Pindah agama??

Shalom, saya member baru disini

2 Korintus 6:14 tertulis

Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tidak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan keduhakaan? atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?

Saya langsung ke inti permasalahan saya saja karena saya tidak pintar basa-nasi :happy0025:. Jadi kami ini merupakan pasangan yang tidak seimbang.

Matius 28:19-20 tertulis

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan ROH KUDUS, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

Saya ingin bertanya pendapat member-member disini tentang “mengajak ia bersatu dengan terang” atau yang saya maksud “pindah agama”. Saya ingin memperkenalkan Yesus Kristus ke dia secara perlahan.

Saya juga ingin bertanya, biarlah Tuhan yang memilihkan pasangan untuk kita dan bukan kita yang menentukan, apakah hal yang saya lakukan ini (mengajak ia pindah agama) diperbolehkan?

Makasih sebelumnya atas responnya :slight_smile:
Tuhan Yesus memberkati.

Sebaiknya emang begitu, bro. Kerna apa yang dibiarin basa banyakan lama-lama emang basi.

  1. Anda sudah tahu kalau kalian tidak seimbang, kenapa diteruskan? yg mana membawa ke pertanyaan berkutnya:
  2. Tujuan membawanya kepada Yesus karena anda tahu Yesus adalah kebenaran, atau supaya anda bisa menikahinya? (Maaf kalau saya yakin alasan anda yang sebenarnya adalah yang kedua.)
  3. Kalau dia pindah karena anda, apakah bagi dia Yesus nomor satu, atau anda yang nomor satu?

Luar biasa sekali jawaban, bro
Seperti yang bro prediksikan, saya ingin mengajaknya pindah agama karena alasan kedua
Tetapi bukankah alasan yang mendasar seperti itu juga akan berkembang sehingga seperti alasan pertama?

Sekarang ini saya sedang bimbang dengan keputusan yang ingin saya ambil, saya tahu daging itu lemah dan roh itu kuat, saya tahu sekarang ini saya hanya mengikuti keinginan daging saya, saya tahu bahwa yang benar-benar mencintai Ia akan menuruti setiap kata-kata-Nya

Sebenarnya 2 hari yang lalu saya sudah mengakhiri hubungan kami karena saya tidak mau menjual Tuhan Yesus hanya karena cinta, tetapi saya masih sayang sama dia, dan baru tepatnya hari ini saya terpikir untuk mengajaknya pindah agama. Saya sudah berdoa sama Tuhan agar dikuatkan karena saya percaya Ia sudah menyiapkan yang lebih baik. Saya posting di forum ini sekedar untuk memperkuat saya melalui jawaban bro bro disini

Maafkan kata-kata saya yan kurang jelas dan berputar-putar karena saya tidak pandai mengungkapkan perasaab dengan kata-kata

Belum tentu, bro.

Dan karena tidak ada statistik yang spesifik, kita anggap saja kemungkinannya 50-50.

Kalau ternyata dia berkembang menjadi yang pertama, bersyukurlah. Tapi bukan berarti masalah anda selesai. Akan saya jelaskan di bagian bawah nanti.

Tapi kalau tidak, kalau ternyata kepindahannya hanya “kulit luar” karena keberadaan anda, maka anda menanggung kesalahan menjadi “batu sandungan” bagi dia, bro. Kalau dia tetap memandang anda lebih penting daripada Tuhan, tuntutan yang akan anda hadapi kelak? Bukan dari Yesus, bro, tapi justru dari pendamping hidup anda sendiri.

Kalau menurut saya, anda bisa saja meminta kasih karuniaNya agar YHWH mau memanggilnya dan dia mau mendengar panggilanNya serta menjadikan dia sebagai pendamping hidup anda. Tolong anda perhatikan, saya katakan “bisa,” dan bukan “boleh.” Ini wilayah yang saya sendiri kurang jelas.

Tapi satu hal yang saya tahu, katakanlah anda meminta begitu dan dikabulkan, maka anda akan terikat sampai mati dengannya. Kalau pun kelak anda mendapati kekurangan-kekurangan yang sangat menjengkelkan atau tidak bisa anda terima, anda hanya bisa berjuang mati-matian untuk memperbaikinya. Dan kalau tidak bisa, anda hanya bisa menekan perasaan anda sendiri dan menjalaninya.

Ingat, dalam Alkitab tertulis jelas bahwa sebenarnya YHWH tidak menyukai perceraian. Bukan saja tidak suka, tapi membenci.

Hari ini anda boleh saja merasa anda akan bisa melakukannya. Tetapi kenyataan menjalani kehidupan seperti itu amat sangat luar biasa berat, bro. Kebahagiaan yang anda rasakan sekarang untuk berdekatan dengannya akan memudar sesudah anda berumah tangga 5-10 tahun. Jangan mengatakan anda pasti bisa menjalaninya sekarang, bro.

Kembali ke awal lagi, seandainya dia berkembang menjadi yang pertama sebagaimana harapan anda, bagaimana dengan keluarganya?

Kalau keluarganya bisa menerima dengan baik, kasus selesai, bro.

Kalau tidak, anda tahu bagaimana rasanya seorang anak dipisahkan dari orangtuanya? Sekali pun sewaktu pemisahan itu si anak sudah berusia 20 tahun lebih? Kesedihan dan depresi hanyalah sebagian dari masalah yang mencengkeram dia. Tapi bahkan sebagian ini sudah cukup untuk mengubahnya menjadi sosok yang tidak anda kenal sebelumnya.

Jangan menganggap cinta anda sudah lebih dari cukup untuk menutupi kehilangan yang dirasakannya, bro. Itu pemikiran egois dari seseorang yang secara mental masih bocah dan tidak layak untuk berumah tangga.

Percayalah, bro, dikeroyok orang sekampung itu masih lebih baik daripada menjalani kehidupan seperti itu.

Bukan berarti saya mengatakan anda untuk melupakan saja masalah ini. Saya tidak menyarankan anda untuk melupakan atau meneruskan, itu keputusan anda sepenuhnya. Hanya saja sebaiknya anda mengetahui sejak awal kemugkinan-kemungkinan buruk yang akan anda hadapi kalau anda mengambil keputusan untuk melanjutkan.

Bagaimana pun juga, bro, kita memang harus mengharapkan yang baik, tapi lebih baik bersiap menghadapi yang buruk.

Mungkin memang sebaiknya gak perlu diterusin hubungannya, saya juga gak mau bersikap jadi orang yang egois, perasaan itu tidak bertahan selamanya

Makasih bro buat penjelasannya, keraguan didalam hati saya hilang, saya percaya kalo jalan mengakhiri hubungan adalah yang terbaik

Tuhan memberkati :slight_smile:

Memang untuk mengambil keputusan itu sangat berat,
Tapi harus tetap yakin bahwa Tuhan pasti akan kasih yang terbaik dalam hidup kita.

Tinggal kita sabar menunggu atau tidak sampai waktu itu tiba.

Memang rasanya gampang kita ngomong…ah baiklah saya akan ajak dia pindah agama…
hmm…suatu pergumulan yang berat. namun 1 yang pasti adalah terang dan gelap tidak bisa bersatu, jika hal tersebut tetap dilakukan kemungkinan besar sobat sendiri lah yg akan ketarik mengikuti agama doi, dengan alasan…saya sudah cinta mati sama dia…
hhmm…jangan lakukan …jangan maen api jika kita sudah pasti tahu api itu panas…silahkan ambil keputusan tegas sekarang juga :smiley:
Kecuali…doilah yang penasaran kepada Yesusnya sobat, sehingga dia akan bertanya dan haus akan kebenaran Firman Allah, jika itu terjadi, go ahead…
tetapi jika diapun nantinya mau pindah agama(keyakinan) demi sobat. niscaya susah untuk bertahan lama, dan cenderung menjadi masalah dikemudian hari. GBU

anda bisa mengajak "kekasih anda " ke pengenalan SIAPA ITU YESUS

lihat reaksinya, juga keluarganya

karena ini juga adalah kesempatan untuk memenangkan dia kepada kebenaran yang sebenarnya.

Best answer manurut saya nih, :slight_smile:

@daniel :kalo kamu rasa imanmu akan Tuhan Yesus sudah kuat, ya silakan saja kamu masuk pelan pelan… tapi kalo imanmu belum terlalu kuat jangan deh, takutnya bukannya terang menjadikan gelap itu terang, malah terang itu menjadi padam lama kelamaan.
ini saya share berdasarkan pengalaman saya, karena saya juga punya kerinduan yang sama ko, supaya orang orang yang saya kasihi mengenal Tuhan.
yang jelas tetep berdoa brother… Tuhan tau kerinduan setiap kita ko… :slight_smile:

bro pindah agama itu mudah, tetapi siapa yang tau isi hatinya …"
kita tidak tau isi hati pasangan kita apa dia benar-benar menerima Tuhan Yesus, karena lebih banyak diri manusia penuh kepalsuan. dalam sebuah hubungan kita butuh pasangan yang saling membangun begitu juga dalam sebuah pernikahan, wanita butuh laki-laki sebagai pemimpin dalam keluarganya sedangkan wanita sebagai penolong bagi si laki-laki.

seiman saja masalah yang dihadapi dalam suatu hubungan/pernikahan sudah sulit apalagi pasangan yang tidak seiman, hidup ini bukan hanya cinta, atau mendapatkan pasangan yang baik tetapi saling membangun dan menguatkan agar disaat Tuhan kita menjeput kita ,ia mendapatkan kita tetap setia…"

Baiklah kita pasangan yang seiman,sepadan dan sepemikiran. seiman bukan hanya Kristen KTP tetapi yang takut akan Tuhan,sepadan yang mempunyai iman yang sama-sama yang bisa membangun kita, dan sepemikiran yang sama-sama berpikir ke depan untuk kemuliaan Tuhan…"

Kawin Beda Agama, Mengapa Tidak ?

http://www.gkjw.web.id/kawin-beda-agama-mengapa-tidak#comment-1417

“Mengapa tidak?”

Itu pertanyaan yang sangat bodoh, bro. Sebab di Alkitab sudah tertulis jelas:

2 Kor 6:14 Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?

Bahkan kalau kamu terlalu keras kepala untuk mengakui ayat di atas, Yesus sendiri mengatakan:

Mat 6:24 Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."

Apa hubugannya dengan menikah beda agama?

Kej 2:24 Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.

Suami-isteri adalah “satu daging.” Dan kalau yang disembah suami dan isteri berbeda, maka “satu daging” itu “mengabdi pada dua tuan.”

Hanya karena seorang pendeta terkenal atau berkedudukan tinggi mengatakan yang sebaliknya, apakah lalu kamu anggap dia cukup berkuasa untuk memutarbalikkan FirmanNya? Jangan bebal, bro.

yup :afro:

Namun jika menilik konteksnya, bahwa sejatinya ayat itu tidak ditujukan untuk melarang atau mendukung seorang Kristen menikah dengan orang non-Kristen, melainkan lebih ditujukan bagi mereka yang baru saja bertobat namun pasangannya masih memeluk kepercayaan yang lama. Tujuannya jelas, yakni agar orang-orang Kristen/petobat baru, benar-benar menerapkan kekudusan dalam hidupnya dan tidak lagi terjatuh dalam kehidupan cemar yang masih menjadi gaya hidup pasangannya. Mereka dipanggil untuk menularkan positive influence bagi pasangannya yang belum percaya. Paulus tetap melarang orang-orang Kristen menceraikan pasangannya yang berbeda iman, kecuali pasangannya yang menginginkan (lihat : I Kor. 7:12-16, I Petrus 3:1-7).

Semoga YHWH membuka matamu, bro.

ini menghakimi…

amin makasih doanya

Kenapa tidak?

Mat 24:4 Jawab Yesus kepada mereka: "Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu!

Coba kamu jelaskan di sini bagaimana caramu “waspada supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu” kalau kamu tidak menghakimi?

Antara apa yang tertulis di Alkitab dan apa yang “menurut seorang MANUSIA” adalah “penafsiran yang benar”, coba kamu jelaskan di sini dengan cara apa kamu menghadapi keduanya “tanpa menghakimi”?

Kalau anda mengira FirmanNya dituliskan hanya bagi orang-orang yang memiliki kecerdasan tinggi, atau pendidikan tinggi, atau bahkan kedudukan tinggi, sehingga kamu hanya “mengikut seperti kerbau dicocok hidungnya tanpa mau bersusah payah menggunakan akal budi yang dikaruniakan YHWH kepadamu,” dari mana kamu bisa tahu kalau keputusanmu itu bukan “menghakimi YHWH”?

Bahkan untuk tahu apakah keputusan menghakimi YHWH atau tidak, apakah itu bukan “sudah menghakimi”?

Bro, kalau kamu masih belum sadar juga, keputusanmu untuk menyatakan bahwa “pendeta yang kamu kutip” itu benar sementara “orang lain yang memiliki pendapat yang berbeda” itu salah, itu saja sudah menghakimi. Karena itu saya katakan, “Jangan bebal, bro.”

Lukas 6:37-42 = Hal menghakimi

Lucu sekali…

Luk 6:39 Yesus mengatakan pula suatu perumpamaan kepada mereka: "Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang?

Mana yang lebih tepat disebut “orang buta menuntun orang buta”…

  1. Kamu yang mengandalkan penafsiran seseorang akan FirmanNya?
  2. Orang yang mengandalkan FirmanNya tanpa penafsiran?

(Ada FirmanNya yang perlu ditafsirkan, seperti perumpamaan, nubuatan. Tapi ada juga FirmanNya yang tidak perlu ditafsirkan karena sudah tertulis apa adanya, seperti perintah atau aturan. Sedang membedakan mana yang perlu ditafsirkan dan mana yang tidak saja kamu tidak tahu.)

Luk 6:42 Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."

Antara “FirmanNya” dan “penafsiran FirmanNya”… mana yang “selumbar” dan mana yang “balok” di mata?

Bro, kamu tidak mengerti apa yang kamu tuliskan sendiri. Kamu hanya bisa copy-paste pendapat orang lain tanpa mengerti artinya. Bahkan praktek dari kata “menghakimi” saja kamu tidak mengerti, hanya bisa copy-paste ayat Alkitab. Pakailah kecerdasan yang dikaruniakan YHWH kepadamu untuk “menguji segala sesuatu dan memegang apa yang baik,” bukan “menelan mentah-mentah omongan manusia hanya karena di mata manusia dia punya status yang lebih tinggi daripada kamu.”

Kalau kamu masih belum sadar juga, pertimbangkan saja semua jawabanmu sebelum ini. Sementara kamu cuma bisa copy-paste, bahkan menjelaskan apa yang kamu copy-paste saja tidak bisa, sudah layakkah jawabanmu dikategorikan sebagai sekadar “selumbar” dibandingkan dengan jawaban yang dilengkapi penjelasan?

hm… klo menurut sy, artikel yg dikasih bro kepala ayam itu pasti akan sangat disenangi oleh orang2 yg ingin membenarkan dirinya (tdk mau dianggap salah) untuk melanjutkan hubungan, bahkan menikah dgn org yg beda agama.
sy jd berpikir jangan2 bro kepala ayam ini jg salah satu yg berada dalam hubungan beda agama…
sy tau klo hub beda agama memang ga selalu berakhir dgn hancur dll, krn memang cukup byk jg contoh org2 yg bisa sukses menikah sampai tua meskipun beda agama.
satu hal yang sy pikirkan kalau menikah tp beda agama adalah… kasihan anak2 kita nantinya… di satu sisi kita pasti ingin anak kita ingin ikut kepercayaan kita, tp di sisi lain pasangan kita jg ingin anaknya ikut kepercayaannya.
saya ambil contoh teman saya yg belum lama ini menikah. ibu dan kakak kristen, ayah dan anaknya yg akan menikah ini non kristen. ibu ingin anak diberkati di gereja, tp ayah ingin anaknya diberkati menurut kepercayaannya. memang pada akhirnya tidak jd masalah lagi karena si anak yg memutuskannya… tp sy yakin perasaan ibunya pasti sedih.

@bro daniel:
menurut sy bro sudah mengambil tindakan yg benar utk tdk melanjutkan hubungan lg dgn kekasih anda itu. Tuhan pasti kasih another woman in ur life yg lbh baik dr dia dan yg sesuai dgn standarNya Tuhan. :slight_smile:

mengenai pemikiran bro yg ingin mengajak mantan (sudah putus kan ya?) bro pindah agama… sy langsung teringat thread yg pernah sy baca… ada yg pernah bilang, di sisi kita, kita ingin dia pindah agama jd ke agama kita… bgmn kalau di sisinya dia jg berpikir akan hal yg sama? ujung2nya pasti tetep aja ga cocok kan. hehe.
dan klo memang dia sudah pindah agama, apakah itu benar2 krn dia ingin mengenal Tuhan Yesus, atau hanya krn ingin menikah dgnmu. kalau hanya krn ingin menikah dgnmu ya percuma aja, pas setelah menikah pasti akan sama aja… krn yg sy tau, kalau pacaran beda agama dgn tujuan ingin bawa jiwa, itu tidak bisa dengan gampang dilakukan oleh semua org… menurut sy hanya org2 tertentu saja yg bisa melakukannya.

sy mo share sedikit cerita ttg teman sy…
dia menikah dgn org yg tdnya beda agama. pada saat mereka pacaran dulu si cowo ini sudah mengenal kekristenan (krn memang sekolah di sekolah katolik), tp ya setelah itu ga jelas lg. saat mereka sudah putus lama, tau2 si cowo datang utk melamar tmen sy itu… sy cukup salut jg sama tmen sy yg memang masih mencintai cowo itu… dia bilang sama kluarga si cowo klo dia ga mau menikah dgn cowo yg tidak seiman. dan akhirnya lamaran tertunda. mereka ga jadian lagi tapi tmen sy kasih cowo ini PR (pekerjaan rumah) krn memang si cowo tinggal di luar kota. dia kasih PR untuk si cowo belajar alkitab. dia kasih alkitab untuk si cowo baca setiap hr. dan krn si cowo memang serius, di kotanya dia benar2 cari gereja n cari teman yg bisa membimbing dia. dan dr situ si cewe melihat keseriusan cowo itu, dia jg memastikan bahwa si cowo kenal Tuhan Yesus bukan hy krn dia, tp benar2 ingin kenal secara pribadi. dan setelah akhirnya mereka menikah, yg sy liat sekarang mereka berdua bertumbuh bersama di dalam Tuhan (si cewe msh terus membimbing suaminya utk semakin tambah dalam mengenal Tuhan Yesus) bahkan mereka juga sudah melayani bersama.

sy cerita ttg teman sy ini bukan utk membangkitkan semangat bro daniel spy balikan lg n bawa mantan bro jd pindah agama… yg sy tau yg bisa melakukan hal spt yg teman sy lakukan itu ga terlalu banyak… jd drpd mencoba peruntungan, lebih baik diputuskan saja sebelum terlambat… :rolleye0014:
beberapa hr belakangan ini sy dapat suatu kalimat yg sy dengar dr teman n pendeta (2 org yg berbeda) yg mgk bisa jd pembangkit semangat bro daniel jg…
“saat Tuhan ambil sesuatu dr kita, pada waktuNya Ia akan menggantikannya dengan yang lebih besar dan lebih baik.”
“saat kita kehilangan sesuatu, jangan bersedih terlalu lama. Itu tandanya sudah saatnya Tuhan akan memberikan yg baru, sesuatu yg lebih baik.”

cheers! Gbu :afro: