PODO WAE

waktu jaman JESUS,org2 farisi,ahli agama (termasuk org taat dlm kewajiban agama) melontarkan protes tdk setuju,ketika Tuhan menegur/memberitahu apa-apa yg salah & seharusnya yg benar spt apa.
jaman sekarang kalo kita menegur,pasti juga byk yg tdk setuju. argumen yg di keluarkan -+ : jangan menghakimi, atau manusia tdk ada yg sempurna, atau jangan merasa kepahitan jadi menegur org lain.
beda jaman,tapi tetap manusia tdk berubah,apa yg pro dunia tdk akan senang jika di tegur dgn nasihat dari Kristen. :char11:

iya nih sering banyak orang gereja pakai jurus sakti, “JANGAN MENGHAKIMI”, trus yang lain jadi bungkam walaupun melihat banyak kekacauan/ penyimpangan dilakukan orang2 yg menamakan dirinya “hamba Tuhan.”

Jika ajarannya memang menyimpang siapapun dari saudara-saudara Kristen kita boleh mengungkapkan kebenarannya dan memberitahukan kepada saudara-saudaranya untuk menimbang kepercayaannya yang didasari secara emosional para jemaat yang mengidolakan pendeta tertentu. Karena ini adalah wujud dari “berhala baru”. “Pendetamu jadi berhalamu”, benarkah kalian melayani Tuhan (bukan pendeta), benarkah kalian mencari Tuhan (bukan pendeta)?.
Seseorang tak bisa memaksakan orang orang lain berpandangan sama untuk mengidolakan seorang pendeta yang dirasa paling hebat-pun kepada orang lain. Karena itu adalah aktivitas penyebaran “berhala”.

Ada kalanya pandangan kami cukup “keras” dalam berdiskusi ada kalanya kita bisa santai banget dalam berdiskusi, namun “kerasnya” ini adalah untuk menguji suatu pengajaran yang menyimpang, bukan “menghakimi” tanpa dasar. Tidak harus suatu jemaat mengiyakan saja apa kata-kata pendeta di mimbar, pendeta juga manusia, sama seperti Anda dan saya. Setiap orang Kristen perlu menguji setiap ajaran-ajaran yang diterima dari pendetanya di mimbar, bukannya telen mentah mengiyakan saja, dan menjadi “beriman kepada pendeta tertentu”. Maka dari itu pembelajaran Alkitab secara pribadi di rumah itu perlu untuk cek dan ri-cek. Kasihan sekali orang-orang yang mengimani “mimpi” pendeta, dan lantas itu dianggap suatu kebenaran. Kita semua perlu menguji segala sesuatu.

‘Menguji’ suatu pengajaran bukan hal tabu, malah hal yang disarankan oleh Alkitab.

* I Tesalonika 5:21
Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.

Dimana ada yang bersikap “kritis”, selalu ada yang pengen membungkam, ada kalanya dengan memberi ayat, misalnya ayat2 ini :

* Matius 7:1
LAI TB, Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.
TR, μη κρινετε ινα μη κριθητε
Translit, mê krinete hina mê krithête

* Lukas 6:37
LAI TB, Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.
TR, και μη κρινετε και ου μη κριθητε μη καταδικαζετε και ου μη καταδικασθητε απολυετε και απολυθησεσθε
Translit, kai mê krinete kai ou mê krithête mê katadikazete kai ou mê katadikasthête apoluete kai apoluthêsesthe

Seolah Alkitabiah memang, tapi kan ayat tersebut ada konteksnya dan tidak bisa ditelen mentah2. Jangan menghakimi, titik!

Bandingkan dengan ayat ini :

* Yohanes 7:24
LAI TB, Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil.
TR, μη κρινετε κατ οψιν αλλα την δικαιαν κρισιν κρινατε
Translit, mê krinete kat opsin alla tên dikaian krisin krinate

ayat ini sama dengan ayat dalam Matius 7:1 dan Lukas 6:37, memakai kata Yunani yang sama “κρινω - krinô”.
Yohanes 7:24 memakai istilah “menghakimi” dalam konteks “membedakan yang benar dan yang salah”. Maka, “menghakimi” tidak mutlak sebagi hal yang haram/ tidak boleh dilakukan.

Ayat dalam Matius 7:1 dan Lukas 6:37 tersebut juga dipakai sebagai jurus sakti “bagi yang tak mau dikritik” atau “yang takut mengkritik” plus ayat sakti lainnya, misalnya Mazmur 105:15 : “Jangan mengusik orang-orang yang Kuurapi, dan jangan berbuat jahat kepada nabi-nabi-Ku!” juga dipakai jurus sakti buat “Hamba Allah yang tak mau dikritik”.

Tentu saja “penghakiman” itu hak Allah. Tetapi bukan berarti kita-kita yang mengetahui misalnya ada suatu “penyimpangan” maka kita “harus diam saja”.

Rasul Paulus, ia juga mengkritisi (baca “menghakimi”, “κρινω - krinô”) hal-hal yang menyimpang, misalnya terhadap para hamba-hamba Allah yang maruk duit dan “memperdagangkan” Firman Allah untuk kepentingan pribadi (Baca Artikel di http://www.sarapanpagi.org/menjajakan-firman-allah-vt2004.html ).

Rasul Yakobus juga sejalan dengan Rasul Paulus ini tidak hanya melihat sisi teologisnya saja (‘Penghakiman adalah hak Allah’) – sehingga membiarkan penyimpangan yang dilakukan oleh sesama pekerja rohani --. Namun Para Rasul ini juga melihat sisi pastoral-nya. Bahwa terhadap penyimpangan-pengimpangan tersebut mereka terus mengingatkan.
Hal itu bukanlah tindakan yang sia-sia. Rasul Yakobus mengungkapkan isi hatinya sebagai gembala jemaat dan mendorong semua orang Kristen untuk mengikuti jejaknya dan mengembalikan saudara-saudara seiman mereka dari jalan yang melenceng :

* Yakobus 5:19-20 Bawa kembali orang yang berbuat kesalahan
5:19 LAI TB, Saudara-saudaraku, jika ada di antara kamu yang menyimpang dari kebenaran dan ada seorang yang membuat dia berbalik,
5:20 LAI TB ketahuilah, bahwa barangsiapa membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat, ia akan menyelamatkan jiwa orang itu dari maut dan menutupi banyak dosa.

Blessings in CHRIST,
BP

:afro: :afro:
nah jadi kita harus pedomannya alkitab,jgn pendapat seorang yg jadi penuntun kita,soal nya arti 1 ayat kalo ga d baca lanjutan nya,yah pastilah terkesan beda.

Yup ^^

setuju kalau diskusinya adalah iskusi yang sehat dan santun.

seseorang yang mau menguji pengajaran seorang hamba Tuhan tentunya perlu mempelajari baik baik pernyatan atau pengajaran hamba Tuhan tersebut sebelumnya dan seharusnya dari sumber yang langsung dari hamba Tuhan tersebut, misalnya bukunya atau gerejanya tanpa mengambil sebagian pernyataan hamba Tuhan tersebut lepas dari konteksnya atau mendengar berita-berita dari sumber yang tidak jelas dsb lalu main judge saja.

Tetap ujilah segala sesuatu ^^

Yah manusia selalu merasa pendapat dirinya paling benar

GBU