Salib Dilarang Atheis Ditempatkan di Museum 11 September

Ada sebuah salib yang terbuat dari besi ditemukan berdiri di tengah reruntuhan menara kembar World Trade Center. Simbol itu menjadi semacam sumber kenyamanan bagi para relawan yang terlibat dalam upaya evakuasi pasca-serangan 11 September 2001. Salib itu ditemukan 2 hari setelah peristiwa tersebut dan diberkati oleh Pendeta Brian Jordan pada 4 Oktober 2001.

Lima tahun kemudian, salib itu ditempatkan lagi di bekas lokasi berdirinya menara WTC sebelum ditempatkan di museum yang bakal dibuka September mendatang. Presiden Peringatan 11 September, Joe Daniels mengatakan, “Salib itu merupakan bagian penting dari komitmen kami untuk mengembalikan saksi fisik asli yang dapat menceritakan sejarah 11/8,” ujarnya. Namun hal ini mendapat sanggahan dari kaum atheis.

Kalangan atheis Amerika Serikat memprotes rencana penempatan salib di museum peringatan serangan 11 September 2001 di Kota New York tersebut. Menurut mereka, hal itu tidak membuat agama atau keyakinan mana saja dihormati. Karena itulah mereka kemudian mengajukan gugatan ke pengadilan New York terhadap Gubernur Negara Bagian New Jersey Chris Christie dan Walikota New York Michael Bloomberg.

Presiden American Atheist, Dave Silverman, mencemooh rencana itu lantaran salib yang telah diberkati itu tidak bisa menghentikan serangan teroris atau menghindari 3.000 orang terbunuh dalam insiden itu. “Itu benar-benar rencana konyol,” ujarnya. Dalam situs resmi American Atheis disebutkan serangan 11 September 2001 ditujukan terhadap warga Amerika, bukan orang-orang Kristen.

Namun, tentu saja kita semua tahu bahwa benda mati tidaklah bisa menghentikan apapun jika terjadi sesuatu hal yang tidak mengenakkan. Selain itu, memang salib diletakkan lagi di sana, hanya karena alasan peringatan, bukan karena salib itu berkuasa. Di dunia ini, hanya Tuhan yang berkuasa. Bukan salib, patung, ataupun benda-benda mati lainnya. Tuhan tidak bisa disamakan dengan benda mati seperti itu.

Source : tempointeraktif/lh3