PROBLEM WITH RAPTURE: DIVINE MOTIVATION

PROBLEM WITH RAPTURE

Secret rapture, hingga kini masih menjadi suatu doktrin yang diperdebatkan, beebrapa denom mengakui kebenarannya, sedangkan yang lain meragukannya. Kedua pihak yang berseberangan, masing masing memiliki pijakan scriptural (paling tidak, menurut mereka sendiri).

Saya tertarik untuk menyoroti secret rapture dari sudut pandang yang lain.

PROBLEM WITH DIVINE MOTIVATION

Seorang pernah menjawab, bahwa syarat untuk “diangkat” dan mengalami dispensasi dari masa tribulasi adalah sebagai berikut: Tidak hidup dlm kegelapan, Hidup sbg anak2 terang, hidup kudus dan benar.

Pertanyaan:
Apa yang menjadi motivasi Allah melakukan pengangkatan pada orang orang ini? JIka mereka yang suci dan benar didispensasi dari tribulasi, bagaimana dengan mereka yang tertinggal? Bukankah peluang mereka untuk tetap setia dalam tribulasi jauh lebih kecil dari orang orang suci?

Jika mereka yang (yang akan tertinggal), saat ini, tidak mengalami tribulasi saja tidak setia, bagaimana jadinya saat menjalani masa tribulasi nanti?

Mungkinkah seorang yang tidak bisa menjumlahkan dapat mengoperasikan integral?

Para rapturist yang baik, yang ingin mengomentari masalah ini silakan mengemukakan pandangannya, tidak perlu membawa ayat ayat, floor kan saja interpretasi Sdr berkaitan dengan masalah ini.

GBU all of us

Tuhan Yesus memberikan kesempatan yg sama kpd setiap orang,
dan Dia menghendaki spy kita semua pergunakan kesempatan yg diberikan selagi hari siang dgn sebaik2nya.
Mereka yg tertinggal adalah mereka yg tdk sungguh2 dlm mengikut Tuhan,
shg bagi mereka saat tribulasi itu adalah kesempatan akhir utk membuktikan kesungguhan imannya.
Tuhan menghendaki agar setiap org berjaga2 dan mempersiapkan diri,
bukankah standard utk memenuhi rapture itu sdh dijelaskan di Alkitab?
Mereka yg santai2 saja dan tdk berusaha mempersiapkan diri shg tertinggal tentunya bukan krn Tuhan tdk adil.
GBU all

Terima Kasih Sdr Paul atas jawabannya, namun saya masih melihat masalah dalam pandangan yang Sdr sampaikan

Well, begini

Allah memberikan kesempatan kedua bagi “mereka yang tertinggal” untuk menunjukkan iman mereka,
namun perhatikan fakta ini:

  1. Jauh lebih sulit mempertahankan iman pada masa tribulasi, saya ulang pernyataan saya di awal

Mengapa Allah justru memberi ujian yang lebih sulit pada mereka yang “tidak hidup kudus” dengan “membiarkan mereka masuk dalam tribulasi”?

Jika Anda memberikan ujian pada sepuluh murid anda dengan tingkat kesulitan yang sedang, dan kemudian 3 diantaranya lulus, apakah anda akan memberikan ujian dengan tingkat kesulitan “luar biasa sukar” pada tujuh anak yang tidak lulus? Does it make any sense?

  1. Dari sisi mereka yang “kudus”, bukankah lebih baik mereka mengalami tribulasi, sehingga semakin teruji imannya?

Jika Anda memberikan ujian pada sepuluh murid anda dengan tingkat kesulitan yang sedang, dan kemudian 3 diantaranya lulus, dan kemudian anda memberikan ujian dengan tingkat kesulitan “luar biasa sukar” pada tujuh anak yang tidak lulus, mengapa anda tidak menyertakan juga anak anak yang lulus ujian pertama untuk mengikuti ujian yang lebih sukar?

Katakanlah anda tahu mereka yang lulus ujian pertama tidak akan lulus ujian kedua yang jauh lebih sukar, lantas bagaimana dengan mereka yang tidak lulus ujian pertama? Anda pasti tahu bahwa mereka pastinya tidak akan lulus ujian kedua yang jauh lebih sukar.

Seorang yang tidak mengetahui angka tidak dapat melakukan penjumlahan
Seorang yang tidak mengetahui penjumlahan tidak dapat melakukan integrasi

seorang yang tak dapat mempertahankan imannya hanya karena takut dipukuli, dapatkah ia mempertahankan iman saat diancam akan dirobek mulutnya dan dianiaya dengan kejam?

Terima Kasih
GBU all

Yang diangkat yang beriman pada Kristus kok, bukan dinilai dari perbuatan

Perhatikan baik baik

Jika pada saat “damai tenang dan aman” saja seorang menolak Kristus, apa jadinya saat ia “dikalungi clurit, disuapi senapan dan dipaksa menyembah AntiKristus”?

GBUs

sebenarnya Tuhan tdk mau ada seorgpun yg tertinggal utk masa tribulasi itu.
oleh sebab itu kita mendptkan kesmptan yg sama pd masa2 sebelumnya.
Bukankah di dlm kita masing2 Tuhan menjanjikan penolong (Roh Kudus) yg sama yg akan menuntun kita kpd kebenaran?
Hanya saja setiap org mempunyai sikap yg berbeda, krn menganggap Tuhan itu sangat berkemurahan dan mau menunggu, banyak diantara kita yg hidup seenaknya, sesantai2nya, gak mau tahu beban yg Tuhan sdh berikan utk berbagi.

IMO sebenarnya bisa saja Tuhan tdk memberikan kesempatan kedua bukan? akan tetapi Tuhan masih memberikan kesempatan, siapa tahu akan berubah.
Masa kesukaran blm tentu membuat seseorg akan jatuh, bknkah banyak org yg justru bangkit imannya ketika menghadapi masalah yg sulit? bknkah gereja justru tumbuh jika ada aniaya?
Tapi tentunya lebih baik bila kita gunakan setiap kesempatan yg Tuhan berikan dgn sebaik2nya, jangan sampai tertinggal.

Dlm menghadapi tribuasi itu sangat berbeda keadaannya dgn menghadapi soal2 ujian. Saat tribulasi itu tetap ada kuasa Roh Kudus di dlm setiap org percaya, sdgkan pd murid2 yg menghadapi soal ujian kan hanya bergantung pd kemampuannya sendiri. :slight_smile:
GBU

Noted Sdr Paul, saya pastikan dulu pernyataan Sdr.

Mereka (yang akan tertingal), pada saat ini tidak hidup kudus
kemudian
Pada saat tribulasi, mereka memiliki peluang untuk hidup kudus dan memerptahankan imannya

  1. Apakah Sdr setuju dengan pernyataan diatas?
  2. Jika jawabannya YA, lantas, mengapa mereka yang kudus (pada saat pretribulasi) tidak diikutkan saja pada masa tribulasi?

Mengapa mereka yang mampu mengerjakan penjumlahan tidak digabungkan saja dengan kelompok buta angka untuk mengerjakan integral?

GBU all

Betul, kesempatan msh tetap ada, yg bertahan sampai akhir dia akan selamat.

IMO itu merupakan fasilitas yg Tuhan berikan kpd mereka yg setia kpd Sang Tuan, suatu bentuk apresiasi.
(Bukankah di dunia ini juga berlaku sistem spt itu? yg berprestasi, menunjukkan attitude yg baik diberikan reward?sebaliknya mrk yg tdk memenuhi std akan di beri kesempatan utk memperbaiki seblm di PHK.)

Sedangkan utk mereka yg tdk setia/tdk sungguh2 Tuhan berikan kesempatan kedua.
Cukup adil kan? daripada mrk yg tertinggal itu langsung di buang ke dapur api yg menyala2 :’(
GBU

Hmmm, let us pay deeper attention…

Katakanlah mereka yang tertinggal akhirnya mempertahankan iman, bukankah dengan kata lain mereka memilki iman yang lebih besar dari mereka yang diangkat (yang belum teruji, yang hidup tenang damai dan tak mengalami tribulasi)?

Ujian itu mendatangkan ketekunan, mereka berkesempatan melihat apa kekurangan mereka selama ini.
Iman yg tumbuh itu karena adanya himpitan ( ada keterpaksaan ), yg mengharuskan mereka bertahan agar selamat.
Dan hrs diingat mereka tdk berjunag sendiri, tetap ada Roh Kuuds di dlm diri mereka.
GBU

Perhatikan baik-baik,
Yang diangkat adalah yang beriman pada KRISTUS.
Banyak orang yang merasa bisa hidup kudus, mungkin justru ketinggalan, karena dia merasa hidupnya baik-baik saja.

PANDANGAN INI MUNCUL SEJAL ABAD KE - 19, oleh John Nelson Darby (1859-1874), pemimpin sekte Kristen di Inggris, yang bernama Plymouth Brethern.

ada beberapa ayat yang berbenturan dengan pandangan ini, salah satunya ini :
Rev 6:9 Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang kelima, aku melihat di bawah mezbah jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh oleh karena firman Allah dan oleh karena kesaksian yang mereka miliki.

Rev 6:10 Dan mereka berseru dengan suara nyaring, katanya: “Berapa lamakah lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar, Engkau tidak menghakimi dan tidak membalaskan darah kami kepada mereka yang diam di bumi?”

Rev 6:11 Dan kepada mereka masing-masing diberikan sehelai jubah putih, dan kepada mereka dikatakan, bahwa mereka harus beristirahat sedikit waktu lagi hingga genap jumlah kawan-kawan pelayan dan saudara-saudara mereka, yang akan dibunuh sama seperti mereka.

apa mungkin Yesus kelupaan membawa Umat-Nya, sehingga di brangus oleh anti Kristus…?? :slight_smile:

====

Inget, jangan ngambek kalo diskusi dengan saya… :smiley:

Dengan tetap mempertahankan konsistensi, jika ujian itu mendatangkan ketekunan, bukankah mereka yang diangkat lebih baik juga mengalami tribulasi, supaya iman mereka semakin bertumbuh dalam penderitaan.

Tentunya mereka yg di rapture itu adalah mereka yg telah teruji imannya melalui suka duka yg mereka alami.
Sehingga pd waktunya Tuhan menganggap mereka sdh cukup teruji dan menyingkirkan mereka dr tribulasi.
GBU Bro.

Baca sendiri saja lah:
I Korintus
13:8 Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.
13:9 Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna.
13:10 Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap

Siapa yang hidup dalam “damai tenang dan aman”? Untuk orang Kristen yang benar, tidak ada kehidupan “damai tenang dan aman”. Saya menjelaskan:

  • seorang yang tidak percaya kepada Yesus tidak diselamatkan, akhirnya akan dilemparkan dalam lautan api dan belerang, jadi Iblis tidak perlu memperhatikannya, karena orang itu telah miliknya.

  • orang Kristen suam yang percaya kepada Yesus namun hanya hidup untuk diri sendiri, tidak bekerja untuk menyelamatkan orang lain atau tidak melakukan kerja apapun untuk kerajaan Kristus - seperti orang yang hanya ikut kebaktian hari Minggu tetapi tidak hidup dalam kesucian -, orang itu juga tidak merupakan sandungan untuk Iblis, jadi Iblis tidak akan menyerangnya. Orang sebegitu tidak akan diangkat karena iman mereka tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati. (Yakobus 2:26)

  • Orang-orang Kristen benar yang dalam pekerjaannya menyebabkan orang keluar dari kerajaan setan untuk datang dalam kerajaan Allah, ataupun bekerja untuk Kristus dalam hal lainnya, orang-orang itu akan mengalami banyak halangan atau siksaan dari setan yang bekerja keras untuk menyesatkan orang dan melawan Allah. Maka orang seperti orang misionaris sekarang telah dihalangi dan disiksanya.

  • Waktu kesusahan besar sama-sama saja, orang tidak Kristen yang akan menerima tanda binatang akan hidup “damai tenang dan damai” selama satu masa tertentu - yaitu sampai waktu malaikat yang kelima meniup sangkakalanya (Wahyu 9)

  • Waktu kesusahan besar orang Kristen yang tidak menemui syarat-syarat untuk diangkat (lihat Wahyu Bab 2-3 - Hendaklah orang yang bertelinga mendengarkan apa yang dikatakan malaikat kepada jemaat-jemaat - ) akan dicoba untuk membuktikan bahwa mereka sebenarnya mencintai dan percaya akan Yesus. - Itu kesempatan terakhir -

Kesusahan besar itu adalah kesempatan terakhir untuk semua orang, baik yang Kristen atau yang tidak. Kasihanlah ada tertulis dalam kitab Wahyu bahwa meskipun banyak celaka telah terjadi, namun orang tidak [akan] bertobat dari pada pembunuhan, sihir, percabulan dan pencurian. (Wahyu 9:21)

Maka diangkat atau tidak, orang Kristen akan mengalami siksaan, sebelum kesusahan besar sebagai orang yang bekerja untuk Kristus, atau selama kesusahan besar oleh Antikristus. Masih bisa pilih, tetapi penderitaan selama kesusahan besar akan lebih besar…
Orang yang tidak Kristen akan menderita setelah malaikat yang kelima meniup sangkakalanya (Wahyu 9) tetapi tidak diselamatkan…

Tidak ada yang tidak adil terhadap pengangkatan dan kesusakan besar, kita telah diingatkan.

- Hendaklah orang yang bertelinga mendengarkan apa yang dikatakan malaikat kepada jemaat-jemaat -

Salam

wah anda ini payah ya, hrs dituntun terus :slight_smile:
liat bener2, bukan kasih nya yg jadi fokus tapi yg hilang itu saat kedatangan Tuhan

Jadi yg lenyap itu hanya itu2 yg di bold lho, sdgkan kuasa Roh Kudus di dlm org percaya pd masa tribulasi msh eksis, gitu lho :afro:

hmm, dengan kata lain,

Pertanyaan 1:
Mereka yang lolos tribulasi, jauh memiliki iman yang lebih besar daripada mereka yang diangkat

sehingga

Sejatinya mereka yang lolos tribulasi lebih layak diangkat daripada mereka yang diangkat

Pertanyaan 2:
Apakah hanya karena alasan motif apresiasi, pengangkatan itu diberikan? Bukankah ini berlebihan, mereka yang diangkat belum tentu lolos dari tribulasi, mereka belum teruji dalam “ujian” yang sesungguhnya.

Oya, sekedar mengingatkan yang lain, diskusi ini tidak perlu bawa segepok ayat2, cukup selesaikan saja dilema yang saya floorkan disini

GBU all

@Pa_ul

Bro, ayat 1Korintus 13:1-13 sepenuhnya bicara tentang KASIH, KASIH dan KASIH.

1Kor 13:1 Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.

1Kor 13:2 Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.

1Kor 13:3 Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.

Ayat 1-3 Paulus membandingkan bahwa KASIH jauh lebih berarti dibandingkan berbagai karunia dan perbuatan.

1Kor 13:4 Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.

1Kor 13:5 Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.

1Kor 13:6 Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.

1Kor 13:7 Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Ayat 4-7 Paulus bicara tentang APA ITU Kasih

1Kor 13:8 Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.

1Kor 13:9 Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna.

1Kor 13:10 Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap.

1Kor 13:11 Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.

1Kor 13:12 Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.

1Kor 13:13 Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.

Ayat 8-13, Paulus secara tegas kembali menyatakan bahwa KASIH lebih berarti bahkan dibandngkan dengan HARAPAN dan IMAN.

Semoga bermanfaat.

Syalom

Betul Bro, betul sekali :afro: