Perbuatan kasih adalah buah Roh Kudus, sebaliknya perbuatan jahat, bukan.

Pertanyaan :

Apakah dapat disimpulkan, bahwa setiap orang bisa mempunyai Roh Kudus, walaupun mereka itu adalah Atheis, Budha, Islam, Hindu atau penyembah berhala ??

Bagaimana dengan orang-orang kristen, yang katanya mempunyai Roh Kudus, akan tetapi perbuatannya jahat, apa masih mempunyai Roh Kudus atau Roh Kudus nya sudah kabur ??

Ajaran baru nih…orang atheis punya Roh Kudus. lol.

Tahukah anda, apa artinya tanda seru ??

Wadow, si mbah baru ketiban Alzheimer…kecian deh.

Emang di sebelah mana postingan anda yang ada “tanda seru”-nya, mbah?

Omong-omong, di Jakarta banyak optik yang bagus loh, mbah…kalo di tempat tinggal mbah ngga ada yang buka optik.

Oh, anda tahu artinya tanda seru, berarti anda juga tahu, dong artinya TANDA TANYA.

Lha anda orang Katholik ngga ngerti artinya ROH KUDUS ampe bisa nanya begitu? Emang anda dibawah bimbingan romo sapa sih, gebleg amat bisa punya pandangan yg melenceng bahkan dari ajaran Katholik sendiri?

Tolong jangan katakan “anda sudah tahu cuma ingin tahu pendapat rekan-rekan lainnya.” Udah basi, bro. Lagian, baru anda juga yg nanyain “orang atheis punya Roh Kudus?” Biar PKI juga tahu kalo sebaik apa pun orang atheis itu bukan karena ada Roh Kudus di dalam mereka. N kalo PKI aja tahu, apalagi TKI, sungguh ironis kalo anda mengira ada yg ngga tahu kecuali anda sendiri.

Tidak dapat

Saya kira anda sudah tahu jawabannya tentang hal ini…

Ini yang ingin anda tanyakan sebenarnya tetapi malu dianggap tanya pertanyaan usang, jadi ditambah prolog yang tidak perlu dijawab.

Oke kembali kepada pertanyaan anda, anda sendiri menulis “yang katanya mempunyai ROH KUDUS” berarti itu pengakuan pribadi dong. Kalau pengakuan pribadi artinya bisa ya bisa tidak tergantung apa keuntungan yang didapatkan dari pernyataan pribadinya.

Tidak semua orang yang mengaku percaya adalah orang percaya. Tidak semua orang yang mengaku dan percaya Yesus adalah Tuhan akan diselamatkan. Yesus sendiri saja tidak percaya kepada mereka, koq kita ya percaya-percaya saja…

Yohanes 2:23-25
Dan sementara Ia di Yerusalem selama hari raya Paskah, banyak orang percaya dalam nama-Nya, karena mereka telah melihat tanda-tanda yang diadakan-Nya. Tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka, karena Ia mengenal mereka semua, dan karena tidak perlu seorang pun memberi kesaksian kepada-Nya tentang manusia, sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia.

Menduga yang anda maskudkan adalah ROH KUDUS dalam kaitannya dengan bahasa Roh,
Bukan semua orang yang menerima karunia ROH KUDUS artinya rohaninya sudah tinggi melangit diatas yang lainnya. Sebab itu adalah karunia yang diberikan berdasarkan kehendak ROH KUDUS itu sendiri sesuai dengan apa yang dianggap dibutuhkan bagi dia dan jemaat dimana ia tinggal. Karunia ROH KUDUS diberikan bukan ditentukan oleh diri kita seberapa suci diri kita lantas kita layak menerimanya. Raja Saul yang tidak rohani sama sekali pernah kepenuhan ROH KUDUS dalam kisahnya, Eldad dan Medad dua orang yang bukan siapa-siapa juga pernah kepenuhan ROH KUDUS pada jaman Musa, orang suruhan Saul untuk menangkap Daud juga pernah kepenuhan ROH KUDUS dan banyak lainnya lagi (mereka ditulis kepenuhan Roh sebab mereka seperti nabi bernubuat, nubuat adalah salah satu karunia ROH KUDUS, sedangkan nabi adalah jabatan yang diberikan Allah).

Jadi tidak ada kaitannya hidup suci saleh dan mulia dengan menerima karunia ROH KUDUS. Jika kita menyucikan diri maka kita akan dipercaya oleh Allah perkara-perkara dan tanggung jawab yang lebih besar, digambarkaan dipakai seperti perabot yang terbuat dari emas atau perak. Tetapi yang terbuat dari tanah juga dipakai Tuhan.

Semoga mencerahkan.

Saya lebih cenderung kepada HATI NURANI
bahwa HATI NURANI itu anugerah dari Allah sebagai “reserve”. Bahwa sejahat2nya manusia dia mempunyai cadangan moral yang berbicara yaitu: HATI NURANI.
HATI NURANI, inilah yg tersisa dari manusia, walaupun bagai pelita yang mau padam. Dan memang HATI NURANI ini bisa buta/padam kalau tidak pernah di dengerin suaranya.

Dan kadang umat yang percaya, enggan menggunakan HATI NURANI, sehingga terjadi kekerasan2 dan penyimpangan2 di dalam jemaat Tuhan.
Ada juga golongan orang2 yang tidak percaya, tetapi mereka menggunakan HATI NURANI-nya, sehingga dalam hal-hal tertentu kadang malah orang Budha lebih baik daripada orang Kristen. Mereka suka berderma, sedangkan yang Kristen sibuk jual “nama Yesus” buat kekayaan pribadinya (ini sebagai suatu misal saja).

Sebenarnya selalu ada “sentuhan” pada hati itulah HATI NURANI. Ketika kita hati kita tergerak melihat orang jompo miskin dan lemah, pengemis cacat, orang tak bersalah yang dituduh salah, orang hidup yang hendak dihukum mati. HATI NURANI terasa juga termasuk ketika kita memungut sampah yang tercecer dan memasukan ke tempat sampah disebelahnya dalam menjaga kebersihan planet ini.

HATI NURANIi manusia tak pernah mati, kecuali manusia berubah menjadi mati, atau berubah menjadi arca batu tanpa spirit. Sejahat apapun dia, HATI NURANI mengetuknya. Mengadilinya. Dan menjadi kriteria untuk mengembalikannya ke “jalan yang benar” bila ia tersesat.

Reff: http://www.sarapanpagi.org/hati-nurani-vt178.html#p362

Terima kasih atas penjelasan yang anda berikan.

Saya mau tanya mengenai kalimat yang dicetak tebal tsb, diatas dan ayat. Yohanes 2 : 23-25.
Kalimat yang dicetak tebal tsb, apakah boleh disimpulkan sbb.:
Kita yang percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, belum tentu mendapatkan keselamatan !!

Lalu apa tolok ukurnya untuk mengetahui bahwa kita pasti akan mendapatkan keselamatan ??

Syalom.

Terima kasih atas uraian dan penjelasan anda yang bagus.
Memang betul setiap orang bisa membuahkan kebaikan karena dari Hati Nuraninya yang berkembang.

Matius 3:8
Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.

Dari buah yang dihasilkan kita mengenali seseorang, bukan dari pernyataannya.

Hidup berdasarkan nurani sangatlah berbahaya. Karena Nurani tidak hanya mendorong dan memperingatkan, melainkan juga meng-condemn bila manusia gagal! Hati nurani akan melakukan penghakiman moral pada manusia bila gagal. Manusia akan berusaha menyingkirkan condemnation ini dengan berbuat baik untuk menutupi kegagalannya. Namun bila condemnation ini terus menerus ada, maka dia akan merasa putus asa dan tidak lagi peduli lagi akan kebaikan. Manifestasinya, si manusia akan jadi semakin jahat.

Maka, perbuatan baik hasil dari nurani manusia dan perbuatan baik hasil dari Roh Kudus adalah berbeda. Meskipun nampak luarnya sama tapi dasar dan motivasinya sangatlah berbeda. Dan mendasarkan perbuatan baik dari nurani adalah seperti berpijak pada pijakan yang rapuh.

Terima kasih friend, atas jawabannya, yang Alkitabiah, singkat dan jelas.

Syalom.