Sangkali Imanmu (Yousef Nadarkhani) atau mati !

Gembala sidang di Iran, Yousef Nadarkhani menghadapi hukuman mati kecuali ia menyangkali imannya kepada Kristus, demikian dikonfirmasi oleh sebuah vonis tertulis dari Mahkamah Agung negara tersebut.

Baptist Press melaporkan tanggal 8 Juli 2011 bahwa orang-orang Kristen di Iran tidak setuju dengan pelaporan berita bahwa hukuman mati terhadap Nadarkhani telah dibatalkan. Organisasi hak asasi manusia Christian Solidarity Worldwide melaporkan tanggal 14 Juli bahwa vonis tertulis dari pengadilan telah dikeluarkan, mengkonfirmasi bahwa Nadarkhani menghadapi hukuman mati kecuali jika ia menyangkali imannya. Vonis yang asli atas tuduhan murtad didasarkan pada “fatwa-fatwa” oleh pemimpin-pemimpin agama Iran yang paling berkuasa – Ayatollah Khomeini, Khamenei dan Makarem Shirazi – berarti Mahkamah Agung bisa jadi enggan untuk membatalkan vonis tersebut karena takut menimbulkan kontroversi, demikian kata Andrew Johnston, direktur pengacara CSW dalam penyataan pers-nya.

Nadarkhani ditangkap pada bulan Oktober 2009 ketika mencoba untuk mendaftarkan gerejanya. Penangkapannya dipercayai adalah karena ia mempertanyakan monopoli Muslim atas pendidikan agama anak-anak di Iran, menurut laporan berita. Dia mula-mulanya dituduh melakukan protes; tetapi, tuduhan terhadap dirinya belakangan diubah menjadi kemurtadan dan menginjili Muslim agar hukuman mati dapat dijatuhkan atas dirinya.

Sumber : Iran: Sangkali Imanmu atau Mati !

Tuhan berikan anak-Mu kelegaan dari-Mu… seperti yang kau beri bagi stefanus,…daniel,…

hamba Tuhan yang sangat setia…

US Condemns Iran over Pastor Facing Death Jimmy Hitipeuw | Jumat, 30 September 2011 | 08:28 WIB

WASHINGTON, KOMPAS.com - The White House Thursday condemned the conviction of an Iranian pastor, who may be executed in Tehran for refusing to recant his religious beliefs and convert from Christianity to Islam.

Pastor Youcef Nadarkhani “has done nothing more than maintain his devout faith, which is a universal right for people,” a White House spokesman said in a statement. “That the Iranian authorities would try to force him to renounce that faith violates the religious values they claim to defend, crosses all bounds of decency and breaches Iran’s own international obligations.”

The United States Commission on International Religious Freedom, an independent advisory group appointed by the president and Congress to monitor religious freedom around the world, Wednesday expressed “deep concern” for Nadarkhani, the head of a network of Christian house churches in Iran.

After four days of an appeals trial for apostasy, Nadarkhani refused to recant his beliefs, the commission said. Chairman Leonard Leo said the pastor “is being asked to recant a faith he has always had. Once again, the Iranian regime has demonstrated that it practices hypocritical barbarian practices.”

While the trial is closed to the press, Leo said the commission collects information from sources in Iran and around the world. The commission’s statement also called the trial a sham and said Iran is violating the International Covenant on Civil and Political Rights, to which it is a party.

“A decision to impose the death penalty would further demonstrate the Iranian authorities’ utter disregard for religious freedom, and highlight Iran’s continuing violation of the universal rights of its citizens,” the White House statement said. “We call upon the Iranian authorities to release Pastor Nadarkhani and demonstrate a commitment to basic, universal human rights, including freedom of religion.”

Nadarkhani was first sentenced to death in November 2010, the commission said, and in order to avoid the death penalty, he is being asked to recant his beliefs and convert to Islam. Leo said an apostasy trial is rare in Iran; the last occurred in 1990.

Iran’s claim stems from the pastor’s Muslim parents. According to Leo, the court needed to verify if Nadarkhani had ever been a Muslim. In order to be given what Iran claims is the opportunity to recant his beliefs, Nadarkhani must have never been a Muslim before the age of 15, Leo said.

Because he was given the opportunity during the four-day trial, it is apparent that the Iranian court found he was never a Muslim and therefore Nadarkhani could have converted.

According to a source close to the situation within the Commission on International Religious Freedom, Ayatollah Ali Khamenei, the Supreme Leader of Iran, would have to sign off on the execution. Speaking on the condition of anonymity because of the subject’s sensitivity, the source said such cases in Iran are difficult because of the lack of transparency in leaders’ decision-making.

The source also said that in the past, political prisoners have had their prison time and punishment reduced by the Iranian government. Though they did not say that was guaranteed in this situation, the source indicated it was a possibility.

The American Center for Law and Justice, a right-leaning organization founded by television evangelist Pat Robertson, reported Wednesday night that Nadarkhani’s death sentence had been overturned, meaning that the pastor would be receiving a lesser punishment. They sourced the claim to someone in Iran.

Those reports could not be independently verified by CNN. The Permanent Mission of the Islamic Republic of Iran in the United Nations failed to comment on the ruling.

Jordan Sekulow, executive director of the ACLJ, said the outcry from Christians in America has been loud and sustained.

“American Christians, like never before, are engaged in this,” Sekulow said. “This is evidence that Christians in America over the past decade have done a better job engaging in the persecution issue.”

Sumber :AFP, CNN

http://english.kompas.com/read/2011/09/30/08285568/US.Condemns.Iran.over.Pastor.Facing.Death

berita gni ndak mungkin masuk indo…yang masuk pasti berita wah penganut is… di daerah ini kasihan lah apalah…sedihlah…
memang ketika kegelapan membutakan hati seram sekali akibatnya…

Seorang pria di Iran terancam digantung karena pindah agama menjadi Kristen, demikian berita dirilis laman Daily Mail. Pria yang bernama Youcef Nadarkhani ini diberi waktu tiga hari oleh pengadilan Kota Rasht untuk kembali ke agama asalnya.

Dalam sidang yang berlangsung pada hari Minggu, 25 September 2011 lalu tersebut, Yucef yang kini telah menjadi pastor diperintahkan untuk bertobat dan kembali kepada agama asalnya namun ia menolak.

“Bertobat artinya kembali. Kepada apa saya harus kembali? Kepada penghujatan yang saya miliki sebelum saya beriman kepada Kristus?” demikian jawab Youcef.

Youcef memberikan hidupnya kepada Kristus ketika ia berusia 19 tahun, kini di usianya yang ke 35 tahun, ia dijatuhi hukuman mati. Hukum di Iran menetapkan bahwa jika orangtuanya adalah penganut muslim, lalu anaknya kemudian pindah ke agama lain, maka hal tersebut akan dianggap sebagai pemurtadan nasional. Hukuman atas tindakan ini adalah hukuman mati. Jika Yousef akhirnya nanti di hukum mati, maka hal ini adalah hukuman mati pertama sejak 20 tahun terakhir.

Perwakilan gereja mengaku saat ini ada sekitar 100.000 orang percaya di Iran, dan para pemimpin negara tersebut sangat peduli dengan pesatnya jumlah pemeluk nasrani tersebut.

Menjadi pengikut Kristus bukanlah hal yang mudah, ada waktunya dimana ada harga yang harus dibayar seperti yang dihadapi Yousef saat ini. Mari berdoa bagi Yousef dan umat percaya di Iran agar iman mereka tetap teguh dalam segala tekanan dan kesulitan yang mereka hadapi.

Source : Dailymail.co.uk

WASHINGTON, KOMPAS.com - Pendeta Youcef Nadarkhani akan dihukum mati karena sejumlah kasus pemerkosaan dan pemerasan, lapor kantor berita semi-resmi Iran, Fars News, Jumat (30/9/2011). Tuduhan terbaru itu jauh berbeda dari vonis pengadilan sebelumnya yang menyatakan, Nadarkhani akan dihukum mati karena ia murtad.
Gholomali Rezvani, wakil gubernur Provinsi Gilan, tempat Nadarkhani diadili dan dihukum, menuduh media Barat telah memelintir kisah sesungguhnya. Ia menyebut Nadarkhani sebagai “pemerkosa”. Sebuah laporan sebelumnya dari kantor berita itu menyatakan, pendeta tersebut telah melakukan sejumlah kejahatan, termasuk pemerkosaan berulang kali dan pemerasan. “Kejahatan dia bukan, sebagaimana sejumlah klaim, mengajak orang lain jadi Kristen,” kata Rezvani kepada Fars. “Dia bersalah karena kejahatan yang terkait dengan keamanan.”
Namun, dalam sebuah terjemahan putusan Mahkamah Agung Iran tahun 2010, tuduhan tentang kemurtadan merupakan satu-satunya tuduhan yang dikenakan terhadap Nadarkhani. “Youcef Nadarkhani, putra dari Byrom, usia 32 tahun, menikah, lahir di Rasht di negara bagian Gilan, dihukum karena meninggalkan Islam, agama terbesar yang disiarkan Muhammad, pada usia 19,” bunyi putusan itu sebagai dikutip CNN, Sabtu.
CNN mendapat salinan putusan tersebut dari American Center for Law and Justice dan diterjemahkan dari teks aslinya dalam bahasa Persia oleh Konfederasi Mahasiswa Iran di Washington. Putusan itu selanjutnya mengatakan bahwa selama sidang pengadilan, Nadarkhani menyangkal Muhammad dan otoritas Islam. “Dia (Nadarkhani) telah menyatakan bahwa ia seorang Kristen dan bukan lagi Muslim,” kata putusan itu. “Dalam banyak sesi di pengadilan dengan kehadiran pengacaranya dan hakim, ia telah dijatuhi hukuman mati dengan cara digantung sesuai pasal 8 Tahrir- Olvasileh”
Rezvani menegaskan eksekusi terhadap Nadarkhani “tidak dalam waktu dekat” dan belum sesuatu yang final. Mohammadali Dadkhah, pengacara pendeta itu, ketika menanggapi berita Fars itu melalui seorang penerjemah mengatakan, ia tidak percaya Nadarkhani akan dihukum mati. “Kasus ini masih dalam proses,” kata Dadkhah. “Masih ada peluang 95 persen bahwa ia tidak akan dihukum mati. Ya, saya masih percaya itu.”
Nadarkhani, pemimpin sebuah jaringan gereja di Iran, pertama kali dihukum karena murtad, pindah agama dari Islam ke Kristen, pada November 2010. Ia lalu mengajukan banding atas putusan itu hingga ke Mahkamah Agung Iran. Setelah empat hari sidang banding yang dimulai hari Minggu di pengadilan tingkat rendah di Provinsi Gilan, Nadarkhani menolak untuk meninggalkan agama barunya.
Rezvani bersikeras bahwa "kejahatan Nadarkhani dan hukuman mati atasnya tidak ada hubungannya dengan keyakinannya. “Tidak ada orang yang dieksekusi di Iran hanya karena pilihan agama mereka,” tambahnya. “Dia seorang Zionis dan telah melakukan kejahatan yang berhubungan dengan keamanan.”
Ancaman eksekusi terhadap Nadarkhani, berdasarkan sebuah asumsi bahwa itu terkait dengan kepercayaannya sebagai seorang Kristen, telah memunculkan respon dari pejabat tinggi pemerintah AS. Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton, Jumat, merilis sebuah pernyataan yang mengatakan, AS berada bersama “semua orang Iran dalam melawan pernyataan dan tindakan munafik pemerintah Iran.” Gedung Putih juga mengeluarkan sebuah pernyataan pada Kamis, yang menyatakan, Nadarkhani “tidak melakukan apa pun selain mempertahankan imannya, yang merupakan hak universal semua orang.”
Leonard Leo, ketua Komisi AS tentang Kebebasan Beragama Internasional, mengatakan, pengadilan tentang kemurtadan di Iran jarang terjadi. Menurut dia, kasus itu, jika benar, merupakan pengadilan kemurtadan pertama sejak 1990.

Kalau benar beliua ini memperkosa, maka dia harus menerima hukuman yg setimpal dengan perbuatanya.
Namun jika karena mempertahankan Iman kepada Tuhan Yesus Kristus, maka dia juga akan menerima upah yang sesuai dengan keyakinannya. Semoga beliau di beri kekuatan oleh Tuhan Yesus dalam menghadapi semuanya ini.
Dan aku yakin Tuhan Yesus akan menjadi pembela baginya

pasti ada yg ga bener, awalnya dipenjara dan diadili karena dia “murtad” dari agama lama ke Kristen.
sudah diminta utk kembali, tentu saja dia tidak mau… nah karena ga menemukan cara lain, ya udah dibuat tuduhan baru. aku yakin ntar smua saksi2nya dipaksa bersaksi dusta…
aneh tapi nyata, licik… itulah cara mereka…

kiranya Tuhan tetap memberikan kekuatan pada beliau hingga kemenangan sejati diterimanya.

doa ku selalu menyertaimu

gw percaya Yesus pasti tolong dia…

Berita yg simpang siur… menurut saya, pelaku kejahatan harus dihukum, biarpun itu pendeta. tapi jika dihukum krn kepercayaan… notabene itu masalah pribadi dan hak azasi, itu keliru. Gak repot. :azn: tapi kalo hukuman mati itu melanggar hak hidup juga ya…??? :’(

Tuduhan utamanya adalah kemurtadan
Kiranya Tuhan YESUS memberi kekuatan pd Pendeta Youcef Nadarkhani :angel:

Kalo emang bener dia dihukum dg tuduhan “murtad” dan dia tetap bertahan pd keyakinannya, gw yakin Tuhan akan sudah menyediakan “tempat yang layak” buat dia :angel:

Mungkin hanya tuduhan agar si pendeta itu dihukum mati.
Agar org2 yg lain jgn mau jd kristen.politik agama.

amin

kemungkinan besar seperti itu bro

gak salah tempat ini?

Bapa belalah anakmu.amin

AMIN…!!!

ya, berita ini dimanipulasi menjadi sang pastor memperkosa… hehehe…
biasa… karena menjadi sorotan langsung melakukan fitnah, seperti kasus gki yasmin yang difitnah memalsukan ijin dan tanda tangan…

memang cara2 kita berbeda dengan ‘mereka’…‘mereka’ akan melakukan cara apapun bahkan membunuh sekalipun…karena mereka pikir perbuatan ‘mereka’ demi tuhan ‘mereka’