PERJANJIAN BARU, HUKUM TAURAT DAN HUKUM KASIH

Bro Nikolaus (edited 8 juni 2010 23:45) apakah anda menegakkan hari sabat ? Apakah menurut hari sabat itu adalah bagian dari hukum taurat yang harus dilaksanakan dan bila tidak berarti berdosa melanggar perintah Tuhan ?

Bro Hippo, Anda bertanya kepada saya? Saya adalah pelanggar hukum Taurat (tidak di bawah hukum Taurat) tetapi penurut kasih karunia (di bawah kasih karunia). Jadi jelaskan, saya tidak melaksanakan Sabat Yahudi tapi melaksanakan Sabat rohani, yakni setiap hari dan kebaktian khusus pada hari Minggu.

Salam

My bad my man… so sorry… maksudnya mau bertanya pada bro nikolaus… bukan pada anda… sorry ya…

OK, no problemo, lanjutkan pertanyaan Anda kepada bro Nikolaus, soalnya dia udah jengah ladenin saya gara-gara, dia mengaku dirinya di bawah kasih karunia = pelanggar kasih karunia.

Salam

Syallom…
Terimakasih kawan Hippo…
Sebelum Hukum Taurat ada, ajaran tentang Sabat sudah ada. Pada saat Musa menerima Hukum Taurat, ajaran Sabat dimasukkan dalam 10 Hukum Taurat. Sesudah Yesus mati, “Hukum Allah” adalah istilah yang lebih disukai oleh Paulus untuk menyebut Hukum2 yang masih digunakan umat Kristen mula2, yang sebenarnya telah ada sebelum Hukum Taurat ada. Salah satu diantaranya adalah Sabat. Dalam Ibrani 4, Paulus masih menekankan pemeliharaan hari Sabat, bahkan Yesaya 66:23 menyebut Sabat sebagai hari ibadah di Surga. Soal apakah mereka yg tak memeliharanya adalah berdosa atau tidak, bukan hak saya untuk memvonisnya. Tuhan tak pernah memberi hak kepada tiap orang untuk menyatakan orang lain salah ataupun sesat. Kita berdiskusi disini bukan untuk menghasilkan vonis-vonisan tetapi untuk membuka wawasan kita terhadap apa kata Allah dalam FirmanNya. Tujuan akhir daripada diskusi kita adalah untuk lebih mengenal apa kata Yesus. Orang lain hanya membantu kita. Yang akan menyatakan bahwa pandangan org lain benar atau tidak adalah ayat2 yg kita baca dan diperkuat oleh bisikan Roh dalam diri kita.
GBU.

Ahh… supaya anda juga tidak terjebak dalam menjudge orang lain salah atau sesat maka saya bertanya untuk diri anda sendiri dan gereja dimana anda beribadah…

Apakah menurut gereja anda dan anda adalah sebuah dosa dan merupakan pelanggaran terhadap hukum Allah bila seseorang jemaat di gereja anda tidak melaksanakan sabat ? Ataukah anda dan gereja anda memandang adalah benar dan sesuai hukum Allah apabila ada jemaat di tempat anda yang tidak melaksanakan sabat ?

Terimakasih kawan Hippo.
Saya kira kalau anda sdh baca jawaban sy terakhir…anda tak perlu bertanya spt itu.
Kalau menurut anda bagaimana, apakah Yesus memberikan kita hak untuk memvonis orang lain sebagai telah berbuat dosa atau bahkan memvonis orang sebagai sesat? Kalau memang iya, dimana ayatnya…?

Sebenarnya ada ayatnya tetapi kalau saya postingkan disini diskusinya jadi melebar ke masalah penghakiman…

Tetapi dengan penegasan anda diatas maka sebenarnya tidak ada yang perlu didiskusikan disini, karena baik makan ataupun tidak makan, baik melaksanakan sabat ataupun tidak melaksanakan sabat semuanya baik dan benar dihadapan Tuhan kalau menurut anda dan gereja anda…

Karena anda dan gereja anda tidak pernah mengajarkan bahwa adalah hal yang salah bila seseorang makan makanan haram ataupun tidak melakukan sabat…

Terimakasih kawan Hippo…
Matius 28;19-20 adalah perintah Yesus untuk menjadikan semua orang menjadi murid Yesus dan mengajarkan kepada mereka ajaran2 Yesus. Murid2nya telah diajar, bilamana orang tidak menerima apa yang telah diajarkan supaya tinggalkan saja rumah itu-tanpa kata2 ejekan atau vonis. Nah, sekarang kita berbeda dalam memahami apa ajaran Yesus itu. Forum ini sebenarnya adalah
tempatnya kita diskusi untuk menyamakan persepsi kita. Tapi, kita harus siap menerima kenyataan bahwa persepsi 2 orang atau lebih, ada yang bisa disatukan tapi mungkin lebih banyak tidak bisa dipersatukan. Ini adalah suatu kenyataan. Tapi, tidak boleh kemudian kita langsung memvonis pihak lain adalah salah dan saya adalah benar. Hakim kita adalah Allah sendiri. Serahkan semuanya padaNya.
Namun demikian, tujuan forum ini adalah baik, masing2 pendiskusi juga pasti akan mendapatkan wawasan yang lebih dalam tentang Firman Tuhan, minimal dari berbagai sudut pandang pihak lain. Ini akan memperkaya pemahaman kita, memberi peluang untuk kita berpikir lebih benar lagi tentang FT ini.
Saya, tentu mengajarkan apa yang sesuai dengan pemahaman saya, demikian juga dengan anda.

Saya berada disini bukan mewakili gereja kami. Sebenarnya saya tak mau berkomentar tentang hal ini, tetapi karena anda sudah menyinggung tentang gereja kami maka inilah pendapat saya…: Setahu saya, gereja kami tak pernah menyalahkan gereja lain kalau tak sependapat dengan pemahaman gereja kami. Justru sebaliknya, ada gereja2 yang memvonis gereja kami sebagai “bidat” …saya mempunyai buku “sejarah gereja” tulisan Berkfoff. Gereja2 yang menggunakan buku ini, ikut2an memvonis gereja lain sbg bidat. Gereja kami tidak pernah membalasnya, sebaliknya hanya berusaha membuktikan bahwa kami bukan bidat dengan ayat2 Alkitab. Tetapi justru dengan ayat2 yang ditampilkan gereja kami, malah dianggap gereja kami menyalahkan gereja lain…itulah yang saya lihat.

Kalau saya menampilkan Yesaya 66:15-17, bukan berarti saya menyalahkan orang lain. Tetapi, mungkin anda yang merasa disalahkan karena tampaknya ayat itu bertentangan dengan apa yang anda lakukan saat ini. Inilah namanya FT sebagai pedang bermata dua.
Demikian kawan…GBU.

Anda menunjukkan seolah-olah sedang menjawab pertanyaan saya tetapi sebenarnya anda sedang berusaha keras menghindari pertanyaan saya. Dari atas saya sudah tidak menanyakan pendapat anda ataupun pendapat gereja anda atas orang-orang diluar gereja anda sendiri…

Pertanyaan saya cukup sederhana sebenarnya :

Apakah menurut ajaran gereja anda dan anda adalah sebuah dosa dan merupakan pelanggaran terhadap hukum Allah bila seseorang jemaat di gereja anda tidak melaksanakan sabat ?

Bahkan sebenarnya pertanyaan ini cukup dijawab dengan “Ya, gereja saya dan saya mengajarkan demikian” atau “Tidak, gereja saya dan saya tidak mengajarkan demikian”.

Jadi jawaban anda apa ? YA atau TIDAK…

Ingat lho Firman Tuhan mengajarkan

Matt. 5:37 Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.

Terimakasih kawan Hippo.
Ok. Begini kawan, pada prinsipnya, Tuhan tidak memberi wewenang seseorang boleh menyalahkan orang lain bilamana dia melanggar hukum. Saya kira anda belum memahami maksd saya karena anda membatasi saya untuk melingkupi hal ini dalam satu denominasi(gereja saya). Cara pikir saya berbeda. Saya menganggap semua orang percaya punya hubungan iman yang sama, setara, punya kedudukan yang sama dan setara diahadapan Tuhan. Saya tidak pernah membatasi cakupan orang yang telah diselamatkan hanya di gereja saya. Kita semua adalah satu iman, satu tubuh dalam Yesus Kristus. Saya melihat seorang anggota dalam gereja saya sama dengan saya melihat anda yang tidak satu denominasi dengan saya. Jadi, bila saya tidak menyalahkan anda bila tidak memelihara Sabat, demikian pun terhadap anggota se gereja saya. Itulah yang diajarkan oleh Alkitab, ini juga adalah prinsip yang dipakai gereja saya.
Gereja hanyalah sebuah wadah berkumpulnya orang2 percaya, untuk mendapatkan layanan Firnan Tuhan. Hanya saja pimpinan institusi gereja masing2 mengajarkan FT dengan pemahaman yang berbeda sehingga setiap denominasi akhirnya menjalankan iman dengan cara yang berbeda.
Nah, perbedaan2 pemahaman inilah yang mungkin bisa kita satukan lewat forum ini, tanpa menyatakan anda salah dan saya benar.

GBU.

Kembali lagi anda menghindari pertanyaan saya…

Baiklah saya rubah pertanyaan saya supaya lebih nyaman untuk anda jawab:

Apakah gereja anda dan anda mengajarkan bahwa hukum Taurat Musa tidak pernah dibatalkan sehingga adalah hal yang benar dan sesuai hukum Allah apabila seseorang menghindari makanan haram dan tidak bekerja di hari sabat ?

Muup, menyela sedikit, sambil menunggu tanggapan bro Niko terhadap postingan bro Hippo diatas.

Bro Niko, kalo pernyataan sodara demikian adanya (yang aq quote diatas), berarti sodara tidak akan menyatakan salah/sesat/masuk neraka kepada orang laen yang (masih) maem babi (baca: daging babi). Rite? :smiley:

Terimakasih kawan Hippo…

“Ahh… supaya anda juga tidak terjebak dalam menjudge orang lain salah atau sesat maka saya bertanya untuk diri anda sendiri dan gereja dimana anda beribadah…”

Kalimat di atas adalah berasal dari anda…tapi pertanyaan anda dibuat untuk menjebak…

Saya jadi bingung, apa maksud anda…
Saya kira sudah sangat jelas apa yang saya sudah tulis. Saya hanya menjalankan perintah Yesus dalam Mat. 28:19-20. Mengajar apa yang Yesus ajarkan. Soal orang terima atau tidak…bukan urusan saya. Kalau saya memvonis…namanya saya mengambil urusan yang tidak diberikan kepada saya…gila urusan, gitu…Singkatnya, BENAR atau SALAH…gak ada vonis dari saya. Saya tidak mewakili gereja saya dalam berdiskusi. Gereja bukanlah sumber kebenaran atau keselamatan.

Tentu saja, saya tidak menutup kemungkinan untuk merubah pemahaman saya terhadap FT bila saya mendapatkan hikmat, bahwa pemahaman orang lainlah yang lebih sesuai dengan apa kata FT.

Ini aja komentar saya…anda ga perlu repot2 menjebak saya dengan pertanyaan2 mirip itu. Tetap saja jawaban saya anda sudah tahu akan sama…
GBU.

Untuk kawan Lukas…
Benar sekali…
Tapi, bukan berarti dengan menunjukkan ayat dalam Yesaya 66:15-17, maka saya telah memvonis anda. Saya tak pernah menulis orang makan haram akan masuk neraka…yang menulis itu adalah nabi Yesaya, atas ilham dari Tuhan. Dalam forum diskusi ini, bila saya menunjukkannya pada anda…tujuannya bagi saya hanya untuk menginformasikan pada anda bahwa ada ayat dari Yesus seperti itu…tentu karena kita sedang diskusi, maka saya ingin mendapat respon/tanggapan anda tentang ayat itu. Soal apakah anda menerima atau menolak… pan itu urusan anda dengan si Sumber tulisan itu…bukan urusan saya…kira2 gitu kawan…GBU.

Berarti sekarang gak ada hikmat yah? Lagi nunggu hikmat turun?.. :onion-head33:

Kan bukan urusan situ juga kalau status babi sudah diperbaiki dan dinyatakan halal oleh Tuhan? :onion-head25:

Mengenai pengartian/pentafsiran/penterjemahan tulisan Yesaya, tentunya berpulang kepada masing-masing individu. Bukankah sering terjadi penafsiran ayat X oleh si A,B,C dan D berbeda-beda?

Jangan sampe, dengan alasan ayat X (berlindung dibalik ayat X) sodara menjudge si A,B,C dst masuk neraka. Sedangkan disaat yang sama, bisa saja kebalikannya menimpa sodara.

Itulah sebabnya diriku sependapat dengan postingan sodara terdahulu bahwasanya perbedaan2 pemahaman di forum ini bukan untuk menyatakan anda salah dan saya benar. :smiley:

Tentang kita tidak boleh menghakimi itu Benar, Standard nya hanya kepada FT saja, karena kita di hakimi berdasarkan terang yang kita miliki akan FT yaitu atas perbuatan kita yg di hasilkan dari iman kita

Akan tetapi, menurut:
Efesus 4:5 satu Tuhan, satu iman, satu baptisan

Maka seharusnya, kebenaran itu hanya satu saja, tidak ada beda interpretasi atas ayat-ayat FT, jadi, dalam ajaran FT hanya ada 1 yang benar dan yang lainnya tidak benar karena Roh Kudus adalah Roh yang akan menuntun kepada SELURUH KEBENARAN

Yoh. 16:13 Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.

Adalah tugas kita untuk menyelidiki kebenaran yang sebenarnya dalam Firman Tuhan dan kebenaran itu hanyalah Yesus saja :slight_smile:

Demikian sedikit tanggapan dari saya atas diskusi kita

Salam sejahtera

Brother Santo,

Kalo Babi yg dulu haram sekarang menjadi halal, berarti Tuhan YESUS berubah dong

Kan Tuhan YESUS tidak pernah berubah, dahulu, sekarang, sampai selama-lamanya
Di sekolah minggu selalu juga di nyanyikan lagu tsb

Kecuali kita yg salah menafsirkan Firman Tuhan tsb

Yang salah menafsir siapa yah? ^-^

Tuhan Yesus memang tidak berubah…dahulu sekarang, selama-lamanya, tiada berubah.

Yang berubah adalah Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru.

Yang berubah adalah Israel lahiriah dengan Israel Rohani.

Yang berubah adalah anak2 Abraham lahiriah dengan anak2 Abraham rohani.

Yang berubah adalah sunat lahiriah dengan sunat rohani.

Yang berubah adalah sabat lahiriah dengan sabat rohani.

Yang berubah adalah hukum tertulis secara fisik (lahiriah) dengan hukum tertulis dalam hati (rohani).

Yang berubah adalah najis/haram lahiriah dengan haram/najis rohani.

Masih mau berpegang hal2 yang lahiriah?

Lakukanlah seluruh hukum Taurat tanpa kecuali, termasuk juga sunatkan diri Anda sebagai bukti anak Abraham secara lahiriah.

Salam