Peneliti: Suara Nahdliyin Tersebar di Semua Partai | Republika Online

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- Suara Nahdliyin ternyata tersebar hampir di semua partai pada dalam pemilihan legislatif (pileg), 9 April. Perilaku pemilih itu berdasar pada hasil exit poll Indikator Politik Indonesia pada 1416 responden di Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia.

Dalam exit poll, Indikator antara lain menakar partai pilihan berdasarkan dua organisasi massa Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Hasilnya, Nahdliyin atau warga yang merasa dekat dengan tradisi NU cenderung tersebar lebih merata. Sementara warga Muhammadiyah cenderung lebih besar ke satu partai.

“Pemilih NU yang jumlahnya kurang lebih 40 juta itu tersebar pada semua partai baik itu partai nasionalis maupun partai islam,” ujar peneliti senior Indikator Kuskrido Ambardi, Kamis (10/4).

Berdasarkan hasil exit poll, sebanyak 14 persen suara NU ternyata memilih PDI Perjuangan. Di tempat kedua ada Partai Golkar, 12 persen, dan kemudian disusul Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), 11 persen. Terkait dengan suara ke PDIP, Kuskrido menilai, karena tidak ada pertentangan ideologis antara basis massa partai tersebut dengan NU. “Jadi itu tidak ada,” kata dia.

Sejak zaman Gus Dur, Kuskrido mengatakan, warga NU dibebaskan untuk berpolitik di semua partai. Karena itu, menurut dia, ada juga yang masuk ke PDIP. Selain itu, ia mengatakan, ada kedekatan tokoh juga. “Menjelang reformasi itu Gus Dur sendiri dekat dengan Megawati (Ketua Umum PDIP)” ujar dia.

Sementara warga Muhammadiyah, berdasarkan pada hasil exit poll, lebih cenderung menjatuhkan suara pada Partai Amanat Nasional (PAN). Sebanyak 22 persen masuk ke partai yang dipimpin Hatta Rajasa itu. Di posisi kedua, ada tiga partai yang mendapat suara warga Muhammadiyah, dengan persentase 11 persen. Ketika deklarasi pada 1999, menurut Kuskrido, PAN menyatakan sebagai partai terbuka.

Indikator juga melakukan exit poll untuk menakar pilihan partai berdasarkan latar belakang agama pemilih. Kuskrido mengatakan, ada kencenderungan pemilih non-muslim menjatuhkan suara pada partai nasionalis. Seperti PDIP, Partai Golkar, Partai Gerindra, dan Partai Demokrat.

Suara pemilih non-muslim paling tinggi masuk ke PDIP, 25 persen. Sementara di tempat kedua ada Golkar (13 persen) dan Partai Gerindra (12 persen). Kuskrido mengatakan, PDIP sifatnya partai terbuka dan tidak mengutamakan kelompok berdasar agama. Sehingga menurut dia, pemilih dengan latar belakang agama apapun dapat terakomodir di partai berlambang banteng itu.

Sebaliknya pada partai berbasis masa Islam, menurut Kuskrido, proporsi pemilih non-muslim cenderung lebih sedikit ketimbang partai nasionalis. Seperti pada Partai Persatuan Pembangunan (PPP, satu persen), Partai Keadilan Sejahtera (PKS, satu persen), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB, 6 persen), dan PAN (4 persen).

Tampaknya memang pemilih Kristen dan non muslim lainnya cenderung memilih PDI Perjuangan.