"perboewat sperti njang diah lakoeken"

Seorang sales baroe melaporkan hasil kerdjanja kepada manager, dan memboeat sang manager tertjengang kerana laporan terseboet menoendjoekkan bahwa ia seorang jang njaris tidak bisa batja toelis.

Ia menoelis, “akoe mendatanghi tjeboewah peroesakhaan njang bloem p’nah belih bharanag kitah, dan saja soeda djoealin satoe djoemlah bharang boewat merekah.”

Namoen sebeloem dipetjat, datang soerat kedoea. Boenjinja, “Akoe soeda pigi ke djarkata dan djoealkan bharang lagih sebezar satoe milijar roepiyah.”

Sang manager kemoedian menjerahkan kedoea soerat terseboet kepada direktoer peroesahaan. Keesokan harinya, ia sangat terkedjoet kerana melihat kedoea soerat itoe ditempel di papan pengoengoeman dengan memo dari direktoer dibawahnja:
“Kitah tela menghabisken keterlaloewan banjaknya waktoeh 'toek mengedja toelizan dibandhingken mendjoewal bharang. Saja maoenja smoea olang membatjah shoerat daripada sales nih, njang tlah bekerdja de’gan sanghat bae, en segerarah perboewat sperti njang tlah diah lakoeken!”

Kadang kadang kita hanja terpakoe pada penampilan loear, sehingga kehilangan toedjoean oetama. Kita lebih merepotkan diri denan berbagai oepaja oentoek menjampaikan indjil dengan sempoerna dan meloepakan toedjoean jang sesoenggoehnja. Djika ada orang jang mewartakan indjil dengan gagap dan tersendat sendat, tetapi dapat membawa orang kepada Allah, itoe lebih baik daripada tjara penjampaian jang sempoerna, tanpa tjatjat dan formal, tetapi dingin dan tidak membawa orang bertobat.

Setiap kali mendapatkan kesempatan oentoek mewartakan indjil, ingatlah prioritas jang diambil sales terseboet! lalu, pergilah dan

“perboewat sperti njang diah lakoeken”