Pengakuan Wanita Muslim yang Mendukung Larangan Burka

Perdebatan panjang parlemen Prancis ihwal penggunaan busana muslimah bakal segera berakhir usai Presiden Prancis Nicolas Sarkozy, Selasa (23/6), menegaskan bahwa ia melarang penggunaan burka di negeri itu.

“Perdebatan telah berlangsung lama, dan semua pendapat harus disampaikan,” tegas Sarkozy seraya menambahkan bahwa keputusan itu harus dibuat karena pemerintah Prancis tidak ingin berada di daerah abu-abu untuk masalah burka dan nikab.

Ya, sebelumnya pembuat kebijakan Prancis telah mengusulkan larangan penggunaan jilbab dan burka. Tapi usulan itu menuai kontroversi, dan puncaknya pada 2004, jilbab dilarang digunakan di sekolah negeri.

Untuk itu, Sarkozy menyatakan bahwa ia siap melawan lima juta perempuan muslim pengguna burka di Prancis atas keputusannya itu. Sebab, menurut Sarkozy, pakaian tradisional yang biasa digunakan perempuan muslim di Afganistan itu bukan simbol keagamaan melainkan simbol kepatuhan; derajat yang rendah; masalah yang menyangkut kebebasan dan martabat perempuan.

Oleh sebab itu “kami tidak bisa menerima hal itu. Kami tidak ingin perempuan di negara kami terperangkap di balik pagar, terisolasi dari kehidupan sosial dan terempas dari identitasnya. Ini merupakan gagasan yang melanggar martabat perempuan!” tandas Sarkozy sebagaimana diberitakan Tempo.

Lantas, bagaimana seorang wanita muslim—yang juga berdomisili di Eropa—menanggapi larangan tersebut?

Saira Khan, runner up seri pertama The Apprentice, meski bukan warga negara Prancis, mengatakan bahwa ia menyambut baik gagasan tersebut. Apalagi di negeri asalnya, Inggris, mulai banyak wanita muslim yang mengenakan burka dan nikab—termasuk anak perempuan yang masih berusia 4 dan 5 tahun. Ironisnya, wanita-wanita semacam ini kerap berseliweran di pusat fesyen Harrods, meski tidak akan pernah bisa mengenakan busana-busana semacam itu di depan umum.

Khan juga prihatin terhadap meningkatnya risiko penyakit tulang di kalangan wanita muslim yang mengenakan burka dan nikab, karena busana yang mereka pakai menghalagi paparan sinar matahari yang mengandung vitamin D.

Selain itu, menurut Khan, busana muslimah dan gaya hidup ala Taliban dapat menjadi batu sandungan bagi toleransi umat beragama di Eropa. “Jika kalian tidak suka tinggal di sini dan menolak untuk berintegrasi, lalu apa yang kalian lakukan di sini? Kenapa kalian tidak pergi dan pindah saja ke saja negara Islam?” kecamnya sebagaimana dilansir Daily Mail.

“Orangtuaku berasal dari Kashmir, dan mereka pindah ke Inggris pada 1960-an. Mereka membawa kepercayaan dan kebudayaan asal mereka—tapi mereka juga mengerti bahwa mereka memulai hidup baru di sebuah negara di mana Islam bukan kepercayaan utama,” aku Khan.

“Sebelumnya ibuku gemar mengenakan busana tradisional Kashmir. Namun sejak ia mulai bekerja di Inggris, ia pun beradaptasi dengan mengenakan busana yang lebih moderat tanpa banyak cingcong,” tukas Khan. “Meski demikian, ibuku tetap seorang wanita muslim,” imbuhnya.

“Aku sendiri telah membaca Al-Quran, dan belum pernah menemukan pernyataan bahwa wanita muslim harus menutupi keseluruhan tubuh dan wajahnya dengan jubah hitam. Sebaliknya, wanita muslim harus berpakaian bersajaha yang cukup melindungi bagian lengan dan kakinya,” papar Khan.

“Burka adalah masalah masalah lain. Itu adalah busana yang berasal dari tradisi Arab Saudi,” terang Khan. “Dan itu adalah simbol penganiayaan terhadap kaum wanita—senjata dari kaum muslim radikal yang ingin menegakkan hukum syariah di Inggris, sekaligus senang melihat kaum wanita mereka tersembunyi, tak terlihat, dan tak terdengar. Hal-hal semacam itu tidak bisa diterima di negeri yang beradab!” pungkas Khan.

maaf yach kl ng suka dan tersinggung :onion-head53:

Sumber tulisan darimana?

itu sumber tertulis asli kk lukas

Iyah darimana? :smiley:

g sendiri

g sendiri dikirimin emailnya

owh burka gw kira apaan…

burka budaya tolol dan super kolot