SCIENTIA MEDIA 2: Mengapa Menginjili jika Keselamatan Dipredestinasikan?

Salah satu pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab adalah, mengapa Allah mengehendaki kita melakukan penginjilan apabila keselamatan telah dipredestinasikan.

Dengan menggunakan teori middle knowledge sebagaimana yang telah di-floorkan dalam SCIENTIA MEDIA: COMPATIBILITY of DIVINE SOVEREIGNITY and FREE WILL - Diskusi Umum Kristen - ForumKristen.com, masalah tersebut akan coba diresolusikan.

Mari kita lihat kasus yang juga terdapat dalam link tersebut, namun dengan tambahan berikut:

  1. Terdapat set himpunan dunia yang mungkin yang diketahui Allah

Dalam Keadaan K1 (lahir di keluarga Muslim garis keras dan seorang misionaris menemuinya), SworDPen menolak KRISTUS
Dalam Keadaan K1 (lahir di keluarga Muslim garis keras dan dan seorang misionaris menemuinya), SworDPen menerima KRISTUS
Dalam Keadaan K2 (lahir di keluarga ilmuwan atheis jenius dan seorang misionaris menemuinya), SworDPen menolak KRISTUS
Dalam Keadaan K2 (lahir di keluarga ilmuwan atheis jenius dan seorang misionaris menemuinya), SworDPen merima KRISTUS
Dalam Keadaan K3 (lahir di keluarga rohaniawan), SworDPen menolak KRISTUS
Dalam Keadaan K3 (lahir di keluarga rohaniawan), SworDPen menerima KRISTUS
Dalam Keadaan K4, Norman Geissler, memilih menjadi misionaris yang kemudian bertemu SworDPen
Dalam Keadaan K4, Norman Geissler, memilih menjadi tukang kebun dan tidak bertemu SworDPen
Dalam Keadaan K5, Norman Geissler, memilih menjadi seorang gembala dan tidak bertemu SworDPen
Dalam Keadaan K5, Norman Geissler, memilih menjadi seorang tukang roti dan tidak bertemu SworDPen

  1. Kemudian, melalui scientia mediaNYA, Alah mengetahui bahwa, (asumsi, untuk contoh)
    (sama seperti pada link yang diberikan, namun dengan tambahan)

Jika K1 diaktualisasikan olehNYA, maka SworDPen akan menggunakan kehendak bebasnya untuk menolak KRISTUS,
Dan bahwa
Jika K2 diaktualisasikan olehNYA, maka SworDPen akan menggunakan kehendak bebasnya untuk merima KRISTUS,
Dan bahwa
Jika K3 diaktualisasikan olehNYA, maka SworDPen akan menggunakan kehendak bebasnya untuk menolak KRISTUS,
Dan bahwa
Jika K4 diaktualisasikan olehNYA, maka Norman Geissler akan menggunakan kehendak bebasnya untuk menjadi misionaris, yang kemudian akan menemui SworDPen, dan sekaligus mengaktualisasikan K2
Dan bahwa
Jika K5 diaktualisasikan oleh Allah, maka Norman Geissler akan mempergunakan kehendak bebasnya untuk menjadi seorang gembala dan tak pernah bertemu dengan SworDPen.

  1. Kemudian Allah menetapkan SworDPen untuk selamat, maka Ia menciptakan dunia yang mana mengandung K4, yang kemudian juga memungkinkan dunia yang mengandung K2.

  2. Dan dunia itu jadi, dimana SworDPen dipredestinasikan untuk selamat, dan sekaligus memiliki kehendak bebas untuk menerima anugrah keselamatan itu, dengan mendengar seorang yang mempergunakan kehendak bebasnya untuk menginjili SworDPen.

Bisa benar bisa juga salah… Siapa yang memahami pikiran dan rencana Tuhan.

Jelasnya, kita selamat karena anugrah. Kita menerima anugrah karena keputusan kita, kita memutuskan karena kita dijamah oleh-Nya, kita dijamah-Nya karena Ia mengasihi kita.

Mereka tidak selamat karena menolak anugrah, mereka menolak karena keputusannya, mereka memutuskan karena mereka tidak dijamah oleh-Nya, mereka tidak dijamah sebab mereka memiliki hati yang membatu. Hati yang tidak dapat menerima curahan kasih.

Karena itulah dikatan, “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman.” (Yohanes 6:44)

Hari ini anda selamat karena ada yang diutus oleh Bapa kepada anda untuk menarik anda kepada Kristus. Mengapa anda? Mengapa saya? Mengapa bukan mereka…?

“maka nyatalah kepadaku, bahwa manusia tidak dapat menyelami segala pekerjaan Allah, yang dilakukan-Nya di bawah matahari. Bagaimanapun juga manusia berlelah-lelah mencarinya, ia tidak akan menyelaminya. Walaupun orang yang berhikmat mengatakan, bahwa ia mengetahuinya, namun ia tidak dapat menyelaminya.” (Pengkotbah 8:17)

Anugrah Allah adalah sebuah misteri yang tidak dapat kita selami, dalam arti kita tidak dapat menjadi hakim yang menghakimi perbuatan Allah atas pilihan anugrahNya.

Saya selalu mengingat pesan dalam Filipi 2:12, “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir.” Taatilah kebenaran dengan takut dan gentar, sebab Roma 11:19-22 menuliskan:

Baiklah! Mereka dipatahkan karena ketidakpercayaan mereka, dan kamu tegak tercacak karena iman. Janganlah kamu sombong, tetapi takutlah! Sebab kalau Allah tidak menyayangkan cabang-cabang asli, Ia juga tidak akan menyayangkan kamu. Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamupun akan dipotong juga.

Jika kita meninggalkan kemurahan Tuhan dan hidup dalam ketidaktaatan, walau kita disebut orang beriman, kita juga akan sama senasip dengan orang-orang Israel yang mati di padang gurun karena ketidak percayaan mereka untuk taat akan perintah Allah.

Sekali kita selamat, kita akan tetap selamat, asalkan kita tetap didalam Anugrah. Jangan sesat Allah tidak dapat dipermainkan, demikian kata Firman Tuhan.

Menurut saya pertanyaan anda mirip dengan pedebatan antara Calvinis dan Arminian.

Yang satu percaya keselamatan telah ditentukan Allah dan diberikan kepada siapa yang dipilihnya. ( dengan kata lain PREDESTINASI )
Lainnya beranggapan bahwa manusia harus mengambil keputusan mempercayai YESUS sebagai Juruselamatnya baru bisa menerima keselamatan. (dengan kata lain FREEWILL )

Anggapan mana yang benar? Menurut saya pribadi keduanya benar !!!

Menurut saya, Calvinis ( dilihat dari sisi pandang ALLAH yang MAHA SEGALA-GALANYA ) sedangkan Armenian ( dilihat dari sudut pandang manusia dengan segala keterbatasannya ). Jadi menurut saya keduanya benar hanya berbeda dari sudut pandang saja.

Menjawab pertanyaan anda, mengapa kita harus menginjili? Dilihat dari sudut pandang manusia dengan segala keterbatasannya kita harus menginjili orang sebanyak mungkin untuk mengabarkan KABAR BAIK kepada orang-orang yang sudah dipilih Allah untuk menerima keselamatan, namun belum menerima YESUS sebagai Juruselamat. Tentu kita tidak tahu mana orang yang sudah dipilih Allah untuk menerima keselamatan, oleh karena itu kita harus mengabarkan injil ke sebanyak mungkin orang.

Apabila jawaban saya dirasa kurang benar atau memuaskan , tolong dikoreksi. Thanks GBU

Bro Daudedi, ada baiknya Sdr membaca thread saya yang merupakan prerequiste dari thread ini, SCIENTIA MEDIA: COMPATIBILITY of DIVINE SOVEREIGNITY and FREE WILL di SCIENTIA MEDIA: COMPATIBILITY of DIVINE SOVEREIGNITY and FREE WILL - Diskusi Umum Kristen - ForumKristen.com, karena disanalah dasar teori dari thread ini disajikan.

God Bless

Sama seperti pertanyaan saya sebelumnya,

Jika Allah tidak menciptakan dunia yang mengandung K4 yang kemudian juga tidak mengandung K2, akankah SwordPen pasti tidak selamat?

Lalu apakah mungkin Allah menetapkan seseorang tidak selamat, sehingga DIA menciptakan dunia/keadaan yang mendukung penetapanNya itu, i.e. supaya seseorang tidak selamat.

Bukankah akhirnya tidak ada bedanya? Bahwa pengkondisian2/aktualisasi keadaan2 tersebut hanyalah ‘akal-akalan’ Allah supaya penetapanNya (si A selamat, si B tidak selamat) beralasan/make sense?

===

Salam,

pokoknya, kl swordpen sudah menulis, kita harus mikir mikir dulu nih

hehehe

sekedar catatan sedikit : bukankah kaum predestinasi tidak mengakui adanya freewill ? will yang TERIKAT, artinya bukan FREE-will lagi

ok.

[email protected]

Ga perlu panjang panjang prolog nya lah…karena secara nyata sudah dapat di mengerti persoallan dasarnya yang menjadi stigma dalam pertanyaan kebnyakaan orang, yaitu " ATAS ATURAN DAN KEMAUAN SIAPA ANDA DILAHIRKAN DARI RAHIM IBU YANG INI DAN BUKAN DARI RAHIM IBU YNG ITU…EHH…PEREMPUANNYA SUKU BANGSA INDONESIA LAGI…"" BUKAN WANITA BULE …DSB DSB NYA.

Yang jelas manusia dilahirka melalui siapa dan bagaimana adalah berdasarkan " KEDAULATAN ALLAH KHALIK LANGIT DAN BUMI “”
Yang menjadi pertanyaan adalah…? apakah manusia-manusia yang dilahirkan dizaman sekarang ini…baru dipikirkan Oleh Allah di 9 bulan sebelum ada di kandungan…??? JAWABANNYA " TENTU TIDAK "

MANUSIA SEMUANYA yang ada dilahirkan didunia ini sudah ada di DALAM pikiran ALLAH ( SEBAGAI BLUE PRINTNYA ) SAAT KARYA PENCIPTAAN MANUSIA MULA-MULA ADA. Namun seperti kita ini baru dikeluarkan ke dunia ini, di kloter di zaman sekarang ini…dengan keunikannya sendiri-sendiri./ masing-masing.

Nah…apakah semuanya sudah dipredestinasikan Oleh Allah…?? YA SUDAH TENTU SAJA…!!! karena patronnya / dasar formulanya manusia ciptaan Allah adalah : segambar dan serupa dng Allah…ITU SEMUA TIDAK BEROBAH DARI DULU ZAMAN PENCIPTAAN SAMPAI UMUR DUNIA SEKARANG INI.
Hanya dalam Kedaulatan Allah yang berkaiatan dng TAKDIR, maka manusia yang keluar lahir didunia ini berasal dari berbagai rupa / jenis rahim wanita…( wanita muslim, wanita kristen, wanita baik, wanita pealcur…dsb…dsb ).

Dan karena sudah di kodratkan oleh Allah bahwa keturunan Adam & Hawa adalah sudah jatuh kedalam dosa…?? ( yang adalah dosa warisan…bukan dosa perbuatan ). Maka manusia semua nya dihadapan Allah sudah tidak lagi sempurna tanpa dosa atau tidak ada yang dibenarakan. Sehingga status dan kondisi manusia perlu diselamatkan oleh Allah…!!! Tapi bagaimana caranya…??? Caranya adalah Allah harus turun ke dunia dng berinkarnasi sebagai manusia seutuhnya untuk karya keselamatan tsb. Maka singkat cerita lahirlah Yesus KE dunia untuk tugas tsb yang diutus Allah Bapa YANG ADA DI SORGA…
NAMUN DALAM PROSES PENYELAMATAN ORANG BERDOSA TSB YANG DITUJUKAN KEPADA BANGSA ISRAEL…TIDAK MEMPEROLEH HASIL…MAKANYA KARYA KESELAMATAN BERALIH PADA BANGSA BUKAN ISRAEL ( BANGSA KAFIR ),
Dan prosedur memperoleh arunia keselmatan tsb, sangatlah mudah…dimana jika semuaa orang kafir bertobat dan menerima serta mengakui Yesus sbg Tuhan dan Juru selamat PRIBADI MEREKA…?? MAKA MEREKA AKANDISELAMATKAN…

NAH…BAGI YANG BELUM MAU BERTOBAT DAN MAU MENGAKUI SERTA MENERIMA YESUS SEBAGAI TUHAN DAN JURUSELAMAT PRIBADI MEREKA…??? MAKA KERJA PENGINJILAN TERUS AKAN BERLANGSUNG SAMPAI SEMUANYA ( RANG KAFIR / ORANG BERDOSA ) AKAN MENJADI ORANG PERCAYA DI MUKA BUMI INI.

Salam GBU

@purba

Dan karena sudah di kodratkan oleh Allah bahwa keturunan Adam & Hawa adalah sudah jatuh kedalam dosa..?? ( yang adalah dosa warisan..bukan dosa perbuatan ). Maka manusia semua nya dihadapan Allah sudah tidak lagi sempurna tanpa dosa atau tidak ada yang dibenarakan. Sehingga status dan kondisi manusia perlu diselamatkan oleh Allah....!!! Tapi bagaimana caranya...??? Caranya adalah Allah harus turun ke dunia dng berinkarnasi sebagai manusia seutuhnya untuk karya keselamatan tsb. Maka singkat cerita lahirlah YESUS KE dunia untuk tugas tsb yang diutus Allah Bapa YANG ADA DI SORGA.... NAMUN DALAM PROSES PENYELAMATAN ORANG BERDOSA TSB YANG DITUJUKAN KEPADA BANGSA ISRAEL..TIDAK MEMPEROLEH HASIL...MAKANYA KARYA KESELAMATAN BERALIH PADA BANGSA BUKAN ISRAEL ( BANGSA KAFIR ), Dan prosedur memperoleh arunia keselmatan tsb, sangatlah mudah..dimana jika semuaa orang kafir bertobat dan menerima serta mengakui YESUS sbg Tuhan dan Juru selamat PRIBADI MEREKA..?? MAKA MEREKA AKANDISELAMATKAN..

NAH…BAGI YANG BELUM MAU BERTOBAT DAN MAU MENGAKUI SERTA MENERIMA YESUS SEBAGAI TUHAN DAN JURUSELAMAT PRIBADI MEREKA…??? MAKA KERJA PENGINJILAN TERUS AKAN BERLANGSUNG SAMPAI SEMUANYA ( RANG KAFIR / ORANG BERDOSA ) AKAN MENJADI ORANG PERCAYA DI MUKA BUMI INI.

Dari reply anda ini, terkesan bawa Allah bekerja tanpa tahu apa yang akan terjadi bro, jadi Dia bekerja dan menunggu hasil yang terjadi, baru kemudian meresponnya sesuai dengan kejadian terakhir.

Betul begitu, atau saya salah tangkap?

Syalom

wew…saya mengakui pemaparan bro SworDPen nee memang hebat dan OK… :smiley:

mungkin sekedar menambahkan saja bahwa dari sudut pandang manusia:

  • kita “tidak tahu” apakah kita termasuk yang telah diselamatkan, dalam arti “benar-benar di-predestinasikan untuk diselamatkan”
  • kita juga tidak tahu siapa saja yang telah di-predestinasikan untuk diselamatkan
  • kita juga tidak tahu dengan cara apa Tuhan mem-predestinasikan cara orang yang diselamatkan

namun kita tahu dari apa yang di"wasiat"-kan Yesus, yakni salah satu jalan atau cara supaya orang dapat diselamatkan adalah dengan penginjilan dan orang itu menerima keselamatan yang dikabarkan itu

oleh karena itu kita tetap menginjili, karena dengan demikian :

  • kita menjalankan tugas kita sebagai seorang Kristen, sesuai wasiat Yesus
  • kita memberikan diri sebagai alat Tuhan untuk mewujudkan rencana-Nya dalam mewujudkan keselamatan bagi orang-orang yang telah di-predestinasi-kan untuk menerima keselamatan itu

dan seorang Kristen sejati, tanpa harus memusingkan masalah predestinasi, akan timbul kerinduan di dalam hatinya untuk membagi sukacita dan kabar keselamatan yang telah diterimanya kepada semua orang di sekitarnya, dan dengan jalan itulah orang-orang yang telah ditetapkan sebelumnya untuk diselamatkan akan menemukan keselamatan mereka

jangankan saya, atau seorang John Calvin, bahkan seorang rasul Paulus-pun harus berusaha keras ketika mencoba menjelaskan tentang pre-destinasi ini (walaupun rasul Paulus tidak memberi nama “predestinasi” pada uraiannya dalam surat-suratnya), dan tulisannya pun menjadi sulit dipahami, seperti yang diakui oleh rasul Petrus :

Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya.
Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain.

(II Petrus 3:15-16)
----- …

pertanyaan yang muncul: “mengapa menginjili jika keselamatan telah dipredestinasikan”
adalah pertanyaan paradoksal yang serupa dengan apa yang disampaikan oleh rasul Paulus dalam suratnya berikut :
Tetapi jika ketidakbenaran kita menunjukkan kebenaran Allah, apakah yang akan kita katakan? Tidak adilkah Allah–aku berkata sebagai manusia–jika Ia menampakkan murka-Nya?
Sekali-kali tidak! Andaikata demikian, bagaimanakah Allah dapat menghakimi dunia?
Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?
Bukankah tidak benar fitnahan orang yang mengatakan, bahwa kita berkata: “Marilah kita berbuat yang jahat, supaya yang baik timbul dari padanya.” Orang semacam itu sudah selayaknya mendapat hukuman.

(Roma 3:7-8)

Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?
Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?

(Roma 6:1-2)

Predestinasi terbesar dan terindah yang ada adalah :
Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.
(II Korintus 5:21)

dan paradoks yang indah dalam bagian lain surat rasul Paulus :
Maka aku bertanya: Adakah Allah mungkin telah menolak umat-Nya? Sekali-kali tidak! Karena aku sendiripun orang Israel, dari keturunan Abraham, dari suku Benyamin.
Allah tidak menolak umat-Nya yang dipilih-Nya. Ataukah kamu tidak tahu, apa yang dikatakan Kitab Suci tentang Elia, waktu ia mengadukan Israel kepada Allah: “Tuhan, nabi-nabi-Mu telah mereka bunuh, mezbah-mezbah-Mu telah mereka runtuhkan; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku.”
Tetapi bagaimanakah firman Allah kepadanya? “Aku masih meninggalkan tujuh ribu orang bagi-Ku, yang tidak pernah sujud menyembah Baal.”
Demikian juga pada waktu ini ada tinggal suatu sisa, menurut pilihan kasih karunia.
Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia.

Jadi bagaimana? Israel tidak memperoleh apa yang dikejarnya, tetapi orang-orang yang terpilih telah memperolehnya. Dan orang-orang yang lain telah tegar hatinya, seperti ada tertulis: “Allah membuat mereka tidur nyenyak, memberikan mata untuk tidak melihat dan telinga untuk tidak mendengar, sampai kepada hari sekarang ini.”
Dan Daud berkata: “Biarlah jamuan mereka menjadi jerat dan perangkap, penyesatan dan pembalasan bagi mereka.
Dan biarlah mata mereka menjadi gelap, sehingga mereka tidak melihat, dan buatlah punggung mereka terus-menerus membungkuk.”
Maka aku bertanya: Adakah mereka tersandung dan harus jatuh? Sekali-kali tidak! Tetapi oleh pelanggaran mereka, keselamatan telah sampai kepada bangsa-bangsa lain, supaya membuat mereka cemburu.

(Roma 11:1-11)

mungkin uraian bro SworDPen lebih mudah dipahami kalau kita menonton film Sci-Fi tentang dunia pararel, yang memuat berbagai kemungkinan skenario kehidupan atas orang-orang yang sama tapi dalam dimensi pararel

:smiley: