwa “kematian Kristus menggantikan kita yang seharusnya dihukum” nampaknya tidak benar benar memuaskan.

Kita diperhadapkan untuk memberi jawaban pada mereka yang bertanya tentang harapan yang kita bawa bagi dunia, baik itu secara spiritual maupun……………………………………………………………………………………………intelektual.

Tujuan Penulisan Thread:

a. Mengevaluasi teori penalty dengan melihat keberatan keberatan terhadap teori tersebut dan jawaban jawaban terhadap keberatan itu.
b. Melalui a, kita dapat mengetahui kelemahan teori tersebut
c. Sebagai salah satu pembelajaran untuk menyediakan jawaban bagi mereka yang ragu, mereka yang tidak percaya, dan nama Tuhan dimuliakan.

Batasan:
Terdapat beberapa theory yang lain, seperti Moral Exemplar Theory atau Ransom Theoy, namun sesuai judulnya, thread ini hanya membahas penal theory, dari sudut pandang filosofi.

Enough chit chat, mari kita menuju ke “core” dari thread ini

DESKRIPSI:

Secara sederhana, Penal Theory of atonement mengatakan:
Kematian KRISTUS, menggantikan kita, yang seharusnya layak menerima hukuman.

KEBERATAN:

  1. Bagaimana mungkin, hukuman kepada satu orang menggantikan hukuman pada banyak orang yang bersalah?
  2. Bagaimana mungkin hukuman pada seorang yang tidak bersalah, menggantikan hukuman pada orang yang bersalah?
  3. Tentunya mudah bagi Allah untuk begitu saja memaafkan manusia (ini adalah tipikal jawaban umat Muslim)
    
  4. Teori ini tidak menjelaskan mengapa Allah harus memilih metode tersebut (kematian dalam darah dan daging)
  5. Teori ini tidak berkorelasi secara signifikan dengan nomenklatur lain dalam Alkitab seperti kelahiran baru, perjamuan kudus, baptis, dll.

Silakan rekan rekan menanggapi keberatan saya, mengkritisi atau memberikan solusi.

nampaknya tetap menjadi sebuah fairness deh…karena yang mati dan menebus orang-orang berdosa seperti kita ini Allah sendiri…Dia sumber dari segala yang hidup…dari Dia semuanya ini diciptakan…jika Dia ingin merangkum seluruh kehidupan dan menebusnya maka Dia sanggup melakukan-Nya hanya dengan diri-Nya sendiri. Kapasitas daya jangkau dimensi ruang dan waktu serta kuantitas serta kualitas tidak menjadi masalah bagi-Nya

Apakah “penal atonement” merupakan sebuah keharuskan untuk memegang identitas pengikut Kristus ???

Ataukah “penal atonement” dapat dipandang sebagai salah satu hasil perjalanan iman murid-murid Yesus yang menghadapi tragedi penangkapan, penyiksaan, dan kematian Yesus?

Thx for replying,

Tolong perhatikan tujuan thread ini,

disini kita mengevaluasi teori penalti, saya percaya kematian Kristus menyelamatkan kita, namun kita juga dihadapkan pada tuntutan untuk memberi jawaban pada mereka yang bertanya tentang harapan yang kita bawa

Fokus pada 4 keberatan yang saya sampaikan.

Jika ke empat empatnya terjawab, maka penal theory ini memuaskan, dan kita dapat menggunakannya sebagai jawaban untuk mereka yang tidak percaya.

thread ini adalah thread studi.

Oh…

Saya lebih tertarik proses terbentuknya konsep “penal atonement”.

Kalau soal keberatan, untuk saat ini, saya lebih memilih hati-hati terhadap beberapa aspek dalam “penal atonement”, terutama pada asumsi yang dapat memunculkan ide “percaya dahulu terhadap kejahatan baru dapat percaya terhadap kebaikan”, misalnya harus percaya dahulu natur keberdosaan manusia sebelum dapat percaya kepada Yesus.

A. Tuhan menciptakan manusia menurut gambaran-Nya.

Tuhan adalah Maha baik dan Maha sempurna, maka ciptaanNya adalah baik dan sempurna sesuai kodrat yang diberikan.
Pada saat Tuhan mengatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambaran Allah, ini berarti bahwa manusia diciptakan sebagai mahluk spiritual, dan di dalam kondisi yang berkenan di hadapan Allah. Hal ini dikarenakan manusia diberikan suatu berkat yang dinamakan “rahmat kekudusan” dan juga “preternatural gifts“. Manusia juga dikaruniai akal budi, yang terdiri dari akal (intellect) dan keinginan (will). Dan akal budi inilah yang membuat manusia mempunyai kodrat untuk mengenal dan mengasihi pencipta-Nya. Dan sesuai dengan prinsip bahwa “segala sesuatu bergerak menuju tujuan akhir“, maka Tuhan telah memateraikan dalam diri manusia, yaitu keinginan untuk mencapai tujuan akhir untuk bersatu dengan Penciptanya, yaitu Tuhan.

B. Dosa membuat manusia terpisah dari Allah.

Manusia diberikan anugrah akal budi dan ‘freewill’ dengan kemampuan untuk berkata 'Ya ataupun ‘tidak’ kepada Penciptanya.
Manusia pertama, Adam dan Hawa, berdosa ketika mereka mengatakan ‘Ya’ terhadap godaan dan berkata ‘Tidak’ kepada Penciptanya. Mereka menempatkan pendapat mereka lebih tinggi dari perintah Pencipta mereka, dimana seharusnya sebagai ciptaan, mereka bergantung pada Tuhan untuk menentukan yang benar dan salah.

Karena Tuhan adalah kudus (Maz 99:9) dan kasih (1 Yoh 4:8), maka dosa – yang berlawanan dengan kekudusan Tuhan dan merupakan penolakan akan kasih Allah – secara otomatis memisahkan manusia dengan Tuhan. Di dalam kitab kKejadian digambarkan manusia diusir dari Taman Firdaus (lih. Kej 3:22-24). Karena manusia pertama gagal untuk meneruskan “rahmat kekudusan atau sanctifying grace” dan “preternatural gifts“ yang telah diberikan Allah secara cuma-cuma, maka seluruh umat manusia kehilangan berkat-berkat ini.

Terlepas dari Tuhan dan terbelenggu oleh dosa, maka manusia tidak dapat berbuat apa-apa, seperti yang dikatakan oleh Yesus bahwa di luar Allah, manusia tidak dapat berbuat apa-apa (lih. Yoh 14:5). Karena dosa adalah penolakan manusia akan kasih Allah, maka dosa adalah ketidakadaan kasih. Oleh karena itu, dosa hanya dapat digagalkan dengan mengisinya dengan kasih.
Namun dengan terpisah dari Allah, maka manusia menjadi semakin tidak berdaya, karena ketiadaan kasih menjadi semakin dalam. Atau dengan kata lain, kasih adalah suatu pemberian, dan oleh karena manusia yang berdosa tidak punya kasih, maka ia tidak dapat memberikan kasih itu. Sebab seseorang tak dapat memberikan kasih kalau ia tidak terlebih dahulu mempunyai kasih itu. Oleh karena itu, manusia tidak dapat melepaskan diri dari belenggu dosa, tanpa bantuan Tuhan, Sang Kasih.

Karena manusia berdosa kepada Tuhan dengan derajad yang begitu tinggi, maka manusia menjadi berdosa semakin besar. Sebagai pembanding, kesalahan yang kita lakukan kepada seorang teman dan kesalahan yang sama tetapi dilakukan kepada seorang Presiden, akan memiliki konsekuensi yang berbeda. Dan Tuhan berderajad jauh lebih tinggi dibanding seorang presiden.

Maka, tanpa bantuan dari luar manusia, manusia tidak dapat melepaskan diri dari belenggu dosa, manusia betul betul tidak berdaya.

-bersambung-

Oh...

Saya lebih tertarik proses terbentuknya konsep “penal atonement”.

Dear Phantom,

Setahu saya, secara historis, penal theory disusun oleh John Calvin.

Isu yang saya angkat adalah apakah penal theory ini cukup komprehensif untuk dijadikan pijakan,

Saya sendiri memiliki teori lain, Incarnational theory of atonement, namun saya harus mengevaluasi dahulu teori klasik kita, yaitu teori pinalti. Jika cukup komprehensif, saya tidak perlu memposting teori yang lain.

Tuhan Memberkati

Maaf buat Sdr bruce karena postingnya terpotong olh posting saya, silakan dilanjutkan.

Kalau menurut shincan kak, ini masalah sebab dan akibat dari Adam.

Adam pertama, anak Allah, membuat semua manusia keturunannya jatuh dalam kuasa dosa. Melalui Adam pertama Tuhan menciptakan manusia dalam daging.
Adam kedua, anak Allah, membuat semua manusia yang diberikan kepadanya bebas dari kuasa dosa. Melalui Adam kedua Tuhan menciptakan manusia dalam RohNya.

Jadimenurut shincan sudah adil kakak :smiley:

Anda benar, namun yang anda sampaikan bukanlah penal theory, namun lebih menyerupai Incarnational theory yang akan saya post bila memang keberatan 1 sampai 4 tidak terjawab.

God Bless.

Menurut Shincan menjawab pertanyaan nomer 1 & 2 kak :ashamed0002:

Jawaban pertanyaan lain:
3. Tentunya mudah bagi Allah untuk begitu saja memaafkan manusia (ini adalah tipikal jawaban umat Muslim)
Jawab:
Tidak bisa kak, karena Allah tidak bisa mengingkari kekudusan diriNya sendiri. Ketetapan bahwa upah dosa adalah maut tidak bisa diingkari, dan Allah tidak bisa bersekutu dengan dosa (mentolerir dosa begitu saja). Perlu diingat juga bahwa tujuan manusia diciptakan adalah persekutuan dengan Allah dan tujuan ini tidak mungkin tercapai jika manusia bersekutu dengan dosa bersekutu dengan Allah.

4. Teori ini tidak menjelaskan mengapa Allah harus memilih metode tersebut (kematian dalam darah dan daging)
Jawab:
Menurut Shincan sudah dijelaskan melalui hukum Torat bahwa mata ganti mata, maka darah dan daging harus ditebus juga dengan darah dan daging. :smiley:
Dan kematian ini membawa berkah, karena dengan mematikan manusia lama/kedagingan, manusia bisa hidup oleh Roh. :smiley:

(Catatan: Penggunan kata “hukuman” yang pertama tidak tepat. Dari sudut pandang Allah (sebagai penggagas tebusan), YESUS tidak sedang dihukum. YESUS hanya diminta melakukan suatu tindakan, yaitu mengorbankan dirinya. mengorbankan diri tidak sama dengan dihukum. Mungkin kalimat pertanyaan yang tepat adalah:

“1. Bagaimana mungkin, tindakan satu orang menggantikan hukuman pada banyak orang yang bersalah?”)

Ilustrasi 1:

Di suatu desa seluruh penduduknya mengidap penyakit A yang mematikan. Penyakit ini mulanya muncul karena kebiasaan buruk salah satu penduduk. Namun penyakit ini ternyata bisa menular melalui udara, sehingga penduduk lain yang bersih sekalipun ikut terjangkit. Jika penyakit ini tidak diatasi, maka seluruh penduduk akan mati. Lalu seorang Dokter diutus ke desa itu untuk menyembuhkan penyakit itu. Dokter itu membuka praktek, dan “semua” orang yang datang kepadanya, dapat disembuhkan. Namun sayangnya ada juga yang sudah disembuhkan dari penyakit A namun melakukan kebiasaan buruk yang lain sehingga mengidap penyakit B, C, D, E, dll. Namun bahkan meskipun begitu, penduduk dapat tetap sembuh dari semuanya jika mereka mau datang kembali kepada Dokter. Tetapi ternyata banyak yang tidak melakukannya, dan akhirnya meninggal.

Ilustrasi 2:
Generator listrik sebuah desa mengalami kerusakan sehingga listrik seluruh rumah penduduk padam. Agar listrik seluruh rumah penduduk dapat menyala kembali, maka dibutuhkan Generator baru.

Menjawab keberatan 1:

a. Berdasarkan ilustrasi 1, satu orang Dokter dapat menyembuhkan penyakit semua penduduk desa.

b. Berdasarkan ilustrasi 2, satu Generator baru (menggantikan Generator lama) dapat menyalakan listrik seluruh rumah penduduk.

Terima kasih.

Sdr Sinchan, Sdr The Sanctuary (kita pernah berdiskusi sebelumnya?),

Jawaban dan analogi Sdr berdua sangat benar, namun sudah tidak dapat disebut lagi sebagai penal theory, by definition.

Ada kemungkinan ‘penal theory’ yang kakak maksudkan tidak applicable di sini ya kak ? dalam artian, bukan begitu yang dimaksud Alkitab.

@Shin, saya merasa penal theory itu benar, namun hanya dalam beberapa aspek, dan empat keberatan saya nampaknya harus dijawab dengan teori lain.

apa yang anda sampaikan disini sudah benar.

Terima Kasih.

@Sanctuary

Brur, sepertinya thread ini berada dalam board khusus diskusi antar penganut Kristen, sementara anda sebagai penganut ssy sepertinya sesuai peraturan FK tidak diijinkan post di thread ini. Maaf, brur, bukan saya yang membuat peraturan itu, tetapi Admin dan Mod, saya hanya mematuhi saja.

Salam