PENTALEMMA on Unconditional Election

Terima Kasih atas diskusi Sdr yang kondusif dan berjalan santun, :afro:

Mengomentari posting Sdr,

Sdr benar, tetapi bukankah lebih bersifat mengasihi apabila Allah memilih semua orang untuk diselamatkan?
Mengapa ia hanya memilih sebagian?

Perhatikan pernyataan Sdr, bicara mengenai keadilan, jika total depravity benar, maka semua manusia “morally equal” di hadapan Allah, correct?
Kembali, jika demikian, mengapa Allah hanya memilih sebagian saja?
Jika semua rusak mengapa yang diperbaiki hanya sebagian?
Jika semua telah gagal, mengapa hanya sebagian yang diberi kesempatan kedua?

Terima Atas kesediaan Sdr berdiskusi disini,
Tuhan Memberkati.

Kakak SworDPen,
Seandainya misteri yang kakak peranyakan dibiarkan Allah mengendap selamanya di otak kakak, dengan maksud menguji kepercayaan dan kesetiaan kakak terhadap Allah. Apakah sikap kakak ?

Let us ask ourselves :
kepercayaan dalam keserba-jelasan, belum dapat disebut sebagai kepercayaan…
kesetiaan tanpa melalui titik persimpangan untuk berpaling, belum dapat disebut sebagai kesetiaan.
May be that is the reason why God let us walk by faith, not by sight ?

maksud Sdr Shin?

Sekedar memperjelas posisi saya, saya Kristen, Trinitarian, namun saya menolak calivinis.

Adakah yang aneh dengan klaim dan reasoning saya disini?

Enggak koq kak, Shincan enggak hobi menjustice orang berdasarkan posisinya.
Tetapi kadang bisa saja Shincan mempertanyakan posisi dalam rangka lebih mengerti pendapatnya. :ashamed0002:

Menurut kakak SworDPen,
What is justice, what is fairness ?

Nice question,

Apakah karena X adalah keadilan maka Allah melakukannya?(keadilan menjadi rule di atas Allah)
ataukah
Apakah karena Allah yang melakukannya, maka X menjadi sesuatu yang disebut keadilan?(Allah menjadi rule di atas keadilan)
ataukah
Karena keadilan itu adalah natur Allah sendiri?(Keadilan itu adalah “Allah sendiri”)

Ini adalah Euthyphro dilemma, diambil dari percakapan antara Plato dengan Euthyphro

Saya memilih opsi terakhir

Saya sarankan Sdr membaca jawaban Sdr sanctuary disini, sudah sangat jelas.

Tuhan Memberkati

Omong omong, disini saya menyoroti Calvinism dari segi logika, saya rasa pertanyaan Sdr merupakan sesuatu yang OOT, ad hominem dengan mempertanyakan posisi saya, atau masih ada relevansi disini?

Saya berharap Sdr menjelaskan.

itulah pentingnya memahami yg terjadi disorga. tentang roh2 yg memberontak terhadap Tuhan.
manusia diciptakan utk mengkonfirmasi roh2 itu. whether we like it or not., this world it’s all about God, not human.
but be cheers! God love us anyway…

Mengapa Allah hanya memilih sebagian?
1 Kembali pada Rencana Penciptaan tsb, yaitu " Kemuliaan Hanya Untuk Allah Saja " statement ini hanya muncul pada org yg memang layak untuk mati ttp dianugerahi hidup, org tdk akan pernah bisa dlm posisi ini bila dirinya tdk dlm kesadaran bhw keadaannya sangat buruk yaitu mati rohani ( dg keniscayaannya sedang menuju kepada binasa kekal ), mk spt ulasan saya yg lalu dibuatlah ditengah taman itu pohon pengetahuan yg buahnya dilarang unt dimakan, saya ajak sdr S-pen unt membayangkan adakah fungsinya dr pohon ini bila semua selamat?, akankah org mengatakan kemuliaan itu hanya untuk Allah bila every thing is ok since we were borned.
2 Seperti analogi yg saya tulis dulu yaitu tukang keramik, adakah keharusan baginya untuk pakai seluruh tanah liat yang ada? , tdkkah dia bebas unt memakai sejauh yg dibutuhkan saja?.GBY

Dear Adhi Dharma,

saya masih belum menangkap bagaimana pernyataan Sdr dapat memberi solusi pada pentalemma saya,
maafkan saya, ilustrasi Sdr bagaikan argumentasi strawman…

Perhatikan klaim saya berikut ini, dengan mengikuti cara pandang Calvinis, kita memiliki common ground: Total Depravity, semua manusia telah rusak di hadapan Allah (semuanya morally equal before God),

pandangan A: Calvinis
Allah memilih sebagian manusia untuk diselamatkan, dan membiarkan yang lain binasa.

Bukankah, sebutlah ini pandangan B, adalah lebih adil dan lebih kasih bagi Allah untuk menyelamatkan semua?

Jika Sdr ingin membuat resolusi, maka tolong tunjukkan kenapa A lebih adil dan lebih kasih dari B, bukan mengeluarkan suatu pernyataan yang mendistorsi pandangan B.

@Dear Moderator and all visitor,
Thread ini dibuat untuk mengkritisi sisi filosofis dari Unconditional Election, saya tidak menanggapi segala bentuk interpretasi Alkitab disini,

Tuhan Memberkati,

Sdr S-pen , saya disini hanya berbagi Injil, tanpa ada maksud mendistorsi pandangan Sdr S-pen, dimana dlm diskusi ini tdk ada maksud sedikitpun unt spy Sdr S-pen mengamini apa yg saya sampaikan, sesuai dg keselamatan adalah kasih karunia apabila seseorang memaksakan kehendaknya tentu saja bukan lagi Injil kasih karunia, saya mohon maaf bila sdr S-pen terganggu, dan juga saya rasa sejauh yg perlu saya bagikan saya telah coba bagikan jadi sudah tdk ada yg lain, sekalilagi thankyou for your kindness GBY.

Saya rasa definisi ADIL terkait dengan KONTROL DIRI ada mungkin 2 macam:

  1. Misal saya tidak suka dengan wajah seseorang karena membuat mood saya rusak. Maka ketidakberdayaan seseorang karena keadaan mukanya secara PASIF “merugikan saya”. (Walau hanya orang yg begitu rendah saja yg mengalami ini). Berkata kepada suatu keberadaan bahwa keberadaannya merugikan saya, hanya karena dia berada, adalah suatu sikap yg naif. Sebab bisa dikatakan sebaliknya. Saya kira bukan ini yg dimaksud sdr S-Pen.
  2. Seseorang menyetir dalam kelelahan tertidur dan mengakibatkan nyawa hilang. Saya khan manusia tentu bisa tertidur atau lalai jadi ini tidak bisa saya kontrol. Kira2 kasus semacam ini lah yg kita bicarakan.

My Point adalah KEADILAN itu punya sifat “OBYEKTIFITAS yg SEMPURNA” artinya meninggalkan pertimbangan emosional ataupun usaha untuk menjelaskan ALASAN terjadinya pelanggaran. Suatu pelanggaran hanya punya satu konsekuensi yaitu hukuman TITIK, tidak ada urusan dengan kesengajaan / KONTROL DIRI.

Jadi dari Point 1 hanya bulet D. ALLAH itu ADIL yang benar.