Proses pengampunan dosa: korban, pelaku, para Rasul dan Tuhan.

Shalom saudara/i yg terkasih…

Sy mau mengajukan banyak pertanyaan tentang proses pengampunan dosa. Pertanyaan sy ada dua bagian:
Bagian 1
Pertimbangkan kasus2 berikut.
Kasus A

  1. Ani adalah gadis yang rajin dan baik hati, dia tidak pernah melakukan sesuatu yg jahat atau merugikan orang lain. Secara duniawi dia tidak bersalah, namun kalo menurut Kristen dia tetap punya ‘dosa’. (Tolong jangan nyerempet ke dosa warisan atau tipe2 dosa ya, itu di thread lain aja)
  2. Ani suatu hari pergi ke pasar naik sepeda motor, dia dibegal oleh pembegal sadis. Uang dan sepeda motornya dirampok, dia juga dilukai.

Kasus B

  1. Budi adalah seorang buronan yang dicari polisi, namun selama ini dia mampu menghindari penangkapan polisi. Secara duniawi dia bersalah, apalagi secara rohani.
  2. Budi suatu hari pergi ke pasar naik sepeda motor, dia dibegal oleh pembegal sadis. Uang dan sepeda motornya dirampok, dia juga dilukai.

Pertanyaan sy:

  1. Pada kasus A : apakah Tuhan ‘tersakiti/merugi’ melihat Ani dibegal dan dengan demikian punya hak utk mengampuni? jika Tuhan tidak tersakiti sama sekali maka apa sebabnya? Lalu apakah Ani (sebagai korban) memiliki hak utk mengampuni pembegalnya? Jika Ani tidak punya hak maka mengapa? jika dia punya hak maka mengapa? atau apakah baik Ani dan Tuhan, keduanya punya hak mengampuni?
  2. Pada kasus B: jawab juga pertanyaan2 yg sama di atas.

Bagian 2.
Perhatikan ayat berikut
“So Jesus said to them again, “Peace to you! As the Father has sent Me, I also send you.” And when He had said this, He breathed on them, and said to them, “Receive the Holy Spirit. If you forgive the sins of any, they are forgiven them; if you retain the sins of any, they are retained”” (John 20:21-23)

Pertanyaan sy:
3. Para Rasul setelah percaya Yesus dengan sungguh2 punya dosa atau tidak?
4. Apakah mereka
4.1. benar2 punya hak/berkuasa mengampuni dosa manusia? atau
4.2 itu cuma sebatas ‘memproklamasikan’ bahwa dosa diampuni jika mau percaya Yesus atau
4.3 Tuhan ‘tunduk’ kepada para rasul dalam memutuskan itu dosa diampuni atau tidak (dalam artian, jika rasul berkata ‘itu diampuni’ maka segera Tuhan mengampuni, jika tidak maka dosa orang itu tetap).
yg merupakan penjelasan yg paling tepat? Atau ada penjelasan lain?
5. Jika anda tadi berkeyakinan para rasul diberi hak utk mengampuni dosa, maka apakah hak/kuasa/kemampuan tersebut masih ada sekarang??

Sekian pertanyaan2 sy… Terima kasih… Semoga pertanyaan ini dapat ditanggapi dengan baik dan bermanfaat utk kita semua.

sy akan coba menjawab sendiri dengan logikaku sendiri.
sy pake prinsip, manusia itu adalah ‘mainannya Tuhan’ jadi siapa yg menyakiti mainannya Tuhan maka dia menyakiti atau merugikan Tuhan. Maka itu cuma Tuhan yg punya hak menyatakan dosa pelaku tetap ada atau diampuni. sang korban tidak punya hak sama sekali dalam soal ‘rohani’, kalo duniawi iya dia berhak.

utk para rasul, juga mereka tdk punya hak.

@revoltzer

  1. Pada kasus A : apakah Tuhan ‘tersakiti/merugi’ melihat Ani dibegal dan dengan demikian punya hak utk mengampuni? (Tuhan tidak tersakiti atau merugi)
    jika Tuhan tidak tersakiti sama sekali maka apa sebabnya? (karena Tuhan maha kuat maha perkasa jadi tidak ada yang dapat menyakiti Tuhan)
    Lalu apakah Ani (sebagai korban) memiliki hak utk mengampuni pembegalnya? (lebih tepatnya hak untuk memaafkan dan tidak menghukum di dunia, sedangkan hak mengampuni hanya dimiliki oleh Tuhan)
    Jika Ani tidak punya hak maka mengapa? (karena itu berkaitan dengan keadilan dan karena hanya Tuhan yang maha adil maka hanya Tuhan yang berhak mengampuni)
    jika dia punya hak maka mengapa? (ani tidak punya hak mengampuni)
    atau apakah baik Ani dan Tuhan, keduanya punya hak mengampuni? (hanya Tuhan yang punya hak mengampuni)

  2. Pada kasus B: jawab juga pertanyaan2 yg sama di atas. (jawaban saya sama dengan yang diatas)

Bagian 2.
Perhatikan ayat berikut
“So Jesus said to them again, “Peace to you! As the Father has sent Me, I also send you.” And when He had said this, He breathed on them, and said to them, “Receive the Holy Spirit. If you forgive the sins of any, they are forgiven them; if you retain the sins of any, they are retained”” (John 20:21-23)

Pertanyaan sy:
3. Para Rasul setelah percaya Yesus dengan sungguh2 punya dosa atau tidak? hanya Tuhan yang tahu

  1. Apakah mereka
    4.1. benar2 punya hak/berkuasa mengampuni dosa manusia? (tidak) atau
    4.2 itu cuma sebatas ‘memproklamasikan’ bahwa dosa diampuni jika mau percaya Yesus (ya) atau
    4.3 Tuhan ‘tunduk’ kepada para rasul dalam memutuskan itu dosa diampuni atau tidak (Tidak).

  2. Jika anda tadi berkeyakinan para rasul diberi hak utk mengampuni dosa, maka apakah hak/kuasa/kemampuan tersebut masih ada sekarang?? (saya tidak berkeyakinan para rasul diberi hak utk mengampuni dosa)

mengampuni itu bukan “hak”
mengampuni itu adalah “kewajiban”
kenapa kita wajib mengampuni? karena Allah sudah terlebih dahulu mengampuni kita

so baik kasus Ani maupun Budi apapun yang terjadi mereka harus (wajib) mengampuni yang bersalah kepada mereka
soal Tuhan tersakiti atau tidak… well, saya pikir dari sejak Adam pun Tuhan sudah tersakiti hatiNya :slight_smile:
tp saya ga akan bahas hal ini terlalu dalam
itu jawaban nomor 1 dan 2

  1. ya masih punya dosa, Petrus kan sampe ditegor Paulus karena munafik

  2. sesuai ayat tersebut, rasul memang diberikan kuasa itu, hal ini dipraktekkan di Katolik melalui sakramen pengampunan dosa, contoh kasus langsung bisa kita lihat di Kisah Para Rasul dimana Petrus menerapkan kuasa ini kepada Ananias dan Safira, mereka langsung mati saat itu juga

  3. seharusnya masih, apa yang telah diberikan Tuhan, prinsipnya sy percaya tidak ditarik kembali
    Yesus pun jelas menegaskan soal “dosa yang tidak dapat diampuni”

Kalau pengampunan dari manusia (Ani dan Budi), mereka mengampuni atau tidak, itu hak mereka, tapi proses hukum terhadap pembegal tidak bergantung pada diampuni atau tidaknya si pembegal oleh korban, karena ini bukan delik aduan.
Pengampunan itu cuman terpakai sebagai pertimbangan untuk meringankan hukuman.

Kalau sebagai orang Kristen, tentu saja sebaiknya kita megampuni, karena menyimpan dendam justru akan menyakiti diri kita sendiri.

Sedangkan kalau pengampunan dari Tuhan, ini tidak tergantung apakah Tuhan tersakiti atau tidak oleh perbuatan manusia.
Sejak dosa masuk dalam dunia melalui Adam, Tuhan sudah ‘tersakiti’ oleh dosa. Karena dosa inilah segala macam perbuatan jahat ada dalam dunia. Begal membegal adalah salah satu contohnya.
Jadi sebenarnya baik Ani, Budi maupun pembegal butuh pengampunan dari Tuhan (melalui Kristus). Pengampunan dosa dari Tuhan itu tidak menurut per perbuatan.

Jadi mungkin konsep ‘dosa’-nya yang harus disamakan duu.

Kalau Bagian 2:

4.2 itu cuma sebatas ‘memproklamasikan’ bahwa dosa diampuni jika mau percaya Yesus

maksud aku, siapa yg paling ber-hak menyatakan ‘dosamu diampuni’.

Kita mengampuni sebenarnya bukan benar2 dosanya diampuni, yg berhak menyatakan dosanya diampuni itu ya pemilik ‘mainan’ itu yaitu Tuhan sendiri. menurut logikaku yg di atas begitulah yg ingin ak sampaikan.

Menurut logika, jelas Tuhan merugi/tersakiti kalo perampok membegal Ani dan/atau Budi (walaupun Budi juga orang jahat). Bukan cuma merugi pada saat Adam dan Hawa berdosa. Soalnya dia pemilik mainan. Nah jika mainan rusak atau dirusakkan oleh seseorang ya pasti sang pemilik (yaitu Tuhan) merugi.

… (cut)

Hm thanks, kalo menurut logikaku, hanya Tuhan yg punyak hak/kuasa mengampuni. Mungkin aja Tuhan uda ‘membisikkan/memberitahu segala sesuatu yg terjadi dan akan terjadi pada ananias safira’ kepada Petrus. Menurut logikaku tidak mungkin Petrus begitu lancang langsung menyatakan “kalian akan bla bla bla dan mati…” Dalam hal ini aku setuju dengan bang @rama noor, itu adalah proklamasi. Justru proses pengampunan itu atas inisiatif diri sendiri. Jika diri sendiri mau mengaku berdosa dan menerima Yesus maka barulah mereka ‘dibenarkan’ atau ditebus oleh karena pengorbanan Yesus.

  1. seharusnya masih, apa yang telah diberikan Tuhan, prinsipnya sy percaya tidak ditarik kembali
    Yesus pun jelas menegaskan soal “dosa yang tidak dapat diampuni”
    [/quote]
    seharusnya tidak, menurut logikaku karena sejak dulu tidak pernah Tuhan kasih kemampuan mengampuni dosa kepada rasul sekalipun. Mungkin kita uda salah mengerti. Mana ada itu ciptaan mampu/berhak/berkuasa mengampuni dosa. yg mengampuni dosa itu ya Sang Pencipta.

sekian menurut logikaku

Joh 20:21 Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.”
Joh 20:22 Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus.
Joh 20:23 Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”

salam

mengampuni itu adalah ‘two-stand’ Bro!!

‘two-stand’ = ‘standar ganda’ yaitu hak dan juga kewajiban.

mau mengampuni atau tidak itu hak anda, dan kalau boleh juga itu kewajiban, makanya disebut ‘two-stand’ = ‘standar ganda’

jangan anda, plintir2 dong, hehe,

salam.

nah itulah yg disalah-mengerti. Justru karena terlebih dahulu sudah diampuni makanya Rasul cuma menegaskan pengampunan itu. coba lihat bhs inggrisnya. ini juga baru2 aja aku ketahui. dulu pun aku pikir rasul itu hebat sekali bisa mengampuni. eh ternyata tidak. lihat nih:

“Those whose sins you forgive, have already been forgiven; those whose sins you do not forgive, have not already been forgiven.”

itu sudah jelas Tuhan yang paling berhak :slight_smile:
tapi sesuai Firman, rasul2nya pun diberikan “privilege” demikian

y gpp

logika kita dan Tuhan udah jelas sangat berbeda :slight_smile:

kalau mau diomongin apa adanya dalam Alkitab udah ada jelas :

  1. dosa yang tidak dapat diampuni
  2. dosa yang tidak mendatangkan maut
  3. dalam kasus Ananias dan Safira, Petrus tidak tercatat sama sekali “konsul” sama Tuhan
    sy pikir mungkin peristiwa2 inilah yang pada akhirnya membuat Petrus jadi “diutamakan” daripada yang lain

perhatikan ayat di atasnya:

Joh 20:21 Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.”

kata ‘mengutus’
Yesus ‘mengutus’ murid2nya,

‘BUKAN’ murid2nya ‘menegaskan’

salam

Mengampuni adalah penghapusan hutang.

Saat orang merasa dihutangi orang lain, maka ia bisa menagih atau membebaskan.

Krn Ani dan Budi dirugikan, maka mreka punya hak mengampuni.
Kl mreka sudah mengampuni, maka kesalahan tsb tidak akan dihitung oleh Tuhan.

Ingat prumpamaan hamba yg berhutang 10000 talenta dan orang laen yg berhutang pd si hamba 1000 talenta.

Pertanyaan sy:

  1. Pada kasus A : apakah Tuhan ‘tersakiti/merugi’ melihat Ani dibegal dan dengan demikian punya hak utk mengampuni? jika Tuhan tidak tersakiti sama sekali maka apa sebabnya? Lalu apakah Ani (sebagai korban) memiliki hak utk mengampuni pembegalnya? Jika Ani tidak punya hak maka mengapa? jika dia punya hak maka mengapa? atau apakah baik Ani dan Tuhan, keduanya punya hak mengampuni?
  2. Pada kasus B: jawab juga pertanyaan2 yg sama di atas.

Jawab :

  1. Allah tidak ‘tersakiti/merugi’ karena Dia bukan manusia yang mengalami kelemahan manusia seperti sedih, menyesal.
    Ani memiliki hak mengampuni karena sebagai sesama manusia kita harus saling mengampuni. Tetapi harap diingat bahwa Ani ini tidak dapat mengampuni dosa. Itu hak mutlak Allah.
    Tuhan dan Ani sama-sama memiliki hak mengampuni tetapi karena si begal berdosa dan menyakiti Ani (jadi ada korban manusia), maka pengampunan si begal tergantung kerelaan Ani.
    Bila Ani mengampuni, maka Ani mendapat pahala sedangkan dosa si begal diampuni sebagian, tinggal si begal apakah mau bertobat/tidak. Bila bertobat maka dosa pembegalannya terhadap Ani diampuni seluruhnya, bila tidak bertobat sebagian dosanya tidak diampuni Allah.
    Bila Ani tidak mengampuni, maka Ani tidak mendapat pahala, sehingga dosa si begal tidak diampuni. Jadi biarpun si begal sudah bertobat kepada Allah, sebagian dosanya telah diampuni hanya tinggal menunggu kerelaan hati Ani supaya dosanya diampuni secara tuntas. Bila Ani akhirnya mengampuni maka Ani pun mendapat pahala juga.
  1. Allah tidak ‘tersakiti/merugi’ karena Dia bukan manusia yang mengalami kelemahan manusia seperti sedih, menyesal.
    Budi memiliki hak mengampuni karena sebagai sesama manusia kita harus saling mengampuni. Tetapi harap diingat bahwa Budi ini tidak dapat mengampuni dosa. Itu hak mutlak Allah.
    Tuhan dan Budi sama-sama memiliki hak mengampuni tetapi karena si begal berdosa dan menyakiti Budi (jadi ada korban manusia), maka pengampunan si begal tergantung kerelaan Budi.
    Bila Budi mengampuni, maka Budi mendapat pahala sedangkan dosa si begal diampuni sebagian, tinggal si begal apakah mau bertobat/tidak. Bila bertobat maka dosa pembegalannya terhadap Budi diampuni seluruhnya, bila tidak bertobat sebagian dosanya tidak diampuni Allah.
    Bila Budi tidak mengampuni, maka Budi tidak mendapat pahala, sehingga dosa si begal tidak diampuni. Jadi biarpun si begal sudah bertobat kepada Allah, sebagian dosanya telah diampuni hanya tinggal menunggu kerelaan hati Budi supaya dosanya diampuni secara tuntas. Bila Budi akhirnya mengampuni maka Budi pun mendapat pahala juga.

Catatan :Mengingat Budi adalah pelaku kejahatan juga. Maka ketika Budi menjadi korban kejahatan posisinya seperti Ani, sedangkan ketika Budi menjadi pelaku kejahatan posisinya seperti si begal.

Dasar ayat bahwa Tuhan tidak ‘tersakiti/merugi’
Bilangan 23:19 Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?

Pertanyaan sy:
3. Para Rasul setelah percaya Yesus dengan sungguh2 punya dosa atau tidak?
4. Apakah mereka
4.1. benar2 punya hak/berkuasa mengampuni dosa manusia? atau
4.2 itu cuma sebatas ‘memproklamasikan’ bahwa dosa diampuni jika mau percaya Yesus atau
4.3 Tuhan ‘tunduk’ kepada para rasul dalam memutuskan itu dosa diampuni atau tidak (dalam artian, jika rasul berkata ‘itu diampuni’ maka segera Tuhan mengampuni, jika tidak maka dosa orang itu tetap).
yg merupakan penjelasan yg paling tepat? Atau ada penjelasan lain?
5. Jika anda tadi berkeyakinan para rasul diberi hak utk mengampuni dosa, maka apakah hak/kuasa/kemampuan tersebut masih ada sekarang??

Yohanes 20:21-23
20:21 Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.”
20:22 Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus.
20:23 Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”

Jawab :
3. Para rasul tetaplah manusia yang tetap mempunyai sifat kedagingan juga. Jadi mereka tetap mempunyai dosa.
4.1 Mereka hanya bertindak mendoakan orang yang melakukan pengakuan dosa melalui mereka. Jadi perihal mengampuni dosa itu adalah hak mutlak Allah. Hanya saja mereka mempunyai pengetahuan atau telah mendapat karunia Roh Kudus sehingga bisa mengetahui apakah dosa yang disampaikan kepada mereka sudah diampuni/ belum. Jadi sebenarnya Roh Kudus yang berkata-kata melalui hati mereka.
4.2 Pengakuan dosa ini untuk orang yang sudah beragama Kristen. Jadi hal ini tidak relevan lagi karena yang mengaku dosa adalah orang yang sudah beriman pada Yesus.
4.3 Roh Kudus berkata- kata didalam hati para rasul sehingga mereka mereka bisa mengetahui apakah dosa orang yang mengaku dosa kepada mereka sudah diampuni/ belum. Ingatlah Yohanes 20:22 mereka menerima Roh Kudus terlebih dahulu dari Yesus sehingga bisa mengetahui apakah dosa seseorang masih ada/tidak (Yohanes 20:23). Jadi bukan berarti Tuhan ‘tunduk’ kepada para rasul.

  1. Hal ini masih dipraktekan oleh Romo/pastur Orthodox/Katolik sebagai Sakramen Pengampunan dosa karena mereka mewarisi jalur apostolik. Untuk membuktikannya harus dicari sumbernya dari tulisan bapa-bapa gereja , sejarah gereja dan ditelusuri silsilahnya turun-temurun sampai bertemu jalur para rasul.
    Mungkin saja tercatat di kitab Didakhe(Ajaran Para Rasul).
    Apakah romo-romo yang melakukan sakramen pengampunan dosa sekarang ini mendapat bisikan Roh Kudus seperti para rasul. Saya tidak mengetahuinya. Bisa ya, bisa juga tidak (formalitas untuk meneruskan tradisi apostolik).

Demikian jawaban saya. Semoga membantu.
Mohon dikoreksi jika ada yang salah.

Kalo menurut saya :

A1. Thdp si pembegal, Tuhan merasa “sedih”.
A2. Thdp si Ani, Tuhan merasa “kesian”.
A3. Dgn demikian, thdp keduanya Tuhan merasa “tersakiti”.

dan dengan demikian punya hak utk mengampuni?
Menurut saya, Tuhan punya hak mengampuni - TAPI bukan karena ungu, melainkan karena Tuhan "berkompromi" dgn Law. Taroh kata "Law" personified, maka "Law" itu ibarat Prosecutor, Penuntut.
jika Tuhan tidak tersakiti sama sekali maka apa sebabnya?
A3.
Lalu apakah Ani (sebagai korban) memiliki hak utk mengampuni pembegalnya?
Kalo ada Legal Law, yang Ani punyai cuma as a person to person. Ani tidak punya hak thdp Legal Law, bahkan Ani dibawah Legal Law. So, sekalipun Ani mengampuni si pembegal - Ani wajib melaporkan si pembegal (apabila diketahui identitas si pembegal) ke polisi. Apabila Ani tidak melaporkan ke polisi, malah bisa bisa si Ani dikatakan kaki-tangan si pembegal.
jika dia punya hak maka mengapa?
Karena Ani tidak mempunyai Law duluan.

Ortu bilang ke cuplis, anaknya “kalo kamu nakal, kamu tidak boleh nonton TV”.
Nah, disini ortu punya Law duluan. Ortu punya hak utk mengampuni cuplis - so :
meskipun kamu telah nakal, ini kali kami ampuni - kamu masih boleh nonton TV.

atau apakah baik Ani dan Tuhan, keduanya punya hak mengampuni?
Selama Ani itu sendiri tidak ada Law, maka yang ada memaafkan. Apabila Ani punya Law, maka Ani punyai hak mengampuni/tidak_mengampuni. Mengenai "hak", diperihal memaafkan (person to person) saya rasa itu kurang pas dibilang "hak", melainkan Free Will. It's up to Ani utk mau memaafkan ato kagak. Buat Ani, saya rasa "memaafkan" itu malah bisa dikatakan [wajib], but again - it's up to Ani utk mau memaafkan ato kagak.
2. Pada kasus B: jawab juga pertanyaan2 yg sama di atas.
Sulit dijawab karena kasusnya rumit :D.
Pertanyaan sy: 3. Para Rasul setelah percaya Yesus dengan sungguh2 punya dosa atau tidak?
Kalo baca dari ayat tsb, kesimpulannya sih demikian.
4. Apakah mereka 4.1. benar2 punya hak/berkuasa mengampuni dosa manusia?
Konsisten dgn kesimpulan diatas, jawabannya : YA, Para Rasul 4.1
4.2 itu cuma sebatas 'memproklamasikan' bahwa dosa diampuni jika mau percaya Yesus atau
Menurut saya, TIDAK.
4.3 Tuhan 'tunduk' kepada para rasul dalam memutuskan itu dosa diampuni atau tidak (dalam artian, jika rasul berkata 'itu diampuni' maka segera Tuhan mengampuni, jika tidak maka dosa orang itu tetap).
Menurut saya, tidak demikian.
yg merupakan penjelasan yg paling tepat? Atau ada penjelasan lain?
IMO, Deklarasi. Rasul ibarat penyambung mulut Tuhan. Kalo Tuhan bilang diampuni, Rasul ampuni. Kalo Tuhan bilang tidak diampuni, Rasul tidak ampuni.
5. Jika anda tadi berkeyakinan para rasul diberi hak utk mengampuni dosa, maka apakah hak/kuasa/kemampuan tersebut masih ada sekarang??
Harusnya ada, namun problemnya tidak bisa diketahui apa iya preceding kronologinya [Tuhan bilang ke Rasul] ? Belon lagi pabila ada Legal Law, bisa makin runyam sikon-nya :D

ayatnya mana?

salam.

IMO, tergantung ada Law duluan ato kagak.

Semisal Law yg ada duluan :
kalo si Budi ngebegal - maka suatu hari nanti dia akan dibegal orang lain

Maka semisal Budi ngebegal orang …
kalo Budi tidak Tuhan ampuni, ya kena lah si Budi instant karma tsb.

sang korban tidak punya hak sama sekali dalam soal 'rohani', kalo duniawi iya dia berhak.
Menurut saya, kasus yang diajukan kurang jelas. Ini mao ngomongin perihal instant karma ? ataukah sorga/neraka ?
utk para rasul, juga mereka tdk punya hak.
Sekali lagi, menurut saya "hak" yg diberikan Tuhan ke Rasul itu adalah hak sebagai ["penyambung mulut" Tuhan]. Tapi ya kembali lagi ke tulisan saya di post atas pada kalimat terakhir.

Pertanyaan thread kayaknya tidak minta utk menyertakan ayat2 deh sbg pendukung jawaban yg akan diajukan.

Sekarang kita coba gini ya :

  1. Pada kasus A :
    apakah Tuhan ‘tersakiti/merugi’ melihat Ani dibegal dan dengan demikian punya hak utk mengampuni?

Whatever jawabannya - Ayatnya mana ?

  1. apakah Ani (sebagai korban) memiliki hak utk mengampuni pembegalnya?

Whatever jawabannya - Ayatnya mana ?

Pada kasus B :
3. apakah Tuhan ‘tersakiti/merugi’ melihat Budi dibegal dan dengan demikian punya hak utk mengampuni?

Whatever jawabannya - Ayatnya mana ?

  1. apakah Budi (sebagai korban) memiliki hak utk mengampuni pembegalnya?

Whatever jawabannya - Ayatnya mana ?

  1. Apakah Tuhan ‘tunduk’ kepada para rasul dalam memutuskan itu dosa diampuni atau tidak (dalam artian, jika rasul berkata ‘itu diampuni’ maka segera Tuhan mengampuni, jika tidak maka dosa orang itu tetap).
    yg merupakan penjelasan yg paling tepat?

Whatever jawabannya - Ayatnya mana ?

  1. Jika ada orang berkeyakinan para rasul diberi hak utk mengampuni dosa, maka apakah hak/kuasa/kemampuan tersebut masih ada sekarang??

Whatever jawabannya - Ayatnya mana ?

  1. apakah baik Ani dan Tuhan, keduanya punya hak mengampuni?

Whatever jawabannya - Ayatnya mana ?

Silahkan dunlut jawab beserta ayat2nya. :smiley:

ayatnya mana ?

mau mengampuni atau tidak itu hak anda, dan kalau boleh juga itu kewajiban, makanya disebut 'two-stand' = 'standar ganda'
ayatnya mana ?

IMO, kalimat ayat diatas yg lebih masuk akal. So, “deklarasi” … “penyambung mulut Tuhan”.
Namun ya kembali lagi itu "problem"nya spt yg saya sempet tulis di post sebelumnya :char11:.

Pengampunan dari Rasul (imo) BUKAN absolution.
Apabila itu absolution, maka…

[b]Mungkin aja[/b] Tuhan uda 'membisikkan/memberitahu segala sesuatu yg terjadi dan akan terjadi pada ananias safira' kepada Petrus.
maka ungu menjadi tidak mungkin.

Dengan kata lain,
Petrus duluan punya Law “kalo si Ananias Safira bla3x - maka mereka mati berdiri”.
Realita : [Ananias Safira bla3x] - [mereka mati berdiri].

Kesimpulan :
KARENA Petrus tidak mengampuni mereka
MAKA mereka mati berdiri

Dilain sisi, kalo konsisten dgn bunyi kalimat ayat diatas :
KARENA Tuhan tidak mengampuni mereka
MAKA mereka mati berdiri