Perkawinan beda agama di gereja

Ada beberapa gereja yang melangsungkan pemberkatan nikah bagi anggotanya dengan pasangan yang tidak seiman. Alasannya, apabila “keukeuh” melarang anggotanya menikah dengan orang di luar Kristen, seringkali akhirnya orang Kristen malah keluar dan mengikuti agama pasangannya. Daripada begitu, lebih baik gereja memfasilitasi perkawinan mereka dengan catatan pihak non Kristen tidak akan menghalangi pasangannya yang Kristen untuk tetap mengikuti iman Kristen dan beribadah secara Kristen.

Apakah perkawinan seperti ini dibenarkan secara Alkitab?

Ada tertulis:

“Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.” (Matius 10:37)

Apalagi orang yang mengasihi seorang yang bukan sanaknya tidak layak bagi Tuhan…

Bagaimana mungkin perkawinan antara seorang yang tidak layak bagi Tuhan dan pasangannya yang bukan orang Kristen dapat dibenarkan secara Alkitab?

Ada juga tertulis:

“Tetapi kalau orang yang tidak beriman itu mau bercerai, biarlah ia bercerai; dalam hal yang demikian saudara atau saudari tidak terikat.” (1 Korintus 6:15)

Maka jelaslah perkawinan seperti ini tidak dibenarkan secara Alkitab.

Kenyataannya ada gereja yang membenarkan pernikahan demikian.

Quote:
"Di negeri dan masyarakat yang majemuk ini, terutama dalam hal agama, pernikahan beda agama menjadi sesuatu yang tak terhindarkan. Pilihannya memang cuma dua. Menolaknya secara hitam-putih, dengan dalih kemurnian ajaran, yang akan dapat berarti “mencampakkan” seorang saudara yang “memilih untuk tidak memilih”. Atau menerimanya sebagai saudara yang hendak melakukan sesuatu yang adalah hak asasinya, dan berarti bersedia menyediakan kemudahan untuk itu.

Maka mengingat pernikahan (beda agama) berada dalam ranah pastoral, persoalan di sekitarnya mesti diatasi secara pastoral pula. Ketika seorang saudara (saudara seiman kita) hendak menikah dan minta agar pernikahannya diteguhkan serta diberkati, walau dengan seseorang yang tidak seiman, siapakah kita, sebagai gereja, untuk menolak permintaannya? Sebagai alat Tuhan dan damai sejahtera-Nya, permintaan peneguhan dan pemberkatan nikah beda agama mestinya (tetap) dilayani dengan baik."

Bagaimana dengan pernyataan di atas? Benarkah demikian?

P.S: Saya tidak bermaksud memojokkan suatu sinode gereja tertentu. Hanya ingin menelaah dari sisi Firman Tuhan.

ketika sebuah gereja merestui dan memberkati sebuah pernikahan, maka gereja tersebut juga harus siap mempertanggungjawabkan restu yang diberikannya di hadapan Allah. Ketika pernikahan tersebut tidak menjadi berkat bagi orang lain, orang akan bertanya di mana peran gereja? dan pastinya hal ini akan menjadi batu sandungan.

Faktanya pernikahan beda agama sudah jelas berpotensi menimbulkan berbagai konflik dan gereja yang merestuinya juga harus melayani pernikahan yang mungkin penuh konflik tersebut (tanggung jawab dong, elu yang restuin toh. Hehehe).

Masa sekarang ada juga gereja yang membenarkan pernikahan homoseks…

Klo menurut saya pendeta itu yang salah, koq mengapa sebagai pendeta pada gereja lokalan memfasilatasi perkawinan dan mengijinkan pihak non Kristen yang belum bertobat, dalam artian belum benar-benar menerima Kristus tetapi pendta ini menginjinkan berlangsungnya perkawinan mereka.

Yang jelas orang seperti ini dia menjadi kristen bukan karena percaya kepada Kristus tetapi demi mendapatkan gadis itu, itu jelas…Jadi KTP Kristen tetapi hati dan otaknya masih kafir…

Kita pelajari apa kata Melody Green:

“Acap kali utk menikahi seorang gadis Kristen, ada pemuda yang ‘bertobat’, sebab ia sadar harus melakukannya demi gadis itu …Saya tak pernah mempercayai ’ pertobatan’ semacam itu dan saya selalu mengatakan pada gadis-gadis yang konseling dengan saya, agar membiarkan pacar mereka membuktikan terlebih dahulu pertobatan. …Masalahnya ialah, banyak gadis yang tak sabar utk menguji buah-buah si pemuda. Segera stelah melihat ‘sang jodoh’ mengucapkan doa penyesalan, sang gadis mulai menyiapkan pakaian pengantinnya”.

Oleh karena itu menurut saya sebagai pendeta seharusnya mengajarkan seperti apa yang dikatakan Melody Green ini, klo memang pacar gadis ini mau menjadi kristen, biarkan dia menjadi Kristen terlebih dahulu, lihat buah-buahnya baru memutuskan apa anda akan menikahi dengan dia atau tidak…Artinya sipendata ini juga mensuport kedua pasangan ini salah satunya harus benar-benar menjadi Kristen…Artinya bagi kedua pasangan khususnya gadis ini walaupun pasangannya menjadi Kristen, tidak otomatis gadis ini mau menikah dengan dia…

karena calon kristen murtadin itu memang sejak 2 juta tahun yg lalu, sudah di tentukan oleh allah untuk binasa.

simple kan ?

Sejak zaman perjanjian lama, Allah tidak menyukai pernikahan dengan bangsa yang memiliki Allah lain. Memang sih pernikahan itu tetap terjadi dan tetap ada keturunannya. Tapi pernikahan itu bukan pernikahan yang berkenan bagi Allah.

juga ada grj yang membolehkan cerai, dan malah memberkati pernikahan laki laki yg cerai itu dengan wanita lain …

ckckck … parah deh … malah acara nikahnya pakai acara show paduan suara dari grj lagi … woooww … ngeri dueh… padahal itu kan acara perzinahan…

Sepertinya jawaban ini lebih nyambung dengan thread sebelah

Di thread sebelah, kasusnya orang masuk Kristen sekedar supaya bisa kawin, kalau di thread ini pasangan beda agama (Kristen dan non-Kristen) menikah diberkati di gereja, jadi yang non-Kristen tetap ada agamanya tetapi pernikahannya diberkati di gereja.

Tidak dibenarkan Alkitab, bisa dilihat di ayat ini:

II Korintus 6:14 Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?

Sebaiknya jangan dilakukan.
Kalau nekad juga dan akhirnya menikah dan punya anak.
Kasihan anak -anaknya … pasti bingung milih keyakinan papa atau mama nya ? :cheesy: :char12: