Perumpamaan tentang anak yang hilang.

Saya kemukakan Topik: Perumpamaan tentang anak yang hilang,

Sebab ada kemungkinan perumpamaan ini diberikan oleh Tuhan untuk memperjelas masalah yang ada di topik:

Apakah keselamatan yang sudah kita dapat bisa hilang.

Persamaannya ada, yaitu kita setelah mendapat kasih karunia, berarti kita sudah resmi sebagai anak Bapa di Sorga, sehingga kita berhak memanggil Ya, Abba, Ya Bapa.

Pertanyaan: Dapatkah kita kehilangan status yang sudah kita dapat sebagai anak Allah ?

Mohon ditanggapi dan dibahas bersama.

janji keselamatan yang diberikan Tuhan Yesus adalah sesuatu yang tetap dan pasti, namun pemenuhannya tergantung dari manusia itu sendiri. Sebab dosa berat memisahkan manusia dari Allah, memerampasnya dari kehidupan kekal.

Betul sebab kasih karunia yang sudah diberikan kepada kita, yang berarti Roh Kudus yang sudah berada ditubuh kita, adalah saksi dan jaminan akan kebangkitan kita yang akan datang.

Apa yang anda maksud dengan dosa berat ?
Dapatkah anda memberi contohnya ?

Apakah anak yang bungsu itu melakukan kejahatan berupa dosa, lalu diusir keluar rumah oleh Bapanya,
dan kehilangan statusnya sebagai anak ?

[email protected] Sam…

Perumpamaan tentang anak yang hilang adalah merupakan konsep tentang Pertobatan…Yang mana tadinya asal-muaslnya adalah manusia baik-baik , tetapi karena suatu hal ( kelipahan materi ) maka manusia tsb telah melakukan perbuatan- perbuatan yang tidak berkenan / dilarang oleh Allah, yang akibatnya si manusia tsb mengalami suatu kesengsaraan secara jasmani dan rohani…Yang akhirnya dia sendiri tidak sanggup lagi menjalani kesengsaraan tsb, sehinggga di sadar untuk kembali kepada jalan yang benar, yaitu bertobat, yang mana tindakan tsb diawali dng kembalinya simanusia tsb kepada Bapanya. Dan Bapanya pun menerimanya dng tangan terbuka tanpa tidak mempermasalahkan apapun juga yang telah diperbuat anaknya tsb.

Jadi poinya disini adalah Dalam konteks Pertobatan …?? yang merupakan pokok utama masalahnya adalah harus adanya andil / potensi dari si manusianya untuk datang dng sukarela dan tanpa paksaan kepada Bapanya…Karena memang BAPANYA SUDAH MENUNGGUNYA DNG SETIA DAN PENUH KASIH…

Nah…jIKA SIMANUSIANYA TIDAK MEMILIKI KESADARAN UNTUK BERTOBAT…??? Artinya dia secara sadar tidak mau mengahmpiri Bapanya…Dan akhirnya bisa fatal…menjadi nyata nanatinya bahwa keselamatannya yang dimilikinya bis hilang…karena ulah simanusianya sendiri…bukan sebab lain…tetapi ulah simanusianya sendiri…Bukan karena Allah sudah menetapkan bahwa orang / manusia tsb untuk dibinasakan…!! bukan …bukan samasekali…itu konsep yng salah…!!!

Yang saya Pahami adalah Tanpa " PERTOBATAN " MAKA tidak akan terjadi Kelahiran Baru, Yang mana kedua aspek tsb
tidak dapat “dipisahkan sama sekali” ( = satu sama lain ), ibarat dua sisi mata uang, sehingga di sebut MATA UANG KESELAMATAN.

Karena pada INTI NYA/ kesimpulannya adalah Bahwa seseorang tidak akan masuk ke dalam KERAJAAN ALLAH, apabila seseorang / manusia itu tidak mengalami Kelahiran Baru terlebih dahulu.

Salam GBU…

Anak yang hilang kembali

Anak yang hilang itu kembali sendiri, bukan ditarik kembali. Tidak ada usaha dari bapaknya untuk menarik anak itu kembali, adalah alasan mengapa orang yang meninggalkan Kristus akan binasa selamanya.

Kita bisa kehilangan keselamatan itu seperti anak yang hilang dalam perumpamaan itu jika kita tidak kembali seperti kisah anak hilang tersebut jika ia tidak kembali kepada bapaknya, maka selamanya ia adalah anak yang hilang sampai kematiannya.

Yakonus 4:8-10
Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati! Sadarilah kemalanganmu, berdukacita dan merataplah; hendaklah tertawamu kamu ganti dengan ratap dan sukacitamu dengan dukacita. Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.

Tetapi selama kita kembali, Bapa akan membuka tanganNya lebar-lebar untuk menerima kita, sebab itu Yesus datang kedunia ini agar kita mendapatkan jalan kita kembali kepada Bapa. Selalu ada jalan untuk mereka yang bertobat.

dosa berat:

Tentang dosa berat, Katekismus Gereja Katolik, menuliskan:

KGK, 1855: Dosa berat merusakkan kasih di dalam hati manusia oleh satu pelanggaran berat melawan hukum Allah. Di dalamnya manusia memalingkan diri dari Allah, tujuan akhir dan kebahagiaannya dan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih rendah. Dosa ringan membiarkan kasih tetap ada, walaupun ia telah melanggarnya dan melukainya.

KGK, 1857: Supaya satu perbuatan merupakan dosa berat harus dipenuhi secara serentak tiga persyaratan: “Dosa berat ialah dosa yang mempunyai materi berat sebagai obyek dan yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan dengan persetujuan yang telah dipertimbangkan” (RP 17).

contohnya? mmm…? harus dilihat obyek moralnya, keadaannya dan maksud tujuannya.

misal, aborsi secara sengaja dan terencana tanpa memperdulikan ajaran moral dan kasih dalam dirinya… demi kepentingan dan kepuasan pribadi. tanpa desakan yang mengharuskan… misalnya saja demikian.

iya.

Perumpamaan itu dikisahkan utuh. Tidak mungkin berbeda dari itu. Anak bungsu kembali ke rumah ayahnya, setelah dia menderita kelaparan. Bahkan hendak makan makanan babipun dia tidak diperkenankan. Ternyata ayahnya menyambutnya dengan sukacita.

Andaikan karena rasa takut, ato rasa bersalah, ato rasa apapun, si bungsu itu tidak mau kembali ke rumah ayahnya, apa yang akan dialaminya? Alur cerita dari kepergian si bungsu dari rumah ayahnya dengan membawa harta warisan, sampai dia melarat, sampai tidak diperkenankan makan makanan babi, akal normal menyimpulkan, kalo dia tidak kembali ke rumah ayahnya, dia akan mati kelaparan.

Lantas, siapa yang memerintah si bungsu kembali ke rumah ayahnya? Hatinya sendiri. Dia tidak dipredestinasikan untuk kembali, tetapi dengan kehendak bebasnya, si bungsu kembali ke rumah ayahnya. Kalo kisah itu dikatakan sebagai kisah pertobatan, lumayan logis. Kalo kisah itu dikatakan sebagai mengajarkan kehendak bebas, ada benarnya.

Satu hal yang menarik, bahwa keselamatan (kalau waktu bersama ayahnya dikatakan sebagai selamat), menurut kisah itu ternyata bisa hilang (kalau si bungsu tidak kembali, dia akan mati kelaparan). Dan, kehendak bebas si bungsu untuk kembali ke rumah ayahnya membawa dia beroleh keselamatan lagi, dipakaikan jubah indah, dipakaikan cincin kebesaran, dipakaikan sepatu kerajaan, dan kemewahan pesta. Itu semua diraihnya karena kehendak bebasnya, yang pernah pula kehendak bebasnya itu akan membunuhnya lewat paceklik.

Betul, bagus sekali, saya sepaham dengan anda.
Point of view PERTOBATAN, betul 100%.
Artinya:
Manusia sudah lahir baru, sudah menjadi anak Allah.
Manusia yang terjerumus, harus BERTOBAT atas kehendaknya sendiri dan kembali kepada Yesus.
Allah Bapa selalu well come, kepada anak-anaknya yang mau datang dan mohon pengampunan Nya.
Bahkan dengan penuh suka cita Allah menerima kita.

Terima kasih, dear.

Betul, benar sekali,
Kalau kita mau bertobat dan kembali kepada Allah, Yesus dengan penuh suka cita akan mencanangkan bahwa dombaNya yang hilang telah kembali.

Saya mau sedikit bertanya dengan kalimat yang anda tulis dibawah ini, dan dapatkah anda memberikan contohnya ?
orang yang meninggalkan Kristus

Salam dan Terima kasih.

Bagus, memang atas kesadaran dan kehendak bebasnya sendiri dia kembali.

keselamatan (kalau waktu bersama ayahnya dikatakan sebagai selamat), menurut kisah itu ternyata bisa hilang (kalau si bungsu tidak kembali, dia akan mati kelaparan).

Masalah: Keselamatan bisa hilang, perlu saya pertanyakan ialah:
Apakah keselamatan itu hilang, karena :
Kita berbuat sesuatu lalu diusir dikeluarkan dari rumah Bapa dan tidak diakui sebagai anak ?
atau
Kita dengan kemauan sendiri meninggalkan rumah Bapa dan tidak menghargai Bapa lagi ?

Terima kasih atas respond anda.

Di KGK, 1855, dikatakan, Dosa Berat adalah:
manusia memalingkan diri dari Allah, tujuan akhir dan kebahagiaannya dan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih rendah.

Menurut paham saya, “manusia memalingkan diri dari Allah” artinya dia meninggalkan Allah.
Kita sudah menjadi anak Allah, Roh Kudus sudah berada berdiam didalam hati kita, Roh ini kita khianati, lalu kita menempatkan roh lain berupa mamon, sehingga status kita bukan anak lagi.
Dengan kata lain, ini yang namanya “Menghujat Roh Kudus”.
Maka Alkitab berkata, kalau engkau menghujat Yesus, engkau masih diampuni, akan tetapi kalau engkau menghujat Roh Kudus, sampai engkau mati tidak mau bertobat, maka engkau tidak akan ada ampun.
Sebab Apa ?
Sebab kita sendiri yang telah melepaskan status yang sudah kita peroleh berupa kasih karunia sebagai anak Allah.

saya harus ada pembahasan dulu mengenai kriteria perbuatan yang tergolong menghujat roh kudus.
kalau setiap kesalan dan kehilafan dosa, kita kategorikan sebagai menghujat Roh Kudus, maka barangkali tidak ada orang masuk surga.

menurut saya, kuncnya adalah freewill… Roh Kudus ada dalam diri manusia, namun sekali waktu, dengan kehendak bebasnya manusia mengabaikan suara Roh Kudus, dan lebih menuruti keinginan dan nafsu duniawi manusia itu. namun demikian, oleh karena Roh kudus masih ada dalam diri manusia, maka manusia tersebut akan mengerti bahwa yang dilakukannnya salah, sekali waktu akan muncul penyesalan, perasaan bersalah, dan akhirnya pertobatan. saat itulah manusia memilih suara Roh Kudus.

Roh Kudus yang ada dalam diri manusia beriman tidak bekerja “menyurupi” manusia, sehingga manusia kehilangan kontrol akan kebebasannya.

Kisah tentang Anak yang Hilang itu, saya kira kalo kita cermati alur ceritanya, sudah cukup jelas menyatakannya. Anak bungsu, atas kemauan sendiri meminta warisan kepada ayahnya, padahal ayahnya belum mati. Tidak dikisahkan ada pihak yang mempengaruhi si bungsu. Perginya si bungsu membawa harta warisannya dari rumah ayahnya murni kemauan si bungsu sendiri. “Keselamatan” yang identik dengan kebersamaan dengan ayahnya, dilepas oleh si bungsu tanpa ada pihak lain meminta ato memerintah. Murni hanya karena kemauan si bungsu sendiri.

Dalam kaitan dengan keselamatan, artinya, si bungsu itu yang melepaskan diri dari rumah ayahnya. Si bungsu sendiri yang melepas diri dari keselamatan. Ayahnya tidak menentukan bahwa si bungsu nanti minta warisan, dan keluar dari rumah. Ayahnya tidak menentukan agar si sulung nanti akan marah. Semua kejadian kisah itu mengalir sesuai denga kehendak bebas si bungsu, si sulung, dan si ayah.

Kalo dikaitkan dengan perkataan Jesus Kristus, di Yoh 15:5 berkata: Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Si bungsu tidak menyadari perkataan Jesus itu, si bungsu berpikir bahwa dia akan bisa berbuat semaunya kalo dia lepas dari rumah ayahnya. Dengan pikiran seperti itu, si bungsu minta dibagi warisan, dia akan berbuat seenaknya di luar rumah ayahnya. Nyatanya, kisah itu mengajarkan, bahwa si bungsu tidak bisa berbuat apa-apa di luar rumah ayahnya.

Sama-sama.

Terima kasih dear Parsiattar atas percerahannya.

Seandainya anak yang bungsu itu tidak minta keluar meninggalkan Ayahnya, akan tetapi perbuatan dan tingkah lakunya jahat.
Pertanyaan:
Apakah ayahnya yang tetap mencintai anaknya dan membenci perbuatannya, akan mengusir si bungsu, sehingga dia kehilangan statusnya sebagai anak.
Jawabnya: Tidak, paling-paling ayahnya akan menghajar si bungsu, akan tetapi tidak pernah akan mengusir.

Demikian juga dengan kita, yang sudah menjadi anak Allah yang sudah dimeteraikan.
Dengan perbuatan kita yang jahat, kita akan dihajar supaya menjadi anak yang baik, dimurnikan supaya layak disebut anak Allah.
Akan tetapi kita tidak akan diusir, kecuali atas kehendak kita sendiri, kita meninggalkan Allah.
Kita sebagai anak Allah, berarti Roh Kudus sudah berada berdiam didalam tubuh kita, tubuh kita adalah Bait Allah.
Dengan kehendak kita sendiri, Roh Kudus itu kita khianati, kita masukkan roh lain kedalam hati kita, ini yang namanya menghujat Roh Kudus, berarti kita membuang Roh Kudus itu, sehingga status kita sebagai anak Allah hilang.
Sebelum kita mati sudah bertobat, berarti kita adalah anak yang hilang dan kembali kerumah Bapanya.
Kalau kita mati belum bertobat, berarti kita kehilangan status sebagai anak Allah.

Semua ini cuma pendapat saya, mohon sharing pendapat anda.

Sama-sama.

Saya hanya seorang awam. Tapi pernah saya dengar, bahwa yang bergaris bawah itu adalah tidak terampuni. Mar 3:29 Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal."

Dear Parsiattar,
Betul. memang benar dengan ayat (Mrk.3: 29 ) yang anda berikan itu.

Mari kita melihat lebih lanjut mengapa Yesus berkata: Tetapi apabila seorang menghujat ROH KUDUS, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal."

Ceriteranya: Yesus dikatakan oleh ahli-ahli Taurat, bahwa Dia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul.

Mrk.12:27-30.
Tetapi tidak seorangpun dapat memasuki rumah seorang yang kuat untuk merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu. Sesudah itu barulah dapat ia merampok rumah itu.
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semua dosa dan hujat anak-anak manusia akan diampuni, ya, semua hujat yang mereka ucapkan.
Tetapi apabila seorang menghujat ROH KUDUS, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal."
Ia berkata demikian karena mereka katakan bahwa Ia kerasukan roh jahat.

Ayat tsb diatas, kalau saya tidak salah menafsirkannya ialah:
Kita diberi kehendak bebas, kita yang punya tubuh, kita sendiri yang menentukan, apakah Roh Kudus yang sudah berada dan berdiam didalam tubuh kita itu, kita beri dengan bebas untuk berkarya, atau Roh Kudus itu kita ikat, lalu kita berselingkuh memasukkan roh-roh lain, Roh Kudus itu kita khianati.
Dengan kata lain kita telah menghujat Roh Kudus.

Jadi atas kemauan kita sendiri, kita meninggalkan status kita sebagai anak Allah, bukan karena kita nakal dan berbuat dosa.
Maka dikatakan: Sesungguhnya semua dosa dan hujat anak-anak manusia akan diampuni, ya, semua hujat yang mereka ucapkan.

Mohon kalau ada yang kurang berkenan, dikoreksi dan dibicarakan dengan baik, sebab saya di Forum ini ingin belajar dan menggali mencari kebenaran Allah.

Terima kasih.

Nda gitu bro.
Tafsir sy: bukan kita yg mengikat RK…
Ralat: Tuhan yg mengikat iblis, kalau yang tidak memihak Tuhan yg mengikat iblis artinya kita menentang Tuhan.
Dan kalau kita nda membantu Tuhan mengumpulkan domba2-Nya, artinya kita merusak pekerjaan Tuhan.

ini terjemahan versi FAYH…
Mat. 12:23-30 FAYH

Orang banyak : “Yesus ini mungkin Mesias!” kata mereka.

Orang-orang Farisi : “Ia dapat mengusir roh jahat, sebab Ia sendiri Iblis, raja segala setan.”

Tuhan Yesus : "Kerajaan yang terpecah-pecah akhirnya akan runtuh.
Sebuah kota atau sebuah rumah tangga yang warganya saling bertentangan akan berantakan.
Dan jika Iblis mengusir Iblis, maka ia melawan dirinya sendiri dan menghancurkan kerajaannya sendiri.
Dan jika, seperti yang kalian katakan, Aku mengusir roh jahat dengan mempergunakan kuasa Iblis, maka kuasa apakah yang dipergunakan oleh orang-orang kalian waktu mereka mengusir roh jahat?
Biar merekalah yang menjawab tuduhan kalian!
Tetapi, jika Aku mengusir roh jahat dengan mempergunakan kuasa Roh Allah, maka Kerajaan Allah sudah ada di antara kalian.
Kerajaan Iblis baru dapat dirampas dan roh-roh jahat diusir, kalau Iblis sudah diikat.
Siapa yang tidak membantu Aku, ia melawan Aku;
dan siapa yang tidak turut mengumpulkan, ia mencerai-beraikan.

Dear Zayna,
Anda benar, saya yang salah.
Setelah saya baca berulang-ulang dan saya renungkan, sambil berdoa, ternyata penafsiran saya salah.

Ternyata bukan kita yang tidak memberi kesempatan pada Roh Kudus, akan tetapi kuasa Roh Kudus itu yang lebih kuat dan berkuasa yang mengikat roh-roh jahat itu.

Terima kasih atas koreksinya,

Bro Sam,
Status sebagai anak anak Allah tidak pernah dapat hilang, karena telah dimateraikan dan dijamin oleh ROH KUDUS , Ef 1 : 13, 14

Dan nama nama anak anak Allah telah tertulis di KITAB KEHIDUPAN, jadi hal ini tidak mungki terjadi bahwa STATUS KITA SEBAGAI ANAK ALLAH DAPAT HILANG.

Mengenai anak yang hilang, perumpamaan yang ditujukan kepada semua orang yang berdosa yang mewarisi dosa Adam.

Anak bungsu meminta warisan yang tidak sepatutnya dengan kemauannya sendiri dan seenaknya sendiri , karena ayahnya masih hidup.

Demikian adanya orang berdosa yang hidup didunia ini, hidup menurut kemauan dan keinginan sendiri yang mengikuti penguasa dunia ini yaitu iblis.

Lukas 15:13
Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.

Ketika menyadari dirinya yang telah salah, anak itu kembali ke Bapanya, itulah yang selalu dikatakan penginjil2 di khotbah, orang berdosa yang kembali kepada Penciptanya.

Jadi perumpamaan anak bungsu, adalah orang berdosa yang berbalik kembali ke Penciptanya, bukan karena anak bungsu telah mendapat keselamatan, tetapi menunjukkan keadaan orang berdosa yang achirnya berbalik kembali ke Penciptanya Allah.

Asal mulanya PERUMAPAMAAN YANG DIBERIKAN OELH TUHAN YESUS DAN MAKNA DARI PERUMPAMAANNYA :

Lukas 15
15:2 Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.”

15:7 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan."

15:10 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat."

15:19 aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.

Penyesalan yang dalam dan merasa diri tidak layak.

15:20 Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.

15:21 Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa.

15:32 Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali."

MATI ROHANI DAN MENJADI HIDUP KEMBALI.

HUBUNGAN DENGAN ALLAH YANG TERPISAH, DAPAT DIHUBUNGAKAN KARENA BELAS KASIHAN ALLAH.

Saya senang dengan judul topik ini…bahwa perumpamaan ttg anak yang hilang yang dimaksud adalah anak bungsu ini.

Sibungsu ini dalam perumpamaan ini sebagai gambaran dari orang berdosa…Dosa si bungsu ini digambarkan adalah ia meminta bagian harta atau warisan selagi ayahnya masih hidup. Hukum Yahudi memang mengharuskan orang tua mewariskan kekayaannya kepada anak2nya dimana yang sulung mendapatkan dua bagian dari anak2 yang lain. Karena bapa itu mempunyai dua anaknya saja berarti si sulung mendapatkan 2/3 bagian, sedangkan anak bungsu mendapatkan 1/3 bagian.

Jadi hal yang kurang ajar dari si bungsu itu adalah bahwa ia meminta si ayahnya masih hidup.

seakan-akan ia berkata: klo kamu mati toh menjadi miliku juga. jd berikan sekarang sj, se-akan2 kamu sudah mati.

inilah dosanya dimn ia bersikap kurang ajar dan tidak menghargai bapanya.

Dan memang dosa adalah tindakan kurang ajar manusia terhadap Allah…Setelah ayahnya mernurut perintahnya ia menjual segala miliknya, lalu pergi meninggalkan ayahnya kenegeri yg jauh, dan ber-foya2…ia tidak merampok, menyekiti atau membunuh bapanya, ia hanya menjauhinya dan tidak mempedulikanya.

Sebenarnya init dari keinginannya adalah ia tidak mau hidup dikuasai/diatur ayahnya. Ia ingin bebas…mencari kesenangan sesuka hatinya.

Apakah saudara juga tidak mau ingin dikuasai / diatur oleh Allah? Allah memang banyak peraturan seperti tidak jangan berdusta, harus bekerja dengan jujur, berbakti dan melayani Tuhan, jangan bezinah, jangan membuat patung yang menyerupai apapun juga dan jangan sujud menyembah kepadanya dll. Apakah saudara senang berada di bawah peratura2 itu atau apakah saudara ingin bebas dari pada-Nya? manusia berdosa biasanya memberontak dan tidak ingin hidup dibawah aturan.

Klo saudara ingin bebas, maka saudara sama seperti anak bungsu [email protected]###@!si anak bungsu digambarkan sebagai mati (secara rohani) dan terhilang…Jangan anggap enteng kondisi mati rohani dan terhilang…karena klo saudara biarkan, ini membawa saudara keneraka banding dengan Yes. 53:6a.

ceritera tentang pertobatan si bungsu ini mula2 ia merenungkan (ay.17), dan lalu ia sadar akan dosanya (ay. 18-19). Jadi utk bisa bertobat dari dosa, kita perlu menggunakan otak (bukan perasaan saja). Karen itu berilah waktu utk merenungkan hal2 dosa2 kita…Apakah selama ini saudara sudah hidup sesuai kehendak Tuhan? Apakah saudara mendekat kepada Tuhan atau menjauh dari Tuhan/tidak mempedulikan Tuhan? Apakah hidup saudara memuliahkan Tuhan atau sebaliknya memalukan Tuhan? Apakah saudara makin mengasihi Tuhan atau mempunyai hati yang hambar terhadap Tuhan? Dan apakah saudara menyenagkan Tuhan atau diri saudara sendiri?

Setelah menerungkan lalu si bungsu ini mengambil keputusan (ay.18_19). Ingat, tidak ada gunanya saudara sadar dosa klo saudara tidak mau mengambil keputusan utk meninggalkan dosa-dosa saudara dan kembali kepada Tuhan! Sibungsu lalu melakukan keputusannya, dan kembali kepada bapanya. Ada org mengambil keputusan utk bertobat, lalu ditarik kembali oleh dosa/hal2 dunia/penyembahan berhala lagi, sehingga tidak jadi melakukan keputusannya (banding isteri LOT)…Perumpamaan ini jelas bahwa klo saudara adalah orang berdosa yang mau kembali kepada Tuhan, saudara harus datang kepada Yesus, yang adalah satu-satunya Penebus, Pengantara, dan satu2nya jalan kepada Bapa (Yoh. 14:6); 1Tim. 2:5) jangan datang kepada pengantara yang lain…Stelah kembali kepada bapanya sibungsu lalu mengaku dosanya (ay21). Ia tidak mencari kambing hitam, seperti Adam yang menyalahkan Hawa, dan Hawa yang menyalahkan ular dan ia juga tidak menyalahkan roh foya2, roh zina, dan juga tidak menyalah orang lain kita hanya sebatas menyampaikan perumpamaan ini dsbnya…sebaliknya si bungsu ini mengakui bahwa dirinya telah berdosa…Amin…