Sebutan Bapa kepada Imam/Gembala

Rekan2 Kristen Katolik sedikit berbeda dengan Kristen Protestan dalam hal memanggil pemuka agamanya.

Kalo di Protestan biasanya setahu saya:
Gereja2 tradisional biasanya memanggil Pak Pendeta… misalnya “Pak Pendeta apa kabarnya?”, kalau di negara Barat misalnya: ‘Halo/Hi Reverend Billy, How do you do?’

Sebagian gereja Protestan (umumnya gereja2 modern) ada juga yg memanggil ‘Pastor’, mis: “Pastor Billy, apa kabarnya?”

Kalau di Katolik kelihatannya sangat dekat sekali panggilannya.
Misalnya selain tentunya panggilan/sebutan ‘Pastor/Pastur’ juga ada tetapi mungkin ini yg lebih sering didengar:
Bapa (harus dibedakan dengan kata Bapak) di negara Barat: ‘Father’
Pater, hampir sama dgn ‘father’
Romo (bahasa Jawa, artinya juga Bapa)

Kata Bapa menunjukkan kedekatan antara seorang pastur (=gembala/imam) dengan jemaatnya.
Inilah yg sy salut dengan rekan Katolik dengan memanggil Bapa kepada gembalanya. Di Protestan tidak ada atau setidak2nya belum pernah sy dengar ada memanggil ‘Bapa’.

Singkatnya, kalau di Protestan : Pendeta dan Pastor, di Katolik : Bapa, Pater, Romo (khusus Jawa), Pastur

Kayaknya elo kurang observasi, bray.

Gue pernah diundang sohib ke ibadah Gereja Protestan Batak dan sohib gue itu memanggil Pendetanya (di gereja tersebut tidak ada istilah gembala sidang) dengan sebutan “Amang”. Ketika gue tanya, dia jelasin kalo “Amang” itu artinya “bapak atau ayah”. CMIIW.

Ini tidak menutup kemungkinan kalo gereja-gereja protestan di nusantara juga melakukan hal yang sama tapi tentunya dengan bahasa yang berbeda.

Menurut gue, hal ini sangat-sangat wajar karena Protestan itu adalah turunan dari Katolik. Itu saja sih.

Terima kasih bray VK.

Terima kasih atas koreksinya, kini nyata bagi sy kebiasaan di gereja Batak memanggil ‘amang’ kepada pendetanya. Berarti itu adalah ‘panggilan sayang’ kepada pendetanya.

Sejauh observasi sy yg masih dangkal dan awam ini memang tidak ada itu keseragaman yg serapi Katolik. Di Katolik ada sebutan Bapa/Romo kepada imam, di Protestan umumnya ‘Pak Pendeta’ begitu aja, kecuali kalo di gereja Protestan Batak mungkin seperti yg bray ceritakan. Itu belum lagi di Katolik juga ada sebutan ‘bruder/brother’ dan ‘suster/sister’ kepada para rohaniwan Katolik non-Pastor. Jadi di Protestan mungkin tidak semuanya menyebut kata ‘Bapa’ secara spesifik dan eksplisit. Terima kasih atas koreksinya.

Lebih lanjut, konon katanya ayat terkenal inilah ‘ayat sakti’ dari kaum Protestan yakni
Matius 23:9 “Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga.”

Jadi oleh karena ayat satu itu maka aliran Protestan sedikit enggan atau kurang berani menyebut ‘Bapa’ kepada gembalanya. Itu alasan yg pertama.

Yang kedua, di Protestan umumnya jabatan ‘imam’ itu sepertinya kurang dikenal karena dianggap semua orang percaya dapat menjadi imam, sementara itu di Katolik jabatan imam itu hanya diemban oleh pemimpin umat misalnya Pastor/Paus. Oleh karena itulah pemanggilan ‘Bapa/Romo’ itu sudah ‘standard’ di semua gereja Katolik utk imamnya, sementara di Protestan panggilannya sebatas ‘Pak Pendeta’, kalaupun ada yg menyebut Bapa, itu di luar standard dan tidak seluruhnya seragam.

Contoh sederhananya:
Misalkan (maaf kalo benar2 ada) saja di Batak ada pendeta bernama Poltak maka biasanya kalau ditulis secara formal maka ditulis: Bpk. Pdt. Poltak atau bahkan mungkin Pdt. Poltak begitu saja, dan mungkin kecil kemungkinannya ditulis secara formal berupa ‘Amang Poltak’ (ini kita bicara tulisan formal ya).
Lain misalnya kalau dia seorang Imam Katolik maka kemungkinan akan ditulis secara formal tetap ada kata ‘Romo’ (=Bapa) : Romo Poltak (Pastor Poltak juga dipakai namun kata Romo juga sudah cukup meluas di Indonesia termasuk non-Jawa sekalipun).

Katolik itu masih menganut imam harus orang khusus, ngga sembarang orang bisa tiba2 jadi imam
jadi masih ada 2 tingkatan : iman dan awam
orang awam ngga bisa menyelenggarakan kebaktian tanpa imam

Protestan menganut setiap orang percaya (awam) itu bisa jadi imam
so misalnya ngga ada pendeta pun orang biasa bisa aja menyelenggarakan kebaktian dan berkotbah

masing2 ada positif negatifnya

tentang Matius 23:9 itu kalau diartikan literal ya artinya kita juga ngga boleh menyebut bapak biologis kita dengan sebutan bapak
matius 23 itu konteksnya Yesus sedang menegor “ahli2 taurat” yang suka meninggikan diri

memang pada umumnya Protestan tidak memakai sebutan “bapa”
tapi ini masalah tradisi/kebiasaan aja keknya

Di amrik dipanggil Father kokkk.

Trims Pak Siip atas infony. Sy blum pernah keluar ‘kandang’ :D, jadi sy gak tau soal gereja di luar negeri. :smiley:

Jadi di Amrik aliran Protestan juga memanggil ‘Father’ juga ya?? Bukannya ‘Father’ atau ‘Bapa’ itu biasanya cuma Katolik yg mengucapkannya??

Misalkan panggilan sayang utk Paus Benediktus, Paus Fransiskus adalah Father Benedictus dan Father Fransiscus maka panggilan utk pendeta/evangelis Protestan yg terkenal Billy Graham = Father Billy Graham juga begitu maksudnya?? Rick Warren juga dipanggil ‘Father Rick Warren’ begitu??

Selama ini yg sy tau dari artikel2 dan berita2 Kristen, Billy Graham dipanggil/ditulis/disebut Reverend Billy Graham atau kadang2 Pastor Billy Graham.

Paus dari bahasa Belanda: paus; dari bahasa Latin: papa; dari bahasa Yunani: πάππας pappas, “ayah”

Patriach : The word is derived from Greek πατριάρχης (patriarchēs), meaning “chief or father of a family”, a compound of πατριά (patria), meaning “family”, and ἄρχειν (archein), meaning “to rule”

Kata pastor berasal dari bahasa Latin pastōr, yang berarti gembala.

Ijin, koreksi.

Terkait dengan yang tebal, perlu, dan harus dikoreksi.

Ibadat di Katolik itu ada dua jenis, yaitu Ekaristi dan Non-Ekaristi.

Ekaristi itu adalah untuk melaksanakan perintah Yesus: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” (bdk. Luk 22:19). Itu dikatakan Yesus ketika Perjamuan Malam sebelum Ia memanggul salib ke Golgota.
Pemimpin Ekaristi harus oleh satu atau beberapa orang yang sudah ditahbis menjadi Imam, dan tidak berhalangan melaksanakan Ekaristi.

Non-Ekaristi itu ada bermacam ragam. Bisa saja Ibadat Sabda, Ibadat Novena, Ibadat Devosi Orang Kudus, dll. Ibadat Non-Ekaristi, boleh dipimpin oleh siapa saja, biasanya, kelompok yang hendak melaksanakan Ibadat Non-Ekaristi, seperti sudah dengan sendirinya memilih pemimpin ibadat, mungkin dari senioritas, dari kemampuan memaparkan renungan, atau pertimbangan lainnya.

Jadi, [i]orang awam ngga bisa menyelenggarakan kebaktian tanpa imam adalah pernyataan yang salah.

[/i]Salam olahraga.