Pilpres 2014, antara hati nurani dan ambisi ( inikah akhir jaman itu ? )

2 Timotius 3: 1-9 :
Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar.
(2) Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama,
(3) tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik,
(4) suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.
(5) Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!
[/color]
i Sebab di antara mereka terdapat orang-orang yang menyelundup ke rumah orang lain dan menjerat perempuan-perempuan lemah yang sarat dengan dosa dan dikuasai oleh berbagai-bagai nafsu,
(7) yang walaupun selalu ingin diajar, namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran.
(8) Sama seperti Yanes dan Yambres menentang Musa, demikian juga mereka menentang kebenaran. Akal mereka bobrok dan iman mereka tidak tahan uji.
(9) Tetapi sudah pasti mereka tidak akan lebih maju, karena seperti dalam hal Yanes dan Yambres, kebodohan merekapun akan nyata bagi semua orang.
[/i]

Dibanding pilpres2 sebelumnya pilpres 2014 adalah pilpres yg paling banyak menyita perhatian. Ada hal2 yg sebetulnya gk perlu terjadi, justru terjadi . Kita menyaksikan jelas, bagaimana para politisi kita, menunjukkan jati diri mereka sesungguhya, kualitas moral yg rendah mereka setuju dengan setiap cara yg ditempuh demi mencapai tujuannnya gk perduli itu baik tdk baik, pantas tidak pantas. Sangat vulgar !. Mereka tidak ragu mengeluarkan banyak dana untuk menempuh cara2 itu. bermunafik ria, Suatu kondisi yg sungguh sangat memprihatinkan. Sudah seperti itukah kwalitas moral kepribadian bangsa kita ? menghalalkan semua cara demi tujuan ? Fitnah dan penghinaan menjadi halal, dan tanpa beban moral mereka percaya diri.
Kita seharusnya belajar dr sejarah. Kekaisaran Romawi yg dasyat itu runtuh karena moralitas yg rendah.
Pendapat modern berkata tidak akan ada institusi yg berprestasi tanpa adanya moralitas yg baik di dalamnya. Karakter moral seseorang menunjukkan kwalitasnya. Walau demikian, kita masih bisa bersyukur karena ternyata di tengah2 tergerusnya nilai2 moral para politisi kita, masih ada sekelompok pribadi yg berani menyuarakan hati nuraninya, berani melawan arus demi sebuah nilai2 kepatutan dan kebenaran dalam peradaban kita yg menganut paham2 religi.
Hati nurani berbicara nilai2 luhur dan mulia, tentang kasih atas sesama dan menempatkan Tuhan di ats segalanya.
Ketika paham kekuasaan menjadi tuhan, kehancuran sesuatu peradaban tinggal menunggu waktu saja.
Shalom.
Pergunakan hak pilih dg hati nurani, jangan golput
GBU.

Kampanye sekarang (2014) menjadi ‘seru’ karena hanya ada dua tokoh yang bertanding, sehingga rakyat terpolarisasi menjadi kubu Praboro atau Kubu Jokowi.

Keramaian menjadi tambah seru, karena sebelum Jokowi muncul, Prabowo adalah sosok dengan elektabilitas tertinggi di tokoh yang akan nyapres. Dan, mendadak, sosok Jokowi muncul, sekaligus mengungguli siapapun tokoh yang akan nyapres. Hal ini sungguh menyakitkan bagi Prabowo, karena dia merasa jusru yang mengangkat Jokowi dari Solo adalah dirinya. Sehingga ia mulai merasa menyesal, kecewa, sakit hati, merasa tertipu.

Masalah bertambah seru, karena PDIP, partai yang mengusung Jokowi, ternyata memenangkan pileg. Dan Jokowi dicalonkan oleh PDIP. Maka meledaklah Prabowo.

Ketika terjadi perebutan pendukung partai, Nasdem yang menyatakan mendukung Jokowi tanpa syarat, justru membuat kehebohan baru. Gerindra dan Prabowo justru menjadi terlihat sangat pragmatis ketika menawarkan bagi bagi kursi kepada siapapun yang mendukungnya. Sementara Jokowi justru didukung tanpa syarat, sesuatu hal langka dan menjadi idaman sebagian besar rakyat yang punya moral dan bosan pada pragmatisme orba dan orde SBY.

Situasi menjadi bertambah seru karena Prabowo dengan ‘strateginya’ merekrut pihak pihak yang kecewa atau dikecewakan oleh para pendukung Jokowi (Mahfud MD, Rhoma, dst). Dan seperti lazimnya orang sakit hati, maka segala macam kemarahan keluar dalam bentuk beraneka ragam.

Dilain-pihak kubu Jokowi yang tidak menjanjikan apapun, justru membangkitkan harga diri dan rasa setia kawan dari rakyat yang mulai bosan dengan pragmatisme pemerintahan orba. Maka satu demi satu, dan segera menjadi bola salju, segala macam masyarakat memberikan dukungan kepada Jokowi. Tidak algi melihat suku, etnis, agama, ras, dan peringkat sosial. Kebalikannya pada kubu Prabowo justru mengusung segaa macam ornamen dan tokoh orba. Maka pertandingan menjadi semakin sengit.

Satu hal yang patut disimak adalah, kubu Jokowi, karena tidak menjanjikan imbalan, dan justru menarik orang orang hebat dan bermental baik, berakibat dukungan dari orang orang hebat dan baik semakin masive. Kebalikannya, justru kubu Prabowo semakin didukung oleh orang orang yang sakit hati, dan orang orang yang bermasalah.

Dan terjadilah pertandingan yang sungguh berbeda dalam segala hal. Emosi yang muncul adalah bagai pada peristiwa demonstrasi besar 98, antara pihak yang mempertahankan statusquo dan pihak yang ingin pembaharuan.

Jadi, nikmati saja kejadian bersejarah ini, tidak perlu cemas ataupun takut, apalagi menghubung-hubungkan dengan akhir jaman. Percayalah, akhir jaman masih jaooooooh.

Syalom

ciri2 manusia akhir zaman sudah mulai kelihatan kan bro

kalau menurut saya, kedua capres sama-sama sangat mencintai Indonesia. saya sedih melihat orang-orang suka sekali menjelek-jelekan orang lain. saya sendiri melihat orang dari kelebihan dan ketulusannya, bukan kelemahannya. kedua capres memiliki tujuan yang sama.

Yakobus 4:11
“Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah! barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya, ia mencela hukum dan menghakiminya; dan jika engkau menghakimi hukum, maka engkau bukanlah penurut hukum, tetapi hakimnya.”

Dalam pilpres, kita memilih yang terbaik dari yang ada, bukan memilih dua-duanya.
Maka pilihlah satu yang terbaik, dan tinggalkan yang lain.
Itu demokrasi.

Melempar fitnah jelas salah, lain dengan menyampaikan fakta agar pilihan bisa lebh jernih dan jelas.

Maka, segala fitnah dalam bentuk tabloid obor rakyat, dalam bentuk surat jokowi palsu, transkript telepon bodong, tabloid sapujagad, adalah fitnah yang tidak bermoral.

Adalah fakta bahwa dari dua pilihan, ada yang punya prestasi dan pengalaman, sementara ada yang dipecat dari kesatuannya dan hanya berada dalam iklan televisi.

Tetapi, fakta bahwa Prabowo terlibat pelanggaran HAM berat, menolak ketika dipanggil oleh komnas HAM, bahwa Hatta Rajasa terindikasi terlibat dengan mafia migas bersama Riza Chalid, adalah persoalan yang harus dijawab tuntas sebelum layak dipilih.

Berusaha menjadi netral dan menampilkan yang baik baik saja dari kedua pilihan adalah mimpi, karena bukan itu bentuk demokrasi. Maka pilihan menjadi sangat jelas, siapa yang layak dipilih, dan mana yang layak dibawa ke pengadilan militer.

Teliti, dan tentukan pilihan, itu baru benar.