Perbedaan suku masih terjadi

ini crita yg dialami oleh tmn w punya tmn sw x ternyata pihak berwenang msh aja membeda" kan

Dimanakah janji manis NKRI ini memiliki hukum ?
Inilah yang bisa tercermin dari kasus pemerasan, penganiayaan, perusakan oleh sekelompok preman yang salah satunya adalah banpol Polsek Bangko.

Sungguh aneh dan pantas menjadi pertanyaan besar sekali, dimana jajaran kepolisian Polsek Bangko saat korban melapor ke kantor Polsek Bangko ?
Bukannya mendapat respon yang sangat cepat untuk mendatangi TKP dan mengamankan TKP, namun jawaban yang sangat memalukan adalah : Sedang tidak ada petugas yang bisa diterjunkan ke TKP. Lantas berapa sih petugas dalam sebuah kantor Kepolisan Sektor kec. Bangko Rokanhilir Riau ?

Sangat tidak bisa diterima dengan akal sehat, 2 orang korban pengeroyokan bukannya dilindungi oleh petugas Polsek tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Korban ditahan di polsek, dipukul dan diinjak oleh oknum polisi di kantor Polsek yang seharusnya menjadi tempat perlindungan bagi masyarakat yang merasa teraniaya.

Lucu, sangat mengelikan !
Selain melakukan pemalakan, pengancaman, pengeroyokan, para preman juga melakukan perusakan rumah di 3 rumah. Korban perusakan rumah yang melapor ke polsek justru ditanyakan izin keramaian tentang tempat billiardnya yang menjadi salah satu object perusakan. Sebuah izin yg ditunjukkan namun dinyatakan tidak sah lagi padahal pada surat izin tidak dicantumkan masa berlaku ataupun wajib lapor berapa bulan lagi. Kapolsek Bangko yang harusnya membina masyarakat agar lebih mengerti hukum justru melakukan pengancaman akan menyeret sekeluarga korban ke penjara bila dalam 5 menit tidak bisa menunjukkan surat izin keramaian kecuali korban mencabut laporan sendiri.

Lebih menggelikan lagi, korban dari 2 rumah disamping tempat billiard yg juga dirusaki oleh para preman dilarang melapor dan diharuskan mencabut laporan perusakan. Kapolsek macam apa ini ? Panstaskah masih menjadi aparat Hukum ? Perlu gak dikembalikan lagi ke sekolah untuk belajar lagi sebelum menjabat sebagai Kapolsek lagi ?

Adakah rasa adil dan terlindung hukum bila korban penganiayaan lagi-lagi dianiaya oleh para preman yang diizinkan masuk ke dalam sel tahanan polsek. Lantas apakah kantor Polsek Bangko ini masih benar2 kantor Polsek ataukah bangunan tempat penyiksaan yang harus dihindari baik dalam keadaan aman maupun keadaan sedang membutuhkan pelindungan hukum ?

Demo sekelompok kecil preman yang mendatangi Polsek dan kemudian masuk ke dalam sel tahanan polsek dan menganiaya lagi korban pengeroyokan , dan kemudian melanjutkan lagi aksikan merusak rumah keluarga korban pengeroyokan.

Benarkah Kapolsek beserta jajarannya tidak mampu menanggani gerakan massa yang jumlahnya kecil tersebut ?

Mari kita bertanya pada Kapolsek Bangko : Bapak Kalpolsek, Anda mampu tidak menjaga kota Bagansiapiapi ? Bila Anda gak sanggup silahkan mengajukan mutasi saja, dan KAMI SANGAT TIDAK KEBERATAN PAK .
Yang kami butuh adalah Kapolsek yang bisa menegakkan hukum bukan Kapolsek semena-mena seperti Kapolsek yang ada sekarang.

Apakah Kapolsek beserta jajarannya lagi sibuk? lantas apa yang Anda sekalian sibukkan oh bapak-bapak polisi ?
Kasus perusakkan yang dilaporkan sejak tanggal 16 Juli 2009 sampai tgl 5 Agustus 2009 tidak ditangani bahkan para pelaku dengan gayanya sok jagoan tetap berkeliaran dengan bebasnya. Inikah hukum di tanah ROHIL ?

PERS… kemandulan PERS di ROHIL ?
Peristiwa yang walau kecil namun telah membuat keresahan di masyarakat seolah2 dicuekin begitu saja. Oh PERS…. Apakah anda sudah mendapat setoran untuk tutup mulut ?
Tiap hari berita Anda selalu mulus dan indah, seolah-olah tidak ada kejadian besar yang meresahkan masyarakat ?

Lebih aneh lagi, kota Bagansiapiapi yang kecil ini yang saat ini ditempati sebagai pusat pemerintahan ROHIL dan sang Bupati yang tinggal di kota ini seolah-olah tidak tahu kejadian ini.
Benarkah Pak Bupati tidak tahu ataukah sedang dikadali oleh para ajudannya ?

Pak Bupati, kami ingin bertanya : Apakah Anda peduli dengan keamanan rakyat Anda yang telah mengusung Anda menjadi Bupati ? Lupakah Anda bahwa oleh rakyatlah maka Anda ada ?

====================================
berikut ini adalah kronologis kejadian yg dibuat oleh pihak keluarga korban

KRONOLOGIS KEJADIAN PENGANIAYAAN DAN PENGRUSAKKAN RUMAH HORIANDA

Pada tanggal 14 Juli 2009 sekitar jam 23.30, Si Kidul datang ketempat billyar kepunyaan Cici Angraini dengan keadaan mabuk sambil mengajungkan pisau dan langsung mengambil bola untuk meminta uang. Kemudian si Heri, memberikan uang sebesar Rp 50.000,-. Setelah mengambil uang, Kidul mau pergi sambil membawa bola billyar. Melihat Kidul membawa bola billyar, Heri meminta supaya Kidul mengembalikan bola bilyar. Kidul marah lalu mencampakkan bola billyar dan uang dan mengeluarkan pisau mengancam akan menusuk Heri. Setelah itu, Kidul meninggalkan tempat billyar sambil mengancam akan datang lagi. Tak lama Kidul pergi, Heri langsung menutup pintu tempat billyar. Setelah 10 menit kemudian, Kidul datang lagi. Karena tempat billyar sudah tutup, Kidul berusaha mencongkel pintu. Kebetulan Horianda dan Johan lewat depan tempat billyar dan di lihat ada orang sedang mencongkel pintu. Horianda dan Johan menghampiri Kidul dan menanyakan kenapa Kidul mencongkel pintu. Si Kidul tak terima dan marah kemudian memesan Horianda “kalau berani tunggu disini”. Tak lama kemudian si Kidul datang membawa kawan-kawannya sekitar 4 orang dan langsung memukul Horianda dan Johan sambil menusuk dengan pisau kearah Horianda dan Horianda berusaha menangkis, makanya tangan Horianda kena sabitan pisau. Karena tusukan pisau membabi buta, maka untuk pembelaan, Horianda mengambil anak gunting dari tas laptopnya dan membalas tusukan si Kidul. Karena kawan-kawan Kidul makin lama makin banyak, makanya Horianda lari. Dan tak lama kemudian Johan juga mau lari, tapi Polisi sudah sampai di TKP dan langsung jemput Johan ke Polsek. Horianda juga menelepon Polisi untuk menjemput dengan maksud untuk melapor ke Polsek. Sesampai di Polsek, Horianda dan Johan langsung di pukul dan di injak-injak oleh Oknum Polisi. Tak lama kemudian datang kawan-kawan Kidul ke Polsek dan langsung mengkroyok Horianda dan Johan. Dan Polisi juga menyuruh Horianda dan Johan menghadap kedinding dengan tangan diatas untuk di pukul anak Kidul dan kawan-kawannya.

Setelah mengkroyok Horianda dan Johan, Massa kemudian merusak rumah billyar dan kedai kopi serta rumah tetangga billyar kepunyaan Cici, serta menyiram bensin untuk dibakar, karena dilarang oleh tetangga yang pegawai PNS, maka tidak jadi dibakar.

Pada malam kejadian, Horianda dan Johan dipukul Oknum Polisi dan anak Kidul serta kawan-kawannya sampai babak belur. Pada malam itu juga, orang tua Horianda meminta izin Polisi supaya Horianda dibawa kerumah sakit untuk diobati tapi tidak diizinkan oleh Polisi dengan alasan kalau diluar ada terjadi apa-apa terhadap Horianda, maka Polisi tidak bertanggung jawab.

Keluarga Horianda juga berusaha membuat pengaduan penganiayaan oleh anak Kidul dan kawan-kawannya, namun Kapolsek tidak mau menerima.

Pada tanggal 16 Juli 2009, Cici pemilik rumah / tetangga billyar melaporkan pengrusakkan rumah ke Polsek Bangko dengan nomor pelaporan : Nomor STPL/24/VII/2009/SPK. Setelah pelaporan kepolsek dan anggotanya ke tempat kejadian perkara / rumah billyar untuk membawa barang bukti berupa meja billyar ke Polsek. Sesampai di TKP, Kapolsek tanya Cici dimana izin keramaian tempat billyar, dan Cici menunjukkan izin keramaian yang dikeluarkan oleh Kapolsek lama. Tetapi Kapolsek mengatakan izin keramaian itu sudah tidak berlaku lagi (walaupun disurat izin tersebut tidak tertulis kapan habis masa berlakunya). Dan Kapolsek memaksa harus menunjukkan surat izin usaha dari Kapolsek baru. Dan kalau tidak bisa menunjukkan surat keramaian yang baru, maka satu keluarga Cici akan dimasukkan ke Sel tahanan. Kalau tidak mau masuk ke Sel, maka Cici harus mencabut Pengaduan pengrusakkan ke Polsek. Karena desakan Kapolsek akhirnya Cici bersedia mencabut pengaduan perusakan rumah billyar tersebut. Namun pengaduan pengrusakkan rumah tempat tinggal tidak ada hubungan dengan izin keramaian, tidak mau dicabut oleh Cici. Tetapi Kapolsek tidak mau menerima, dan tetap memaksa Cici Angraini supaya mencabut pengaduan pengrusakkan tempat billyar dan tempat tinggal harus dicabut semua. Dan Kapolsek memberikan batas waktu 5 menit.

Karena Polsek tidak mau menerima pengaduan pemerasan oleh Kidul pada malam kejadian (14 Juli 2009), maka Heri (Abang Ipar Cici Angraini) melaporkan pengaduan ke Polres di Ujung Tanjung pada tanggal 17 Juli 2009.

Pada tanggal 27 Juli 2009, orang tua Horianda juga melaporkan penganiayaan oleh Kidul dan kawan-kawannya terhadap diri Horianda ke Polres Ujung Tanjung.

Pada tanggal 5 Agustus 2009, Polres Ujung Tanjung menangkap Kidul di kantor Polsek, karena sudah 2 kali panggilan Polres tidak di gubris oleh Kidul, setelah penangkapan Kidul, orang-orang Kidul pada hari itu langsung membuat demonstrasi di Polsek. Dan pada malam harinya, masa langsung merusak lagi rumah orang tua Horianda.

Perlu kami sampaikan, bawah pengaduan pengrusakkan rumah billyar dan kedai Kopi serta tempat tinggal Cici angraini. Pada tanggal 16 Juli 2009, sampai saat ini pelakunya belum di proses oleh Polsek Bangko.

Kami meminta keadilan Aparat, karena kami sebagai korban penganiayaan dijadikan sebagai tersangka dan dimasukkan ke Sel tahanan, sedangkan pelaku penganiayaan dan pengrusakkan rumah, sampai saat ini masih bebas berkeliaran, dan malah melakukan pengrusakkan kedua kalinya pada tanggal 5 Agustus 2009 sekitar jam 21.00 WIB.

Bagan Siapi-api, 06 Agustus 2009