Peringkat Utang USA diturunkan, cikal bakal One Currency semakin dekat!

Hari Sabtu 6 Agustus 2011, Lembaga Pemeringkat Utang Dunia Standard & Poor’s secara mengejutkan menurunkan peringkat utang/bond Amerika dari AAA menjadi AA saja. Hari sebelumnya Lembaga Pemeringkat Utang Dunia yg lain Moody’s kagak berani menurunkan peringkat utang Amerika dengan berbagai macam pertimbangan, padahal sudah jelas sekali indikator2 ekonomi yg suram masih terus membayangi ekonomi USA: seperti tingkat pengangguran nggak pernah turun dari 9%, harga rumah yg terus turun, tingkat konsumsi/ritel yg rendah. Kalau peringkat utang ini masih diturunkan lagi, maka kita akan melihat di hari2 yg akan datang: KEJATUHAN PASAR SAHAM besar2an dan KEJATUHAN US DOLLAR yg drastis. Kejatuhan US Dollar akan berdampak serius terhadap Perekonomian Dunia mengingat lebih dari 90% transaksi ekspor-impor memakai patokan US Dollar.

Waktu berita ini saya tulis :
Bursa Saham HongKong turun 1,93%, Bursa Saham Tokyo turun 2,18%, Bursa Saham Shanghai turun 3,79%, Bursa Saham Seoul Korea turun 3,82%, Bursa Saham Jakarta (masih mendingan) turun “cuma” 1,89%.
Harga Emas mencapai rekor tertingginya dalam sejarah : USD 1.711/troy ounce! Itu identik dengan Rp 465.000 - 470.000,-/gram.

Michael Ferolli, ekonom JP Morgan di New York sebelumnya mengatakan Kongres akan menyetujui ditambahnya bantuan fiskal beberapa bulan ke depan, namun kisruh batas atas utang USA menunjukkan parlemaen AS menentangnya. “Sekarang kelihatannya ekonomi akan terperosok ke jurang resesi awal tahun depan,” ujarnya.
Jika dibandingkan dengan resesi ekonomi global tahun 1937, maka keadaan sekarang bisa lebih parah. Waktu itu bank Sentral AS buru2 mengetatkan kebijakan ekonominya dengan jalan mengurangi belanja negara sampai 10%, sehingga yg terjadi adalah pengangguran dimana2. Langkah yang sama kelihatannya akan ditempuh oleh Ben Bernanke (Gubernur Bank Sentral AS) saat ini, karena Ben Bernanke tidak menemukan solusi yg lebih baik untuk mengatasi masalah Keuangan negeri adidaya itu selama 10 tahun terakhir ini.

CNBC melaporkan, bahwa krisis keuangan yang dihadapi saat ini lebih parah dibandingkan dengan Krisis Keuangan tahun 2008, karena kalau pada 2008 yang terjadi adalah krisis hanya menyangkut Lembaga Keuangan dan Bank (bukan milik Pemerintah USA). Tapi yang terjadi sekarang, menyangkut 3 institusi : Lembaga Keuangan, Bank dan Utang Pemerintah.

Pemerintah China bahkan sudah mendesak Badan2 Dunia yg menangani perdagangan untuk secepatnya memikirkan : SATU MATA UANG GLOBAL BARU pengganti US Dollar.
Apakah ini merupakan awal dari dibentuknya “ONE CURRENCY?” Apakah Illuminati ada dibalik semua ini?
Kita tunggu saja episode selanjutnya…

Apa yang harus terjadi pasti terjadi.

Salam

Ini saya kutipkan dari Kontan Online tgl 9 Agustus 2011:
Setelah “menggunting” peringkat utang AS, Standard & Poor’s kini mengarahkan perhatiannya ke Asia. lembaga pemeringkat Internasional itu memprediksi kawasan Asia bisa terhantam krisis keuangan yang lebih hebat bila dibandingkan dengan krisis 2008.
“Krisis finansial terancam terjadi khususnya di negara2 yg memiliki exposure besar dengan pasar asing (offshore market) atau negara yang masih membenahi anggaran dari efek krisis terakhir yg lalu,” tulis S&P, seperti dikutip Reuters, Senin(8/8).
S&P menilai sejumlah negara di Asia memiliki ketergantungan yg tinggi terhadap ekonomi AS dan Eropa. Di saat kedua kawasan itu terguncang, tentu negara2 Asia yang punya exposure tinggi ikut menanggung imbasnya.
Dalam prediksi S&P, efek yg akan dirasakan negara2 Asia tahun ini lebih berat dan lebih lama dibandingkan krisis yg terjadi tiga tahun silam. Indonesia, menurut S&P merupakan salah satu negara yang rentan terhadap gangguan pasar global. Negara2 Asia Pasifik yang juga terancam adalah Srilanka, pakistan, Fiji, Australia, Selandia Baru dan Korea Selatan.
Sulit bagi Indonesia mengabaikan peringatan S&P ini. “Sumber kelemahan Indonesia terbesar dari sisi eksternal adalah arus modal asing,” kata M. Doddy Arifianto, ekonom Universitas Ma Chung.
Seberapa jauh goncangan ekonomi funia ini mempengaruhi ekonomi Indonesia? Kita tunggu saja…