'perang salib"

Aliansi Injili Kuatir Libya Akan Menjadi ‘Irak Kedua’

Sementara Moammar Khadafi menyerukan kepada tentara Islam untuk berdiri melawan ‘tentara salib’, Aliansi Injili Inggris mengatakan koalisi internasional harus tetap berkonsentrasi melindungi warga sipil.

Dalam sebuah pernyataan, Aliansi Injili memperingatkan agar konflik bereskalasi ini tidak menjadi ‘Irak kedua’ dengan adanya pasukan darat Libya yang menguasai Libya.

Hal ini mendesak koalisi internasional untuk memfokuskan operasi militer menghancurkan kemampuan Moammar Khadafi memerangi rakyatnya sendiri dan mengembalikan kondisi negara ini ke keadaan normal.

Direktur Jenderal Aliansi Injili, Steve Clifford, mengatakan, “kami mengakui adanya sikap yang jauh berbeda untuk peperangan di antara umat Kristen, tetapi perang akan selalu disesali dan harus dilihat sebagai upaya akhir. Kami juga mengakui bahwa resolusi Dewan Keamanan PBB tahun 1973, dimana Inggris merupakan salah satu penandatangannya, dibuat untuk memberikan sanksi kode ketat aksi militer dan memulihkan perdamaian internasional. Kami minta agar kampanye PBB saat ini tidak melampaui mandat dan keselamatan warga sipil harus dilindungi melalui setiap cara yang memungkinkan.”

Aliansi Injili Inggris juga menyatakan keprihatinannya atas biaya operasi militer ini saat anggaran Kementerian Pertahanan Inggris diturunkan sebanyak delapan persen dan pemotongan yang dilakukan pada pelayanan publik lainnya.

Dalam siaran pidato tiga menit di televisi negara, Khadafi bersumpah akan berjuang sampai akhir melawan koalisi internasional, yang terus melanjutkan kampanye pemboman untuk mengenakan sanksi PBB akan zona larangan terbang di Libya.

Khadafi menggambarkan aksi militer koalisi internasional sebagai “pertempuran tentara salib baru yang diluncurkan oleh negara-negara tentara salib terhadap Islam.”

Khadafi mengatakan, “Hidup Islam di mana-mana. Semua tentara Islam harus mengambil bagian dalam pertempuran, semua orang merdeka harus mengambil bagian dalam pertempuran ini. Kami akan menang pada akhirnya.”

Khadafi menambahkan, “Dalam jangka pendek, kami akan mengalahkan mereka. Dalam jangka panjang, kami akan mengalahkan mereka.”

Intervensi telah terbukti memecah belah, bahkan di antara anggota koalisi sendiri, khususnya AS yang meluluskan tanggung jawab ke Eropa.

Skala serangan tentara koalisi terhadap Libya telah mengancam berkurangnya dukungan Liga Arab untuk intervensi pasukan koalisi, setelah mereka mempertanyakan apakah kampanye pengeboman telah melampaui lingkup resolusi PBB dan membahayakan warga sipil.

Setelah melakukan pembicaraan selama beberapa hari, Inggris, Prancis dan Amerika setuju untuk menyerahkan komando militer zona larangan terbang kepada NATO. Rencana tersebut akan diajukan kepada Dewan Atlantik Utara dan harus disetujui oleh seluruh anggota NATO yang berjumlah 28 negara.
Source : christiantoday