Prabowo Disarankan Legowo

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA - Gugatan terhadap kemenangan Pemilihan Presiden 2014 Joko Widodo dan Jusuf Kalla yang dilayangkan pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa ke Mahkamah Konstitusi (MK) memicu beragam kontroversi.
Banyak kalangan berpendapat, mundurnya pasangan Prabowo-Hatta dianggap melanggar Undang-Undang Pilpres. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Bidang Hukum Laskar Jokowi, Acong Latif.
Menurutnya, pasangan Prabowo-Hatta bisa dianggap melanggar Pasal 246 UU Pilpres dengan ancaman penjara 3 hingga 6 tahun.
“Pasangan Prabowo-Hatta sebelumnya menyatakan mengundurkan diri dari proses Pilpres karena dianggap banyak kecurangan. Awalnya mereka menyatakan tidak akan menggugat ke Mahkamah Konstitusi, tapi belakangan ternyata mereka justru menggugat. Ini memicu kontroversi dalam beberapa minggu terakhir,” tegas Acong, dalam pernyataannya, Sabtu (9/8/2014).
Acong memaparkan, dalam Pasal 15 (f) UU Pilpres disebutkan syarat awal pasangan capres dan cawapres adalah menyerahkan surat pernyataan tidak akan mengundurkan diri sebagai pasangan calon dan itu pasti sudah dilakukan oleh kedua pasangan calon sebelumnya.
Pada pasal 22, lanjutnya, juga ditegaskan dengan lengkap bahwa pasangan calon atau salah seorang pasangan calon dilarang mengundurkan diri setelah ditetapkan sebagai pasangan Capres dan Cawapres oleh KPU. Dari dua peraturan larangan itu, katanya lagi, bisa langsung merujuk ke Pasal 245.
Disebutkan, capres atau cawapres yang dengan sengaja mundur setelah ditetapkan KPU, dipidana dengan penjara minimal 24 bulan dan maksimal 60 bulan, disertai denda minimal Rp20 miliar dan maksimal Rp50 miliar.
“Pernyataan Prabowo tanggal 22 Juli kalau itu pernyataan resmi bisa dikatakan Prabowo melakukan tindak pidana Pilpres. Kalau bisa dibuktikan bisa dipenjara. Karena secara hukum itu terbukti mundurnya Prabowo otomatis menghilangkan haknya menggugat hasil pilpres ke MK," katanya.
“Karena yang menjadi dasar Prabowo ke MK adalah hasil Pilpres sedangkan Prabowo tidak mengakui atau mundur dari hasil atau penghitungan hasil Pilpres,” tegas Acong lagi.
Acong kemudian menyarankan Prabowo legowo. “Butuh jiwa negarawan untuk mengakui kekalahan. Harus legowo karena percuma Prabowo ngotot, tidak akan berpengaruh pada hasil Pilpres. Apalagi rakyat sekarang sudah cerdas,” sarannya.
"Tindakan Prabowo dan pendukungnya belakangan ini justru menjadi bahan olok-olokan di media sosial,” pungkasnya.

=) yup, sebaiknya sikap legowo ada di hati masing-masing pihak karna toh Pemilu sudah berlangsung aman.

Yg bisa legowo itu kan buat mereka2 yg pikirannya masih normal pop. Lha wong prabowo itu dah dari awalnya sakit jiwa, mana bisa legowo ??? Jadi ya harap maklum, namanya juga orang gak waras pikirannya.

Legowo itu sama dengan rendah hati…Bernapasnya kalem dan tetep tersenyum bahagia…bukna bernafasnya ngos-ngosan …dan mata nanar / melotot menatap lawan didepannya…

Artinya dapat menerima kenyataan serta mampu menerima konsekwensi , apapun itu bentuk hal yang sangat menyakitkan, sangat merugikan dan sterusnya.

Jika tidak dapat menerima konsekwensi yang sangat buruk, berarti tidak memiliki integritas sama sekali…

Harus nya bersyukur dng apa yang sudah diperolehnya, karena semua itu adalah hasil kerja keras semua pihak yang mendukungnya dengan segala kelebihan dan kelemahan yang dimiliki jajaran merah putih.

Tohh…masih ada kesempatan 5 thn lagi dedepannya kok…jika dunia ini belum kiamat tentunya…

Salam…

.

Sekarang aje disurvey ulang, Prabowo cuman 30,39%, Jokowi 57,06%

Mau PSU malah kalah telak dia nantinya, mendingan kek sekarang kalahnya tipis :smiley:
walopun sama aja sih kalah juga :smiley:

Kalau dia legowo, mungkin 5 tahun lagi dia masih bisa nyapres, tapi lihat sikapnya kayak gini, yang ada jadi tongpes