Perihal tentang pengampunan,apakah benar benar sudah mengampuni?

Pengampunan
ada kalanya begitu sulit untuk mengampuni seseorang yang telah sangat menyakiti kita.tapi FT mengatakan harus mengampuni,klo kita mengasihi Tuhan kita juga harus mengampuni.
pertanyaannya:
-saat seseorang mengampuni,dia juga melupakan kesalahan sesamanya yang pernah berbuat salah/menyakiti banget.ketika sudah mengampuni,dan melupakan kesalahan orang itu,terkadang pas waktu ga sadar,dalam waktu lama ketika melihat orang itu lagi ,sepintas/tidak sengaja teringat kembali akan kesalahan kesalahan/perbuatan/perkataan yang menyakiti kita dan membuat kita jadi malu/sakit hati/dll, padahal kita sudah mengampuni dan melupakan semua kesalahan orang yang menyakiti.apakah ini sudah mengampuni/memang normal ada kenangan buruk yg dulu pernah terjadi tapi kita sudah mengampuni tapi masi teringat kembali??
-kita berusaha hidup damai dengan orang yang menyakiti kita itu,apakah ini sudah termasuk benar benar mengampuni/melupakan,tapi sungguh di hati udah mengampuni dan berusaha melupakan kesalahannya?
apakah ingatan sepintas itu masih ada kenangan buruk yg tersimpan di pikiran/hati?(apakah ini baik di mata Tuhan?)
-jelaskan secara detil,soal banyak orang yang bermasalah dalam hal pengampunan.
Tuhan Yesus memberkati.

Bro, dalam hal ini, kita harus menerima kenyataan bahwa kita belum secanggih itu dalam menjalankan perintahNya. Kalau menurut saya pribadi, yang lebih terutama bukanlah “menghilangkan kemarahan, kejengkelan, kebencian, dan segala yang negatif” pada saat kita mengampuni tapi apa yang akan “kita lakukan pada saat semua kenegatifan itu muncul kembali di kemudian hari.”

Kalau kita biarkan, terlebih lagi kalau kita ikuti, segala perasaan negatif itu, kita jelas berbohong dengan pengampunan yang dulu kita berikan.

Tapi kalau kita segera berusaha menghilangkannya, atau meminta pertolongan YHWH untuk menghilangkannya, dan meminta pengampunan YHWH untuk “kekeraskepalaan” kita, saya kira itu yang lebih penting, bro.

Kalau soal “melupakan,” saya lihat dulu masalahnya, bro. Kalau sekadar menyakiti, menyinggung perasaan, saya setuju kita harus sedikitnya berusaha melupakan.

Tapi kalau masalahnya “menipu,” ya nanti dulu, bro. Saya akan berusaha untuk tidak sakit hati, marah, jengkel, dan sebagainya kalau saya katakan saya sudah mengampuninya. Tapi saya “tidak akan mellupakan supaya tidak tertipu yang kedua kalinya.”

berarti disini ada usaha untuk mengampuni dan melupakan kesalahan orang itukan?sbuah usaha yang kita lakukan untuk menyenangkan Tuhan,dan hidup didalamNya.kita berusaha melupakan kejadian masa lalu,tapi seolah2 kejadian itu sepintas melintar dipikiran yang membuat hati atau pikiran jadi panas lagi,tapi berusaha kita ga ingat2 itu,dan bahwa kita sudah mengampuni.

Memang susah. Kadang ada hal terpendam deep inside yang secara psikologis kita ingkari, karena kita berusaha melawan perasaan tersebut. Tetapi makin lama perasaan itu dipendam / ditekan malah tidak selesai tuntas.

Jalan terbaik adalah berserah total kepada Tuhan, right or wrong ke dalam tanganMu kuserahkan hidupku. Jika ada yang terjadi itu adalah kehendakMu dan kuterima dengan lapang dada dan ucapan syukur (ikhlas). Tetapi, sekali lagi, kalau cuma ngomong doang gampang, pelaksanaannya susah. Saya akui susah…

Kalau bagi saya, mengampuni tidak harus melupakan. Tetapi diterima dengan sportifitas bahwa inilah bagian dari hidup. We play games and sometimes we loose. Kita serahkan pada Tuhan dan selesai. Misalnya kita ditipu dalam usaha, masak dilupakan. lalu penipunya datang dan tipu kita kedua kali, ketiga, keempat, dst…
Cukup kita tahu dan berhati-hati agar lain kali tidak terjadi lagi. Tetapi kejadiannya kita terima. Biasanya dendam / kepahitan terjadi karena tidak bisa menerima kenyataan : ‘mengapa aku diperlakukan begini, padahal bla-bla-bla’.

GBU

stuja … :happy0062:

nyok kita curhat apa adanya kepada YHWH… jangan terlalu diatur2 dan terlalu di disain… agar layak bgitu…

sampaikan itu dalam doa… sbab itu: katakan ya bila ya dan katakan tidak bila tidak… jangan diatur2 agar layak…

salam…

Betul, bro. YHWH ngga sekejam itu memvonis kita harus “sekali mengampuni tetap mengampuni” tanpa mentolerir saat kita kembali digoda oleh emosi kita. Yang penting kita “terus berusaha mengampuni” karena, seperti yang diajarkan Yesus, “Ukuran yang kamu pakai akan diukurkan kepadamu.”

Kalau kita “terus berusaha mengampuni sesama” – dalam artian kalau emosi dan segala yang negatif muncul kembali langsung kita tekan dan kita pandang “sebagai kesalahan kita” hingga kita perlu memohon pengampunanNya – YHWH juga akan “terus berusaha melupakan dosa dan kesalahan kita” (tentu saja tanpa ada emosi negatif yang muncul kemudian sebagaimana layaknya kita).

yah ditipu berkali kali,dan diampuni berkali kali,terus orang yang menipu mohon maaf,dan terus berulang supaya usaha dilanjutkan,kan kamu sudah ampuni saya,jadi kamu ga boleh ingat2 lagi…klo kamu ga mau join itu berarti kamu masih ingat akan kesalahan apa yang saya perbuat.
mengampuni dan melupakan itu mudah dikatakan sulit dilakukan,tapi mau tidak mau harus mengampuni dan tetap melupakan,terkadang betul perlu lapang dada dan ucapan syukur(ini juga tidak mudah,untuk mengeluarkan syukur dihati yang hancur) untuk menghadapi situasi yang tidak mengenakan.
apakah banyak orang Kristen jaman sekarang cuma mengampuni di mulut ,tapi gak dari perbuatan/tindakan???

boleh tahu Yahweh yang dimaksudkan itu Tuhan Yesus Kristus atau bukan??
apakah banyak orang Kristen jaman sekarang cuma mengampuni di mulut ,tapi gak dari perbuatan/tindakan???

boleh tahu Yahweh yang dimaksudkan itu Tuhan Yesus Kristus atau bukan??
Tuhan berkata harus mengampuni 7x70x. ini berarti harus mengampuni selalu.
apakah banyak orang Kristen jaman sekarang cuma mengampuni di mulut ,tapi gak dari perbuatan/tindakan???

Buat saya begitu, bro. Saya bilang “buat saya” supaya jangan ada yg protes kalo punya keyakinan yg beda kerna thread anda ini kan bukan ngebahas “Yesus = YHWH” atau tidak. Setuju?

Betul, bro. Cuman dalam hal ini pandangan saya beda dikit ama anda.

“Mengampuni” buat saya adalah “menerima apa yang terjadi sebagai kesialan saya sendiri dan menghapus semua emosi negatif terhadap orang lain – dalam hal ini yang bikin kesalahan sama saya.”

“Mengampuni” TIDAK SELALU SAMA DENGAN “Melupakan.”
Semisal, saya sakit hati kerna sahabat baik saya “merebut” kekasih saya. Dalam hal ini, tentu saja selain “mengampuni” saya juga “harus melupakan” kesalahan sahabat baik saya. Saya harus menerima kenyataan bahwa kekasih saya lebih memilih sahabat baik saya daripada saya, bahwa mereka berdua lebih berbahagia dengan satu sama lain daripada kalau kekasih saya bersikeras mempertahankan saya.

Tapi, kalau semisal saya sakit hati kerna ditipu – misalnya, dalam hal uang – saya “mengampuni sekaligus melupakan” lalu si pelaku mengulangi dan mengulangi lagi perbuatannya (dengan begitu saya tertipu berulang-ulang oleh orang yang sama) apa namanya kelakuan saya ini (ditipu berulang-ulang oleh orang yang sama)?

Maaf, bro, dalam kejadian seperti ini, saya akan mengampuni dia, tapi TIDAK MELUPAKAN PERBUATANNYA. Apakah dengan begitu saya mendendam padanya? TIDAK. Saya bisa menyambutnya seperti seseorang yang saya kenal, tidak ada sakit hati, tidak ada kemarahan, tidak ada emosi negatif apa pun. Saya tidak melupakan perbuatannya agar saya JANGAN TERTIPU OLEH ORANG YANG SAMA KEDUA KALINYA.

Seperti kata pepatah, bro, “Keledai saja tidak akan jatuh ke lubang yang sama untuk yang kedua kalinya.” Kalau anda tertipu oleh orang yang sama kedua kalinya, apakah anda lebih bodoh dari keledai?

koreksi: sbab sya tidak terbiasamenggunakan YHVH ; YEHOVAH (dibaca: 'Adonay) , sebutan bagi Tuhan Allah… yang tak bisa namanya disebut scara sembarangan… jg Tuhan Yesus Kristus… Sbab Allah dan Yesus adalah satu…(mohon anda jangan oot)

saya tidak tau, menurut anda?? sbab anda yang mendirikan thread…

namun lebih baik kita berkata apa adanya: dengan begitu kita bs diajarkan dan di ajari, jangan terlalu diatur2…

sperti sodara kita yang keyahudi2an… (karakter dan sudut pandangnya) namun dimulutnya seoalh menyalahkan yanglain yang solah keyahudian menurutnya…

mengampuni seharusnya, dengan segenap hati… Allah adalah karunia… berikut dengan pengampunan…

sbab selalu saja pengampunan diberikan… demikan juga dengan mengampuni orang lain dan tidak mengingat kesalahannya…

namun mengampuni, agar layak ditipu lagi… itu sebuah kebodohan…

orang yang degil hati… susah diubahkan… okelah kita ampuni kesalahan yang dia perbuat dengan kedegilan hatinya, yang kadang malah merendahkan…

apakah dengan begitu membiarkan diri ditipu lagi?? dengan kedegilan hatinya??

itu salah satu bentuk kebodohan…

perihal kebodohan sungguh tidak disukai Allah…

Ams 16:22
Akal budi adalah sumber kehidupan bagi yang mempunyainya, a tetapi siksaan bagi orang bodoh ialah kebodohannya.

Pkh 10:3
Juga kalau ia berjalan di lorong orang bodoh itu tumpul pikirannya, dan ia berkata kepada setiap orang: “Orang itu bodoh!”

Pkh 4:5
Orang yang bodoh melipat tangannya dan memakan dagingnya sendiri.

Ams 14:8
Mengerti jalannya sendiri adalah hikmat orang cerdik, tetapi orang bebal ditipu oleh kebodohannya.

Ams 15:5
Orang bodoh menolak didikan ayahnya, tetapi siapa mengindahkan teguran adalah bijak.

Ams 29:9
Jika orang bijak beperkara dengan orang bodoh, orang bodoh ini mengamuk dan tertawa, sehingga tak ada ketenangan.

Ams 14:18
Orang yang tak berpengalaman mendapat kebodohan, tetapi orang yang bijak bermahkotakan pengetahuan.

Pkh 10:12
Perkataan mulut orang berhikmat menarik, tetapi bibir orang bodoh menelan orang itu sendiri.

Ams 14:3
Di dalam mulut orang bodoh ada rotan untuk punggungnya, tetapi orang bijak dipelihara oleh bibirnya.

Ams 15:21
Kebodohan adalah kesukaan bagi yang tidak berakal budi, tetapi orang yang pandai berjalan lurus.

Mzm 92:6
Orang bodoh tidak akan mengetahui, dan orang bebal tidak akan mengerti hal itu.

Pkh 7:5
Mendengar hardikan orang berhikmat lebih baik dari pada mendengar nyanyian orang bodoh.

DAN HAL YANG PALING SAYA PERHATIKAN…

Ams 26:5
Jawablah orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan ia menganggap dirinya bijak.