PENTALEMMA on Unconditional Election

Saya memiliki masalah logika dengan unconditional election, mungkin ada yang berbaik hati mau menolong saya

  1. DILEMMA DARI KETIDAKADILAN
    a. Adalah ketidakadilan untuk menghukum seseorang untuk sesuatu yang tidak dapat mereka kontrol.
    b. Jika unconditional election benar, Allah menghukum seseorang atas sesuatu yang tidak dapat mereka control.
    c. Allah yang melakukan unconditional election bukanlah Allah yang adil.
    d. Allah itu adil.
    e. Kesimpulan yang mungkin: 1. Allah itu tidak adil (negasi d) atau 2. Unconditional election tidak benar (negasi b)
    Tanggapan untuk premis b: Allah yang menghukum orang orang yang memang berdosa itu adalah suatu keadilan.
    Keberatan: Orang orang berdosa itu tetap berdosa karena mereka tidak dipilih oleh Allah, dan pilihan Allah bukanlah sesuatu yang dapat mereka control.

  2. DILEMMA DARI KASIH SEMPURNA
    a. Semua orang telah berdosa (Total Depravity), dan semuanya pantas menanggung murka Allah.
    b. Jika Allah itu Kasih yang sempurna, Allah ingin menyelamatkan semua orang.
    c. Jika Unconditional election benar, maka Allah memilih sebagian dari semua orang untuk diselamatkan.
    d. Kesimpulan yang mungkin: 1. Allah bukanlah Kasih yang Sempurna 2. Unconditional election tidak benar.

  3. DILEMMA DARI OMNIPOTENT
    a. Semua orang telah berdosa (Total Depravity), dan semuanya pantas menanggung murka Allah.
    b. Jika Allah Maha Kuasa, Allah dapat menyelamatkan semua orang.
    c. Jika Unconditional election benar, maka Allah memilih sebagian dari semua orang untuk diselamatkan.
    d. Kesimpulan yang mungkin: 1. Allah tidak Maha Kuasa 2. Unconditional election tidak benar.

  4. DILEMMA DARI MAKNA KEHIDUPAN
    a. Jika sebagian orang tidak dipilih, untuk apakah mereka menjalani hidup? Untuk apakah Allah memberikan mereka kehidupan? Mengapa mereka tidak langsung saja dihukum atau dianihilasi?
    b. Allah selalu memberikan sesuatu yang bermakna.
    c. Hanya ada dua kemungkinan, Allah memberikan sesuatu yang tidak bermakna, atau Unconditional Election tidak benar.

  5. ARGUMENTASI DARI AKTIVITAS GEREJAWI
    Jika unconditional election benar (diikuti pula oleh kebenaran L,I,P), untuk apa kita repot repot menginjili, menyusun bulletin gerja, berkhotbah setiap minggu, berlatih paduan suara, mengajar anak anak sekolah minggu, memberikan nasehat, membentuk komsel, mencetak Alkitab? Mengapa Allah memberikan perintah yang sia sia? Jika unconditional election benar, dan kita semua hanya menunggu takdir, dipilih atau tidak dipilih, mengapa para pembela doktrin di FK ini begitu lantang bersuara membela ajarannya? Mengapa tindakan dan ajaran kalian tidak terlihat sinkron?

Mereka seolah berkata:“untuk menjadi orang yang terpilih, kita harus meyakini UNCONDITONAL ELECTION”

KEMUNGKINAN JAWABAN(1)

Suatu jawaban yang mungkin diberikan adalah: Allah memilih berdasarkan kedaulatanNYA.
Tetapi, benarkah kata kata ini bermakna? Benarkah kalimat ini memberikan kita jawaban logis?

Kedaulatan berarti otoritas, atau suatu hak mutlak yang dimiliki seseorang.
Kedaulatan Allah adalah derivasi dari kenyataan bahwa Allah adalah Pencipta Segala Sesuatu. Jika saya mengarang sebuah novel, maka saya memiliki kedaulatan untuk mebuat suatu jalan cerita sesuka hati saya, jika saya adalah seorang pelukis, maka saya berdaulat penuh untuk membuat suatu lukisan yang sesuai keinginan hati saya. Demikian juga, Allah, karena Ia adalah oknum yang menciptakan alam semesta, maka Ia adalah oknum yang berdaulat penuh atas segala ciptaanNYA.

Lebih lanjut, apa yang dilakukan suatu oknum dengan menggunakan kedaulatan yang dimilikinya mencerminkan sifat dari oknum tersebut. Jika novel karangan saya merupakan novel yang abusif, penuh kata kata kotor, penuh percabulan, maka itulah cermin dari diri saya. Jika saya bisa membuat novel yang baik, yang sopan, yang memberkati, mengapa saya tidak melakukannya?

Ketika kita menciptakan atau mempunyai sesuatu, kita memiliki kedaulatan untuk membuat dan atau menggunakan sesuatu itu sesuka hati kita, tetapi sebenarnya, sifat kitalah yang menentukan bagaimana kita mempergunakan kedaulatan itu.

Kembali ke poin awal kita
JIka Allah itu Kasih, Allah itu adil, dan Allah itu MahaKuasa, mengapa Allah melakukan Unconditional election?
Karena hal itu adalah kedaulatannya.

Jawaban ini sama halnya dengan jawaban berikut:
Jika SworDPen itu baik, sopan, dan ramah, mengapa ia menciptakan novel yang begitu jorok, abusive, dan tidak mendidik?
Karena hal itu adalah kedaulatannya sebagai pengarang novel.

Kata kata di atas bukanlah sebuah jawaban.

KEMUNGKINAN JAWABAN(2)

Jawaban lain yang mungkin diberikan adalah: Allah melakukan Unconditional election dengan perhitungan yang sangat rumit yang tidak kita ketahui, karena Allah melampaui segala akal.

Keberatan saya mengenai hal ini adalah

Jika seseorang yang mengaku ia tidak benar benar mengetahui perhitungan Allah datang kepada kita dengan membawa suatu doktrin yang aneh tentang Allah, apakah ucapannya valid?

Jika seseorang yang mengaku ia tidak benar benar mengetahui perhitungan Allah datang kepada kita dan berkata, “Allah telah menetapkan pilihan sejak semula, dan kita semua telah ditakdirkan tanpa dapat memilih”, akankah kita percaya? Akankah kita percaya dengan doktrinnya yang nampaknya menyingkirkan Allah kasih, Allah adil dan Allah Kuasa, sementara Ia sendiri tidak benar benar mengerti mengenai Allah?

Kita ambil contoh mudah saja ya.

  1. Andi, adalah seorang pemuda yang lahir di Hongkong, orang tuanya beragama adat (Khonghucu ?), seumur hidupnya, sesuai adat china, Andi menjalankan bisnis dengan relative ‘jujur’ kecuali masalah ‘kecil’ dalam hal import-export dan perpajakan. Kepada orang tuanya Andi selalu berbakti, selalu patuh dan hormat, saat orang-tuanya meninggal, Andi merelakan uang dengan jumlah cukup besar untuk biaya pemakamam mewah kedua orang tuanya. Andi pun terkenal sebagai orang yang dermawan, siapapun dia, jika membutuhkan pertolongan dibantu, baik vihara, kuil, gereja, rumah yatim-piatu, orang miskin, semua dibantu. Ketika menjelang usia 60 tahun, Andi terkena serangan jantung parah, dan meninggal, karena tidak memiliki anak, ia mewariskan selparo hartanya kepada istrinya, dan separo lagi kepada yayasan sosial.

Pertanyaannya, apakah Andi termasuk yang tidak terpilih untuk selamat?

  1. Joni, adalah pemuda dari desa di Sumatra Utara. Ia sejak kecil ia mengenal Tuhan, karena orang tuanya beragama Kristen, sekolah di sekolah Kristen di kampungnya. Karena berbadan besar, Joni cenderung mengandalkan fisik untuk mendapat keuntungan. Memeras teman adalah biasa dilakukannya. Ketika SMP, Joni memukul seorang temannya yang adalah anak tentara hingga babak belur, dan karena takut, Joni melarikan diri ke Jakarta. Tanpa bekal uang, tanpa pendidikan, Joni menggelandang di Tanjung Priok. Berkenalan dengan dunia keras Jakarta, justru menempa Joni menjadi pemuda yang ditakuti. Semua larangan dalam Alkitab tidak ada yang tidak dilanggarnya. Jangankan ke Gereja, berdoapun ia tidak pernah. Suatu kali, Joni berkenalan dengan gadis manis, yang kebetulan anak preman Banten, mereka berpacaran dan akhirnya menikah, sudah tentu Joni wajib mengucapkan dua kalimah syhadah.
    Walaupun sudah menikah, kelakuan Joni bertambah parah, karena mertuanya kini justru menjadi tambahan powernya. Pada suatu tindak kejahatan di Jakarta Barat, Joni ditembak polisi karena melawan saat akan ditangkap. Saat menjelang ajal, Joni teringat akan ajaran ibunya dulu, bahwa dosanya akan diampuni kalau dia bertobat, dan tepat sebelum jantungnya berhenti, Joni meohon ampun pada Tuhan yang telah lama ditinggalkannya.

Pertanyaannya, apakah Joni termasuk yang terpilih untuk selamat?

Lo enggak usah dipikir-pikir kak. Kalo kakak bisa mikir enggak perlu iman.
Diterima pake iman ya kak, enggak usah dipikirin ampe keriting :smiley:

Terima Kasih atas masukannya Sdr Shin,

Iman dan akal adalah sahabat,

jika segala sesuatu didasarkan pada alasan iman belaka, maka agama agama lainpun dapat mengklaim demikian, dan Kekristenan hanya menjadi sekedar salah satu dari agama agama iman lainnya.

Tuhan Memberkati

Agama yang hanya mendasari pada iman, akan mudah tersandung dan terjungkal. Manusia diberi anugrah luar biasa oleh Tuhan berupa kemampuan berpikir. Sehingga iman kita adalah iman yang hidup, terus bertumbuh, dengan dasar pemikiran yang juga terus berkembang.

Jangan sia-siakan apa yang sudah dianugrahkan Tuhan kepada kita, pergunakan pikiran kita untuk terus mencari untuk terus menemukan apa yang Tuhan ingin kita ketahui.

Mat 25:18 Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya.

Mat 25:20 Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta.

Mat 25:22 Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta.

Mat 25:24 Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam.

Mat 25:25 Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan!

Mat 25:28 Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu.

Kakak gimana sih, koq bandel :smiley:

AKu ngomentari yang ini looo
Keberatan saya mengenai hal ini adalah

Jika seseorang yang mengaku ia tidak benar benar mengetahui perhitungan Allah datang kepada kita dengan membawa suatu doktrin yang aneh tentang Allah, apakah ucapannya valid?

Jika seseorang yang mengaku ia tidak benar benar mengetahui perhitungan Allah datang kepada kita dan berkata, “Allah telah menetapkan pilihan sejak semula, dan kita semua telah ditakdirkan tanpa dapat memilih”, akankah kita percaya? Akankah kita percaya dengan doktrinnya yang nampaknya menyingkirkan Allah kasih, Allah adil dan Allah Kuasa, sementara Ia sendiri tidak benar benar mengerti mengenai Allah?

Contohnya gini ya kak…
Aku punya ayah, aku tidak selalu benar-benar mengetahui perhitungan ayah. Misal ketika minta dibeliin notebook ternyata enggak dibeliin. Jangan tanya alasannya sama aku, aku enggak tahu, jawabanku ngaco, tanya sono sama ayahku. Tetapi aku kenal banget dengan ayah, hanya sedikit orang di dunia ini yang kenal ayah seperti aku mengenalnya.

Lalu apakah ucapanku tentang ayahku tidak bisa dipercaya ? :’(

dengan menjaga konsistensi, perhatikan sebuah fakta bahwa anda bukanlah satu satunya anak dari sang ayah,
anda datang dan berkata bahwa ayah itu baik dan adil, tetapi ajaran anda bertolak belakang dengan hal tersebut, dan ketika seorang bertanya mengapa, anda dengan mudah menjawab karena anda tidak benar benar mengetahui
(sedangkan ada anak lain, yang juga berkata bahwa ayah itu adil dan baik, dan membawa ajaran yang tidak bertentangan dengan sifat ayah)

Ingat bahwa ajaran anda didasarkan pada sebuah klaim yang bergantung di awan awan:
“kami tidak benar benar mengetahuinya”

Tuhan Memberkati

Menurut Saya, suatu ajaran/informasi dapat dibagi menjadi tiga kategori:

  1. Masuk akal
  2. Melampaui akal
  3. Bertentangan dengan akal.

Karena Iman Sejati dan akal berasal dari sumber yang sama (Allah), maka pastilah keduanya sejalan. Namun inipun masih bisa dijabarkan menjadi:

  1. Iman Sejati itu masuk akal.
  2. Iman Sejati itu melampaui akal (karena Iman Sejati adalah Kebenaran Tertinggi, sedangkan akal manusia masih terus berkembang, belum mencapai titik tertinggi).

Tetapi tidak mungkin Iman Sejati itu bertentangan dengan akal.

Untuk “Unconditional Election”, ini masuk kategori bertentangan dengan akal, maka ajaran ini tidak mungkin berasal dari sumber yang sama dengan akal (yaitu Allah).

Terima kasih.

Saya setuju dengan Anda Sdr Sanctuary, sesuatu hanya terdiri dari tiga hal, rasional, suprarasional, dan nonrasional, gravitasi adalah rasional, mujizat adalah suprarasional, namun Unconditional Election adalah nonrasional.

Saya belum mendapat komen yang benar benar rasional menyelesaikan pentalemma ini.

Bertentangan dengan sifat mana dari sang ayah, kakak ? Shincan jadi bingung, satu-satu ngebahasnya jangan sekaligus supaya enggak bingung kak. :tongue:

Jangan bertanya tentang ‘why’ dari tindakan seseorang karena sejujurnya kita tidak akan pernah bisa menjawabnya secara objektif dan tuntas, kakak.
Kalau ada yang bisa menjawab yang katanya objektif pastilah dia berbohong kecuali yang menjawab adalah orang pertama yang adalah subjek dari tindakan.

Sifat adil, sifat kasih, sifat Kuasa dari sang ayah, tolong perhatikan baik baik posting saya dari awal.

Untuk selanjutnya, saya tidak menggubris komentar yang menjurus OOT atau melempar argumentasi strawman.

Satu lagi, dilemma yang disampaikan Sdr bruce disini juga boleh dikomentari,

Tuhan Memberkati, dan terima kasih atas komentar komentar rekan rekan.

Justru itu kak, Kakak bertanya tentang ‘why’ dari tindakan Bapa pada Shincan maka Shincan kasih jawaban jujur: tidak tahu persis. Adakah orang yang bisa menjawab secara tuntas dan objektif tentang ‘why’ dari tindakan seseorang, kecuali yang menjawab adalah subjek pemilik tindakan. :smiley:

Sama juga dikemukakan kakak Bruce. Bagaimana seseorang yang tidak memiliki kapasitas hakim berperan sebagai hakim? Tanyakan siapa selamat dan siapa tidak selamat pada YESUS, karena cuma Dia hakim yang adil. Karena cuma Dia hakim yang adil, maka tentu saja jawaban selain berasal dari Dia adalah keliru alias tidak adil , kak :smiley:

Baiklah Sdr Shin, ini akan jadi jawaban terakhir dari saya untuk isu yang Sdr angkat, please, take a deeper look…

  1. calvinis mengatakan:
    a. Semua manusia telah jatuh ke dalam dosa.
    b. Allah memilih sebagian manusia tersebut untuk diselamatkan.
    c. Allah kemudian menebus sebagian manusia tersebut.

  2. sementara, seorang noncalvinis berkata:
    a. Semua manusia telah jatuh ke dalam dosa.
    b. Allah menebus semua manusia tersebut agar mereka dapat diselamatkan.
    c. Beberapa manusia menolak anugrah tersebut, dan beberapa lain menerima.
    d. Mereka yang menerima pada akhirnya diselamatkan.

Allah yang pada deskripsi no 2 tentu lebih Kasih, lebih Kuasa, dan lebih Adil, karena memberikan semua manusia kesempatan yang sama.

Q.E.D

dan, mari kembali ke topik, pentalemma yang tak terselesaikan…

oohh itu ya kak masalahnya, tentang Calvin hihihihi…
Sory Shincan enggak menyimak :smiley:

Kalau gitu kakak ikut aja di trit2 yang sudah berjalan hingga ratusan halaman.
Bikin trit yang baru menurut Shincan kurang membantu, walaupun Shincan kurang setuju dengan pernyataan kakak. Karena kesimpulan kakak tersebut terlalu prematur, kak :ashamed0002:

shin,
Sekadar info, thread lain menyoroti Calvinisme melalui sudut pandang Alkitab, sedangkan disini saya menyoroti dari sudut pandang filosofi.

Anyway, Terima Kasih atas komentarnya.
Tuhan Memberkati.

Salam, Sdr S-pen, saya mencoba untuk sedikit menanggapi dilema yg sdr tulis ttp maaf sebelumnya krn saya mengang gap yang sdr tulis ini diambil dari Firman Tuhan mk saya juga mengacu pd Alkitab dlm menanggapinya, bila sdr tdk berkenan saya mohon maaf sebesar2nya dan anggap saja tanggapan saya ini tdk ada.

Dilema 1 s/d 5.
Menghukum atas sesuatu yg tidak dapat dikontrol.
Sebenarnya istilah ini tdk tepat benar, saya akan mulai dr Penciptaan Manusia dan Alam semesta.
Maksud dr penciptaan tsb adalah SEMATA-MATA UNTUK KEMULIAAN ALLAH.
Ketika manusia pertama yang MULIA tsb mendiami bumi diberilah suatu perintah unt tdk makan buah pengetahuanKej2:17 ( ini bisa dipandang sbg testcase unt membedakan antara ciptaan dg Sang Pencipta ), ttp manusia yang MULIA tsb

Sambungan… ternyata tdk dpt memenuhi larangan Allah tsb, dan sesuai dg konskwensinya MATILAH DIA SECARA ROHANI .
Dan semua ini Allah sudah tahu sejak sebelum penciptaan, kemudian ada pertanyaan : siapakah yang akan memuliakan Allah ( sesuai dg maksud penciptaan ) ?.
Namanya juga Allah, mk tentu tdk akan pernah gagal , mk dari yang MATI ROHANI tsb ( semua tanpa kecuali mati/ jasad2 rohani ) diambilah sebagian menurut keperluan dan kerelaanNya, ditulislah namanya di kitab kehidupan untuk pada saatNya dikaruniai hidup ( jd bukan suatu hukuman untuk yg tdk menerima Kasih Karunia , melainkan suatu keniscayaan menuju pd binasa kekal, bisa kita ilustrasikan dg org tukang keramik dia ambil tanah liatnya kan tdk semua secukupnya saja , apakah ini tdk adil ? ).
Sampai sini telah menjelaskan point 1 dan 2.

Allah dpt menyelamatkan semua ttp ini akan bertentangan dg maksud awal penciptaan ( mengapa hrs ada pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat ? , dimana sdh saya jelaskan diatas )

Dunia ini hrs berjalan sampai domba sesat terakhir kembali kpd Allah dan selama itu semua sarana prasarana hrs akomodatif dan lengkap ( hrs ada dokter , ada pengusaha ada tukang sapu ada pencuri ada pembuat vaksin dll ) dan itu semua dikerjakan oleh duniawi ( ini menjawab dilema 4 ).

Sampai domba sesat terakhir kembali kepadaNya mrk hrs dengar Injil, ( karena Selamat adl Kasih Karunia sebenarnya pengabaran Injil tdk disertai target, krn dg demikian menjadi tdk Alkitabiah ) ( menjawab dilema5 ), sekian Tuhan Memberkati.

Terima Kasih atas kesediaannya untuk berkomentar Dear Adhi Dharma, namun saya masih tidak melihat adanya resolusi dari jawaban Sdr, lebih lanjut, menanggapi posting Sdr.

KEBERATAN KEBERATAN
1.

Saya menolak bahwa manusia diciptakan Allah agar mereka memuji Allah, seolah olah Allah sangat sangat memerlukan manusia.
Allah yang membutuhkan sumber eksternal untuk memenuhi keinginannya bukanlah Allah, itu adalah Allah yang defisien.

Sekalipun poin satu benar, Allah yang bertindak tidak adil hanya untuk membuat diriNya “senang” atau “rencanaNYA” berhasil bukanlah Allah yang adil dan bukanlah Allah yang kasih.

Saya sama sekali tidak melihat resolusi dari jawaban Sdr, penginjilan yang dilakukan agar orang orang mau menerima Kristus jauh lebih masuk akal dilakukan ketimbang penginjilan dalam dunia dimana “nasib” orang orang di dalamnya telah ditetapkan.

Tuhan Memberkati.

Saya menghargai pula keberatan sdr S-pen dg Point 1 tsb , krn memang kita sebatas berbagi semoga ada manfaatnya.

Point2 .
Dikatakan tdk Adil , bila ada hak org lain yg di langgar, atau 2 org dg status yg sama ttp diperlakukan berbeda.
Bukan untuk kesenangan Allah, ttp lebih pada kelangsungan rencanaNya , krn sdr S-pen menolak alasan penciptaan mk menjadi terhenti kelanjutan dari point ini.

point3.
Kalau org dapat menerima ajaran kristus dg keberadaannya tentu saja , point 3 sdr S-pen benar adanya , ttp malangnya hal itu tdk bisa krn manusia telah mati secara Rohani.
Sehingga penyampaian Injil adalah spt rencana Allah unt mrk yg mendapat Kasih Karuniaq itu, " barang siapa mempunyai telinga (rohani ) hendaklah mendengar “.
Sedikit saya tambahkan unt sedikit lebih jelas dr pernyataan manusia yg telah mati rohani tsb:
dari Kej2:3 " Lalu Allah memberkati hari ke tujuh itu dan menguduskannya…”, pada saat itu manusia masih mulia /blm memberontak/belum mati rohani, mengapa harus kikenalkan kpd mrk hr ke 7 kenapa tdk 6 hr saja.
Krn manusia membutuhkan hr penyelamatan tsb( hr ke 7 gambaran hr penyelamatan ), dan Allah sdh tahu bhw mns akan mati sebelum dia diciptakan.GBY