Pergumulan karena seorang Tante

Masalah ini dimulai ketika orangtua saya membeli rumah yang digunakan untuk usaha. Tapi baru berjalan beberapa tahun, tempat usaha dipindahkan karena tidak cocok dengan lingkungan. Rumah itu tidak dijual, melainkan ditinggali oleh Tante dan keluarganya yang kebetulan tidak punya rumah. Selama 10 tahun, rumah itu dipinjamkan tanpa biaya kontrak. Suami Tante (saya memanggilnya Oom) yang menganggur pun akhirnya diberi pekerjaan oleh Papa.

Tahun 2010, perusahaan papa dilanda krisis. Saat itu suasana bisnis memang sedang lesu, banyak customer yang telat bayar sehingga mengganggu cash flow. Bahkan ada satu di antaranya yang gagal bayar karena bangkrut, jumlahnya pun cukup besar. Sebagai catatan, perusahaan keluarga kami bukan perusahaan besar, modalnya terbatas dan itu pun pinjaman bank. Untuk mempertahankan perusahaan, kami memutuskan untuk menjual aset, yaitu rumah yang ditempati Tante. Sayangnya, rumah itu rusak karena tidak terawat, sehingga dijual murah. Uang hasil penjualannya pun langsung habis digunakan tunggakan pembayaran ke supplier.

Mama menyarankan agar Tante mengontrak rumah kecil yang tidak terlalu mahal, sebab anak-anaknya bekerja di luar kota. Masalahnya, Mama juga tidak bisa membantu karena saat itu keuangan keluarga kami memang sedang krisis. Namun entah bagaimana ceritanya, Tante akhirnya membeli rumah secara kredit dan sebagian dengan meminjam uang. Ya sudah, kami sih tidak berhak ikut campur.

Tahun ini, suasana bisnis mulai membaik. Tagihan yang dulu macet kini sudah lancar. Sedikit demi sedikit, orangtua saya bisa mengumpulkan uang lagi.

Beberapa bulan yang lalu, saya dan suami membeli rumah di pusat kota, tidak jauh dari tempat usaha suami - dengan menggunakan KPR bank. Alasan pindah adalah karena di sekitar rumah kami tidak ada sekolah Kristen sehingga kami harus ke kota untuk menyekolahkan anak kami. Memang sih, rumah itu cukup mahal untuk ukuran keluarga kami. Untuk cicilan bisa saya dan suami tangani, tapi DP dan biaya surat-surat cukup memberatkan. Oleh karena itu, orangtua saya dan mertua (dua pihak yang paling setuju kami pindah ke rumah itu) bersedia meminjamkan uang mereka untuk menutupi biaya-biaya tersebut. Saya berjanji, setelah rumah saya yang sekarang terjual, saya akan mengembalikan semuanya kepada orangtua saya dan mertua.

Saat ini, saya sedang dalam proses menjual rumah. Sudah ada penawar serius, harganya sudah cocok, hanya tinggal direalisasikan saja. Namun, tiba-tiba saya mendapat kabar yang sangat mengejutkan: Tante (kemungkinan) melakukan percobaan bunuh diri karena terlilit hutang. Selain hutang dari rumah yang dibelinya, juga hutang-hutang lain yang belum jelas juntrungannya.

Kejadian ini mencuri damai sejahtera dalam keluarga kami, juga saya pribadi. Apa yang harus saya dan keluarga lakukan? Nyawa Tante berhasil diselamatkan, tapi dia belum “nyambung” dan tidak bisa memberikan keterangan apapun tentang masalah yang menimpanya. Mama berusaha bersikap tegar, tapi saya tahu kalau sebenarnya dia stress. Kadangkala saat malam hari saya mengunjungi rumah orangtua, beliau sedang membaca alkitab, kadang sambil menangis.

Yang menjadi persoalan :

  1. Apakah orangtua saya bersalah karena menjual rumah yang selama ini Tante tempati?
  2. Saya berpikir, apabila rumah lama saya terjual, apakah sebaiknya uangnya digunakan untuk menyelesaikan hutang-hutang Tante? Masalahnya saya sudah berjanji akan mengembalikan uang itu pada orangtua dan mertua. Itu adalah uang “jaga-jaga” karena mereka sudah berumur dan punya penyakit. Saya harus bagaimana ya?

Hubungan saya dengan Tante tidak bisa dibilang baik. Kami tidak saling memusuhi, tapi sejak kecil saya merasa kalau beliau orangnya serakah sehingga saya cenderung menghindari. Sebagai contoh, ketika diadakah pesta pernikahan keluarga, saya pernah meminjamkan kalung emas kepada anak Tante, yaitu adik sepupu saya. Tapi kalung emas itu malah diambil oleh Tante saya dan tidak pernah dikembalikan. Konyolnya, saat diselenggarakan ulang tahun pertama anak saya, Tante menggunakan kalung emas itu tanpa perasaan bersalah. Ya sudah, saya relakan saja. Sifat Tante yang seperti itu tidak hanya kepada saya saja, malahan kepada adik-kakaknya yang lain lebih parah.

Walaupun demikian, saya sayang pada anak Tante, yaitu adik-adik sepupu saya. Saya tidak punya adik kandung, jadi sejak kecil saya menganggap adik sepupu saya adalah adik saya sendiri. Urusan Tante yang satu ini tentu saja akan menjadi tanggung jawab anaknya, padahal mereka masih muda dan baru mulai bekerja. Satu-satunya alasan mengapa saya ingin membantu Tante adalah karena saya tidak tahan jika adik sepupu saya menanggung semua kesalahan orangtuanya. Mereka hanyalah anak-anak yang kurang beruntung, dan seseorang harus menolong mereka.

Oh God~

  1. Menurut saya siih tidak salahnya orangtua anda menjual rumahnya karena itu Hak milik, dan menjualnya karena memerlukan sesuatu hal (membutuhkan)
  2. Ada baiknya juga bisa membantu menyelesaikan hutang-hutang tante, kalau memang kita dapat bisa membantunya, ada kalanya kita pun harus tau ada masalah yang harus di selesaikan sendiri dan ada masalah yang harus kita bantu untuk menyelesaikannya, (selama masih hidup di dunia ini masalah pasti ada, tetapi Besama Tuhan YESUS KRISTUS tidak menjadi masalah @Dr. Drs. Yuda D. Mailool) dan ini pun menjadi pelajaran bagi tante untuk lebih mengucap syukur dalam segala hal, dan harus berhati-hati mengambil keputusan dan melangkah.
    tapi janji adalah janji kepada orangtua dan mertua untuk mengembalikannya, selebihnya tinggal keputusan bersama atau masing-masing untuk dapat membantunya kembali…
    Perbanyaklah berdoa jangan jemu-jemu, minta sama Tuhan jalan apa yang terbaik untuk menyelesaikan masalah ini, dan minta agar tante bisa lebih dekat lagi dengan Tuhan. intinya adalah semua harus terima Tuhan YESUS KRISTUS agar Ia tinggal di dalam hidup kita. perubahan pasti ada di dalam hidup kita.
    Walaupun sudah berumur dan punya penyakit jika kita tinggal di dalam KRISTUS YESUS dan KRISTUS YESUS tinggal di dalam kita, kita akan baik-baik saja, God gave us the future…

Kolose 2:6
Kamu telah menerima KRISTUS YESUS, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.

Filipi 4:7
Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam KRISTUS YESUS.

Itu saja dari saya #hehee… mungkin nanti yang lainya bisa membantu untuk melengkapinya :slight_smile:

@Rein

1. Apakah orangtua saya bersalah karena menjual rumah yang selama ini Tante tempati?
or

tidak. itu rumah orang tua Anda, mereka berhak melakukan apapun termasuk menjualnya bila memang dibutuhkan. dalam hal ini, posisi Tante lemah karena beliau adalah pihak yang dibantu.

2. Saya berpikir, apabila rumah lama saya terjual, apakah sebaiknya uangnya digunakan untuk menyelesaikan hutang-hutang Tante? Masalahnya saya sudah berjanji akan mengembalikan uang itu pada orangtua dan mertua. Itu adalah uang "jaga-jaga" karena mereka sudah berumur dan punya penyakit. Saya harus bagaimana ya?

selesaikan dulu kewajiban Anda, baru mulai melakukan “charity” (atau amal…atau membantu pihak yang membutuhkan).
Anda tergolong orang yang sering tidak enakan dan cenderung ingin selalu menolong orang. ini sifat yang bagus,hanya saja kadangkala Anda harus mengutamakan logika (apalagi bila Anda ingin kenyamanan dalam hidup). menunda kewajiban untuk melunasi hutang sendiri adalah celah untuk membuat orang tua dan mertua menjadi kecewa pada kredibilitas Anda sendiri. bila mereka meragukan hal ini, jangan heran bila kelak mereka malas untuk membantu Anda lagi…

selamat menentukan pilihan… :angel:

Saudara berhati mulia, tetaplah memelihara kasih yang anda miliki.

Orang tua anda tidak bersalah menjual rumah untuk menyelamatkan bisnis keluarga. Tidak ada kait mengkait dengan ulah tante anda yang terlilit hutang dan mau bunuh diri. Tiap orang punya keputusannya sendiri-sendiri, jadi jangan anda mau ditipu iblis dengan membuat anda merasa bersalah dalam mengambil keputusan.

Masakah gara-gara makan mangga muda, gigi jadi ngilu lantas orang disebelahnya disalahkan karena tidak memberi jeruk yang dimakannya. Masing-masing orang dalam berbagai situasi dihadapkan kepada pilihannya sendiri, dan Tuhan menguji setiap hati manusia.

Tentang membantu tante anda dengan uang hasil penjualan rumah. Jadilah bijak. Jika rencana awal itu hendak anda berikan kepada mertua dan orang tua kandung anda, tetaplah pada rencana anda. Selanjutnya jika orang tua anda hendak mambantu saudaranya, itu adalah keputusan terpisah. Jadi jangan dicampur aduk dalam mengambil keputusan.

Nasihat saya selidikilah dahulu apa permasalahannya sambil berdoa memohon bimbingan Tuhan sehingga anda dapat mengambil tindakan yang tepat dan baik bagi semua orang, terutama bagi orang tua anda (mama).

Terima kasih atas dukungannya. Hari ini saya bicara dengan Mama mengenai rencana saya tersebut, tapi Mama tidak setuju. Menurut Mama tindakan saya itu tidak mendidik. Mama menyebut Tante bodoh dan tidak mau terlibat dalam urusan Tante lagi. Padahal saya tahu sekali kalau dia sebenarnya stress dan sedih. Papa yang bilang kalau setiap malam Mama susah tidur.

Jangan bilang saya baik, apalagi berhati mulia, justru sebetulnya saya juga yang patut dipersalahkan. Saat rumah tersebut hendak dijual, saya bersikeras pada orangtua untuk segera menjualnya (tidak menunggu Tante mengumpulkan uang buat DP rumah atau kontrakan), sebab saya kesal karena rumah itu tidak dirawat.

Sekarang saya merasa kesal dan bosan… kesal karena Oom bersikap pasif menghadapi kejadian ini, seolah-olah cuma bisa menunggu kebaikan orang lain; juga bosan melihat Mama dan Papa stress karena urusan Tante. Kadang memang susah mengerti orangtua… mereka stress dan lelah, tapi kenapa harus pura-pura cuek dan tegar?

Hadapi dengan hati yang tenang , jangan ada rasa benci seperti ‘gara2 kamu sih’ . TUHAN pasti menjawab , tantemu juga jangan ditinggalkan / diabaikan

nasehatimu mamamu untuk tetap berkepala dingin , nanti kalau kenapa2 dengan tantemu bisa jadi dosa sekeluarga . Jauhilah sikap2 kesal , misal kesal dengan om sodara karena om sodara seperti itu

Tenangkan hati dulu , kalau memendam perasaan kesal iblis akan masuk di sana dan menguasai situasi

Berserah kepada Tuhan Yesus Kristus

Masalah utang memang membawa berbagai persoalan. Saya sendiri punya pengalaman pahit dengan hutang.

Saat itu ketika saya terlilit hutang dan hati saya selalu sedih memikirkan hutang2 itu. Lalu teman saya menganjurkan untuk datang ke gerejanya. dan saya datang. Setiap hari rabu pendetanya selalu membahas tentang hutang.
Gerejanya besar dibangun tanpa hutang, sedikit demi sedikit, setahap demi setahap.

Ditunjukan ayat2 alkitab dimana orang tidak boleh berhutang. Disana banyak kesaksian2 dimana rumah tangga mau hancur karena hutang, Orang punya rumah besar dan hutang lalu menjual rumahnya dan beli rumah semampunya, ada yang jual mobil beli mobil bekas dll.

Lalu saya dengan juga kesaktian pendeta yang punya utang. Ketika mendengar ceramah mengenai utang dia tanya pada penceramah, gimana saya sudah terlanjur punya utang apa yang harus saya lakukan.

Lalu penceramah menjawab, lunasi secepatnya jangan hutang lagi. Dan dengan mujizat Tuhan dia bisa melunasi dalam setahun dan tidak hutang lagi.

Anak pendeta ini bisnis kecil suatu hari butuh uang karena harus bayar material. Dia doa dan sampai pada harinya belum juga terjadi apa2, Kira2 kurang dua jam kantor tutup dan dia juga harus bayar material kurang dua jam, ada orang telpon. Orang itu mestinya tidak perlu bayar hari itu, namun dia bilang mau bayar hari itu kalau mau kekantornya. Dia jemput uang itu lalu langsung kekantor dimana dia harus bayar dan masih ada sisa sedikit.

Saya sendiri setelah mendengar segala kesaksian2 dan pelajaran ini beberapa minggu, juga ambil tindakan yang sama dengan mereka. Saya serahkan bisnis saya pada yang memberi hutang saya dan bilang proterty ini boleh kamu ambil lagi saja, saya tidak mampu bayar. Waktu itu iblis menggoda saya, ada orang mau memberi untung pada saya membeli property itu dan saya tanda tangan, karena utang saya dengan orang ini tidak hitam diatas putih, hanya main mulut saja. Orang ini ada masalah karena dia berjanji memberi uang pada broker waktu dia beli property itu padahal kan broker sudah dapat komisi. Dia tidak tahu masih baru datang dari Taiwan. Ketika dia tahu dia mengatakan ini tidak umum, terjadi pertengkaran dan dia ngotot tidak mau bayar janjinya. Saya tidak terlalu tahu juga dan dia mau menjual dengan saya dengan memberi pinjaman tanpa pakai surat.

Jadi dengan pinjaman tanpa surat ini saya bisa jual seenak saya tanpa harus bayar kembali karena tidak ada surat hutang. Hanya kepercayaan. Ini digunakan iblis untuk membujuk saya menipu uang sobat ini. Untung saya masih pikir panjang dan mencoba mempercayakan nasib saya pada Tuhan Jadi saya tolak dan saya kembalikan pada sobat ini dan terserah sobat ini mau memakai nama orang lain atau gimana itu haknya. Akhirnya saya bekerja kasar beberapa tahun tapi hati saya lebih tenang tidak jadi bos lagi tapi hati malah tenang tidak mikiri utang. Beberapa tahun kemudian Tuhan membuka jalan lagi bagi saya dengan ajaib untuk kembali bisnis kecil sampai sekarang ini, memang pertamanya utang lagi tapi entah kenapa Tuhan memaklumi dan dapat melunasi dengan cepat. Sampai sekarang sudah lebih dari tujuh belas tahun dan utang saya sudah lunas dua belas tahun lalu.

Setelah itu mencoba hidup sederhana kalau tidak mampu beli ya tunggu sampai Tuhan kasih lagi, rupanya lebih tenang, walaupun masalah hidup masih ada tapi paling tidak berkurang, karena hutang itu masalah serius sampai2 banyak orang bunuh diri karena utang.

Memang kelihatan mustahil hidup sejalan dengan FirmanNya, namun ternyata bagiNya tidak ada yang mustahil, Kelihatan sakit beberapa waktu tapi hati lebih damai.