renunganakhirzaman.com

Iman bertumbuh dalam kwantitas, bukan kwalitas. Pertumbuhan di dalam keteguhan dari ketergantungan kepada Allah.

Abraham adalah sahabat istimewa Allah. Dia telah meninggalkan rumah dan negerinya untuk menjadi pengembara, mengikuti Suara di dalam hatinya yang menunjukkan arah kepadanya. Keberatan keluarga dan sahabat-sahabatnya tidak mengubah pilihannya. Ketika TUHAN menjanjikannya seorang anak, sebuah warisan, untuk menjadi bapa sebuah bangsa yang besar, dia telah bersukacita. Tetapi satu hal yang tidak pernah dia pikirkan; dia tidak tahu bahwa hal itu akan membutuhkan waktu yang begitu lama. Penantian itu sepertinya sudah keterlaluan. Dia akhirnya menjadi bapa dari dua bangsa, yang saling memerangi satu dengan yang lain hingga saat ini. Abraham yang hidup-lagi, mati-lagi.
Musa adalah seorang nabi dan lebih dari seorang nabi. Dia telah berbicara bersama Allah muka dengan muka. Selama empat puluh tahun dia telah memimpin sebuah bangsa yang pemberontak dan keras kepala melintasi padang pasir, melayani berbagai kebutuhan mereka. Dia telah membela mereka di hadapan Allah Sendiri, menolak menyetujui pembinasaan mereka bahkan ketika mereka sangat layak dibinasakan. Namun imannya gagal pada saat sangat dekat dengan perbatasan Tanah Perjanjian itu, dan dia berdosa secara begitu terbuka dan terang-terangan sehingga Allah tidak memiliki pilihan lain tetapi harus menolak memberi kehormatan kepadanya untuk menyelesaikan tugas yang telah dimulainya. Musa yang hidup-lagi, mati-lagi.
Klub hidup-lagi mati-lagi memiliki banyak anggota! Daud, Samson, Adam, Paulus, Hizkia, Petrus, Yakub. Daftar itu terus bertambah panjang dan bertambah panjang. Sejarah kudus mencatat hanya beberapa kekecualian: Henokh, Elisha, Daniel. Dan beberapa orang lainnya.
Sebuah penyelidikan dari kasus dalam sejarah Alkitab membuktikan bahwa walaupun kepercayaan dan ketergantungan di dalam Allah yang tidak berkeputusan itu adalah mungkin, hidup-lagi mati-lagi adalah mungkin. Bagi banyak orang Kristen, kenyataannya adalah mengalami penyerahan yang hidup-lagi, mati-lagi. Kenyataan itu telah mengambil waktu untuk belajar bergantung kepada Allah setiap waktu, dan tidak pernah pada diri kita sendiri. Dan walaupun tujuan Allah bagi kita adalah kita selalu mempercayai Dia, kita lebih baik mengakui dan mengetahui bahwa kenyataan dalam kebanyakan kasus, kita tidak mencapai tujuan tersebut dalam satu malam.
Pertumbuhan di dalam kehidupan orang Kristen adalah belajar untuk bergantung kepada Allah lebih dan lebih setiap waktu. Sebagaimana yang telah kita ketahui sebelumnya, ketergantungan kepada Allah adalah sebuah soal semua-atau-tidak sama sekali. Tidak ada hal seperti kepercayaan yang separuh-separuh atau penyerahan yang separuh-separuh. Engkau berserah kepada Allah pada setiap waktu yang engkau punya, atau engkau tidak berserah kepada-Nya dan bergantung kepada dirimu sendiri.
Kita tinggal di dalam Kristus hari demi hari melalui hubungan yang terus-menerus bersama Dia. “Apakah engkau bertanya, ‘Bagaimana aku tinggal di dalam Kristus?’ Dalam cara yang sama saat engkau menerima-Nya pada pertama kalinya. ‘Saat engkau telah menerima TUHAN Kristus Yesus, maka berjalanlah di dalam Dia.’ Orang benar akan hidup oleh iman.’”—Steps to Christ, hal. 69.
Selama kita bergantung kepada-Nya, kita akan mengalami semua kemenangan dan penurutan yang Dia telah tawarkan.
Tetapi berkali-kali sang musuh bisa membuat kita mengalihkan pandangan kita dari Kristus dan berhenti sesaat untuk bergantung kepada-Nya. Kemudian kita akan jatuh dan gagal dan berdosa. Hal itu terjadi pada banyak orang di dalam Alkitab; hal itu terjadi kepada banyak orang sekarang ini. Ketika hal itu terjadi, bagian kita adalah untuk kembali lagi kepada Yesus, menuntut kembali janji-Nya, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1:9. Dan kita melanjutkan hubungan bersama Dia. Kita tidak menunggu dua minggu bagi Allah untuk menenangkan diri-Nya. Kita tidak menyerah dan memutuskan bahwa kita tidak akan berhasil menuju ke surga. Kita tidak berusaha untuk “menebus kesalahan-kesalahan” kita sendiri dan kemudian kembali kepada-Nya. Kita kembali kepada-Nya segera, mengaku dosa kita dan keperluan kita terhadap-Nya. Melalui semua itu, hubungan bersama Allah berlanjut.
Pertumbuhan dalam kehidupan orang Kristen terjadi saat kita melanjutkan hidup oleh iman di dalam Dia, saat kita melanjutkan mencari persekutuan bersama Dia hari demi hari. Karena pada saat kita datang kepada Kristus hari demi hari, Dia akan bekerja di dalam kita untuk membawa kita kepada ketergantungan yang terus-menerus di dalam Dia.

Tujuan saya adalah untuk menjadi setinggi enam kaki. Tetapi hal itu tidak berjalan mulus—saya hanya berhasil tiga kaki enam inchi! Kemudian, ketika saya harus berdiri di barisan depan bersama anak-anak perempuan untuk photo bersama kelas delapan, itu lebih dari yang dapat ditanggung oleh seorang laki-laki. Satu hari kelihatannya waktulah yang mencoba menolong masalah ini.

Saya pergi ke dapur, berdiri di depan pintu dengan sebuah penggaris melintasi kepala saya, dan membuat sebuah tanda. Kemudian saya pergi ke halaman belakang dan bergantung pada tiang jemuran selama yang dapat saya tahan. Kemudian saya bergegas kembali ke pintu tersebut dan mengukur kembali. Betapa mengecewakan. Hal itu tidak menolong sama sekali!

Yesus berkata, “Siapakah yang karena kekhawatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” Matius 6:27. Engkau tidak bertumbuh dengan berusaha bertumbuh. Kenyataannya, semakin engkau berusaha untuk mencoba bertumbuh, engkau semakin tidak bertumbuh. Jika saya menghabiskan seluruh waktu saya untuk bergantung di tiang jemuran, bukan saja saya dapat menjadi enam kaki tingginya, tetapi itu akan membutuhkan waktu yang terlalu lama hingga saya menjadi enam kaki ke bawah!

Ellen White menulis kepada gereja kita pada masa yang, “Tumbuh-tumbuhan dan bunga-bunga bertumbuh bukan oleh kekhawatiran atau kegelisahan atau usaha mereka sendiri, tetapi dengan menerima apa yang TUHAN telah sediakan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Seorang anak tidak dapat, oleh kegelisahan atau kekuatan diri sendiri, menambahkan tingginya. Engkau juga tidak dapat, dengan kegelisahan atau usaha dirimu sendiri, memiliki pertumbuhan rohani.”—Steps to Christ, hal. 68.

Bahkan anak kecilpun mengerti prinsip pertumbuhan. Engkau dapat bertanya kepada mereka, “Yang mana yang lebih engkau suka kerjakan, bertumbuh atau makan?”

Tidak butuh waktu lama untuk menjawabnya. Jika mereka mengusahakan pertumbuhan, mereka tidak mendapatkan apapun. Jika mereka mengusahakan makan, mereka akan mendapatkan keduanya.

Apakah engkau tertarik pada bertumbuh secara rohani? Engkau tidak dapat bertumbuh dengan berpusat pada pertumbuhan. Mungkin tidak ada yang lebih merusak pertumbuhan rohani dari pada secara terus-menerus memeriksa apakah dirimu telah berbuah. Cara bertumbuh adalah dengan makan—dengan mengambil bagian dari Roti Hidup dan Air Hidup. Orang yang mengalami pertumbuhan paling cepat adalah orang yang menjauhkan pandangannya dari dirinya dan berkonsentrasi pada Matahari Kebenaran itu. Orang yang paling kerdil adalah orang yang menghabiskan waktu paling banyak untuk mencoba bertumbuh.

Banyak orang yang telah memiliki pemikiran bahwa kelahiran rohani datang dari TUHAN tetapi kehidupan rohani adalah tanggung jawab mereka sendiri. “Banyak yang memiliki sebuah pemikiran bahwa mereka harus melakukan beberapa bagian dari pekerjaan itu sendiri. Mereka telah percaya di dalam Kristus untuk pengampunan dosa, tetapi sekarang mereka berusaha oleh kekuatan mereka sendiri untuk hidup benar. Tetapi setiap usaha seperti itu pasti gagal. Yesus berkata, ‘Di luar Aku engkau tidak dapat melakukan sesuatu.’ Pertumbuhan kita di dalam kasih karunia, sukacita kita, kegunaan kita,–semua bergantung pada persekutuan kita dengan Kristus. Adalah melalui persekutuan dengan-Nya, setiap hari, setiap jam,–oleh tinggal di dalam Dia,–kita dapat bertumbuh di dalam kasih karunia. Dia bukan hanya Penulis, tetapi juga Penutup iman kita.”—Idem., hal. 69.

Apakah tujuanmu untuk mencapai “tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus”? Efesus 4:13. Engkau tidak akan pernah dapat mencapai tujuan itu dengan bergantung pada tiang jemuran rohani. Tidak mungkin bertumbuh di dalam kasih karunia oleh usaha kita yang lemah. Pertumbuhan adalah sebuah karunia. Itu diterima oleh persatuan kita bersama Yesus, melalui persekutuan dengan-Nya. Manusia tidak akan pernah mendapatkan oleh dirinya sendiri apa yang telah Allah berjanji untuk berikan.

Apakah engkau kadang kala bertanya-tanya apakah engkau sedang bertumbuh? Ada cara yang pasti untuk mengetahuinya. Lihat apakah engkau sedang makan! Makan menentukan pertumbuhan setiap waktu.

Bill telah berada dalam kesulitan yang sama begitu seringnya sehingga ia tidak dapat menghitungnya. Maka dia pergi ke dokter, yang sekarang berdiri mengangguk-anggukkan kepalanya, menatap pada wajah Bill yang tidak bercukur dan matanya yang merah.

“Saya pikir saya sudah tidak punya harapan lagi, kan dokter?” kata Bill.

“Ya, saya kira demikian.”

“Kalau begitu bagaimana kalau saya minum sekali lagi, karena hal itu tidak membawa perbedaan sama sekali.”

“Baiklah, saya akan memberikanmu sebuah minuman,” dokter itu menjawab dengan mengejutkan. “Tetapi pertama-tama engkau harus melakukan sesuatu untuk saya.”

“Apa itu?” tanya Bill.

“Di bawah lorong itu,” jawab dokter, “ada seorang anak muda yang untuk pertama kali berada di sini. Saya sudah menyerah terhadapmu—tetapi dia mungkin bisa berubah. Saya ingin engkau turun dan pergi ke kamarnya dan membiarkannya untuk bisa melihat dirimu—hanya itu. Mungkin jika dia melihatmu, hal itu akan membuatnya cukup takut sehingga mencegahnya untuk dibawa kembali ke sini.”

Bill setuju, dan pergi turun menuju lorong untuk menemui anak muda yang, seperti dirinya, telah dibawa ke rumah sakit untuk dirawat setelah bermabuk-mabukan.

Pada awalnya dia melakukannya untuk mendapatkan satu minuman lagi. Tetapi Bill mulai berbicara dengan anak muda itu. “Jangan sia-siakan hidupmu,” dia mendesaknya. “Lihatlah diriku. Keluargaku telah pergi, kehormatanku telah hilang. Aku tidak punya pekerjaan; aku tidak punya sahabat. Aku kehilangan kesehatan dan reputasiku. Apakah engkau ingin berakhir seperti ini?”

“Aku tidak akan pernah berakhir sepertimu,” anak muda itu berkeras. “Aku dapat berhenti minum kapan saja aku mau.”

“Itulah yang selalu aku pikir juga,” jawab Bill. “Tetapi hal itu tidak benar. Aku tidak dapat berhenti. Satu-satunya cara agar aku dapat berhenti adalah jika TUHAN Sendiri memberikan aku kekuatan itu. Dan itulah satu-satunya cara bagimu untuk berhenti juga. Engkau tidak mempunyai kekuatan untuk mengendalikan minumanmu, atau engkau tidak akan berada di sini. Engkau harus belajar untuk bergantung pada sebuah Kekuatan yang lebih tinggi.”

Bill kembali ke rumah sakit berkali-kali setelah hari itu, tetapi tidak pernah lagi sebagai seorang pasien. Dia tidak pernah kembali kepada dokter itu untuk mengumpulkan minuman yang dijanjikan. Dia kembali untuk berbicara kepada orang lain yang telah dibawa dalam kondisi yang sama, yang sedang bergumul dengan alkoholisme. Itulah awal mula Alcoholics Anonymous (di Amerika dikenal dengan “AA”).

Prinsip yang ditemukan Bill dalam kunjungannya bersama anak muda itu adalah dasar dari Alcoholics Anonymous saat ini. Setiap orang harus datang kepada keadaan dimana dia mengakui bahwa dia memiliki sebuah kebutuhan yang besar. Dia diajar untuk mulai mengatakan, “Saya adalah seorang alkoholik.” Dan dia secara terus-menerus diingatkan akan ketergantungannya kepada sebuah Kuasa yang lebih tinggi, jika masalah itu hendak dikendalikan. Dalam mengakui dan mengetahui kelemahan dia menemukan kekuatan.

Setiap kita dapat membuat pengakuan yang mirip: “Aku adalah seorang berdosa.” Kita harus menyadari sebagai seorang Kristen bahwa kita tidak bertumbuh oleh menjadi lebih kuat dan lebih kuat. Kita bertumbuh oleh menyadari setiap hari betapa lemahnya kita dan betapa bergantungnya kita pada kasih karunia Allah. Itulah yang Paulus katakan dalam 2 Korintus 12:10: “Jika aku lemah, maka aku kuat.” “Ketika kita memiliki sebuah kesadaran tentang kelemahan kita, kita belajar untuk bergantung pada sebuah kuasa yang bukan berasal dari dalam diri kita.”—The Desire of Ages, hal. 493.

Kebenaran ini dapat menjadi sebuah ancaman bagi orang-orang kuat. Orang-orang yang mendapatkan keamanan dalam kekuatan dan disiplin diri mereka sendiri, yang merasa nyaman karena perilaku baik mereka, menemukan pemikiran tentang mengakui kelemahan merupakan serangan. Tetapi orang yang kuat, atau berpikir bahwa dia kuat, tidak merasakan kebutuhan akan seorang Juruselamat.

Apakah kita mengakuinya atau tidak, apakah kita mengetahuinya atau tidak, setiap orang dari kita adalah lemah. Hanya pada saat kita menyadari kelemahanlah, kita dapat dituntun mencari kuasa dari luar dan di atas diri kita. “Kekuatan kita yang terbesar adalah menyadari ketika kita merasa dan mengetahui kelemahan kita.”—Testimonies, vol. 5, hal. 70.

Apakah engkau menganggap dirimu seorang yang kuat? Engkau dapat sungguh-sungguh kuat saat engkau menemukan kekuatanmu di dalam Dia. Apakah engkau menganggap dirimu lemah? Maka ada kabar baik untukmu! Kekuatannya menjadi sempurna dalam kelemahan. Baca 2 Korintus 12:9. Tidak masalah betapa kuat engkau anggap dirimu, kekuatanmu yang sebenarnya hanya datang saat engkau mengakui kelemahanmu. Tidak masalah betapa lemah dirimu, engkau dapat menjadi kuat di dalam Dia.

Kita dapat melakukan segala sesuatu melalui Kristus yang menguatkan kita, tetapi tanpa Dia kita tidak dapat melakukan apapun.

Selama sebuah kelas mata kuliah khusus, kami telah mempelajari sebuah “pelajaran singkat” dalam kebenaran oleh iman di dalam Kristus saja. Kami telah membaca dua ayat, Yohanes 15:5 dan Filipi 4:13, bahwa tanpa Dia kita tidak dapat melakukan segala sesuatu, tetapi bersama Dia kita dapat melakukan segala sesuatu.

Dalam proses diskusi, beberapa mahasiswa merasa tidak nyaman dengan Yohanes 15:5. Salah seorang bertanya, “Jika kita tidak dapat melakukan segala sesuatu tanpa Kristus, maka bukankah itu menyingkirkan nilai kita sebagai mahluk manusia? Bukankah kita diciptakan menurut peta Allah? Bukankah Dia menciptakan kita dengan pilihan yang bebas? Hal itu kedengarannya bukan seperti kebebasan memilih jika kita tidak dapat menyelesaikan sesuatu tanpa Dia.”

Maka kami memastikan untuk menarik garis pemisah antara tidak berharga, dan tidak berdaya. Kami berbicara tentang fakta bahwa walaupun kita tidak berdaya untuk menghasilkan kebenaran, kita bernilai segalanya di mata surga.

Pada titik itu, seorang anak muda di bangku belakang menaikkan tangannya. “Kalau begitu mengapa,” tanyanya, “begitu mudah untuk merasa tidak bernilai, sementara begitu sulit untuk merasa tidak berdaya?”

Yang mana dari keduanya yang paling banyak engkau rasakan? Tidak berdaya atau tidak berharga? Setan telah mengambil setiap kebenaran dan entah bagaimana memutarbalikkannya, bukan? TUHAN berkata, “Engkau bernilai segalanya, tetapi engkau tidak berdaya tanpa Aku.” Setan berkata, “Engkau tidak berharga. Tetapi berusaha keraslah untuk berubah, dan mungkin entah bagaimana, suatu hari kelak, engkau akan bernilai.”

Salah satu ketakutan yang paling banyak diungkapkan tentang keselamatan melalui iman dalam Kristus saja adalah ketakutan bahwa hal itu akan menghasilkan sebuah agama yang tidak-melakukan-apapun. Banyak orang khawatir menerima sebuah iman “pasif” yang menghasilkan kemalasan yang sempurna. Kita dapat melihat pada betapa sedikit yang telah kita kerjakan di sepanjang tahun-tahun kita berusaha keras untuk menghasilkan kebenaran, dan kita dapat mengira bahwa jika kita berhenti bergumul, maka kita akan tidak mengerjakan sesuatu sama sekali.

Tetapi kebalikannya adalah benar. Di samping menemukan bahwa pertumbuhan berhenti ketika kita berhenti berusaha bertumbuh, kita akan menemukan bahwa hanya setelah itulah pertumbuhan yang benar akan mulai. Yesus tidak menghentikan pernyataan-Nya dalam Yohanes 15:5, bahwa tanpa Dia kita tidak dapat melakukan segala sesuatu. Dia juga memberikan kita kabar baik bahwa melalui Dia kita dapat melakukan segala sesuatu.

The Ministry of Healing menempatkannya seperti ini: “Tidak ada batasan terhadap kebergunaan dari orang yang, menyingkirkan diri, memberikan ruang untuk pekerjaan Roh Kudus ke atas hatinya dan hidup sepenuhnya berpusat kepada TUHAN.”—Hal. 159.

Alkitab diisi dengan cerita-cerita tentang orang-orang yang hidup sepenuhnya bergantung kepada TUHAN. Apakah mereka pasif? Mereka pasif ketika masalahnya tiba pada bergantung pada kekuatan mereka sendiri. Tetapi jangan pernah lupa betapa aktifnya pasif itu! Karena orang yang mengetahui ketidakberdayaannya sendiri dan menerima pengendalian Allah adalah orang yang akan Dia gunakan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan besar bagi-Nya.

Selama beberapa tahun hingga sekarang saya telah mengumpulkan cerita-cerita tentang orang-orang di dalam Alkitab yang melakukan hal-hal bodoh! Ingat Yonathan dan pembawa senjatanya yang menghadapi seluruh pasukan Filistin? Bagaimana dengan Yoshua yang pergi menaklukkan kota Yeriko dengan berjalan mengelilingi kota itu setiap hari selama seminggu? Atau memerintahkan matahari untuk berhenti ketika dia membutuhkan beberapa jam untuk menyelesaikan suatu pertempuran? Bukanlah strategi militer yang cerdas bagi Gideon untuk memulangkan 99 persen dari pasukannya dan kemudian menyerang dengan kendi dan obor. Elia adalah orang bodoh karena menuangkan empat drum air pada mezbah korban bakarannya di Gunung Karmel, dari pada membuat segala sesuatu semudah mungkin bagi TUHAN. Dan ada Yosafat yang pergi berperang di depan sebuah paduan suara.

Jika siapa saja dari pahlawan-pahlawan Alkitab ini telah bergantung pada kekuatannya sendiri, dari pada TUHAN, dia pastilah kalau tidak bodoh, ingin bunuh diri! Tetapi ketika kelemahan manusia dipersatukan dengan kuasa Ilahi, TUHAN menggunakan orang-orang ini, bagi-Nya, untuk mengerjakan hal-hal yang tidak mungkin.

Ketika TUHAN memanggil kita untuk menempatkan ketergantungan sepenuhnya kepada Dia, ketika Dia meminta kita untuk mengetahui ketidakberdayaan kita tanpa Dia, Dia tidak sedang membuka pintu untuk ketidakaktifan. Hidup yang dikendalikan TUHAN adalah kehidupan dari dayaguna dan pelayan yang tertinggi. Dan itu adalah kehidupan yang memberikan bukti pertumbuhan dan berhasilguna. Kehidupan itu dapat menjadi milikmu, jika engkau mengingat bahwa tanpa Dia engkau tidak dapat melakukan segala sesuatu, tetapi bahwa bersama-Nya engkau dapat melakukan segala sesuatu—dan hiduplah bersama-Nya, dalam persekutuan dan persahabatan dan persekutuan pribadi.

Engkau mungkin pernah mendengar kisah tentang seorang nenek yang saleh di sebuah gereja yang tidak pernah mengatakan sesuatu yang buruk tentang siapapun. Satu hari, seorang anggota gereja berkata, dengan hampir putus asa, “Saya bertaruh bahkan engkau pasti bisa mengatakan sesuatu yang baik tentang setan itu sendiri.”

Nenek itu menjawab, “Yah, engkau tentu harus mengagumi ketekunannya!”

Saya bisa menambahkan satu kepada hal itu dan berkata bahwa setan tentu mengetahui bagaimana mencobai orang! Selama berabad-abad hal itu telah menjadi pelajaran utamanya, dan dia adalah pakar dalam hal itu. Dia mengetahui secara pasti bagaimana pikiran kita bekerja dan bagaimana mengelabui kita dan menjerat kita dan membuat kita menerima saran-sarannya. Dan tentu kita mengetahui bahwa tanpa Roh TUHAN yang menegakkan standar melawan dia, kita tidak akan dapat bertahan sesaatpun.

Tetapi ketika kita bergantung pada kuasa Allah, setan adalah orang yang tidak akan dapat bertahan sesaatpun, dan dia tahu itu. “Karena setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi.” 1 Yohanes 3:6. Dan The Great Controversy, hal. 530, mengembangkan pemikiran yang sama: “Setan sangat menyadari bahwa jiwa yang paling lemah yang tinggal di dalam Kristus bukanlah tandingan bagi sang penguasa kegelapan itu, dan sehingga, bila dia harus menyatakan dirinya secara terbuka, dia akan dihadapi dan ditolak. Oleh karena itu dia berusaha untuk menarik prajurit-prajurit salib menjauh dari kubu pertahanan mereka yang kuat itu.”

Jika Setan mengetahui bahwa bahkan jiwa yang terlemah yang tinggal di dalam Kristus bukan tandingan baginya, maka hal itu akan menjadi sangat penting bagi kita untuk mengerti apa artinya tinggal di dalam Kristus.

Marilah kita melihat pertama-tama pada kata tinggal. Apakah artinya tinggal? Jika engkau mempelajari kata tinggal di dalam Alkitab, engkau akan menemukan bahwa hal itu berarti menetap. Maka Setan sangat menyadari bahwa jiwa yang terlemah yang tetap tinggal dalam ketergantungan pada Kristus bukanlah tandingan bagi sang penguasa kegelapan itu.
Tetapi hal ini membawa kita kepada satu masalah. Kita telah mengetahui bahwa memerlukan waktu untuk bertumbuh, bahwa penyerahan yang terjadi pada saat pertobatan sering kali dapat menjadi pengalaman hidup-lagi, mati-lagi ketika kita sedang mempelajari hari demi hari untuk mengenal Allah dan mempercayai Dia secara lebih sempurna. Pada saat kita akan melihat kepada-Nya dan bergantung pada kuasa-Nya, maka kita mengalami kemenangan. Tetapi saat kita memalingkan pandangan kita dari pada-Nya dan berusaha untuk bergantung pada kekuatan kita sendiri, maka kita akan jatuh dan gagal dan berdosa.

Maka adalah penting untuk membuat perbedaan antara dua jenis tinggal yang muncul di dalam Alkitab. Kita akan mempelajari hal ini lebih dalam lagi dalam beberapa thesis berikut, tetapi secara ringkas, ada tinggal dalam hubungan setiap hari bersama Kristus, dan ada tinggal setiap saat dalam ketergantungan kepada-Nya.

Kadang kala kita mendapatkan pemikiran bahwa jika kita tinggal, atau menetap, dalam hubungan bersama Dia hari demi hari, maka kita akan mengalami kemenangan yang tidak berkeputusan. Tetapi adalah mungkin untuk tetap tinggal bersama Yesus hari demi hari, melalui hubungan setiap hari bersama Dia, dan namun belum tinggal dalam ketergantungan kepada kuasa-Nya pada setiap saat. Selama kita tetap tinggal dalam ketergantungan kepada kuasa Allah dari pada diri kita sendiri, Setan dikalahkan. Tetapi kapan saja kita bergantung kepada kekuatan kita sendiri untuk melawan pencobaan, kita dikalahkan.

TUHAN tidak memiliki masa menunggu, masa percobaan, atau penundaan dalam kemenangan yang harus Dia berikan. Sejak hari pertama engkau datang kepada-Nya, adalah mungkin untuk mengalami semua kemenangan itu, semua kuasa mengalahkan dosa, semua kemenangan dan penurutan yang Dia telah tawarkan—selama engkau tetap bergantung kepada kuasa-Nya.

Tetapi kapan saja engkau berpaling dari Kristus dan berusaha untuk bertahan dalam kekuatanmu yang rapuh itu, engkau pasti jatuh dan gagal dan berdosa. Hal itu akan terjadi bahkan bila engkau berada dalam hubungan hari demi hari bersama Allah selama 119 tahun enam bulan! Itulah yang terjadi kepada Musa. Dia telah mengenal Allah, telah berbicara kepada-Nya sebagai seorang sahabat, muka dengan muka. Dia telah memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir dan hampir tiba di perbatasan Tanah Perjanjian. Tetapi suatu hari dia menyerah kepada pencobaan setan untuk mengalihkan perhatiannya dari Kristus, dan dia mencoba untuk menangani masalah dalam kekuatannya sendiri. Dia kehilangan pengendalian dirinya, mengambil kemuliaan yang seharusnya milik TUHAN untuk dirinya sendiri, dan berakhir dengan memukul batu, bukan berbicara kepada batu.

Jika tiba saat ketika engkau memukul batu, dalam cara apapun hal itu bisa membinasakan hidupmu, engkau dapat mengetahui hal itu dengan pasti—bagaimanapun, pada saat engkau berhenti bergantung kepada kuasa Allah dan mulai bergantung kepada dirimu sendiri. Tetapi tidak masalah betapa lemahnya dirimu, bahkan bila engkau adalah “jiwa yang paling lemah”, saat engkau belajar untuk tinggal di dalam Kristus waktu demi waktu, Setan tidak akan memiliki kuasa atasmu.

TUHAN tidak pernah mengajukan cerai! Dia telah memberikan kita izin untuk mengajukan cerai apabila pasangan kita telah tidak setia kepada sumpah perkawinan, tetapi bahkan ketika umat-Nya tidak setia kepada-Nya—bahkan ketika umat-Nya berulangkali tidak setia kepada-Nya—Dia tidak pernah menjalankan hak itu untuk diri-Nya sendiri. Putusnya hubungan antara manusia dan Allah selalu diprakarsai oleh umat manusia, tidak pernah oleh Allah.

Janji Allah kepada umat-Nya adalah selalu, “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” Ibrani 13:5.

Dalam sejarah Israel kita melihat kesempatan yang hampir tidak terbatas bagi Allah untuk memilih meninggalkan umat-Nya. Mereka tidak setia kepada-Nya berkali-kali dan berkali-kali lagi. Mereka tidak hanya melanggar hukum yang diucapkan di Sinai dan ditulis oleh tangan-Nya sendiri, tetapi mereka terlibat dalam penyembahan ilah-ilah lain, melupakan Allah satu-satunya yang benar yang telah membawa mereka keluar dari Mesir dan menuju Tanah Perjanjian.
Kisah Perjanjian Lama tentang sejarah mereka mencatat berulang-ulang kali kejahatan dan pemberontakan dari raja-raja dan bangsa itu. The Desire of Ages, hal. 28, berkata, “Sejak saat mereka memasuki tanah Kanaan, mereka meninggalkan perintah-perintah TUHAN, dan mengikuti jalan orang-orang fasik. Adalah sia-sia TUHAN mengirimkan amaran kepada mereka melalui nabi-nabi-Nya. Adalah sia-sia mereka menderita penghukuman dari penindasan orang-orang kafir. Setiap reformasi diikuti oleh kemurtadan yang lebih dalam.”

Pada zaman Kristus, “dosa telah menjadi ilmu pengetahuan, dan perbuatan jahat ditahbiskan sebagai bagian dari agama. Pemberontakan telah menanamkan akarnya sangat dalam ke dalam hati, dan permusuhan manusia yang paling keras adalah melawan surga.”—Ibid. hal. 37. Setan bersukacita karena dia telah melakukan pekerjaannya dengan begitu baik, bahwa akhirnya kesabaran TUHAN akan berakhir dan umat manusia akan dibinasakan. Tetapi TUHAN mempunyai rencana yang lebih baik. Dari pada pembinasaan, Dia mengirimkan seorang Juruselamat. Yesus datang ke bumi untuk menawarkan perdamaian secara pribadi, untuk mencoba menjembatani jurang pemisah antara umat manusia dan Allah.

Penawaran belas kasihan yang ditolak oleh bangsa Israel masih ditawarkan kepada perorangan-perorangan, dan setiap orang yang hidup di bumi ini masih dapat menerima penawaran itu. Bukan hingga setiap orang telah membuat sebuah keputusan terakhir untuk menerima atau menolak Allah penawaran itu ditarik. Ketika Kristus meninggalkan kaabah surgawi dan pintu kasihan ditutup, penderitaan Allah yang berkepanjangan akhirnya akan tiba pada kesudahannya. Dan bahkan setelah itu, TUHAN tidak secara sewenang-wenang meninggalkan kita; Dia dengan rasa enggan menerima keputusan kita untuk meninggalkan-Nya. Baca The Great Controversy, hal. 614.

Pernahkah engkau khawatir bahwa engkau terlalu lama mempelajari pelajaran-pelajaran yang Dia coba ajarkan kepadamu? Pernahkah engkau berdoa, “TUHAN, tolonglah, jangan menyerah terhadapku”? Engkau dapat merasa pasti bahwa Dia tidak akan meninggalkanmu. Mungkin doa yang lebih baik adalah, “TUHAN, tolonglah aku agar tidak menyerah terhadap-Mu.” Karena ketika tiba saatnya bagi karunia keselamatan dan hubungan kita bersama-Nya, kita menggenggam suara terbanyak. Hanya kekerasan kepala kita yang mencegah kita untuk datang kepada-Nya dan menerima apa yang Dia rindu berikan kepada kita.

“Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun mahluk-mahluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, TUHAN kita.” Roma 8:35, 37-39.