PERSEPULUHAN - Taurat, Yudaisme, Adat Yahudi

sumber : http://www.sarapanpagi.org/persepuluhan-vt315.html

PERSEPULUHAN

“Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumahKu dan ujilah Aku, Firman Tuhan semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan” (Maleakhi 3:10).

Beberapa waktu yang lalu, ketika melayani di kota Medan ada berita mengagetkan dimana ada pendeta di suatu gereja yang menuntut 40% dari persepuluhan yang diterima gereja dengan alasan seharusnya ia menerima 110%, karena bani Israel yang tinggal 11 suku mempersembahkan 11X10% menjadi 110%!

http://christianityismore.com/weblog/images/uploads/Money_Church.gif

Praktek persepuluhan seperti contoh di atas yang disalah-gunakan oleh para pendeta tertentu banyak terjadi: ada pendeta yang mengingatkan jemaatnya bahwa mereka tidak akan dilayani bila tidak memberikan persepuluhan; ada yang meminta lihat pembukuan usaha anggota jemaatnya apakah sudah memberikan persepuluhan atau belum; disebuah desa ada pendeta yang ikut mengantar transaksi jual beli sapi anggotanya dan langsung memotong 10% uang penjualan itu; bahkan ada pendeta yang mengumumkan bahwa bila jemaat memberikan persepuluhan maka itu memutihkan cara-cara apapun yang dipakai untuk mendapatkan uang yang dipotong itu (money laundering).

Dari banyak jemaat miskin di desa-desa banyak diterima keluhan: kami harus mengirimkan persembahan persepuluhan ke kantor pusat di Jakarta dan para pengurus pusat menggunakannya untuk membangun gereja mewah dan jalan-jalan ke luar negeri; ada jemaat yang rajin memberi persepuluhan ketika membutuhkan biaya darurat untuk operasi anaknya dan meminta bantuan gereja hanya diberi pinjaman dan harus mengembalikannya; ada gereja yang menekankan persepuluhan namun pembantu yang tinggal di gereja itu tidur di lantai tanpa kasur; bahkan ada jemaat yang memberikan persepuluhan dalam bentuk cincin berlian dan tak lama sesudah itu isteri pendeta memakainya!

http://img229.imageshack.us/img229/2927/service4moneybs9.gif

Banyak lagi cerita-cerita miring soal praktek persepuluhan yang sudah dikomersialkan dan dijadikan alat pemerasan oleh pendeta-pendeta tertentu. Namun, apakah dengan adanya praktek yang keliru lalu kita tidak lagi perlu memberi persepuluhan?

AJARAN PERJANJIAN LAMA

Praktek persembahan persepuluhan sudah kelihatan jejaknya dan dilakukan pada masa Abraham seiring dengan upacara kurban merupakan praktek kuno Ibrani untuk menjalin hubungan dengan Allah melalui [i]persembahan kepada 'Imam'[/i] sebagai pejabat perantara, dan yang kemudian dilembagakan dalam ketentuan Torat yang [i]dikaitkan dengan rumah Tuhan[/i] dan jabatan ke-Imam-an (Kel.29/Bil.18/Ibr.8:1-4) pada masa Musa.

Abraham memberikan persepuluhan kepada imam [i]Melkisedek[/i] (Kej.14:18-19), ini dikarenakan para imam dikhususkan untuk pelayanan agama, dan kemudian diberikan kepada bani Lewi (Bil.18:21;Ibr.7:4-5) karena mereka tidak menerima warisan. Persepuluhan merupakan bagian dari sistem agama Ibrani kuno yang terkait [i]'Kurban dan Persembahan'[/i] dengan maksud untuk [i]menjalin kembali hubungan dengan Tuhan, sebagai persembahan yang berbau harum,  sebagai pengakuan dosa dan salah, dan untuk menyenangkan hati Allah[/i] (Kej.4:3-4;8:20;Kel.29:25, band. Mal.3:3-4,6-12).

Perlu disadari bahwa dalam sistem kurban dan persembahan PL, persepuluhan dikumpulkan oleh imam Lewi dan disimpan dalam ruang perbendaharan di rumah Tuhan (Neh.10:37-38;2Taw.31:11-12), dan tidak hanya diberikan kepada para imam tetapi [i][b]juga dibagikan kepada orang asing, anak yatim dan janda-janda[/b][/i] (Ul.14:28-29), dan [i]untuk pemeliharaan rumah Tuhan[/i].

Sayang sekali bahwa upacara kurban dan persembahan yang merupakan ungkapan pertobatan dan kepercayaan itu telah merosot hanya menjadi upacara lahir tanpa diiringi hati yang menyesal, bertobat, adil dan berbelas kasihan, dalam hal ini kurban dan persembahan itu tidak ada artinya di hadapan Allah (Kej.4:5) apalagi kalau pelaku berbuat jahat (Am.4:4).

Kelihatannya sistem kurban dan persembahan telah menjadi upacara lahir tanpa disertai motivasi hati yang benar dan[i] hormat serta mendengarkan firman Tuhan[/i] (1Sam.15:22) atau [i]tidak menjalankan kasih setia[/i] (Hos.6:6) dan [i]keadilan[/i] (Am.5:21-24; band.Mat.23:23). Korban persembahan yang benar bila itu dilakukan dengan [i]pertobatan dan jiwa yang hancur[/i] (Mzm.51:18-19;Mikh.6:6-8).

Dari berita PL kita dapat mengetahui bahwa persepuluhan dikaitkan dengan [i]sistem kurban dan persembahan dan jabatan imam yang melayani Bait Allah[/i] dan tidak hanya diberikan kepada imam melainkan juga kepada orang asing, yatim piatu, dan para janda, dan pemeliharaan rumah Tuhan.

Lalu bagaimana dengan ayat Maleakhi 3:10? Kitab Maleakhi ditujukan pada umat Israel (1:1;3:6) yang telah mencemarkan korban dan para imam menghina Tuhan, itulah sebabnya Tuhan tidak senang dalam menerima persembahan mereka (1:10). Fasal-2 menunjukkan murka Tuhan kepada para imam yang nota bena menerima korban dan persembahan termasuk persepuluhan, sebab sekalipun tugas mereka menjadi perantara firman Tuhan ternyata mereka menyimpang (2:7-8).

Kitab Maleakhi juga menyalahkan umat Israel karena kawin campur dengan bangsa lain, jadi sifatnya ibadat lahir (2:10-16) dan mereka akan dihukum, namun tujuan Tuhan adalah untuk menyucikan umat Israel lahiriah agar mereka menjadi orang-orang yang tidak menyalah gunakan kurban dan persembahan melainkan melayani Tuhan. Kita melihat antara lain penyalahgunaan persepuluhan oleh para imam sehingga para orang upahan, janda dan yatim piatu, dan orang asing menjadi tertindas, padahal maksud persepuluhan antara lain adalah untuk memberi mereka kesejahteraan.

Karena itulah Fasal-3 mengingatkan kembali mereka agar persepuluhan tidak disalahgunakan, karena itu berarti menipu dan mencuri milik Tuhan, melainkan mengumpulkannya dalam rumah perbendaharaan (3:10), dan bila itu terjadi maka berkat Tuhan akan dikucurkan kembali kepada umat pilihan Allah. Kitab Maleakhi adalah puncak pemberontakan Israel dan murka Allah terhadap umat Israel dalam kaitan dengan sistem ibadat lahiriah PL dengan jabatan imam dan kurban & persembahannya, dan Maleakhi mengarahkannya pada penghakiman hari Tuhan kelak (Fasal-4).

AJARAN PERJANJIAN BARU

Bagaimana pengajaran persepuluhan dalam Perjanjian Baru? Apakah YESUS dan para Rasul mengajarkannya? Kelihatannya tidak, persepuluhan tidak diajarkan oleh YESUS dan para Rasul kecuali disinggung dalam beberapa ayat. Kalau begitu mengapa? Dan apakah persepuluhan masih menjadi bagian ibadat PB?

Dalam Perjanjian Baru YESUS dan para Rasul tidak mengajarkannya dan PB tidak lagi berbicara mengenai ‘Israel secara lahir’ melainkan Israel rohani. Demikian juga ibadat lahir dengan ‘kurban dan persembahan’ yang berpusat sekitar ‘Taurat dan Bait Allah’ dan dipimpin oleh ‘para Imam’ telah digantikan dalam PB. Dalam PB ibadat tidak berkisar Taurat dan Bait Allah, sekalipun pada awal pelayanan umat Kristen masih ada yang hadir di bait Allah, ritus kurban dan persembahan sudah digantikan oleh ‘darah YESUS sendiri’ itulah sebabnya dalam PB juga tidak lagi ada jabatan Imam, dengan demikian sistem persepuluhan yang dikaitkan dengan rumah perbendaharaan di Bait Allah juga sudah digantikan dengan ‘Injil kasih’ (ritus basuhan, sunat, dan sabat juga tidak lagi diajarkan dalam PB). Dengan demikian sistem persepuluhan yang dikaitkan dengan rumah perbendaharaan di Bait Allah juga sudah digantikan dengan ‘Injil kasih’.

Umat Kristen perlu menghayati dengan benar arti Injil Anugerah Perjanjian Baru yang berbeda dengan Perjanjian Lama (Yer.31:31-33;Yeh.36:26-27;11:19-20) dimana YESUS KRISTUS dan Roh Tuhan sangat berperan (Gal.3:10-14). Taurat adalah penuntun sampai KRISTUS datang supaya kita dibenarkan bukan karena perbuatan kurban dan persembahan tetapi 'karena iman' (Gal.3:15-29, band.Ibr.8:13;9:9-10;10:9-10):

“Sesungguhnya, akan datang waktunya,” demikianlah Firman Tuhan, “Aku akan mengadakan PERJANJIAN BARU dengan kaum Israel dan dengan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka, pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir. Sebab mereka tidak setia kepada perjanjianKu, dan Aku menolak mereka,” demikian Firman Tuhan. “Aku akan menaruh hukumKu dalam akal budi mereka, maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umatKu. Dan mereka tidak akan mengajar lagi sesama warganya, atau sesama saudaranya dengan mengatakan: Kenallah Tuhan! Sebab Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka” (Ibr.8:8-12).

Jadi Perjanjian Baru telah melakukan pembaharuan dari Ibadat Insani (lahiriah) kepada Ibadat Hati Nurani (batiniah). (Ibr.9:9-10), dan sistem kurban dan persembahan PL telah digantikan oleh persembahan diri KRISTUS, sang Domba Paskah itu (Ibr.10:8-10). YESUS KRISTUS bukan saja menjadi kurban itu sendiri, tetapi ia menjadi ‘Imam Besar Perjanjian Baru’ (Ibr.4:14-5:10;8:1-13;9:11-28) bahkan YESUS menggantikan fungsi keimaman Harun dan orang Lewi (Ibr.7:11-28).

Dalam Perjanjian Baru tidak ada lagi jabatan imam dan konsep rumah Tuhan juga berubah, itu berarti bahwa [b]sistem korban dan persembahan juga telah berubah.[/b] Jadi, persepuluhan yang menjadi bagian dari sistem korban dan persembahan yang dikaitkan dengan jabatan keimaman juga sudah berubah!

Tetapi, bukankah YESUS mengajarkan juga persepuluhan dalam Mat.23:23 & Luk.11:37-54?

YESUS tidak mengajarkan persepuluhan. Dalam Mat.23:23;Luk.11:37-54, ketika ia menyinggung soal persepuluhan, konteksnya berbica mengenai [i]'percakapannya dengan orang Farisi[/i]' yang menekankan perbuatan lahir torat (seperti persepuluhan) tanpa motivasi keadilan, belas kasihan dan kesetiaan, dan pada saat itu Tuhan YESUS belum melaksanakan tugas penebusannya (jadi ia belum menjadi domba paskah dan Imam Besar PB) dan kata-kata itu [u]ditujukan kepada orang Farisi[/u]. Dalam awal pelayanannya YESUS tidak secara radikal melakukan pembaharuan, ia masih disunat dan melakukan adat basuhan sesuai Torat namun berangsur-angsur ia menggeser hukum Taurat kepada hukum Kasih. 

Dalam [i]Kotbah di Bukit[/i] (Mat.5), YESUS mulai menggeser ibadat lahir Taurat kepada ibadat batin Injil, seperti soal persembahan (ayat-23), zinah (27-32), sumpah (33-37), pembalasan (38-39), peminta & peminjam (40-42), dan menggesernya kepada kesempurnaan hukum Kasih (43-48). Di bagian lain YESUS sudah tidak membenarkan orang farisi yang melakukan persembahan persepuluhan (Luk.18:9-14).

YESUS tidak pernah mengajarkan persepuluhan kepada murid-muridNya,
demikian juga para murid tidak mengajarkannya. Kitab Ibrani justru memberikan gambaran yang jelas bahwa dalam Perjanjian Lama, manusia-manusia yang fana menerima persepuluhan (untuk kehidupan mereka), tetapi YESUS (yang adalah domba Paskah dan Imam Besar) tidak lagi membutuhkannya karena ‘Ia Hidup’ dan lebih tinggi derajatnya dari Abraham (Ibr.7:1-10), karena itu persembahan kepada YESUS adalah persembahan kepada sesama manusia terutama mereka yang terlebih hina daripada kita (Mat.25:31-46).

UMAT Kristen & PERSEPULUHAN

Ritus kurban & persembahan telah dihapuskan oleh YESUS yang menjadi pengantara Perjanjian Baru, namun kurban dan persembahan itu kini berubah menjadi kurban & persembahan yang bersifat batin dalam bentuk keadilan, kesetiaan dan belas kasihan. Kita tidak lagi bermegah akan hal-hal yang bersifat lahiriah (1Kor.5:11-21), persembahan perjanjian baru bukan lagi persembahan secara Torat dan kewajiban persepuluhan, tetapi buah-buah kasih yang keluar dari hati yang telah menerima kasih karunia Allah (Mat.13:23;Efs.2:8-10). 

Persembahan umat Kristen bukan lagi dalam bentuk persepuluhan tetapi merupakan buah kasih yang keluar dari hati yang dibenarkan Allah. Mereka yang telah beriman dan bertobat akan hidup dalam mengasihi sesamanya dengan harta mereka (Kis.2:44-45;4:34-35;Mat.35:31-46;Luk.18:22) dan menyisihkan dengan teratur persembahan sesuai dengan yang diperoleh (1Kor.16:1-2;Gal.6:6) untuk pelayan dan pelayanan firman serta kasih.

Ada yang mengemukakan ayat 'Berilah maka kamu akan diberi' (Luk.6:38) dengan motivasi persepuluhan PL (Mal.3:10), tetapi penafsiran demikian jelas keliru, sebab sekalipun memang Tuhan akan memberi, itu sudah tidak lagi menjadi motivasi untuk memberi (seperti PL) melainkan sebagai karunia Allah dan itu tidak harus merupakan berkat jasmani karena pendertaan juga dapat menjadi karunia Allah (1Ptr.2:19). Dalam ayat sebelumnya dijelaskan bahwa:

“Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu.” (Luk.6:30).

Persembahan Perjanjian Baru bukan agar mendapat (seperti kurban dan persembahan PL, dengan motivasi supaya Tuhan membuka tingkap-tingkap langit) tetapi buah yang keluar dari hati yang telah diperbaharui, dan diberikan bukan dengan paksaan atau kewajiban tetapi dengan kerelaan dan sukacita (2Kor.9:7) dengan tujuan untuk menghindarkan kesenjangan dalam bentuk pelayanan kasih (Kis.4:34-35;2Kor.8:1-15). Pemberian Kristen adalah perwujudan kasih Allah dalam diri kita (Mat.22:37-40;1Yoh.3:17).

Persembahan umat Kristen bukan lagi dalam bentuk persepuluhan tetapi merupakan [i]buah-buah kasih[/i] yang keluar dari hati yang dibenarkan Allah. Mereka yang telah beriman dan bertobat akan hidup dalam mengasihi sesamanya dengan harta mereka (Kis.2:44-45;4:34-35;Mat.35:31-46;Luk.18:22) dan menyisihkan dengan teratur persembahan sesuai dengan yang diperoleh (1Kor.16:1-2;Gal.6:6).

Lalu berapa persembahan Kristen yang tepat? Perjanjian Baru tidak menentukan hal ini, ada yang memberikan setengah dari harta yang dimiliki (Zakheus, Luk.9:8) bahkan ada yang memberikan seluruh nafkahnya (Mar.12:41-44), Yang jelas buah-buah kasih tidak menentukan persentasi tertentu (Kis.2:45;4:36-37), bahkan berbeda dengan sistem PL dimana persepuluhan itu lebih banyak dimanfaatkan oleh para imam tetapi mengabaikan para janda, yatim piatu, orang upahan, dan orang asing seperti yang diceritakan dalam kitab Maleakhi, PB banyak bercerita mengenai pemberian yang sifatnya untuk orang miskin (Luk.18:18-27) dan para rasul mengorbankan diri dan harta mereka sebagai contoh.

Berbeda dengan ibadat PL yang bersifat lahir yang berpusat di Bait Allah dan dilaksanakan oleh perantara para Imam, jadi sifatnya sentripetal (memusat), ibadat PB sifatnya sentrifugal (menjauhi pusat), artinya sebagai buah-buah kasih yang dibagikan kepada sesama manusia. Ini dengan jelas digambarkan oleh rasul Yohanes dalam suratnya, yaitu didasarkan:
(1) kesediaan berkorban seperti KRISTUS yang telah berkorban untuk kita;
(2) kepekaan lingkungan, yaitu peka terhadap kebutuhan rohani dan jasmani sesamanya; dan
(3) kepedulian sosial dengan membagikan harta kita kepada sesama kita (1Yoh.3:16-18).

Persembahan yang benar digambarkan oleh rasul Paulus sebagai berikut:

“Karena itu saudara-saudara, dengan kemurahan Allah aku menasehatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Rom.12:1-2).

Jadi, persembahan Kristen yang benar adalah kesadaran bahwa seluruh tubuh dan harta kita adalah milik Tuhan, maka kita harus menjadikannya sebagai alat menyatakan buah-buah kasih kepada gereja, persekutuan, pelayanan Kristen, dan menolong sesama kita yang berkekurangan, itulah persembahan kita kepada Tuhan.

YESUS berfirman:

“kasihilah Tuhan. Allahmu, dengan seganap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu … Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Mat.22:37-39).

“sesungguhnya segala sesuatu yang
kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini,
kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Mat.25:40).

Akhirnya, kalau begitu bolehkah umat Kristen memberikan persembahan persepuluhan? Tidak ada larangan bagi mereka yang ingin menyisihkan suatu bagian tetentu secara teratur bila itu dilakukan sebagai ungkapan buah kasih dari iman yang bersyukur. Namun, bila umat Kristen yang hidup dalam iman dan anugerah Allah PB masih melakukan persembahan persepuluhan menurut tatacara Yahudi PL sebagai kewajiban torat apalagi kalau disertai dengan motivasi mengharapkan tingkap-tingkap langit terbuka agar mendatangkan berkat kelimpahan baginya, jelas dengan demikian ia melecehkan arti penebusan darah YESUS di kayu salib, seakan-akan penebusan YESUS belum tuntas melainkan harus ditambahi dengan usaha baik manusia, dan menjadikan berkat Tuhan sebagai hasil usaha manusia yang memberi persembahan.

Salam kasih dari Herlianto/YBA
[email protected] & http://www.yabina.org

persepuluhan (2)

“(9) Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, YESUS mengatakan perumpamaan ini: (10) 'Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. (11) Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepadaMu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; (12) aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. (13) Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. (14) Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Luk.18:9 14).

Ayat-ayat di atas merupakan contoh ke-2 dan terakhir yang disebutkan oleh Tuhan YESUS dalam hubungan dengan soal ‘persepuluhan’ selain Mat.23:23 (Luk.11:37-54). Hanya dua kali YESUS menyinggung soal persepuluhan dan keduanya ditujukan pada sikap agama orang Farisi.

Dalam contoh di atas kita melihat betapa syariat agama cenderung menjerat seseorang kepada sikap Farisi yaitu ‘menganggap diri benar’ dan ‘memandang rendah orang lain.’ Orang Farisi itu pada ayat-11 merasakan diri sebagai kelas elit rohani tidak seperti orang lain apalagi seperti pemungut cukai, ia adalah pengikut ayariat agama yang setia, tidak merampok, bukan orang lalim, dan bukan pezinah. Perbuatan-perbuatan yang mengikuti ke-10 Hukum. Lebih dari itu dalam ayat-12 ia menunjukkan beribadat dengan tertib sesuai syariat agama, yaitu berpuasa dan memberikan persepuluhan.

Ibadat yang menekankan perbuatan manusia (seperti puasa dan persepuluhan) lebih dari anugerah Tuhan yang kita terima dengan pertobatan dan iman, memang menjadi ciri penganut agama ritual namun seperti berkali-kali dikritik oleh Tuhan YESUS, ibadat demikian cenderung tidak berisi iman yang benar yang seharusnya menghasilkan kasih, keadilan, kesetiaan dan kebenaran (Mat.23:23).

Di sebuah milis Kristen pernah mencuat masalah persepuluhan, dimana ada komentar-komentar yang mirip dengan perilaku lahirian diatas. Ada yang berkomentar bahwa “melakukan 10% saja tidak bisa bagaimana melakukan 100%?”, bahkan ada seorang pendeta di sebuah gereja yang biasa mempromosikan persembahan persepuluhan, namun karena ia sudah sadar, ia tidak lagi mengkotbahkan persepuluhan tersebut melainkan mengkotbahkan kasih yang menghasilkan kesadaran umat dalam hal memberi.

Namun, ia sering diolok rekan kerjanya dan ditanya
“Berapa Persepuluhan yang Ia sudah terima?”

Ada gereja-gereja kecil di pedesaan yang mengeluhkan bahwa mereka harus tetap mengirimkan persepuluhan ke gereja induk di Jakarta, namun ketika mereka membutuhkan bantuan, tidak dilayani. Pendetanya mengeluhkan: “Kami harus memberikan persembahan persepuluhan ke gereja induk dengan rajin, tapi uangnya dipakai untuk membangun gereja yang mewah dan buat jalan-jalan di luar negeri.” Kita sadar bagaimanapun rajinnya jemaat desa memberikan persepuluhan, hasilnya akan sangat kecil sekali sehingga sering tidak mampu untuk membiayai kehidupan standar pendetanya, tetapi sekalipun tidak menjalankan persepuluhan umumnya memang jemaat perkotaan akan kaya-kaya karena standar ekonomi rata-rata jemaatnya juga tinggi. Di Surabaya ada gereja besar yang di mimbarnya terus di kotbahkan soal persepuluhan dan ditanya jemaat, mengapa gereja sesinoda yang ada di desa hidupnya tidak diberkati (miskin), jawab pendeta itu dengan enteng “mereka kurang berdoa.”

Dari beberapa contoh di atas kita melihat beberapa keganjilan
yang dipraktekkan sekitar praktek persepuluhan, yaitu

[b]
(1) Tidak jelas bagaimana pembagiannya (PL mengkaitkannya dengan Bait Allah dan Jabatan Imam sedangkan dalam PB memang tidak ada peraturan persepuluhan dan Bait Allah dan jabatan Imam sudah dilunasi oleh penebusan Tuhan YESUS);

(2) Orang akan membenarkan diri karena memberikan persepuluhan;

(3) Orang cenderung merendahkan orang lain yang dianggapnya tidak memberikan persembahan karena tidak mempraktekkan persepuluhan.
[/b]

Karena pembagiannya tidak jelas dan tidak diatur dalam PB maka dapat dimaklumi mengapa banyak penyalahgunaannya seperti terjadi dengan pertanyaan pendeta yang kaya karena persepuluhan pada pendeta yang tidak mempraktekkan, maupun gereja besar di kota yang dengan enteng menyebut gereja desa kurang iman. Padahal, kalau gereja besar itu beriman masakan saudaranya gereja sesinoda didesa yang miskin tidak dibantu agar hidup cukup (pendeta itu dalam kotbahnya pernah membanggakan punya tanah di Beijing, Canberra dan California)? Rasul Yohanes mengatakan bahwa “Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?” (1Yoh.3:17).

Dapat dimaklumi mengapa Tuhan YESUS, Anugerah Allah itu, tidak lagi mengajarkan persembahan persepuluhan, yaitu antara lain karena praktek ini mendorong motivasi ‘sesajen’ yang narsistik (memberi supaya mendapat berkat).

Suatu motivasi ibadat Taurat namun tidak diajarkan oleh YESUS atau para Rasul. Dalam Perjanjian Baru YESUS telah berkorban untuk kita (Yoh.3:16;1Yoh.3:16) karena itu persembahan adalah buah-buah kasih, tanpa melihat akan mendapat kembali atau tidak, sebagai ucapan syukur atas anugerah Allah. Rasul Paulus terharu melihat jemaat Makedonia yang walaupun “miskin tetapi kaya dalam kemurahan” (2Kor.8:1-14), dan kelihatannya jemaat Makedonia mengikuti teladan rasul Paulus (Kis.20:24).

Sikap kedua membenarkan diri karena sudah melakukan persepuluhan cenderung menghinggapi mereka yang mempraktekkan hal itu, mereka merasa diri sebagai elit rohani yang kelasnya lebih tinggi dari yang tidak melakukan, dan sering perilaku itu dijadikan sebagai alat kesaksian, bahwa setelah ia memberi maka ia memperoleh berkat atau untuk dalam bisnis dan lainnya seakan-akan orang yang tidak melakukannya pasti gagal terus. Lebih lagi sikap Farisi ini bahkan menghinggapi orang-orang tertentu yang kemudian mengkaitkan dengan ‘Keselamatan’ seakan-akan yang melakukan selamat dan yang tidak melakukan tidak selamat! Tuhan YESUS mengajar bahwa kalau memberi sedekah jangan dengan maksud dipuji melainkan “jangan diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu” (Mat.6:1-4).

Sikap ketiga adalah sikap yang merendahkan orang lain. Ucapan “melakukan 10% saja tidak bisa bagaimana melakukan 100%?” menyiratkan bahwa ia merendahkan orang lain seakan-akan orang yang tidak mempraktekkan persepuluhan itu tidak memberikan persembahan atau kurang dari 10%. Dalam perikop di atas kita melihat bahwa orang Farisi itu menganggap orang pemungut cukai itu seperti itu, padahal kita tahu siapa orang Farisi yang bisa menyangi kepala pemungut cukai yang bertobat seperti ‘Zakheus’? yang separuh dari hartanya dipersembahkan kepada orang miskin dan kalau menipu dikembalikan empat kali lipat?

Barnabas tidak berbicara mengenai persepuluhan namun pertobatan menghasilkan sikap kasih yang dinyatakan dengan menjual tanahnya dan hasilnya dipersembahkan ke kaki para Rasul (Kis.4:32-36) yang kemudian oleh para Rasul dibagi-bagikan kepada mereka yang memerlukan.

Bandingkan ini dengan pendeta ‘sukses’ yang punyai gereja sesinoda di desa yang miskin namun bangga karena punya tanah di ‘Beijing, Canberra dan California’, bahkan ada pendeta yang di mibar berkata “Indonesia boleh resesi tapi kita tetap resepsi!”
yang tanpa sadar menganggap yang resesi itu kurang iman dan doa.

Ada yang menyebut bahwa “bukti gereja-gereja yang mempraktekkan persepuluhan itu diberkati Tuhan dengan punya gereja-gereja besar dan usaha misinya lebih maju!” Yayasan Bina Awam sering menerima permintaan sumbangan dari gereja-gereja di desa yang mempraktekkan persepuluhan tapi tidak pernah menerima permintaan dari gereja-gereja desa yang tidak mempraktekkan (mungkin yang pertama gereja kota yang kaya acuh-tak-acuh terhadap saudaranya didesa yang dianggap kurang iman dan doa sedangkan yang kedua, gereja di kota yang kaya mempunyai hati penuh kasih untuk membagikan kelebihannya dan mendukung saudaranya yang didesa yang berkekurangan.)

Sepintas lalu dari kesaksian-kesaksian mimbar bisa timbul kesan bahwa yang melakukan persepuluhan itu diberkati dan maju dalam misi. Pernahkan kita merenungkan bahwa sebelum kehadiran gereja-gereja yang mempromosikan persepuluhan, gereja-gereja arus utama(mainline)lah yang sudah mengutus misi yang luar biasa ke seluruh dunia

dan faktanya universitas besar dan rumah sakit Kristen yang besar umumnya adalah
hasil dari gereja-gereja yang tidak mempraktekkan persepuluhan
namun berhati kasih dalam memberi

Banyak misionari dari gereja-gereja tradisional yang tidak mempraktekkan persepuluhan yang rela mengorbankan hidup mereka untuk pekabaran Injil dan masuk ke daerah-daerah yang sukar dan terasing, karena mereka sudah tahu dan sadar bagaimana seharusnya kasih seorang yang telah ditebus oleh darah KRISTUS dan melihat saudara-saudaranya yang dalam kesusahan. Mereka tidak mengharapkan upah untuk pelayanan yang penuh resiko bahkan banyak yang harus mati sebagai martir.

Menarik membaca akhir dari perikop bacaan di atas, bahwa orang ‘Farisi’ (yang melakukan puasa dan persepuluhan) tidak dibenarkan Tuhan, sedangkan ‘Pemungut Cukai’ yang ‘bertobat’ dibenarkan Tuhan!

Salam kasih dari Herlianto/YBA
[email protected] & http://www.yabina.org

=================================
Catatan Moderator :

Diskusi Persepuluhan dan Komentar ttg Persepuluhan, di
http://www.sarapanpagi.org/diskusi-persepuluhan-vt2792-20.html#p15666

=================================

Lebih lengkap dan jelas tentang persepuluhan bisa dibaca di

http://www.sarapanpagi.org/persepuluhan-vt315.html

inilah PERSEMBAHAN PERJANJIAN BARU

Kisah 1

32 Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.
33 Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah.
34 Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa
35 dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.

benar sekali, perpuluhan berlaku pada masa Perjanjian Lama

Pada masa perjanjian baru, masa anugerah, maka terjadi kemajuan yang lebih pesat lagi.
jemaat berkumpul, dan setiap harta, baik tanah, rumah adalah milik bersama jemaat
mereka menjual tanah dan harta yang mereka miliki dan uang hasil penjualan harta dikumpulkan di depan jemaat dan dipakai secara bersama sama untuk kepentingan bersama

SUDAHKAH REPENTO MENJUAL HARTA BENDANYA, dan menyerahpad pada jemaat untuk dipakai bersama sama seluru jemaat ??? JIKA belum, maka sebaiknya Repento melakukan apa yang tertulis dalam Kisah 1:32 - 35

ada amen, repento ??

bejo - bejo, anda kasihan sekali . anda mau minta uang ya ? :smiley:

sudahkah bejo-bejo melakukan

(1) kesediaan berkorban seperti KRISTUS yang telah berkorban untuk kita;
(2) kepekaan lingkungan, yaitu peka terhadap kebutuhan rohani dan jasmani sesamanya; dan
(3) kepedulian sosial dengan membagikan harta kita kepada sesama kita (1Yoh.3:16-18).

???

jika belum, silahkan bejo2 mulai START AWAL dari
memberi ke keluarga dulu lalu ke tetangga terdekat dulu dst

ada amen bejo2 ?

jangan gitu ah, saya kan tidak tahu gerejamu malahan. hehehe

ayooo repento mulai menjual rumah, tanah, mobil, deposito, tabungan dan semuanya di serahkan di depan jemaat gerejanya repento ya (gereja repento sendiri, bukan gue)
nanti uangnya dipakai untuk kepentingan seluruh jemaat.

bagaimana, ada amen ?

hehehe

bejo-bejo, sudahlah jangan sungkan2 sama saya , anda butuh duit hutangan utk bayar per10an kan ?
ngaku aja

sebenarnya permintaan sya ke bejo2 tidak jauh2 amat kok, cukup wajar, yaitu :

sudahkah bejo2 memberi ke keluarga dulu lalu ke tetangga terdekat dulu dst

jika belum, silahkan bejo2 mulai START AWAL mulai hari ini

ada amen bejo2 ?

oke…saya ngerti poin anda

tapi apa tdk terlalu banyak anda bikin thread ttg perpuluhan

maaf seblmnya…kesan saya kok anda spt kepahitan gitu ya…

maaf seblumnya juga

saya tidak kepahitan kok, hanya berusaha memberi informasi seluas mungkin agar jemaat semakin cerdas

dengan banyaknya thread diharapkan semakin banyak member yg “tersadarkan”

Kepahitan karena ga dapet jatah keknya haha :char11:

saya bukan majelis atau staf, cuma jemaat biasa

ketika jokowi mengkritik pemerintahan foke di
Film Dokumenter: Jakarta Baru

apakah jokowi kepahitan terhadap foke ?

ketika YESUS KRISTUS mengkritik farisi (bahkan YESUS sampai memberi cap binatang) di :

Matius 3:7
Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka: "Hai kamu keturunan ular beludak.
Siapakah yang mengatakan kepada kamu,
bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang?

apakah YESUS kepahitan ?

ketika ada seseorang ahli ekonomi mengkritik kebijakan pemerintahan .
apakah org tsb sudah pasti kepahitan pda Presiden SBY ?

jadi sampai disini
anda sudah belajar bahwa kritik tidak harus berawal dari kepahitan .

ada amen ?

terkutip:

Persembahan umat Kristen bukan lagi dalam bentuk persepuluhan tetapi merupakan buah kasih yang keluar dari hati yang dibenarkan Allah.

jadi memberi mungkin scara buah kasih yang keluar dari hati…

umpamakan si A memberi perpuluhan atas himbauan pendeta, namun karena didasari oleh dia ingin memberikan persembahan atas rasa syukur terhadap Allahnya…

jadi kadang banyak motivasi orang memberikan persepuluhan hanya atas dasar rasa syukur…

toh Allah telah menyertai stiap jalanku, hingga aku dalam kondisi sekarang… dan ga da salahnya saya membri 1/10 dari apa yang saya dapat…

Ada yang mengemukakan ayat ‘Berilah maka kamu akan diberi’ (Luk.6:38) dengan motivasi persepuluhan PL

dan kadang sering terjadi hal diataslah yang mendasari orang2 mau memberi persepuluhan, dengan berharap bahwa yang akna di dapat akan berlipat ganda…
sudah barang tentu hati dan pikiran menjadi berharap kalau yang akan datang akan berlipat ganda juga…
yah jadilah teori angka dan pertambahannya…
bukan lagi kearah rohaninya…

persembahan di PB oleh Rasul paulus…


“Karena itu saudara-saudara, dengan kemurahan Allah aku menasehatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Rom.12:1-2).

bahwa Tubuh lah persembahan yang hidup…
dimana hati, jiwa, daging, pikiran, freewil dan lainnya terdapat di dalamnya…
dan hal ini juga yang jadi teladan kerendahan hati KRISTUS…
yang mempersembahkan tubuhNya sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah…

sebaiknya, atau seharusnya…
scara kasat matanya…
jangan kan memberi persepuluhan, memberi lebih dari itu sebenarnya jika diperlukan dengan sungguh2 kita harus bersedia…
bukan penekanan harus…
namun kerelaan hati atau malah niat ingin memberi atau hasrat diri untuk mempersembahkan itu semuanya…