Pendeta berbisnis????

Guys menurut kalian bagaimana kalo pendeta berbisnis, bahkan sampai-sampai harus ninggalin jemaat untuk kepentingan bisnis?
Trus bagaimana kalo pendeta itu sibuk dengan bisnisnya dari pagi sampai malam? Urusan gereja, hhmmmm…kerjaan fultimer tuh! Sampai ngunjungin jemaat, follow up jemaat juga dia ga kerjakan, bahkan rumah jemaat aja ga ngerti dimana.

*kemaanaaaa…keemmmaaaanaaa…keeemaaaaaaaannnaaa :’(

someone needs career counselling…mgk pendeta itu perlu jadi pebisnis aja…ga haram kok pindah profesi

Paulus juga berbisnis loh, tetapi bisnis buat menopang pelayanan

Bukan pelayanan untuk menopang bisnis :smiley:

kalo tentang paulus sih saya ga bakalan protes sob, tapi kalo pendeta ini menumpuk harta? trus karyawan ga sejahtera bahkan soal pajak ga beres?

Lha protes juga buat apa ta bro? Protes malah menghabiskan energi hanya untuk mengurusi kesalahan orang lain – malah2 ntar lupa dg buah2 kita sendiri, ndak keurus – mending ndka keurus, lha klo malah ndak berbuah?

pendeta berbisnis ??? boleh boleh aja kenapa tidak ?? yang penting bisnisnya engga nyusahin jematnya., dan engga lagi menyebut duri lewi rohani dan jangan lagi mewajibkan/ menganjurkan perpuluhannya apalagi menyertakan ancaman kutukannyah

Tuhan Yesus memberkati
Han

mister han…kalo sampe tu pendeta menegaskan dengan sangat mengenai perpuluhan kepada jemaat? :mad0261:

Kasian domba-domba kalau sampai gak dapat perhatian dari Gembala…

Terpaksa harus di "Unreg " dulu semua jem"atnya baru kemudian yang sudah tersugesti dengan doktrinnya si pendeta me " Reg "ulang sebagai jem"atnya

Tuhan Yesus memberkati
Han

bisnis sih no problem…

Yesus orang nazareth juga berbisnis sebagai tukang kayu…punya anak buah lagi dia kan ngga gergaji kayu balok besar sendirian, ketika full pelayanan makan apa dong kalo ngga bisnis…tapi dorkas banyak membantu Yesus dalam pelayanannya, kalo ngga makan apa dung tuh 12 MURIDNYA.

bisnis itu sangat baik dalam mendukung pelayanan…semua itu butuh biaya besar tapi TUHAN lah yang melihat hati …apakah BISNIS yang jadi prioritas atau pelayanan yang jadi prioritas pendeta itu sendiri

Siapa yang ngajarin anda kalau Jesus kerja sambilan mbah?

Sedangkan Jesus saja berkata :

Mat 19:21 Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”

Tidak ada dalam sejarah Kekristenan, seorang gembala Gereja harus bekerja sambilan. Apalagi kalau dia adalah imam Katolik.

:coolsmiley:

hahaha…belajar alkitab lagi deh bro…Yesus mengajar dengan perumpamaan …hanya orang yang benar benar percaya yang bisa mengerti artinya

He h he, barangkali menurut anda, selain mengajar, Jesus bikin kursi dan meja? Di Alkitab mana mbah?

imam katolik ngga berbisnis ,cuma terima pepau saja kok ,ketika memberkati rumah umatnya

Tuhan yesus memberkati
Han

Itu namanya stipendium om, pendeta juga terima koq, sami mawon lha. Bukan pepau, kalau pepau biasanya kalau ke rumah duka china.

:slight_smile:

Maksud bro han mungkin angpau. Apakah pendeta tidak boleh terima angpau? Ada gereja menerapkan peraturan straight: Bagi pelayan2 dan fulltimer gereja yg melayani kerumah jemaat diwajibkan mengembalikan angpau itu ke kas gereja, kecuali di amplopnya sudah tertulis untuk si A, baru boleh si A menerimanya. Itupun harus atas sepengetahuan gereja.
Lah kalo terima amplop lalu cepet2 ditulisin namanya sendiri? Ya, kita kembalikan lagi ke oknumnya. Biar dia sendiri yg bertanggung jawab sama Tuhan.

Tapi apa boleh pendeta berbisnis?
Di pedesaan atau tempat2 terpencil, seringkali persembahan jemaat tidak bisa menutupi ongkos operasional gereja. Disamping jumlah jemaat yg sedikit, banyak dari jemaat yg untuk makan sehari2 saja susah bisa 3x sehari. Beberapa gereja di pelosok hutan yg didatangi Mission Care dikasih “modal” menanam pohon buah2an di tanah kosong disamping gereja yg nanti buahnya akan dijual unutk menutupi biaya operasional gereja. Saya melihat itu biasa2 saja. malah saya melihat kemuliaan Tuhan dinyatakan. Yg ditanam oleh pendeta2 itu terhindar dari hama, padahal tanaman2 sejenis disekitarnya kena hama ulat yg menggerogoti buahnya sampai habis.
Kalau hamba Tuhan di desa tidak boleh berbisnis, darimana dia dapat meneruskan hidupnya? Apakah berharap dari gereja induknya? Jangan harap. Saya ambil contoh dari GBI. Berapa yg dikucurkan GBI untuk gereja 2 yg bernaung dibawahnya? Kecil sekali. Untuk hidup sehari2 secara sederhana aja nggak cukup.

Tapi apa boleh pendeta berbisnis? Di pedesaan atau tempat2 terpencil, seringkali persembahan jemaat tidak bisa menutupi ongkos operasional gereja. Disamping jumlah jemaat yg sedikit, banyak dari jemaat yg untuk makan sehari2 saja susah bisa 3x sehari. Beberapa gereja di pelosok hutan yg didatangi Mission Care dikasih "modal" menanam pohon buah2an di tanah kosong disamping gereja yg nanti buahnya akan dijual unutk menutupi biaya operasional gereja. Saya melihat itu biasa2 saja. malah saya melihat kemuliaan Tuhan dinyatakan. Yg ditanam oleh pendeta2 itu terhindar dari hama, padahal tanaman2 sejenis disekitarnya kena hama ulat yg menggerogoti buahnya sampai habis.

Kadang memang menjadi dilema, seorang pendeta hidup mewah dikatakan terlalu mengurus hal-hal duniawi, kalau pendetanya hidup merana dikatakan tidak terberkati.

Saya beri kisah nyata tentang hidup pendeta.

  1. Saya punya kerabat dekat, mereka dari keluarga yang kaya raya. Tetapi, seorang cucunya memilih untuk menjadi pendeta di gereja kecil di kota kecil di jawa tengah. Tentu hidup dari pelayanan sangat kurang. Keluarganya yang kaya tidak tega, dan seringkali mengirim barang barang kebutuhan sang pendeta. Bahkan piano untuk musik pengiring di gereja dikirim oleh keluarga sang pendeta. Apa yang terjadi? Jemaat kota kecil itu bisik-bisik, mempertanyakan dari mana si pendeta itu bisa hidup lumayan ‘mewah’

  2. Ada seorang pendeta yang menjadi sahabat keluarga istri saya, ia adalah pendeta yang membaptis nyaris tiga generasi keluarga istri. Sekarang ia sudah pensiun, tunjangan pensiun pendeta yang cuma sedikit diatas UMR tentu tidaklah cukup, apalagi hidup di Jakarta, sementara istrinya hanya ibu rumah tangga. Jadi, si pensiunan pendeta itu sekarang melukis, awalnya orang membeli lukisannya karena ‘kasihan’ tetapi, sekarang harus diakui bahwa lukisannya itu semakin lama semakin bagus saja, dan orang orang membeli bukan hanya karena sekedar kasihan, tetapi memang suka. Kemudian, ada juga bekas jemaatnya yang kaya raya, menghadiahi si pendeta dan istrinya, berjalan jalan keliling dunia dalam beberapa bulan.

bisnis aja, why not… dr pada pendetanya jadiin jemaat sbg domba sembelihan :smiley:

Setuju sis. Daripada pendeta yg “nodong” jemaatnya dgn perpuluhan trus pake “ngancam” segala, masih lebih terhormat pendeta yg berbisnis! :slight_smile: