Pertama di Indonesia, Pastur Dihukum (Divonis) Mati

Pertama di Indonesia, Pastur Dihukum (Divonis) Mati

Jakarta - Mahkamah Agung (MA) tidak main-main memberikan hukuman kepada pelaku kejahatan berat. Salah satu buktinya dengan menjatuhkan hukuman mati kepada seorang pastur karena kasus pembunuhan berencana.

“Menjatuhkan hukuman mati kepada Herman Jumat Masan,” kata sumber detikcom di MA, saat dihubungi detikcom, Selasa (11/2/2014).

Vonis ini dijatuhkan siang ini oleh majelis hakim yang diketuai hakim agung Timur Manurung dengan hakim anggota Dr Dudu Duswara dan Prof Dr Gayus Lumbuun.

Cerita berawal saat Herman menjalin cinta dengan biarawati suster Grace pada 1998 lalu. Cinta itu bersemi di Seminari Tinggi Santo Petrus Ritipiret. Herman di tempat tersebut bertugas sebagai prefer pada Tahun Orientasi Rohani (TOR) di Lela, Kabupaten Sikka.

Dari hubungan cinta itu, Grace diketahui hamil lalu bayinya dicekik begitu lahir dan jasadnya dikubur di depan rumah. Pembunuhan tersebut lalu diulangi lagi pada kehamilan kedua. Pada 2001, Grace hamil lagi dan bayinya kembali dibunuh. Tidak hanya itu, Grace pun ikut meninggal dunia karena pendarahan. Baik Grace dan jabang bayinya lalu dikuburkan di depan rumah di samping bayi yang dibunuh pada 1998. Pada pembunuhan kedua itulah, terungkap ulah Herman.

Atas perbuatannya, jaksa menuntut Herman dengan hukuman mati. Namun tuntutan ini tidak dikabulkan Pengadilan Negeri (PN) Maumere yang menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup. Atas vonis ini, Herman banding tetapi dikuatkan. Alhasil, Herman tidak terima dan mengajukan kasasi. Apa daya, bukannya diperingan, MA malah menjatuhkan hukuman mati.

Sumber : klik di sini

Pertanyaan :
Jika di Indonesia, bidang kerohanian (keagamaan) sama halnya dengan bidang kemiliteran yg mana berhak melaksanakan pengadilan sendiri, apakah vonis hukuman buat pastur herman tidak akan sama?

sedih sekali :’(
seringkali iblis disalahkan untuk kejahatan yang dilakukan manusia
manusia dapat dikuasai oleh hawa nafsu nya dan ia sendiri menjadi iblis bagi dirinya sendiri !
"Enyahlah kau iblis " bentak Yesus pada Petrus >> bahkan Petrus sendiri “menjadi” Iblis
biarlah hukuman mati ini menjadi "jalan salib " ex Romo ini dan Ia menemui Yesus Tuhan Nya untuk meminta ampun

, sebagai seorang Katolik saya menangis dalam hati :’(

saya dan Tuhan Yesus dibuat malu oleh oknum itu. Yang laen, jangan niru kelakuannya ya… :coolsmiley:

Pada ciptaan tertentu Allah senantiasa turut campur dan mengintervensi agar hal2 buruk atau fatal tidak terjadi seperti pada doa Bapa kami, tetapi pada ciptaanNYA yg lain Allah sepertinya membiarkan seseorang terseret hanyut pada jebakan iblis sehingga harus menanggungkan konsekuensi yg sangat berat dan fatal. Kira2 apakah yg membedakan hal ini ???

hidup bergaul dengan Allah > itulah kuncinya
ROH KUDUS > seberapa besar ini ada dalam hati seseorang sangat menentukan
seringkali orang Kristen (ini termasuk Katolik) terjebak dalam ibadah dan ritual badani / ragawi , sehingga mulutnya memuji Tuhan tapi hatinya jauuuuh daripada Tuhan
ini yang di kritik Tuhan Yesus pada orang Farisi > janganlah orang beribadah 5x sehari,7x sehari , bajunya putih ,
seperti orang suci , tapi hatinya busuk >seperti kuburan yang di kapur putih luarnya tapi busuk didalam nya

bukan Allah nya yang jadi obyek kecurigaan disini , tapi oknum orang nya
Allah sudah mengulurkan tangan Nya , tergantung dari orang ini untuk menyambut tangan Allah atau tidak
jika menyambut maka selamat lah dirinya

SEMOGA INI MENJADI YANG TER AKHIR

Turut prihatin.

Semoga Vatikan mau mereformasi dirinya agar hal ini tidak berulang kali terjadi.

Pertanyaan :
Jika di Indonesia, bidang kerohanian (keagamaan) sama halnya dengan bidang kemiliteran yg mana berhak melaksanakan pengadilan sendiri, apakah vonis hukuman buat pastur herman tidak akan sama?

pertanyaan juga , memang ada apa dan kenapa dengan vonis hukuman di pengadilan militer ?

Si herman itu diadili secara adil atas kesalannya, dan pada upaya terakhir, dinyatakan bersalah.
Ya sudah, eksekusi aja, kesalahannya sebagai manusia sudah diadili, tinggal pengadilan Tuhan yang harus dihadapinya.
Case close

ya jangan main eksekusi2 gitu bro

kalo di hukum mati, berarti di kasus ini , jadinya 4 nyawa melayang dong bro

dan terjadi kasus pembunuhan lagi, malah melebar lagi nih kasusnya

Hukuman mati atas pembunuh adalah perintah Tuhan sejak permulaan.

Kejadian 9:5-6
Tetapi mengenai darah kamu, yakni nyawa kamu, Aku akan menuntut balasnya; dari segala binatang Aku akan menuntutnya, dan dari setiap manusia Aku akan menuntut nyawa sesama manusia.
Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri.

Sama aja, karena di dalam agama kan ada hukum tabur-tuai.

Bagi saya yg paling menyedihkan dari kasus ini adalah bahwa org yg belum percaya Tuhan Yesus, termasuk keluarga saya. Malah jadi semakin mundur dan ga senang kristen.
Dan menurut diri saya yg sok, ‘ya sayang bgt pak pendeta berbuat sesuatu. Jadi ga bisa gunain masalah pemimpin agama lain (yg nginjek kepala org))’

MA vonis mati mantan pastor

http://indonesia.ucanews.com/wp-content/uploads/2014/02/0212a1.jpg

12/02/2014

Herman Jumat Masan saat berada di dalam ruangan sidang mendengar pembacaan vonis hakim di PN Maumere. (Foto: Pos Kupang)

Mahkamah Agung (MA) memvonis mati Herman Jumat Masan, mantan pastor asal Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (11/2) karena terbukti melakukan pembunuhan berencana lebih dari 10 tahun lalu.

Vonis ini membatalkan keputusan sebelumnya oleh Pengadilan Negeri (PN) Maumere, NTT yang memvonis Herman hukuman seumur hidup dalam kasus pembunuhan seorang mantan suster dan dua bayi hasil hubungan gelap mereka.

Gayus Lumbuun, salah satu hakim agung, mengatakan, Herman dikenai pasal berlapis KUHP terkait pembunuhan berencana, seperti Pasal 340 jo Pasal 65 Ayat (1), Pasal 338 jo Pasal 65 Ayat (1) dan Pasal 181.

“Kami melihat bahwa ia berusaha menyembunyikan tindakannya agar tidak diketahui oleh orang lain”, katanya kepada ucanews.com, Rabu.

Ia menambahkan, pelaku juga melakukan perbuatan yang berulang-ulang. “Ia menghamili orang yang sama.Kami menilai, dalam hal ini, ia tampak tidak menyesal atas tindakanya”

Selain itu, kata Lumbuun, vonis ini diharapkan menjadi pelajaran bagi para pemuka agama, agar menyadari apa yang semestinya mereka lakukan.

“Ini diharapkan menimbulkan efek jera, agar mereka tidak berbuat seenaknya,” tegasnya.

Ia menjelaskan, keputusan ini belumlah final, karena Herman masih bisa mengajukan Peninjauan Kembali (PK) bila ada novum baru serta meminta grasi kepada presiden.

Herman, mantan imam Keuskupan Larantuka, Flores Timur membunuh dengan mencekik seorang bayi pada 1999, hasil hubungan gelapnya dengan Yosefin Keredok Payong alias Merry Grace. Merry Grace merupakan mantan suster SSpS, yang meninggalkan biara pada tahun 19997

Tahun 2002, ketika Merry Grace kembali melahirkan anak kedua hasil hubungan gelap mereka, Herman membiarkan saja bayi itu di kamarnya hingga meninggal, bersama Merry Grace yang juga akhirnya meninggal setelah mengalami pendarahan selama 10 hari.

Ketiga jenazah ini dikuburkan di belakang kamar Herman di kompleks Tahun Orientasi Rohani (TOR), Lela, Maumere, di mana saat itu ia bertugas sebagai pendamping para frater TOR. Herman meninggalkan imamat tahun 2008, dan bekerja di Kalimantan.

Kasus ini terungkap ketika pada Januari 2013, polisi menggali kuburan ketiga jenazah itu, berkat pengakuan dari mantan pacar Herman, bernama Sofi, berhubung Herman pernah menceritakan peristiwa pembunuhan ini kepadanya.

Proses hukum pun dilakukan, setelah Herman berhasil dibawa ke Maumere. Pada 19 Agustus 2013 lalu, ia divonis hukuman seumur hidup.

Ia sendiri mengajukan kasasi ke MA atas kasus ini pada November tahun lalu. Namun, bukannya mendapat keringanan hukuman, malah diperberat.

Agustinus Payong Dosi, paman sekaligus pengacara Merry Grace menyatakan, pihak keluarga mengapresiasi vonis ini.

“Meski dari sudut Gereja Katolik, hukuman mati ditentang, namun ini soal hukum nasional”, katanya kepada ucanews.com.

“Kalau memang ia tidak menerima vonis tersebut, silahkan mengajukan permohonan grasi ke presiden atau lewat PK”, lanjutnya.

Pengacara Herman, Marianus Renaldy Laka mengungkapkan, ia akan bertemu dan berbicara dengan Herman sebelum mengambil langkah lebih lanjut terhadap putusan MA ini.

Sementara itu, Pastor Paul Rahmat SVD, Direktur Vivat SVD Indonesia menyatakan menyesali vonis mati dari MA.

Meski mengecam kejahatan yang dilakukan Herman, namun, kata Pastor Paul, hukuman mati tidak bisa dibenarkan, karena menyangkut nyawa manusia.

“Kami mendukung agar ia dihukum seumur hidup. Hanya Tuhan yang berhak mencabut nyawa manusia”, kata Pastor Paul.

Ia menegaskan, pihaknya akan berkordinasi bersama lembaga Gereja lain yang sudah sejak awal menolak hukuman mati, untuk mengambil langkah lebih lanjut, termasuk mengajukan grasi ke presiden.

Ryan Dagur, Jakarta

Sumber: UCA News


Ternyata Herman itu sudah gantung jubah, sudah mantan pastor.

tapi saat melakukan “kejahatan” nya dia masih sebagai Pastor :’(
sungguh suatu bahan olok olok paling menjijikkan bagi gereja Katolik
kaum kedar / sepupu kita mempunya bahan yang paling mereka tunggu2 :’(
kehidupan selibat akan menjadi “sitting duck” bahan hujatan habis2 an
Gereja Katolik sangat menghargai kehidupan , bahkan kontrasepsi /KB pun dilarang , tapi rohaniawan nya justru membunuh bayi dan ibunya :’(
bertobatlah dan tangisilah dirimu p Herman sebelum terlambat

Betul.

Siapalah Herman Jumat ketika itu? Dia adalah seorang pastor ketika melakukan perbuatan bejat itu. Jangankan seorang pastor, Yesus Kristus sendiri dicobai sebelum memulai pelayanan pengabaran Kabar Sukacita. Penggoda Yesus Kristus bukan tidak mengetahui bahwa Yesus adalah Putera Allah Yang Maha Tinggi. Tetap juga digoda. Maka, saya kira, lumrah saja seorang pastor digoda oleh iblis.

Sementara dalam kasus itu, pastor Herman Jumat gagal melawan godaan iblis. Semakin membuat hati trenyuh, pastor Herman Jumat mengulangi lagi perbuatan bejatnya. Mungkin, kemudian pastor Herman Jumat disadarkan oleh Roh Kudus, sehingga dia melepas kepastorannya dan meninggalkan pelayanan kepastoran. Dan, terungkaplah kebejatannya ketika masih menjadi pastor.

Saya tidak ingin membela kesalahan dan kebejatan pastor Herman Jumat. Yang ingin saya sampaikan ialah, ketika dijatuhi hukuman mati, status kepastoran Herman Jumat sudah tanggal, sementara judul berita detikNews yang dijadikan judul trit ini mensinyalkan seolah-olah pada saat penjatuhan hukuman itu, Herman Jumat masih menyandang tugas sebagai pastor.

Itu saja.

Herman…herman…herman…!! kenapa kau bergaul dng suster…?? sehingga engkau menggaulinya sampai begitu rupa…??
Dimana Alkitab mu saat itu…Herman…??? HEmmm…

Semuanya sudah menjadi bubur, dan harus dipertanggung-jawabkan secara Hukum Dunia yang berlaku di negeri ini.
Dan Sangsi hukuman mati sudah sepadan…lantas apakah ada inisiativ untuk purgatori bagi keluaraganya nanti setelah dia Herman mati menjalani hukuman tsb…??

Salam…

Sangat disayangkan yah
Daging itu lemah, maka berjaga-jagalah kl ga salah kata Alkitab begitu

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah pastor Herman layak dihukum mati ??
Bagaimana menurut kristen Protestan dan Katolik, apakah hukuman mati diperbolehkan atau dilarang Yesus Kristus?

Layak atau tidak nya hukuman mati itu diukur dengan ukuran yang bernama Kitab UU Hukum Pidana (KUHP)
sudah pantas dan seimbang sih , karena 3 nyawa melayang , 2 bayi dan 1 perempuan
jika merasa tidak adil ada upaya hukum yang tersedia dan itu sudah ditempuh Herman , tinggal 1 saja lagi > Grasi dari Presidean RI

Hukum kasih itu ajaran Yesus Kristus > tapi kita ber negara sudah sepakat untuk tunduk pada hukum negara > pidana

Ini yang membedakan kita dengan saudara sepupu (moslem/kedar) mereka kurang suka tunduk pada hukum negara / setengah hati > maunya hukum agama > Quran >hadist

Herman harus menuai tanggung jawab nya > sama seperti Daud yang telah berbuat dosa , mohon ampun , diampuni Allh / Yahweh , tapi seluruh keturunan nya mati tidak jauh dari pedang > sebagai konsekwensi dosanya di dunia

Saya pribadi dan agama jelas tidak setuju hukuman mati terhadap siapapun, bro.
Tetapi karena kita tinggal di Indonesia, dan berlaku KUHP dimana hukuman terberat adalah hukuman mati. Upaya hukum juga sudah final, maka tinggal upaya grasi dari presiden saja yang tersisa.
Tetapi, mengingat presiden kita sangan lamban dan acuh kepada rakyatnya, maka sepertinya upaya grasi juga akan percuma.

Maka, saya sih lebih berharap eksekusi segera, daripada menyiksa si terhukum lebih lama lagi.
Hanya saja saya berharap si terhukum sempat menysali dosa dosanya dan mohon pengampunan Tuhan.
Selesai.

Syalom