PERJANJIAN TERAKHIR

“Telah turun Firman - FirmanKu melalui Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Tetapi mengapa kalian malah mengingkari kedatangan Perjanjian Terakhir? (Al Quranul Kariim)”

Di mana ayatnya dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang menginformasikan mengenai perjanjian terakhir melalui Al Qur’an??? Baiklah, saya akan pelajari dari sudut pandang Anda, tetapi saya menemukan penegasan yang seperti ini:

Surat An Nisa 4:136
[4:136] Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.

Sudahkah anda beriman kepada kitab sebelumnya? Bukankah kitab yang dimaksudkan ayat di atas adalah ini?:

Ali Imran 3:3
[3:3] Dia menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil,

Lalu kenapa Anda ingin mendebat kami, bukannya belajar pada kami, padahal kitab Anda memerintahkan hal yang berikut ini?:

[21:7] Kami tiada mengutus rasul rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.

Jadi, baiknya Anda percaya dengan apa yang kami ajarkan.

Dan lagi kitab Anda mengajarkan hal berikut:

Al Ankabut 29:46
[29:46] Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka1155, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri”.

Sudahkah Anda beriman kepada kitab kami?

Demikian, terima kasih

He…he… jelas krn penjanjian terahkir telah dipalsukan :afro:

dibilang ga boleh pake al al lain di forum ini . .

Sorry bro, ayat-ayat itu sudah diberikan sebelum board ini diresmikan.

maksudnya ke TS bro kasih…

Ok

trimakasih sebelumnya… saya bisa bergabung di forum ini,

terus terang saya bergabung disini bukan untuk saling menjelekan antar ajaran agama,
saya sebagai seorang yang beragama islam, di ajarkan untuk berdiskusi dengan anda dengan cara
yang paling baik, jadi mustahil saya berdiskusi untuk menjelek2an ajaran non-islam,

(Al-Quran 29:46) Dan janganlah kamu berdebat denganAhli Kitab(Yahudi dan Nasrani), melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri”.

perlu diketahui , tidak benar seorang yang beragama islam tidak percaya kepada kitab2 yang diturunkan oleh Tuhan Yang Maha Esa Allah SWT,
kitab - kitab itu di sebutkan didalam kitab suci alQuran :

  1. kitab Taurat yang di turunkan kepada Nabi Mulia Musa AS
  2. kitab Injil yang diturunkan kepada Nabi Mulia Isa AS (Yesus)
  3. kitab Zabur yang diturunkan kepada Nabi Mulia Daud AS
  4. kitab AlQuran yang diturunkan kepada Nabi Mulia Muhammad SAW

bukanlah seorang muslim jika kita tidak percaya kepada keempat kitab diatas, sesuai dengan ayat yang saya kutip dan anda kutip,

kitab perjanjian lama dan perjian baru bukanlah kitab - kitab yang kita disuruh mempercayainya
kitab kitab itu telah mengalami perubahan dari yang semestinya, disana banyak kontradiksi2 dan bertentangan dengan ajaran islam (insya Allah kalau ada kesempatan kita bisa diskusikan ayat2nya,misalanya tentang penciptaan langit bumi
bagaimana bisa malam dan siang (kejadian 1:3-5) tercipta sebelum tercipta matahari (kejadian 1:14-19))

kitab perjanjian lama adalah perubahan dari kitab taurat yang diturunkan kepada Nabi Mulia Musa AS,
ilustrasinya : kitab taurat asli ----> dipahami oleh pendeta2 kristen —> ditulis ulang—> direvisi (RSV = revision standart)–> direvisi → direvisi

ini diisyaratkan di dalam kitab suci alQuran

(Al-Quran 6:91) Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya, di kala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia”. Katakanlah: "Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebahagiannya) dan kamu sembunyikan sebahagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya) ?" Katakanlah: “Allah-lah (yang menurunkannya)”, kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya

kitab perjanjian baru juga sama prosenya, dari kitab injil yang asli —> ditulis ulang oleh pendeta2 kristen–> direvisi2–>dst

tentang perubahan - perubahan kitab itu semua juga diisyaratkan didalam kitab suci alQuran

(AlQuran 2:79) Maka kecelakaan yAng besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.

(AlQuran 3:78) Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui.

jadi secara jelas dan tegas bahwa perintah mempercayai kitab-kitab itu bukanlah kitab2 perjanjian lama dan baru , tapi kitab 2 yang asli yang diturunkan kepada Nabi2 Mulia tersebut

trimakasih

insya Allah (dengan izin Allah SWT) jika kita secara jujur mau mendiskusikan tentang kebenaran, saya yakin anda akan menemukan mana ajaran yang benar :slight_smile:

Silahkan baca dari pakar anda sendiri:

Sebagian besar kaum Muslim meyakini bahwa Alquran dari halaman pertama
hingga terakhir merupakan kata-kata Allah yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad secara verbatim, baik kata-katanya (lafdhan) maupun maknanya
(ma’ nan). Kaum Muslim juga meyakini bahwa Alquran yang mereka lihat dan
baca hari ini adalah persis seperti yang ada pada masa Nabi lebih dari
seribu empat ratus tahun silam.

Keyakinan semacam itu sesungguhnya lebih merupakan formulasi dan
angan-angan teologis (al-khayal al-dini) yang dibuat oleh para ulama sebagai
bagian dari formalisasi doktrin-doktrin Islam. Hakikat dan sejarah
penulisan Alquran sendiri sesungguhnya penuh dengan berbagai nuansa yang
delicate (rumit), dan tidak sunyi dari perdebatan, pertentangan, intrik,
dan rekayasa.

Alquran dalam bentuknya yang kita kenal sekarang sebetulnya adalah
sebuah inovasi yang usianya tak lebih dari 79 tahun. Usia: ini didasarkan
pada upaya pertama kali kitab suci ini dicetak denga percetakan modern
dan menggunakan standar Edisi Mesir pada tahun 1924. Sebelum itu,
Alquran ditulis dalam beragam bentuk tulisan tangan (rasm) dengan teknik
penandaan bacaan (diacritical marks) dan otografi yang bervariasi.

Hadirnya mesin cetak dan teknik penandaan bukan saja membuat Alquran
menjadi lebih mudah dibaca dan dipelajari, tapi juga telah membakukan
beragam versi Alquran yang sebelumnya beredar menjadi satu standar bacaan
resmi seperti yang kita kenal sekarang.

Pencetakan Edisi Mesir itu bukanlah yang pertamakali dalam upaya
standarisasi versi-versi Alquran. Sebelumnya, para khalifah dan penguasa
Muslim juga turun-tangan melakukan hal yang sama, kerap didorong oleh
keinginan untuk menyelesaikan konflik-konflik bacaan yang muncul akibat
beragamanya versi Alquran yang beredar.

Tapi pencetakan tahun 1924 itu adalah ikhtiyar yang luar biasa, karena
upaya ini merupakan yang paling berhasil dalam sejarah kodifikasi dan
pembakuan Alquran sepanjang masa. Terbukti kemudian, Alquran Edisi Mesir
itu merupakan versi Alquran yang paling banyak beredar dan digunakan
oleh kaum Muslim.

Keberhasilan penyebarluasan Alquran Edisi Mesir tak terlepas dari unsur
kekuasaan. Seperti juga pada masa-masa sebelumnya, kodifikasi dan
standarisasi Alquran adalah karya institusi yang didukung oleh --dan menjadi
bagian dari proyek-- penguasa politik. Alasannya sederhana, sebagai
proyek amal (non-profit), publikasi dan penyebaran Alquran tak akan
efektif jika tidak didukung oleh lembaga yang memiliki dana yang besar.

Apa yang telah dilakukan oleh pemerintah Saudi Arabia mencetak ratusan
ribu kopi Alquran sejak tahun 1970-an merupakan bagian dari proyek amal
yang sekaligus juga merupakan upaya penyuksesan standarisasi kitab
suci. Kendati tidak seperti Uthman bin Affan yang secara terang-terangan
memerintahkan membakar seluruh versi (mushaf) Alquran yang bukan miliknya
(kendati tidak benar-benar berhasil), tindakan penguasa Saudi
membanjiri pasar Alquran hanya dengan satu edisi, menutupi dan perlahan-lahan
menyisihkan edisi lain yang diam-diam masih beredar (khususnya di wilayah
Maroko dan sekitarnya).

Agaknya, tak lama lagi, di dunia ini hanya ada satu versi Alquran,
yakni versi yang kita kenal sekarang ini. Dan jika ini benar-benar terwujud
(entah kapan), maka itulah pertama kali kaum Muslim (baru) boleh
mendeklarasikan bahwa mereka memiliki satu Alquran yang utuh dan seragam.

Edisi Mesir adalah salah satu dari ratusan versi bacaan Alquran
(qiraat) yang beredar sepanjang sejarah perkembangan kitab suci ini. Edisi itu
sendiri merupakan satu versi dari tiga versi bacaan yang bertahan
hingga zaman modern. Yakni masing-masing, versi Warsh dari Nafi yang banyak
beredar di Madinah, versi Hafs dari Asim yang banyak beredar di Kufah,
dan versi al-Duri dari Abu Amr yang banyak beredar di Basrah.Edisi
Mesir adalah edisi yang menggunakan versi Hafs dari Asim.

Versi bacaan (qiraat) adalah satu jenis pembacaan Alquran. Versi ini
muncul pada awal-awal sejarah Islam (abad pertama hingga ketiga) akibat
dari beragamnya cara membaca dan memahami mushaf yang beredar pada masa
itu. Mushaf adalah istilah lain dari Alquran, yakni himpunan atau
kumpulan ayat-ayat Allah yang ditulis dan dibukukan.

Sebelum Uthman bin Affan (w. 35 H), khalifah ketiga, memerintahkan satu
standarisasi Alquran yang kemudian dikenal dengan “Mushaf Uthmani,”
pada masa itu telah beredar puluhan --kalau buka ratusan-- mushaf yang
dinisbatkan kepada para sahabat Nabi. Beberapa sahabat Nabi memiliki
mushafnya sendiri-sendiri yang berbeda satu sama lain, baik dalam hal
bacaan, susunan ayat dan surah, maupun jumlah ayat dan surah.

Ibn Mas’ud, seorang sahabat dekat Nabi, misalnya, memiliki mushaf
Alquran yang tidak menyertakan surah al-Fatihah (surah pertama). Bahkan
menurut Ibn Nadiem (w. 380 H), pengarang kitab al-Fihrist, mushaf Ibn
Mas’ud tidak menyertakan surah 113 dan 114. Susunan surahnyapun berbeda
dari Alquran yang ada sekarang. Misalnya, surah keenam bukanlah surah
al-An’am, tapi surahYunus.

Ibn Mas’ud bukanlah seorang diri yang tidak menyertakan al-Fatihah
sebagai bagian dari Alqur’an. Sahabat lain yang menganggap surah “penting”
itu bukan bagian dari Alquran adalah Ali bin Abi Thalib yang juga tidak
memasukkan surah 13, 34, 66, dan 96. Hal ini memancing perdebatan di
kalangan para ulama apakah al-Fatihah merupakan bagian dari Alquran atau
ia hanya merupakan “kata pengantar” saja yang esensinya bukanlah bagian
dari kitab suci.

Salah seorang ulama besar yang menganggap al-Fatihah bukan sebagai
bagian dari Alquran adalah Abu Bakr al-Asamm (w. 313 H). Dia dan ulama
lainnya yang mendukung pandangan ini berargumen bahwa al-Fatihah hanyalah
“ungkapan liturgis” untuk memulai bacaan Alqur’an. Ini merupakan tradisi
popular masyarakat Mediterania pada masa awal-awal Islam.

Sebuah hadis Nabi mendukung fakta ini: “siapa saja yang tidak memulai
sesuatu dengan bacaan alhamdulillah [dalam hadis lain bismillah] maka
pekerjaannya menjadi sia-sia.”

Perbedaan antara mushaf Uthman dengan mushaf-mushaf lainnya bisa
dilihat dari komplain Aisyah, isteri Nabi, yang dikutip oleh Jalaluddin
al-Suyuthi dalam kitabnya, al-Itqan, dalam kata-kata berikut:
“pada masa Nabi, surah al-Ahzab berjumlah 200 ayat. Setelah Uthman
melakukan kodifikasi, jumlahnya menjadi seperti sekarang [yakni 73 ayat].”
Pandangan Aisyah juga didukung oleh Ubay bin Ka’b, sahabat Nabi yang
lain, yang didalam mushafnya ada dua surah yang tak dijumpai dalam mushaf
Uthman, yakni surah al-Khal’ dan al-Hafd.

Setelah Uthman melakukan kodifikasi dan standarisasi, ia memerintahkan
agar seluruh mushaf kecuali mushafnya (Mushaf Uthmani) dibakar dan
dimusnahkan.

Sebagian besar mushaf yang ada memang berhasil dimusnahkan, tapi
sebagian lainnya selamat. Salah satunya, seperti kerap dirujuk buku-buku
'ulum al-Qur’an, adalah mushaf Hafsah, salah seorang isteri Nabi, yang baru
dimusnahkan pada masa pemerintahan Marwan ibn Hakam (w. 65 H) beberapa
puluh tahun kemudian.

Sebetulnya, kendati mushaf-mushaf para sahabat itu secara fisik dibakar
dan dimusnahkan, keberadaannya tidak bisa dimusnahkan dari memori
mereka atau para pengikut mereka, karena Alquran pada saat itu lebih banyak
dihafal ketimbang dibaca. Inilah yang menjelaskan maraknya versi bacaan
yang beredar pasca-kodifikasi Uthman. Buku-buku tentang varian-varian
bacaan (kitab al-masahif) yang muncul pada awal-awal abad kedua dan
ketiga hijriah, adalah bukti tak terbantahkan dari masih beredarnya
mushaf-mushaf klasik itu.

Dari karya mereka inilah, mushaf-mushaf sahabat yang sudah dimusnahkan
hidup kembali dalam bentuk fisik (teks tertulis).

Sejarah penulisan Alqur’an mencatat nama-nama Ibn Amir (w. 118 H),
al-Kisai (w. 189 H), al-Baghdadi (w. 207 H); Ibn Hisyam (w. 229 H), Abi
Hatim (w. 248 H), al-Asfahani (w. 253 H) dan Ibn Abi Daud (w. 316 H)
sebagai pengarang-pengarang yang menghidupkan mushaf-mushaf klasik dalam
karya masahif mereka (umumnya diberijudul kitab al-masahif atau ikhtilaf
al-masahif). Ibn Abi Daud berhasil mengumpulkan 10
mushaf sahabat Nabi dan 11 mushaf para pengikut (tabi’in) sahabat Nabi.

Munculnya kembali mushaf-mushaf itu juga didorong oleh kenyataan bahwa
mushaf Uthman yang disebarluaskan ke berbagai kota Islam tidak
sepenuhnya lengkap dengan tanda baca, sehingga bagi orang yang tidak pernah
mendengar bunyi sebuah kata dalam Alquran, dia harus merujuk kepada
otoritas yang bisa melafalkannya. Dan tidak sedikit dari pemegang otoritas
itu adalah para pewaris varian bacaan non-Uthmani.

Otoritas bacaan bukanlah satu-satunya sumber yang menyebabkan banyaknya
varian bacaan. Jika otoritas tidak dijumpai, kaum Muslim pada saat itu
umumnya melakukan pilihan sendiri berdasarkan kaedah bahasa dan
kecenderungan pemahamannya terhadap makna sebuah teks. Dari sinilah kemudian
muncul beragam bacaan yang berbeda akibat absennya titik dan harakat
(scripta defectiva). Misalnya bentuk present (mudhari’) dari kata a-l-m
bisa dibaca yu’allimu, tu’allimu, atau nu’allimu atau juga menjadi
na’lamu, ta’ lamu atau bi’ilmi.

Yang lebih musykil adalah perbedaan kosakata akibat pemahaman makna,
dan bukan hanya persoalan absennya titik dan harakat. Misalnya, mushaf
Ibn Mas’ud berulangkali menggunakan kata “arsyidna”
ketimbang “ihdina” (keduanya berarti “tunjuki kami”) yang biasa
didapati dalam mushaf Uthmani. Begitu juga, “man” sebagai ganti “alladhi”
(keduanya berarti “siapa”). Daftar ini bisa diperpanjang dengan kata dan
arti yang berbeda, seperti “al-talaq” menjadi “al-sarah” (Ibn Abbas),
“fas’au” menjadi “famdhu” (Ibn Mas’ud), “linuhyiya” menjadi “linunsyira”
(Talhah), dan sebagainya.

Untuk mengatasi varian-varian bacaan yang semakin liar, pada tahun 322
H, Khalifah Abbasiyah lewat dua orang menterinya Ibn Isa dan Ibn
Muqlah, memerintahkan Ibn Mujahid (w. 324 H) melakukan penertiban. Setelah
membanding-bandingkan semua mushaf yang ada di tangannya, Ibn Mujahid
memilih tujuh varian bacaan dari para qurra ternama, yakni Nafi
(Madinah), Ibn Kathir (Mekah), Ibn Amir (Syam), Abu Amr (Bashrah), Asim, Hamzah,
dan Kisai (ketiganya dari Kufah). Tindakannya ini berdasarkan hadis
Nabi yang mengatakan bahwa “Alquran diturunkan dalam tujuh huruf.”

Tapi, sebagian ulama menolak pilihan Ibn Mujahid dan menganggapnya
telah semena-mena mengesampingkan varian-varian lain yang dianggap lebih
sahih. Nuansa politik dan persaingan antara ulama pada saat itu memang
sangat kental. Ini tercermin seperti dalam kasus Ibn Miqsam dan Ibn
Shanabudh yang pandangan-pandangannya dikesampingkan Ibn Mujahid karena
adanya rivalitas di antara mereka, khususnya antara Ibn Mujahid dan Ibn
Shanabudh.

Bagaimanapun, reaksi ulama tidak banyak punya pengaruh. Sejarah
membuktikan pandangan Ibn Mujahid yang didukung penguasa itulah yang kini
diterima orang banyak (atau dengan sedikit modifikasi menjadi 10 atau 14
varian). Alquran yang ada di tangan kita sekarang adalah salah satu
varian dari apa yang dipilihkan oleh Mujahid lewat tangan kekuasaan.
Yakni varian bacaan Asim lewat Hafs. Sementara itu, varian-varian lain,
tak tentu nasibnya. Jika beruntung, ia dapat dijumpai dalam buku-buku
studi Alquran yang sirkulasi dan pengaruhnya sangat terbatas.


Apa yang bisa dipetik dari perkembangan sejarah Alquran yang saya
paparkan secara singkat di atas? Para ulama, khususnya yang konservatif,
merasa khawatir jika fakta sejarah semacam itu dibiarkan diketahui secara
bebas.

Mereka bahkan berusaha menutup-nutupi dan mengaburkan sejarah, atau
dengan memberikan apologi-apologi yang sebetulnya tidak menyelesaikan
masalah, tapi justru membuat permasalahan baru. Misalnya, dengan
menafsirkan hadis Nabi “Alquran diturunkan dalam tujuh huruf” dengan cara
menafsirkan “huruf” sebagai bahasa, dialek, bacaan, prononsiasi, dan
seterusnya yang ujung-ujungnya tidak menjelaskan apa-apa.

Saya sependapat dengan beberapa sarjana Muslim modern yang mengatakan
bahwa kemungkinan besar hadis itu adalah rekayasa para ulama belakangan
untuk menjelaskan rumitnya varian-varian dalam Alquran yang beredar.
Tapi, alih-alih menjelaskan, ia malah justru mengaburkan.

Mengaburkan karena jumlah huruf (bahasa, dialek, bacaan, prononsiasi),
lebih dari tujuh. Kalau dikatakan bahwa angka tujuh hanyalah simbol
saja untuk menunjukkan “banyak,” ini lebih parah lagi, karena menyangkut
kredibilitas Tuhan dalam menyampaikan ayat-ayatnya.

Apakah kita mau mengatakan bahwa setiap varian bacaan, baik yang
berbeda kosakata dan pengucapan (akibat dari jenis penulisan dan tatabahasa)
merupakan kata-kata Tuhan secara verbatim (apa adanya)? Jika tidak
terkesan rewel dan simplistis, pandangan ini jelas tak bertanggungjawab,
karena ia mengabaikan fakta kaum Muslim pada awal-awal sejarah Islam yang
sangat dinamis.

Lalu, bagaimana dengan keyakinan bahwa Alquran dari surah al-Fatihah
hingga al-Nas adalah kalamullah (kata-kata Allah) yang diturunkan kepada
Nabi baik kata dan maknanya (lafdhan wa ma’nan)? Seperti saya katakan
di atas, keyakinan semacam ini hanyalah formula teologis yang diciptakan
oleh para ulama belakangan. Ia merupakan bagian dari proses panjang
pembentukan ortodoksi Islam.

Saya cenderung meyakini bahwa Alquran pada dasarnya adalah kalamullah
yang diwahyukan kepada Nabi tapi kemudian mengalami berbagai proses
“copy-editing” oleh para sahabat, tabi’in, ahli bacaan, qurra, otografi,
mesin cetak, dan kekuasaan. Proses-proses ini pada dasarnya adalah
manusiawi belaka dan merupakan bagian dari ikhtiyar kaum Muslim untuk
menyikapi khazanah spiritual yang mereka miliki.

Saya kira, varian-varian dan perbedaan bacaan yang sangat marak pada
masa-masa awal Islam lebih tepat dimaknai sebagai upaya kaum Muslim untuk
membebaskan makna dari kungkungan kata, ketimbang mengatribusikannya
secara simplistis kepada Tuhan. Seperti dikatakan seorang filsuf
kontemporer Perancis, teks --dan apalagi teks-teks suciβ

Wowowowow …, copy dulu ah …

Saya punya tulisan serupa seperti yang disampaikan oleh bro penonton di atas, tetapi penjelasannya panjang lebar. So …, apa yang disajikan bro penonton cukup jelas dan mewakili juga apa yang ingin saya ajukan untuk “niceman”.

Salam kenal niceman, silahkan tanggapannya.

Salam

Gue blom baca ulasan yg panjang lebar, minta dong atau di copas di tempat lain aja.

Lewat YM gimana bro?

baca panjang2 gitu males

Bacanya pakai beat 1/8 bro …

[b]LAPOR KOMANDAN : KAIZOU dan NICEMAN sudah BURON.
CASE CLOSED !!! 8)

Tolong gemboknya Ng’ger.[/b] :angry:

al koran perjanjian terakhir ??? ya boleh-boleh aja…tapi yang pasti al koran bukanlah TULISAN yang diilhamkan oleh Allah. Tulisan yang diilhamkan oleh Allah itu pasti berisi JANJI KESELAMATAN dan PEMULIHAN HUBUNGAN yang retak antara manusia=manusia dan penciptaNYA.

Bukan semoga selamat!

cukup memuaskan,
jd lbih paham.

thx.

untuk penonton khususnya,

klaim2 yang anda tulis apakah ada dasarnya?
kalau bisa anda tunjukan dasarnya.

maalah qiraat, sebenarnya ketika alQuran turun disitu banyak suku2 arab, sehingga alQuran bisa dibaca menurut logat suku2 mereka,
setelah menyebar, alQuran di tulis dengan lafal Quraish (sesuai dengan turunnya), nah penulisan itu dilakukan oleh Khalifah Ustman bin Affan,

manuskrip2 yang sekarang ditemukan pun sama persis tidak sedikitpun mengalami perubahan, baik yang diindonesia, di amerika, di iran, di arab … dimana pun?

silahakan anda baca disini :

http://www.islamic-awareness.org/Quran/

berbeda dengan kitab perjanjian lama dan baru (maaf saya tidak sedang menjelek2an kitab anda, tapi hanya menyampaikan fakta :slight_smile: ) itu berupa kumpulan2 kitab, dan seiring berjalannya waktu juga mengalami perubahan2 …
untuk lebih detilnya silahkan baca disini :

http://www.islamic-awareness.org/Bible/

perubahan2 di kitab injil anda bisa lihat disini

http://www.islamic-awareness.org/Bible/Text/Canon/

disini contoh detail penyusunan versi NIV (New International Version) dari Injil

http://www.islamic-awareness.org/Bible/Text/Canon/nivorigins.html

sangat banyak yang lainnya … silahkan anda baca sendiri

alQuran secara jelas dan tegas terjaga, dan dijaga oleh Tuhan Yang Maha Esa tidak beranak dan tidak dipernakan :

(al-Quran 15:9) Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya

alQuran pun memberikan tantangan bagi siapapun yang tidak percaya bahwa itu wahyu terakhir dari Tuhan Yang Maha Esa:

(alQuran 2:23-24)
23. Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar

dan di ayat selanjut nya di tegaskan :

  1. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) - dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.

jika alQuran bukan dari Tuhan , buat anda yang tidak bisa bahasa arab silahkan tunjukan 1 saja kontradiksi didalam AlQuran … cukup 1 saja, itu sudah cukup sebagai bukti bahwa alQuran bukan dari Tuhan Yang Maha Esa,

(AlQuran 4:82) Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya

jadi cukup tunjukan 1 saja pertentangan didalam alQuran, itu sudah cukup membuktikan alQuran bukan dari Tuhan,

insya Allah (dengan izin Tuhan Yang Maha Esa) saya sendiri akan buktikan kesalahan2 pemahaman kritik2 terhadap alQuran. :slight_smile:

(AlQuran 17:88) Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”.

Saya tidak mengklaim apa2, saya hanya mengutip sebuah tulisan dari seorang muslim, yaitu Luthfi Assyaukanie Dosen Sejarah Pemikiran Islam Universitas Paramadina Jakarta. Jika anda menanyakan dasarnya yah anda tanyakan saja sama si penulisnya.

Bisa tunjukkan naskah alQuran yang asli?

BTW, ini ada tulisan salah satu orang kristen yg hidup dimasa awal penaklukan islam, John Damascus (lahir 676, meninggal 754/787) yg diambil dari bukunya The Fountain of Knowledge (sepertinya buku terjemahan inggrisnya tidak ada), dan terjemahan indonya diambil dari forum sebelah, untuk artikel aslinya bisa dilihat di St John of Damascus on Islam – biblicalia

[size=8pt][Tulisan] St. Yohanes Dari Damaskus Mengenai Islam

St. Yohanes Damaskus adalah seorang saksi yang sangat penting atas permulaan [agama] Islam. Dia dilahirkan kepada sebuah keluarga yang berkedudukan di Damaskus (kakeknya merupakan seorang administrator kota ketika para Muslim merebut kota itu) dan dia tumbuh dan bekerja di pengadilan sang kalifah. Dia sangat mengenal Islam (sebuah nama yang pada saat itu belum dipunyai [ie. agama Islam dulu tidak disebut Islam, tidak ada sebutannya]), dan karenanya apa yang dikatakan {St. Yohanes Damaskus) tentang [Islam], dan konteks dimana dia menempatkannya, adalah sesuatu yang sangat penting [dalam bidang] sejarah. [Sebagai misal], [tulisan ini] adalah satu bab tersendiri dalam karyanya di On Heresies [Mengenai Bidaah], bagian dari karyanya yang lebih besar, The Fountain of Knowledge (Mata Air Pengetahuan). Karenanya, selama hidupnya, St. Yohanes [Damaskus] masih tidak memandang Islam sebagai sebuah agama yang terpisah, namun sebagai sebuah bidaah Kristen. In any case, dia menyebut beberapa surat dari Quran menurut nama-namanya, dan dengan sangat menarik, mengacu kepada satu [surat dari Quran] yang tidak ada lagi. St. Yohanes [Damaskus], di karya ini, sebagaimana karakternya, menahan tidak satupun tinjunya (perkataan di USA yang artinya tidak berkasihan).

~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~[note dari Penonton : baris selanjutnya adalah tulisan dari Yohanes dari Damaskus]

Dan ada juga yang muncul sampai sekarang sebuah takhyul yang kuat dan menipu-orang dari para Ishmaelites, yang merupakan calon Antikristus. Dan [takhyul] ini lahir dari Ismael, yang lahir dari Hagar bagi Abraham, karena itu merekadipanggil Hagarenes dan Ishmaelites. Dan mereka memangilnya Saracens, yang berasal dari ??? ??? (mereka yang kosong dari Sarah), karena apa yang dikatakan oleh Hagar kepada malaikat: “sarah telah mengusirku kosong.” Dengan begitu, mereka [ie. Saracens] ini adalah pemuja berhala dan menghormati bintang pagi dan Aphrodite, yang mereka namai Khabar dalam bahasa mereka, yang artinya “agung.” Karenanya, sampai masa Heraclius, mereka hanyalah pemuja berhala. Sejak dari msa itu sampai sekarang datang diantara mereka seorang nabi palsu bernama Mamed, yang, setelah mengerti Perjanjian ama dan Baru, sepertinya, setelah berbincang dengan seorang Rahib Arian, dia [ie. Mamed] menyusunsendiri bidaahnya. Dan atas kesalehan sebagai sebuah pretext, menarik (?) orang-orang, dia melaporkan bahwa sebuah buku dikirimkan kepadanya dari Surga oleh Alah. Karenanya beberapa komposisi yang ditulisnya di sebuah buku, yang layak ditertawakan, yang dia serahkan kepada mereka [ie. Saracens] sebagai obyek untuk dihormati.

Dia [ie. Mamed] berkata bahwa ada satu Alah, Pencipta semua hal, yang tidak dilahirkan atau melahirkan. Dia berkata [bahwa] Kristus adalah Firman Allah dan RohNya, hanya sebuah ciptaan dan hamba, dan bahwa dia [ie. Kristus] dilahirkan tanpa bibit dari Maria saudara dari Musa dan Harun. Dia berkata bahwa Firman Allah dan sang Roh masuk ke dalam Maria dan dia melahirkan Yesus yang adalah seorang nabi dan hamba Allah. Dan bahwa para Yahudi, [yang] bertindak melawan hukum [Taurat], ingin menyalibkan dia [ie. Yesus] dan setelah menangkapnya, mereka menyalibkan bayangannya. Sebab Kristus sendiri, kata mereka, tidak disalib ataupun mati, karena Allah membawa dia kepada diriNya kedalam Surga karena Dia mencintainya

Dan dia mengatakan ini, bahwa ketika Kristus naik ke Surga, Allah menanyainya, berkata, "Oh Yesus, apakah engkau berkata bahwa 'Aku adalah Putra Allah dan Allah?'Dan Yesus, kata mereka, menjawab, “Kasihanilah aku, Oh Tuhan; engkau tahu bahwa aku tidak mengatakan(nya), ataupun aku begitu membanggakan [diri] sebagai hambamu, tapi orang-orang telah berbalik dan menulis bahwa aku mengatakan perkataan ini dan berbohong mengenai aku, dan bertanya-tanya.” Dan Allah, kata mereka, menjawabnya, “Aku tahu bahwa engkau tidak mengatakan perkataan ini.” Dan banyak lagi perkataan-perkataan mengejutkan di tulisan yang sama, layak ditertawakan, [yang] dia [ie. Mamed] sombongkan telah dikirim Allah baginya.

Tapi kita berkata, “Dan siapa saksi bahwa Allah memberi tulisan kepadanya [ie. Mamed], atau nabi-nabi mana yang menubuatkan bahwa nabi seperti itu [ie. Mamed] akan muncul?” Dan mereka kehilangan kata-kata, karena Musa di Gunung Sinai menerima, dihadapan pandangan semua orang, Hukum Allah yang muncul dalam awan dan api dan kegelapan dan badai. Dan bahwa semua nabi-nabi, dari Musa dan seterusnya, menubuatkan kedatangan Kristus, dan bahwa Kristus adalah Allah, dan Putra Allah, sebagai daging, akan datang, dan akan disalib, dan akan mati, dan akan bangkit kembali, dan dia akan menghakimi yang hidup dan mati. Dan kita berkata, “Kenapa nabimu tidak datang dengan cara seperti ini, dengan orang-orang lain bersaksi mengenai dia, ataupun datang kepadamu sebagaimana Allah memberikan Hukum [Taurat] kepada Musa diatas sebuah gunung berasab dengan semua orang menyaksikan, dan seperti yang kau klaim, memberikan buku ini [ie. Quran], sehingga engkau juga bisa memiliki kepastian?” Mereka menjawab bahwa Allah bertindak seturut kehendakNya. Kita juga tahu ini, kita berkata. Tapi, kita bertanya, bagaimana tulisan itu turun kepada nabimu? Dan mereka menjawab bahwa sementara dia [ie. Mamed] tidur, dan tidak merasakan aktivitas apapun, karena dia [ie. Mamed] terpenuhilah perkataan populer (“Kau memutari aku mimpi-mimpi”).

Sekali lagi kami bertanya, “Kenapa, ketika dia memerintahkan kita [ie. umat manusia] di tulisanmu [ie. Quran] untuk tidak melakukan apapun atau menerima apapun tanpa saksi-saksi, tidakkah kamu menanyakan kepadanya ‘Pertama-tama engkau tunjukkan melalui saksi-saksi apakah engkau ini adalah seorang nabi, dan bahwa engkau datang dari Allah, dan Kitab Suci mana yang berkesaksian atas engkau?’” Mereka diam, merasa malu. Kepada mereka kita berkata, “[Sikap diam itu punya] alasan yang baik! Karena tidaklah diijinkan bagimu untuk menikahi seorang wanita tanpa saksi-saksi, ataupun untuk membeli, ataupun untuk memiliki barang-barang kepemilikan (?), ataupun kamu mengijinkan dirimu sendiri untuk memiliki seekor keledai atau seekor binatang tanpa disaksikan saksi. Karena kamu memang mempunyai istri-istri, dan barang-berang kepemilikan, dan keledai-keledai, dan semuanya melalui saksi-saksi, dan engkau hanya memiliki sebuah iman [ie. iman Islam] dan sebuah tulisan [ie. Quran] yang tak disaksikan saksi-saksi… Karena dia yang menyerahkan ini kepadamu tidak memiliki jaminan, ataupun saksi-saksi sebelum dia [berkesaksian atasnya], tapi dia meneriman ini ketika tidur.”

Dan mereka [ie. pengikut Mamed] memanggil kita Associators [catatan DeusVult: ini mungkin maksudnya “musryikin” atau “penyekutu”], karena, kata mereka, kita [ie. umat Kristen] memperkenalkan seorang associate [ie. sekutu] pada Allah dengan mengatakan bahwa Kristus adalah Putra Allah dan Allah. Kepada mereka kita berkata bahwa inilah apa yang disampaikan oleh Nabi-Nabi dan Kitab Suci. Dan kamu, dengan ngotot, menerima Nabi-Nabi tersebut. Karenanya, bila kita salah dalam mengatakan bahwa Kristus adalah Putra Allah, [maka] mereka yang mengajarkan dan menyampaikan pada kita, juga salah. Dan beberapa dari mereka [ie. pengikut Mamed] juga berkata bahwa kita meng-allegori-kan [tulisan] para Nabi, memasukkan [perkataan-perkataan] kepada mereka [ie. para Nabi]. Beberapa berkata bahwa orang Ibrani, membenci (kita [ie. orang Kristen]), [dan karenanya] menipu kita, dengan menulis [sesuatu yang tidak berasal dari Nabi-Nabi, sebagai sesuatu yang] berasal dari Nabi-Nabi, sehingga kita [ie. umat Kristen] menjadi hancur.

Dan sekali lagi kita berkata kepada mereka, “Kamu berkata bahwa Kristus adalah Firman Allah dan Roh. Kalau begitu bagaimana [mungkin] kamu menegur kami sebagai ‘Associators’ [ie. ‘penyekutu’]? Karena Firman dan Roh masing-masing tidak terpisahkan dari Dia [dan] didalamNya mereka [ie. Firman dan Roh] dilahirkan. Karenanya, kalau di dalam Allah adalah FirmanNya, adalah jelas bahwa dia juga adalah Alah. Tapi kalau dia berada diluar Allah, seperti menurut kamu, [berarti] Allah irasional (???) dan tak berkehidupan (???). Karenanya, untuk menghindari asosiasi [ie. penyekutuan] dengan Allah, kamu telah memotongNya. Tapi akan lebih baik bagimu untuk mengatakan bahwa Dia punya sekutu daripada memotongNya, dan mewakilkan Dia seperti sebuah batu, atau kayu, atau benda-benda tak bernyawa lain. Maka, memang, [dengan] menuduh kita [ie. umat Kristen] denmgan keliru, kamu memanggil kami ‘Associators’ [ie. ‘penyekutu’]. Tapi kami memanggilmu ‘pemotong Allah.’”

Mereka juga menuduh kita sebagai penyembah berhala karena menghormati Salib, yang mereka jijiki. Dan kita berkata kepada mereka, “Kenapa, memangnya, kamu menggosokkan dirimu pada sebuah batu di Khabatan-mu, dan suka mencium batu?” Dan beberapa dari mereka berkata bahwa Abraham mempunyai hubungan [suami-istri] dengan Hagar diatasnya, dan yang lain [mengatakan] bahwa dia [ie. Abraham] mengikat unta disekelilingnya ketika [Abraham] hendak mengorbankan Ishak. Dan kami menjawab kepada mereka, “Kitab Suci berkata bahwa ada sebuah gunung seperti sekumpulan pohon, dan kayu-kayu yang dari situ Abraham memotongnya untuk korban bakaran yang nantinya dia letakkan [dengan] Ishak, dan dia meninggalkan keledainya dengan hamba-hamba[nya]. Karenanya, dari sumber mana perkataanmu yang bodoh [itu]? Karena tidak ada kayu hutan yang ada di tempat itu [ie. Khabatan], atau perjalanan dengan keledai-keledai [catatan DeusVult: mungkin maksudnya didaerah Khabatan tidak bisa dijangkau dengan keledai].” Mereka memang malu [atas argumen tersebut]. Namun, mereka berkata bahwa batu itu berasal dari Abraham. Lalu kami [ie. umat Kristen] berkata, “Kalau [batu itu] berasal dari Abraham, seperti yang dengan bodoh kamu katakan, lalu apakah kamu tidak malu, mencium benda ini hanya karena Abraham berhubungan [suami-istri] dengan seorang wanita diatasnya, atau [hanya karena] dia mengikat seekor unta? Tapi kamu menegur kami [ie. umat Kristen] karena kami menunjukkan penghormatan kepada salib Kristus yang melaluinya kekuatan iblis dan tipuan sang Pendakwa [ie. Setan] dihancurkan?” Dan benda ini yang mereka katakan adalah sebuah batu adalah Aphrodite yang mereka hormati, yang juga mereka sebut Khabar, diamana diatasnya bahkan sampai sekarang bayangan sebuah ukiran masih muncul bagi pemerhati yang teliti [catatan DeusVult: mungkin maksudnya tulisan “Aphrodite” atau yang berkenaan dengannya masih ada secara samar di Khabar].

Seperti yang kita telah katakan, Mamed ini menulis banyak perkataan-perkataan bodoh, an dia memberikan masing-masing [tulisan itu] sebuah judul, seperti tulisan “Sang Wanita [ie. Al-Neesa, surat keempat di Quran],” dimana dia dengan gamblang meng-undang-undangkan (bagi laki-laki) untuk mengambil empat istri dan seribu selir jika dia mampu, sebanyak apapun [si laki-laki] ingin miliki, diluar empat istri tersebut. Dan dia [ie. Mamed] men-sah-kan peerceraian yang manapun yang dia [ie. Mamed] inginkan, atau kalau dia [ie. Mamed] ingin, juga mengambil [istri] orang lain, atas alasan [sebagai berikut]: Mamed mempunyai seorang sahabat bernama Zeοd. [Sahabat] ini mempunyai seorang istri yang cantik, yang dicintai Mamed. Karenanya, ketika mereka duduk bersama [ie. Mamed dan Zeοd], Mamed berkata, “Oh, sambil lalu, Allah memerintahkanku untuk mengambil istrimu.” Atau, supaya kita bisa menceritakannya dari awal-awalnya, dia [Mamed] berkata kepadanya [ie. Zeοd], “Allah telah memerintahkan kepadaku, bagi engkau untuk menceraikan istrimu” Dan dia [ie. Zeοd] bercerai. Dan setelah beberapa hari, dia [ie. Mamed] berkata, “Tapi Allah telah memerintahkanku bahwa aku juga mengambilnya [ie. istri Zeοd].” Lalu dia mengambil(nya) dan melakukan perzinahan dengannya (dan) membuat hukum ini: “Dia yang berkehendak boleh menceraikan istrinya, tapi jika setelah perceraian, dia [ie. si suami] ingin kembali kepadanya [ie. si istri], orang lain harus menikahinya [si istri]; karena tidaklah diijinkan untuk mengambil[nya kembali] kalau dia belum dinikahkan dengan orang lain. Dan bahkan jika seorang saudara mencerai [istrinya], biarlah saudaranya menikahi [istri yang dicerai saudaranya tersebut], kalau dia berkehendak.” Dan didalam tulisan yang sama, dia menyampaikan pesan ini: “Garaplah tanah yang telah diberikan Allah kepadamu, dan perindah [tanah itu]” dan [Mamed juga mengatakan untuk] lakukan ini, dan dengan cara ini—supaya aku [ie. penulis, St. Yohanes Damaskus] tidak mengatakan semua hal-hal yang kotor yang dilakukannya.

Kemudian lagi, ada tulisan Unta Allah [Camel of God], yang tentangnya dia [ie. Mamed] berkata bahwa dulu ada seekor Unta dari Allah, dan dia [“she,” betina] meminum satu sungai utuh, dan dia [ie. Unta betina itu] tidak dapat lewat diantara dua gunung yang mana dia tidak cukup [untuk melewatinya]. Karenanya, dia [ie. Mamed] berkata, sekumpulan orang dulu berada dalam posisi seperti itu, dan memang pada suatu hari mereka akan meminum air dan Unta itu berikutnya. Dan sementara meminum air, dia [ie. si Unta betina] memelihara (?) orang-orang itu dengan menyediakan susu, bukannya air. Karenanya orang-orang itu, karena [mereka] fasik, bangkit, kata dia [ie. Mamed], dan membunuh Unta itu. Tapi ada Unta kecil yang merupakan keturunannya [ie. si Unta betina] yang, kata dia [ie. Mamed], ketika induknya dibereskan [ie. dibunuh], berteriak kepada Allah, dan Dia mengambilnya [ie. si Unta kecil]. Kepada mereka [ie. pengikut Mamed] kita berkata, “Darimana Unta [betina] itu?” Dan mereka berkata bahwa Unta [betina] itu berasal dari Allah. Dan kita berkata, “Apakah ada yang lain yang menggauli Unta [betina] ini?” Dan mereka berkata, “Tidak.” Kita berkata, "Karenanya, bagaimana dia [ie. si Unta betina] melahirkan? Karena kami lihat Untamu tanpa bapak, tanpa ibu, tanpa ada garis keturunan. Dan setelah melahirkan, dia [ie. si Unta betina] menderita [perlakuan] jahat. Tapi tidak ada si peng-gaul [ie. yang meng-gauli si Unta betina itu] muncul, dan si Unta kecil diambil keatas [oleh Allah]. Karenanya, kenapa nabimu, kepada siapa Allah berbicara, sesuai perkataanmu, tidak mencari tahu mengenai Unta itu: dimana dia [si Unta kecil yang jenis kelaminnya ternyata betina] merumput, dan apakah ada yang meminum susu (?) dengan memerah dari dia ini? Atau tidakkah dia pada satu waktu, seperti induknya yang menemui orang fasik, dihancurkan? Ataukah dia masuk ke Firdaus, sebagai pendahulu-mu, [dan] dari [susu] dialah, sungaimu [yang] kamu katakan dengan bodoh itu [menjadi berisikan] susu? Karena kamu mengatakan tiga sungai mengalir bagimu di Firdaus: berisi air, anggur dan susu. Kalau Unta pendahulumu berada diluar Firdaus, jelaslah bahwa dia telah kering karena kelaparan dan kehausan, atau karena yang lain menikmati susunya. Dan nabimu menyombongkan dengan bodoh telah berbicara kepada Allah, karena misteri Unta tidak diwahyukan kepadanya. Dan kalau dia [si Unta betina kecil] di Firdaus, dia lagi-lagi meminum air, dan [Firdaus akan] tanpa air, kamu akan mengering di tengah suka cita Firdaus. Tapi kalau kamu menginginkan anggur dari sungai [anggur] yang mengalir, karena tidak ada air yang mengalir, karena si Unta meminum habis semuanya, engkau akan terbakar (?) meminum anggur yang tidak dicampur [catatan DeusVult: adat jaman dahulu adalah mencampur anggur dengan air supaya tidak terlalu keras], dan pingsan (?) dalam kemabukan, dan tertidur. Dan juga, karena kepala menjadi berat setelah tertidur, dan karena menderita pusing kepala karena anggur, engkau akan melupakan kenikmatan Firdaus. Karenanya, kenapa nabimu tidak berpikir mengenai hal-hal ini yang mungkin terjadi di Firdaus-sukacita-mu? [Mengapa nabimu juga tidak] mempertimbangkan mengenai si Unta, dimana sekarang dia hidup. Tapi tidak satupun kamu tanyakan kepadanya [ie. Mamed], sebagaimana sang pencerita-mimpi [ie. si Mamed] menceritakan kepadamu mengenai tiga sungai. Tapi kami mengatakan kepadamu dengan pasti, untamu yang bagus itu telah berlari mendahuluimu kedalam jiwa-jiwa keledai-keledai, dimana kamu akan sesegeranya hidup seperti binatang-binatang. Dan di tempat itu adalah kegelapan luar, dan hukuman tak berkesudahan, api yang berkobar-kobar, cacing-cacing yang tak tidur dan iblis-iblis Tartarus.

Mamed berbicara lagi (di) tulisan Sang Meja [ie. Al-Maedah, surat kelima di Quran]. Dan dia berkata bahwa Kristus meminta pada Allah sebuah meja, dan Dia memberikannya kepadanya. Karena Allah, katanya [ie. Mamed], berkata kepadanya [ie. Kristus] bahwa “Aku telah memberimu dan kepadamu sebuah meja yang tak-terusakkan.” [catatan DeusVult: bandingkan Quran surat 5:114-115]

Kemudian lagi, tulisan Sang Sapi [ie. Al-Baqarrah atau disebut juga Al-Tauwbat, surat kedua di Quran], dan beberapa perkataan bodoh lainnya yang layak ditertawai, aku pikir aku harus melewatkannya karena jumlah tulisan-tulisan itu yang banyak. Dia [ie. Mamed] meng-undang-undangkan bahwa mereka [ie. pengikut Mamed] untuk disunat, termasuk para wanita, dan juga memerintahkan untuk tidak mentaati [hari] Sabat, atau dibaptis, dan [tidak] memakan beberapa [makanan] yang dilarang dalam Hukum [Taurat], dan [juga] untuk menghindari (beberapa) [makanan] yang [sebenarnya] diijinkan [Hukum Taurat]. Dan dia secara total melarang minum anggur

Dan sekali lagi saya hanya mengutip artikel/tulisan seseorang yg saya gunakan untuk sekedar memberikan informasi. Dan mohon maaf jika tulisan tersebut (karya John Damascus) agak offence banget terhadap islam. ;D ;D ;D