Pendeta di AS: Anak sulung Pastor Cho membawa malu terhadap keluarga dan gereja

Kabar tentang kasus hukum Pastor David Yonggi Cho, 78, pendiri Yoido Full Gospel Church (YFGC) di Seoul, Korea Selatan, mengundang keprihatinan umat Kristen. Dua orang pendeta masing-masing dari Amerika Serikat dan Taiwan pun mencoba memberi perspektif terhadap masalah tersebut.

Pdt. Dr. Bob Rodgers Sr dari Evangel World Prayer Center di Louisville, Kentucky, yang mengenal dekat Pastor Cho dan keluarganya, mengaku turut menghadiri kebanyakan dari persidangan kasus pelanggaran kepercayaan (breach of trust) yang menimpa Pastor Cho.

Menulis di kolom opini di situs CharismaNews.com (2/25) Pdt. Rodgers menjelaskan bahwa ada sejumlah detail dalam jalannya kasus itu yang tidak di miliki oleh media atau yang belum dipublikasikan karena diungkapkan dalam pertemuan tertutup:

Pertama, Pengadilan Distrik Pusat Seoul menjatuhkan hukuman penjara tiga tahun diskors selama lima tahun dan denda. Pastor Cho tidak harus menjalani masa penjara, tapi dia dalam masa percobaan.

Kedua, anak sulungnya, Cho Hee-Jun, 49, telah didakwa atas tuduhan yang sama. Karena dia dianggap beresiko melarikan diri, ia langsung dibawa ke tahanan setelah pengadilan menjatuhkan hukuman tiga tahun penjara.

Pastor Cho memiliki tiga anak laki-laki. Anak kedua dan ketiga sangat produktif dan bekerja dalam pelayanan berkaitan dengan gereja, jelas Pdt. Rodgers.

Menurut Pdt. Rodgers anak tertua Pastor Cho selama ini adalah anak yang hilang. Dia telah menikah empat kali dan terlibat dalam skandal asusila. Selain itu, ia telah menjalani hukuman penjara untuk penipuan dan penggelapan investasi. Hidupnya telah membawa malu terhadap keluarganya dan gereja.

Dua belas tahun lalu, anak sulung ini sengaja menipu gereja lebih dari $12 juta dalam plot penjualan saham. Pastor Cho dalam kesaksiannya mengatakan percaya pada anaknya yang tertua dan tidak memeriksa dan membaca ribuan halaman dokumen yang disiapkan untuknya untuk ditandatangani. Pastor Cho menandatangani surat-surat berdasarkan arahan para penatua yang ditentukannya serta anaknya. Dia tidak pernah menerima uang dari transaksi tersebut, tulis Pdt. Rodgers.

Ketiga, hakim ketua mengatakan, “Pengadilan menganggap bahwa meskipun Pastor Cho memiliki wewenang dalam gereja, ia tidak pernah memimpin dalam tindak kejahatan tersebut, termasuk penggelapan pajak, yang terjadi mengikuti saran dari Kantor Akuntan.”

Pengadilan juga mempertimbangkan perjalanan hidup Pastor Cho sebagai seorang pemimpin agama dan kontribusinya yang lama terhadap kesejahteraan sosial sebagai hal yang meringankan. Pengadilan memutuskan bahwa anaknya, Cho Hee-Jun, adalah penghasut kejahatan yang terkait dengan pembelian saham 1-Service.

Pdt. Rodgers menutup tulisannya dengan mengatakan bahwa meskipun Pastor Cho mendirikan gereja terbesar di dunia, dengan anggota saat ini lebih dari 1 juta orang, dia hidup sederhana di sebuah apartemen gereja berukuran 1.000 meter persegi. Dia tidak memiliki mobil, dan ia telah mengumpulkan dana dan memberi milyaran untuk gereja.

Media lokal Hankyoreh melaporkan pada 28 Februari bahwa Pastor Cho mengambil tindakan untuk mengeluarkan anaknya dari kesulitan, dan mengarahkan supaya tindakan tersebut dirahasiakan untuk menghindari permasalahan di gereja.

Di Taiwan, Pdt. Mao-Song Chang, pemimpin Top Church di New Taipei, turut mengeluarkan pernyataan yang memberikan penjelasan tentang situasi yang sedang dialami oleh Pastor Cho dan YFGC.

Pdt. Chang yang juga dekat dengan Pastor Cho mengaku bahwa pada Januari seorang penatua dari YFGC datang mengunjunginya dan menjelaskan detail kasus tersebut, disusul kemudian Pastor Lee, pendeta senior YFGC, pada Februari, demikian lapor GospelHerald.com.

Menurut Pdt. Chang ketika para penatua mengajukan gugatan terhadap Pastor Cho dengan tuduhan penggelapan uang, Pastor Cho berlutut di depan jemaat dan meminta maaf, mengakui kesalahannya untuk tidak memiliki kesaksian keluarga yang baik, yang menyebabkan hal jelek terhadap gereja.

Ia juga menekankan bahwa Pastor Cho bersikap jujur dalam pengadilan, mengingatkan bahwa ada sekitar 1.000 penatua yang bersaksi bahwa ‘”Pastor Cho tidak bersalah,” dibanding 30 orang yang mengajukan pengaduan, di antaranya sudah bukan penatua lagi.

Pdt. Chang juga menulis bahwa hakim yang memimpin persidangan pernah mengatakan kepada Pastor Cho, “Kami tahu bahwa kasus ini bukan masalah Anda. Anda hanya perlu menyalahkan anak Anda, maka Anda tidak harus bertanggung jawab. ” Tapi Pastor Cho menolak dengan mengatakan, “Anak saya bisa tidak benar terhadap saya, tapi saya tidak bisa tidak benar terhadap anak saya.”

Pdt. Chang mendesak agar semua menjaga perspektif objektif terhadap kasus ini dan tidak menghakimi Pastor Cho karena kejahatan anaknya. Ia juga mengingatkan posisi YFGC yang secara penuh mendukung Pastor Cho, dengan mengatakan bahwa ia tidak bersalah.

Dalam refleksi imannya di minggu pertama setelah pengadilan menjatuhkan keputusan bersalah, Pastor Cho berucap, “Melalui penderitaan ini, saya telah belajar… Seorang individu seharusnya tidak memiliki apa-apa. Selain kesehatan, status, ketenaran, kekuasaan, uang … itu semua adalah hal yang berada di luar tubuh dan tidak layak dikejar.”

http://yubelium.com/2014/03/03/pendeta-di-as-anak-sulung-pastor-cho-membawa-malu-terhadap-keluarga-dan-gereja/

Kesalahan dalam mendidik anak sehingga sang anak menjadi terikat pada materi adalah juga kesalahan orang tuanya. Kesalahan menjadi lebih ‘berat’ karena kebetulan sang ayah adalah hamba Tuhan, yang seharusnya bisa memberi pengajaran lebih baik dibanding jemaat biasa.

Seorang hamba tidak bisa memiliki dua tuan, itu pesan Jesus 2000 tahun lalu.

kurasa pastor ga salah mendidik anak buktinya 2 anak pastor cho produktif dalam pelayanan…cuma anak tertuanya pastor cho ga tw kenapa dy tersesat gini :mad0261:

Kisah nyata dari sanak keluarga saya sendiri.

Sang ayah (sekarang sudah almarhum) adalah seorang pendeta yang saya hormati dari sebuah denom besar yang tidak elok saya sebutkan. Oleh pendeta pendeta juniornya dari Jakarta, Jawa Barat dan Sumatra, beliau sangat dihormati dan disegani. Tetapi, karena terlalu sibuk, justru anak anaknya tidak terawasi dengan baik, tiga anak laki lakinya dari lima anaknya terjerat narkoba. Untunglah ketiganya berhasil diselamatkan.

Dan, walau tidak pernah dikatakan langsung, sang pendeta merasa bahwa kejatuhan anaknya, merupakan kegagalannya juga.

Syalom

Siapa tau nasibnya mirip Ayub.