RELASI KUALITAS PENDIDIKAN DENGAN MASA DEPAN PEKERJAAN

Pertanyaan:

  1. Apakah ada relasi pendidikan dengan pekerjaan/profesi yang akan datang?
  2. Apa Standar Umum Kualitas Pendidikan
  3. Apakah ada konsep tentang Pekerjaan dan Hasil yang diterima

Latar Belakang
PERSIAPAN MASALAH PENDIDIKAN UMUM

ada yang mau curhat di sini…

FKers.

Dari pandangan gw, pendidikan di Indonesia disusun oleh orang2 yg tidak punya visi membentuk manusia yg unggul untuk masa depan,. Mereka yg berhasil masuk olimpiade sains, matematika, timbul bukan karena sistem pendidikan disini, tapi karena memang mereka punya "bahan " yg bagus.

Sistem pendidikan di Indonesia, mencerminkan sistem pendidikan yang bodoh dan masih berpikir untuk membebani siswa dengan pr sebanyak2nya dan mata pelajaran yg banyak . Makanya tas sekolah anak2 SD sekarang berat2, cioba aja tanya anak mu atau keponakanmu.

Banyak mata pelajaran yg ga perlu2 diajari, dari SD sampe S1. PMP, P4, IAD, IBD adalah subjek2 yg ga perlu dipeljari disemua jurusan. Toh sudah terbukti ga bisa menghapus hobi korupsi, Betul ga.

Sistem ujian Nasional, adalah pembodohan sistematis atas nama " qualitas pendidikan nasional" , masa seorang siswa yg nilai seharinya bagus, harus dibuat tidak lulus cuman gara2 nilai ujian nasionalnya jelek, karena dia sakit, tapi siswa yg rata2nya cuman 5,5 dan 6 bisa lulus! aneh kan!

Sistem pendidikan yg sakit ini, sepertinya sedemikian berkuasa memutuskan lulus engganya seorang siswa, UN dibuat sangat berkuasa memutuskan soerang siswa untuk mengulang 1 tahun lagi si SMA sekalipun siswa itu sebenarnya siswa yg pintar. Aneh kan! masa tim Ujian negara yg jelas2 ga kenal kualitas seorang anak, bisa lebih berkuasa dari guru2nya yg sehari2 bergaul dengan siswa tersebut selama 3 tahun!
!
Coba deh ngobrol sama prof surya.! dia bisa melatih anak2 dipapua yg awalnya ga tau matematika sama sekali, cuman dalam 1 tahun bisa menguasai matematika setingkat SD kelas 6.

Birokrat negeri ini emang senang memelihara kebodohan. Sudah terbukti sejak dulu!.

silahkan reply, warga negri sakit!

Setuju … Pendidikan Indonesia memang kacau balau, ga jelas banget. Masa Ujian kelas 2 SMA 15 mata pelajaran, kelas 1 SMA 17 mata pelajaran itu terlalu banyak , materi juga terlalu banyak sekali kasihan siswa jadi benar2 tertekan, juga UN ga bisa menilai kemampuan siswa yang sebenarnya dan kemampuan manusia ga bisa di samaratakan distandarisasi. Apalagi soal pilihan ganda, yang dipentingkan hasil daripada proses.

pendidikan kita itu sifatnya cuma kejar setoran tanpa ada usaha sama sekali untuk menggali/memaksimalkan potensi murid.murid setiap hari hanya dituntut dapet nilai bagus di ujian & tugas tanpa diperhatikan potensinya.makanya disini umum banget kan kita ngeliat murid digoblok-goblokin guru & ortunya sendiri cuma gara2 gagal di 1-2 tugas ataupun ujian.pdhal orang yg udah sukses aja ngomong klo orang sukses itu bukan orang yg ga pernah gagal melainkan orang yg gagal namun terus berusaha.murid2 bodoh itulah yg justru mustinya jd prioritas utama pendidikan,tp disini malah kebalik(yg pinter malah jd prioritas,orang udah pinter buat apa dididik lagi??).

Ada kesenjangan antara teori dan praktek ya. tp kalo menuduh pendidikan indonesia tanpa visi rasanya terlalu meremehkan.

Idealisme yang ditulis dalam undang-undang dan rencana strategisnya, tidak terimplementasi sesuai keinginan masyarakat.

saya melakukan pengamatan politik pendidikan dan penelitian tentang hal ini secara khusus pada pendidikan tinggi, namun maaf saya tidak bisa share secara terbuka saat ini di tempat ini. terutama soal politik pendidikan yang terjadi di indonesia.

tapi idenya ada dan sangat baik.

tetap saja tidak fair jika kualitas murid dinilai hanya dari 1 minggu ujian tertulis(yg pada prakteknya bisa jadi penuh kecurangan).saya pernah lihat sendiri kasus dimana murid yg jujur/ga nyontek & nilainya buruk di ujian malah dibego-begoin sementara murid yg curang/nyontek & dapet nilai bagus malah dielu-elukan.korupsi memang sudah menjalar ke segala bidang.

Di Indonesia pendidikan SANGAT MEMPRIHATINKAN. Serba Instan, Nilai dianggap penting daripada proses 3 yahun. Masa cape-cape sekolah 3 tahun cuma ditentukan 4 hari saja untuk lulus ? mendingan ga usah sekolah sekalian. Pendidikan Indonesia terlalu banyak materi pelajarannya, membuat kepala siswa harus pusing sekali. Juga Guru-guru kurang berkualitas. Dibandingkan Finlandia Guru minimal s2 dan harus top 10 di Universitasnya, diIndonesia s1 itupun ga diseleksi. Dana untuk Pendidikan kurang serta distribusinya tidak rata / timpang. Terlalu banyak ujian ini itu,
Kalo memang UN mau dilanjutkan:

  1. Jangan jadikan sebagai prasyarat lulus, karena UN hanyalah sebuah EVALUASI bukan PENENTU KELULUSAN. Kemampuan manusia TIDAK BISA DISTANDARISASI 5,5 baru lulus. Pemerintah sudah seharusnya menyadari kemampuan manusia itu satu dengan yang lain tidak sama sehingga tidak boleh di standarisasi 5,5. Juga tidak boleh mengkotak-kotakan siswa pandai atau bodoh.
  2. Soalnya jangan multiple choice, tapi essay karena yang dievaluasi itu PROSES bukan HASIL. Kalo multiple choice, bisa saja nyontek, atau pake cara cepat bimbel, tapi kalo soalnya essay/isian, berarti itu benar-benar murni hasil proses belajar, kita bisa melihat alur pengerjaan siswa(proses). Kalo multiple choice yang dipentingkan HASIL daripada proses sedangkan soal essay PROSES lebih diprioritaskan…
  3. Pengawasan diperketat jangan sampai bocor.
  4. Pendistribusian dana Pendidikan harus RATA tidak timpang banyak di kota daripada di desa…

Lulus ujian adalah tanda keberhasilan. Sama halnya dengan kehidupan Kristen. bertahun-tahun kita jadi orang kristen, bahkan taat menurut anggapan kita, namun bila saat Tuhan Yesus datang kita tidak didapati setia maka sia-sialah ketaatan selama bertahun-tahun…

Seorang dikatakan selalu sabar, tp ketika ujian kesabaran tiba dan tidak berhasil melaluinya apakah dapat dikatakan bahwa orang itu sabar?

demikian halnya dengan pendidikan. problemnya BUKANLAH UJIAN! Ujian dilakukan untuk membuktikan bahwa pelajaran yang selama ini ditekuni, benar dipahami dan teraplikasi dalam menyelesaikan masalah yang ada. Bila ada orang yang tidak berhasil ujian, bukan ujiannya yang salah namun pendidikannya yang salah. Pendidikan di Indonesia diatur dengan cukup baik, namun sekali lagi, ada kesenjangan antara idealisme dengan fakta. berapa banyak orang pintar yang mampu mengajar? kebanyakan orang yang mau jadi guru karena tidak mampu bersaing secara praktis dalam dunia kerja profesionalnya.

Tuntutan lebih lanjut: Jangan hanya menjadi Anjing yang menggonggong orang yang berjalan, tetapi berjalanlah supaya mencapai tujuan yang anda inginkan.

Bila menurut anda pendidikan dan sistemnya tidak layak, maukah anda terlibat secara aktif dan langsung dalam dunia pendidikan?

Salam

dari sisi guru maupun tim pemeriksa ujian jelas soal multiple choice lebih praktis karena tidak butuh waktu lama untuk proses pemeriksaan(malah skrng bisa diperiksa otomatis pake komputer klo ujiannya pake lembar jawaban komputer).ini jelas menguntungkan buat pihak pemeriksa ujian krn kerjanya jadi enteng.sedangkan utk soal essay setidaknya butuh orang/guru yg betul2 pintar utk memeriksa jawaban siswa & pastinya orang itu akan minta ‘bayaran lebih’.bagusnya pake soal essay yaitu klo ada 2 siswa atau lebih yg jawabannya 100% identik maka bisa dipastikan terjadi kecurangan disitu(mencontek),kecuali pertanyaannya memang tidak menuntut siswa berpikir(cuma nanyain ulang apa yg udah tertulis di buku cetak atau catatan).

Kalo multiple choice, itu hanya HASIL yang dinilai bukan PROSES bagaimana mendapatkannya… Padahal education yang penting PROSES bukan HASIL. Itulah kelemahan Pendidikan Indonesia HASIL lebih penting daripada PROSES. Soalnya juga jangan yang kaya di buku cetak, tapi pake penalaran kaya soal OSN… Butuh penalaran yang tinggi… Toh UN ga menentukan kelulusan(seharusnya karena kemampuanmanusia ga bisa distandarisasi harus 5,5 ), hanya evaluasi daya serap terhadap apa yang diajarkan guru. Kalo multiple choice bisa aja asal nebak jawabannya ternyata benar semua, sama saja bohong…

Bentuk soal memiliki kelebihan dan kekurangannya masih-masing.

Multiple choice, biasanya digunakan untuk soal yang sifatnya filosofis untuk menangkap kemampuan berpikir peserta didik. Dalam kelas yang saya ampu, JARANG mahasiswa mencapai nilai lebih dari 60 dengan soal pilihan ganda. Soal ini tidak mudah dijawab oleh bahkan mahasiswa

Essay digunakan untuk melihat kemampuan analisa dan konstruksi berpikir peserta didik. umumnya belas kasihanlah yang banyak dalam menilai bentuk soal yang begini.

Salam

Pendidikan sangat berguna dalam pekerjaan jika anda bekerja tepat pada bidang yang anda pelajari mati-matian di bangku kuliah. Tetapi kalau belajar mati-matian ilmu sipil bangun rumah, trus kerjanya jual panci di pasar, meneruskan usaha orang tua, mending dari awal ambil jurusan bisnis aja.

Banyak orang bilang pendidikan tidak berguna dipekerjaan, sebab mereka yang menyatakan hal itu tidak dituntut untuk menggunakan ilmunya. Jadi ada pekerjaan yang dituntut untuk menggunakan ilmu dan ada yang dituntut ketrampilannya. Secara sederhana dari tingkat terandah sampai tertinggi dalam posisi perusahaan, semakin dibawah semakin banyak tenaga yang dituntut, sedangkan semakin tinggi posisinya otaknya yang lebih dituntut, tenaga nyaris tidak dibutuhkan dan yang ditengah-tengah posisinya dituntut sebagian otak dan sebagian tenaga secara seimbang.

Jika posisi dibawah sebagai penagih, sebagai salesman, sebagai pelinting rokok atau kasir, semua ilmu yang diplajari di bangku kuliah pada jurusan yang tepat juga tidak dipakai sama sekali, lebih dituntut skill dalam menjalankan tugas-tugasnya. Jika posisi sebagai junior manager atau supervisor, maka anda dituntut untuk menerapkan ilmu yang anda pelajari di kuliah dan sebagian dituntut tenaga anda untuk terjun denga skill anda. Sedangkan top manager, ceo dan setingkat mereka tidak dituntut untuk trampil dalam menjual barang ke konsumen, tetapi dituntut untuk memikirkan langkah-langkah strategis dan menejerial yang proaktif. Disinilah ilmu itu sangat-sangat dibutuhkan dan anda harus membekali dengan strata dua lebih baik.

Standarat kwalias pendidikan sepertinya relatif dan setiap periode akan direvisi untuk ditingkatkan atau kadang malah secara umum menurun (sebagai akibat meningkatkan hal yang lain).

Pendidikan yang terbaik adalah dengan belajar sendiri, banyak membaca buku, banyak mengamati dan mempelajari pengalaman orang lain, banyak terlibat diskusi dan tukar pendapat, siap menerima kritik dan mau berubah dan mau menderita untuk maju, itu lebih dari standart yang dibutuhkan untuk menjadi bintang di tempat kerja. Jangan berhenti belajar sendiri sampai tua.

Pekerjaan dan hasil yang diterima juga tidak ada patokan yang pasti. UMR merupakan patokan untuk buruh, sedangkan tingkat diatasnya sampai menager di negeri kita terjadi kesenjangan yang sangat-sangat tinggi. THP yang diterima berbada ditiap daerah, demikian juga diperusahaan berbeda. Seorang manager dapat digaji hanya 5jt, tetapi ditempat lain dikota yang sama dapat menerima 50jt. Seorang salesman di kantor bisa membawa pulang 10jt, tetapi di tempat lain mungkin hanya 2jt. Tidak ada standartnya yang pasti.

Jika anda ingin melihat standart umum yang dibuat oleh kelompok independent ada bisa cari di google untuk berbeda kota. Biasanya hanya kota besar seperti Jakarta dan Surabaya saja dan kota-kota besar didunia.

Judul diskusi ini sangat bagus dan sangat mendasar. Saya pribadi sudah lama ingin berusaha dan ingin membuat suatu suasana pembuktiannya melalui aplikasi nyata.
Aplikasi yang dimaksud,
Pertama, studi banding dan penerapannya melalui siswa Play Group/Kelompok Bermain/TK, SD, SLTP, dan selanjutnya.
Kedua, mendata dan mencari tahu sumber informasi tentang bentuk dan metodologi pendidikan yang ada di beberapa kota baik kota kecil maupun kota-kota besar, dalam hal ini lebih banyak di Jakarta Pusat dan Barat.
Ketiga, mendata beberapa sekolah umum di luar negeri.
Keempat, melalui media seperti forum ini dan forum lainnya diharapkan ada orang yang dapat bagi pengalaman dan dapat menjadi salah satu masukkan yang lebih berarti.

Salah satu bentuk nyata, beberapa hari lalu saya mengirimkan satu link yang berhubungan dengan Beasiswa S2 & S3 yang di dalamnya itu menampilkan satu pribadi yang berhasil melalui persiapan cukup lama.
Rekan-rekan yang belum sempat membaca, silakan membacanya di sini kemudian berikan masukkan yang berarti. Memang belum banyak hal yang diuraikan namun akan ditambahkan/dilengkapi melalui beberapa tinjauan.

bagi FKer sekalian,…

Rupanya banyak dari kita yg berprofesi sebagai pengajar ya… dan thread ini diresponi secara kritis dan semoga pandangan2 dari Fker bisa jadi ajang masukan bagi mereka yg punya akses ke pemerintahan.

Begini, Dalam pandangan saya bukan “ujiannya” yg menjadi masalah, tapi "siapa yg patut " mengujinya itu yg saya permasalahkan.

Diawal pandangan saya meresponi topik thread ini. Blak-blakan aja deh saya berpandangan UN - itu sebenarnya ga perlu lagi. Karena ya itu tadi, UN sebenarnya tidak layak dijadikan tolok ukur menilai kemampuan siswa untuk lulus atau tidak, tapi guru sekolahnya lah yg berhak.

Tidak ada relevansinya antara siswa sekolah A harus diuji melalui soal2 yg dibuat oleh “Tim kerja” yg tidak pernah mendidik siswa tersebut, untuk bisa lulus!

Kalo tujuannya untuk evaluasi & sebagai nilai pendamping / tambahan , atau untuk menentukan rating sekolah dan mengevaluasi materi yg diajarkan disekolah sih oke, jadi lebih mengarah “menguji sekolah & gurunya itu sendiri”

Analogi ujian kehidupan seperti yg diuraikan oleh bro satya ! ( pinjam ilustrasinya ya bro, mohon maaf ga bermaksud nyinggung or plagiat ) , begini:

Saya pasti diuji dalam kehidupan ini! untuk semakin disempurnakan serupa dengan Kristus, dimana semua bahan ujian, punishment & reward, dan lulus tidaknya itu ada dibawah otoritas Yesus Kristus !
saya setuju itu. Mengapa?:

Karena memang Dia selama ini sudah membimbing & mengajarkan bagaimana seharusnya kita hidup, apa saja frame of referencenya, “Kisi2 ujian”, cycle of the test, dll. Jadi Dia memang berhak menguji & menentukan kelulusan kita, karena selama itu emang Dia bertindak sebagai gurunya kita. Bukan Sijahat yg ga pernah membimbing kita, tiba2 mencobai kita, terus memutuskan “lulus tidaknya saya”.

Sijahat boleh saja mecobai, menyarankan dan menuntut, - “Si Kumis jangan diluluskan”, tapi toh dia tidak punya otoritas memutuskan lulus tidaknya saya.!!! Lulus tidaknya saya, tetap Yesus Kristus yg putuskan. Kurang lebih begitu.

Yesus Kristus pun mencontohkan demikian selama pelayanannya dibumi ini, dia tidak pernah membiarkan murid2nya “dites” oleh orang lain. Sebelum org bisa “ngetes” muridnya, pasti dia sudah hadapi dulu orang tersebut. Kalau ada org yg menjelek2kan murid2nya, pasti Dia bela semua murid2nya itu.

guru yg baik, selalu berupaya mengembangkan kapasitas muridnya semaksimal mungkin
guru yg baik, men-tes, menguji muridnya untuk mengevaluasi & memperbaiki kekurangan2 dari siguru itu sendiri & muridnya, bukan untuk memvonis.
Guru yg baik lebih senang memotivasi, bukan menghakimi murid,
Guru yg baik, mengenal muridnya, dan
Guru yg baik, pasti ingin suatu hari nanti muridnya lebih baik dari dirinya sendiri, iya kan!

Tidak ada guru lain yg tau kapasitas sejati dari seorang murid, selain gurunya sendiri.

Sayang, saya tidak bisa bersuara langsung menentukan arah politik pendidikan formal di negeri ini, tapi saya suarakan dan saya ajarkan prinsip2 tersebut pada mereka yg pernah / sedang belajar dibawah supervisi saya, agar mereka mem-praktekkan prinsip2 itu di circle of influence mereka masing2. saya bersyukur itu sudah terjadi :slight_smile:

Bukankah, setiap orang selalu mencoba untuk saling mempengaruhi satu sama lain?

Terlebih dalam kapasitas sebagai pengajar, selalu ada hasrat menularkan pengetahuan, prinsip2 & pandangannya pada murid2nya. dan seorang guru akan sangat bangga, bila sang murid bisa mengembangkan pandangannya selaras dengan pandangan sang guru. Iya ga?

Itu sebabnya saya tidak setuju UN. !

Alur berpikirnya adalah:

  1. Ada standar pendidikan Nasional - Standar kompetensi
  2. Pendidikan diselenggarakan dengan mengacu pada standar itu, dijabarkan dan diaplikasikan.
  3. Untuk mengukur apakah penyelenggaraan sesuai dengan harapan dasar maka diselenggarakan uji kompetensi secara nasional.

Jadi menurut saya masalah yang terjadi saat ini adalah:

  1. Saya mengajar dengan pengalaman dan standar saya
  2. Karenanya saya menguji mereka yang saya ajar, dan saya yang menyatakan mereka berhasil atau tidak.

Pertanyaannya. apakah pengalaman saya dan standar saya adalah standar yang sahih?

Salam

kualitas guru di sektor formal juga harus diperhatikan.soalnya banyak lho guru2 di sektor informal(seperti guru les ato kursus) yang kualitasnya jauh lebih baik ketimbang guru2 di sektor formal.mungkin hal semacam ini terjadi krn lembaga sekolah pelit dlm hal gaji(maunya bayar tenaga kerja semurah-murahnya) sehingga guru yg berkualitas merasa tidak dihargai & jd beralih ke sektor informal(jd guru les) krn bisa dapat penghasilan layak.ataupun klo ada yg tetap bekerja di sektor formal jadi nurunin standarnya sbg guru sekolah abis2an krn ga mau rugi(bayarannya ga sepadan).

pengalaman saya dulu sbg murid malah saya lebih cepet ngerti klo diajarin sama guru les ketimbang diajarin sama guru sekola(pdhal salah satu skul swasta terbaik di jakarta lho),blom ada beberapa guru sekola yg jiwanya labil(bukan orang yg enak buat diajak tanya jawab,misal suka marah2 ga jelas).

Nama dan asal sekolah orang yang bersangkutan sangat mempengaruhi jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan peluang bidang pekerjaan yang akan ditekuninya termasuk uang yang akan dihasilkannya.

Di Jakarta cukup banyak orang tua menyekolahkan anaknya di sekolah yang mengharuskan mereka membayar mahal, mulai dari uang masuk dan uang sekolah setiap bulan.

  • Uang masuk lebih dari 10 juta.
  • uang bulanan lebih dari 1 juta/bulan

Pertanyaannya:

  1. ada apa dengan sekolah itu?
  2. apa hasil yang akan dicapai?

he he yg pasti ‘prestige’ ortu/keluarganya bakal naek klo anaknya jd siswa dari sekolah mahal(bisa buat dibanggain ato bahkan disombongin ke rekan2 ortunya).klo anaknya hepi2 aja di skul itu sih gpp,yg jd masalah klo anaknya ternyata ga hepi bersekolah disitu(misal krn ga mampu ngikutin standar kurikulum yg tinggi,dll).kesian si anak malah jadi ‘tumbal’ krn keegoisan ortunya(cuma mikirin prestige).

Pendidikan dapat diumpamakan seperti satu batang pohon. Analogi ini untuk memberikan wawasan global pemberdayaan sumber daya manusia seutuhnya.

Deskripsi Pohon

[ol]- Jenisnya: pohon bambu, pohon tembakau, pohon jati, pohon apel, pohon anggur, dll… dls. Setiap pohon menunjukkan identitas sumbernya. Bidang kehutanan menyebutnya dengan istilah ORDO.

  • Pohon membutuhkan: tanah/tempat/lahan untuk bertumbuh.
  • Pohon membutuhkan pasokan: air, pupuk, matahari, dan campur tangan eksternal.
  • Waktu pertumbuhan dan pemeliharaan.[/ol]