pendeta digaji, dapat persepuluhan bayar pajak ato tidak ?

Matius 22:21 Jawab mereka: “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata YESUS kepada mereka: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

UU PPh no. 36 thn 2008 pasal 2 ayat 3 huruf a
Subjek pajak dalam negeri adalah:
orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, atau orang pribadi yang dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia;

pendeta punya gaji, pendeta dapat penghasilan dari persepuluhan,pendeta warga negara, pendeta tinggal 183 hari byr pajakkah ?

bayar pajaknya awasi pengunaannya…

tetap harus bayar pajak :smiley:

gimana ngisi SPT nya ya…

profesi/pekerjaan/mata pencaharian : Pendeta.

iye om, gereja wajib pajak, jadi pendeta dibayar gereja, jadi gereja yang bayar pajaknya :smiley:

Bisa baca UU Pajak dan peraturan perundang-undangan turunannya, di sana ada yang disebut PTKP, PKP, etc.

Malas belajar, akhirnya jadi saling tuduh dan menjelekkan orang lain yang tidak bersalah.

Mungkin giliran bayar pajak, dia bilang itukan Gratifikasi alias gratis

GBU

Singkatannyaa apa tuh bro ??

Dear All

Pendeta tetap bayar pajak apabila mendapat gaji, dan dianjurkan tetap membayar pajak jika mendapat penghasilan tidak tetap (persembahan jemaat) jika penghasilan tahunannya masuk ke dalam Penghasilan Kena Pajak maka dia kena pajak. Sama dengan pengusaha kecil-kecilan yang penghasilannya tidak tetap juga harus bayar pajak jika penghasilannya masuk ke kategori Penghasilan Kena Pajak.

Definisi ‘Penghasilan’ menurut Pasal 4 Undang-undang Pajak Penghasilan adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apapun.

Undang-undang Pajak Penghasilan Indonesia menganut prinsip pemajakan atas penghasilan dalam pengertian yang luas, yaitu bahwa pajak dikenakan atas setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dari manapun asalnya yang dapat dipergunakan untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak tersebut. Pengertian penghasilan dalam Undang-undang Pajak Penghasilan Indonesia tidak memperhatikan adanya penghasilan dari sumber tertentu, tetapi pada adanya tambahan kemampuan ekonomis. Tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak merupakan ukuran terbaik mengenai kemampuan Wajib Pajak tersebut untuk ikut bersama-sama memikul biaya yang diperlukan pemerintah untuk kegiatan rutin dan pembangunan.

Dilihat dari mengalirnya tambahan kemampuan ekonomis kepada Wajib Pajak, penghasilan dapat dikelompokkan menjadi :

  • Penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan kerja dan pekerjaan bebas seperti gaji, honorarium, penghasilan dari praktek dokter, notaris, aktuaris, akuntan, pengacara, dan sebagainya;
  • Penghasilan dari usaha dan kegiatan;
  • Penghasilan dari modal, yang berupa harta gerak ataupun harta tak gerak seperti bunga, dividen, royalti, sewa, keuntungan penjualan harta atau hak yang tidak dipergunakan untuk usaha, dan lain sebagainya;
  • Penghasilan lain-lain, seperti pembebasan utang, hadiah, dan lain sebagainya;

Dilihat dari penggunaannya, penghasilan dapat dipakai untuk konsumsi dan dapat pula ditabung untuk menambah kekayaan Wajib Pajak. (sumber : http://www.ortax.org/ortax/?mod=learning&page=desc&id=400)

Salam

pertanyaan berikutaya, adakah pendeta di indonesia yg punya NPWP ?

kan perpuluhan wajib katanya untuk tuhan,
masa sih Tuhan harus punya NPWP ?

Tuhankan engga dapet tambahan penghasilan dari dulu Kekal segitu segitunya.
jadi itu termasuk PTKP

GBU

Dear Repento

Ada

Salam