Pertobatan vs Keselamatan ( Tinjauan Kasus Babtisan )

Melihat hangat nya diskusi tentang “Babtisan Bayi atau Babtisan Kanak2”, saya tertarik sekali untuk meluruskan permasalahan ini, sebab menurut saya telah terjadi “Kesimpang Siuran” dalam berargumentasi terhadap permasalahan tersebut.

Sebelum berbicara tentang “Babtisan”, maka kita dibawa pada permasalahan : Apakah Babtisan itu ?

Babtisan berdasarkan makna hurufiahnya adalah : Diselamkan atau dicelupkan kedalam Air, dimana hal ini menjadi suatu “Tradisi Suci”, sejak Kristen mula2 hingga saat ini, namun oleh sebagian dari Kristen saat ini, telah merubah “Tradisi Suci” tersebut, dari Diselamkan menjadi di percik.

Nah … dalam hal topik yang saya angkat disini, saya tidak mempermasalahkan perihal “Tradisi Suci” tersebut, sebab menurut saya, bukan Tradisi yang menyelamatkan manusia, tetapi Iman Percaya, artinya : Bukan Air yang menyelamatkan manusia, tetapi sekali lagi Iman Percaya.

Nah … berdasarkan Iman Percaya inilah, maka dalam topik ini saya angkat permasalahan diatas, yaitu : Pertobatan vs Keselamatan.

Berdasarkan Kitab Matius 3 ayat 11, dinyatakan sbb :

" Aku membabtis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari pada ku lebih berkuasa dari pada ku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membabtis kamu dengan Roh Kudus dan dengan Api".

Dari Matius 3 ayat 11 tersebut diatas, dapat kita tarik beberapa hal, yaitu :

1). Babtisan adalah Tanda pertobatan.
2). Babtisan adalah Tanda Keselamatan ( membabtis kamu dengan Roh Kudus ).

ad.1. Babtisan adalah Tanda Pertobatan.

Babtisan sebagai Tanda pertobatan, mengandung makna, bahwa : Hanya orang2 yang telah bertobat ( Mengaku Percaya ) yang dapat dibabtis, sehingga setiap orang yang “belum atau tidak percaya”, tidak dapat dibabtis.

Pemahan ini adalah benar dan sering sekali dipakai sebagai Argument untuk menentang Babtisan Bayi atau Babtisan kanak2, saya katakan “Benar”, sesuai dengan Matius 3 ayat 11 tersebut, jika Babtisan didasarkan sebagai “Tanda Pertobatan”.

ad. 2. Babtisan adalah Tanda Keselamatan.

Sebaliknya, bagaimana jika Babtisan tersebut, jika dipandang sebagai “Tanda Keselamatan”?

Keselamatan adalah Anugerah yang terpencar, yang didasarkan pada Ajaran : “Karena Ketaatan Satu orang manusialah, maka semua manusia itu dapat diselamatkan”.

Nah … berdasarkan Ajaran ini, maka timbul pertanyaan, yaitu : Apakah Manusia dan keturunan manusia yang telah diselamatkan tersebut, tidak boleh Dibabtis ?

Ada satu kisah dalam Kitab Injil yang mengatakan, Apakah kita tidak boleh membabtis mereka dengan Air, sementara mereka telah menerima Karunia Roh Kudus ? Artinya : pada kisah ini dinyatakan dengan tegas, bahwa setiap orang yang telah diselamatkan, maka “Harus” dibabtis.

Nah … berbicara tentang keselamatan yang adalah Anugerah terpencar, maka dapat kita lihat contohnya pada Ayat2 dibawah ini, yaitu :

1). Matius 8 ayat 13.
2). Matius 9 ayat 18.
3). Matius 17 ayat 15
4). Markus 9 ayat 24.
5). Lukas 8 ayat 50.
6). Dan lain sebagainya.

Dari contoh pada ayat2 tersebut diatas, memperlihatkan dengan jelas dan tegas kepada kita semua, bahwa : Orang-Orang lain atau Pihak Ke-tiga dapat diselamatkan, dimana keselamatan yang mereka peroleh, bukan karena kepercayaan ataupun pertobatan mereka, tetapi karena Iman Percaya kita yang dapat menyelamatkan mereka ==> Inilah maksut Keselamatan adalah Anugerah yang terpencar.

Nah … Hubungannya dengan Babtisan adalah : Jika seseorang telah diselamatkan dan keselamatan yang dimiliki oleh orang tersebut, dapat meliputi ataupun memencar pada orang lain atau pada pihak ketiga, maka artinya : orang lain tersebut juga telah diselamatkan. Nah … orang yang telah diselamatkan ini, sebagai akibat dari Penceran orang yang telah diselamatkan sebelumnya, apakah Tidak layak untuk dibabtis ? Sama seperti contoh diatas yang dialami oleh Rasul langsung.

Jadi, berdasarkan makna, bahwa Babtisan adalah : Sebagai Tanda Pertobatan dan juga Sebagai Tanda Keselamatan, maka berdasarkan hal tersebut, anak2 dari setiap orang yang telah “Diselamatkan”, harus dibabtis, bukan Sebagai Tanda Pertobatan, tetapi Sebagai Tanda Keselamatan.

Sebaliknya, jika anak2 yang terlahir dari mereka yang telah “Diselamatkan” tidak dibabtis sebagai Tanda Keselamatan, maka hal ini membuktikan, bahwa Orang yang telah mengaku "Diselamatkan" tersebut, pada dasarnya Belum Diselamatkan, sebab jika orang tersebut telah “Diselamatkan”, maka orang tersebut “Harus” dapat mempercayai, bahwa keselamatan yang diperolehnya dapat “Memencar” kepada anak2 nya.

Sebaliknya, Alkitab Sejak Pembabtisan YESUS tidak pernah “Mengajarkan”, bahwa “Penyerahan Anak” dapat dilakukan "Sebagai Tanda Keselematan". Sebab Ajaran Penyerahan Anak adalah bagian dari Ajaran Jahudi yang diikuti oleh Bunda YESUS, sebelum YESUS dibabtis oleh Yohanes.

Tetapi Sejak Pembabtisan YESUS, maka kita orang2 percaya “Harus” mengikuti Ajaran YESUS, dimana Babtisan dilakukan untuk tujuan :

1). Sebagai Tanda Pertobatan ( Dinyatakan dengan Air )
2). Sebagai Tanda Keselamatan ( Dinyatakan dengan Roh Kudus )

Semoga penjelasan ini dapat membawa wacana baru bagi kita untuk melihat Kebenaran Injil dan Kiranya Kasih Karunia dari Tuhan YESUS, menyertai saudara semua.

Baptisan Roh adalah tanda keslamatan? Ayatnya dimana ya?

Saudara ku, ayat nya ada pada Matius 3 ayat 11 itu sendiri, dimana hal ini adalah sesuai, bahwa : Roh Kudus itu adalah Jaminan Keselamatan., sehingga perkataan dalam Matius 3 ayat 11, yang menyatakan : …Ia akan membabtiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan Api…, menyatakan : Babtisan sebagai Tanda keselamatan. ==> Yang perlu dilihat dengan teliti dalam Ayat ini adalah, sbb :

1). Ayat ini berbicara tentang Babtisan.
2). Ayat ini berbicara, bahwa Babtisan tersebut adalah Tanda.
3). Ayat ini berbicara, bahwa Babtisan itu sebagai Tanda Pertobatan ( Dinyatakan dengan Air )
4). Ayat ini berbicara, bahwa Babtisan itu juga sebagai Tanda Keselematan ( Dinyatakan dengan Roh Kudus ).

Salam Kasih dalam Damai.

Lho… Saya bener ga ngerti dimana letak arti TANDA KESLAMATAN. Memang baptisan air dituliskan di ayat itu sebagai tanda pertobatan. Tapi klo tanda keslamatan kok saya ragu ya? Memang maksudnya tanda keslamatan itu apa?

Yup!!
Krn Baptisan itu sbg proklamasi iman… ada satu orang yang menerima keselamatan :afro:

Sebenarnya selama hidup, orang boleh dibaptis berapa kali?

Baptisan air, baptisan Roh Kudus , baptisan api

Mt 3:11 Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.

Kalo sewaktu baptis di gereja itu baptis apa namanya?

Syalom,
Jika kita, setiap orang yg mengaku sebagai kristen atau lebih jelasnya “pengikut Kristus” mau benar-benar menjaga Kesatuan Jemaat seperti yang dijelaskan Rasul Paulus (menurut ilham Roh tentunya) dalam kitab Efesus 4:3-4, maka niscaya kesimpangsiuran ini tidak akan terjadi, dan kita semua akan dibaptis dalam baptisan yang sama semua.
Namun ketidaksamaan ini semua memang harus terjadi supaya genap firman ini: “sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Sorga diserong dan orang yang menyerongnya mencoba menguasainya”(Mat 11:12). Demikianlah sekarang orang telah menyerong “baptisan air” yang dulunya diajarkan dan dilakukan oleh Yohanes pembaptis dari selam ke percik.
Baptisan yang bukan hanya sekedar “tradisi” (adat istiadat nenek moyang) melainkan lebih dari itu adalah suatu prosesi sakral yang sangat penting dalam Alkitab, yang sangking pentingnya dikatakan: “menggenapkan seluruh kehendak Allah” (Mat 3:15) telah diubah oleh manusia karena mereka lebih memilih bersandar pada pengertian mereka sendiri dan tidak mau lagi bersandar pada Firman Allah yang tertulis dalam Alkitab.

Alkitab telah jelas-jelas menjelaskan bahwa baptisan adalah syarat untuk memperoleh keselamatan dari Kristus Yesus orang Nazaret itu, sebagaimana ada tertulis:
"…DIA telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, TETAPI OLEH RAHMAT-NYA OLEH PERMANDIAN KEMBALI (baptisan air) dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus (Setelah orang menerima baptisan Roh Kudus baru ia menjadi manusia baru, manusia Rohani -1 Sam 10:6-). Inipun telah dengan tegas dijelaskan Yesus dengan perkataan ini: “AKU berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh (baptisan air dan Baptisan Roh Kudus) ia tidak dapat masuk dalam kerajaan Allah”(Yoh 3:5).
Jika Allah sendiri dalam wujud Yesus Kristus telah menyatakan dengan tegas bahwa baptisan itu adalah syarat “keselamatan” (maksudnya: “masuk surga”, bukan “kesembuhan”), masakan kita mau menyepelehkan perihal baptisan dalam hal keselamatan?

Mengenai “ketaatan Satu Orang yang membuat semua orang menjadi benar”(Rom 5:19) ini adalah berbicara mengenai ketaatan Yesus Kristus (Rom 5:17). Dan mengenai ayat itu lebih dijelaskan dalam ayat ini: “dan sekalipun IA adalah Anak, IA telah menjadi taat dari apa yang diderita-Nya, dan sesudah IA mencapai kesempurnaan-Nya, IA menjadi pokok keselamatan bagi SEMUA ORANG YANG TAAT KEPADA-NYA,”(Ibr 5:8-9), dalam hal ini juga sama dengan teladan ketaatan-Nya dalam mengambil bagian dalam pembaptisan yang benar.
Jadi kita lihat, perkataan “semua orang yang dibenarkan” ditujukan kepada Semua orang yang taat kepada DIA.
Pertimbangkanlah sendiri, apakah jika anda diajarkan-Nya untuk melakukan baptisan selam namun karena anda memandang baptisan itu tidak penting anda lalu mengubahnya menjadi percik, maka anda adalah seorang yang taat???

Dikatakan juga bahwa iman yang menyelamatkan kita. Betul!!!
Tapi harus kita ingat, dalam Yakobus 2:19-20, dengan tegas dikatakan bahwa iman itu akan diakui ALLAH jika disertai perbuatan (yang menuruti kehendak ALLAH tentunya), pertanyaanya, sudahkah anda bebuat baptisan yang menurut kehendak ALLAH???

Jadi saran saya, marilah kita semua melihat kembali alkitab kita (jika sama), dan perhatikan baik2 bagaimana syarat-syarat dan teknis pembaptisan yang benar-benar berdasarkan Alkitab kita, sebab: “siapakah yang telah IA sumpahi, bahwa mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Nya? Bukankah mereka yang tidak taat?”(Ibr 3:18). Ingatlah bagaimana banyak contoh murka ALLAH yang menimpa orang-orang yang memandang remeh Perintah dan Ajaran-Nya.

Untuk baptisan kepada bayi, pun demikian, silahkan anda selidiki kembali tata cara dan syarat pembatisan yang diajarkan ALKITAB, apakah ada disana diajarkan?
Dan bagi saya, sebagaimana tulisan2 saya yang terdahulu, sampai sekarang dan selama-lamnya, saya tidak mengimani bayi boleh dibaptis.

Tuhan Yesus memberkati

Upss harap hati2 mengenai hal ini.

Dengan apakah manusia diselamatkan ?

Bandingkan 2 kelompok ayat ini:

Yohanes 3:5 Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.
Mrk. 16:16 Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.

Dengan

Luk. 8:48 Maka kata-Nya kepada perempuan itu: “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!”
Yoh. 10:9 Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.
Yohanes 3:16 setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Jadi ada ayat yang mengatakan :

Percaya dan dibaptis = Selamat

ada ayat yang mengatakan :

Percaya = Selamat

Jadi kalau kita memahami Kitab Suci secara keseluruhan, kita paham bahwa Keselamatan adalah karena —> Percaya.

Orang yang percaya dan dibaptis selamat,
Orang yang percaya namun belum sempat dibaptis ? juga selamat, contohnya Penjahat yang dipaku disamping Yesus.

inilah pentingnya memahami Kitab Suci secara menyeluruh.

Mengenai Iman dan Perbuatan, sudah kita bahas di topik yang lain, tapi intinya :

Iman yang sejati menghasilkan Keselamatan DAN Perbuatan baik.

Salam.

Saudara Ku, Kitab Perjanjian baru mencatat, bahwa : “Roh Kudus adalah Jaminan Keselamatan”, nah … berdasarkan Fakta Alkitab tersebut, maka "Jaminan Keselamatan itu" adalah “Tanda atau Bukti” bagi seseorang, bahwa seseorang itu telah “Diselamatkan”.

Nah … sekarang kita kembali pada Matius 3 ayat 11, dimana Ayat tersebut jika kita Ringkas, akan berbunyi demikian : …Aku membabtis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan …Ia akan membabtis kamu dengan Roh Kudus dan dengan Api …

Dari Matius 3 ayat 11 tersebut, seperti pada penjelasan saya sebelumnya, mengandung 2 Unsur permasalahan Pembabtisan, yaitu :

1). Pembabtisan sebagai Tanda Pertobatan. ==> ( Dinyatakan dalam Ayat tersebut dengan Air )
2). Pembabtisan sebagai Tanda Keselamatan ==> ( Dinyatakan dalam Ayat tersebut dengan Roh Kudus dan Api ) ==> Mengapa hal ini dinyatakan sebagai Tanda Keselamatan, anda dapat lihat penjelasan saya diatas, sebab Roh Kudus adalah “Bukti dan Tanda”, bahwa seseorang itu telah Diselamatkan, sebab Roh Kudus itu adalah “Jaminan Keselamatan”.

Nah … Hubungannya permasalahan diatas dengan “Babtisan Bayi atau Babtisan Kanak2”, adalah : Orang tua yang telah bertobat dan telah dibabtis, “Diyakini” bahwa orang tua tersebut telah “Diselamatkan”, sehingga “Keselamatan” Orang tua tersebut akan memancar kepada Anak-Anak ataupun Keturunannya.==> Nah … Pancaran dari Keselamatan yang telah dimiliki oleh Orang Tua inilah, yang menjadi dasar bagi : “Pembabtisan Bayi ataupun Pembabtisan pada masa kanak2”, sehingga Bayi ataupun Kanak2 dari Orang yang telah diselamatkan, “HARUS” dibabtis, bukan Babtisan sebagai “Tanda Pertobatan”, tetapi Babtisan sebagai “Tanda Keselamatan”, artinya : Babtisan terhadap Bayi ataupun kanak2 itu, dilakukan atas dasar Pancaran Keselamatan yang telah dimiliki oleh orang tuanya, sesuai dengan apa yang terkandung dalam Kitab Matius 3 ayat 11 tersebut diatas.

Nah … dari penelitian saya terhadap beberapa Denom Protestan yang mengaku sebagai Aliran Kharismatis ataupun Aliran Roh Kudus, yang “Tidak membabtis anak2nya”, adalah : satu hal yang “SANGAT DISESALKAN”, sebab Keselamatan yang telah dimiliki oleh orang tuanya tersebut, "TIDAK DIPANCARKAN" pada anak2nya, sehingga timbul pertanyaan besar, yaitu : Apakah Anak2 mereka akan diselamatkan oleh Allah, jika anak2 mereka tersebut mengalami kematian sebelum pembabtisannya, sebab Anak2 mereka tersebut belum memperoleh TANDA KESELAMATAN ?

Saudaraku, Pengajaran “Penyerahan Anak”, sebagai “Ganti” pengajaran Pembabtisan sebagai Tanda Keselamatan, menurut pendapat saya, "TIDAK ALKITABIAH", sebab pengajaran “Penyerahan Anak”, tidak berdasarkan Ajaran Firman Allah, melainkan berdasarkan Ajaran Tradisi dari Bangsa Jahudi.

Nah, semoga penjelasan ini dapat memberikan "WACANA BARU" bagi kita semua, untuk melihat “MAKNA BABTISAN”, yaitu : Pembabtisan yang dilakukan sebagai Tanda Pertobatan dan Pembabtisan yang dilakukan sebagai Tanda Keselamatan.

Salam Kasih dalam Damai.

Saya sangat setuju sekali terhadap penjelasan anda, sebab “BUKAN BABTISAN” yang menyelamatkan manusia, tetapi Iman Percaya, sebab Babtisan itu “Hanyalah Tanda”, bahwa seseorang itu telah diselamatkan.

Nah … Apakah Tanda itu yang menyelamatkan kita, saya pikir tidak, tetapi Iman Percaya kitalah yang akan menyelamatkan kita.

Salam Kasih dalam Damai.

Saudara ku, saudara mengutip Kitab Matius 11 ayat 12, dan menghubungkannya dengan permasalahan Babtisan. Menurut saya, pendapat anda tersebut sangat naif, sebab Kitab Matius 11 ayat 12, tidak berbicara tentang permasalahan “Pembabtisan”, tetapi Kitab Matius 11 ayat 12 tersebut, berbicara hal yang lebih besar dari apa yang saudara perkirakan, dimana Kitab Matius 11 ayat 12 ini, sangat “ERAT SEKALI BERHUBUNGAN” dengan “Kekeliruan Ajaran Tritunggal”.

Karena saudara telah menyinggung Kitab Matius 11 ayat 12 tersebut, baiklah akan saya angkat permasalahan ini dalam Topik yang terpisah, supaya pada topik ini, kita tetap fokus pada permasalahn Pembabtisan.

Salam Kasih dalam Damai.

Bro Jesuit: mungkin ini memang ketidakmengertian saya. Tapi dalam pengajaran yang saya trima, tanda dari baptisan Roh adalah bahasa lidah untuk pertama kalinya. Dan ini (menurut saya) bukanlah tanda Keslamatan. Jika seseorang dibaptis RK trus setelah itu tidak mengerjakan keslamatan (melayani, memiliki hub pribadi dengan Tuhan dll), maka kehidupan rohaninya akan biasa2 saja. Hal ini berkaitan dengan pengajaran Tabernakel yang saya trima. Mungkin hal ini berbeda2 di denominasi2 gereja lain. Gbu.

Sungguh baik sekali kalau sdr Charity mau belajar dari berbagai sumber, terutama dari Kitab Suci langsung, mengenai Roh Kudus yang sebenarnya.

Kita semua disini bisa salah koq, dan antar saudara saling mengingatkan dan meneguhkan.

Salam.

Syalom saudara jesuit yang ter kasih,
Maaf kalau menurut anda saya keliru, tapi menurut saya, saya juga punya pemahaman tersendiri mengenai ayat Matius 11:12, sebenarnya saya tidak sedang mengatakan bahwa ayat itu hanya berbicara tentang baptisan, saya hanya menunjukkan bahwa penyerongan tatacara baptisan termasuk dalam lingkup ayat itu, sebab menurut pemahaman kami, ayat itu berbicara tentang segala penyerongan ajaran tentang kerajaan ALLAH termasuk baptisan, karena baptisan Yohanes itupun datangnya dari Sorga.
Okelah, untuk lebih jelasnya,saya ingin menyampaikan pemahaman kami bahwa kesimpangsiuran ini semua terjadi karena banyak orang yang tidak memahami injil dan tidak teguh imannya, telah memutarbalikkan makna tulisan2 alkitab sehingga menjadi tanda kebinasaan seperti yang disampaikan dalam kitab 2 Petrus 3:16.
Tapi kalo anda berpandangan lain, saya tetap menghargai anda walaupun saya tidak mengamini pendapat anda.

Tuhan memberkati

baptisan yohanes adalah baptisan [tanda] pertobatan

demikian juga baptisan para murid [sebelum kematian dan kebangkitan Yesus] adalah baptisan pertobatan.

why?

sebab keselamatan itu belum dinyatakan sebelum kematian dan kebangkitan Yesus : maka dalam hal ini, baptisan dalam nama Tritunggal yang Esa, dimandatkan setelah kebangkitan dan sebelum terangkat ke sorga.

keselamatan memang identik dengan Roh Kudus, sebab Roh Kudus itulah Roh yang menhidupkan [Hayat] – yang tinggal dalam hidup setiap orang percaya.

soal baptisan Roh itu apakah sama dengan kepenuhan Roh yang identik dengan karunia2 Roh, atau Roh Kudus bisa keluar masuk [kehilangan keselamatan] – memang masih sering diperdebatkan.

bahasa lidah bukanlah tanda utama, tetapi lebih kepada tanda yang mayoritas ada/muncul.

salam

Nah … disinilah perbedaan pemahaman kita, yaitu : pada Aliran Roh Kudus ataupun Aliran Kharismatis, melihat Pengurapan Roh Kudus itu sebagai Tanda dari Babtisan Roh Kudus, sementara saya melihat Pengurapan Roh Kudus itu sebagai suatu : Kegerakan Roh Allah, artinya : Pengurapan Roh Kudus tersebut, bukan sebagai suatu Tanda atau Simbol, tetapi benar2 sebagai sesuatu yang terjadi, sebagai akibat realisasi dari Kegerakan Roh Allah pada saat itu.

Mari kita lihat perbedaan pemahaman ini ? Jika Pengurapan Roh Kudus tersebut adalah tanda dari Babtisan Roh Kudus, yang merupakan “BUKTI” atau "JAMINAN" dari Keselamatan, maka pada saat Pengurapan Roh Kudus itu berakhir, maka artinya : Bukti atau Jaminan Keselamatan itupun menjadi hilang atau berakhir, dimana jika kita memiliki pemahaman yang demikian, terhadap makna Pembabtisan Roh Kudus, maka arti nya adalah : Keselamatan itu dapat datang dan pergi, dengan berulang-ulang. Saya pikir, anda juga pasti tidak setuju terhadap pemahaman ini, sebab Keselamatan itu diberikan Allah adalah : Sekali dalam setiap Hidup manusia.

Jadi, Pengurapan Roh Kudus “Bukanlah sebagai Tanda Pembabtisan Roh Kudus”, melainkan Pengurapan Roh Kudus adalah : Realisasi dari Kegerakan Roh Allah pada setiap orang yang percaya, dimana Realisasi dari Kegerakan Roh Allah ini, dapat menghasilkan macam-macam perbuatan Ajaib, seperti : Bahasa Roh atau Bahasa Lidah, Mukjizat, Bernubuat, Penglihatan dan lain sebagainya. Nah … karena Pengurapan Roh Kudus adalah Realisasi dari Kegerakan Roh Allah, maka Kegerakan Roh Allah tersebut dapat berakhir, atau tidak dialami orang itu lagi, Jika orang tersebut tidak memelihara Kegerakan Roh Allah tersebut, dengan berbuat Kasih, sebab jika Orang tersebut tidak memelihara Kegerakan Roh Allah itu dengan berbuat Kasih, maka pada akhirnya Roh Allah itu akan meninggalkan orang tersebut.

Sementara Babtisan yang dilakukan terhadap Bayi ataupun kanak2, sebagai tanda keselamatan adalah Realisasi dari buah pertobatan yang dilakukan oleh Orang tuanya, dimana buah pertobatan tersebut telah membawa orang tuanya pada keselamatan dan memancarkan keselamatan itu pada diri anaknya. Inilah yang dimaksutkan dengan Babtisan Roh Kudus sebagai Tanda Keselamtan pada Matius 3 ayat 11.

Nah … berbeda dengan Pengurapan Roh Kudus, maka Babtisan Roh Kudus sebagai Tanda Keselamatan, diberikan kepada setiap manusia sekali dalam hidupnya, dimana hal ini adalah sama dengan Babtisan sebagai Tanda pertobatan yang juga diberikan kepada manusia sekali dalam hidupnya. Tetapi sebaliknya, Pengurapan Roh Kudus yang adalah realisasi dari Kegerakan Roh Allah, dapat dialami oleh Manusia berulang-ulang kali. Itulah sebabnya, pada peristiwa yang dialami oleh Kornelius, Petrus menegaskan, bahwa Kornelius Harus dibabtis.

Nah … dalam peristiwa Kornelius ini, timbul pertanyaan besar, yaitu : Apakah Pembabtisan yang dilakukan oleh Petrus terhadap Kornelius adalah Pembabtisan sebagai Tanda Pertobatan ataukah Pembabtisan itu dilakukan sebagai Tanda Keselamatan ?

Lihat !!! Kornelius sebelum dibabtis dengan Air, terlebih dahulu Kornelius telah mengalami Pengurapan Roh Kudus, sehingga Pembabtisan Air terhadap Kornelius yang dilakukan oleh Petrus, bukan lah Pembabtisan sebagai Tanda Pertobatan, tetapi Pembabtisan sebagai Tanda Keselamatan. Sebab adalah sesuatu hal yang mustahil, Kornelius dapat mengalami Kegerakan Roh Allah atau pengurapan Roh Kudus, jika Kornelius belum bertobat. Nah … karena Kornelius pada akhirnya dibabtis dengan Air oleh Petrus sebagai Tanda Keselematan, maka Kornelius tidak lagi memerlukan pembabtisan Air sebagai Tanda pertobatan.

Dimana kita dapat melihat bukti pertobatan Kornelius ? Kita dapat melihat bukti pertobatan Kornelius adalah : pada saat Kornelius mendapatkan Pengurapan Roh Kudus atau Pada saat Kornelius mengalami Realisasi dari Kegerakan Roh Allah. Nah … jika Pengurapan Roh Kudus tersebut, dinyatakan sebagai Pembabtisan Roh Kudus, maka sudah pasti Petrus tidak akan berani untuk melakukan pembabtisan dengan air sebagai tanda pertobatan kepada Kornelius, tetapi karena Petrus melihat bahwa : Pengurapan Roh Kudus tersebut adalah Realisasi dari Kegerakan Roh Allah, sebagai Bukti dari Keselamatan yang telah diperoleh oleh Kornelius dari hasil buah Pertobatannya ataupun Kepercayaannya pada Yesus, maka Petrus berani untuk membabtis Kornelius dengan Air, sebagai Tanda Keselamatan.

Demikian juga halnya terhadap Bayi, dimana orang tua yang telah dibabtis dengan Air sebagai Tanda Pertobatan tersebut, dipercaya dan diyakini, bahwa : Pertobatannya telah membuahkan keselamatan, sehingga dengan keselamatan yang diperolehnya tersebut, dipancarkan lah kepada bayi atau anak2nya, dengan memberikan bayi atau anak2 nya untuk dibabtis dengan Babtisan Air, sebagai Tanda Keselamatan.

Jadi Saudara ku, berdasarkan apa yang telah saya jelaskan panjang lebar, dapat ditarik suatu kesimpulan, yaitu : demi keselamatan anak dan keturunan kita, maka anak2 dan keturunan kita, harus dibabtis dengan air sebagai Tanda Keselamatan dan bukan dibabtis sebagai Tanda Pertobatan. Dimana jika anak2 tersebut telah menjadi dewasa, maka anak2 tersebut tidak perlu lagi dibabtis dengan air sebagai tanda pertobatan, sebab dia telah dibabtis dengan air sebagai tanda keselamatan.

Salam Kasih dalam Damai.

Syalom,
Mengenai seorang penjahat yang dipaku di samping Tuhan Yesus, saya berpandangan bahwa yang bersangkutan juga sudah pernah dibaptis, dan dia juga sudah mengenal Yesus (ada pengakuannya), namun ia jatuh lagi ke dalam dosa, tapi karena Tuhan Yesus itu setia dan adil(1 Yoh 1:9), maka IA mengampuninya.
Kalau ditanya dimana ayatnya yang mengatakan orang itu dibaptis, Matius 3:5-6 yang menjawabnya, karena itu penjahat adalah orang yang berdomisili di sekitar Yerusalem, maka menurut pandangan kami dia termasuk penduduk dari Yerusalem, seluruh Yudea dan sekitar Yordan yang datang kepada Yohanes Pembaptis dan SAMBIL MENGAKU DOSANYA, pernah dibaptis.

GOD BLESS