“RAHASIA 5+2 = 5.012”

Bagaimana mungkin 5+2 = 5.012?
Rahasianya terletak pada Andreas yang tdk mengecilkan hal2 kecil:
Andreas memang kurang popular dan namanya jarang disebut, bahkan tenggelam dibelakang kebesaran nama Petrus,
Akan tetapi tahukah anda? Andreas yg tdk pernah meremehkan hal2 yg kecil ini ternyata adalah yang membawa Petrus, abangnya sendiri kepada Yesus.
Tentu bukan merupakan suatu hal yg mudah untuk dapat memenangkan seorang kakak bagi Yesus.

Andreas tidak berkecil hati walaupun dirinya tdk sebesar abangnya,
ataupun murid2 yg lain, dan ternyata dibalik nama Andreas yang kecil tersimpan iman yang besar,
Andreas-lah yg membawa anak kecil yang membawa 5 roti dan 2 ekor ikan, suatu jumlah yg sangat kecil kepada Yesus.

http://imageshack.us/a/img546/3093/5roti2ikan.jpg

Yohanes 6:8, 9
Seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya:
"Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?

Mengapa 5 roti + 2 ikan dpt memberi makan 5000 orang laki2 (blm termasuk perempuan dan anak2), dan masih tersisa 12 bakul?
Karena ada Andreas yg percaya bahwa dihadapan Tuhan Yesus hal yg kecil dapat diubah-Nya menjadi mujizat yg besar.

Matius 14:20, 21
Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh.
Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak

Ingat apa yang dikatakan Tuhan Yesus?
Matius 17:20 . . . Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, – maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.
Lukas 17:6 . . . “Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.”

Kita sering meremehkan iman yg kecil, hal2 kecil dan menginginkan iman yg besar dan hal2 besar dlm doa2 kita,
padahal iman kecil saja kata Tuhan Yesus sudah cukup utk memindahkan gunung dan pohon ara,
dan melalui hal2 kecil ditangan Yesus menjadi mujizat yg besar > 5+2=5.012
GBU all

Shalom Bro…,
Saya ada beberapa sanggahan nih,

Kata2 bold biru ini saling bertolakbelakang artinya/ tidak sejajar.

[b]Iman - sebesar biji sesawi saja - tidak mungkin dapat memindahkan gunung/pohon ara. Ada kesalahan terjemah, coba simak terjemahan Alkitab ILT:

Mat 17:20 Dan YESUS berkata kepada mereka, “Karena ketiadaan imanmu! Sebab sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika kamu memiliki iman seperti biji sesawi, kamu akan berkata kepada gunung ini: Pindahlah dari sini ke sana! Dan, dia akan pindah. Dan, tidak satu pun mustahil bagimu.

Luk 17:6 Lalu Tuhan berkata, “Sekiranya kamu mempunyai iman seperti biji sesawi, kamu dapat berkata kepada pohon murbei ini: Tercabutlah dan tertanamlah ke dalam laut! Maka dia taat kepadamu.

Untuk lebih jelasnya:

Mat 13:31 Dia memaparkan sebuah perumpamaan yang lain kepada mereka, dengan mengatakan, “Kerajaan surga itu serupa dengan biji sesawi, yang setelah mengambilnya, seseorang menaburkannya di ladangnya.
Mat 13:32 Itulah sesungguhnya yang terkecil dari segala jenis benih, namun ketika dibiarkan tumbuh, dia menjadi lebih besar daripada tanaman lain, bahkan menjadi sebatang pohon, sehingga burung-burung di langit datang dan bersarang pada cabang-cabangnya.”

1Co 13:2 Dan jika aku beroleh nubuat dan mengetahui segala rahasia dan seluruh pengetahuan, bahkan jika aku memiliki seluruh iman untuk memindahkan gunung; tetapi aku tidak memiliki kasih, aku bukanlah apa-apa.

[b]Kesimpulan:

Bukan iman sebesar biji sesawi saja; -tetapi: iman seperti biji sesawi yg bertumbuh besar (iman yang bertumbuh menjadi sempurna).
[/b]
Iman yg sebesar biji sesawi saja sangat kecil, tidak mungkin dapat memindahkan gunung.

Iman sempurna saja yang mampu memindahkan gunung (1 Korintus 13:2, = seluruh iman; untuk memindahkan gunung).

Peace…
[/b]

Tentunya tdk mungkin salah kalau Tuhan Yesus mengatakan bahwa cukup iman sebesar biji sesawi,
dapat memindahkan gunnung dan pohon ara.
bukankah kalau imana kecil kita dpt memindahkan gunung/phon ara maka iman kecil itu akan semakin bertumbuh? bagaimana bisa memiliki iman yg besar kalau tdk pernah mempraktekan iman yg kecil?

Ungkapan :" iman yang sempurna untuk memindahkan gunung" dlm I Kor.13:2 itu dikaitkan dgn kasih,
lihat kalimat selanjutnya : “tetapi aku tiada menaruh kasih, niscaya aku bukan suatu apa pun”
Iman sebesar apapun tdk akan berarti apa2, kalau iman itu hanya utk memegahkan diri, tanpa kasih.
Ayat2 dlm I Kor.13 itu hendak mengingatkan kita bahwa yg terutama adalah kasih,
karena mustahil kita dapat mengaku mengenal Allah kalau tdk memiliki kasih, lakukan semuanya dgn kasih.
I Yoh. 4:8 maka orang yang tiada menaruh kasih itu tiada mengenal Allah; karena Allah itu kasih adanya.
Thx Bro, GBU

Coba anda simak lebih seksama. Maksud saya: -salah terjemahan-.
Benar.

[b]Mohon maaf Bro, OOT. Hanya fokus ke: seluruh iman = iman kekuatan penuh/iman sempurna dibandingkan dengan -iman sebesar biji sesawi saja-.

Peace…[/b]

[quote="Enjoy post:2, topic:180222"] Untuk lebih jelasnya:

Mat 13:31 Dia memaparkan sebuah perumpamaan yang lain kepada mereka, dengan mengatakan, “Kerajaan surga itu serupa dengan biji sesawi, yang setelah mengambilnya, seseorang menaburkannya di ladangnya.
Mat 13:32 Itulah sesungguhnya yang terkecil dari segala jenis benih, namun ketika dibiarkan tumbuh, dia menjadi lebih besar daripada tanaman lain, bahkan menjadi sebatang pohon, sehingga burung-burung di langit datang dan bersarang pada cabang-cabangnya.”
[/quote]

[b]Biji sesawi dlm perumpamaan kerajaan surga itu berbeda dgn iman sebesar biji sesawi,[/b] Biji sesawi dlm perumpamaan kerajaan surga itu menggambarkan org yg sdh percaya kemudian memberitakan kebenaran FT yg telah diterimanya. Sedangkan iman sebesar biji sesawi itu bukan perumpamaan tapi utk penerapan pd masing2 org percaya, dikaitkan dgn pengalaman2 rohani nya. Thx, GBU

Logika saja: iman anda sebesar biji sesawi saja (lebih kecil dari yg kecil = kecil sekali), saya umpamakan anda mempunyai kekuatan kecil sekali, misal: anda punya kekuatan hanya 10 kg.
Dan gunung adalah benda dengan ukuran yang sangat besar, bobotnya sudah pasti berat sekali.
Saya umpamakan barbel dengan berat 100 kg.

Dan kemudian saya perintahkan anda untuk mengangkat barbel yg berat 100 kg dengan kemampuan anda yg
kecil sekali 10 kg. Apakah anda sanggup mengangkatnya??

Tetapi di sini saya ingin menyampaikan (atas dasar pengertian ayat2 yg saya posting);
Walaupun kekuatan anda yg kecil sekali, hanya 10 kg; mulai sekarang saya perintahkan anda untuk serius berlatih dan terus berlatih. Hingga suatu saat kekuatan anda sudah meningkat menjadi 100 kg.
Dan pada saat ini saya perintahkan anda untuk mengangkat barbel seberat 100 kg.
Apakah anda mampu menggangkatnya?

Mohon semoga anda dapat merenungkan dengan seksama.
Demikian masukan saya, semoga berguna.

Peace…

Iman itu tdk bisa dikaitkan dgn cara seperti mengangkat barbel,
iman yg sebiji sesawi itu ditujukan kepada kuasa Tuhan, bukan langsung ke masalahnya,
Jadi yg melakukan pemindahan/pengangkatan/mujizat itu adalah kuasa Tuhan,
makanya gak perlu iman yg besar2, cukup sebiji sesawi saja,
karena yg bekerja melalui iman kita itu adalah Tuhan Yesus
dengan iman yg sebiji sesawi itu kita percaya bahwa kuasa-Nya dahsyat & luar biasa
Gitu ngerti kan Bro?
Thx, GBU

Bro kita kan saling sharing ya, saya tidak bermaksud menggurui. Saya rasa anda belum memahami betul apa yg saya posting, dan anda reply lagi menurut perasaan anda sendiri.

Tuhan itu bekerja berdasar tingkat iman kita, kalau anda takar sedikit ya diberi sedikit. Dan kemampuan anda/supranatural anda pun sedikit. Sudah saya sampaikan ada kesalahan terjemahan, tetapi anda tidak mengubrisnya. Ayat2nya anda dapat mencarinya sendiri.

memang tdk ada kespahaman Bro,
dalam diskusi memang tdk harus dicapai kesepahaman,
hanya tentunya dlm diskusi wawasan kita akan bertambah,
Kesalahan terjemahan itu ayat yg mana, dan seharusnya bagaimana menurut anda?
Thx, GBU

Reply#1

Kalau sebesar biji sesawi saja, berarti iman seukuran itu lebih kecil dari yang kecil (kecil sekali), dan tidak bertumbuh lagi. Karena sudah ukuran maksimum. Kalau dikatakan seperti biji sesawi, berarti bukan patokan ukuran maksimum. Dengan pengertian biji sesawi yg ukurannya lebih kecil dari yang kecil itu, ditabur kemudian biji yg kecil sekali itu bertumbuh hingga besar maksimum, melebihan pohon2 lainnya yg sejenis.
Di sini penekanannya; walaupun kecil sekali, tapi yg diutamakan -harus bertumbuh-.
Bukankah perumpamaan yg sama tentang pertumbuhan iman dengan perumpamaan benih yg sama ditabur di lahan tanah yg berbeda. Benih = firman Tuhan. Lahan = orang kristen. Setiap orang kristen pertumbuhan imannya beda2 tergantung tipe orang bagaimana ybs. Mat 13:3-9.

Shalom…,

Memang ada yg menafsirkan biji sesawi itu pada kualitasnya, yg terus bertumbuh,
akan tetapi di ayat itu penekanan Tuhan Yesus pd kuantitasnya, ukurannya pd saat itu,
mana mungkin mengharapkan mujizat menunggu sampai imannya tumbuh membesar spt pohon sawi?
Iman memang dpt bertubuh dlm perjalanannya dgn berbagai pengalaman iman.
Dibawah ini saya copy paste kan penjelasan Matius 17:20 dari BibleWork 8:

Our Lord Jesus takes this occasion to show them the power of faith, that they might not be defective in that, another time, as they were now; If ye have faith as a grain of mustard-seed, ye shall do wonders, v. 20. Some make the comparison to refer to the quality of the mustard-seed, which is, when bruised, sharp and penetrating; "If you have an active growing faith, not dead, flat, or insipid, you will not be baffled thus.’’ But it rather refers to the quantity; "If you had but a grain of true faith, though so little that it were like that which is the least of all seeds, you would do wonders.’’ Faith in general is a firm assent to, a compliance with, and a confidence in, all divine revelation. The faith here required, is that which had for its object that particular revelation by which Christ gave his disciples power to work miracles in his name, for the confirmation of the doctrine they preached. It was a faith in this revelation that they were defective in; either doubting the validity of their commission, or fearing that it expired with their first mission, and was not to continue when they were returning to their Master; or that it was some way or other forfeited or withdrawn. Perhaps their Master’s absence with the three chief of his disciples, with a charge to the rest not to follow them, might occasion some doubts concerning their power, or rather the power of the Lord with them, to do this; however, there were not, at present, such a strong actual dependence upon, and confidence in, the promise of Christ’s presence with them, as there should have been. It is good for us to be diffident of ourselves and of our own strength; but it is displeasing to Christ, when we distrust any power derived from him or granted by him.

GBU

Reply#1 sudah firman Tuhan murni, dan masih ada lagi ayat2 lain yg sejajar/mendukung.
Kalau anda tidak menangkap ayat2 Firman yg saling mendukung/sejajar, lalu anda mencari dari sumber luar maka pengertian anda tambah kacau.

Biarlah ayat Firman manafsir ayat Firman.
Janganlah menilai Firman Tuhan dari bahan luar yg tidak berdasar Alkitab.
Sehingga tidak sesuai dgn. ayat ini:

Yohanes 16
13Namun bilamana Roh Kebenaran itu telah datang, Dia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran, karena Dia tidak akan berbicara dari diri-Nya sendiri, melainkan apa saja yang telah Dia dengarkan, Dia akan mengatakannya; Dia juga akan memberitakan kepadamu hal-hal yang sedang datang.

Roma 1
17Sebab, di dalamnya kebenaran Elohim sedang disingkapkan dari iman kepada iman, sebagaimana telah tertulis, “Dan orang yang benar akan hidup atas dasar iman.

Rom 10:17 Jadi, iman itu dari pendengaran, dan pendengaran itu melalui firman Elohim.

1Co 2:15 Dan yang rohani memang menguji segala sesuatu, tetapi dia sendiri tidak diuji oleh siapa pun.

Saya ingin bertanya kepada anda mengapa Tuhan berbicara tentang kerajaan Surga hanya dalam perumpamaan? Tidak terus terang?

Kalau anda tdk sepaham, tdk usah memaksa Bro,
jangan sampai kita merusak alur & suasana diskusi yg semula sdh begitu baik.
Saya tdk akan memaksakan anda utk menerima pendpt & rujukan saya.
Kenapa saya gunakan rujukan lain? krn saya mengakui & menyadari kemampuan saya sangat terbatas,

IMO, Tuhan Yesus tahu bahwa kita kesulitan memahami apa & bagiamana itu kerajaan surga,
oleh sebab itu DIA memakai perumpamaan2 spy lbh mudah ditangkap dgn pemikiran yg terbatas,
krn melalui perumpamaan2 itu lebih mudah utk membayangkan apa & bagaimana nya kerajaan surga.
Thx, GBU

Saya tdak betujuan memaksa anda, cuma karena anda tidak dapat fokus ke Firman, dan maksud saya -baik-, berusaha mengembalikan pandangan anda fokus ke Firman. Dan efeknya bagi anda mungkin mengganggu kenyamanan anda karena menggedor-gedor pintu anda, sekali lagi saya mohon maaf atas ketidaknyamanannya.

Berikut reply saya:
Justru versi saya (kata saya sih alkitabiah; menyarankan sangat, tapi tidak memaksa anda), Tuhan menyampaikan perumpamaan dengan maksud supaya kita berusaha mencari kebenaran-Nya (suatu harga yg harus dibayar), apabila kita berhasil mendapatkannya, maka kita dapat hadiah yg sepadan harga yg telah dibayar, yaitu pengurapan berkat. Amsal 25:2, Amsal 2:3-5, Amsal 8:17-21.

Suatu rahasia kelembutan hati menjadikan Musa dekat dengan Tuhan, sehingga Tuhan berbicara langsung/terus terang; tidak dengan teka teki/perumpamaan. Bilangan 12:8, 12:3, Matius 21:5, 11:28-30, Filipi 4:5.

Tuhan berbicara kepada orang Kristen hanya dalam perumpamaan; hingga mendapat baptisan ROH KUDUS; maka Tuhan akan bicara dgn. terus terang tentang Bapa. Joh 16:25-30. (iman yang berhasil)

Berlawanan dengan persepsi anda, bukankah dengan terus terang semuanya jadi jelas. Tetapi Tuhan punya tujuan dengan perumpamaan supaya kita mencari-Nya.

Berikut perkenankan kiranya saya menyampaikan suatu kiasan pengertian alkitabiah:

Maria Magdalena mencari Tuhan; ketemu malaikat yg bertanya permasalahannya. Dan Maria memberitahu permasalahannya. Kemudian Maria mencari kelanjutan jawabannya dengan berpaling kepada Tuhan (kiasannya: berpaling kepada Firman Tuhan/Alkitab).
Sudah benar bahwa Maria berpaling kepada Tuhan dan melihat Tuhan; (kiasannya: melihat jawaban masalahnya di Alkitab), tetapi dia tidak mengenali-Nya. (kiasannya: tidak fokus ke Firman Tuhan/Alkitab sehingga tidak mengerti/memahami isi Alkitab karena ada beban dosa/tidak cukup tenang/gelisah untuk dapat merenungkan dgn sungguh2).
Kemudian Tuhan menghardiknya; barulah Maria tersadar dan mengenali apa yg di hadapannya adalah Tuhan (kiasannya: Firman Tuhan yang disampaikan terdengar keras/menghardik dgn. tujuan supaya pendengar menjadi tersadar dan benar-benar fokus ke Firman untuk sungguh merenung/memahami artinya)
Amsal 12:25, Yohanes 20:11-16.

Demikianlah Bro,
Peace…

Tujuannya memang tdk memaksa Bro,
tapi dari apa yg anda sampaikan tersirat bahkan sangat memaksakan,
anda juga sdh berubah menjadi kurang elegant dibandingkan di awal

Tafsiran anda itu terlalu subyektif dan dangkal,
lagi pula tdk dpt di cross check ke berbagai sumber referensi.
Anda terlalu memaksakan dan terlalu percaya pd kemampuan anda sendiri
yg kelihatan memang sangat terbatas dan prematur

Kerendahan hati adalah kunci utk dpt mengerti kedalaman Alkitab sbg FT
memang Tuhan melalui Roh Kudus memberikan hikmat utk dpt mengerti Alkitab,
akan tetapi apabila himat kita dirasakan kurang nyampe, sebaiknya gunakan berbagai referensi,
mulai dari kamus, ensiklopedi, software dsb, itu akan jauh menambah hikmat anda,
sehingga tafsiran anda tdk terlihat kedodoran, sangat dipaksakan & dangkal.
Thx, GBU

Joh 7:17 Jika seseorang bermaksud untuk melakukan kehendak-Nya, dia akan mengetahui tentang ajaran itu, apakah hal itu berasal dari Elohim atau Aku berbicara dari diri-Ku sendiri.
Joh 7:18 Siapa yang berkata-kata dari dirinya sendiri, dia mencari kemuliaannya sendiri. Namun siapa yang mencari kemuliaan Dia yang telah mengutus-Nya, dia ini adalah benar, dan ketidakadilan tidak ada padanya.

Bukankah jawaban anda sesuai dengan ayat di atas? Yang menyatakan pendapat saya dangkal/premature?
Anda berbicara dengan emosi; berbicara atas kehendak anda sendiri. Anda berbicara tidak berdasarkan FT,
berbicara tanpa didukung ayat2 Firman.

Bukan saya kurang elegant dari sebelumnya, karena saya menilai anda cukup mumpuni maka saya coba berdiskusi lebih agresif/tegas. Kalau anda menilai sekarang kurang elegant, berarti anda belum siap dengan makanan keras dan penilaian saya keliru.

Sekali lagi Bro,
itu cuma tafsiran dangkal anda,

adalah kebiasaan org2 spt anda utk menggunakan ayat2 ygtdk tepat,
demi utk pembenaran dirinya sendiri, cuma main comot ayat,
pls jangan lakukan hal2 spt itu Bro, itu sangat memalukan anda sndiri,
jadi nyata sungguh kelas anda itu spt apa, gak peduli katanya anda sdh belajar belasan tahun
GBU

kesalah-kaprahan anda & ke-sok tahuan anda,
membuat anda sendiri secara tdk sadar menunjukan siapa sebenarnya & bagaimana anda
makanan yg anda sodorkan itu makanan dasar dan sangat subyektif & gak mutu Bro
GBU