Pertanyaan anak kecil yang sulit di jawab.. Para orang tua mohon masuk.

Dear all… Bagi yang sudah mempunyai anak… Atau yang belum juga boleh kasih pendapat… :slight_smile:

Mohon masukkannya brother and sisters…

Jika anda mempunyai anak yang masih kecil tentu saja anda memperkenalkan Yesus Kristus sedini mungkin kepada anak2 anda.

Namun jika si kecil bertanya…

Di mana saya harus mencari Tuhan Yesus pa/ma?

atau

Tuhan Yesus ada di mana sih??

Dan pertanyaan2 yang lain jika anak anda pernah bertanya pertanyaan yang sulit bisa di share juga yaa… jadi bisa jadi pembelajaran untuk yang sudah jadi papa atau mama :afro:

Ayoooo masukkannyaaa… :wink: :wink:

Kita harus memberitahu kepada anak-anak dengan cara memberikannya sebuah cerita tentang YESUS KRISTUS. Dan jika ditanya bagimana mereka bisa menemukan Tuhan Yesus, ajak dia berdoa dan merasakan kehadiran Tuhan. Dan Katakan kepada mereka setelah berdoa “Kamu tidak perlu mencari-cari Tuhan YESUS lagi, karena sekarang Tuhan Yesus sudah berada di hati dan hidupmu.” Lalu ajarkan segala sesuatu yang tidak boleh dilakukan dan boleh dilakukan kepada anak tersebut.

Yang Penting lakukakan segala sesuatu untuk membuat dia merasakan kehadiran TUHAN YESUS :afro:

Saya jadi teringat cerita :
Ada 2 orang petani jagung, yang hidupnya saling berdampingan… anggaplah petani yang pertama si A dan petani yang kedua namanya si B…

Suatu ketika ladang jagung milik si A gagal panen, sedangkan ladang jangung si B siap panen…
padahal disaat yang bersamaan kebutuhan materil si A dan keluarga tidak bisa pake jalur ‘kompromi lagi’…

ketika malam si A bergegas keluar, ketika iya membuka pintu tiba2 anaknya yang kecil bangun dan minta ikut dengan si A…
singkat cerita si A membawa anaknya yang kecil ke ladang jagung milik si B…
ditengah ladang si A terdiam, Dia mulai menoleh ke kiri dan ke kanan, kedepan dan ke belakang… ketika iya mulai membuka karung dan mulai memetik jagung milik si B, si kecil menyela dengan bertanya ''Bapak lupa kalo Bapak belum menoleh keatas"… si A terdiam dan akhirnya pulang dengan tangan hampa…!

=========
Tuhan sesungguhnya Ada ; saya kutip dari http://katolisitas.org/2008/06/10/bagaimana-membuktikan-bahwa-tuhan-itu-ada/

Membuktikan keberadaan Tuhan dengan dasar filosofi dari St. Thomas Aquinas.

Dalam tulisan ini akan dibahas bagaimana dengan menggunakan akal budi – melalui pendekatan filosofi[3] – dapat ditarik kesimpulan bahwa kepercayaan kepada Tuhan yang satu adalah kepercayaan yang sangat logis. Sebaliknya, kalau seseorang tidak percaya akan Tuhan yang satu, bisa dibilang bahwa itu melawan akal budi.[4] Tidak ada pertentangan antara iman dan akal budi. Teologi sendiri dapat didefinisikan sebagai “iman yang mencari pengertian atau faith seeking understanding.”[5] Paus Yohanes Paulus II berkata “akal budi dan iman adalah seperti dua sayap dimana roh manusia naik untuk mencapai kontemplasi kebenaran.”[6] Akal budi ini sudah menjadi bagian integral manusia, yang mempunyai kapasitas untuk menginginkan pencapaian suatu kebenaran.[7] Untuk membuktikan kebenaran akan eksistensi dari Tuhan, maka St. Thomas Aquinas di dalam bukunya “Summa Theology,”[8] memberikan lima metode, yang terdiri dari: 1) prinsip pergerakan, 2) prinsip sebab akibat, 3) ketidakkekalan dan kekekalan, 4) derajat kesempurnaan, dan 5) desain dunia ini.

Bukti 1: Prinsip pergerakan.

Mari sekarang kita meneliti pembuktian pertama, yaitu dari pergerakan.[9] St. Thomas mengambil contoh dari pergerakan, karena pergerakan terjadi dimana saja, kapan saja, dan bisa diamati dalam kejadian sehari-hari. Sebagai contoh, pada waktu mobil saya mogok, tetap bisa bergerak karena mobil saya ditarik oleh mobil derek. Namun mobil derek ini bisa bergerak karena adanya koordinasi sistem mesin yang begitu rumit. Walaupun demikian, mobil tidak akan bergerak, kalau tidak ada tangan manusia yang memasukkan kunci dan “menstarter” mobil itu. Tangan digerakkan oleh sistem kerja tubuh yang melibatkan miliaran sel, dimana dikoordinasikan oleh otak. Namun siapa yang menggerakkan otak? Karena ada kehidupan, ada jiwa yang tinggal di dalam tubuh manusia. Siapa yang membuat kehidupan dan jiwa tetap bertahan… dan seterusnya, sampai ada suatu titik, kita dapat mengambil kesimpulan ada “unmoved mover” atau penggerak yang tidak digerakkan oleh yang lain, karena Dia adalah sumber dari pergerakan itu. Sumber pergerakan inilah yang dinamakan “Tuhan”.

Bukti 2: Prinsip sebab akibat.

Pembuktian ke dua adalah dari “Prinsip sebab akibat.” Semua orang di dunia ini tahu kalau sesuatu terjadi dikarenakan oleh sesuatu. Prinsip ini begitu sederhana, sehingga bayipun dapat menerapkan prinsip ini. Bayi tahu kalau dia lapar, maka dia akan menangis. Dia tahu bahwa tangisannya akan menyebabkan ibunya datang dan kemudian menyusui dia. Ibu ini mau menyusui anaknya, walaupun kadang terjadi pagi-pagi buta, karena dia menyayangi anaknya. Dia sayang, karena anak itu lahir dari rahimnya, dan terjadi karena buah kasih sayang dengan suaminya. Komitmen untuk membentuk rumah tangga dikarenakan keinginan untuk mendapatkan kebahagian. Dan kebahagiaan, kalau ditelusuri terus-menerus akan sampai pada suatu titik, yang disebabkan oleh “uncaused cause” atau penyebab yang tidak disebabkan oleh sesuatu yang lain. Sumber dari penyebab inilah yang disebut orang “Tuhan“.

Dari pembuktian pertama dan kedua, orang bisa mengatakan bahwa “tapi sesuatu bisa terjadi tanpa batas“. Namun keberatan ini dapat disanggah dengan membagi semua pergerakan dan semua sebab akibat menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah “saat ini (current movement/change).” Bagian ke dua adalah deretan yang terhingga dari gerak dan sebab, atau yang disebut “bagian tengah / inter-mediate cause(s)“. Dan kemudian bagian yang terakhir adalah “bagian awal / first mover / causel“. Nah, bagian awal inilah yang disebut “Tuhan, Sang Alfa.”

Bukti 3: Dari prinsip ketidakkekalan dan kekekalan.

Kemudian pembuktian yang ketiga adalah “dari mahluk yang bersifat sementara (contingent beings) dan yang kekal (necessary beings)“. Di dunia ini, tidak mungkin semuanya bersifat sementara, karena kalau demikian maka ada suatu waktu semuanya akan lenyap. Bayangkan orang tua kita cuma hidup sekitar 80 tahun. Terus kakek kita mungkin 90 tahun. Kakek dari kakek kita mungkin 100 tahun. Mau berapa panjang usia nenek moyang kita, mereka toh pada akhirnya telah meninggal. Jika ditelusuri terus, maka garis keturunan kita akan sampai pada manusia pertama. Pertanyaannya adalah, bagaimana manusia pertama itu bisa ada dan hidup? Tidak mungkin dia terjadi begitu saja dari ketidak-adaan. Sebab sesuatu yang tidak ada tidak mungkin menghasilkan sesuatu yang ada/nyata. Jadi disimpulkan bahwa kalau semua mahluk tidak kekal, maka harus ada “Mahluk lain” yang keberadaannya kekal[10] dan tidak mungkin hilang. KekekalanNya membuat mahluk yang tidak kekal terus bertahan dan memenuhi bumi, sehingga kehidupan tidak punah. Kekekalan yang tidak disebabkan oleh yang lain inilah yang disebut “Tuhan, Sang Kekal.”[11]

bersambung…

Bukti 4: Derajat kesempurnaan.

Pembuktian ke empat adalah dari sisi “derajat kesempurnaan.” Kalau kita amati, semua yang ada di dunia ini ada tingkatannya. Ada yang miskin, kaya, konglomerat. Kasih, kebajikan, kebaikan, keindahan, kebenaran, semuanya ada tingkatannya. Peribahasa “kasih anak sepanjang galah dan kasih ibu sepanjang jalan,” secara tidak langung menunjukkan ada tingkatan dan derajat kasih. Jadi, kalau semua ada tingkatannya, tentu ada yang paling tinggi tingkat kesempurnaanya. Jadi, semua tingkatan berpartisipasi dalam sesuatu yang tingkatannya paling tinggi. Sebagai contoh, kalau kita menaruh besi di dalam api, maka besi itu menjadi panas. Namun panasnya besi bukan karena akibat dari besi itu sendiri, melainkan karena partisipasi besi itu dalam api.

Contoh di atas membuka suatu prinsip yang sangat penting, yaitu “seseorang atau sesuatu tidak dapat memberi apa yang dia tidak punya.” Air dingin tidak bisa membuat besi menjadi panas, karena air dingin tidak mempunyai sifat panas. Semua yang ada di dunia ini tidaklah sempurna, namun semuanya ada karena partisipasi dalam sesuatu yang tingkatannya paling tinggi, dan yang tingkatannya paling tinggi inilah yang di sebut “Tuhan, Sang Maha Sempurna.”

Bukti 5: Dari desain dunia ini dan tujuan akhir.

Pembuktian yang terakhir adalah dari sisi “desain dunia ini dan tujuan akhir“. Ini adalah sesuatu yang dapat dibuktikan di dalam hidup kita sehari-hari. Kita setiap hari melihat jalan setapak, jalan raya, dan juga jalan layang. Apakah mungkin kalau kita mengatakan bahwa jalan itu memang ada dengan sendirinya, tanpa ada yang mendesain dan membangun. Bagaimana dengan desain rumah, desain tata kota, dll. Semua terjadi karena ada yang mendesain dan tidak mungkin terjadi dengan sendirinya. Kalau kita percaya bahwa rumah kita tidak terjadi dengan sendirinya, namun didesain oleh diri sendiri atau seorang arsitek, apakah kita dapat menyangkal bumi ini, sistem grafitasi, dan juga sistem tata surya terjadi dengan sendirinya? Apakah mungkin kita berpendapat bahwa pergerakan planet-planet dan bintang-bintang, yang semuanya berjalan dengan keharmonisan tertentu dikarenakan karena faktor kebetulan? Desain alam semesta ini jauh lebih rumit daripada desain rumah kita. Kalau kita percaya akan arsitek yang mendesain rumah kita, maka kita harus percaya bahwa ada arsitek tata surya ini, yaitu Tuhan. Kalau kita lebih percaya bahwa semuanya terjadi secara kebetulan, maka ini adalah argumen yang tidak mungkin, karena kemungkinan bahwa semua itu terjadi dengan sendirinya tanpa ada yang mengatur adalah bisa dibilang “tidak mungkin.” Sama halnya seperti kalau kita bilang bahwa rumah saya terjadi secara kebetulan tanpa ada yang merencanakan dan menbangunnya.

Bagaimana dengan mahluk yang tidak berakal budi, seperti tumbuhan dan binatang. Mereka mempunyai suatu pola dalam hidup mereka. Siapa yang mengatur kehidupan mereka? Hukum alam? Namun siapa yang mengatur hukum alam? Hanya mahluk rasional yang mungkin mengatur sesuatu yang punya aturan tertentu dan menuju ke suatu tujuan tertentu.

Contoh lain adalah gravitasi bumi, dan pergerakan tata surya yang mempunyai nilai tertentu dan tetap sepanjang sejarah. Jika nilai- nilai tersebut berubah sedikit saja, maka kacaulah segala planet di tata surya ini. Maka jelaslah bahwa semua yang bergerak dan beroperasi menurut urutan tertentu akan bergerak untuk mencapai tujuan akhir. Jadi dapat disimpulkan bahwa ada “Mahluk Rasional” yang memelihara dan mengarahkan semua yang ada di alam ini ke tujuan akhir. Inilah yang disebut “Tuhan, Sang Omega.” Dengan demikian lebih logis dan lebih mungkin, kalau kita percaya bahwa ada sesuatu yang mengatur sistem alam semesta, yaitu Tuhan Sang Pencipta.

Kemudian, variasi dari demonstrasi ke lima ini adalah dari sisi “aturan moral.” Kalau di atas kita melihat bagaimana Tuhan mengatur mahluk yang tidak berakal budi dengan “hukum alam“, maka berikut ini adalah demontrasi yang menunjukkan bahwa Tuhan juga mengatur mahluk yang berakal budi, yaitu manusia melalui “hukum moral.” Kalau kita teliti lebih jauh, manusia dengan latar belakang, kebangsaan, suku, ras yang berbeda, diatur oleh suatu hukum yang dinamakan hukum moral yang secara alami tertulis di dalam hati nurani manusia.[12] Hukum moral inilah yang membuat manusia dapat membedakan antara yang baik dengan yang jahat. Hukum ini bersifat obyektif, dan mengikat manusia secara universal. Kita bisa melihat bagaimana aturan baku di semua negara: anak harus menghormati orang tua, seorang ibu mengasihi anaknya, seseorang akan merasa tidak enak hati kalau membalas kebaikan dengan kejahatan, dll. Kalau orang melawan hukum universal ini, maka dia sebenarnya melawan hati nuraninya sendiri.

Kata “hukum atau aturan” pada dasarnya adalah sesuatu yang terjadi karena tuntutan akal (dictate of reason) yang dibuat untuk kepentingan umum oleh seseorang yang mempunyai otoritas. Misalnya, kalau peraturan lalu lintas adalah peraturan dengan alasan yang logis untuk keselamatan pengendara, yang dibuat oleh pihak kepolisian lalu lintas. Dengan menerapkan prinsip “sebab akibat“, kita tahu bahwa hukum moral yang tertulis di setiap hati nurani manusia tidaklah terjadi dengan sendirinya, namun diberikan oleh Sang Pemberi Hukum yaitu: “Tuhan, Sang Maha Adil.” Jadi hukum moral ini juga dapat membuktikan keberadaan Tuhan, yang memberikan aturan yang tertulis di dalam hati manusia untuk kepentingan umum.

belikan buku kristen bergambar/komik untuk anak anak di toko buku kristen.

buku komik kristen ini akan membantu memberikan cerita alkitab secara ringan pada anak anak.

@ limited:
Quotenya baguss bangett… Jadi menambah ilmu saya :afro:

Jawaban atas pertanyaan saya belum ketemu nih :)…

kalau saya akan menjawab: "Yesus ada di Surga, kalau kita percaya dalam hati bahwa Dia adalah Tuhan dan

mengundangnya masuk kedalam hati kita maka Ia akan datang dan tinggal dalam hati kita selamanya!

Hehe, salam kenal bro.
menjadi orang tua memang tidak gampang, kita harus mulai dengan Alkitab anak2 , banyak terjual sehingga bahasanya sederhana.

Selalu menjawab dengan jujur, apa yang kamu ketahui tentang Tuhan Yesus, ceritakan berdasarkan Alkitab.

Tuhan Yesus ada di mana ? apa yang harus anda jawab menurut Alkitab ?

Silakan Bro

Bro, dengan jujur kita bacakan ke anak itu apa yang tertulis di Alkitab.

Mulai dari Kejadian, bagaimana Tuhan menciptakan dunia, dan Tumbuhan dan binatang dan manusia.

tentag Adam yang tidak mau taat dan menyalah gunakan kebebasannya.

Sehingga di usir dari Taman Eden, bagaimana sejak itu manusia dengan susah payah mencari makan.

Tuhan adalah Roh, yang tidak dapat di lihat dan di sentuh, tetapi suatu saat kita akan bertemu muka dan muka dengan Tuhan Yesus.

Kita sebagai manusia dari daging yang dapat hancur, harus menunggu suatu saat, dirubah oleh Tuhan menjadi tubuh roh, barulah kita dapat ketemu dengan Tuhan.

Selama kita di dunia ada tugas kita, dan tanggung jawab kita.

Ini semua harus tahap demi tahap, yang paling baik adalah merupakan cerita sebelum tidur, dan lakukan setengah jam sebelum dia tidur.

Sedikit demi sedikit tanam kan ke dalam pikirannya , untuk selalu taat dan tunduk pada Allah yang menciptakan manusia.

Kalau dia menanyakan , dimana Tuhan Yesus, jawabannya adalah ada dimana2, di hatimu selalu, dan ada malaikat yang menjaga kamu senantiasa.

Suatu saat kita baru dapat ketemu Tuhan, yaitu di surga.

Sabar dan kita harus senantiasa melakukan hal yang menyenangkan hati Tuhan, apabila kita melakukan sesuatu , lakukan seperti untuk Tuhan.

Apabila kita menggambar, lakukan untuk Tuhan, apa saja.

masih banyak lagi, di sekolah minggu yang mempunyai program anak anak , saya rasa mereka pasti ada menceritakan pada mereka.

Kamu sendiri merasakan bahwa kita belum waktunya ketemu Tuhan, itula yang kamu ceritakan pada anakmu, apa yang kamu rasakan, apa yang selalu kamu lakukan dengan bercakap2 dengan Tuhan, baik dengan bahasa yang sederhana, maupun melalui Firman Tuhan.

Begitu juga kamu lakukan pada anak kamu, harus dari kecil, ini saya berikan ceramah Pdt Sucipto tentang anak2.

Semoga berguna.

kalau saya akan jawab… di gereja… supaya dia pergi kegereja, karena digereja dia akan mendengar firman…

ketika di gereja saya juga akan katakan padanya bahwa saat kita berdoa, kita sedang menjumpai Tuhan yesus… saat ini kita sedang bersama2 menghadap kehadirat Tuhan yesus.

kelak kalau kamu sudah terima komuni nanti, Tuhan yesus yg hadir di altar itu dalam rupa roti dan anggur juga akan menyatu dengan raga kita. sehingga Tuhan tinggal dalam diri kita, menyatu dengan sempurna.

TANAM DAN TUAI
Studi Tentang First Decree

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Ulangan 6:7
“haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.”

Seorang guru sekolah begitu gemas mendengar seorang anak muridnya menyanyi sebuah lagu dengan notasi yang salah. Lalu, karena ia juga seorang guru seni suara, dia berusaha mengkoreksi murid tersebut.

Dia memberitahu anak itu bahwa cara dia menyanyikan lagu itu salah, tidak seperti not yang seharusnya ketika lagu itu digubah.

Pada mulanya anak itu membantah dan berkeras hati bahwa apa yang dia nyanyikan itu benar, karena sesuai dengan apa yang diajarkan oleh orang tuanya.

Guru ini berusaha meyakinkan dan menunjukkan buku nyanyian yang ada notnya, dan memberi contoh menyanyikan lagu itu secara benar.

Akhirnya, anak itu menyadari bahwa apa yang ia nyanyikan selama ini memang salah, dan ia mau belajar menyanyi lagu itu dengan benar.

Anak itu mengikuti setiap not dari buku dan mencoba menyanyi dengan benar.

Setelah berulang kali mencoba dan berjuang keras, akhirnya anak ini mulai bisa mengoreksi kesalahannya.

Tetapi anehnya, setelah ia berdiam beberapa lama, kemudian mencoba lagi menyanyikan lagu itu, maka ia kembali menyanyi seperti yang pertama, yang salah, dan sulit lagi untuk mengoreksi ke yang benar.

Perlu perjuangan lagi untuk mengingat lagi bagaimana menyanyi yang benar.

Inilah masalah “dekrit pertama” atau yang lebih diknela sebagai
“first-decree” (FD).

“Dekrit Pertama Pendidikan” merupakan hal yang sedemikian penting di dalam kita mendidik dan mengajar anak.

Namun, tema ini sangat sedikit dibicarakan dan dimengerti, khususnya oleh orangtua dan para insan pendidikan.

Bahkan ketika disebutkan, sedikit orangtua atau para pendidik yang mengerti apa yang dimaksud dengan “first decree” atau “dekrit pertama” pendidikan ini.

Seolah-olah hal ini bisa diabaikan begitu saja, dan tidak dipedulikan, karena adanya asumsi pendidikan bisa diproses sekehendak hati pendidik.

Apa itu First Decree (FD)?

First Decree adalah pengajaran pertama yang diterima oleh seorang (anak), yang tertanam, sehingga merupakan suatu konsep atau kebenaran asasi bagi dirinya.

Semakin kecil anak itu, semakin banyak FD yang dimasukkan kepadanya.

Saat itu begitu banyak kebenaran-kebenaran yang baru bagi dirinya, yang akhirnya membentuk paradigma kehidupannya.

Contoh mengajar menyanyi seperti di awal tulisan ini adalah contoh yang paling sering dialami seorang anak. Tetapi bukan hanya itu.

Jika seorang anak diberitahu bahwa warna hijau itu adalah biru dan warna biru adalah hijau, maka akan sulit untuk mengoreksi kesalahan konsep warna itu pada usia dewasa nanti.

Setiap kali diberitahu bahwa itu bukan hijau, tetapi biru, ia akan mengiyakan, tetapi tidak lama ia akan kembali lagi menyebut warna itu sebagai hijau.

Butuh perjuangan keras untuk betul-betul bisa berubah dan kembali kepada apa yang benar.

Pentingnya First Decree

Pertama-tama,
FD sangat berpengaruh pada seluruh kehidupan seseorang, karena akan membentuk paradigma hidupnya.

Banyak orang menganggap enteng FD, karena dianggap hal yang lumrah.

Orang salah menyanyi, bagi kebanyakan orang, dianggap bukan hal serius.

Apalagi di era postmodern seperti sekarang, maka relativitas dan semangat non-akurat menjadi ciri khas masyarakat pragmatis.

Manusia tidak mau berjuang untuk mencari kebenaran secara akurat, dan puas dengan apa yang ia anggap benar, walaupun itu tidak benar.

Akibatnya, ia sangat mudah tertipu, karena tidak terbiasa lagi untuk mencari hal-hal yang benar dan akurat.

Kedua,
yang juga sangat bermasalah, kesalahan-kesalahan FD seringkali menyangkut aspek yang cukup sentral dalam kehidupan, seperti problematika iman (believe) dan pendekatan (approach).

Dua aspek ini merupakan hal yang sangat serius.

Ketika anak-anak di sekolah diajarkan bahwa semua agama sama, tidak perlu dibeda-bedakan, maka ia akan bertumbuh menjadi seorang relativis dan humanis.

Ia tidak lagi melihat bahwa setiap agama itu unik, dan setiap agama pasti mengandung unsur klaim kemutlakkan sebagai kebenaran.

Maka tidak mungkin semua agama sama.

Di sini manusia sudah ditipu paradigmanya sejak kecil.

Akibatnya, ketika ada orang yang mengatakan, “kita harus betul-betul secara serius memilah dan memilih agama atau iman yang benar,” ia akan segera menentang dan menunjukkan sikap tidak suka.

Sangat sulit untuk merubah konsep dasar seperti ini.

Banyak sekali FD yang ditanamkan secara salah kepada seseorang, yang akhirnya membuat orang tersebut mudah sekali jatuh ke dalam dosa, atau mudah sekali tertipu oleh orang jahat, ataupun sangat sulit mengerti kebenaran Firman Tuhan.

Ketiga,
seperti telah disinggung di butir pertama dan kedua, kita segera bisa melihat bahwa FD begitu penting, karena bukan menyangkut satu permasalahan tunggal, tetapi akan mempengaruhi orang lain, karena

Seorang yang mendapatkan pendidikan yang salah di masa kecil, maka ia akan menganggap hal itu sebagai kebenaran, dan ia akan meyakinkan orang lain akan hal itu.

Seorang yang dari kecil dididik bahwa tidak ada Allah, maka ia akan berusaha meyakinkan orang lain, bahwa memang tidak ada Allah.

Hal ini terpaksa ia lakukan, karena ia tidak ingin apa yang ia yakini akhirnya terbukti salah.
Maka ia akan berusaha sekuat tenaga agar membuat semua orang setuju dengan pemahamannya, yang sebenarnya salah.

Bersambung

Penanaman First Decree Pada Anak

Setelah kita menyadari akan betapa pentingnya penanaman FD pada anak khususnya, maka kita perlu memikirkan beberapa hal di dalamnya.

  1. Masa kanak-kanak adalah masa yang sangat produktif untuk menangkap semua pengetahuan dan pengertian.

Konsep-konsep penting dalam kehidupan manusia dimulai dari masa kanak-kanak.

Di situlah seorang anak membangun seluruh paradigma hidupnya kelak.

Maka, para ahli setuju bahwa usia “balita” (di bawah lima tahun), merupakan waktu yang sangat krusial untuk menanamkan nilai-nilai pada anak.

Tetapi bukan sekadar nilai-nilai, iman Kristen melihat pentingnya menanamkan iman itu sendiri.

Iman yang sejati adalah basis kemutlakan yang sangat dibutuhkan oleh anak untuk menjadi kompas hidupnya.

Jika dasar imannya diletakkan pada dirinya sendiri, seumur hidup ia akan menghancurkan dirinya.

  1. Penanaman FD yang benar pada anak akan membangun keutuhan integritas hidupnya.

Hal ini sangat penting di dalam menggarap pertumbuhan anak yang sesuai dengan kebenaran Tuhan.

Kita percaya, jika seseorang dibangun dengan pemikiran yang pragmatis dan duniawi, maka di dalam dirinya ada suatu “faktor perusak” (defeating factor) yang akan meledakkan dirinya di suatu saat kelak dalam hidupnya.

Hidup yang terbangun di dalam kebenaran Firman akan membuat seluruh hidup akan terintegrasi secara baik.

Hidup sedemikian akan membangun moralitas dan kehidupan yang mulia di masa depan.

Alkitab mencatat bagaimana Musa dari kecil dididik oleh ibunya dengan Firman, maka ia tidak tergeser imannya ketika menjadi anak angkat puteri Firaun (Tong, 1991, hlm. 21).

Di dalam kehidupan bergereja, seorang anak yang terbangun dengan FD yang baik akan sangat mudah dipertumbuhkan, karena tidak mengalami konflik yang terlalu banyak di dalam dirinya.

Seorang anak yang dibangun dengan FD yang salah, akan mengalami konflik untuk dibawa kembali kebenaran, dan membutuhkan perjuangan berat untuk melakukan koreksi.

Inilah yang banyak dialami oleh setiap kita sebagai orang percaya, yang mendapatkan pengajaran atau penanaman FD yang salah di masa lalu.

  1. Seorang anak yang kita tanam dengan FD yang baik, akan sangat menghemat waktunya untuk bertumbuh.

Ada banyak waktu yang terbuang di dalam pertumbuhan seseorang ketika ia harus banyak sekali mengoreksi konsep-konsepnya yang salah.

Itupun terkadang masih harus berhadapan dengan banyak kendala, akibat kesulitan orang-orang yang mau mengoreksi atau menolong dia.

Peranan Orangtua dan Guru

Dua pemeran penting di dalam penanaman FD adalah orangtua dan guru.
Tuhan menyerahkan tugas tanggung jawab yang sangat berat kepada orangtua untuk menanamkan konsep-konsep kebenaran Firman Tuhan kepada anak-anak sejak usia dini.

Firman Tuhan di awal makalah ini mengajarkan bagiamana orangtua harus secara intens mengajarkan kebenaran firman kepada anak-anak.

Mereka harus mengerti kebenaran dari sejak dini.

Jika mereka diajarkan hal yang salah, akan sangat sulit dan dibutuhkan perjuangan yang sangat berat untuk mengoreksi kebenaran.

Sangat disayangkan saat ini, kedua peran penting ini begitu banyak diabaikan.

Banyak orangtua dengan tanpa rasa bersalah menyerahkan tugas penanaman FD kepada pembantu atau suster yang memelihara nakanya.

Ia tidak melihat bahwa penanaman FD akan berdampak seumur hidup, sementara sang pembantu suatu saat akan meninggalkan anak itu dan tidak pernah bertanggungjawab atas apa yang ia tanam.

Seorang filsuf dan pendidik yang luar biasa (Prof. Nicholas Wolterstroff, Ph.D., ed.) bersaksi,
…begitu indahnya penanaman pengalaman kehidupan Kristen di dalam keluarga yang begitu saleh, menjadi dasar kehidupan seseorang sepanjang hidupnya kemudian.”
(Wolterstroff, 2002, hlm. 10-11)

Demikian pula begitu banyak guru yang berpikir bahwa dia hanya seorang yang mencari sesuap nasi (dan semangkuk berlian—ed.), membagi pengetahuan yang ia tahu tanpa pertanggungjawaban bagaimana ia sedang menggarap satu pribadi manusia, yang nantinya akan membawa konsep itu seumur hidupnya.

Seolah-olah tugas guru hanyalah satu dari sekian banyak profesi yang lain.

Orangtua dan guru harus sungguh-sungguh menyadari bahwa tugas menanam FD yang baik dan benar merupakan tanggung jawab besar yang Tuhan percayakan kepada Anda.

Tugas ini begitu mulia karena membentuk paradigma, karakter, dan khususnya iman dari anak-anak yang Tuhan percayakan kepada kita.

Seorang guru sekolah minggu yang sungguh-sungguh mengasihi dan mendidik anak-anak dengan baik, sampai ia dicintai oleh anak-anak, pastilah ia tidak akan menjadi hamba Tuhan yang gagal (Tong, 1991, hlm 19).

Seorang guru yang baik, pastilah akan dikenang dan dihormati oleh murid-muridnya kelak.
Pdt. Dr. Stephen Tong menegaskan bahwa guru yang baik adalah yang dia sendiri telah menjadi murid kebenaran (Tong, 1993, hlm 69).

Penutup
Jika selama ini kita tidak peduli dengan First Decree, mungkin karena kurangnya pengetahuan dan pengertian akan pentingnya tugas ini, kiranya kini kita boleh lebih secara serius memikirkan dan mengaplikasikan di dalam pendidikan kita.

Jika selama ini kita tidak terlalu peduli akan pentingnya keakuratan akan kebenaran dan membiarkan semua pragmatis, kini kita perlu mulai memikirkan bahwa kebenaran harus dibedakan dari ketidakbenaran.

Kita harus menanamkan FD yang paling benar, yang akurat, yang sesuai dengan Firman Tuhan.

Seperti Pdt. Dr. Stephen Tong tegaskan, “kebenaran itu bukanlah pengetahuan, tetapi kekuatan” (Tong, 1993, hlm. 41).

Imanuel… ^^

GUammPANG, BRO !

Kalau bro penganut predestinasi ala calvin,… bilang begini pada anak bro :

“TENANG SAJA, NAK,… HIDUPMU SUDAH DIATUR… MAU MASUK SURGA KEK… MAU MASUK NERAKA KEK… KAMU JANGAN REPOT-REPOT MEMIKIRKANNYA,…JALANI SAJA HIDUPMU… JIKA KAU NANTI SUKA MABUK,… YAA NGGA APA-APA… TOH JIKA KAU SUDAH DIPILIH SELAMAT, MAKA KAU AKAN SELAMAT”

Gitu…

Cukup satu kata: ‘KASIH’

Bro John, canda sih boleh , tetapi setiap perkataan kita yang sia sia harus kita pertanggung jawabkan di hadapan Tuhan.

Apakah kamu dapat mempertanggung jawabkan itu, karena Predestinasi Allah berdasarkan Alkitab, berarti itu adalah Wahyu Allah yang tertinggi.

Mendingan seperti Bro Ladesman, KASIH.

Dari yang saya baca anda belum paham apa itu pre-destinasi.
Belajar lagi yaa

Kalo begitu bro menuju TKP di thread terkait ya… :smiley:

Nech contekannya:

Yang berkata seperti itu (yg saya bold biru) adalah :

John Calvin dan RITA RATINA (kecuali bro Petra tidak termasuk, karena meski dia plintat-plintut, tapi dia tidak mengatakan bahwa orang yg sudah dipilih, meskipun ia berdosa lagi, akan tetap masuk surga)

Jadi yg berkata seperti yg di bold biru adalah anda sis RITA, bukan saya.

Apakah predestinasi adalah wahyu TUHAN ???

BELUM TENTU!!

(kata si Calvin dan sis RITA dan Petra sih iya…)

JANGANNN!!!.. membawa-bawa TUHAN sebagai tameng…

Saya juga bisa berkata : “Sis RITA jangan melawan wahyu TUHAN, karena TUHAN berkata free will juga berperan dalam keselamatan manusia”

Argumentasi bergaya “scare tactics” seperti ini hanya bisa digunakan untuk mengelabuhi orang-orang tertentu, sis RITA…

Contoh biar jelas :

sis RITA : "Pak dosen, saya harus dapet nilai A dalam mata ujian ini,… nanti kita bicara lagi yaah,… sekarang saya mau ketemu bapak saya dulu, dia kan dekan di universitas ini "

Jadi jangan gunakan lagi !