roh-roh agamawi dan dampaknya

So, another word, Anda “mengiyakan” bahwa doa pelepasan saja tidak cukup. Bahwa setelah doa pelepasan ada terapi such as dididik di dalam firman Tuhan, diajak persekutuan doa, diajak pergi ke Gereja, and so on.

Jika demikian, seberapa perlukah doa pelepasan itu? Apakah tidak cukup saja orang dididik dengan pengajaran-pengajaran Gereja?

Aku pernah didoakan “seperti itu” waktu SMA. Tapi kemudian yang timbul adalah adanya kecanduan rohani di mana tiap kali merasa punya stok dosa yang berat aku ingin didoakan pelepasan lagi, dan lagi, dan lagi…

Kadang saya denger sendiri kalo Pendeta-pendeta juga bilang adanya orang yang kecanduan altar call seperti itu. Eh, altar call sama doa pelepasan sama nggak?

Anda juga mengatakan mengenai serangan Iblis, wow, serangan yang seperti apa? Sebuah studi menyebutkan bahwa dalam sehari 90% (koreksi saya jika saya keliru dengan detail prosentasenya) pikiran manusia dipenuhi dengan pikiran negatif. Apakah pikiran negatif seperti itu yang Anda maksud dengan serangan Iblis? Jika ya, dari mana Anda tahu bahwa itu Iblis alih-alih pikiran kita sendiri?

Tuhan Yesus memberkati :slight_smile:

[quote="velmar18 post:21, topic:177678"] So, another word, Anda "mengiyakan" bahwa doa pelepasan saja tidak cukup. Bahwa setelah doa pelepasan ada terapi such as dididik di dalam Firman Tuhan, diajak persekutuan doa, diajak pergi ke Gereja, and so on. Jika demikian, seberapa perlukah doa pelepasan itu? Apakah tidak cukup saja orang dididik dengan pengajaran-pengajaran Gereja? [/quote] Doa pelepasan bisa saja berulang ulang tergantung seberap kuatnya keterikatan orang itu dengan kuasa iblis, dunia dan kedagingan yang perlu dilepasakannya, memang sering hanya satu kali saja, namun ada juga yang dua kali dan tiga kali karena kuasa ini sudah saling menguatkan sehingga dalam pelepasanan ada hal-hal yang masih tersembunyi atau hubungan yang belum diputuskan dari cengkraman dosa ini.
Aku pernah didoakan "seperti itu" waktu SMA. Tapi kemudian yang timbul adalah adanya kecanduan rohani di mana tiap kali merasa punya stok dosa yang berat aku ingin didoakan pelepasan lagi, dan lagi, dan lagi...

itu yang saya katakan kita tidak bleh melepas mereka sendiri, sebab iblis selalu mendakwa dan menuduh kita terus menerus bahwa Tuhan belum mengampuni kita. Ketika kita sudah dilepaskan oleh Tuhan, hati dan tubuh kita seperti rumah yang tidak boleh kosong yang selalu bersih yang selalu diisi dengan firman Tuhan dan hal-hal rohani sehingga Roh Kudus yang membimbing kita, namun kalu kita tidak berpaling dan meninggalkan dosa, masih kembali lagi kepada hal-hal yang lama maka keadaan orang itu lebih buruk dari pada keadaan semula, karena roh yang sudah dilepaskan itu akan kembali, tetapi tidak seorang diri, ia akan datang dengan membawa tenman-temannya sehingga menjadi lebih kuat. (Matius 12:45b). Sehingga memerlukan doa pelepasan lagi… dan pekerjaan ini yang paling sulit bagi hamba Tuhan…

Kadang saya denger sendiri kalo Pendeta-pendeta juga bilang adanya orang yang kecanduan altar call seperti itu. Eh, altar call sama doa pelepasan sama nggak? Anda juga mengatakan mengenai serangan Iblis, wow, serangan yang seperti apa? Sebuah studi menyebutkan bahwa dalam sehari 90% (koreksi saya jika saya keliru dengan detail prosentasenya) pikiran manusia dipenuhi dengan pikiran negatif. Apakah pikiran negatif seperti itu yang Anda maksud dengan serangan Iblis? Jika ya, dari mana Anda tahu bahwa itu Iblis alih-alih pikiran kita sendiri? Tuhan YESUS memberkati :)

Panggilan Tuhan itu ngak sama dengan doa pelapasan, Makanya baca dong Matius 12:45b, penjelasan diatas ada terkait dengan kuasa iblis, dunia dan kedagingan. Kuasa ketiga ini ketika sudah dilepas namun bisa kembali ketika melakukan dosa dan membuka celah bagi iblis kembali masuk dan menempatkan rumah yang tadinya sudah bersih, oleh karena itu kuasa ini belum banyak yang pahami.
Iblis membentuk dunia melalui orang-orang kepercayaannya yang mudah dipengaruhi olehnya. Sehingga cara hidup orang orang selalu bertentangan dengan kehendak Allah.
Karena kita masih hidup didunia cenderung kita juga dapat terpengaruh dengan sistem atau cara hidup orang orang dunia, dan sehingga membawa pengaruh yang lebih kuat kepada kita karena adanya keinginan daging. Selain itu juga iblis sering mencobai kita secara langsung melalui keinginan daging. Karena kita mempunyai kelemahan karena keinginan daging maka iblis sering menggoda kita baik secara langsung maupun tidak langsung.
Oleh karena itu kita perlu waspada serangan balas dari iblis juga dan serangan balas ini bukan tidak ada ketika selesai didoakan pelepasan, dan serangan balasan ini bukan hanya kepada orang yang kita doakan saja, namun kita yang mendoakan juga perlu waspada dan bagi orang sudah dilepaskan juga hati-hati jangan samapai kembali kepada dosa lamanya, sehingga kita menjadi pemenang dan dipuji Tuhan dan kita akan mengalami kelahiran baru yang dibentuk oleh Tuhan seperti tanah lihat sesuai menurut kehendak-Nya. Pada saat itu ia menjadi anak Allah. Dan ia juga akan menjadi laskar Kristus, dan sesuai paggilan Tuhan apa yang dikehendaki-Nya dst, dstnya kita harus ajarkan dia bagaimana harus berlindung dan menggunakan darah Yesus (Wahyu 12:9-11)…Dan menggunakan nama Yesus…dst,dstnya

@ Misteri

Kalau saya baca penjelasan Anda saya berkesimpulan ada 3 hal yang berkaitan dengan “dark side” : kuasa Iblis itu sendiri, dunia, dan hawa nafsu kedagingan.

Nah, jika saya baca Mat. 12 : 43-45 (relevan dengan Luk. 11 : 24-26) saya melihat korelasi konteks kembalinya roh jahat dengan kisah seseorang yang kerasukan setan dan disembuhkan Yesus dalam Mat. 12 : 22 (Luk. 11 : 14). Jadi case ini adalah case yang berhubungan dengan kuasa Iblis, sekalipun tidak dijelaskan lebih detail dalam catatan Matius ataupun Lukas mengenai hal apa yang menyebabkan orang itu kerasukan yang membuatnya buta dan bisu (Mat. 12 : 22; Luk. 11 : 14).

Apakah hal-hal duniawi seperti harta, tahta, dan wanita yang berpotensi menimbulkan kedagingan manusia dapat menyebabkan kerasukan setan hingga mengakibatkan buta dan bisu seperti kasus orang kerasukan dalam Mat. 12 : 22 tersebut? Dan jika Anda menyebutkan bahwa setelah dilakukan doa pelepasan, orang tersebut perlu dididik dengan firman Tuhan, itu artinya doa itu tidak sepenuhnya melepaskan. Orang bisa aja kambuh lagi. Pengajaranlah (terapi) yang bisa membuatnya seutuhnya “dilepaskan” dari kedagingannya. Pertanyaannya dilepaskan dari apa? Kedagingan?

Banyak sekali yang disebut dengan kedagingan seperti kemarahan, kepedihan, iri hati, dengki, ketidakjujuran, dlsb. Bahkan dalam konteks agama spiritualisme kegembiraan bisa diaktegorikan sebagai kedagingan (an attachment). Tapi apakah itu berarti serta merta kita bisa menyalahkan setan berkaitan dengan kedagingan kita? Pula doa saja tidak bisa melepaskan orang dari kedagingan, tapi lebih diperlukan disiplin rohani seperti yang Anda sebut dididik mengenai firman Tuhan, dlsb.

Dan Anda tidak menyebut secara eksplisit berkaitan dengan serangan Iblis, sejauh yang saya tangkap Anda hanya menyebutkan bahwa Iblis selalu mendakwa kita. And then, berarti rasa bersalah itukah yang Anda sebut dengan serangan Iblis? Atau serangan Iblis ya itu seperti yang saya tanyakan, “sekedar” pikiran negatif?

Entah relevan atau tidak, sebetulnya doa pelepasan itu apa? Sekedar euforia rohani atau betul-betul dilepaskan dari kuasa setan? Bagaimana membuktikannya?

  • euforia rohani sebuah pengalaman luar biasa di mana sekujur tubuh merasakan sensasi yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Umumnya orang yang mengalaminya seperti dialiri listrik yang menggelitik kemudian membuncah menjadi letupan emosi yang paling dalam, umumnya tangisan, sehingga setelah mengalaminya orang cenderung merasa lega atau bebannya diangkat. Sayangnya, euforia seperti ini dirasakan pula bagi orang yang mengikuti Reiki, terutama pada tahap attonement, yaitu membuka cakra.

Salam.

[email protected]

Apakah hal-hal duniawi seperti harta, tahta, dan wanita yang berpotensi menimbulkan kedagingan manusia dapat menyebabkan kerasukan setan hingga mengakibatkan buta dan bisu seperti kasus orang kerasukan dalam Mat. 12 : 22 tersebut? Dan jika Anda menyebutkan bahwa setelah dilakukan doa pelepasan, orang tersebut perlu dididik dengan Firman Tuhan, itu artinya doa itu tidak sepenuhnya melepaskan. Orang bisa aja kambuh lagi. Pengajaranlah (terapi) yang bisa membuatnya seutuhnya "dilepaskan" dari kedagingannya. Pertanyaannya dilepaskan dari apa? Kedagingan?

Sepertinya anda campur aduk, harta, tahta dan wanita itu ngak ada kaitan dengan kerasukan setan.

Buta bisu yang disembuhkan oleh Yesus dalam Matius 12: 22 penyakit itu oleh karena ikatan iblis sehingga dia menjadi buta bisu, jadi sumbernya penyakitnya ada pada ikatan iblis, jadi sangat jelas sibisu buta sembuh oleh karena Yesus telah melepasakan ikatan iblis itu.

Banyak sekali yang disebut dengan kedagingan seperti kemarahan, kepedihan, iri hati, dengki, ketidakjujuran, dlsb. Bahkan dalam konteks agama spiritualisme kegembiraan bisa diaktegorikan sebagai kedagingan (an attachment). Tapi apakah itu berarti serta merta kita bisa menyalahkan setan berkaitan dengan kedagingan kita? Pula doa saja tidak bisa melepaskan orang dari kedagingan, tapi lebih diperlukan disiplin rohani seperti yang Anda sebut dididik mengenai Firman Tuhan, dlsb.

Dan Anda tidak menyebut secara eksplisit berkaitan dengan serangan Iblis, sejauh yang saya tangkap Anda hanya menyebutkan bahwa Iblis selalu mendakwa kita. And then, berarti rasa bersalah itukah yang Anda sebut dengan serangan Iblis? Atau serangan Iblis ya itu seperti yang saya tanyakan, “sekedar” pikiran negatif?


Kalau seperti kasus diatas oleh karena keterikatan dengan dosa karena harta tahta dan wanita itu tanpa doa pelepasan juga bisa… melalui pergumulan pribadi saja.
Namun yang paling berat adalah perkara occultisme, iblis menuntut haknya terhadap orang yang berhutang budi kepada iblis. Iblis berhak atas orang itu, setelah kita doakan iblisnya keluar, namun ketika kita pulang dari rumah orang itu, iblis itu kembali lagi masuk lagi dan begitu terus menerus … kasus seperti ini palingsulit apalagi orang bersangkutan bungkam tidak mau dilayani, namun isterinya mau kita layani utk didoakan pelepasan, namun suaminya tidak mau, sehingga masuk keluar iblis ini menyerang dia dan juga menyerang kita oleh karena ada perjanjian langsung dengan iblis ini sehingga untuk pembongkaran pada intinya untuk mengetahui apa penyebabnya sehingga ia mempunyai hubungan dan ikatan dengan iblis ini tidak terbongkar oleh karena orang ini tidak bersedia kita layani. Seperti kasus ini sulit…terkecuali hatinya terbuka itu bisa. Namun selama orang orang seperti ini tidak dapat dilepaskan…

Entah relevan atau tidak, sebetulnya doa pelepasan itu apa? Sekedar euforia rohani atau betul-betul dilepaskan dari kuasa setan? Bagaimana membuktikannya?

Doa pelepasan adalah doa yang ditunjukan untuk melepaskan seseorang dari kuasa kegelapan yang mengikat orang itu.
Kalau orang itu bersedia untuk melepaskan ilmu-ilmunya baru bisa.

* euforia rohani sebuah pengalaman luar biasa di mana sekujur tubuh merasakan sensasi yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Umumnya orang yang mengalaminya seperti dialiri listrik yang menggelitik kemudian membuncah menjadi letupan emosi yang paling dalam, umumnya tangisan, sehingga setelah mengalaminya orang cenderung merasa lega atau bebannya diangkat. Sayangnya, euforia seperti ini dirasakan pula bagi orang yang mengikuti Reiki, terutama pada tahap attonement, yaitu membuka cakra.
Sangat beda dong dengan membuka cakra ilmu yoga dan kebatinan tenaga listrik dll itu ilmu dari dunia.....

Yang saya maksudkan tu gini. Berdasarkan jawaban Anda saya mendapat ketiga kategori ini, yaitu :

  1. Kuasa Iblis : okultisme
  2. Dunia : harta, tahta, wanita (sekedar rangsangan)
  3. Kedagingan : iri hati, amarah, kepahitan, putus asa, dlsb.

Nah, dari tiga hal ini Anda menyebutkan bahwa harta, tahta, dan wanita tidak ada hubungannya dengan dengan kerasukan setan (keterikatan dengan setan?). Oke, saya setuju bahwa hal duniawi lebih bersifat rangsangan. Jadi terserah kita mau tergoda olehnya atau tidak.

Kedua Anda menyebutkan mengenai ada hal yang bisa diatasi melalui pergumulan pribadi. Maaf, jika saya keliru silahkan koreksi, jadi kemarahan, iri hati, dengki, putus asa, dan segala hal emosi negatif termasuk kategori yang bisa diselesaikan melalui pergumulan pribadi atau disiplin rohani.

Terakhir, Anda menyebutkan bahwa okultisme merupakan yang paling parah. Okultisme berarti bermain-main dengan kuasa jahat atau roh-roh jahat. Hal inilah yang membutuhkan pelepasan. Nah, jika saya mengenakan kacamata Om Bethel itu, yang mengaku sebagai mantan Katolik dan telah dilepaskan dari roh vatikan, 7 sakramen, Maria Rosa, dlsb. Bukankah ini berarti menuduh bahwa kaum Katolik “sebenarnya” sedang melakukan praktek okultisme? Yaitu yang masuk pada kategori bermain-main dengan kuasa jahat, yang mengakibatkan orang tersebut diikat oleh roh jahat (mengeliminir kategori “dunia”), dan membutuhkan doa pelepasan (mengeliminir kategori kedagingan yang bisa diatasi melalui pergumulan atau disiplin rohani)?

Terima kasih.

[quote="velmar18 post:25, topic:177678"] Yang saya maksudkan tu gini. Berdasarkan jawaban Anda saya mendapat ketiga kategori ini, yaitu :
  1. Kuasa Iblis : okultisme
  2. Dunia : harta, tahta, wanita (sekedar rangsangan)
  3. Kedagingan : iri hati, amarah, kepahitan, putus asa, dlsb.

Nah, dari tiga hal ini Anda menyebutkan bahwa harta, tahta, dan wanita tidak ada hubungannya dengan dengan kerasukan setan (keterikatan dengan setan?). Oke, saya setuju bahwa hal duniawi lebih bersifat rangsangan. Jadi terserah kita mau tergoda olehnya atau tidak.

Kedua Anda menyebutkan mengenai ada hal yang bisa diatasi melalui pergumulan pribadi. Maaf, jika saya keliru silahkan koreksi, jadi kemarahan, iri hati, dengki, putus asa, dan segala hal emosi negatif termasuk kategori yang bisa diselesaikan melalui pergumulan pribadi atau disiplin rohani.

Terakhir, Anda menyebutkan bahwa okultisme merupakan yang paling parah. Okultisme berarti bermain-main dengan kuasa jahat atau roh-roh jahat. Hal inilah yang membutuhkan pelepasan. Nah, jika saya mengenakan kacamata Om Bethel itu, yang mengaku sebagai mantan Katolik dan telah dilepaskan dari roh vatikan, 7 sakramen, Maria Rosa, dlsb. Bukankah ini berarti menuduh bahwa kaum Katolik “sebenarnya” sedang melakukan praktek okultisme? Yaitu yang masuk pada kategori bermain-main dengan kuasa jahat, yang mengakibatkan orang tersebut diikat oleh roh jahat (mengeliminir kategori “dunia”), dan membutuhkan doa pelepasan (mengeliminir kategori kedagingan yang bisa diatasi melalui pergumulan atau disiplin rohani)?

Terima kasih.
[/quote]

Dalam hal menuduh kepada khatolik beda ya, dengan kesaksian pribadi seseorang yang mengalami pemulihan dari TUhan, dan menceriterakan kesaksian hal yang tiddaka bertentangan dengan Alkitab, tidak masalah. arti kesaksian adalah sesutu kegiatan dimana kita menyaksikan pengalaman pribadi kita dengan Tuhan menceriterakan kepada orang-orang belum mengalaminya. Hak asasi seseorang tidak dapat digangu gugat oleh apappun, karena dia yang mengalami langsung dengan Tuhan yang membawa dia keluar dari hidup yang dikuasai dari kegelapan.
Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang didalam Tuhan (Efesus 5:8)…

Itu sebabnya kita sebagai orang kristen harus bersaksi apa yang telah Tuhan buat baginya, karena itu adalah perintah langsung dari Tuhan Yesus Kristus sebagai kepala jemaat. (Tolong dibaca dan renungkan ayat ini (Yohanes 15:26-27), setelah dibaca apakah bertolak belakang dengan maksud tuduhan kepada khatolik…Berbedakan…kesaksian seseorang levelnya lebih tinggi karena itu oerintah langsung dari kepala Jemaat, yaitu Tuhan sendiri. Terserah apa pendapat broo saya tidak membela bapak Edo. itulah kisah nyata, tidak bisa disogok untuk berubah kisah pribadinya.

@ Misteri

Oke, taruhlah kita mengesampingkan istilah “menuduh”. Berarti Anda dan Om Edo membenarkan bahwa Katolik telah terjatuh pada okultisme? Dengan kata lain bahwa Katolik tidak bisa lagi disebut kekristenan tapi telah menyeleweng darinya?

Saya rasa kita membutuhkan orang Katolik yang lebih memahami kekatolikan ketimbang saya untuk menanggapi perspektif Anda ini.

Saya telah membaca Yoh. 15 : 26-27 tapi saya tidak menemukan landasan bagi argumen Anda dan Om Edo yang “secara tidak langsung” menyatakan bahwa Katolik telah menjadi sebuah kekristenan yang menyeleweng dan terjatuh pada okultisme.

Yoh. 15 : 26-27 cuma membicarakan mengenai bersaksi seperti yang Anda katakan. Tapi dalam konteks perbincangan kita, dapat saya katakan ayat yang Anda berikan tidak menyentuh pokok dari topik pembicaraan kita. Ibaratnya makan nasi, Anda cuma membicarakan krupuk, bukan lauknya.

Apakah kesaksian bahwa Katolik telah terjatuh pada okultisme merupakan “kebenaran Alkitabiah”? Mana ayat Alkitab yang dapat membenarkan kesaksian ini?

Saya tertarik untuk mengetahui apa yang disebut dengan roh Vatikan, apakah ini berarti Vatikan equal to sarang setan? Kemudian roh 7 sakramen. Disebutkan bahwa Om Edo dilepaskan dari roh 7 sakramen. Salah satu dari ketujuh sakramen itu adalah sakramen imamat, apakah ini berarti Om Edo dulunya seorang imam? Jika bukan, kenapa disebut dengan roh 7 sakramen?

Intinya, seberapa valid (kredibel) kesaksian seperti ini? Batasan valid tidaknya kesaksian seperti ini apa? Karena, bukankah dalam ajaran kalian, yang mengutamakan pengalaman “Roh Kudus” seperti ini, juga menyebutkan bahwa roh jahat bisa menyaru menjadi malaikat terang? Apakah Anda dan Om Edo yakin bahwa kalian tidak sedang diikat roh perpecahan yang memecah belah kekristenan antar denominasi?

Tuhan Yesus memberkati.

[quote="velmar18 post:27, topic:177678"] @ Misteri Yoh. 15 : 26-27 cuma membicarakan mengenai bersaksi seperti yang Anda katakan. Tapi dalam konteks perbincangan kita, dapat saya katakan ayat yang Anda berikan tidak menyentuh pokok dari topik pembicaraan kita. Ibaratnya makan nasi, Anda cuma membicarakan krupuk, bukan lauknya.

Apakah kesaksian bahwa Katolik telah terjatuh pada okultisme merupakan “kebenaran Alkitabiah”? Mana ayat Alkitab yang dapat membenarkan kesaksian ini?

Saya tertarik untuk mengetahui apa yang disebut dengan roh Vatikan, apakah ini berarti Vatikan equal to sarang setan? Kemudian roh 7 sakramen. Disebutkan bahwa Om Edo dilepaskan dari roh 7 sakramen. Salah satu dari ketujuh sakramen itu adalah sakramen imamat, apakah ini berarti Om Edo dulunya seorang imam? Jika bukan, kenapa disebut dengan roh 7 sakramen?

Intinya, seberapa valid (kredibel) kesaksian seperti ini? Batasan valid tidaknya kesaksian seperti ini apa? Karena, bukankah dalam ajaran kalian, yang mengutamakan pengalaman “ROH KUDUS” seperti ini, juga menyebutkan bahwa roh jahat bisa menyaru menjadi malaikat terang? Apakah Anda dan Om Edo yakin bahwa kalian tidak sedang diikat roh perpecahan yang memecah belah Kekristenan antar denominasi?
[/quote]

Kelihatan Broo begitu penasaran tentang hal-hal dunia roh, Ok. Saya menjelaskan secara singkat saja mungkin kasus yang kita bahas ini ada dalam yang dimaksud.

Dan pada umumnya keterlibatan seseorang pada occultisme ditemukan disegala lapangan hidup manusia, disertai banyak alasan-alasannya (mungkin salah satu alasan ada disini ) sbb:

  1. Untuk menghormati orang tua atau nenek moyang, sesuai hukum yang ke-5 (… hormatilah ibu bapamu, supaya lanjut umurmu…) cara iblis untuk merusak hidup manusia dengan cara menghormati orang kedua tua tidak menjadikan kita lebih taat kepada mereka dari pada Allah (KPR 5:29). Ketaatan kita terhadap orang tua atau nenek moyang (para pendiri divatikan) tidak menjadikan kita lebih taat kepada mereka dari pada Allah (firman Allah).
    Ketaatan kita kepada orang tua ( bapak rohani), haruslah dalam garis ketaatan kita terhadap Allah dan firman-Nya.
    Kita dapat menyalakan mereka kalau perintah mereka tidak sesuai dengan kehendak Allah (firman-Nya)…Bandingkan dengan Mat.10:34-37; Kej.12:1; Yoh.24:2-3).

  2. Untuk menghormati kedua orang tua (nenek moyang) yang sudah meninggal menjadikan kita memegang keris / barang pusaka /jimat yang mereka tinggalkan utk kita, karena hal-hali itu adaah kekejian bagi Allah.
    Untuk menghormati kedua orang tua (nenek moyang) kita harus pergi kekuburannya utnuk memohon berkat kekuatan dll agar mereka tidak marah. Alkitab menerangkan bahwa roh orang mati tidak dapat berhubungn dengan orang yang masih hidup. Yang bekerja sebenarnya adalah roh roh setan, sehingga yang kita bicara adalah dengan roh setan lihat contoh dalam Kej. 8:8-10, roh Habel berseru kepada Allah ketika ia meninggal, bukan kepada Kain yang masih hidup.

  3. Pemujaan berhala dan ilah-ilah dalam bentuk penyembahan berhala mebangkitkan kutuk Tuhan terhadap pelanggaran dua perintah pertama dari ke 10 firman. Keluaran 20:105.

Dalam roma 1:22-23 Paulus berbicara mengenai orang-orang yang hatinya “menjadi gelap” “Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh. Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar”.

Hukuman Tuhan atas pelanggaran kedua perintah yang pertama mengandung ciri-ciri khas kutuk: hukuman itu berlanjut dari generasi kegenerasi. Dalam sejumlah bangsa dan budaya, pemujaan ilah ilah kembali sampai ratusan atau bahkan ribuan tahun, yang dampaknya berlipat ganda. Dosa penyembahan berhala ini yang menyebabkan kutuk generasi ini tidak serentak dihentikan oleh penyembah berhala yang terang-terangan. Karena sifat aslinya disembunyikan dibalik nama agamawi, makanya disebut roh agamawi…Oleh sebab itu, semua yang terlibat dalam ocoltisme tidak terlindung dari kutuk yang bahkan akan bekerja samapai generasi keempat.
Elia berdiri teguh atas dasar firman Allah, dan ia tidak mau ikut-ikut dalam dosa massal yaitu menyembah baal. Tuhan menghargai Elia atas keyakinannya itu (1 Raj. 18:20-26). Sadrak, Mesakh dan Abednego tidak ikut adat kebiasaan orang Babel, bahkan melawan perintah raja Nebudkadnezar. Walaupun api menunggu membakar mereka, tetapi Tuhan memelihara mereka (Dan.3:1-30).
Demikianlah kisah arti dari roh roh agamawi yang dimaksud segelintir orang…muda2han tidak ada pertanyaan lagi dan Broo menjadi mengerti.
Salam
GBU

Sebetulnya masih banyak pertanyaan, contohnya : Anda menyebutkan bahwa penghormatan kepada orang tua bisa mengundang kuasa jahat jika konteksnya sudah menuju penyembahan, bukan pemujaan (contohnya di kebudayaan Tiong Hoa, di mana orang tua yang sudah meninggal masih disembahyangi bahkan diberi sesajen). Di sisi lain Anda menyebutkan perihal benda warisan, entah keris, cincin, jimat, dlsb yang sudah diisi yang mengakibatkan kita jatuh pada keterikatan roh jahat, termasuk di sini adalah penyembahan berhala (saya rasa Anda sedang menyinggung praktek relikwi-relikwi Gereja Katolik dan berdoa di depannya). Sementara, yang berkaitan pada penyembahan orang tua membawa saya pada satu konteks, yaitu attachment. Sedang masalah “penyembahan berhala” yang disebut-sebut terjadi di Gereja Katolik membawa saya pada pertanyaan lain.

Pertanyaan itu adalah “apakah betul bahwa patung-patung dan relikwi-relikwi Gereja didoakan dan diisi dengan suatu roh seperti yang terjadi di kepercayaan Kong Hu Cu?” Saya rasa jawabnya adalah tidak. Perlakuan relikwi Gereja Katolik berbeda dengan relikwi-relikwi dari kepercayaan Kong Hu Cu, di mana patung dewa-dewi mereka disembahyangi dengan ritual tertentu, seperti mengundang roh, kemudian diberi sesajen seperti buah-buahan dan pada perayaan-perayaan tertentu patung-patung itu diletakkan di suatu tandu untuk diarak mengelilingi kota. Menurut saya, ada perbedaan mendasar antara penyembahan patung dewa-dewi dalam kepercayaan Kong Hu Cu dengan praktek berdoa di depan patung seperti di dalam agama Katolik pada umumnya (saya tidak membicarakan mengenai anomali-anomali seperti peristiwa patung Yesus atau Bunda Maria yang menangis, saya pribadi tidak tertarik pada anomali seperti ini).

Satu lagi, saya tidak terlalu penasaran perihal dunia roh. Dulu saya penggemar Tony Daud, Rebbecca Brown M.D (hoax), Mukendi, dan buku-buku yang mengupas perihal peperangan rohani.

Pemahaman iman seperti itu tidak memuaskan saya, sekalipun saya pernah mendoakan pelepasan dua orang sahabat saya secara pribadi (tanpa bantuan siapa pun), sudah menerima karunia bahasa Roh (juga tanpa bantuan siapa pun), bernubuat, dan dipertemukan oleh Tuhan dengan seseorang yang bermain-main dengan perdukunan.

Pada akhirnya saya merasa bahwa apologetika lebih memuaskan ketimbang hal-hal imani yang susah dibuktikan kebenarannya.

Tuhan Yesus memberkati :slight_smile:

[quote author=velmar18 link=topic=41597.msg593341#msg593341 date=1327323921]
Saya kira yang dimaksud penyembahan dan pemujaan itu sama saja walaupun secara tradisi keduanya berbeda-beda, namun dalam hal dosa dua-duanya sama.
Mengapa saya mengatakan kedua dosanya sama, kita mencari tahu definisi dosa dalam 1 Yoh. 5:16-17). Ternyata dalam firman Tuhan ini menegaskan ada dua jenis dosa yaitu ada dosa yang tidak mendatangkan maut, dan dosa yang mendatangkan maut.

Kedua dosa tsb juga dibagi lagi yaitu dosa terhadap Tuhan dan dosa terhadap manusia.
Dosa yang mendatangkan maut adalah dosa yang mendatangkan hukuman mati. Artinya orang yang bedosa tsb harus dihukum mati menurut hukum Tuhan, bukan menurut hukum manusia.
Kalau dosa yang tidak mendatangkan maut adalah dosa yang tidak mendatangkan maut. Artinya orang yang berdosa tsb tidak dihukum mati.

Dalam PL jelas tertulis perbedaan antara keduanya, sebagai contoh membunuh dengan segaja berbeda hukumnya dengan membunuh tetapi tidak dengan sengaja. (Bil. 35:9-34).

Pratek-pratek yang dilakukan keduanya sama termasuk dosa yang mendatangkan maut karena dilakukan dengan segaja. Oleh karena perbuatan yang bukan kehendak Tuhan, karena setiap pelanggaran dengan segaja akan firman Tuhan itu adalah dosa, dan yang melakukannya akan menanggung akibatnya.

Hal yang menjadi kekejian bagi Tuhan adalah umat yang sudah percaya kepada Tuhan, dalam kontek penyembahan yang dilakukan adalah penyembahan dengan sengaja secara turun temurun, pelanggaran terencana yang disebabkan oleh suatu penolakan yang dengan segaja untuk tidak taat kepada-Nya.

Kita dapat banding dosa ketidak taatan yang mendatangkan maut dengan sengaja (Kel.20-3-6; Ul. 7:25-26; Yes. 40:18-23)

Jangan percaya sama kesaksian mantan dukun yang pura pura insaf, padahal sesungguhnya justru mau menyesatkan.

Tuhan Yesus memberkati
Han

[quote author=mIsTeRi link=topic=41597.msg593394#msg593394 date=1327331380]

Kalau menurut anda bahwa ada dua jenis dosa yaitu ada dosa yang tidak mendatangkan maut, dan dosa yang mendatangkan maut.

Kedua dosa tsb juga dibagi lagi yaitu membunuh dengan segaja berbeda hukumnya dengan membunuh tetapi tidak dengan sengaja. (Bil. 35:9-34).

Berarti dosa yang mendatangkan maut adalah dosa dengan sengaja. pertanyaan saya bagaimana dosa yang menipu Tuhan dengan segaja seperti tertulis dalam Maleakhi 3:8. Apakah dosa ini juga dikategori dosa yang mendatangkan maut, atau? (penilaiannya dosa ini menurut hukum Tuhan bukan menurut hukum manusia)? silakan dibahas mungkin ada yang ain bisa dibahas bersama?

DOSA YANG TIDAK MENDATANGKAN MAUT

1 Yohanes 5:16-17
5:16 LAI TB, Kalau ada seorang melihat saudaranya berbuat dosa, yaitu dosa yang tidak mendatangkan maut, hendaklah ia berdoa kepada Allah dan Dia akan memberikan hidup kepadanya, yaitu mereka, yang berbuat dosa yang tidak mendatangkan maut. Ada dosa yang mendatangkan maut: tentang itu tidak kukatakan, bahwa ia harus berdoa.
KJV, If any man see his brother sin a sin which is not unto death, he shall ask, and he shall give him life for them that sin not unto death. There is a sin unto death: I do not say that he shall pray for it.
TR, εαν τις ιδη τον αδελφον αυτου αμαρτανοντα αμαρτιαν μη προς θανατον αιτησει και δωσει αυτω ζωην τοις αμαρτανουσιν μη προς θανατον εστιν αμαρτια προς θανατον ου περι εκεινης λεγω ινα ερωτηση
Translit, ean tis idê ton adelphon autou hamartanonta hamartian mê pros thanaton aitêsei kai dôsei autô zôên tois amartanousin mê pros thanaton estin hamartia pros thanaton ou peri ekeinês legô ina erôtêsê

5:17 LAI TB, Semua kejahatan adalah dosa, tetapi ada dosa yang tidak mendatangkan maut.
KJV, All unrighteousness is sin: and there is a sin not unto death.
TR, πασα αδικια αμαρτια εστιν και εστιν αμαρτια ου προς θανατον
Translit, pasa adikia hamartia estin kai estin hamartia ou pros thanaton

Sebelum menjawab pokok pertanyaan, agaknya ayat diatas “kontradiksi” dengan Roma 6:23a

* Roma 6:23a
Sebab upah dosa ialah maut;

Memang upah dosa itu maut, dan pasti maut jikalau seseorang tidak menyambut tawaran keselamatan di dalam YESUS KRISTUS, sekarang kita baca lebih lengkap Roma 6:23 sbb :

* Roma 6:23
Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam KRISTUS YESUS, Tuhan kita.

Roma 6:23 mengkontraskan “maut” vs “hidup kekal”, hidup kekal terjadi karena dosa manusia terhapus oleh karya Tuhan YESUS KRISTUS di kayu salib. Didalamnya dapat kita tarik pengertian : Meski berdosa yang mendatangkan maut oleh karena iman kepada KRISTUS maut ini tergantikan dengan hidup yang kekal.


Nah apa yang dimaksud dengan “dosa yang tidak mendatangkan maut” dalam 1 Yohanes 5:16-17. Apalagi Rasul Yohanes dalam ayat-ayat diatas tidak memerincikan apa itu “dosa yang tidak mendatangkan maut”. Namun hal tersebut dapat kita mengerti kalau kita sudah paham apa yang dimaksud Tuhan YESUS KRISTUS dalam ayat ini :

* Matius 12 : 31-32
12:31 Sebab itu Aku berkata kepadamu: Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap ROH KUDUS tidak akan diampuni.
12:32 Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang ROH KUDUS, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak.

Inilah dosa yang tak terampuni yaitu hujat terhadap ROH KUDUS.
Hujat/dosa terhadap ROH KUDUS ini, tidak ada pengampunannya, inilah dosa yang pasti mendatangkan maut (kematian kekal) karena tidak ada pengampunannya.

Semua kejahatan adalah dosa : mencuri, berzinah, sombong, membunuh, berdusta, membenci, iri-hati, dendam, dll. itu semuanya adalah dosa dan mempunyai konsekwensi yaitu “hukuman Allah”. Karena Allah tidak berkenan kepada dosa-dosa itu, namun terhadap dosa yang type-type ini Ia masih memberikan kesempatan pengampunan bagi para pelanggarnya. Bahkan dengan kemurahanNya ia akan senantiasa memberikan pengampunan.

Ketika orang berbuat dosa-dosa yang ini, ia masih bisa diampuni apabila ia bertobat. Pengampunan inilah yang memberikan “cap/ titel” bahwa dosa-dosa ini bukan dosa yang mendatangkan maut (kematian kekal).

Maka, dengan ini kita mengerti dosa yang tidak mendatangkan maut (alias yang bisa diampuni) adalah dosa-dosa lain yang diluar hujat terhadap ROH KUDUS.
Tetapi hal ini tentu saja mempunyai batasan, yaitu apabila ia mau bertobat membuka diri kembali kepada jalan Allah.

Rasul Yohanes memahami, seorang yang telah menerima Kristus, mengakuiNya sebagai Tuhan dan Juruselamat, dosa-dosanya masa lalu diampuni, namun sebagai manusia yang masih hidup di dunia, ia masih bisa saja jatuh ke dalam dosa. Untuk itu ia menasehati agar kita saling mendoakan apabila kita mendapati saudara kita jatuh dalam dosa (dosa-diluar hujat kepada Roh Kudus, sebab tidak ada gunanya mendoakan orang yang berdosa hujat terhadap Roh Kudus).

Doa ini sangat efektif sebab setiap kita memang harus saling mendukung agar kita bersama-sama hari demi hari menjadi lebih sempurna didalam Kristus.

Semoga penjelasan ini tidak mengecewakan.

Blessings,
BP

Artikel terkait :

Memahami Ucapan Yang Sulit Dalam Perjanjian Baru, 52: Dosa yang Mendatangkan Maut, di http://www.sarapanpagi.org/52-dosa-yang-mendatangkan-maut-vt1457.html#p5176

Liat keterangan di bawah keterangan saya itu Bro Halim.

Saya bilang bahwa kesaksian seperti itu tidak memuaskan saya. Saya telah meninggalkan bentuk keimanan seperti itu (iman yang sangat percaya dan berfokus pada hal-hal adikodrati). Saya justru lebih suka pada apologetik, yaitu bentuk iman yang bisa dipertanggungjawabkan secara akal sehat.

Tuhan Yesus memberkati :slight_smile:

@ Misteri

Saya bingung itu argumen Anda atau quote saya ya? Perasaan saya tidak sampai membahas mengenai dosa yang mendatangkan maut dan doda yang tidak mendatangkan maut. Ini informasi baru buat saya yang pengetahuan Kitab Sucinya sudah berkerak.

Mengenai argumen Anda masalah penyembahan dan pemujaan, saya setuju bahwa dua kata itu memiliki konteks yang sama. Sementara saya membedakan “penghormatan” dari “penyembahan atau pemujaan”.

Tuhan Yesus memberkati :slight_smile:

Yang harus dikontraskan adalah DOSA Vs RAHMAT/KARUNIA PENEBUSAN ALLAH

Karena Rom 6:23 adalah ungkapan umum untuk menyatakan bahwa Kuasa/efek dari Dosa adalah Kematian/maut; efek dari Rahmat/Penebusan Kristus adalah Hidup/keselamatan.

Rom 6:23 ==> tidak bermaksud menyatakan bahwa semua dosa adalah sama dan semua dosa mendatangkan maut.

Nah apa yang dimaksud dengan "dosa yang tidak mendatangkan maut" dalam 1 Yohanes 5:16-17. Apalagi Rasul Yohanes dalam ayat-ayat diatas tidak memerincikan apa itu "dosa yang tidak mendatangkan maut". Namun hal tersebut dapat kita mengerti kalau kita sudah paham apa yang dimaksud Tuhan YESUS KRISTUS dalam ayat ini :

* Matius 12 : 31-32
12:31 Sebab itu Aku berkata kepadamu: Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap ROH KUDUS tidak akan diampuni.
12:32 Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang ROH KUDUS, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak.

Menghujat Roh Kudus memang merupakan Dosa yang mendatangkan Maut, namun apa yang dibicarakan di 1 Yoh 5 bukanlah merujuk ke Mat 12.

1 Yoh 5:16-17 berbicara mengenai dosa yang mendatangkan maut (mortal sin) Vs yang tidak mendatangkan maut (Venial Sin)

Mat 12:31-32 berbicara mengenai dosa yang tidak dapat diampuni (menghujat Roh Kudus) Vs dosa yang dapat diampuni

Perbedaannya jelas,

1 Yoh 5:16-17 ==> bukan menyatakan bahwa MORTAL SIN tidak dapat diampuni, melainkan bahwa Dosa seperti itu tidak cukup dengan berdoa/didoakan untuk dapat pengampunan. [" Ada dosa yang mendatangkan maut: tentang itu tidak kukatakan, bahwa ia harus berdoa".]

Sementara Mat 12:31-32 ==> sama sekali menutup adanya kemungkinan untuk memperoleh pengampunan.


Inilah dosa yang tak terampuni yaitu [u]hujat terhadap ROH KUDUS[/u]. Hujat/dosa terhadap ROH KUDUS ini, tidak ada pengampunannya, inilah dosa yang pasti mendatangkan maut (kematian kekal) karena tidak ada pengampunannya.

Semua kejahatan adalah dosa : mencuri, berzinah, sombong, membunuh, berdusta, membenci, iri-hati, dendam, dll. itu semuanya adalah dosa dan mempunyai konsekwensi yaitu “hukuman Allah”. Karena Allah tidak berkenan kepada dosa-dosa itu, namun terhadap dosa yang type-type ini Ia masih memberikan kesempatan pengampunan bagi para pelanggarnya. Bahkan dengan kemurahanNya ia akan senantiasa memberikan pengampunan.

Ketika orang berbuat dosa-dosa yang ini, ia masih bisa diampuni apabila ia bertobat. Pengampunan inilah yang memberikan “cap/ titel” bahwa dosa-dosa ini bukan dosa yang mendatangkan maut (kematian kekal).

Maka, dengan ini kita mengerti dosa yang tidak mendatangkan maut (alias yang bisa diampuni) adalah dosa-dosa lain yang diluar hujat terhadap ROH KUDUS.
Tetapi hal ini tentu saja mempunyai batasan, yaitu apabila ia mau bertobat membuka diri kembali kepada jalan Allah.

Sebenarnya tidak ada dosa yang tidak dapat diampuni. Seberdosa apa pun, itu tidak dapat mengalahkan belas-kasih Allah kepada manusia. [Yesaya 1:18 Marilah, baiklah kita beperkara! – firman TUHAN – Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.]

Jadi ketidak-terampuni dosa menghujuat Roh Kudus bukan dari sisi Allah, melainkan dari sisi sipelaku dosa tersebut; bahwa si pelaku tidak akan meminta pengampunan.

Dosa menghujat Roh Kudus terjadi ketika orang secara sadar dan benar-benar tahu dan berkeinginan penuh melakukan penyangkalan/penentangan terhadap kuasa/karunia-karunia Roh Kudus (Allah).

Orang-orang seperti ini kecil kemungkinan untuk melakukan Pertobatan.

Orang-orang yang dirujuk Kristus di Mat 12 ( orang Farisi) bisa saja ignorant bahwa Yesus adalah Allah akan tetapi mereka tidak mungkin ignorant akan karunia/kuasa penyembuhan dan pengusiran Roh Jahat yang dilakukan Kristus… itu nyata kuasa Roh Allah,

Mereka (orang Farisi) tahu betul bahwa itu bukan Kuasa Beelzebul (penghulu devil), melainkan Kuasa Allah… Namun secara, tegar hati (‘stubborn’) mereka tetap mengatakan: “Dengan Beelzebul, penghulu setan, Ia mengusir setan.”

Jadi, orang-orang yang tahu akan Kebenaran secara sepenuhnya… namun secara sepenuh hati pula menyangkal kebenaran tersebut…> itulah Dosa menghujat Roh Kudus.

Mereka ini dipersamakan dengan Setan/Iblis sendiri, yang memang tidak mungkin akan melakukan penyesalan dan pertobatan. Karena justru penentangan yang mereka lakukanlah yang menjadi kebenaran dan menyenangkan bagi mereka.

===

Salam,

yang dampaknya paling mengerikan di Indonesia [terutama kota2 besar] adalah roh cuek, roh egp, roh narsis

yang benar dan yang kudud dijalankan adalah “apa yang cocok dengan gue”

Dewa paling jahat di Indonesia adalah “GUE”, partai gue, daerah gue, agama gue, rumah tangga gue, kesenangan gue, gereja gue, rumah gue, got gue, mobil gue, motor gue, teologi gue, doktrin gue, anjing gue, pagar gue, pendapat gue, …

Dewa GUE begitu berkuasanya, bahkan di forum ini banyak penyembah-penyembah Dewa GUE

jangan sekali-kali “menyentuh” atau “menyinggung” Dewa GUE, akibatnya bisa barabe …

kalau gambaran seperti Maleakhi 3:8 dan hukumannya seperti apa ya? saya belum ada gambaran samapai disitu. Namun gambaran masalah uang yang lain ada ya… seperti kisa ananias dan safira berdusta kepada Roh Kudus karena menahan sebagian hasil penjualan tanah mereka, sebenarnya hasil penjualan tanah itu juga adalah miliknya…Namun ukuran hukuman Allah datang padanya adalah termasuk mendustai Roh Kudus sama termasuk menghujat Roh Kudus. Saya kira tidak memberi persepuluhan memanga ada aturannya menurut ukuran hukuman Tuhan…silakan ditambahkan sesuai dengan???