Saat Teduh

[b]http://saatteduh.wordpress.com/2014/05/
Mentalmu seperti kaca atau baja?
Posted on Kamis, 29 Mei, 2014 by Saat Teduh

“Palu menghancurkan kaca, tapi palu membentuk baja.”

Apa makna dari pepatah kuno Rusia ini?

Jika mentalmu rapuh seperti kaca, maka ketika palu masalah menghantammu, maka dengan mudah kamu akan putus asa, frustasi, kecewa, marah dan jadi remuk redam.

Jika kamu adalah “kaca”, maka kamu juga rentan terhadap benturan. Kamu mudah tersinggung, kecewa, marah, atau sakit hati saat kamu berhubungan dengan orang lain. Sedikit benturan sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan hubunganmu dgn mereka.

Jangan pernah jadi “kaca”, tapi jadilah “baja”. Mental baja adalah mental yang selalu positif, bahkan tetap bersyukur di saat masalah dan keadaan yang benar-benar sulit tengah menghimpitmu.

Orang yang bermental baja selalu menganggap bahwa masalah adalah proses kehidupan untuk membentuknya menjadi lebih kuat.

Sepotong besi baja akan menjadi sebuah alat yang lebih berguna setelah lebih dulu ditempa dan dibentuk dengan palu oleh tangan pandai besi dalam bara api.

Setiap pukulan memang menyakitkan, namun orang yang bermental baja menyadari bahwa itu akan selalu membawa kebaikan bagi dirinya.

Jika kamu adalah “baja”, maka kamu akan melihat palu sebagai “sahabat” yang akan membentukmu.

Sebaliknya jika kamu adalah “kaca”, maka kamu akan selalu melihat palu sebagai “musuh” yang akan menghancurkanmu.[/b]

[b]http://saatteduh.wordpress.com/2014/05/
Kendalikanlah diri kita!
Posted on Jumat, 30 Mei, 2014 by Saat Teduh

Baca: Amsal 25:28

Ketika berat badan cenderung naik terus, banyak orang memilih untuj menguruskan badan dengan cara diet. Namun diet ternyata bukan hal yang gampang untuk dijalankan. Diet seringkali gagal di tengah jalan, masalahnya cuma satu, yaitu kesulitan utk mengendalikan diri ketika berhadapan dengan makanan kesukaan.

Soal mengendalikan diri tentu tidak hanya terbatas dengan makan saja. Hampir semua sisi dalam kehidupan kita membutuhkan pengendalian diri.

Banyak tokoh Alkitab yang jatuh terpuruk hanya gara-gara tidak bisa mengendalikan diri.

Seandainya saja…

Hawa bisa mengendalikan diri terhadap keinginan makan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan jahat.
Musa tidak cepat marah ketika memukul bukit batu untuk memberi minum kepada bani Isarel yang rewel itu.
Simson bisa menahan nafsunya terhadap perempuan macam Delila.
Daud bisa menahan diri dari “pemandangan indah” dari sotoh istananya pada waktu senja.
Yudas tak silau dengan uang yg ditawarkan oleh imam kepala.

Tak bisa mengendalikan diri sering membuat kita melakukan hal-hal yg sangat bodoh…

Seperti ketika kita dikuasai oleh emosi yang berlebihan.
Seperti ketika kita menukarkan kekudusan dengan hal-hal yang cabul…

Tanpa memiliki pengendalian diri maka kita seperti kota yang tembok pertahanannya roboh.

Ambillah salah satu kekangan dari hal-hal berikut ini: tidak menjadi rakus soal makan; tidak berkata kotor; tidak membelanjakan uang untuj hal yang tak perlu.[/b]

[b]http://saatteduh.wordpress.com/2014/05/
Upah kita besar di surga
Posted on Sabtu, 31 Mei, 2014 by Saat Teduh

Baca: 2 Tawarikh 15:7 <Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu!>

Ketika TUHAN menciptakan manusia, Ia menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya, dengan maksud agar manusia hidup di dunia bisa bekerja & berkarya bagi kemuliaan nama-Nya serta menjadi berkat bagi sesama.

Selama nafas masih ada dikandung badan, marilah kita berusaha untuk selalu melakukan hal-hal yang baik sesuai dengan kehendak-Nya.

Tidak usah memusingkan diri dengan pujian & penghargaan, sekalipun hal-hal baik yang kita lakukan tidak dilihat dan tidak dihargai oleh orang lain, kita tetap melakukannya!

Karena TUHAN tidak pernah menutup mata, Dia akan menghargai dan memberi upah besar kepada orang-orang yang tekun melakukan kebaikan serta setia menjalankan tugas & pelayanan-Nya.[/b]

[b]http://saatteduh.wordpress.com/2014/06/
Damai Sejahtera
Posted on Minggu, 1 Juni, 2014 by Saat Teduh

  • Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus -

Bacaan Alkitab hari ini: Yohanes 14:15-31; 20:19-23

Hidup orang Kristen sejati ditandai dengan adanya buah Roh. Dalam Galatia 5:22-23, Paulus menjelaskan tentang buah Roh, yang disebutkannya adalah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Seumpama pohon dengan buahnya, kita dapat mengelompokkan sembilan kata ini ke dalam tiga tandan buah. Tanda pertama terdiri dari kasih, sukacita dan damai sejahtera. Hal ini berbicara tentang relasi kita dengan Allah. Tandan kedua terdiri dari kesabaran, kemurahan dan kebaikan. Ini berbicara tentang relasi kita dengan sesama. Tandan yang terakhir adalah kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri. Yang terakhir ini berbicara tentang relasi kita dengan diri sendiri. Dua hari berturut-turut kita sudah merenungkan kasih dan sukacita. Sekarang kita akan merenungkan tentang sifat ketiga dari tandan pertama buah Roh, yaitu damai sejahtera.

Damai sejahtera yang sejati terjadi ketika kita diperdamaikan dengan Allah melalui perantaraan Kristus, sehingga kita bisa berdamai dengan orang lain dan dengan diri sendiri. Sebelum mati disalibkan Yesus berbicara tentang damai sejahtera dan setelah bangkit, Yesus berbicara pula tentang topik damai sejahtera (Yohanes 14:26-27, 20:19, 21). Damai sejahtera yang dimaksud oleh Yesus adalah pemberian-Nya yang berbeda dengan pengertian dunia. Kita sudah dimeteraikan Roh Kudus menjadi anak-anak Allah. Itu sebabnya kita tidak perlu merasa gelisah pada waktu menghadapi kesulitan. Damai sejahtera yang stabil tidak akan terpengaruh oleh kekuatiran. Terlalu mudah gelisah, kuatir, cemas, takut dan merasa tidak ada jalan lain, menyatakan tidak adanya damai sejahtera dalam hati kita. Ini merupakan tanda bahaya untuk manusia yang hidup dalam zaman modern, hidup yang makin lama makin tegang. Damai sejahtera yang sesungguhnya tidak dipengaruhi oleh ancaman dan kesulitan apapun dari luar. Maukah kita memiliki damai sejahtera seperti ini? [JS]

Yohanes 14:27
“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.”[/b]

[b]http://saatteduh.wordpress.com/2014/06/
Kesabaran
Posted on Senin, 2 Juni, 2014 by Saat Teduh

Bacaan Alkitab hari ini: Galatia 5:16-26

Surat Galatia mengajarkan bahwa sejatinya hidup orang Kristen adalah hidup yang sangat indah dan mulia. Hidup yang tidak dapat ditemukan dalam dunia ini. Sesungguhnya hidup di dalam Kristus adalah hidup yang mulia karena sekalipun kita masih bertubuh manusia yang berdosa, yang sering kali membawa kita pada apa yang tidak kita kehendaki, yaitu perbuatan-perbuatan daging—yang berlawanan dengan keinginan Roh—ternyata, Puji Tuhan; Tuhan telah memberikan kuasa kepada kita untuk dapat mengalahkannya. Kuasa itu berasal dari Roh Kudus yang telah melahirbarukan dan menyertai kita. Roh Kudus inilah yang memperbarui karakter hidup kita, sehingga kita memiliki nilai hidup yang berbeda dari orang-orang yang belum percaya yaitu hidup yang dipimpin oleh Roh Kudus (Galatia 5:16-23).

Kehidupan yang indah itu ditandai dengan buah Roh. Dalam Galatia 5:22-23, Paulus menjelaskan buah Roh sebagai: “Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran,…” Kasih adalah perintah yang terutama (Matius 22:37-39). Sukacita sejati hanya didapatkan di dalam Kristus. Damai sejahtera sesungguhnya terjadi ketika kita diperdamaikan dengan Allah. Melalui ketiga hal inilah relasi kita dengan Allah dibereskan. Setelah relasi kita dengan Tuhan dibereskan, maka akan muncul sifat berikutnya dari buah Roh yang akan membereskan relasi kita dengan sesama. Sifat itu adalah kesabaran (Galatia 5:22). Sabar dalam kesulitan maupun sabar terhadap sesama (Kolose. 1:11, 3:12-13). Sabar menanggung kesengsaraan demi Kristus (2Korintus 1:6). Sabar terhadap ketidakadilan, sabar menantikan kedatangan Tuhan kembali (2 Korintus 11:19-20, Yakobus 5:7). Semuanya itu secara otomatis akan timbul dalam hidup ketika kita sungguh-sungguh hidup dalam pimpinan Roh Kudus dan melekat pada Kristus, Tuhan kita. (Yohanes. 15:4-5). [JS]

Kolose 3:12
“Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.”[/b]

[b]http://saatteduh.wordpress.com/2014/06/
Kemurahan
Posted on Selasa, 3 Juni, 2014 by Saat Teduh

Bacaan Alkitab hari ini: 2 Korintus 9:1-15
http://www.jesoes.com/alkitab/2kor/9/1

Kemurahan adalah buah Roh yang seharusnya menjadi ciri khas orang-orang yang sudah diselamatkan. Oleh karena keselamatan diperoleh secara cuma-cuma karena kemurahan Allah, maka konsekuensi logisnya adalah orang yang sudah diselamatkan seharusnya memiliki hati yang penuh kemurahan. Tetapi sayang sekali, kenyataannya sering kali jauh dari keadaan yang seharusnya itu. Kemurahan adalah suatu karakter yang penuh kebaikan dan murah hati terhadap orang lain. Oleh sebab itu kemurahan diwujudkan melalui sebuah pemberian; bisa berupa memberi hidup, waktu, perhatian, pengampunan, dana, bantuan dan lain-lain. Oleh sebab itulah Paulus berkali-kali mengingatkan jemaat Korintus tentang kemurahan hati ini. Paulus mengingatkan tentang pelayanan kepada orang-orang kudus (9:1). Pemberian itu sebagai bukti kemurahan hati yang dilakukan dengan kerelaan hati dan bukan karena paksaan karena Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita (9:2, 5, 7). Paulus mengingatkan konsep tabur tuai : orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga (9:6). Jemaat Korintus mampu memberi oleh karena Allah yang terlebih dulu melimpahkan kepada mereka segala kasih karunia yang menjadikan mereka berkelebihan dalam kebajikan (9:8). Pada akhirnya pelayanan ini mengakibatkan melimpahnya ucapan syukur kepada Allah (9:12, 15).

Jikalau kita mengamini kemurahan adalah buah Roh yang dapat dirasakan oleh saudara-saudara kita, sudahkah dalam hidup kita menunjukkan hidup yang penuh kemurahan? Kita diselamatkan semata-mata karena kemurahan Allah, sudah selayaknya kita sebagai anak-anak Allah yang Mahapemurah menunjukkan hati yang penuh kemurahan. [JS]

Lukas 6:36
“Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.”[/b]

[b]http://saatteduh.wordpress.com/2014/06/
Menyangkali iman!
Posted on Selasa, 3 Juni, 2014 by Saat Teduh

Baca: 1 Samuel 28:1-25
http://www.jesoes.com/alkitab/1sam/28/1

Kisah Saul dalam perikop ini sungguh-sungguh menyedihkan. Ia sungguh-sungguh menyangkali imannya. Kepercayaannya yang paling mendasar kepada Tuhan telah ditinggalkan. Apa yang menjadi salah satu larangan penting dari Taurat (Ul. 18:9-14), yang Saul sendiri pada masa permulaan pemerintahannya menaatinya (3), telah dilanggarnya sendiri.Percaya pada peramal berarti percaya kepada roh-roh lain di luar Tuhan. Hal itu sama saja dengan menduakan Tuhan, alias menyembah berhala.

Itu yang terjadi pada Saul. Dalam keadaan kepepet oleh pasukan Filistin, Saul berusaha mencari petunjuk dari Tuhan. Ketika Tuhan tak kunjung menjawab, ia pun nekad mencari pemanggil arwah agar dapat memberi jawaban atas pergumulannya. Ternyata di Israel masih ada orang dengan profesi semacam itu, yang jelas-jelas bertentangan dengan Taurat Tuhan. Tidak heran, rajanya sendiri pun kemudian terjebak pada dosa tersebut.

Apakah yang muncul benar-benar roh Samuel atau roh “Samuel”, merupakan isu kontroversial dalam dunia penafsiran Alkitab. Kalau benar itu roh Samuel, maka ini merupakan kasus khusus yang Tuhan izinkan untuk meneguhkan penghukuman-Nya atas Saul karena jawaban roh Samuel jelas sekali (16-19). Kalau itu bukan roh Samuel, maka jelas roh jahat berperan di balik sang pemanggil arwah untuk menipu Saul. Isi jawaban yang senada dengan berita penghukuman Allah melalui Samuel pada masa lalu tidak perlu diartikan bahwa roh jahat memiliki pengetahuan Ilahi, tetapi bahwa roh jahat akan memakai apa saja untuk menjerat orang semakin jauh dari Tuhan dan terpuruk.

Kita sudah mengikuti perjalanan iman Saul dari permulaan, dan mendapatkan bahwa saat Saul tidak bersedia dikoreksi oleh Tuhan. Ia semakin jauh dari kasih karunia Tuhan. Puncaknya, ia menyangkali Tuhan dengan mencari pertolongan dari yang bukan Tuhan. Sayang sekali teguran Tuhan sama sekali tidak direspons dengan bertobat dan mau belajar menaati kehendak-Nya. Semoga kita belajar dari kisah Saul ini untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

[b]http://saatteduh.wordpress.com/2014/06/
Kebaikan
Posted on Rabu, 4 Juni, 2014 by Saat Teduh

  • Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus -

Bacaan Alkitab hari ini: Filipi 4:2-23
http://www.jesoes.com/alkitab/flp/4/2

Kebaikan adalah salah satu sifat dasar Allah. Allah itu baik. Segala yang Allah lakukan itu baik. Kebaikan adalah sebuah kata tindakan artinya selalu melakukan apa yang terhormat secara etika dan moral. Allah menginginkan kita baik sebagaimana Ia adalah baik. Kebaikan juga adalah buah Roh yang tidak berdiri sendiri, tetapi selalu bersama-sama dengan kesabaran dan kemurahan dalam kaitannya dengan relasi terhadap sesama. Ketiga hal ini bersama-sama dan sungguh indah jika dinyatakan dalam hidup kita. Dalam bagian akhir surat Filipi Paulus membahas tentang kebaikan ini. Setelah memberikan beberapa nasihat, Paulus meminta jemaat Filipi untuk melakukan kebaikan : menolong rekannya yang bersama-sama beberapa rekan yang lain berjuang bersama-sama dengannya untuk mengabarkan Injil. Ia juga melanjutkan bahwa kebaikan yang dilandasi motif yang murni itu hendaknya dilakukan dengan sukacita dan menjadi kesaksian yang baik bagi semua orang (4:3-5). Kebaikan yang seperti itu tidak akan membawa hidup kepada kekuatiran, tetapi justru damai sejahtera Allah (4:6-7, 9). Selain itu, Paulus juga menyaksikan kebaikan jemaat Filipi yang turut ikut mengambil bagian dalam kesusahannya dengan beberapa kali mengirimkan bantuan kepadanya (4:14, 16, 18). Kebaikan mereka itu dinilai Paulus sebagai suatu persembahan yang harum dan korban yang disukai dan berkenan kepada Allah yang pada akhirnya akan membawa berkat dan kemuliaan Allah (4:18-20).

Sungguh indah jika setiap anak Tuhan bisa meneladani kebaikan seperti ini. Sebuah kebaikan yang memperbesar buah-buah Injil (4:17). Maukah, di saat menjelang peringatan Pentakosta ini kita melakukan kebaikan yang tidak menghiraukan pamrih ataupun balasan. Kebaikan sejati yang mengalir dari motivasi yang suci, yang rela mengorbankan diri sendiri untuk membangun orang lain; kebaikan yang digerakkan oleh Roh Kudus dan menjadi cermin sifat Tuhan sendiri. [JS]

Filipi 4:5
“Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat! “[/b]

[b]http://saatteduh.wordpress.com/2014/06/
Belajar bersandar lagi pada Tuhan
Posted on Kamis, 5 Juni, 2014 by Saat Teduh

Baca: 1 Samuel 30:1-31
http://www.jesoes.com/alkitab/1sam/30/1

Luput dari dilema, Daud dan pasukannya menghadapi masalah baru. Selama ini mereka telah meninggalkan para istri dan anak-anak mereka untuk berperang bagi Akhis. Ternyata tempat tinggal mereka di Ziklag, telah diserbu dan dijarah orang Amalek, termasuk anak istri mereka ditawan.Kesedihan para pengikut Daud begitu besar sampai-sampai mereka hendak merajam Daud, yang mereka anggap bertanggung jawab atas malapetaka mereka.

Dalam keadaan kepepet, Daud kembali mencari petunjuk Tuhan (6-8). Kesadaran bahwa ia tidak dapat menyelesaikan masalah yang begitu besar dan serius ini, membuat Daud berpaling kepada Tuhan. Maka atas petunjuk Tuhan pula, Daud dan pasukannya berhasil mengalahkan Amalek serta merampas pulang semua yang dirampas. Tindakan iman Daud ini mengembalikan kepekaan rohaninya.

Pertama, ia tidak merendahkan sebagian pasukannya yang keletihan dalam perjalanan ke tempat musuh. Ia justru mengajarkan para pasukannya bahwa sebagai satu tim mereka harus sepenanggungan dan sependeritaan (23-25). Hal itu ditunjukkannya dengan berbagi jarahan dengan pasukan yang tidak ikut berperang.

Kedua, Daud tetap ingat dirinya sebagai bagian dari umat Israel. Maka, ia pun memberikan sebagian jarahan itu kepada para pemimpin suku Yehuda. Tindakannya sekaligus memulihkan kepercayaan mereka terhadap Daud, yang mungkin memudar saat melihat Daud ada di pihak musuh.

Semua yang terjadi dalam hidup Daud merupakan proses pembentukan iman dan karakter yang mempersiapkannya untuk menggantikan Saul menjadi raja atas Israel. Perjalanan hidup kita masing-masing pasti berbeda dari Daud maupun satu sama lainnya. Namun, kerumitan masalah yang kita hadapi mungkin sama, bisa jadi lebih. Jangan pernah menyerah kalah, apalagi kehilangan pengharapan. Allah yang sama yang dikenal dan dipercayai Daud, ialah Allah yang kita kenal dan sembah dalam Kristus. Dia menyertai kita dan mengizinkan masalah membentuk kita agar lebih bersandar kepada Tuhan dan lebih peka terhadap panggilan kita.

[b]http://saatteduh.wordpress.com/2014/06/
Kesetiaan
Posted on Kamis, 5 Juni, 2014 by Saat Teduh

  • Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus -

Bacaan Alkitab hari ini: Matius 25:14-30
http://www.jesoes.com/alkitab/mat/25/14

Dalam perumpamaan tentang talenta yang terkenal ini, hamba-hamba yang dipercayakan talenta oleh tuannya dinilai bukan berdasarkan berapa banyak yang dihasilkan atau hal-hal lain, tetapi dinilai karena kesetiaannya. Baik hamba yang dipercayakan lima atau dua talenta, dinilai sebagai hamba yang baik dan setia (25:21, 23). Sebaliknya seorang hamba lain yang hanya dipercayakan satu talenta itu dinilai jahat dan malas karena ia tidak setia (25:26). Oleh sebab itu di sini kita belajar betapa pentingnya menjadi orang yang setia, karena berdasar kesetiaan itulah Tuhan akan menilai dan menghakimi kita. Kata kesetiaan (Inggris :faithfull) di dalamnya mengandung pengertian iman. Jadi kesetiaan berhubungan erat dengan iman kepada Allah yang setia. Kesetiaan terhadap hal yang kecil sebenarnya adalah ujian karakter yang paling dapat dipastikan yang membawa kepada kepercayaan yang semakin besar. Seperti tadi telah kita baca, Yesus berkata, “…engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tangggung jawab dalam perkara yang besar.”(25:23). Kesetiaan bukanlah ketaatan kepada sesuatu yang tidak ada dasarnya. Kesetiaan adalah satu kesungguhan hati untuk tetap jujur dan terus menerus bertanggung jawab kepada apa yang harus kita patuhi. Kesetiaan dimanifestasikan dengan melaksanakan apa yang sudah dijanjikan atau dipercayakan. Allah yang setia menghendaki anak-anak-Nya juga setia.

Sebuah refleksi buat kita, sejauh mana kita sebagai orang Kristen setia kepada Tuhan dalam hidup kita sehari-hari? Apakah kita sudah setia dalam hal-hal kecil seperti janji-janji yang kita buat, pemanfaatan waktu kita, apa yang kita baca dan lihat, kesetiaan kepada pasangan hidup kita dan hidup sesuai prinsip kebenaran Firman Tuhan yang kita yakini? [JS]

Wahyu 2:10c
“Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.”[/b]

[b]http://saatteduh.wordpress.com/2014/06/
Kelemahlembutan
Posted on Jumat, 6 Juni, 2014 by Saat Teduh

  • Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus -

Bacaan Alkitab hari ini: Matius 11:28-30

Ketika kita mendengar kelemahlembutan sering kita artikan sebagai gabungan lemah dan lembut. Pengertian yang negatif terhadap kelemahlembutan karena kita belum memahami bahwa dalam Alkitab berarti gabungan antara kekuatan, kelembutan dan rendah hati. Pada dasarnya natur manusia adalah sombong dan egois. Tetapi ketika Roh Kudus memenuhi hati seseorang, ia akan menjadi rendah hati, taat dan lemah lembut. Dalam Alkitab—selain Musa (Bilangan 12:3)— Yesus adalah teladan teragung kelemahlembutan. Yesus berkata, ”Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu…karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” (Matius 11:28-29). Roh Kristus yang lemah lembut terlihat jelas pada saat Yesus tergerak hati-Nya oleh belas kasihan saat melihat orang banyak yang telantar seperti domba tanpa gembala (Matius 9:36-38). Dan puncaknya pada saat disalib, Ia tidak mengasihani diri-Nya sendiri, tetapi justru memikirkan orang lain : penjahat yang percaya yang disalibkan bersama-Nya, masa depan Maria, ibu-Nya serta murid yang dikasihi-Nya, Yohanes (Lukas 23:42-43; Yohanes 19:25-27). Kelemahlembutan seperti ini bukan sifat yang alamiah. Hanya Roh Allah yang berdiam secara supranatural di dalam diri orang percaya yang bisa membuatnya berespons dengan lemah lembut terhadap setiap penganiayaan.

Saat kita melihat orang menderita karena sakit, fitnah, permusuhan, kesepian ataupun jatuh dalam dosa; sudahkah kita—seperti Tuhan Yesus—berbelas kasihan menolong mereka dengan lemah lembut tanpa membiarkan dosa tetap berlangsung? [JS]

Kematian sebagai realitas
Posted on Jumat, 6 Juni, 2014 by Saat Teduh

Baca: 1 Samuel 31:1-13

Kematian Saul memang bagian dari penghukuman Allah atas ketidaktaatan Saul sebagai raja urapan Allah. Bersama dengan kematian Saul dan ketiga putranya, Israel pun kalah di tangan Filistin. Satu babak dalam sejarah kerajaan Israel selesai.Babak baru, akan segera dimulai, yaitu Daud sebagai raja Israel. Namun demikian, kisah ini seolah berdiri sendiri tanpa bayang-bayang Daud mengintai. Artinya, kematian Saul layak untuk direnungkan bukan sekadar dari kegagalan Saul yang terus menerus disoroti di 1 Samuel ini.

Sepertinya Saul memiliki kesempatan memilih bagaimana ia akan mati. Ia menolak mati di tangan musuh yang akan sangat mempermalukan dirinya maupun bangsanya, karena dia masih raja mereka. Oleh karena itu, ia meminta pembawa senjatanya untuk membunuhnya. Penolakan bawahannya tersebut membuat Saul akhirnya memilih membunuh dirinya sendiri, tetap dengan pertimbangan daripada jatuh ke tangan musuh dan dipermalukan. Benarkah kematian Saul dengan cara seperti ini terhormat? Kita melihat bahwa pada akhirnya mayat Saul dipermalukan oleh orang Filistin. Akan tetapi, kisah ini ditutup dengan tindakan kepahlawanan penduduk Yabesh-Gilead, yang menyelamatkan mayat Saul dari dipermalukan lebih lanjut oleh pasukan Filistin. Tindakan penduduk kota tersebut menunjukkan penghormatan mereka kepada sang raja yang diurapi Allah, yang walaupun dalam banyak aspek kehidupannya gagal secara menyedihkan. Daud juga tetap menghormati Saul sebagai raja Israel sehingga menangisi kematiannya (lih. 2 Sam. 1).

Kematian memang realitas yang tidak bisa dihindari. Demikian juga, kita tidak bisa memilih cara kematian kita. Akan tetapi, cara kematian tidak terlalu penting. Yang jauh lebih penting ialah bagaimana kita mengisi hidup kita, sebelum maut menjemput kita dan bagaimana kematian kita di mata Tuhan. Ada hamba Tuhan yang mati saat melayani firman di mimbar. Indah sekali! Namun, banyak misionaris yang kematiannya mengerikan. Di mata Tuhan keduanya adalah hamba yang setia yang akan menerima mahkota kehidupan!

Matius 5:5
“Berbahagialah orang yang lemah lembut karena mereka akan memiliki bumi.”[/b]

[b]http://saatteduh.wordpress.com/2014/06/
Penguasaan Diri
Posted on Sabtu, 7 Juni, 2014 by Saat Teduh

Bacaan Alkitab hari ini: 2 Timotius 4:1-18
http://www.jesoes.com/alkitab/2tim/4/1

Tandan buah Roh terakhir, yang menutup semuanya adalah penguasaan diri. Dari buah yang dikerjakan oleh Roh Kudus, penguasaan diri adalah bungkus dari keseluruhan buah yang ada. Tanpa penguasaan diri maka semuanya, yaitu : kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan kesetiaan dan kelemahlembutan akan sia-sia. Bila seseorang tidak bisa menguasai diri dan kemarahannya meledak-ledak, maka kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, dan seterusnya akan hilang dalam sekejab mata. Oleh sebab itu penguasaan diri mutlak diperlukan dalam hidup orang percaya. Penguasaan diri berarti kemampuan untuk mengendalikan diri. Namun kemampuan itu bukan berasal dari kekuatan sendiri, tetapi dari Roh Kudus. Roh Kuduslah yang memimpin dan mengendalikan sehingga kita bisa digerakkan, dicerahkan dan dipimpin-Nya. Paulus saat berbicara tentang pelayanan kepada Timotius, ia menasehatkan betapa pentingnya penguasaan diri ini. Paulus berkata, “Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!” (4:5). Di dalam ayat ini Paulus menyebut penguasaan diri dibutuhkan dan mendahului hal yang lain.

Jika kita mampu menguasai diri, kita akan sanggup menanggung penderitaan dengan sabar, sanggup memberitakan Injil baik atau tidak baik waktunya dan sanggup pula menuntaskan tugas-tugas pelayanan yang lain. Bahkan kita bisa berkata seperti Paulus, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman” (4:7). Ini terjadi jika kita telah sanggup menguasai diri. Menjelang Pentakosta ini, marilah kita melatih diri dalam pimpinan Roh Kudus untuk menguasai diri sendiri mulai dari hal sederhana seperti mengendalikan makanan dan minuman, dalam hal berpakaian, dalam hal hobi, kesukaan sampai mengendalikan amarah dan mengendalikan keinginan-keinginan jasmani lainnya. [JS]

Amsal 16:32
“Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.”[/b]

[b]http://saatteduh.wordpress.com/2014/06/
Meski “musuh” mati
Posted on Sabtu, 7 Juni, 2014 by Saat Teduh

Baca: 2 Samuel 1:1-27
http://www.jesoes.com/alkitab/2sam/1/1

Di zaman sekarang ini begitu banyak informasi bertubi-tubi menghampiri kita, melalui TV, SMS, email, dan lain-lain. Namun tidak semua informasi dapat kita telan mentah-mentah, karena ada saja yang tidak berguna atau menyesatkan.

Kitab 2 Samuel diawali informasi tentang kematian Saul dan kemenangan Daud atas orang Amalek. Informasi ini dipertegas dengan datangnya seorang Amalek dari medan perang untuk memberitahu Daud (2). Ia bahkan berkata bahwa dirinyalah yang membunuh Saul atas permintaan Saul sendiri (6-10). Sebagai bukti untuk memperkuat laporannya, orang Amalek ini menunjukkan mahkota dan gelang yang tadinya dikenakan Saul (10).

Akuratkah informasi ini? Dari 1 Samuel 31:1-10 kita mendapat informasi tentang kematian Saul, sehingga bisa saja kita katakan bahwa orang Amalek itu memberi informasi yang tidak benar. Lalu kenapa dia sampai hati menyampaikan informasi seperti itu? Tampaknya orang Amalek itu tahu bahwa Daud akan menggantikan Saul. Itu berarti, kematian Saul akan merupakan kabar baik bagi Daud karena dapat memuluskan jalan Daud ke takhta Israel. Kelihatannya, si orang Amalek ingin “mengambil hati” Daud dan menarik keuntungan. Namun dia salah duga, karena bukan demikian pandangan Daud. Bagi Daud, orang Amalek itu telah membunuh orang yang diurapi Allah dan itu merupakan kejahatan yang sangat serius, yang pelakunya patut dijatuhi hukuman mati (14-16)! Kematian Saul dan Yonatan, anak Saul yang merupakan sahabat Daud juga, membuat Daud meratap (17-27).

Meski Saul memusuhi Daud dan Tuhan sendiri sudah menetapkan Daud untuk menggantikan Saul sebagai raja, Daud tidak menganggap dirinya berkuasa atas Saul. Maka ia tak akan berusaha mewujudkan janji Allah itu dengan paksa atau dengan menggunakan tangan orang lain. Ini pelajaran penting bagi kita. Biarlah kehendak Allah atas kita terwujud berdasarkan waktu yang sudah dirancang Allah. Jangan berusaha menggiring situasi dan kondisi berjalan memenuhi hasrat dan waktu kita, tetapi mengatasnamakan kehendak Allah.

[b]http://saatteduh.wordpress.com/2014/06/
Pentakosta
Posted on Minggu, 8 Juni, 2014 by Saat Teduh

Bacaan Alkitab hari ini: Kisah Para Rasul 2:1-40
http://www.jesoes.com/alkitab/kis/2/1

Ketika tiba hari Pentakosta, Roh Kudus dikaruniakan kepada dunia ini bagi orang percaya. Pentakosta berarti hari kelima puluh setelah kebangkitan Tuhan Yesus. Setelah bangkit, Tuhan Yesus selama empat puluh hari berulang kali menampakkan diri kepada murid-murid-Nya. Yesus menyatakan bahwa Ia adalah Tuhan yang hidup. Maut dan Iblis tidak berkuasa mencengkeram baik hidup maupun mati-Nya. Yesus telah bangkit dan hidup! Inilah pengharapan terbesar bagi orang percaya. Setelah itu Yesus naik ke sorga dengan satu pesan, ”Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi” (Lukas 24:49). Sepuluh hari kemudian, Roh Kudus turun ke dunia. Peristiwa ini terjadi satu kali dalam sejarah, yaitu hari Pentakosta. Dari kedatangan Pribadi ketiga Allah Tritunggal ini kita dapat merenungkan beberapa makna penting Pentakosta.

Pertama, Roh Kudus yang dijanjikan turun, menjadi karunia dan sumber segala berkat serta Penolong dalam hati dan tinggal dalam diri kita selama-lamanya. Setiap orang yang menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, berarti Roh Kudus turun atas dirinya dan memperoleh kelahiran baru. Kedua, Roh Kudus turun, maka mulai hari itu kita tidak lagi sendirian. Ada Roh Tuhan bersama kita. Roh Tuhan itu, yaitu Roh Kudus tinggal dalam diri kita. Roh Kudus menolong, menguatkan, menghibur, menopang, menuntun hidup kita. Khususnya saat kita mengalami pergumulan hidup yang berat, kita akan merasakan betapa manisnya pencurahan kasih yang diberikan Roh Kudus kepada kita. Ketiga, Roh Kudus turun, Roh itu memberi kekuatan dan keberanian kepada kita untuk mengabarkan Injil kepada manusia berdosa. [JS]

Kisah Para Rasul 2:38
“Jawab Petrus kepada mereka: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.”[/b]

[b]http://saatteduh.wordpress.com/2014/06/
Iman Pada Yang Tidak Terlihat
Posted on Senin, 9 Juni, 2014 by Saat Teduh

Bacaan Alkitab hari ini: Mazmur 25-26
http://www.jesoes.com/alkitab/mzm/25/1

Dalam dunia yang menganut filosofi bahwa kita tidak dapat “mempercayai” sesuatu yang tidak bisa diraba, dilihat, didengar, dikecap, dan dibaui oleh panca indera, mustahil bagi manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa untuk mempercayai Allah jika bukan karena pekerjaan dan anugerah Allah. Mazmur 25 menceritakan realita pengalaman pemazmur yang indah tentang iman kepercayaan dan kebergantungan totalnya kepada Tuhan. Hal-hal pahit yang dialami Daud dalam kehidupan—seperti dikejar-kejar musuh, pemberontakan anaknya (Absalom), kejatuhan dalam dosa perzinahan, dukacita atas anak yang meninggal, dan sebagainya—membuat kita semakin melihat dan menyadari kebobrokan manusia berdosa di hadapan Allah.

Saat menghadapi kesulitan hidup yang kita alami, ada banyak hal yang dapat mengikis iman percaya kita. Namun, seperti Daud, biarlah kita belajar untuk mengenal dan memahami jalan Tuhan dengan hati terbuka. Sekalipun Daud mempunyai relasi yang baik dengan Tuhan semenjak masa mudanya, Daud tetap terbuka terhadap pimpinan dan ajaran Allah. Daud sadar bahwa ia masih belum mengikuti dan memahami jalan Tuhan dengan sempurna (25:4-5, 8-9, 12, 14). Kita bersyukur bahwa Allah itu penuh kasih setia terhadap perjanjian-Nya (25:10). Ia tidak meninggalkan kita sekalipun kita telah jatuh ke dalam dosa. Sebaliknya, Ia senantiasa “menunjukkan jalan kepada orang yang sesat” (25:8). Oleh karena itu, dalam setiap situasi kehidupan, marilah kita “mengangkat jiwa” kita kepada Allah serta membuka hati untuk Allah berkarya dan menunjukkan jalan-Nya bagi kita. Iman berarti tetap mempercayai dan menantikan Allah. [J]

1 Petrus 1:8
“Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan”[/b]

[b]http://saatteduh.wordpress.com/2014/06/
Bijak sebagai orang pilihan
Posted on Senin, 9 Juni, 2014 by Saat Teduh

Baca: 2 Samuel 2:1-7
http://www.jesoes.com/alkitab/2sam/2/1

Walau Daud tahu bahwa ia akan menjadi raja dan meskipun waktu itu kelihatannya tepat karena Saul sudah tiada, Daud tetap menanyakan kepada Tuhan, ke mana ia harus pergi (1). Pada saat itu Daud masih berada di Ziklag, wilayah Filistin.Daud tidak ingin bergerak mendahului Allah, meski janji Allah untuk menjadikan Daud sebagai raja kelihatannya hampir tergenapi. Karena itu ia butuh petunjuk Allah. Inilah kunci sukses Daud: ia bukan meminta berkat Allah atas rencananya, tetapi menyesuaikan diri dengan rencana-Nya.

Hebron adalah tempat yang dipilih Allah (2). Di situlah Daud diurapi untuk yang kedua kalinya (4; bdk. 1Sam. 16:13). Ini memperlihatkan penerimaan penduduk wilayah itu terhadap Daud sebagai orang yang diurapi. Namun sebagai raja, Daud bukan hanya menghadapi orang-orang yang bersikap semacam itu. Ia juga harus bijak menghadapi orang-orang yang mungkin saja bersikap berbeda. Orang-orang Yabesh-Gilead salah satunya. Mereka sangat setia kepada Saul (4b, bdk. 1Sam. 11:1-13; 31:11-13). Maka Daud menyatakan penghargaan kepada Saul dengan berterima kasih atas penguburan Saul yang mereka telah lakukan (5-7). Dalam hal ini, kita melihat kebesaran hati Daud sebagai raja. Loyalitas mereka terhadap Saul bukan menjadi ganjalan bagi Daud karena ia lebih mengutamakan kedamaian dan kesatuan. Oleh karena itu, ia mengambil inisiatif untuk menghubungi mereka (5). Lalu secara tidak langsung, Daud mengingatkan mereka bahwa saat itu dialah orang yang diurapi Allah (7), dan dia menawarkan persahabatan dengan mereka (6-7).

Meski sadar bahwa dirinya adalah orang pilihan Tuhan, Daud tidak diam-diam saja atau sebaliknya memaksa orang untuk menerima dia sebagai raja. Ia bersikap secara simpatik dan bijak dalam upaya memperoleh dukungan dari suku-suku lain yang belum memahami bahwa dialah raja pengganti Saul, yang telah diurapi Tuhan.

Menyadari diri sebagai orang pilihan Tuhan memang seharusnya tidak membuat kita menjadi tinggi hati atau merasa benar sendiri. Sebaliknya, kita justru harus semakin bijak.[/b]

[b]http://saatteduh.wordpress.com/2014/06/
Sesuaikah dengan kehendak Allah?
Posted on Selasa, 10 Juni, 2014 by Saat Teduh

Baca: 2 Samuel 2:8 – 3:1
http://www.jesoes.com/alkitab/2sam/2/8

Proaktif adalah sikap yang sering dianjurkan banyak orang. Misalnya, di antara dua pihak yang berselisih diharapkan ada satu pihak yang bersikap proaktif untuk memulai upaya perdamaian. Lalu bagaimana kita menilai tindakan ‘proaktif’ Abner dalam bacaan ini?

Abner adalah saudara sepupu Saul, yang merupakan panglima Saul juga. Ia melantik Isyboset, anak Saul, untuk menjadi raja, menggantikan Saul (8-9). Jelas ini bukan kehendak Allah karena Allah telah memilih Daud untuk menggantikan Saul (1Sam. 13:14). Mungkin Abner ingin mempertahankan posisinya sebagai pemimpin militer di Israel.

Inisiatif Abner berikutnya adalah melakukan perjalanan ke Gibeon dengan sejumlah pasukan (12). Tidak disebutkan alasannya. Yoab, dari pihak Daud, mengantisipasi gerakan pasukan Abner dengan pergi juga ke Gibeon (13). Perang dimulai dengan duel di antara dua belas orang dari masing-masing pasukan, dan berakhir dengan kematian mereka (14-16). Lalu terjadilah perang di antara kedua pasukan, yang dimenangkan oleh pihak Daud (17). Pasukan Abner pun kocar kacir. Abner, yang melarikan diri, dikejar oleh Asael, adik Yoab. Karena merasa terancam Abner lalu membunuh Asael, meski ia sudah memperingatkan Asael sebelumnya (18-23). Maka Yoab dan Abisai, kakak Yoab, kemudian mengejar Abner karena ingin sekaligus menuntut balas atas kematian adik mereka, Asael. Namun di tengah peperangan, Abner meminta gencatan senjata (26). Meski awalnya menyalahkan Abner atas terjadinya peperangan itu (2, bdk. ayat 14), Yoab setuju dengan ide gencatan senjata.

Perhatikanlah bahwa tindakan proaktif yang dilakukan Abner menuntut korban jiwa yang sangat banyak. Mungkin menurut Abner, tujuannya mulia yaitu menegakkan dinasti Saul. Namun masalahnya, tindakan itu berlawanan dengan kehendak Allah.

Maka dalam segala tindakan yang kita lakukan, meski menurut kita tindakan itu kita lakukan dengan tujuan yang baik, kita perlu bertanya-tanya terlebih dahulu: adakah tindakan itu sesuai dengan apa yang Allah kehendaki.[/b]

[b]http://saatteduh.wordpress.com/2014/06/
Allah Diam
Posted on Selasa, 10 Juni, 2014 by Saat Teduh

Bacaan Alkitab hari ini: Mazmur 27-28
http://www.jesoes.com/alkitab/mzm/27/1

Allah menjawab doa. Namun kadangkala, di dalam ketekunan kita berdoa, kita mendapati bahwa Allah diam. Saat Allah diam, kita bisa merasa bingung, frustasi, bahkan kehilangan iman. Bagi Daud, bila Allah diam, dia menjadi “seperti orang yang turun ke liang kubur” (28:1). Sekalipun demikian, Daud tidak berhenti berharap dan berdoa kepada Tuhan. Ia menanti pertolongan serta jawaban Tuhan (28:1-2). Situasi sulit yang muncul—seperti saat kita berhadapan dengan orang yang memusuhi kita, saat kita berada di wilayah yang rawan kejahatan, dan saat doa kita belum terkabul—bisa membuat kita kehilangan akal dan tergoda utk mencari jalan pintas, tidak mencari pertolongan Tuhan. Bila kita menghadapi situasi seperti itu, ingatlah dan tirulah teladan Daud yang berkata, “Kepada-Mu, ya TUHAN, … aku berseru” (28:1).

Daud mempunyai keyakinan yg kokoh di dalam Allah, bahwa tidak ada pertolongan dan kekuatan sejati selain dari Allah. Tanpa penyertaan Allah, kita lemah. Allah tidak selamanya membisu. Keyakinan bahwa Allah bekerja tepat pada waktu-Nya menuntut kita untuk percaya bahwa Allah mampu bekerja melampaui logika kita. Kebisuan Allah pada akhirnya berujung dengan terlihatnya keagungan pekerjaan Allah (bandingkan dengan Ayub 42:2, 5), sehingga saat mendapat jawaban doa, kita dapat mengatakan, “Terpujilah TUHAN, karena Ia telah mendengar suara permohonanku” (Mazmur 28:6). Tetaplah berdoa dan berseru walaupun Allah nampak membisu, sebab meninggalkan Allah jauh lebih fatal daripada perasaan ditinggalkan atau masalah sebesar apa pun yg menjerat kita. Kebisuan Allah tidak berarti bahwa Ia berhenti bekerja, sehingga kita perlu ragu atau berhenti berdoa dan berharap pada-Nya. Dalam iman, Ia menunggu waktu yg tepat untuk berbicara. [J]

Mazmur 28:7
“TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya.”[/b]

[b]http://saatteduh.wordpress.com/2014/06/
Tahu yang benar, bertindak yang benar
Posted on Rabu, 11 Juni, 2014 by Saat Teduh

Baca: 2 Samuel 3:2 – 21
http://www.jesoes.com/alkitab/2sam/3/2

Di televisi ada kalanya terdengar kasus “pencemaran nama baik”. Seringkali kasus ini kemudian diikuti tindakan hukum berupa somasi yang diberikan oleh orang, yang merasa bahwa nama baiknya sedang dicemarkan, kepada orang yang dianggap mencemarkan nama baiknya.Mari kita lihat bersama kasus yang terjadi antara Abner dan Isyboset dalam bacaan ini, apakah termasuk pencemaran nama baik?

Entah dari mana, Isyboset mendengar isu tentang perselingkuhan antara Abner dan Rizpa, gundik ayahnya (7). Isu yang kemudian dituduhkan secara langsung oleh Isyboset membuat Abner berang (8). Akibatnya, Abner menyatakan keberpihakannya kepada Daud dan akan mendukung Daud menjadi raja (9-10). Kesungguhan Abner terhadap ucapannya dibuktikan dengan adanya utusan yang dikirim kepada Daud untuk menyatakan dukungannya (12). Daud menyambut positif keinginan Abner dengan syarat agar ia membawa Mikhal, anak perempuan Saul, yang dulu dinikahi Daud (13, bdk. 1 Sam. 18:27). Selanjutnya, Abner mengatur pertemuan dengan tua-tua Israel agar mereka mau mendukung Daud (17-19). Pada dasarnya, orang-orang itu memang menginginkan Daud menjadi raja. Namun mungkin, mereka dihalangi oleh Abner dan Isyboset.

Pernyataan Abner kepada tua-tua Israel saat mencari dukungan bagi Daud terasa janggal. Jika Abner memang tahu bahwa Daud adalah orang yang dipilih oleh Allah untuk menjadi raja, mengapa ia memerangi pasukan Daud sebelumnya? Karena ia ingin mempertahankan kedudukannya! Maka Abner merupakan contoh bagi orang-orang yang tahu kebenaran, tetapi tidak hidup berdasarkan kebenaran itu. Lalu mengapa ia kemudian mendukung Daud? Karena Isyboset telah menyakiti hatinya. Bukan karena ia tahu bahwa Daud adalah orang yang dipilih Allah untuk menjadi raja.

Perilaku Abner menjadi pelajaran penting bagi kita. Ketahuilah apa yang benar dan yang dikehendaki Allah, lalu bertindaklah sesuai kebenaran itu. Jangan hanya karena didorong oleh kepentingan pribadi yang bersifat egoistis.

Jangan Lupa mengucap Syukur!
Posted on Rabu, 11 Juni, 2014 by Saat Teduh

Bacaan Alkitab hari ini: Mazmur 29-30
http://www.jesoes.com/alkitab/mzm/29/1

Pentahbisan Bait Suci dalam 30:1 bisa menunjuk kepada Pentahbisan Bait Suci yang dibangun pada zaman Raja Salomo (1 Raja-raja 8:63), Pentahbisan Bait Suci yang dibangun pada zaman Ezra (Ezra 6:16), serta Pembersihan Bait Suci dari barang-barang najis (berhala-berhala yang dimasukkan ke Bait Suci atas perintah Antiokhus Epifanes—penjajah Yunani) pada zaman Makabe—pahlawan Yahudi—di abad kedua BC. Pentahbisan ketiga ini dirayakan terus sampai zaman Tuhan Yesus dan disebut sebagai Hari Raya Pentahbisan Bait Allah (Yohanes 10:22). Sekalipun mazmur ucapan syukur ini dipakai sebagai nyanyian bersama umat Allah, sebenarnya mazmur ini bersumber dari pengalaman pribadi Daud yang dihukum Allah setelah selesai menghitung seluruh pasukannya (2 Samuel 24). Berkat yang ia nikmati menghasilkan rasa aman dan percaya diri yang terlalu besar (Mazmur 30:7), sehingga saat Daud mulai menyombongkan diri, Allah sedikit “menghimpitnya” untuk membuatnya tersadar (30:8).

Kapankah ucapan syukur yang tulus sungguh-sungguh muncul di hati kita? Mungkin kita sungguh-sungguh bersyukur saat Tuhan datang menolong di “detik-detik terakhir,” saat kita amat terdesak, tak menemukan jalan keluar, dan putus asa. Namun, masihkah kita bersyukur bila kita berhasil meraih berbagai kesuksesan? Selanjutnya, apakah kesuksesan membuat kita terlena sehingga kita menyombongkan diri? (lihat Ulangan 8:11-18). Tuhan Yesus memberi peringatan yang keras terhadap orang yang menyombongkan kekayaan yang tidak bisa dia bawa saat jiwanya diambil (Lukas 12:16-21). Saat meraih kesuksesan, jangan melupakan Allah. Akuilah segala perbuatan tangan-Nya. Dengan demikian, kita akan menemukan alasan yang tidak terbatas untuk senantiasa “menyanyikan syukur” bagi Tuhan. [J]

Mazmur 30:13
“… supaya jiwaku menyanyikan mazmur bagi-Mu dan jangan berdiam diri. TUHAN, Allahku, untuk selama-lamanya aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu.”[/b]

[b]http://www.sabda.org/sabdaweb/passages/?p=I%20Petrus%201:3-12
Tetap Mengasihi-Nya
Posted on Kamis, 12 Juni, 2014 by Saat Teduh

Bacaan Alkitab hari ini: Mazmur 31-32
http://www.jesoes.com/alkitab/mzm/31/1

Daud pernah mengalami masa-masa yang begitu genting dan ketakutan yang begitu mencekam saat dikejar-kejar oleh Saul (1 Samuel 23). Dalam masa ketakutan yang amat sangat, Yonatan menguatkan kepercayaan Daud kepada Tuhan (1 Samuel 23:15-16). Ketika Anda berkata bahwa Anda beriman kepada Allah, apakah Anda sungguh-sungguh percaya kepada-Nya? Perkataan Daud, “Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; …, ya TUHAN, Allah yang setia,” (Mazmur 31:6) menyatakan bahwa Daud percaya secara total kepada Allah. Kalimat yang sama diucapkan oleh Tuhan Yesus ketika Ia disalibkan (Lukas 23:46) dan oleh Stefanus ketika ia dirajam batu hingga mati (Kisah Para Rasul 7:59). Hal ini menyatakan betapa pentingnya kita mempercayai Allah yang setia serta menyerahkan totalitas hidup kita ke dalam tangan Tuhan.

Kepercayaan kepada Allah yang setia tidak meniadakan kesulitan, pencobaan, dan penderitaan. Namun, penderitaan dan kesesakan juga tidak dapat meniadakan kesetiaan Allah bagi mereka yang mengasihi Dia. Pemazmur mengontraskan bersandar kepada berhala dengan bersandar kepada TUHAN (31:7). Pemazmur menyadari bahwa hanya Tuhan yang mampu menolong dan menyelamatkan. Berhala tidak dapat melakukan apa-apa (Lihat 115:4-9; Ulangan 4:28,29). Di saat kesesakan, pemazmur menyangka bahwa ia terbuang dari hadapan Tuhan (Mazmur 31:23). Namun, ketika ia mengangkat jiwanya kepada Tuhan, ia mendapati bahwa Allah menunjukkan kasih dan pertolongan-Nya secara ajaib (31:22). Kepada siapa kita menggantungkan hidup kita di tengah kesulitan, penderitaan, dan kefanaan dunia ini? Tidak ada yang dapat memberikan jaminan yang lebih pasti selain Allah yang akan menjaga hidup kita sampai kekekalan. Kekuatan sejati hanya dapat kita temukan di dalam Allah. Dalam situasi apa pun, tetaplah kasihi Allah! [J]

Mazmur 31:25
“Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, hai semua orang yang berharap kepada TUHAN!”

Dendam yang menghanguskan
Posted on Kamis, 12 Juni, 2014 by Saat Teduh

Baca: 2 Samuel 3:22 – 39
http://www.jesoes.com/alkitab/2sam/3/22

Berbagai perasaan campur aduk dalam diri Yoab ketika tahu bahwa Abner menemui Daud, tetapi Daud tidak bertindak apa pun (23). Yoab curiga bila Abner akan mengelabui Daud dengan menjadi agen ganda (25).Selain itu, mungkin ada kekhawatiran kalau-kalau Daud akan menjadikan Abner sebagai panglima perangnya, mengingat pengalaman Abner di bidang militer (bdk. ayat 38). Maka bila aliansi antara Daud dan Abner memang benar akan terjadi, karier Yoab akan terancam. Dan yang masih ada dalam hati Yoab adalah dendam karena kematian Asael yang belum terbalaskan (30). Maka Yoab menyampaikan protes kepada Daud (24).

Karena melihat Daud tidak melakukan tindakan apa pun, Yoab memutuskan untuk membunuh Abner dengan tangannya sendiri, tanpa sepengetahuan Daud (26-27). Ia ingin hutang nyawa dibayar nyawa pula. Ia tidak mau menyerahkan pembalasan itu kepada Allah (bdk. Rm. 12:19). Maka dengan muslihat, Yoab memancing Abner ke Hebron lalu membunuh Abner di situ. Padahal Hebron adalah kota perlindungan bagi orang-orang yang menghilangkan nyawa orang lain tanpa sengaja atau karena melindungi dirinya sendiri, seperti yang dilakukan Abner (lihat Yos. 20:7; Bil. 35:22-25). Dalam hal ini kita melihat bagaimana Yoab tidak menghormati ketetapan Allah. Selain itu, ia telah merusak perjanjian antara Daud dengan Abner, bahwa Daud akan melindungi Abner. Karena itu, rencana Daud untuk memakai Abner guna memenangkan hati suku-suku di wilayah utara, menjadi hancur. Tak heran bila Daud kemudian menyatakan bahwa diri dan kerajaannya tak ada sangkut pautnya dengan pembunuhan tersebut (28-29).

Dendam memang bisa merusak. Dendam menghanguskan kasih dan damai sejahtera yang ada di dalam hati. Dendam membuat seseorang merasa senang atas penderitaan orang lain. Dendam membuat orang tak menghargai nyawa sesama dan tak menghormati Tuhan. Maka sebelum kemarahan berubah menjadi dendam, kuasailah kemarahan itu dan serahkan pembalasan hanya kepada Tuhan. Biarkan Tuhan menyatakan keadilan-Nya.[/b]