Pertobatan Preecha Kongkitimanon

Preecha Kongkitimanon adalah seorang master Feng Shui Thailand yang telah belajar ilmu itu dari umur tujuh tahun. Ia bertobat justru melalui ilmu Feng Shui.

Saya lahir dan tumbuh dewasa di Chinese Sukhawadee Cemetery (Pemakaman Tionghoa Sukhawadee) di distrik Nong Khee, provinsi Saraburi selama 40 tahun. Pekuburan itu di bawah pengawasan Thailand's Poleng Chinese Association.
Leluhur saya berasal dari China daratan (bermarga Lim) dan menetap di Provinsi Chonburi. Sejak umur tujuh tahun, saya mulai belajar ilmu Feng Shui dan astrologi di bawah bimbingan beberapa guru yang melakukan upacara spiritual di pemakaman.
Saya memulai praktek bidang Feng Shui sejak saya berumur sepuluh tahun. Saya senang mengamati berbagai upacara Feng Shui, seperti berkomunikasi dengan roh-roh, mengusir roh jahat dan berkomunikasi dengan orang yang telah mati. Meskipun masih berusia dini, ketertarikan saya pada hal-hal itu sangat ekstrim. Saya menghapal metode-metode meramal serta berbagai prosedur upacara yang berkaitan dengan Feng Shui di tempat pemakaman dengan benar dan akurat.
Saat mempelajari ilmu Feng Shui, saya menyadari bahwa pengetahuan ini tidak hanya dapat diaplikasikan pada orang mati, tetapi juga bagi orang yang masih hidup.
Setelah belajar dan praktek ilmu Feng Shui sekian lama, saya memulai karier saya sebagai konsultan dan pemimpin Feng Shui pada usia 20 tahun. Saya menjadi konsultan Feng Shui dan ahli ramal yang terkenal; pelanggan saya berasal dari kalangan yang terkenal: politikus, pejabat tinggi Negara dan pengusaha. Bahkan ada konsultan Feng Shui kuburan di Thailand yang datang berkonsultasi kepada saya. Biaya konsultasi berkisar dari empat ribu Baht sampai ratusan ribu Baht, tergantung tingkat kesulitannya. Kebanyakan pelanggan datang pada hari Minggu dan hari libur, bisnis saya sangat bagus dan pemasukan saya juga demikian. Saya telah dikenal sebagai master Feng Shui. Hal ini memberikan kepada saya kesempatan untuk bekerja dengan banyak konsultan dan master Feng Shui yang terkenal dan excellent di Thailand dalam membangun berbagai kompleks pekuburan.
Pada tahun 1996, saya dipekerjakan oleh Gereja Saphan Luang untuk membangun dan merawat pemakaman milik gereja. Sementara bekerja untuk gereja sebagai kepada teknisi pemakaman, saya meneruskan bisnis konsultan Feng Shui.
Setiap kali bekerja di tempat pemakaman Kristen, saya tidak bisa menahan diri untuk bertanya, mengapa orang-orang Kristen tidak pernah memakai ilmu Feng Shui untuk menguburkan keluarga mereka, tetapi tampaknya mereka hidup bahagia. Sementara pemakaman yang telah dibangun berdasarkan Feng Shui tidak dapat memberikan kebahagiaan kepada keturunan orang yang telah meninggal, sehingga kuburan mereka harus dibongkar dan dikuburkan lagi. Alasannya adalah karena keturunannya tidak makmur baik kehidupan pribadi maupun bisnisnya.
Hal ini menimbulkan berbagai pertanyaan: mengapa keluarga orang-orang Kristen yang mati dan dikuburkan di luar pemakaman non-Feng Shui tampak bahagia dan makmur meskipun mereka kehilangan orang yang mereka kasihi? Lagipula upacara pemakaman mereka juga menarik: menyanyikan lagu-lagu dan khotbah, tidak terlalu serius dan format seperti orang-orang non-Kristen. Mereka juga tidak kelihatan terlalu sedih.
Pada saat itu, saya melakukan survey ke pemakaman gereja Saphan Luang dan memperhatikan bahwa pada kebanyakan batu nisan tertulis: "Yesus berkata, 'Akulah jalan, kebangkitan dan hidup. Barangsiapa percaya kepada-Ku akan hidup, sekalipun ia mati; dan barangsiapa yang hidup dan percaya kepada-Ku tidak akan mati", "Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan", dan "Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku".
Ketika membaca kalimat-kalimat itu, saya tidak mengerti makna dari kata-kata itu dan saya juga tidak tahu bahwa itu adalah ayat-ayat dari Alkitab. Saya menyimpan pertanyaan-pertanyaan itu dalam benak saya. Tak lama kemudian, saya menerima semua jawaban dan penjelasan tentang ayat-ayat tersebut dari pendeta Wiwat Wongsantichon dari gereja Saphan Luang.
Kemudian, saya berusaha untuk mencari kebenaran apakah ilmu Feng Shui benar-benar dapat memperkaya orang. Saya mulai mengamati bahwa orang-orang yang datang berkonsultasi ke ahli Feng Shui kebanyakan adalah orang-orang kaya, karena tarif yang dipasang sangatlah tinggu (jika gurunya terkenal).
Oleh karena itu, saya tidak merasa ragu bahwa tidak ada ahli Feng Shui yang dapat memperkaya orang (karena mereka yang datang untuk berkonsultasi semuanya sudah kaya). Alasan mengapa orang (yang sudah kaya) berkonsultasi ke ahli Feng Shui adalah karena mereka takut menjadi miskin atau berkeinginan untuk menjadi lebih kaya. Dan jika ahli-ahli Feng Shui dapat memperkaya orang-orang, mengapa mereka tidak dapat membuat keturunan dari orang tersebut (yang telah meninggal) menjadi kaya dan makmur? Sehingga mereka harus datang untuk konsultasi Feng Shui guna membantu mereka menggali dan memindahkan jenazah-jenazah ke situs pemakaman lain, dll.
Sejak saat itu, pikiran saya sangat berubah sehingga saya tidak ingin memberikan layanan Feng Shui kepada siapa pun lagi. Tetapi masih banyak orang yang datang pada saya untuk meminta bantuan dan saya hanya berusaha untuk menyenangkan mereka saja.
Tidak lama setelah itu, saya diminta untuk membangun proyek pemakaman Gereja Saphan Luang (provinsi Nakhom Pathom). Pada mulanya saya sangat terkejut melihat lokasi pemakaman yang terletak di antara rek kereta api (di bagian belakang) dan persimpangan tiga (di bagian depan), yang dianggap sangat buruk dan tidak berguna. Menurut prinsip ilmu Feng Shui, lokasi itu akan menyebabkan kesialan dan kemiskinan pada keturunan orang yang dikuburkan di tempat itu. Namun, setelah bekerja di sana selama satu minggu, saya memperhatikan bahwa banyak orang yang dikuburkan disana memiliki keturunan yang terkenal dan kaya dalam masyarakat Thailand.
Saya kemudian bertanya kepada banyak guru dan master Feng Shui, mengapa Feng Shui tidak berpengaruh pada orang-orang Kristen? Kebanyakan jawaban dari mereka yang merupakan ahli-ahli terkenal adalah, [b]"Karena mereka memiliki Tuhan!"[/b]
Dan kemudian ketika saya mempunyai kesempatan untuk menanyakannya pada salah satu guru paling terkenal di Thailand : mengapa orang-orang Kristen tidak tunduk pada pengaturan arah; memilih hari dan waktu yang menguntungkan; meramalkan hari, bulan, dan tahun kelahiran; atau menggunakan Feng Shui, tetapi mereka tetap baik-baik saja dan makmur; ia dengan segan memberitahu saya, [b]"Memiliki Allah telah cukup bagi mereka (orang Kristen)"[/b].
Jawabannya itu membuat saya bingung dan saya lalu berpikir, "Wah! Bagaimana dengan kita? Bagaimana dengan semua hal yang telah kita pelajari dan terapkan? Bagaimana dengan begitu banyak waktu yang kita gunakan untuk mempelajari dan memperoleh pengetahuan kita? Apa yang benar dan sejati - Feng Shui ataukah kekristenan?"
Semakin saya memikirkan hal ini, semakin saya ingin mengenal Allah orang-orang Kristen; namun saya masih belum memiliki kesempatan untuk mengenal-Nya karena saya tidak tahu harus dimulai dari mana! Saya tidak tahu bagaimana untuk mengenal Dia!
Saya merasa heran bahwa meskipun saya telah bekerja di pemakaman Gereja Saphan Luang selama 8 tahun, mengapa saya masih belum mengenal Allah. Selama waktu itu, kira-kira di pertengahan tahun 2005, saya menghadapi banyak sekali tantangan terutama dalam pekerjaan saya, begitu seriusnya sehingga saya ditembak oleh seorang pria tetapi saya dapat selamat dari penembakan itu.
Meskipun saya sudah mengetahu nasib saya bahwa saya akan menghadapi hal yang tidak menguntungkan pada suatu saat tertentu, saya tidak dapat berbuat apa-apa untuk mengubah nasib buruk saya ataupun membetulkan nasib saya. Saat saya sangat tertekan, tidak dapat menyelesaikan masalah-masalah saya, saya melakukan meditasi untuk mencari ketenangan guna menemukan solusi, tetapi tanpa hasil.
Kemudian saya mempunyai kesempatan untuk membaca sebuah buku berjudul "Kuasa Kehidupan" yang berisi kesaksian-kesaksian dari orang-orang Kristen terkenal di Thailand dari setiap lapisan masyarakat. Pada mulanya, saya tidak percaya apapun yang tertulis dalam buku itu.
Namun, karena saya seperti orang yang akan tenggelam, tidak memiliki jalan keluar dan tidak memiliki jawaban. Saya tidak memiliki pilihan kecuali mengambil buku itu dan membacanya, hingga saya menemukan kalimat, "....jika kita tidak mengakui dosa-dosa kita pada Allah, apa yang akan terjadi dengan kehidupan kita?"
Tiba-tiba saya menyadari bahwa saya adalah orang yang sangat berdosa karena kehidupan yang telah saya jalani dengan melakukan dosa-dosa besar yang menjijikan. Kemudian saya mengakui dosa-dosa yang telah saya lakukan dan berdoa kepada Allah, "Saya adalah seorang yang berdosa. Saya ingin minta kesempatan dari Engkau untuk menjadi orang yang baik dan menerima hidup yang baru." Setelah doa-doa itu, saya merasa terhibur secara spiritual dan mental.
Anggota komite pemakaman dari gereja selalu melakukan kunjungan kerja pada hari Sabtu terakhir dari tiap bulan. Pada waktu itu (Juli 2005), saya tidak sabar menantikan kunjungan mereka. Dan, hari itu saya menerima hadiah sebuah Alkitab (saya buat catatan di atasnya, "Diterima dari Pdt. Wirat Wongsantichon pada tanggal 30 Juli 2005"). Saya bertanya pada orang yang memberi Alkitab itu, mengapa ia memberi saya kado Alkitab, dan jawabannya adalah, "Saya tidak tahu!"
Sementara makan siang bersama dengan anggota komite saya berpikir, "Mengapa tak ada orang yang mengundang saya untuk pergi ke gereja?" Tidak lama setelah saya berpikir demikian, penatua Tawee Suwatpanit berkata kepada saya, "Preecha, Anda seharusnya pergi ke gereja sekali-kali." Saya langsung menjawab, saya akan ke gereja keesokan harinya.
Pagi, tanggal 31 juli, ditemani oleh putra saya, saya menyetir jarak jauh (kira-kira 250 km pulang-pergi) menuju ke sebuah gereja yang terletak di jalan Rama IV, Bangkok. Pada hari itu, untuk pertama kalinya saya mengalami dan melihat orang-orang Kristen menyembah Allah mereka. Saya memberitahu pada anak saya bahwa mulai dari saat itu kami harus dengan kuat memegang prinsip-prinsip kristiani dan mengabdi kepada Allah orang Kristen. Dan kami harus berani memberitahu pada orang lain bahwa kini kami adalah orang Kristen dan harus membaca Alkitab dengan teratur.
Setelah saya membuka hati dan jiwa saya untuk percaya, dan menyerahkan seluruh hidup saya kepada Allah, saya menerima baptisan air pada tahun 2006 (kemudian menyusul istri dan putri saya). Ketika itu sebuah mujizat terjadi. Ayah saya yang tidak tinggal bersama kami selama lebih dari 20 tahun, telah kembali dan tinggal bersama kami, membuat kami menjadi keluarga yang utuh.
Setelah saya mengikuti pelatihan di gereja tentang "Mengikut Kristus", saya mulai lebih memahami tentang kekristenan.
Tidak lama setelah itu, saya kembali dihubungi oleh para klien yang meminta saya untuk membantu mereka dalam hal Feng Shui. Setelah berkonsultasi dengan penatua Suwat, saya merasa lega dan bersemangat untuk bertemu dengan mereka guna memberitahu kepada mereka tentang Tuhan.
Namun, pada suatu hari saya juga pernah merasa sangat kuatir tentang bagaimana saya akan menghidupi diri sendiri dan keluarga saya jika saya berhenti menjadi konsultan Feng Shui? Pada malam itu saya membuka Alkitab dan menemukan ayat yang berbunyi, "Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku" (Mazmur 23:1). Ketika saya selesai merenungkan ayat itu, hati saya mulai menjadi kuat dan kemudian tak lama setelah itu saya mendapat proyek untuk membangun pemakaman Gereja Maitreechit dan Gereja Piamrak.
Sejak itu, kehidupan saya berubah. Saya memiliki kesempatan bukan saja untuk memproklamirkan Firman Tuhan kepada orang yang belum percaya (yang datang untuk konsultasi Feng Sui), saya juga mendorong orang-orang Kristen yang lemah (yang masih mempercayai Feng Shui) dengan cara meyakinkan mereka bahwa Allah kita adalah Maha Besar, oleh karena itu, saya, seorang ahli Feng Shui, telah berubah 180 derajat untuk menyembah Dia. Saya selalu menghimbau mereka, "Jangan menyerah, terus beriman kepada Allah!"
Jika Anda adalah anak-anak Allah, janganlah kuatir tentang hidup atau masa depan Anda. Feng Shu ataupun bintang-bintand di langit tidak berpengaruh atas Anda, karena Allah yang Maha Kuasa telah mengarahkan dan memimpin kehidupan Anda. Dia adalah tuan atas kehidupan Anda. Karena, "Sesungguhnya aku tahu, bahwa TUHAN itu maha besar dan Tuhan kita itu melebihih segala allah." (Mazmur 133:5)

i[/i]

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28)

Compiled by Vachiravan Vanlaeiad

Kesaksian yang baik dan menjadi berkat buat saya, terimakasih yah :slight_smile:

Salam

Saya juga diberkati oleh kesaksian ini, sama-sama :slight_smile:

GBUs