PERSETUBUHAN ADALAH BUAH DOSA

sambungan dari atasnya…

Kristus disebut “Adam Terakhir” menunjukan bahwa Adam pertama yang di taman Eden tersebut bukan mengenakan tubuh yang sempurna, melainkan tubuh daging yang sama seperti binatang. Ketika yang sempurna itu datang maka semua orang yang telah dilahirkan kembali di dalam Kristus, akan juga mengenakan tubuh kemuliaan yang sama yang dikenakan Kristus ketika Ia dibangkitkan oleh Allah Bapa. Jadi pada saat kebangkitan kita tidak mengenakan tubuh seperti Adam di taman Eden tetapi mengenakan tubuh kemuliaan seperti yang dikenakan Adam Terakhir.

1 Korintus 15
47 Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga.
48 Makhluk-makhluk alamiah sama dengan dia yang berasal dari debu tanah dan makhluk-makhluk sorgawi sama dengan Dia yang berasal dari sorga.
49 Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi.

Jadi tidak benar bahwa Adam dan Hawa tidak mengenal pernikahan dan tidak mengenal hubungan seksual, sebab dagingnya dan daging kita adalah sama, hormonnya dan hormon kita sama, berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani sama seperti binatang yang diciptakan dari debu tanah. Pengkhotbah 3:18 berkata, Tentang anak-anak manusia aku berkata dalam hati: “Allah hendak menguji mereka dan memperlihatkan kepada mereka bahwa mereka hanyalah binatang.”

Manusia walau sama seperti binatang dalam dagingnya, namun kita menerima Roh dari Allah sehingga kita disebut segambar dan serupa dengan-Nya sedangkan binatang tidak menerima Roh Allah dalam diri mereka. Karena Roh yang diberikan dalam manusia tersebut maka kita berbeda dengan binatang. Kita dikenalkan Allah dengan pribadi Allah lewat hukum-hukum Allah tentang bagaimana menjadi sama seperti Allah sehingga kita pantas disebut anak-anak Allah. Sedangkan kehadiran Adam Terakhir yaitu Tuhan Yesus Kristus bukanlah rencana susulan, tetapi sejak dari pertama sebelum diciptakan-Nya Adam dan Hawa, telah dirancangkan tentang tubuh kemuliaan yang tidak sama dengan tubuh daging yang bersifat jasmani seperti binatang. Namun untuk benar-benar serupa dengan Allah, kita harus belajar bagaimana menjadi serupa dengan Allah lewat Yesus Kristus.

Jika anda beranggapan bahwa pernikahan (satu daging) yang Allah telah tetapkan di Taman Allah tersebut tidak berkaitan dengan beranak cucu dan tidak berhubungan dengan hubungan seksual dan kehamilan, maka anda salah besar dalam memahami Kitab Suci. Akibat dosa yang diderita wanita adalah sakit saat bersalin dan keinginannya terhadap kehadiran pria disampingnya. Jika anda wanita anda akan paham hal ini, jika anda pria tanyakan istri atau ibu kamu agar paham. Bukan seks yang diingikan oleh wanita terhadap pria sehingga ia rela dikuasai oleh pria.

I Agree

Saya pernah membaca penjelasan yg menarik di sebuah grup Katolik : Redirecting...

Mohon tanggapan rekan2 semua. Bagaimana dengan pandangan tsb?

ya sama saja… intinya dr artikel tersebut adalah ujung2nya perlu persetubuhan untuk melahirkan keturunan

tapi lagi2 saya ngga setuju dengan artikel tersebut

manusia itu udah jelas, lebih tinggi dari segala tumbuhan dan hewan
manusia itu ditentukan Allah untuk menguasai bumi ini, termasuk tumbuhan dan hewan didalamnya

lha ini kok malah nurun2in derajat manusia jadi setara hewan dan tumbuhan?
sampai2 dikatakan “manusia tidak bertindak seperti tanaman dan binatang”
too far, ngga perlu manusia bertindak seperti tanaman atau binatang karena manusia adalah manusia, ciptaan Allah yang sempurna, masterpieceNya Allah

hewan dan tumbuhan berkembang biak disaat mereka emang lagi ingin berkembang biak
mereka melakukannya tanpa peduli keadaan sekitar
mau di tengah2 umum juga ngga peduli, yang penting tersalurkan

manusia jelas lebih tinggi derajatnya, karena walau ingin berkembang biak/bersetubuh sekalipun, manusia bisa mengendalikannya

Saya hanya beranggapan bahwa persetubuhan bukanlah sesuatu yg kudus meski itu dilakukan dengan pasangan kita sendiri. Persetubuhan adalan karya setan atas dunia. Manusia pertama telah tertipu dengan mengganti cinta yg kudus yg sejak semula ditanamkan dalam diri manusia kepada tingkat nafsu hewani. Itu baru anggapan saya yg masih blm dapat saya jelaskan scr teologis. Namun saya membaca pengajaran Paus Yohanes Paulus II tentang Sex dalam ajaran theologi Tubuh. Sebagian dari ajaran Paus Yohanes Paulus II pernah saya share di grup ini dalam sebuah threat: DOSA MENYEBABKAN KETELANJANGAN PERLU DITUTUPI

Lanjut dibawah…

Lebih lengkapnya silahkan masuk pada threat ini: https://forumkristen.com/index.php?topic=54083.msg1057176#msg1057176

Saya tidak menangkapnya demikian. Yg saya tangkap dari tulisan tersebut adalah tindakan2 manusia terkadang bahkan lebih rendah dari hewan dalam hal persetubuhan. Itu yg dimaksud. Manusia dalam persetubuhan yang cabul dan memalukan, yang bahkan tak dikenal binatang, meski binatang tak memiliki akal budi dan jiwa rohani.

Contoh percabulan2 manusia yg mungkin dibawah moral yg hewan pun tidak melakukan adalah misalnya Phedopilia, sex dengan binatang, sex dengan sesama jenis dll

Yg ditulis penulis itu adalah demikian:

Pernahkah kita melihat seekor binatang jantan dan betina saling menghampiri satu sama lain untuk sekedar berpelukan dan mengumbar hawa nafsu? Tidak. Dari dekat maupun jauh, mereka terbang, merayap, melompat ataupun berlari, mereka pergi, apabila saatnya tiba, untuk melakukan ritus perkawinan. Pun tidak pernah mereka menghindar dengan berhenti pada mencari kenikmatan, akan tetapi mereka bertindak lebih jauh, ke konsekwensi serius dan suci akan adanya keturunan.

Yg dia maksud adalah bahwa perkawinan hewan terjadi hanya dan demi melanjutkan keturunan semata. Bukan sarana mengumbar hawa nafsu. Demikian yg saya tangkap

OK

Saya tidak paham tentang biologi dan atau juga tentang hormon yg mendorong nafsu sexual timbul misalnya. Saya malah beranggapan hormon tsb awalnya tidak mendorong pada timbulnya nafsu kedagingan. Namun hadirnya dosa yg meruntuhkan fungsi awal hormon tsb. Di dalam kejadian Allah berfirman kamu akan birahi… artinya bahwa sebelum manusia berdosa, manusia belum mengenal dan mengalami sensasi birahi. Dosalah yang mendatangkan sensasi tsb, sehingga manusia kehilangan keluhurannya oleh karena menjadi budak dari birahi. Keluhuran cinta mengalami degradasi menjadi sebatas pemenuhan nafsu daging semata. Bukan lagi sebagai suatu ungkapan cinta yang luhur sebagaimana yg dikehendaki oleh Allah sejak semula. Manusia telah memandang dengan pandangan yg berbeda, satu dengan yg lain setelah hadirnya virus dosa. Pada akirnya persetubuhan terjadi bukan oleh cara pandang yang melimpah dengan sebuah kejujuran, sebuah kekaguman penuh hormat, sebuah keinginan memberikan diri secara penuh kepad subyek yang lain. Tetapi terjadi oleh keinginan menguasai satu dengan yg lain, mengambil bagi dirinya sendiri kenikmatan daging. Patner hanya menjadi obyek pemuasan hasrat semata. Keluhuran persetubuhan telah diturunkan derajatnya setingkat animalia. Mulai saat itulah manusia dikuasai oleh, instinct, naluri, dorongan sesaat belaka. Dosa membuat struktur “penguasaan diri” digoncangkan pada dasar terdalamnya.

Mungkin saya share yang saya dapat

  1. Untuk kita yang hidup didunia ini…siapa yang telah menjadi pasangan hidup kita adalah yang kudus dr Allah.
  2. Dan selama kita hidup didunia ini (kesampingkan dulu adam dan hawa di taman eden) apakah kita bisa lewati namanya kedagingan kita akan hawa nafsu?
    Pastilah tidak (kalau manusianya normal/bukan selibat)
    Jadi pasangan kita itu sebagai penjaga kita agar tidak jatuh dalam dosa dari perempuan2 asing/jahat.

Amsal 6:28 (TB) Atau dapatkah orang berjalan di atas bara, dengan tidak hangus kakinya?

Dapatkah orang hidup didunia ini dengan tidak jatuh dalam dosa?

Salam,

Dosa telah merusak semuanya. Segalanya berubah setelah manusia jatuh ke dalam dosa. Keguncangan hadir dalam diri manusia. Iblis telah merusak manusia sebab manusia telah diciptakan tanpa dosa, namun iblis menghantar mereka pada pengetahuan dan gagasan melalui kenikmatan nafsu birahi, mengenyahkan Allah, dalam diri makhluk terkasih-Nya Hawa memulai dosa sendirian. Ia menyelesaikannya bersama pendampingnya. Itulah sebabnya mengapa hukuman yang lebih berat ditimpakan pada perempuan. Karena dia, manusia menjadi suka memberontak terhadap Allah dan menjadi mengenal percabulan dan kematian. Karena dia, manusia tak lagi dapat menguasai ketiga kekuasaannya: kekuasaan atas roh, sebab ia membiarkan roh tidak taat kepada Allah; kekuasaan atas moral, sebab ia membiarkan hawa nafsu menguasainya; kekuasaan atas daging, sebab ia memerosotkannya ke tingkat naluri binatang.

Dua sarana yang paling umum digunakan oleh Setan untuk menaklukkan jiwa-jiwa adalah nafsu seksual dan kerakusan. Dia selalu mulai dari hal-hal materiil. Begitu dia telah melucuti dan menundukkan sisi materiil, dia menyerang sisi spirituil.

Kalau yang saya tangkap dr bro…
Ada mengarah ke Salah satu aliran sebelah ya bro?

Atau mengarah ke selibat…?

Atau setiap hubungan perkawinan yg terjadi, harus terjadi pembuahan seperti bunga & hewan yg bro sharekan linknya…?

Aliran mana yg anda maksud?

Selibat itu hanya bagi mereka yg berkehendak demikian. Berapa sih prosentase orang2 yang memilih jalan hidup selibat demi kerajaan Allah?

Tidak demikian maksudnya, itu hanyalah suatu gambaran cara manusia berkembang biak jika tidak jatuh ke dalam dosa, namun kebenara dari gambaran tsb kita tidak tahu, meski demikian perkembangbiakan dengan cara tsb dimiliki juga oleh mahkluk ciptaan TUHAN lainnya. Ketika membuat suatu perenungan ttg ini, dengan juga membaca pengajaran dari Paus Yohanes Paulus II, saya memahami bahwa sejak sebelum dosa, segalanya dalam ciptaan diatur oleh dan didasarkan pada cinta, suatu cinta yang kudus, murni, berkuasa dan sempurna. Dan Allah memberikannya sebagai perintah pertama-Nya kepada manusia: ‘Beranakcuculah dan bertambah banyaklah.’ Cinta, seperti sebagaimana sekarang, prokreasi anak-anak yang sekarang, masih belum ada pada waktu itu. Tidak ada kebencian ataupun dahaga menjijikkan akan sensualias. Laki-laki mencintai perempuan dan perempuan mencintai laki-laki, secara alamiah, bukan alamiah seturut alam sebagaimana kita memahaminya sekarang yg coba dijelaskan oleh ilmu biologi, melainkan adikodrati.

Kekudusan Cinta yang tak terbalut Birahi.

Saat itu cinta keduanya lelaki dan perempuan bagai cinta dari Dua orang yang bersaudara. Cinta dua orang saudara lelaki dan perempuan adalah cinta yang saling memberikan diri, suatu cinta dalam tingkatan yg lebih kudus dan kendati demikian adalah suami dan istri, yang mencintai dan saling menatap satu sama lain dengan mata yang tak berdosa dari pasangan kembar dalam satu buaian.

Laki-laki merasakan cinta seorang bapa kepada istrinya ‘tulang dari tulangnya dan daging dari dagingnya’, seorang anak bagi bapanya adalah sangat berharga; dan perempuan mengalami sukacita menjadi seorang anak perempuan, yang dilindungi oleh cinta yang sangat tinggi tingkatnya, sebab dia merasakan bahwa dia memiliki dalam dirinya sesuatu dari laki-laki mengagumkan yang mencintainya, dengan semangat ketakberdosaan dan bak malaikat. Ada kekudusan dalam cinta kedua insan tersebut.

Saya baca artikel di atas yg menceritakan pandangan Pope Benedict XVI ttg eros.
Pandangan ini disebut selaras dg Theology of Body dari Pope John Paul II.

Christianity does not “blow the whistle” on erotic love. It seeks to rescue it from degradation, to “heal it and restore its true grandeur,” says Benedict. The “contemporary way of exalting the body is deceptive. Eros, reduced to pure ‘sex’, has become a commodity, a mere ‘thing’ to be bought and sold, or rather, man himself becomes a commodity. This is hardly man’s great ‘yes’ to the body.”

In order to restore erotic love’s true grandeur, we must experience the purification of eros by agape. As this happens – that is, as we allow erotic love to be informed and transformed by divine love – eros is able “to provide not just fleeting pleasure, but a certain foretaste of the pinnacle of our existence, of that beatitude for which our whole being yearns,” Benedict states.

What joy! Sexual love in God’s plan is so glorious that it is meant to provide a small foretaste of the eternal joys that await us in heaven. But beware the counterfeits. “An intoxicated and undisciplined eros,” as Benedict observes, “is not an ascent in ‘ecstasy’ towards the Divine, but a fall, a degradation of man.”

Jd eros dan sexual desire itu sendiri adalah ciptaan Allah yang menggambarkan scr terbatas kebahagiaan sorgawi kelak. Masuknya dosa membuat eros intoxicated dan undisciplined, namun eros bisa purified shg kembali pada rencana Allah yg semula.

Aliran buxxxa (yang menjauhi keduniawian)

Setuju. Selibat tidaklah semua orang

Dalam cinta/kasih memang di dalam firman Tuhan memang ada beberapa kata kasih, yg setahu saya eros (erotis) juga termasuk didalamnya toh…
Ga ada yang salah sih untuk hub persetubuhan menurut saya di dalam dunia ini…(selama hubungan itu telah dipersatukan oleh Tuhan / sah maksud saya)

Kecuali Tuhan menyingkapkan sesuatu dari awal untuk persetubuhan tidak dibenarkan.

Mengenai buah dosa atau bukan, bisa jadi sih…(melihat hawa terbentuk begitu saja dari tulang rusuk adam, tanpa adanya persetubuhan dan adam lahir dr penciptaanNya ) Cuman ga mesti juga kita jadinya terlalu mikirin apa pengganti dari persetubuhan jadinya…

Thanks Brother, saya malahan baru mengetahui tentang pandangan Pope Benedict XVI yg selaras dengan pengajaran JP II. Saya termasuk pengagum Pope Benedict dan tidak pernah mau melewatan khotbah beliau setiap ada tanyangan siarang langsung dari vatican.

Memang yg mendorong untuk penyatuan kedua insan adalah sexual desire namun adanya dosa menjadikannya menyimpang dari yg seharusnya. Saya lebih senang membaca pengajaran kedua Paus tsb daripada membuat suatu kesimpulan sendiri, pemahaman saya akan threat ini justru awalnya datang oleh pertanyaan besar saya ttg mengapa Allah tidak menghendaki Yesus dilahirkan melalui suatu percampuran, pasti ada yg salah dari hal tsb. Karena itu kedatangan Yesus untuk memperbaharui kembali apa yg sudah dirusak oleh iblis termasuk di dalamnya adalah kemuliaan persatuan antara pria dan wanita yg merupakan gambaran Allah.

Ini bukan soal salah benarnya suatu persetubuhan. Saya bicara tentang tingkatan atau kadar kekudusan dalam suatu persetubuhan. rasa2nya sulit sekali bagi manusia mencapai tingkat tsb dan bisa jadi mustahil, karena persetubuhan membawa di dalamnya hasrat hewani, hasrat daging yg justru ditentang Allah, dan itu telah mencemari persatuan kudus antara pria dan wanita sebagamana seharusnya, sebagaimana sejak semula ditetapkan. Eros yg awalnya suci telah direduksi menjadi ‘seks’ murni yg lepas sama sekali dari fungsi aslinya sbg suatu daya menuju cinta agape.

Persetubuhan yg ada sekarang adalah akibat dosa, yg seharusnya mungkin tidak demikian. Itu pemahaman saya. Dan saya tertarik dengan penjelasan model perkembangbiakan bunga. Alitab tidak menjelaskan seperti apakah manusia sebelum dosa? Saya memikirkan bahwa manusia adalah suatu mahkluk yg berbeda dari yg sekarang ini. Kita memiliki suatu selubung, yg melindungi diri kita. Dan selubung itu retak dan hancur ketika dosa masuk ke dalam dunia, dan ini yg membuat munculnya pandangan baru antara adam dan hawa tentang ketelanjangan.

“Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.”

Ketika Yesus berbicara tentang 'Kawin dan tidak kawin" dia menambahkan kaliamt diatas diakhir firman-Nya. Saya tidak menemukan penekanan yg sama bunyinya seperti kalimat diatas, pada Firman yg lain, selain Firmannya ttg kawin atau tidak kawin. Menurut tafsiran saya yg bodoh ini, penekanan yg Yesus lakukan tersbut disebabkan karena hal yg Ia ajarkan tidak dapat dipahami oleh kebanyakan orang, sebuah gambaran yg sulit dimengerti oleh manusia. Karena itu ketika saya ditanya: Kalau perkembangbiakan tidak melalui persetubuhan, penyatuan daging dengan daging, lantas seperti apa? Maka saya akan menjawab saya juga tidak tahu, seperti apa. Karena hal ini sulit dimengerti, tetapi saya kok yakin bahwa persetubuhan itu buah dari dosa, sebab sejak semula tidak demikian kehendak Allah. Karenanya ada suatu sample ttg perkembangbiakan model bunga, saya seolah mendapat jawaban… “jangan2 memang benar seperti ini model perkembangbiakan manusia yg sejatinya jika tidak ada dosa.”

Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti." (Matius 19:12)

Kalau tidak ada persetubuhan sekarang andapun tidak mungkin eksis didunia ini dengan menghina kodrat manusia yang diciptakan Allah itu.

Makanya anda harus mengucap syukur akan mekanisme kelahiran manusia ciptaan Tuhan itu kalau nyadar diri.

Menjadi pertanyaannya apakah Allah tidak tahu manusia akan jatuh kedalam dosa?
Kalau Allah yg maha tahu, berarti hubungan persetubuhan manusia nantinya sudah diketahui dari awal oleh Tuhan.

Eros menuju agape… Menurut saya mungkin2 saja sih. Mengingat bila sesuatu terjadi kepada pasangan pastilah kita sebagai pasangan yang pertama melakukan segala sesuatu munhkin sampai mengorbankan diri (agape)